Personifikasi
Not a member yet
169 research outputs found
Sort by
Pengaruh Games Online terhadap Perkembangan Bahasa Anak Usia 9-10 Tahun di Kelurahan Cempaka Putih, Ciputat Timur, Tangerang Selatan
Game Online merupakan sebuah permainan yang sangat menarik saat ini baik kalangan dewasa sampai anak-anak. Bagi anak-anak terutama ini menjadi daya magnet yang luar biasa. Keluarbiasaan inilah yang membuat anak-anak lupa akan dirinya bahkan sampai pergaulan, bahasa dan kata-kata yang mereka komunikasikan sangat tidak layak untuk didengar. Ini mempengaruhi perkembangan mereka. Game Online, biasanya terdapat di warnet dan tersedia banyak macamnya. Tentunya ini menjadi satu hal yang menarik untuk dikaji dan diteliti. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Game Online di warnet terhadap perkembangan bahasa anak usia 9-12 tahun di Kelurahan Cempaka Putih, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, yang dilaksanakan pada bulan April hingga Juni 2014 dengan desain penelitian kuantitatif dan kuatitatif. Teknik pengumpulan data melalui angket dan Focus Group Discusion (FGD) dan wawancara secara mendalam kepada anak. Anak yang bermain Game Online di warnet dengan waktu yang sering dengan usia 9-12 tahun diberikan angket. Jumlah responden yang diberikan angket sejumlah 100 anak yang disebar ke sepuluh warnet. Wawancara dilakukan dengan 5 anak secara mendalam. Selain itu dilakukan juga wawancara terhadap keluarga responden dan petugas warnet sebagai penguat yang dapat memberikan informasi secara lengkap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh Game Online (X) terhadap perkembangan bahasa anak (Y) usia 9-12 tahun adalah signifikan dengan nilai Fhitung = 179,64, sedangkan Ftabel = 4,41 dan berpola linier karena Fh=0,401 kurang dari Ft=3,23. Selain itu, faktor eksternal yang sangat mempengaruhi adalah fasilitas di rumah yang kurang, perhatian dan bimbingan dari keluarga sangat lemah sehingga mereka lebih senang bermain di warnet dan bermain Game Online daripada dirumah. Termasuk motivasi untuk belajar karena kebanyakan dari responden malas belajar bahkan diabaikan. Semua ini tentunya menjadi perhatian bagi pendidik, orangtua, lingkungan, dan masyarakat terhadap anak-anak yang sudah keranjingan bermain Game Online yang dapat merusak perilaku berbahasa
Mengasuh Anak Usia Prasekolah vs Anak Usia Sekolah Dasar : Manakah yang Lebih Menimbulkan Stres Pengasuhan pada Ibu?
ABSTRACTPreschool-age and school-age are phases that have different parenting challenges, which can trigger parenting stress on mothers. This study aimed to examine the parenting stress differences between mothers of preschoolers and mothers of school-aged children. This research used a quantitative approach with a cross-sectional design. Parenting stress is measured through the Parental Stress Scale (PSS) instrument. This study involved 249 respondents who were selected through convenience sampling methods. Analysis of the different tests with the Mann Withney technique showed that there were significant differences in parenting stress from the two groups. Mothers of school-aged children are found to experience higher parenting stress than mothers of preschool-aged children. Further studies involving culture-related variables and longitudinal design are suggested. ABSTRAKUsia prasekolah dan usia sekolah dasar merupakan fase yang memiliki tantangan pengasuhan yang berbeda, yang dapat memicu stres pengasuhan pada Ibu. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan stres pengasuhan pada Ibu yang mengasuh anak usia prasekolah dan usia sekolah dasar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross sectional. Stres pengasuhan diukur melalui instrument Parental Stres Scale (PSS). Penelitian ini melibatkan 249 responden yang dipilih melalui metode convenience sampling. Analisis uji beda dengan teknik Mann Withney menunjukkan bahwa ada perbedaan stres pengasuhan yang signifikan dari dua kelompok tersebut. Ibu yang mengasuh anak usia sekolah ditemukan mengalami stres pengasuhan yang lebih tinggi daripada ibu yang mengasuh anak usia prasekolah. Untuk pengembangan studi, pelibatan variabel yang terkait dengan budaya dan penggunaan desain longitudinal disarankan.
PENGUATAN PERAN LANGGAR SEBAGAI MEDIUM KELUARGA DALAM UPAYA PEMBENTUKAN PENDIDIKAN KARAKTER ANAK DI MADURA
Lingkungan keluarga memiliki peran besar terhadap proses pembentukan karakter anak. Upaya pembentukan pendidikan karakter di lingkungan keluarga di Madura bukan tidak pernah ada, justru termanifestasikan secara nyata dalam pola kehidupan masyarakat sehari-harinya. Warisan kultural yang selama ini melekat dalam kehidupan masyarakat Madura menjadi suatu kekuatan yang sangat bernilai bagi berlangsungnya pendidikan karakter anak yaitu melalui media langgar. Langgar memiliki arti yang penting bagi masyarakat Madura. Langgar berfungsi sebagai pusat aktivitas laki-laki, yaitu transfer nilai religi, sebagai tempat bekerja pada siang hari, tempat menerima tamu, tempat istirahat dan tidur laki-laki, serta dipakai untuk melakukan ritual keseharian. Langgar bagi masyarakat Madura merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pemukiman mereka. Pola pemukiman taneyan lanjang yang menjadi kekhasan pemukiman Madura sampai saat ini, menjadikan langgar adalah bagian utama dari pemukiman yang dimiliki masyarakat Madura pada umumnya. Langgar menjadi simbol utama dalam pola pemukiman ini, sehingga langgar selalu dapat dipastikan menjadi pusat interaksi dalam sistem kekerabatan atau keluarga di Madura. Langgar biasanya berada di tengah-tengah paling barat dalam tata urutan taneyan lanjang. Fungsi langgar dalam pemukiman keluarga Madura tidak hanya sebagai pusat ritual keagamaan namun menjadi pusat interaksi sosial antara keluarga atau kerabat didalamnya. Langgar menjadi simbol bagaimana masyarakat Madura memperlakukan laki-laki dan perempuan dalam interaksi keseharian dalam artian, langgar menjadi pusat bagaimana tatakrama, sopan-santun, nilai-nilai moral diberlakukan dalam keseharian kehidupan keluarga Madura, sehingga melakukan penguatan terhadap sumberdaya strategis yakni peran langgar sebagai media menjadi suatu alternatif yang paling mungkin dalam upaya keluarga membentuk pendidikan karakter anak dalam lingkungan pemukiman di Madura
POLA DIDIK ORANG TUA TERHADAP ANAK DI ERA MILENIAL
Pendidikan merupakan tempat proses manusia dalam mencari tahu sesuatu yang tepat, sesuai dan benar dalam menjalani kehidupan. Proses itulah yang akan menentukan model individu dari pola belajarnya dengan jalan yang mereka ambil. Setiap individu pasti melewati hidup dengan beraneka ragam jalan dalam menghadapi hidup melalui keluarga, sekolah/ kampus dan masyarakat. Keluarga merupakan gerbang pertama dalam mendapatkan pendidikan, jika dalam keluarga itu mendapatkan pendidikan baik, maka tidak menutup kemungkinan anak tersebut akan baik dalam menggambarkan kehidupan sekarang dan yang akan datang. Penulis tertarik mengkaji pola didik orang tua di era milenial, karena era milenial merupakan era yang semua diri memiliki kesempatan tinggi dalam memperoleh pengetahuan. Sehingga orang tua perlu memahami tuntutan zaman atau alam, orang tua mampu menjadi partner baik dalam mendampingi anak dan orang tua tempat solusi terbaik untuk anak-anaknya. Pola didik milenial harus mampu dimiliki orang tua supaya dapat menyeimbangkan keinginan anak dan orang tua bisa memberikan jalannya
Nilai Budaya Lokal, Resiliensi, dan Kesiapan Menghadapi Bencana Alam
AbstrakMunculnya perspektif psikologi positif telah meningkatkan kesadaran pada banyak ilmuwan sosial tentang nilai-nilai hidup positif yang telah lama tertanam dalam masyarakat lokal. Salah satunya disebut 'kearifan lokal ". Sehubungan dengan isu peran nilai budaya lokal, penelitian ini akan menganalisis secara deskriptif resiliensi dan kesiapan menghadapi bencana di Sumatera Barat dengan menggunakan perspektif nilai budaya lokal Minangkabau. Proses pendalaman analisis peran nilai budaya lokal Minangkabau terhadap resiliensi adalah melalui analisis prediktor yang umumnya memicu gangguan psikologis. Hasil deskriptif-analisis secara positif menunjukkan bahwa nilai budaya lokal Minangkabau memiliki peran positif terhadap resiliensi dan kesiapan menghadapi bencana. AbstractThe emergence of the positive psychology perspective had increased the awareness of many social scientists on many positive living values that are usually embedded in local societies. One of them is called ‘local wisdom”. Regarding to the issue of the role of local cultural values, this paper would analyses descriptively the resilience in disasater management in West Sumatra using the Minangese Cultural Values perspective. The deepening process of the analyses of the role of the Minangese cultural values to resilience was through the analyses of the predictors that are commonly triggering many psychological disorders. The result of the descriptive-analyses is positively indicated that the Minangese cultural values has a positive role to the resilience in disaster managemen
Bahasa Cinta Perempuan : Penelitian Fenomenologik Hal yang Membuat Istri Merasa Dicintai
Penelitian ini bertujuan untuk menemukan hal apa yang paling membuat seorang istri merasa dicintai, terinspirasi dari teori Five Love Languages Chapman (2010). Peneliti melibatkan 50 subyek perempuan yang telah menikah dengan menggunakan metode kualitatif fenomenologik. Hasil dari penelitian ini, peneliti menemukan lima hal yang membuat istri merasa dicintai. Kelima bahasa cinta istri temuan dari penelitian ini adalah: Communication, Receiving Gift, Family Time, Acts of Service serta Karakter dan Temperamen. Selain lima temuan ini, peneliti juga menemukan satu tema pokok diluar bahasa cinta istri yaitu Uncategorized. Dari lima temuan peneliti, tiga diantaranya merupakan bahasa cinta khas dari istri di Indonesia diluar teori Chapman yaitu Communication, Family Time serta Karakter dan Temperamen. Temuan ini akan membawa dampak bagi penelitian selanjutnya dalam memahami bahasa cinta pada konteks Indonesia
HUBUNGAN ANTARA GAYA KEPEMIMPINAN SITUASIONAL DENGAN KINERJA KARYAWAN PADA PT. MARGA NUSANTARA JAYA CABANG TEGAL
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara gaya kepemimpinan situasional dengan kinerja karyawan. Populasi dalam penelitian ini adalah karyawan PT. Marga Nusantara Jaya cabang Tegal sebanyak 70 orang. Data diolah secara statistik dengan program SPSS 16.0 for windows. Hasil reliabilitas skala gaya kepemimpinan situasional dengan Alpha Cronbach diperoleh α = 0,816, sedangkan skala kinerja karyawan menunjukkan hasil α = 0,780. Dari uji korelasi, keduanya memiliki r 0,238 dengan sig.= 0,047 (p lebih dari 0,05), yang berarti ada hubungan positif yang signifikan antara gaya kepemimpinan situasional dan kinerja karyawan, dengan kontribusi efektif sebesar 5,7 persen
Analisis Budaya Organisasi Stasiun Televisi Lokal X di Bandung dengan OCAI (Organizational Culture Assessment Instrument)
ABSTRACTNow, the world has entered globalization, it forms an industry which is determined by the international market. This change has an impact on companies in the media and broadcasting sectors. Now, the company is trying to be at the advance with client-based values. Facing up this rapidly changing environment requires a strategy to adapt. Determination of these strategies can be helped by knowing the organizational culture that is owned by the company. Local television station X is one of the local television stations that has survived for more than 20 years in media and broadcasting sector, To determine a strategy to face the market in the future, this television station needs to know the organizational culture it has, so that it can determine the direction of the preferred organizational culture in the future. OCAI (Organizational Culture Assessment Instrument) is a measuring tool that is often used and precisely in diagnosing organizational culture and organizational effectiveness. This measuring instrument is filled by all employees of television station X from various positions. The results of this study indicate that the dominant organizational culture possessed by this television station is clan culture, but this culture still tends to be weak, this can be due to two dimensions of organizational culture that have different patterns. There is a need for improvement in the communication system to improve work communication relations between management levels at local television station X in order to form a strong corporate culture. ABSTRAK Saat ini telah memasuki globalisasi, hal tersebut membentuk industri yang ditentukan oleh pasar internasional. Perubahan ini berdampak pada perusahaan yang bergerak di sektor media dan broadcasting, sehingga saat ini perusahaan berusaha menjadi yang terdepan dengan nilai-nilai berbasis pada klien. Mengahadapi lingkungan yang cepat berubah ini diperlukan sebuah strategi untuk dapat beradaptasi. Penentuan strategi tersebut dapat terbantu dengan mengetahui budaya organisasi yang dimiliki oleh perusahaan. Stasiun televisi lokal X adalah salah satu stasiun televisi lokal yang bertahan setelah kurang lebih 20 tahun berkiprah dalam sektor media dan broadcasting, untuk menentukan strategi untuk menghadapi pasar dimasa yang akan datang, maka stasiun televisi ini perlu mengetahui budaya organisasi yang dimiliki, sehingga dapat menentukan arah budaya organisasi yang dilebih disukai dimasa yang akan datang. OCAI (Organizational Culture Assessment Instrument) merupakan alat ukur yang sering digunakan dan tepat dalam mendiagnosa budaya organisasi dan efektifitas organisasi. Alat ukur ini diisi oleh seluruh karyawan stasiun televisi X dari berbagai jabatan. Hasil dari penelitian ini, bahwa budaya organisasi dominan yang dimiliki oleh stasiun televisi ini adalah budaya clan, tetapi budaya ini masih cenderung lemah, hal tersebut dapat disebabkan dua dimensi budaya organisasi yang memiliki pola berbeda. Perlu adanya perbaikan dalam sistem komunikasi untuk memperbaiki hubungan komunikasi kerja antara level manajemen di stasiun televisi lokal X agar dapat membentuk budaya perusahaan yang kuat