Personifikasi
Not a member yet
    169 research outputs found

    Mahasiswa dan Gaya Kepemimpinan dalam Organisasi Mahasiswa

    No full text
    Organisasi X adalah salah satu unit kegiatan mahasiswa yang ada di Malang. Berdasarkan hasil wawancara terhadap dua orang anggota Dewan Pertimbangan Organisasi, diketahui bahwa kontrol ketua umum terhadap organisasi pada periode 2010 ini lemah. Padahal kepemimpinan adalah salah satu faktor penting dalam menjalankan roda kepemimpinan secara stabil. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui bagaimana gaya kepemimpinan mahasiswa di organisasi X pada periode kepengurusan 2010. Gaya kepemimpinan dapat dipetakan setelah melihat cara berkomunikasi, cara memberikan motivasi, cara penyusunan tujuan kelompok, dan cara pengambilan keputusan. Oleh karena itu, sebelum dapat menentukan gaya kepemimpinan, perlu untuk mengetahui bagaimana empat hal terjadi dijalankan dalam organisasi.Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, dengan perspektif fenomenologi. Lokasi penelitian ini adalah organisasi X di Malang. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam, observasi, dan jurnal refleksi subyek. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan ketekunan pengamatan, triangulasi, dan kecukupan referensial.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan mahasiswa organisasi X adalah partisipatif-kelompok. Kesimpulan ini diambil setelah mempertimbangkan : 1) Komunikasi dan koordinasi internal pengurus organisasi berjalan ke semua arah, namun berjalan kurang baik, 2) Cara memberikan motivasi yang banyak digunakan adalah koordinasi dengan bawahan, sedang yang khas adalah kedekatan personal dan pemotivasian di bidang kepenulisan bawahan, 3) Tujuan organisasi disusun oleh ketua umum, namun ketua umum tidak memberikan penjelasan pada pengurus di bawahnya mengenai makna dari tujuan tersebut 4) Cara pengambilan keputusan dalam organisasi adalah dengan gaya partisipatif-kelompok. Temuan lain dalam penelitian ini adalah :1) organisasi X adalah organisasi yang mengedepankan bakat minat dibandingkan keorganisasian, 2) meskipun kepengurusan lemah, departemen pengembangan bakat minat anggota tetap melaksanakan kegiatan sebagaimana fungsinya

    Workplace Spirituality Ditinjau dari Aspek Demografi: Jenis Kelamin, Tingkat Pendidikan, dan Lama Bekerja di Organisasi

    No full text
    Workplace spirituality merupakan sebuah topik yang sedang menjadi perhatian di dunia organisasi. Workplace spirituality adalah pengakuan bahwa karyawan memiliki inner life yang terpelihara dan dipelihara oleh pekerjaan yang bermakna dalam konteks komunitas. Workplace spirituality memiliki tiga dimensi yaitu inner life, meaning and purpose in work, dan a sense of connection and community. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji perbedaan workplace spirituality ditinjau dari aspek demografi meliputi: jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan lama bekerja di organisasi. Sampel penelitian adalah 81 orang karyawan yang telah bekerja pada sebuah organisasi atau perusahaan selama minimal satu tahun. Alat ukur yang digunakan adalah The Meaning and Purpose at Work Questionnaire yang telah di adaptasi ke dalam konteks budaya Indonesia. Analisis yang digunakan adalah t-test dan uji Kruskal-Wallis. Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa terdapat perbedaan workplace spirituality ditinjau dari lama karyawan bekerja di organisasi, sedangkan bila ditinjau dari jenis kelamin dan tingkat pendidikan tidak terdapat pebedaan workplace spirituality. Hal ini menunjukkan bahwa lamanya karyawan bekerja pada sebuah organisasi lebih memiliki makna pada workplace spirituality dibandingkan jenis kelamin dan tingkat pendidikan karena karyawan yang memiliki masa kerja lebih lama pada sebuah organisasi akan merasakan keselarasan antara nilai organisasi dengan nilai pribadi karyawan yang dapat menjadi dasar dalam pemenuhan kebutuhan spiritual individu

    Consummate Love pada Pasutri dengan Istri Mantan Pekerja Seks KomersialMERSIAL

    No full text
    Consummate Love (cinta yang sempurna), yaitu cinta yang tersusun atas komponen keintiman, gairah dan komitmen. Pasangan suami istri dengan masalalu istri sebagai pekerja seks komersial memiliki perjalanan rumah tangga yang menarik untuk dibahas dengan menggunakan cinta sempurna atau consummate love sebagai landasan utamanya.Pasutri dalam subjek peneltian ini memiliki kriteria diantaranya istri memiliki masalalu wanita pekerja seks komersial, pernikahan yang sudah berjalan 10 tahun atau lebih, tidak memiliki anak (keturunan), istri yang bekerja sebagai pencari nafkah utama dalam rumah tangga dan keadaan rumah tangga yang bisa menggambarkan keadaan harmonis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran cinta sempurna (Consummate Love) pada pasutri dengan istri mantan pekerja seks komersial. Peneliti pada penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang berjenis studi kasus dengan menggunakan teknik eksplanatori dengan kasus tunggal. Responden dalam penelitian ini merupakan 2 wanita dan 2 laki-laki yang merupakan sepasang suami istri. Teknik analisis yang digunakan teknik eksplanasi terstruktur. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tujuan awal dirinya berhenti menjadi PSK yaitu untuk menjalankan dengan baik kehidupan pernikahan yang diimpikannya dan menerima keadaan rumah tangga yang akan dialami. Dorongan positif atau motivasi diberikan oleh pihak suami menjadikannya kekuatan untuk bisa melewati berbagai macam reaksi sosial masyarakat, menerima keadaan apapun yang terjadi pada rumah tangganya, Sabar dan ikhlas dalam menghadapi masalah rumah tangga, tidak menuntut sesama pasangan untuk memenuhi keinginan dan kebutuhannya. Banyak juga faktor pendorong lain mempengaruhinya, pada bab 4 telah dijelaskan dalam bentuk deskripsi dan tabel hasil tema yang muncul dari wawancara kedua pasutri tersebut

    Penyusunan Asesmen Kebutuhan Anak dengan Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktifitas (GPPH)

    No full text
    Anak dengan perilaku hiperaktif dikenal sebagai anak bermasalah. Menurut Amin (2012) anak dengan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif merupakan bentuk perilaku yang ditemui dengan gejala menunjukkan sikap tidak terkendali, enggan untuk duduk diam, kesulitan untuk menjaga focus dan konsentrasi serta memunculkan perilaku yang impulsive. GPPH yang dialami oleh anak dapat memicu tidak maksimalnya prestasi belajar juga rendahnya tingkat prestasi dan deteksi buruknya area psikomotor. Implikasi tersebut merupakan dampak dari adanya kendala dalam coordination functioning, emotional response, interaksional, dan learning ability yang tidak menunjukkan fungsi yang koordinatif. Lebih jauh, implikasi ini juga berkaitan dengan learning process pada anak dengan GPPH yang tidak semudah pada anak normal pada umumnya. Sehingga, anak dengan GPPH membutuhkan suatu perlakuan khusus dengan menyesuaikan kebutuhan personal dari masing-masing anak yang memiliki perbedaan kebutuhan meskipun memiliki problem GPPH yang sama. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi kebutuhan anak GPPH, dengan menyusun instrumen asesmen kebutuhan. Penelitian menggunakan metode Research and Development  dengan model ADDIE. Berdasarkan data yang diperoleh, diketahui bahwa kebutuhan pada anak GPPH adalah penanganan pada area Task performance, Adaptive, cognitive dan emotional functioning. Berdasarkan instrument yang telah disebar, maka 4 area tersebut merupakan area yang paling membutuhkan untuk segera diberi penanganan atau treatment baik dalam konteks sekolah maupun tempat terapi

    Kriteria Penulisan Jurnal Personifikasi

    No full text
    Kriteria Penulisan Artikel Jurnal Personifikas

    Halaman Depan Vol. 12 no. 1 Tahun 2021

    No full text
    Halaman Depan Volume 12 No. 1 Tahun 2021Halaman Depan Vol. 12 no. 1 Tahun 202

    Profil Lingkungan Kumuh Terhadap Perilaku Penghuni dalam Teori Ekologi-Bronfenbrenner (Studi Kasus di Pemukiman Kumuh Pacar Keling Surabaya)

    No full text
    AbstrakTuntutan hidup yang semakin tinggi di kota Surabaya membuat sejumlah masyarakat memilih untuk tetap tinggal di pinggiran kota metropolitan. Kepadatan dan kesesakan akibat banyaknya penduduk di kota Surabaya akhirnya memunculkan hunian-hunian liar di sepanjang bantaran sungai di kota Surabaya. Banyaknya hunian tersebut memunculkan pemukiman yang kumuh dan tidak terawat. Menariknya, dalam kondisi tersebut banyak perilaku penghuni yang dapat dikaji menurut teori Ekologi-Bronfenbrenner. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil kondisi lingkungan terhadap perilaku penghuni menurut teori ekologi-Bronfenbrenner. Menggunakan pendekatan kualitatif yaitu mewawancarai secara mendalam subjek yang tinggal di bantaran sungai Pacar Keling Surabaya. Hasil penelitian dari ketiga aspek yang diangkat yakni perilaku terhadap lingkungan fisik, hubungan sosial dan stress lingkungan menunjukkan bahwa mereka menerima dengan legowo kondisi fisik lingkungannya, hubungan sosial tergolong rendah karena muncul perilaku ingin lebih tinggi daripada yang lain dan tidak mengalami stress lingkungan yang berarti bagi kehidupan sehari-harinya. Oleh karena itu hal ini menarik dan perlu dikaji lebih lanjut mengenai perilaku apa saja yang muncul jika ditinjau dari teori ekologi- Bronfenbrenner pada masyarakat yang berekonomi rendah tersebut AbstractThe higher the demands of life in the Surabaya made a number of people prefer to stay in the metropolitan suburbs. Density and crowding due to the many residents in the city of Surabaya eventually led to illegal dwellings along the banks of the river in the city of Surabaya. The number of residential dwelling raises rundown and not maintained. Interestingly, in these conditions many occupant behavior that can be assessed according to ecological theory. This study aims to determine the profile of environmental conditions on the behavior of occupants in ecological theory. Using a qualitative approach is interviewed in depth experience of 3 participants. These three randomly selected participants are willing to become respondents, tiered adult age categories, namely early, middle and end, and reside in slums. The results of the three aspect of the behavior show there are physical environment, social relations and environmental stress of the three subjects who were interviewed expressed a similar statement. They accept the physical condition environment, social relations are low because it appears the behavior want higher than the others and did not experience significant stress environment for daily life. Therefore it is necessary to study more  about any behavior that appears on the aspect of ecological theory of the low  economics community

    Menelaah Pengambilan Keputusan Korban Pelecehan Seksual dalam Melaporkan Kasus Pelecehan Seksual

    No full text
    ABSTRACTSexual harassment can occur everywhere, whether at work, in public places, or in the educational environment. This research aims to describe (1) the forms of sexual abuse experienced, (2) psychological effects, (3) the decision-making process  of  victims  of sexual  harassment, and (4) the expectations of victims of sexual abuse. This research used is qualitative research with phenomenology and in-depth interviews. The subjects in the study are the victims of sexual harassment as many as three women who are aged 21-25 years and who are active students in Malang. The subjects are divided into two categories. The results of the study are the The forms of sexual harrasment, the psychological effects on cognitive, affective, and behavior, the description about the process of decision making for the victims, and the victims hope that researcher describe on the discussion. ABSTRAKPelecehan seksual dapat terjadi di tempat kerja, di tempat umum, maupun di lingkungan pendidikan. Penelitian ini bertujuan  untuk menelaah (1) bentuk pelecehan  seksual yang dialami, (2) dampak psikologis, (3) proses pengambilan keputusan korban pelecehan seksual,dan (4) harapan korban pelecehan seksual. Penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi dan teknik wawancara mendalam. Adapun subjek dalam penelitian merupakan korban pelecehan seksual sebanyak tiga orang perempuan berusia 21-25 tahun dan merupakan mahasiswa aktif di Malang. Hasil penelitian menunjukkan terdapat pelecehan seksual verbal dan non-verbal yang terjadi, dampak psikologis terkait dampak kognitif, afektif, psikomotorik dan perilaku, proses pengambilan keputusan korban yang melaporkan dan tidak melaporkan kasus, serta harapan korban yang dijabarkan dalam hasil dan pembahasan

    PSK dan Tekanan Sosial Pasca Penutupan Gang Dolly Surabaya

    No full text
    Pekerja seks komersil (PSK) adalah suatu perilaku seksual berganti-ganti pasangan, dapat dilakukan oleh pria maupun wanita. Di Indonesia praktek prostitusi lebih banyak dilakukan oleh wanita dan mudah sekali ditemui di daerah lokalisasi, seperti halnya di gang Dolly Surabaya.  Sebuah kawasan prostitusi yang sudah berdiri sejak 1967. Rencana penutupan gang Dolly  pada tanggal 19 Juni 2014, mulai membuat resah warga sekitar yang rata-rata menggatungkan kehidupannya lewat bisnis prostitusi. Tidak semua PSK di gang dolly adalah warga asli surabaya, rata-rata mereka adalah pendatang. Harapan pemerintah kota surabaya pasca penutupan mereka akan kembali ke daerahnya masing-masing, dan membuka usaha setelah mendapatkan kompensasi (berupa uang). Tetapi kenyataannya tidak semudah itu apakah warga tempat asal tinggal mereka bisa menerimanya karena dalam kehidupan sosial para PSK / Mantan PSK banyak menghadapi tekanan-tekanan sosial, selain itu mereka kurang mendapat tempat dalam struktur masyarakat. Sehingga ini akan menimbulkan masalah baru, karena tidak semua PSK bisa kuat menerima keadaan ini, bila mereka harus kembali ke daerah asal mereka. Karena sebagian besar masyarakat menganggap PSK itu hina, tentu PSK akan berpikir orang-orang disekitarnya memusuhi dan mengucilkannya, sehingga PSK merasa takut untuk berinteraksi dengan masyarakat sekitar yang dianggapnya tidak menerima eksistensinya di tengah masyarakat akibat status pekerjaannya. Para PSK yang sudah di pulangkan dan diberi keterampilan melalui pembinaan, tidak hanya dilepas begitu saja setelah penutupan lokalisasi, tapi terus diberdayakan agar bisa mandiri. Dengan terus melakukan pendampingan, sehingga mereka tidak merasa ditinggalkan. Mereka dibina dan di karyakan dengan bisa menciptakan lapangan kerja yang halal, dan dipantau oleh pihak setempat untuk terus mengembangkan hasil-hasil karyanya, sebagai hasil ketrampilan/kecakapan yang akan menjadi penghasilannya dan menyelamatkan tingkat perekonomian mereka

    HUBUNGAN GRIT DENGAN ORGANIZATIONAL CITIZENSHIP BEHAVIOR PADA KARYAWAN DI UNIVERSITAS X

    No full text
    Grit is defined as perseverance of effort and consistency of interest. This is to be seen by researchers in relation to organizational citizenship behavior in the scope of work of employees at X University. This study aims to understand the relationship between Grit and OCB for employee at X University. The method in this study using correlational research. The population in this study were 295 people with a sample of 110 people. The research instrument used in this study was adapted from the Grit measuring instrument developed by Angela Lee Duckworth (2007) and for organizational citizenship behavior using Williams and Anderson (1991) measurement tools that distinguish OCB into two, namely OCB-Organization (OCB-O) and OCB Individual (OCB-I). The results of this study show the positive correlation between Grit and OCB-I (r = 0.270, α = 0.04) but do not correlate with OCB-O (r = 0.04, α = 0.055).

    0

    full texts

    169

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Personifikasi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇