Cendekia: Jurnal Kependidikan Dan Kemasyarakatan
Not a member yet
301 research outputs found
Sort by
Scientia Sacra on Philosophy of Science Perspective and Its Relevance to Discourse of Scientific Integration
This research aims to explore Scientia Sacra using the theoretical framework of the philosophy of science and reveal its relevance to the integration of sciences. The discourse about the integration of sciences become a philosophical debate among Muslim experts. It had happened after modern philosophy began in the 15th century. Using a philosophical and historical approach, the researcher found a suitable scientific framework for the development of science, both modern science and Islamic Science. The scientific framework is based on the concept of Scientia Sacra, which can be included in every aspect of science. All of the sciences are a unity which the source is from God. The paradigm of modern philosophy has made the dichotomy between modern science and Islamic science, between the sacred science and the profane.Tulisan ini hendak mengeksplorasi Scientia Sacra Seyyed Hossein Nasr dengan menggunakan kerangka Filsafat Ilmu dan mengungkap relevansi dengan integrasi keilmuan. Wacana integrasi ilmu marak menjadi perdebatan di kalangan intelektual muslim. Hal itu terjadi setelah filsafat modern dimulai sejak abad 15 M. Dengan menggunakan pendekatan filsafat ilmu dan historis, peneliti menemukan kerangka keilmuan yang tepat bagi pengembangan ilmu-ilmu, baik ilmu modern, maupun ilmu-ilmu Islam. Kerangka keilmuan tersebut didasari atas konsep Scientia Sacra yang dapat masuk dalam setiap aspek ilmu pengetahuan. Pada dasarnya ilmu pengetahuan adalah satu kesatuan dimana bersumber dari Tuhan. Paradigma Filsafat Modern telah menjadikan dikotomi ilmu pengetahuan antara yang sakral dan profan
The Management of Multicultural Resolution on Post- Transnationalism of Indonesian Islamic Education: Challenges for the Future
This article discusses the urgency of the post-transnationalism paradigm of Indonesian Islamic education in the multicultural resolution management perspective that its substance discusses at least three main streams of discourse, namely: first, the substance of the post-transnationalism paradigm of Indonesian Islamic education that can be interpreted as an ideology of Islamic education that promotes the importance of moderation values that live within the multiculturalism of this nation, both on madrassas, pesantren and IslamicHigher Education. Secondly, the challenge of multiculturalism in Indonesian Islamic educationis this archipelago's problem with the dimensions of social conflict, radicalism, and extreme fundamentalism, which negates the importance of respect for diversity. Third, the multicultural resolution management design of Indonesian Islamic education for world peace must at least carry three main agendas that are very important in realizing the post-transnationalism paradigm in the future, which includes: development of a humanistic curriculum, strengthening moderation of institutional management, and strengthening institutional scientific partnering networks.Artikel ini mengkaji urgensivitas paradigma post-transnasionalisme pendidikan Islam Indonesia dalam perspektif manajemen resolusi multikulturalisme dengan nilai-nilai harmoni sosial, toleransi, kemajemukan, kerukunan, sekaligus saling menghargai sebagai kontribusi modal sosial bagi terbangunnya perdamaian dunia. Subtansi artikel ini setidaknya membincang tiga arus utama diskursus yaitu: pertama, subtansi paradigma post-transnasionalisme pendidikan Islam Indonesia yang dapat dimaknai secara interpretatif sebagai ideologi pendidikan Islam yang mempromosikan pentingnya nilai-nilai moderasi yang hidup dalam aras multikulturasme kebangsaan, baik pada etalase pendidikan madrasah, pesantren maupun perguruan tinggi Islam keagamaannya. Kedua, tantangan multikulturalisme pendidikan Islam Indonesia merupakan problematika nusantara yang bersifat akumulatif historis yang berdimensi konflik sosial, radikalisme, dan fundamentalisme ekstrim yang menafikan pentingnya penghargaan atas kebhinekaan (diversity). Ketiga, desain manajemen resolusi multikulturalisme pendidikan Islam Indonesia untuk perdamaian nusantara dan dunia setidaknya harus mengusung 3 agenda utama yang sangat penting dalam kerangka mewujudkan paradigma post-transnasionalisme pendidikan Islam Indonesia yang ekselen di masa depan, yang mencakup: pengembangan kurikulum pendidikan Islam humanis, penguatan moderasi manajemen kelembagaan pendidikan Islam, serta penguatan jejaring keilmuan yang ditunjang dengan komitmen dan kerjasama keilmuan (knowledge partnering) dalam skala nasional, regional dan internasional
Development of Educational Resources in Junior High Schools to Obtain Quality
Abstract: Sumber daya pendidikan merupakan komponen yang penting dalam mencapai tujuan pendidikan. Kualitas sumber daya pendidikan akan mempengaruhi kualitas suatu pendidikan. Penelitian ini menggunakan paradigma interpretif melalui pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Data tersebut diperoleh dari kepala sekolah, guru, dan berbagai pihak terkait. Penelitian ini menggunakan analisis data kualitatif model Miles dan Huberman yang meliputi proses reduksi data, penyajian data, dan verifikasi. Selanjutnya, pengecekan validitas data menggunakan triangulasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pengembangan kualitas sumber daya pendidikan yang berkualitas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengembangan sumber daya manusia dapat dilakukan dengan cara meningkatkan kompetensi tenaga pendidik melalui kegiatan pelatihan, lokakarya, dan musyawarah guru mata pelajaran. Tujuan kegiatan tersebut adalah untuk menciptakan tenaga pendidik yang professional. Di samping itu, pengembangan sumber daya non-manusia dapat dilakukan melalui peningkatan kerja sama dengan pihak terkait melalui wakil kepala sekolah di bidang hubungan masyarakat.ملخص: الموارد التعليمية هي عنصر أساسي ÙÙŠ تØÙ‚يق الأهدا٠التعليمية. تؤثر جودة الموارد التعليمية على جودة التعليم. تستخدم هذه الدراسة نموذجًا ØªÙØ³ÙŠØ±ÙŠÙ‹Ø§ من خلال نهج نوعي. البيانات التي تم Ø§Ù„ØØµÙˆÙ„ عليها من المدير والمعلمين والأطرا٠الأخرى المعنية ØŒ مع تقنيات جمع البيانات باستخدام المقابلات ÙˆØ§Ù„Ù…Ù„Ø§ØØ¸Ø© والوثائق. الأداة التØÙ„يلية المستخدمة هي نموذج Ø§Ù„ØØ¯ النوعي من البيانات مايلز وهوبرمان ØŒ وعرض البيانات والتØÙ‚Ù‚ منها. التØÙ‚Ù‚ من ØµØØ© البيانات باستخدام التثليث. يركز هذا Ø§Ù„Ø¨ØØ« على وص٠عملية تطوير الموارد التعليمية عالية الجودة. بناءً على نتائج البØÙˆØ« الخاصة بتنمية الموارد البشرية ØŒ يتم ذلك من خلال زيادة ÙƒÙØ§Ø¡Ø© أعضاء هيئة التدريس من خلال الأنشطة التدريبية وورش العمل واستشارات مدرس المادة ØŒ والتي تهد٠إلى إنشاء ÙØ±ÙŠÙ‚ تعليمي Ù…ØØªØ±Ù وتنمية الموارد غير البشرية من خلال إقامة تعاون مع الجهات ذات العلاقة من خلال نائب مدير مجال العلاقات العامة
Teachers’ Pedagogic Competence in Utilizing Learning Media of Islamic Religious Education at State Junior High Schools in Lhoksuemawe
Abstrak: Penelitian ini bertujuan menjelaskan kompetensi pedagogik guru dalam pemanfaatan media pembelajaran PAI (Pendidikan Agama Islam) di SMP Negeri Lhokseumawe beserta kendala yang dihadapi guru tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi pedagogik guru dalam pemanfaatan media pembelajaran, pertama: Kompetensi pedagogik guru dalam merancang pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran guna membantu mereka dalam penyampaian materi pembelajaran kepada peserta didik, kedua: kompetensi pedagogik guru dalam melaksanakan proses pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran adalah dapat membuat pembelajaran lebih aktif dan meningkatkan kepercayaan diri siswa dalam proses belajar mengajar. dan ketiga: kompetensi pedagogik guru dalam melakukan penilaian dengan menggunakan media pembelajaran adalah untuk memudahkan guru dalam memberi penilaian dan media yang digunakan adalah laptop dengan menggunakan aplikasi penilaian. Kendala guru dalam pemanfaatan media pembelajaran PAI di SMPN Kota Lhokseumawe adalah belum menguasai ICT, keterbatasan sarana yang akan digunakan, masalah teknis seperti mati lampu dan menyita waktu yang banyak jika tidak terampil digunakan. الملخص: يهد٠هذا Ø§Ù„Ø¨ØØ« إلى Ø´Ø±Ø Ø§Ù„ÙƒÙØ§Ø¡Ø© التربوية للمعلم ÙÙŠ استخدام الوسائل التعليمية ÙÙŠ مادة التربية الإسلامية ÙÙŠ مدرسة لوكسيوماوي المتوسطة الØÙƒÙˆÙ…ية والمشكلات التي يواجهها المعلم Ùيه. هذا Ø§Ù„Ø¨ØØ« هو Ø§Ù„Ø¨ØØ« النوعي. Ø£ÙˆØ¶ØØª نتائج Ø§Ù„Ø¨ØØ« أن ÙƒÙØ§Ø¡Ø© المعلم التربوية ÙÙŠ استخدام الوسائل التعليمية، أولاً: إن ÙƒÙØ§Ø¡Ø© المعلم التربوية ÙÙŠ تصميم تنÙيذ التعليم باستخدام الوسائل التعليمية لمساعدته ÙÙŠ إيصال المواد التعليمية للطلاب، ثانياً: إن ÙƒÙØ§Ø¡Ø© المعلم التربوية ÙÙŠ تنÙيذ العملية التعليمية باستخدام الوسائل التعليمية يمكن أن يجعل التعلم أكثر نشاطًا وزيادة ثقة الطلاب ÙÙŠ العملية التعليمية، وثالثًا: تتمثل ÙƒÙØ§Ø¡Ø© المعلم التربوية ÙÙŠ إجراء التقييمات باستخدام الوسائل التعليمية ÙÙŠ تسهيل المعلمين ÙÙŠ تصني٠وتكون الوسائل المستخدمة وهي أجهزة Ø§Ù„ØØ§Ø³ÙˆØ¨ المØÙ…ولة التي تستخدم تطبيقات التقييم. والمشكلات التي يواجهها المعلم ÙÙŠ الوسائل التعليمية ÙÙŠ مادة التربية الإسلامية ÙÙŠ مدرسة لوكسيوماوي المتوسطة الØÙƒÙˆÙ…ية هي أنهم لم يتقنوا تكنولوجيا المعلومات والاتصالات، والمراÙÙ‚ Ø§Ù„Ù…ØØ¯ÙˆØ¯Ø© لاستخدامها، والمشكلات التقنية مثل انقطاع التيار الكهربائي واستهلاك الوقت إذا لم يكونوا ماهرون ÙÙŠ الاستخدام
Democratic Leadership and Decisions Making on Education in Islamic Perspective
Abstract: This research aimed to determine democratic leadership and decisions making on education in Islamic perspective at Madrasah Ibtidaiyah Pesantren Anak Sholeh Baitul Qur’an Gontor Ponorogo. This research used descriptive qualitative research with data collection methods through interviews, observations, and documentation, as well as Miles and Hubberman data analysis, including data analysis, data presentation, and drawing conclusions. The results of this research indicate that democratic leadership principal of school and making decisions on education in Islamic perspective at Madrasah Ibtidaiyah Pesantren Anak Sholeh Baitul Qur’an Gontor Ponorogo has been carried out properly in accordance with Quran, in Ash-Shura: verse: 38, which is reflected in every decision. The school principal always decides through a deliberative forum together with the teachers openly, responsively, responsibly, and trustfully, by promoting the principle of togetherness and kindship. ملخص: الهد٠من هذا Ø§Ù„Ø¨ØØ« هو Ù…Ø¹Ø±ÙØ© قيادة الديمقراطية ووضع السياسات والقرارات التعليمية علي نظرية الإسلام ÙÙŠ المدرسة الابتدائية معهد ولد Ø§Ù„ØµØ§Ù„Ø Ø¨ÙŠØª القرآن Ùونوروكو. يستخدم هذا Ø§Ù„Ø¨ØØ« Ø§Ù„Ø¨ØØ« النوعي الوصÙÙŠ مع أسلوب جمع البيانات من خلال المقابلات ÙˆØ§Ù„Ù…Ù„Ø§ØØ¸Ø§Øª والتوثيق، وكذلك استخدام تØÙ„يل بيانات على نموذج ميليس وهوبيرمين، الذي يشمل على تØÙ„يل البيانات، وعرض البيانات، وأخذ الاستنباط. تشير نتائج هذا Ø§Ù„Ø¨ØØ« إلى أن: قيادة الديمقراطية مدير المدرسة ووضع السياسات والقرارات التعليمية ÙÙŠ المدرسة الابتدائية معهد ولد Ø§Ù„ØµØ§Ù„Ø Ø¨ÙŠØª القرآن Ùونوروكو، تم تنÙيذها بشكل جيد ومناسب بالقرآن ÙÙŠ سورة الشورى: الآية ٤٣، ويظهر ذلك عند ما توجد مشكلات التعليم والتربية، ÙØ§Ù„مدير ÙŠØÙ„ها دائما من خلال التشاور مع المعلمين Ù…Ù†ÙØªØØ§ØŒ ومستجيبا، ومسؤولا، بتقديم مراعاة مبدأ العمل الجماعي والأسري
Secularization, Symbolic Reality Sacred in The Menoreh Hills Madrasa, Yogyakarta
Abstract:This paper aims to analyze madrasa efforts to maintain the sacred of the symbolic meaning of religious values as a response to the emergence of secularization in the Menoreh Hills community in Yogyakarta. Data were collected through observation and in-depth interviews. This study utilized Peter L Berger's theory of the fundamental dialectics which consisted of community-externalization, objectivation and internalization. It was in line with Thomas Lickona's theory of the configuration of strengthening the values of moral knowing, moral feeling, and moral behavior. The results showed that madrasa efforts to transform religious symbols into symbolic universe were carried out by enculturating the religious symbols with traditional Javanese values to find symbolic realities that had sacred meaning and degrees in the context of tolerance, social care, respect and courtesy values. The symbolic meaning of religion as a symbolic universe for the society can be used as an ethical guide for a human to have a meaningful life and to avoid alienation experience from this modern world. When the madrasa teachers possess high tolerance intelligence to avoid sectarian thoughts, madrasas can be the people's preference to guard religious value against secularization. يهد٠هذا Ø§Ù„Ø¨ØØ« العلمي إلى تØÙ„يل جهود المدارس Ù„ØÙظ قدسية القيم الدينية بمعانىها الرمزية، استجابة لظهور العلمانية ÙÙŠ مجتمع بوكيت مينوريه ÙÙŠ يوجياكارتا. تمت جمع البيانات عن طريق Ø§Ù„Ù…Ù„Ø§ØØ¸Ø© والمقابلات المتعمقة. تستخدم هذه الدراسة نظرية بيتر Ù„ بيرغر (Peter L Berger) عن الديالكتيك الأساسي للمجتمع -الخارجية والموضوعية والداخلية، Ùكاملتها نظرية توماس ليكونا (ThomasLickona) عن تقوية القيم الأخلاق المعرÙÙŠ Ùˆ الشعوري والتصرÙÙŠ.Ø£ÙˆØ¶ØØª نتائج هذا Ø§Ù„Ø¨ØØ« أنها قد تمت جهود المدرسة لتØÙˆÙŠÙ„ الرموز الدينية إلى رموز عالمية من خلالالتثق٠مع قيم تقليدية جاوية. وهذا لإيجاد ØÙ‚ائقها المعنوية الرمزية ÙÙŠ درجات مقدسة ÙÙŠ سياق Ø§Ù„ØªØ³Ø§Ù…Ø ÙˆØ§Ù„Ø±Ø¹Ø§ÙŠØ© ÙˆØ§Ù„Ø§ØØªØ±Ø§Ù… والمجاملة الاجتماعية.يمكن استخدام المعاني الرمزية الدينية كمبادئ توجيهية أخلاقية للمجتمع، بØÙŠØ« يتمتع بها البشر ØÙŠØ§Ø© ذات معنى من غير الاغتراب. لهاذا تكون المدرسة مرجعا رئيسيا للمجتمع باعتبارها معقلًا ÙŠØÙ…ÙŠ القيم الدينية من هجمة العلمنة، واستوÙÙ‰ كل هذا إذا كانت المدرسة لها معلمين الذين لهم الذكاء التسامØÙŠ Ù„ØªØ¬Ù†Ø¨ التÙكير الطائÙÙŠ
Reconstruction of Educational Science With Prophetic Paradigm in Faculty of Tarbiyah at IAI Muhammadiyah Bima
The Tarbiyah Faculty of IAI Muhammadiyah Bima still uses educational science reference books, which nota bene does not contain prophetic elements explicitly. Reference books are students’ reference source to discover their knowledge, enrich the treasure of scholarly, and construct their thinking paradigm. This research aims to develop Educational Science reference by integrating prophetic values. This library research used philosophical and sociological approaches. The data source were educational science books, prophetic books, and others. The results showed that the reconstruction of educational science reference books by prophetic values construct civilized man, educated and well behaved as a humanist. It also optimized students’ critical and creative capacity, delivering the thinking system from the shackles of culture and tradition, class and sex dominations, and eliminating the oppression. Transcendentally construct their inners as God creatures who have to be responsible for themselves, their society, and nature. It has to balance between observable and unobservable matter by developing a method to stop stagnation of scholarly. The goal is to create prophetic students.Fakultas Tarbiyah IAI Muhammadiyah Bima masih menggunakan buku referensi ilmu pendidikan yang notabene tidak mengandung unsur profetik secara eksplisit. Buku referensi merupakan sumber rujukan siswa untuk menemukan ilmunya, memperkaya khazanah keilmuan, dan membangun paradigma berpikirnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan referensi Ilmu Pendidikan dengan mengintegrasikan nilai-nilai profetik. Penelitian pustaka ini menggunakan pendekatan filosofis dan sosiologis. Sumber datanya adalah buku ilmu pendidikan, buku-buku profetik, dan lain-lain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rekonstruksi buku referensi ilmu pendidikan dengan nilai-nilai profetik mampu membentuk manusia yang beradab, berpendidikan dan berperilaku baik sebagai manusia. Selain itu, hal tersebut juga mengoptimalkan kapasitas kritis dan kreatif siswa, melahirkan sistem berpikir dari belenggu budaya dan tradisi, dominasi kelas dan jenis kelamin, serta menghilangkan penindasan. Secara transendental, membangun batin mereka sebagai makhluk Tuhan yang harus bertanggung jawab atas diri sendiri, masyarakat, dan alamnya. Hal ini harus mampu menyeimbangkan antara materi yang dapat diamati dan yang tidak dapat diamati dengan mengembangkan metode untuk menghentikan stagnasi ilmiah. Tujuannya adalah untuk menciptakan siswa yang profetik
The Management of IAIN Ponorogo-Assisted Madrasas: Religious, Populist, Center of Excellence, Diversity
The current various madrasa innovations remain various problems, namely being at a crossroads between maintaining the original character and modernization. MAPK faces problems with formal legal aspects, MA Skills and Models have funding problems, and Madrasa Diniyah is experiencing problems in certificate recognition. Qualitative research on the vision of madrasa development is very important so that the various models of madrasacontinue to develop according to their historical character and vision. Madrasamust be built based on Islamic values, the essential character of the history of Islamic education, and the formulation of future challenges. Islamic and populist characters in madrasas are identities that must color the curriculum. Madrasas are obliged to carry out the basic vision and mission of pesantren, namely tafaqquh fi al-din by 1) increasing community participation in empowering accountable, quality-oriented management, which will encourage madrasato be the centerof excellence. 2) increasing participation so that madrasas remain the core of a learning society, capable, functional, integrated.Berbagai inovasi madrasah yang ada sekarang ini,ternyata masih menyisakan berbagai persoalan, yakni berada dalam persimpangan jalan antara mempertahankan karakter asli dan melakukan modernisasi. MAPK mengadapi problem aspek legal formal, MA Keterampilan dan Model mengalami problem pendanaan, dan Madrasah Diniyah mengalami problem pengakuan ijazah. Penelitian kualitatif tentang visi pengembangan madrasah menjadi sangat penting dilakukan agar berbagai model madrasah tersebut tetap berkembang sesuai karakter dan visi historisnya. Madrasah harus dibangun berdasarkan nilai-nilai Islam, karakter esensial dari sejarah pendidikan Islam, dan rumusan tantangan masa depan. Karakter Islami dan populis pada madrasah merupakan identitas yang harus mewarnai kurikulumnya. Madrasah berkewajiban mengemban visi misi asasi pesantren, yaitu tafaqquh fi al-din dengan melakukan 1) peningkatan partisipasi masyarakat dalam pemberdayaan manajemen yang accountable, quality oriented, yang akan mendorong madrasah menjadi centers of excellence. 2) peningkatan partisipasi agar madrasah tetap menjadi core dari learning society, capable, fungsional, integrated
Diagnostic Skill of Internalization-Interconnection Qur’ani With Science in Three Levels of Madrasah
The study diagnosed the skill of internalization-interconnection of the Qur’ani with science at the three levels of Madrasah (Islamic school). We used a mixed-method research methodology, which was started with a cross-sectional survey, then continued with phenomenology. With this combination of research, it is hoped that more comprehensive data results will be obtained. The number of participants involved in the survey was 116 people taken randomly at three levels of the madrasah, who were then purposively classified based on the highest score for in-depth interviews. The collected data were analyzed using quantitative descriptive, qualitative descriptive, and inferential statistics through multivariate tests. The results of the present study show that: 1) the theoanthopocentric approach had been implemented quite well since the MI (Islamic Elementary School) level; 2) MTs (Islamic Junior High School) is the best level for optimizing the planting of the skill to internalize-interconnect Qur’ani with science; 3) the profile of students’ internalization skills in the MI is at the knowing level, MTs is in the responding level, and at the MA (Islamic Senior High School)in the organizing level, while the interconnection skill at the MI is in the understanding in textual level (textual), the MTs in the level of understanding contextually only on the initial experience of students (effective contextual) and MA in the level of understanding analyzes the relationship between science and other subjects as well as with the verses of the Qur’an in a structured manner (structured contextual).Tujuan penelitian adalah untuk mendiagnosa kemampuan internalisasi-intekoneksi Qur’ani dengan IPA di tiga jenjang pendidikan madrasah. Penelitian dilakukan melalui mix-method atau metode kombinasi yang diawali dengan cross sectional survey kemudian dilanjutkan dengan fenomenologi. Dengan penelitian kombinasi ini diharapkan mendapatkan hasil data yang lebih komprehensif. Jumlah partisipan yang terlibat dalam survey sebanyak 116 orang diambil secara random di tiga jenjang madrasah, yang kemudian dikrucutkan secara purpossive berdasarkan nilai tertinggi untuk diwawancarai secara mendalam. Data yang telah terkumpul kemudian dianalisa menggunakan deskriptif kuantitatif, deskriptif kualitatif, serta statistik inferensial melalui uji multivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) pendekatan theoanthopocentris telah dilaksanakan secara cukup baik sejak jenjang MI; 2) jenjang MTs merupakan jenjang paling baik untuk untuk optimalisasi penanaman kemampuan internalisasi-interkoneksi al-Qur’an dengan IPA; 3) Profil keterampilan internalisasi siswa di MI ada di tingkat mengetahui, MTs di tingkat menanggapi, dan di MA di tingkat pengorganisasian, sedangkan keterampilan interkoneksi di MI ada di tingkat pemahaman pada tataran tekstual (tekstual), MTs pada tataran pemahaman kontekstual hanya pada pengalaman awal peserta didik (kontekstual efektif) dan MA pada tataran pemahaman menganalisis hubungan IPA dengan mata pelajaran lain serta dengan ayat-ayat al-quran secara terstruktur (kontekstual terstruktur
The Existence of Pesantren in The Dutch East Indies Government Pressure
Academic anxiety in this article is that pesantren, as the oldest Islamic religious education institution in the Nusantara, experienced a lot of pressure during the Dutch East Indies Government through the policies it enforced. So the first problem formulation will explain the Zending school policy imposed by the Dutch East Indies Government to compete with pesantren. The second problem formulation will explain the Teacher Ordinance policy to limit pesantren scholars’ movement in teaching Islam. From the formulation of the first problem, it is explained that the Dutch East Indies Government’s efforts by providing large financial subsidies for priests and zending school students experienced success at the beginning of the period, but failed in the next period. Whereas the second problem formulation explains the imposition of strict administrative requirements before undergoing learning activities, the prohibition of study activities if the pesantren does not meet the stipulated conditions produces more students who dare to oppose colonialism, so the Dutch East Indies Government revoked the Teacher Ordinance in 1928.Kegelisahan akademik dalam artikel ini adalah pesantren sebagai lembaga pendidikan agama Islam tertua di Nusantara mengalami banyak tekanan pada masa Pemerintah Hindia Belanda melalui kebijakan-kebijakan yang diberlakukan. Maka rumusan masalah yang pertama akan menjelaskan kebijakan Sekolah Zending yang diberlakukan oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk menyaingi pesantren. Rumusan masalah yang kedua akan menjelaskan kebijakan Ordonansi Guru untuk membatasi gerak bagi para sarjana pesantren dalam mengajarkan agama Islam. Dari rumusan masalah yang pertama menjelaskan bahwa usaha Pemerintah Hindia Belanda dengan memberikan subsidi keuangan yang besar untuk pendeta dan siswa sekolah zending mengalami keberhasilan di awal periode, namun mengalami kegagalan di periode selanjutnya. Sedangkan rumusan masalah yang kedua menjelaskan pemberlakuan persyaratan administrasi yang ketat sebelum menjalani kegiatan belajar, pelarangan kegiatan studi jika pesantren tidak memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan justru melahirkan lebih banyak siswa yang berani menentang kolonialisme, sehingga Pemerintah Hindia Belanda mencabut Ordonansi Guru pada tahun 1928