Personifikasi
Not a member yet
169 research outputs found
Sort by
Adversity Quotient pada Relawan Kampung Dongeng Bangkalan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adversity quotient pada relawan Kampung Dongeng Bangkalan. Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman mengenai adversity quotient. Adversity quotient menurut Stoltz (2005) terbagi individu menjadi tiga kelompok, yaitu quitters, campers dan climber. Quitters selalu meninggalkan impiannya dan memilih jalan yang dianggapnya paling mudah. Tipe climbers menjalankan hidupnya secara lengkap. Paham mengenai arti perjuangan, arti kebahagiaan ketika mencapai hasil, dan memahami hikmah perjuangannya. Adversity quotient juga mempunyai empat aspek yaitu control, original dan ownership, reach, dan endurance. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Subjek dalam penelitian ini adalah tiga orang relawan kampung dongeng Bangkalan yang ditentukan berdasarkan purposive sampling dengan kriteria yaitu: tergabung dalam komunitas Kampung Dongeng Bangkalan, dan merupakan relawan aktif. Metode pengumpulan data menggunakan teknik wawancara semi terstruktur dianalisis menggunakan teknik yang dipaparkan oleh Sugiyono (2014). Teknik pemeriksaan keabsahan data menggunakan triangulasi sumber, diambil tiga Significant Others dengan kriteria orang terdekat subyek penelitian
Pengaruh Pelatihan Komunikasi Interpersonal Untuk Meningkatkan Kualitas Layanan Terhadap Pelanggan Pada Karyawan PT. Arina Multikarya
AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh antara pelatihan komunikasi interpersonal untuk meningkatkan kualitas pelayanan terhadap pelanggan pada karyawan PT. Arina Multikarya. Jenis penelitian ini merupakan kuasi eksperimen. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah non randomized pre-test post test control group design. Subyek dalam penelitian eksperimen ini berjumlah 30 orang yang terbagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Teknik penentuan sampel dalam penelitian ini dilakukan secara non random, jenis kuota sampling, dimana bagi peserta yang telah memenuhi kuota untuk mendaftarkan pelatihan, secara otomatis tergabung dalam kelompok eksperimen sedangkan kelompok kontrol. Kuota lebih diutamakan karyawan divisi marketing. Kelompok kontrol terdiri dari orang yang ditunjuk oleh atasan sebagai pembanding. Pelatihan Komunikasi Interpersonal dilaksanakan dalam 2 (dua) hari yang terbagi menjadi 8 (delapan) sesi dengan materi kemampuan dasar komunikasi meliputi ketrampilan mengirimkan pesan, mendengarkan, dan memberikan umpan balik. Berdasarkan hasil analisis data menunjukkan bahwa ada pengaruh positif pelatihan komunikasi interpersonal untuk meningkatkan kualitas pelayanan terhadap pelanggan antara sebelum dan setelah diberikan pelatihan. AbstractPurpose of this research is to examine positive effect of Communication Interpersonal Research to increase service excellence on employee of PT. Arina Multikarya. This type of research is a quasi experiment. The experimental design of this research is non randomized control group design. 30 participant of this research divided into two group, experiment and control group, which non randomized by quota sampling. The participant who is in the marketing department, automatically join in experimental group, and who isn’t in the marketing department, join in control group. This package of training of interpersonal communication applied into 8 session on two days, teaches basic communication skills, such as sending nterpersonal message skills, listening skills, and providing feedback skills. Based on result of data which analyze by repeated measures on experiment group, is shown that there is a positive influence between interpersonal communication training to increase service excellence
Pengaruh Body Shaming terhadap Kecenderungan Anorexia Nervosa pada Remaja Perempuan di Surabaya
ABSTRACTThere are many dramatic changes in adolescence, one of them is the physical changes in which adolescent girls are less satisfied with their bodies due to increased amount of fat. There is an assumption that having a thin body will be easier to adapt to the social environment, influencing adolescents in making a decision to go on a diet even though it causes a tendency to anorexia nervosa. This research was conducted to knowing the effect of body shaming on the tendency of anorexia nervosa in adolescent girls in Surabaya. This study uses a quantitative approach where the respondents in this study were adolescent girls who experienced the tendency of anorexia nervosa in the city of Surabaya with a total of 349 respondents. The instruments in this study were the body shaming scale and the tendency scale for anorexia nervosa. This study used to simple linear regression test to analyze data (with SPSS 24 for windows program). The results of the study show the value of F = 54.172; P = 0.00, and R = 0.135. This means that there is an effect of body shaming on the tendency of anorexia nervosa in teenage girls in Surabaya. ABSTRAK Banyak perubahan dramatis di usia remaja, salah satunya adalah perubahan fisik dimana remaja perempuan kurang puas dengan tubuhnya terkait dengan meningkatnya jumlah lemak. Adanya anggapan bahwa memiliki tubuh kurus akan lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan sosial, mempengaruhi remaja dalam mengambil suatu keputusan untuk melakukan diet meskipun menimbulkan kecenderungan anorexia nervosa. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh body shaming terhadap kecenderungan anorexia nervosa pada remaja perempuan di Surabaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dimana responden dalam penelitian ini adalah remaja perempuan yang mengalami kecenderungan anorexia nervosa di kota Surabaya dengan jumlah 349 responden. Instrumen dalam penelitian ini adalah skala body shaming dan skala kecenderungan anorexia nervosa. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji regresi linier sederhana dengan bantuan program SPSS 24 for windows dimana hasil penelitian menunjukkan nilai F = 54,172; P = 0,00, dan R = 0,135. Artinya terdapat pengaruh body shaming terhadap kecenderungan anorexia nervosa pada remaja perempuan di Surabaya
Pengaruh Kompetensi Profesional Guru Terhadap Minat Belajar Siswa SMP Islam Al-Waroqot Pamekasan
Guru yang berkualitas, berkompetensi profesional, akan mempengaruhi proses belajar mengajar siswa, yang akan menghasilkan minat belajar siswa yang lebih baik. Dalam penelitian ini, menggunakan metode kuantitatif. Yang mana dalam pngumpulan data menggunakan Skala Kompetensi Profesional Guru yang terdiri dari 36 item dan Skala Minat Belajar yang terdiri dari 33 item yang dikenakan pada siswa kelas VII, VIII dan IX yang dipilih dengan menggunakan teknik proportionate stratified random sampling, sebanyak 30 siswa dengan populasi sebanyak 120 siswa. Untuk pengujian hipotesis menggunakan analisis korelasi person product moment dan menggunakan rumus degrees of freedom untuk mengetahui signifikansi variabel x dan variabel y. Penelitian ini memperoleh hasil bahwa terdapat pengaruh antara kompetensi profesional guru terhadap minat belajar siswa SMP Islam Al-Waroqot Pamekasan dengan korelasi sempurna yaitu 1. Setelah mendapatkan rxy atau ro lebih besar dari r tabel atau rt baik pada taraf signifikansi 5% maupun 1% yaitu (1 lebih dari 0,374/0,478). maka H0 ditolak yang artinya terdapat pengaruh yang singnifikan kompetensi profesional guru terhadap minat belajar siswa
Pengaruh Konten Radikal Terhadap Sikap Radikalisme (Analisis Berdasarkan Theory of Planned Behavior dari Ajzen dan Fishbein)
Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh konten radikal terhadap sikap radikalisme (analisis berdasarkan Teori Planned Behavior dari Ajzen dan Fishbein). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Sample dalam penelitian ini berjumlah 393 orang yang aktif mengikuti konten radikal di media sosial. Teknik sampling yaitu Purpusive sampling (non-probability sampling). Alat ukur dalam penelitian ini menggunakan skala konten radikal dan skala sikap radikalisme. Analisis data yang digunakan regresi linier, SPSS seri 23. Hasil dari penelitian ini adalah ada pengaruh positif konten radikal terhadap sikap radikalisme. Didasarkan pada hasil hitung F= 806,47 dan probabilitas 0.000 (0.000 kurang dari 0.05). Sumbangan efektif konten radikal terhadap sikap radikalisme sebesar 67,3 % sementara sisanya 32,7% dipengaruhi faktor lain
Motif Pelaku Aborsi Di Kalangan Remaja Dan Solusinya (Studi Kasus Terhadap Mahasiswa di Universitas Trunojoyo Madura dengan Pendekatan Psikologi Komunikasi)
AbstrakIn Indonesia, abortion is a common phenomenon, something that is usually done by people who do not want the fetus. From the WHO study estimated 20-60 percent of abortions in Indonesia is intentional abortion (induced abortion), because some of the underlying reasons. Most abortion clients are in the age range of 20-29 years. The researchers focused on adolescents (student) Trunojoyo University, who has had an abortion. From this number of abortions among adolescents in this study researchers tried to find a solution. Methods used this research is a type of qualitative research with a case study approach , the research object is the motive of the perpetrator to have an abortion while the subject is categorized adolescent students who have had abortions . Data collection is to indeepth interview, observation, and documentation. With purposive sampling technique. This study used a psychological approach to communication. In order for this study resulted in validity, researchers used triangulation of data validity. The results achieved in this study was the motive teen abortions are influenced by fear and shame to the immediate family (parents ), other families, community, neighbors, and friends . Construction of human motives that exist in this study are feeling fear, feeling shame, and feeling Compound. They are still sitting in college and do not want to interfere with her pregnancy so abortion is bieng happened. The abortion motif influenced by his girlfriend fiance or by taking special pills for abortion. The theory underlying this research is psychoanalysis Sigmund Freud’s theory that humans are driven by pent-up desires that Id. The solution offered in this study the presence of the psychology of communication according to Fisher's approach is acceptance of sensory stimuli, a process that mediates stimulus and response, response prediction and confirmation response. With the understanding, enjoyment, affect attitudes, good social relations, and actions that gave birth to adolescence with effective communication willing to accept moral education, premarital sex education, knowledge of the hazards of abortion, reproductive health, and doing activities that facilitate positive adolescent expression
Pengaruh Pelatihan Asertif Terhadap Keterampilan Sosial Pada Siswa Kelas X Korban Bullying Di SMA N 1 Kamal
AbstractBullying is a behavior that is unwanted and aggressive among school-age children where the perpetrator uses physical strength, popularity and blocking access to information to control or hurt another child. This study aimed to determine the effect of assertiveness training on social skills bullied in class X High School. This study is a population with a total study population was all students are victims of bullying in the class X SMA N 1 Kamal. This research is a Pre-Experimental Design with One Group Pretest-Posttest. The research began by distributing a questionnaire to know the students who are victims of bullying in the school that would become the subject of research. Methods of data collection using the attitude scale pre test and post test after receiving training in the form of assertive Social Skills Scale. Data were processed with SPSS 17.0 for Windows statistical test Paired Sample t-Test to determine the effect of assertiveness training on social skills in class X victim of bullying at school N 1 Kamal. The results showed that there was no effect of assertiveness training on social skills in class X victim of bullying at SMAN 1 Kamal. This is partly due to several factors. First in terms of intensity pelati han fairly short, 1 hour per week for 3 weeks. It takes a short time not to change one's behavior. Second, because of the lack of intent or "intention" as a determinant of behavior. Thirdly because the stimulus is given not exceed the original stimulus
Perasaan Malu (Shyness) pada Mahasiswa Baru di Program Studi Psikologi Universitas Trunojoyo Madura
AbstrakPerasaan malu (shyness) dapat dialami semua orang. Akan tetapi perasaan malu (shyness) dapat menjadi suatu problem jika muncul secara menetap dengan disertai kesepian, kecemasan, dan frustrasi (Scott dalam Dwi Nurhayati Adhani, 2013). Penelitian-penelitian menunjukkan bahwa perasaan malu (shyness) dapat menimbulkan beberapa dampak yaitu kurangnya self awareness, munculnya simptom depresi, bahkan minimnya interaksi sosial yang dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauhmana perasaan malu (shyness) dari mahasiswa baru Program Studi Psikologi Universitas Trunojoyo Madura. Penelitian ini untuk melihat bagaimana bentuk perasaan malu (shyness) dengan aspek pikiran, perasaan, perilaku, dan situasi bagaimana yang memunculkan perasan malu (shyness) pada mahasiswa baru. Penelitian ini berfokus pada mahasiswa baru karena sebagai mahasiswa baru mengalami transisi dari meninggalkan bangku SMU menjadi seorang mahasiswa yang mengalami situasi dan lingkungan sosial yang baru yang membutuhkan usaha yang lebih dari seorang individu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah mahasiswa pemalu (shyness) berjumlah 61 orang, sedangkan persentase situasi tertinggi yang memunculkan perasaan malu (shyness) situasi sosial yang baru berjumlah 8 mahasiswa (13,11%), ketakutan untuk dievaluasi negatif sebanyak 13 mahasiswa (21,31%), dan menjadi pusat perhatian sebanyak 40 mahasiswa (65,58%). Jumlah subjek peneliti yang ingin merubah perasaan malu (shyness) yang dimiliki karena merasa terganggu dan memiliki dampak negatif, seperti sulit berinteraksi sosial berjumlah 59 orang, sedangkan yang tidak merasa perasaan malu (shyness) sebagai gangguan sebanyak 2 orang. AbstractShyness may be experienced by everyone. But shyness can be a problem if it arises permanently accompanied by loneliness, anxiety, and frustration (Scott in in Dwi Nurhayati Adhani, 2013) . Studies show that shyness may lead to some impacts that the lack of self- awareness, the emergence of symptoms of depression, even the lack of social interaction. This study aims to determine the extent of shyness of new students of Psychology in Trunojoyo University. This research is to see how the shape of shyness with aspects of thoughts, feelings, behaviors, and how the situation that gave rise to shyness in new students . This study focuses on new student because as new student make the transition from high school be a student who experienced the situation and the new social environment that requires more than an individual. The results showed that the number of students shy (shyness) amounted to 61 people, while the highest percentage of the situation that gave rise to feelings of shame (shyness) is a new social situation amounts to 8 students (13.11 %), fear of negative evaluation were 13 students (21.31 %), and became the center of attention of as many as 40 students (65.58 %) . The number of researchers who want to change the subject shyness owned since being distracted and having a negative impact, such as social interaction difficult totaling 59 people, while not feeling a sense of shame (shyness) as impaired by 2 people
PERBEDAAN EMPATI SISWA NORMAL TERHADAP ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DITINJAU DARI JENIS SEKOLAH (INKLUSI DAN REGULER)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan empati siswa normal tehadap anak berkebutuhan khusus ditinjau dari jenis sekolah (inklusi dan reguler). Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif komparatif. Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah 150 siswa normal, yang terdiri dari 75 siswa normal sekolah inklusi dan 75 siswa normal sekolah reguler dengan teknik simple random sampling. Pengumpulan data menggunakan skala empati terhadap anak berkebutuhan khusus yang disusun peneliti berdasarkan teori dari Eisenberg (2002) yang dikembangkan oleh peneliti berdasarkan 2 aspek empati. Metode analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan independent sampel t-test dengan bantuan program SPSS 23.00 for windows. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah terdapat perbedaan empati siswa normal tehadap anak berkebutuhan khusus ditinjau dari jenis sekolah (inklusi dan reguler). Berdasarkan hasil analisis data penelitian diperoleh nilai T-Test sebesar 7,490 dengan nilai signifikansi 0,000 (P lebih dari 0,05), artinya hipotesis penelitian diterima. Hal ini sesuai dengan hipotesis yang diajukan oleh peneliti yaitu terdapat perbedaan empati siswa normal tehadap anak berkebutuhan khusus ditinjau dari jenis sekolah (inklusi dan reguler). Sekolah inklusi memiliki (M = 154,56) lebih tinggi daripada sekolah reguler (M = 138,08)
PERAN GRATITUDE (KEBERSYUKURAN) TERHADAP PSYCHOLOGICAL WELL-BEING TENAGA KESEHATAN
Tenaga kesehatan di rumah sakit digambarkan sebagai garda depan pelayanan. Terlebih di era menuju revolusi industri 4.0, tenaga kesehatan justru memberikan peranan penting, karena layanan terkait dengan pelayanan terhadap publik secara digital dianggap akan membuat pekerjaan menjadi lebih efektif dan efisien serta mengedepankan service excellent. Di sisi lain, fenomena itu juga berdampak pada kesejahteraan afektif mereka karena masih tertuntut untuk melakukan beberapa pekerjaan lain sekaligus. Psychological well being adalah individu yang memiliki sikap positif terhadap diri sendiri, sehingga ia mampu menyesuaikan perilakunya untuk menciptakan lingkungan yang kompatibel dengan kebutuhannya. Salah satu yang mempengaruhi psychological well-being adalah rasa bersyukur (Alex Linley, Joseph, Maltby, Harrington, dan Wood, 2012). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran gratitude terhadap psychological well being pada tenaga kesehatan di Rumah Sakit Camatha Sahidya Batam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei korelasional. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala Ryff’s Psychological Well-Being Scale (Ryff dan Keyes, 1995) dan skala rasa bersyukur yang dikemukakan oleh Fitzgerald (Boleyn-Fitzgerald, 2016), Peterson (Peterson dan Schreiber, 2012) dan (Seligman, 2018). Hasil penelitian terungkap bahwa gratitude memiliki pengaruh terhadap psychological well-being dengan koefisien regresi sebesar 0,61 (p kurang dari 0.05), dengan besaran nilai proporsi psychological well-being yang disebabkan oleh gratitude sebesar 0,347 atau 34,7persen. Hasil penelitian menggambarkan bahwa gratitude adalah salah satu pemicu positif untuk tetap mampu menciptakan aura dan sikap positif di tempat kerja, meskipun tenaga kesehatan di Rumah Sakit kerapkali terbebani oleh pekerjaan berupa jam kerja yang panjang, beban kerja berlebih, dan tambahan pekerjaan lain dari tuntutan profesi mereka