Cendekia: Jurnal Kependidikan Dan Kemasyarakatan
Not a member yet
    301 research outputs found

    Education As an Attempt to Ward Off Islamophobia Virus in Strengthening Nationalism and Indonesian Spirituality

    Get PDF
    Abstract: The proliferation of Islamophobia worldwide, including Indonesia, can cause the erosion of the friendly image of Islam in the world. It needs an effort to ward off Islamophobia viruses in creating the peace and integrity of a nation. This article aims to present a variety of educational efforts to ward off Islamophobia viruses to strengthen the nationalism and spiritualization of the Indonesian. The study employed a qualitative approach through descriptive analysis methods. The results showed that one of the causes of Islamophobia emergence was the lack of Islamic creed. Through excellent education, Islamic teachings were developed to reinforce a nation’s nationalism and spirituality. Education of the wholeheartedly or known as Sufism is an alternative solution to produce a human figure conscious of its status as ”˜Abd ”“ as caliph. Also, the purpose of his/her life to worship God. Thus, human beings should establish unified communication to create a peaceful, safe and prosperous life in the principle of ukhuwah Islamiyyah, ukhuwah wathaniyyah, and ukhuwah basyariyyah. Abstrak: Menjamurnya fenomena Islamofobia di seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia, dapat menyebabkan lunturnya citra Islam yang ramah di mata dunia. Perlu adanya upaya untuk menangkal virus Islamofobia dalam menciptakan perdamaian dan keutuhan suatu bangsa. Tulisan ini bertujuan untuk menghadirkan berbagai upaya pendidikan untuk menangkal virus Islamofobia dalam mengukuhkan sikap nasionalisme dan spiritualiasme bangsa Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui metode analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa salah satu penyebab lahirnya Islamofobia ialah dangkalnya akidah Islam. Melalui pendidikan hati, ajaran Islam dikembangkan untuk mengukuhkan sikap nasionalisme dan spiritualiasme. Pendidikan dengan hati atau dikenal dengan istilah tasawuf merupakan solusi alternatif melahirkan sosok manusia yang sadar akan statusnya sebagai ”˜abd, perannya sebagai khalifah, serta tujuan hidupnya untuk beribadah kepada Allah. Melalui kesadaran ini lah, manusia akan senantiasa menjalin komunikasi yang harmonis dengan sesama makhluk Allah untuk menciptakan kehidupan yang damai, aman dan sejahtera dengan memperhatikan prinsip ukhuwah Islamiyyah, ukhuwah wathaniyyah dan ukhuwah basyariyyah

    Students’ Destructive Behavior Towards The Teacher in The Teaching and Learning Process

    Get PDF
    Abstract: This study analyzes the model, factors, and alternative solutions to students’ destructive behavior towards teachers in teaching-learning. It took place at Madrasah Tsanawiyah Negeri in Madura as immoral acts that violate the norms and values of social life by students to their teachers. It was qualitative research with a descriptive approach. The subjects of this study were representatives of MTsN teachers in Madura, namely MTsN 1 Sumenep, Pamekasan, MTsN 3 Pamekasan, MTsN 1 Sampang, and MTsN 1 Bangkalan. The research data was taken by the method of observation, documentation, and interviews. The results showed that destructive behavior models in destructive verbal behavior, destructive behavior in the form of physical and mental destructive behavior. Furthermore, the causes of students’ destructive behavior towards teachers in learning at Madrasah Tsanawiyah Negeri in Madura were internal and external factors, including the social status of students being higher than their teachers. Students thought they have more intelligence and knowledge than their teachers. Therefore, the teachers did the home visits, parenting, and parental involvement, and educational sanctions to overcome it. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tentang model, faktor penyebab, serta solusi alternatif perilaku destruktif murid terhadap guru dalam pembelajaran pada Madrasah Tsanawiyah Negeri di Madura, sebagai tindakan amoral yang melanggar norma dan tatanan nilai kehidupan sosial masyarakat yang dilakukan oleh murid kepada gurunya. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif, Subyek penelitian ini adalah keterwakilan dari Guru MTsN yang ada di Madura yaitu MTsN 1 Sumenep, Pamekasan, MTsN 3 Pamekasan, MTsN 1 Sampang, and MTsN 1 Bangkalan. Data penelitian diambil dengan metode observasi, dokumentasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: pertama, model perilaku destruktif berupa prilaku destruktif verbal, perilaku destruktif fisik, dan perilaku destruktif mental. Kedua, Faktor penyebab perilaku destruktif murid terhadap guru dalam pembelajaran pada Madrasah Tsanawiyah Negeri di Madura karena faktor internal dan eksternal, diantaranya status sosial murid lebih tinggi dari gurunya, Murid merasa memiliki kecerdasan dan pengetahuan yang lebih dari gurunya. Ketiga, Cara mengatasi perilaku destruktif murid terhadap guru Pembinaan, Keteladanan dan Keterlibatan Orang tua “Home Visit”, dan pemberian sanksi edukasi pada siswa

    Islamic Education and Social Media Transformation in Pandemic Era: Challenges and Opportunities in Indonesia

    Get PDF
    Abstract: Religious learning in the pandemic era was carried out through social media, such as Facebook, Whatsapp, Twitter, and Instagram. YouTube is transformed into the premier medium of teaching. For students and the millennial generation, social media provides many conveniences. However, on the other hand, it becomes a problem in itself, especially for parents in presenting education that is full of values, during a struggle for the free flow of information and communication. The paper aims to analyze the transition of learning media in education, from conventional offline models to online via social media, and to prove the impact of using social media on students or the millennial generation. Qualitative methods are used to analyze data. The findings of this paper indicate that education during a pandemic, reading printed literature, is also carried out via the internet. Social media has a significant impact on students or the millennial generation, so efforts to strengthen values are needed. Social media brings together the main actors in education; parents, academics, government, social media, and regulation. Abstrak: Pembelajaran agama di era pendemi dilakukan melalui media sosial, seperti Facebook, Whatsapp, Twitter, dan Instagram. YouTube ditransformasikan menjadi media utama dalam pengajaran. Bagi siswa dan generasi milenial, media sosial menyediakan banyak kemudahan. Namun pada sisi lain, menjadi problem tersediri, terutama orang tua dalam menghadirkan pendidikan yang sarat dengan nilai, di tengah-tengah pertarungan arus informasi dan komunikasi yang bebas. Tujuan dari paper ini adalah: untuk menganalisis peralihan media pembelajaran dalampendidikan, dari model konvensional luring menuju daring online melalui media sosial, dan membuktikan dampak penggunaan media ssosial tersebut bagi siswa atau generasi milenial. Metode kualitatif digunakan guna menganalisis data. Temuan dari paper ini menunjukkan bahwa pendidikan pada masa pandemi, selain dengan cara menbaca literatur cetak, jugadilakukan melalui internet. Media sosial sangat berdampak terhadap siswa atau generasi milenial, sehingga diperlukan upaya penguatan nilai.Media sosial menyatukan aktor-aktor utama dalampendidikan, yaitu; orang tua, akademisi, pemerintah, media sosial, dan regulasi itu sendiri

    The Portrait of Local Wisdom Values in Constructing Character Education Management in Indonesia

    Get PDF
    This study aims to interpret the value of local madrasa wisdom. Habitualization of these values is then used as social capital in building a character education management paradigm. It is based on various problems faced in Islamic education management. Thus, to provide a holistic and in-depth understanding, this research used a qualitative approach with the social construction theory of Peter L. Berger. It was through the dialectical relationship between externalization, objectivation, and internalization. This study found that 1) madrasa local wisdom is essentially a manifestation of the Qur'an as a (belief system) and becomes the basis for managing Islamic education; 2) madrasa local wisdom, such as; honesty, discipline, togetherness, commitment, simplicity, independence, sincerity, leadership, hard work, and responsibility, understood as positive energy and internalized in the madrasa environment; 3) habitualization of the value of local wisdom of madrasa, is a social capital which is then transmitted in the management of Islamic education so that it can influence all practical individual social thoughts and actions in the organization.   Penelitian ini bertujuan untuk menginterpretasikan dan memaknai nilai kearifan lokal madrasa, habitualisasi nilai tersebut kemudian dijadikan sebagai modal sosial dalam membangun paradigma manajemen pendidikan karakter, hal ini didasarkan atas pelbagai persoalan di bidang pengelolaan pendidikan Islam baik secara fondasional maupun operasional dan belum terselesaikan. Demikian untuk memberikan  pemahaman secara holistik dan mendalam, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teori konstruksi sosial Peter L. Berger, melalui hubungan dialektis antara eksternalisasi, objektivasi dan internalisasi. Penelitian ini menghasilkan beberapa temuan; 1) kearifan lokal madrasa pada hakikatnya merupakan manifestasi dari al-Qur’an sebagai (belief system) dan menjadi dasar pengelolaan pendidikan Islam; 2) kearifan lokal madrasa, seperti; kejujuran, kedisiplinan, kebersamaan, komitmen, kesederhanaan, kemandirian, keikhlasan, kepemimpinan, bekerja keras dan tanggung jawab, difahami sebagai energi positif dan di internalisasikan dalam lingkungan madrasa; 3) habitualisasi nilai kearifan lokal madrasa, merupakan sebuah modal sosial (social capital) yang kemudian ditransmisikan dalam pengelolaan  pendidikan Islam, sehingga dapat mempengaruhi seluruh pemikiran dan tindakan sosial individu yang efektif dalam organisasi

    Classification of Indonesian Students’ Ability to Read Al-Qur'an: The Role of Educational Institutions

    Get PDF
    This research aims to classify the students' ability to read al-Qur'an in educational institutions. They play an essential role in improving their ability. It applied a qualitative descriptive method. Furthermore, the respondents were 1391 from 37 junior and senior high schools in Indonesia. The data then were analyzed using the Miles Huberman model with data condensation. The results showed that the classification of the ability to read al-Qur'an was divided into six indicators is 1) introducing hijaiyah letters; 2) sifatul huruf; 3) makharijul huruf; 4) tajwid; 5) tartil, and 6) the adab of reading al-Qur'an. The role of institutions in improving the competence of reading al-Qur'an based on existing indicators has different levels. Formal institutions contributed15%, and non-formal institutions 16%. Informal institutions play more roles than other institutions. It was 26%. Thus, the development and strengthening of education based on a particular curriculum for learning the Qur'an is essential to align the standards of students' ability to read al-Qur'an. Hence, each educational institution can strengthen its role in managing the learning of al-Qur'an better. Penelitian ini bertujuan untuk mengklasifikasikan kemampuan membaca al-Qur'an peserta didik melalui peran lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan mempunyai peranan penting dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Jumlah responden adalah 1.391 dari 37 SMP dan SMA di Indonesia. Data tersebut kemudian dianalisis menggunakan model Miles Huberman dengan kondensasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa klasifikasi kemampuan membaca al-Qur'an terbagi menjadi enam indikator, yaitu 1) mengenalkan hijaiyah huruf; 2) sifatul huruf; 3) makharijul huruf; 4) tajwid; 5) tartil, dan 6) adab membaca al-Qur'an. Sedangkan peran lembaga dalam meningkatkan kompetensi membaca al-Qur'an berdasarkan indikator yang ada memiliki tingkatan yang berbeda-beda. Lembaga formal memiliki peran 15%, lembaga non-formal sebesar 16%, dan lembaga informal memberikan peran lebih dibandingkan lembaga lain yaitu sebesar 26%. Dengan demikian, pengembangan dan penguatan pendidikan berbasis kurikulum tertentu untuk pembelajaran Al-Qur'an sangat diperlukan untuk menyelaraskan standar kemampuan membaca Al-Qur'an peserta didik, sehingga setiap lembaga pendidikan dapat memperkuat perannya dalam mengelola pembelajaran al-Qur'an dengan lebih baik

    The Utilization of Social Media in the State Islamic Universities in Indonesia

    Get PDF
    This study aims to determine the trend of followers of each social media and the use of social media at four State Islamic Universities (UIN) in Indonesia. This study used a content analysis approach with data from websites. These documents could be downloaded from websites related to social media. The sample taken was four UIN which have relatively active social media in updating. Data validity was done by validating data internally as well as cross-data. The data analysis used interactive analysis and descriptive statistical analysis. Moreover, the results showed that the use of social media was varied. Facebook and Instagram were for academic activities, including promotion for prospective new students. It dominantly occurs in all research locations and is balanced with the content of national and religious activities.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui trend followers masing-masing media sosial, serta penggunaan media sosial di 4 Perguruan Tinggi Islam Negeri (UIN) di Indonesia yang fokus pada masing-masing pulau satu UIN. Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis isi dengan data dari website berupa dokumen yang dapat diunduh dari website yang berhubungan dengan media sosial. Sampel yang diambil adalah 4 UIN yang memiliki media sosial yang relatif aktif melakukan update. Validitas data dilakukan dengan validasi data secara internal maupun data silang. Analisis data menggunakan analisis interaktif dan analisis statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial bervariasi, di Facebook dan Instagram untuk kegiatan akademik termasuk promosi untuk calon mahasiswa baru dominan terjadi di semua lokasi penelitian dan diimbangi dengan konten ucapan kegiatan nasional dan keagamaan.

    Islamic Religious Education for Children in Javanese Family: A Study of Ethno Phenomenology

    No full text
    This study aims to determine the Islamic religious education of children within Javanese families in Krajan Hamlet, Jogorogo District, Ngawi Regency, East Java, Indonesia. This study employed an ethno phenomenological approach. It focuses on the ethnographer's work model using a phenomenological approach to deeply understand cultural and religious experiences. The data collection techniques used were in depth interviews, participant observation, literature study, documentation, and active listening, all of which contributed to obtaining rich and comprehensive data. The findings reveal that Javanese families uphold the cultural philosophy of narima ing pandhum—an attitude of accepting destiny with sincerity and gratitude—as a foundational moral principle, aiming to prevent negative thoughts, feelings, and behaviors. The core educational content centers on ‘Aqidah (creed), Ibadah (worship), and Akhlaq (morality), taught through habituation, advice, and role modeling by parents and elders. Furthermore, the study highlights how Javanese identity is shaped from early childhood by cultivating communal values such as mutual assistance, empathy, generosity, and simplicity, which are consistently reinforced and passed down across generations.This study aims to determine the Islamic religious education of children in Javanese families in Krajan, Jogorogo, Ngawi. This study specifically focuses on the ethnographer's work model using a phenomenological approach. The data collection techniques used were in-depth interviews, participant observation, literature study, documentation, and active listening. This study indicates that the principle applied by Javanese families is "narima ing pandhum," which aims to avoid evil thoughts, feelings, and actions. Children's educational materials include aqidah, worship, and morals. It involves the educational methods for Javanese families in Krajan village with habituation patterns, advice, and sample. This research also finds the fact that Javanese people form their identity from an early age. Through habituation and example, efforts to cultivate a mechanical awareness of mutual assistance, compassion, generosity, empathy, and simplicity are passed down from generation to generation to children. Penelitian ini bertujuan mengetahui pendidikan agama Islam anak pada keluarga Jawa di Dusun Krajan, Dawung, Jogorogo, Ngawi. Penelitian ini secara spesifik menitikberatkan pada model kerja etnografer dengan menggunakan pendekatan fenomenologis. Teknik pengumpulan data digunakan adalah in-depth interview, participant observation, studi pustaka, dokumentasi dan mendengar aktif. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya prinsip yang diterapkan keluarga Jawa adalah “narima ing pandhum” yang bertujuan menghindari pikiran, perasaan, dan perbuatan yang tidak baik. Materi pendidikan anak diantaranya: Aqidah, Ibadah, dan Akhlak. Metode pendidikan pada keluarga Jawa di Dusun Krajan dengan pola pembiasaan, nasihat, dan contoh keteladanan. Penelitian ini juga mendapati kenyataan bahwa masyarakat Jawa membentuk identitasnya sejak dini. Upaya menumbuhkan kesadaran mekanis saling membantu, belas kasih, murah hati, empati dan kesederhanaan diwariskan secara turun-temurun kepada anak melalui pembiasaan dan keteladanan.

    Establishing a Moderate Religious Academics in Pesantren-Based Higher Education

    Get PDF
    Abstract: Pesantren is an ideal partner for the government to jointly improve the quality of education as a basis for implementing social transformation. It provides qualified human resources with good morals emphasizing moderate religious values that reflect within the Islamic value of rahmatan lilalamin. This paper wants to see pesantren-based universities in giving birth to moderate religious academics. By taking the object of study Nurul Jadid university, which is a high miscarriage based pesantren. This research applied a descriptive study by using a qualitative approach. The research participants were Islamic scholars (kyai), lecturers, and students at the University of Nurul Jadid. Data were collected through interviews, observation, and documentation. This study showed that establishing the Islamic boarding school culture produced moderate religious academics at Nurul Jadid University. It was by implementing the supremacy of kyai’s preaching and teaching (dawuh kyai). It was constructed through artifacts, values, and assumptions emphasizing moderate religious aspects. Abstrak: Pesantren menjadi partner yang ideal bagi pemerintah untuk bersama-sama meningkatkan mutu pendidikan sebagai basis bagi pelaksanaan transformasi sosial melalui penyediaan sumber daya manusia yang mumpuni dan berakhlakul karimah yang menekankan nilai-nilai religius moderat yang mencerminkan nilai Islam rahmatan lilalamin. Tulisan ini ingin melihat perguruan tinggi berbasis pesantren dalam melahirkan akademisi religius moderat. Dengan mengambil objek kajian Universitas Nurul Jadid yang merupakan perguran tinggi berbasis pesantren. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam,observasi partisipatif dan studi dokumen. Data-data yang yang terkumpul kemudian dianalisis secara simultan, dengan teknik: pengumpulan data, kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menemukan konstruksi budaya pesantren dalam melahirkan akademisi religius moderat di Univesitas Nurul Jadid dilakukan dengan kekuatan dawuh kyai yang di konstruksi melalui artifak, nilai, dan asumsi yang mengedepankan aspek religius modera

    Spiritual Intelligence and Juvenile Delinquency of Students in Salatiga: A Study of the Rasch Model

    Get PDF
    This study examines the students' level of spiritual intelligence and juvenile delinquency and their relationship. The sample of this research was 348 senior high school students from Salatiga. They were selected randomly. It employed the spiritual intelligence modified by Danah Zohar and Marshall and delinquency instrument modified by Kartono. The data analysis used Winstep version 3.73 for the Rasch model and the IBM Statistical Package for Social Science (SPSS) 23. The results showed that the logit value that the majority of the students experienced a moderate level of spiritual quotient and juvenile delinquency. The independent sample t-test result revealed that female students had higher spiritual intelligence than male students. In addition, male students had a higher juvenile delinquency tendency than female students. The correlation test result indicated a significant correlation between spiritual quotient and juvenile delinquency (r=-.386, n=348, p.000). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kecerdasan spiritual dan kenakalan remaja di kalangan pelajar, serta hubungan kecerdasan spiritual dan kenakalan remaja. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif non-eksperimen dengan rancangan survey. Sebanyak 330 siswa SMA dan MA negeri di Salatiga yang dipilih secara simple random sampling ikut serta dalam penelitian survei ini. Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data adalah angket kecerdasan spiritual dari Danah Zohar dan Marshall serta angket kenakalan remaja dari Kartono. Data yang telah dikumpulkan kemudian dianalisis menggunakan aplikasi Winstep versi 3.73 dari Rasch model dan aplikasi IBM Statistical Package for Social Science (SPSS) versi 23. Hasil dari analisis menggunakan Rasch model ditemukan nilai logit yang menunjukkan bahwa sebagian besar pelajar memiliki tingkat kecerdasan spiritual dan kenakalan remaja pada tingkatan sedang. Hasil uji t-test sampel bebas menunjukkan bahwa siswa perempuan memiliki kecerdasan spiritual lebih tinggi dibanding siswa laki-laki. Adapun siswa laki-laki memiliki kecenderungan kenakalan remaja lebih tinggi dibandingkan siswa perempuan. Hasil uji korelasi menunjukkan korelasi negatif yang signifikan antara kecerdasan spiritual dengan kenakalan remaja dengan nilai (r=-.386, n=348, p.000). Hal tersebut menunjukkan jika tingkat spiritual meningkat, maka kenakalan remaja akan menurun

    The Transformational Paradigm of The Pesantren Curriculum Innovation

    Get PDF
    Abstract: This research begins from the problems faced in pesantren. They include curriculum management and learning, such as the implementation of teacher-centered learning and poorly planned learning evaluation. Thus, the researcher is interested in studying Pesantren Nurul Iman Garum Blitar, which applies an innovative curriculum using a transformative paradigm. The research method was qualitative research - a phenomenological approach. The findings were; first, there were three curriculum objectives: national goals, institutional goals, and learning objectives. Second, the learning material was reconstructing several books in the pesantren, such as the nahwu, shorof, and fiqh books. Third, the learning method was student-centred which encourage students to be active. In addition, it was also supported by some learning programs, including takror sughro, takror kubro, and syawir. Fourth, the learning evaluation employed formative and summative evaluation. Abstrak: Penelitian ini berawal dari kegelisahan akademik peneliti melihat beberapa problematika yang terjadi di pondok pesantren, diantaranya problem pengelolaan kurikulum dan pembelajaran, seperti metode pembelajaran yang cenderung teacher centered dan juga evaluasi pembelajaran yang tidak terencana dengan baik. Dari situ peneliti tertarik meneliti Pondok Pesantren Nurul Iman Garum Blitar yang membuat inovasi dalam kurikulumnya dengan menggunakan paradigma transformatif. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologis dan jenis penelitian kualitatif. Diantara hasil penelitiannya sebagai berikut: pertama, desain tujuan kurikulumnya terdiri dari tiga macam; yaitu tujuan nasional, tujuan institusional dan tujuan pembelajaran. Kedua, desain materi pembelajarannya berupa rekonstruksi ulang beberapa kitab di pesantren, seperti kitab nahwu, shorof dan fikih. Ketiga, desain metode pembelajarannya menggunakan paradigma student centered dengan metode yang mendorong siswa aktif. Selain itu didukung dengan beberapa program pembelajaran, diantaranya takror sughro, takror kubro dan syawir. Keempat, bentuk evaluasi pembelajarannya menggunakan evaluasi formatif dan sumatif

    268

    full texts

    301

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Cendekia: Jurnal Kependidikan Dan Kemasyarakatan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇