Personifikasi
Not a member yet
169 research outputs found
Sort by
Kaitan Moral Disengagement dan Aggressive Driving Behavior : Tinjauan Pada Remaja Pengendara Sepeda motor
One of the factors of high traffic accidents is the growing rate of vehicles. In Indonesia, traffic accidents that occur are dominated by two-wheeled vehicles, namely motorcycles and often involve young drivers. One of the causes of adolescent involvement in accidents is aggressive driving behavior which can be influenced by moral disengagement. This quantitative study aims to determine the role of moral disengagement on aggressive driving behavior in adolescent motorcyclists. The hypothesis of this research is that moral disengagement plays a role to aggressive driving behavior on adolescent motorcyclist. This research uses purposive sampling as a sampling technique. The respondents range from 14-19 year old motorcyclists in Palembang, amounting to about 150 respondents. The instrument used is the Aggressive Driving Behavior Scale (ADBS) by Houston et al. (2003) and the Moral Disengagement Scale by Bandura et al. (1996), both modified. Simple regression technique was used to analyze the research data and with the help of IBM SPSS 22. Based on the results of the regression analysis, the R square value between moral disengagement and aggressive driving behavior is 0.107, the F value is 17.682, and the significance value is 0.000 (p smaller than 0.005). This shows that moral disengagement has a significant role in aggressive driving behavior. Thus, the hypothesis proposed by this study can be accepted
Peran Work Self Efficacy terhadap Job Crafting pada Guru SMA di Kota Kediri
Job crafting merupakan merupakan bentuk perubahan dari inisiatif karyawan untuk menyeimbangkan sumber daya dan tuntutan pekerjaan yang diperlukan untuk melatih inisiatif dan kreativitas guru. Oleh sebab itu dibutuhkan work self efficacy untuk meningkatkan kemampuan job crafting guru. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peran work self efficacy terhadap job crafting pada guru. Responden dalam penelitian ini berjumlah 205 guru SMA di Kota Kediri. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif kausal komparatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan skala work self efficacy dan skala job crafting. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik regresi linier sederhana dengan nilai F hitung sebesar 13,002 dan taraf signifikansi p=0,001 (p lebih kecil dari 0,05) yang menunjukkan bahwa ada peran yang signifikan antara work self efficacy terhadap job crafting. Hasil analisis sumbangan efektif menunjukkan bahwa work self efficacy berkontribusi sebesar 6% terhadap job crafting pada guru. Semakin tinggi work self efficacy maka akan meningkatkan job crafting guru
Manajemen Konflik Pedagang Asal Madura di Surabaya
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manajemen konflik pedagang asal Madura di Surabaya. Manajemen konflik dibagi menjadi enam gaya manajemen konflik yaitu menarik diri, akomodatif, pemaksaan, kompromi, berkolaborasi, dan memecahkan masalah. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus kolektif. Subjek dari penelitian ini adalah pedagang asal Madura. Metode pengumpulan data menggunakan interview. Informan dan subjek dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data menggunakan model Miles dan Hubberman. Keabsahan data menggunakan triangulasi waktu. Hasil penelitian ini menunjukkan temuan dari keenam gaya manajemen konflik yang paling dominan seperti akomodatif dan memecahkan masalah. Penelitian menunjukan bahwa semua subjek sebelum berkomunikasi dengan lawan bicara mencari informasi tentang sifat dan kebiasaannya terlebih dahulu, menetapkan batasan antara yang harus dikatakan atau tidak dan tetap mematuhi protokol kesehatan selama pandemi Covid-19. Sedangkan untuk memecahkan masalah selama terjadi konflik semua subjek mencari akar permasalahan yang terjadi, mengambil keputusan dengan tenang, mencari solusi bersama, meminta bantuan orang lain untuk menjelaskan permasalahan yang terjadi
Kemampuan Komunikasi Organisasi Terhadap Komitmen Organisasi Pada Anggota Badan Eksekutif Mahasiswa
Komunikasi merupakan rutinitas penting bagi setiap individu dan merupakan bagian dari kehidupan sosial. Sama halnya ketika berorganisasi, komunikasi organisasi yang efektif dan baikjuga dibutuhkan agar suatu organisasi dapat berjalan dengan sebagaimana mestinya guna mencapai tujuan bersama. Namun, dilingkungan kita masih banyak terdapat organisasi yang koordinasi antar anggotanya masih berjalan kurang baik, sehingga hal ini dapat mempengaruhi proses kerja pada organisasi tersebut. Penelitian ini berbentuk penelitian kuantitatif yang bertujuan untuk melihat apakah komunikasi dalam organisasi berdampak pada komitmen organisasi yang ada pada organisasi Fakultas Studi Islam di salah satu swasta yang ada di Riau. Bentuk dari penelitian ini adalah studi populasi dengan subjek berjumlah 27 orang. Penelitian ini menggunakan dua skala penelitian, yaitu skala komitmen organisasi dan skala komunikasi organisasi dengan nilai koefisien realibilitas yaitu 0,951 dan nilai koefisien validitas aitem 0,273 lebih kecil dari r x y lebih kecil dari 0,563, dan untuk skala komunikasi organisasi memiliki nilai koefisien realibilitas 0,942 dengan nilai koefisien validitas aitem 0,234 lebih kecil dari r x y 0,385. Analisis data menggunakan software SPSS, untuk menguji hipotesa dilakukan dengan uji regresi linier sederhana. Sesuai dengan hasil yang telah didapat oleh peneliti serta pembahasan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa kemampuan komunikasi dalam organisasi berdampak terhadap komitmen organisasi pada anggota BEM Fakultas Studi islam di salah satu Universitas swasta yang ada di Riau. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa komunikasi organisasi memeberikan pengaruh sebesar 26,8 % terhadap komitmen organisasi
Dinamika Psikologis pada Ibu Rumah Tangga dalam Menghadapi Pembelajaran Daring Selama Pandemi Covid-19
Covid-19 memberikan banyak dampak pada masyarakat salah satunya dibidang pendidikan. Pendidikan yang merupakan salah satu sektor penting dalam masyarakat terkena dampak penyebaran virus Covid-19 sehingga munculnya keputusan Kemdikbud mengenai kebijakan prosedur kegiatan belajar mengajar dilakukan secara daring. Pembelajaran daring memberikan dampak terhadap peran ibu rumah tangga. Peran ibu rumah tangga yang sekarang juga harus berperan sebagai guru membuat ibu terbebani dengan bertambahnya pekerjaan rumah tangga. Ibu perlu belajar memahami beberapa petunjuk untuk dapat membantu mengerjakan tugas sekolah. Sementara tugas pengasuhan masih tetap menjadi tanggung jawabnya. Dimana Ibu juga tidak bisa hanya mengeluhkan bebannya tersebut, karena kondisi keluarga memang juga sedang tidak baik akibat pandemi. Maka dari itu penelitian ini berfokus pada dinamika psikologis yaitu kognitif, emosi dan juga hubungan interpersonal ibu rumah tangga yang berperan dalam mendampingi daring. Metode yang digunakan yaitu pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Pengumpulan data dengan cara wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 3 subjek mempunyai hasil yang berbeda. Secara kognitif subjek EF dan SH mendapat bantuan dari keluarga dan juga dari guru bimbingan belajar sedangkan subjek EW hanya dari diri sendiri. Secara emosi ketiga subjek mendapat dukungan dari keluarga. Sedangkan secara hubungan interpersonal subjek EF dan EW banyak melakukan komunikasi dengan orang lain, sedangkan SH kurang melakukan komunikasi dengan orang lain. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan pembalajaran daring yang dijalani oleh ibu rumah tangga mempengaruhi dinamika psikologis karena harus membagi antara pekerjaan rumah tangga dan juga pendampingan daring
Authoritative Parenting and Self-Efficacy as Predictitors of Junior High School's Academic Achievement during The Covid-19 Pandemic
This research aimed to determine the relationship between authoritative parenting style and self-efficacy with student mathematics learning achievement in Junior High School X Tegal. This research used quantitative methods. The subjects in this research were 330 Junior High School X Tegal students for the 2021/2022 school year. The sampling technique was the cluster random sampling technique. This research used two scales and a report on students' mathematic learning achievement. The authoritative parenting style's first scale consists of 17 items with a score of a reliability coefficient of 0,781. The second scale is the self-efficacy scale consists of 17 items with a score of a reliability coefficient of 0,749. This research used analysis regression and partial correlation technique for analyzing the data. The first hypothesis's result showed no relationship between authoritative parenting style and self-efficacy with students mathematics learning achievement, R equal with 0,073, F equal with 0,864, and p equal with 0,422 (p more than 0,05), which means the hypothesis is not accepted. The second hypothesis showed that authoritative parenting style and students' mathematics learning achievement have no correlation, r1-2 equal with 0,073, p equal with 0,190 (p more than 0,05), which means the hypothesis is not accepted. The third hypothesis showed that self-efficacy and students' mathematics learning achievement have no correlation, r2-1 equal with -0,021 and p equal with 0,703 (p more than0,05), which means the hypothesis is not accepted
Gambaran Dukungan Sosial Keluarga yang Memiliki Anak Tuna Rungu
Peran orang tua khususnya ibu sangatlah penting dalam perkembangan anak tunarungu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana gambaran dukungan sosial keluarga yang memiliki anak tuna rungu. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis metode studi kasus dengan subjek penelitian ini adalah 2 anak tuna rungu (AB dan D) dengan informan tambahan 2 ibu dari kedua anak tersebut yaitu Ibu I dan A Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan wawancara semi tersruktur yang mana jenis wawancara ini sudah termasuk dalam kategori indepth interview, dimana pelaksanaannya lebih bebas dan terbuka dalam melakukan wawancara. Dari hasil dari penelitian ini diketahui bahwa dukungan sosial yang dialami oleh subyek dapat dijelaskan dalam dukungan emosional, dukungan instrumental, dukungan informatif, dan dukungan persahabatan. Bentuk dukungan sosial keluarga yang didapatkan oleh subyek AB dan D berbeda yang berpengaruh terhadap kepercayaan diri, keterbukaan dan keberaniannya. Salah satu hal yang berkaitan dengan dukungan sosial keluarga pada anak penyandang disabilitas tunarungu adalah kualitas komunikasinya dengan keluarga yang lebih banyak dengan ibu, cenderung mendukung keterbukaan anak pada ibunya
Hubungan Antara Gaya Resolusi Konflik dan Kepuasan Pernikahan pada Remaja yang Telah Menikah
Konflik merupakan hal yang biasa terjadi dalam kehidupan pernikahan, termasuk pasangan suami istri usia remaja. Adanya konflik dapat memberikan dampak positif maupun negatif bagi relasi pernikahan, tergantung bagaimana individu mengelola dan menyelesaikannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui korelasi antara gaya resolusi konflik dengan kepuasan pernikahan pada remaja yang menikah. Partisipan penelitian ini adalah 65 remaja tahap akhir (18-23 tahun) yang telah menikah dan tinggal di Jakarta. Instrumen penelitian yang digunakan adalah Thomas Kilmann Instrument (TKI) untuk mengukur gaya resolusi konflik dan ENRICH Marital Satisfaction (EMS) untuk mengukur kepuasan pernikahan. Hasil penelitian menunjukkan gaya resolusi konflik tidak berhubungan secara signifikan dengan kepuasan pernikahan pada remaja yang telah menikah. Meski demikian, kami menemukan juga bahwa terdapat perbedaan skor kepuasan pernikahan yang signifikan ditinjau dari status pekerjaan dan jumlah anak
Efektivitas Pelatihan Pemberdayaan Pengikut Loyalis yang Asertif di Lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur
Birokrasi yang bersih dan berkomitmen menunjukkan sistem dukungan yang baik dari para pemangku kepentingan, misalnya pemangku kepentingan yang berperan sebagai loyalis asertif. Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) bisa menjadi contoh dari hal tersebut. Loyalis yang asertif bisa diartikan sebagai pengikut yang mendukung pemimpinnya tetapi tidak kehilangan sikap kritisnya terhadap kebijakan dan perilaku pemimpin. Pelatihan merupakan hal penting untuk memberdayakan loyalis asertif di pemerintah daerah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pelatihan untuk memberdayakan pengikut loyalis asertif. Efektivitas pelatihan diukur dengan menggunakan kuesioner. Penelitian ini mengadopsi evaluasi tahap pembelajaran oleh Kirkpatrick dan Kirkpatrick. Metode yang digunakan adalah desain eksperimen kuasi. Penelitian dimulai dengan mengamati partisipan penelitian dan memberikan pretest. Setelah itu, peneliti akan memberikan intervensi kepada partisipan penelitian. Selanjutnya partisipan penelitian diamati kembali dan diberikan posttest. Intervensi yang diberikan berupa pelatihan bagi peserta penelitian. Peserta penelitian adalah ASN (Aparatur Sipil Negara) dengan kualifikasi pejabat struktural dan pejabat pelaksana yang mengelola kepegawaian, jabatan fungsional analis kepegawaian, jabatan fungsional asesor, dan ASN yang berminat di bidang kepemimpinan dan manajemen SDM. Tolok ukur untuk mengetahui efektivitas pelatihan adalah dengan membandingkan hasil pre-test dan post-test peserta pelatihan. Hasil pre-test dan post-test menunjukkan perubahan yang positif. Pada hasil pre-test, persentase butir jawaban benar dari seluruh peserta adalah 44,95%. Sedangkan hasil post-test menunjukkan bahwa persentase butir jawaban benar dari seluruh peserta adalah 62,98%. Hasil ini mencerminkan perubahan positif (18,03%) dalam pengetahuan peserta penelitian tentang pengikut loyal yang asertif. Saran untuk penelitian selanjutnya adalah menindaklanjuti efektivitas pelatihan pada tahap perilaku dan hasil dari perspektif Kirkpatrick dan Kirkpatrick
Peran Resiliensi, Positive Social Relationships, dan Health Belief terhadap Kesejahteraan Emosi Pasien Hemodialisis
Individu didiagnosis dengan penyakit ginjal stadium akhir dan harus menjalani perawatan hemodialisis memiliki implikasi bahwa menjadi tergantung pada pengobatan seumur hidup. Sejumlah studi melaporkan pasien hemodialisis mengalami beban simtom dan terganggunya well-being akibat penyakit maupun perawatan hemodialisis. Penelitian ini bertujuan untuk menguji peran resiliensi, positive social relationships, dan health belief terhadap emotional well-being pasien hemodialisis. Subjek penelitian yaitu pasien penyakit ginjal stadium akhir yang menjalani hemodialisis secara rutin di Instalasi Hemodialisis RSU Dr. Soetomo, Surabaya yang dipilih melalui purposive sampling, artinya dipilih berdasarkan pertimbangan kriteria tertentu dan kesediaan berpartisipasi. Penelitian ini melibatkan pasien hemodialisis sejumlah 55 orang terdiri dari 34 laki-laki dan 21 perempuan, berusia 26 – 60 tahun. Menggunakan metode kuantitatif dengan melakukan survei, pengumpulan data dilakukan menggunakan lima Skala yakni Scale of Positive and Negative Experience (SPANE) dan Satisfaction with Life Scale (SWLS), 10-Item Connor-Davidson Resilience Scale (10-Item CD-RISC), Medical Outcomes Study Social Support Survey (MOS-SSS), dan Skala Health Belief. Analisis data dilakukan dengan analisis statistik uji regresi ganda. Hasil uji regresi ganda menunjukkan bahwa hipotesis ditolak, artinya resiliensi, positive social relationships, dan health belief secara simultan tidak dapat memprediksi emotional well-being pasien hemodialisis (F sama dengan 2,363, p lebih besar dari 0,05). Secara parsial, berdasarkan nilai t diketahui hanya resiliensi memberi kontribusi signifikan terhadap emotional well-being (t sama dengan 2,342, p lebih kecil dari 0,05), sementara positive social relationships dan health belief masing-masing memberi kontribusi tidak signifikan terhadap emotional well-being. Penelitian berikutnya diharapkan dapat membantu meningkatkan coping resources yakni resiliensi yang bermanfaat mendorong perkembangan emosi positif, serta dapat membantu memberi edukasi terkait penyakit ginjal dan hemodialisis sehingga pasien memiliki pemahaman, respon permasalahan, dan belief yang lebih positif