Damianus Journal of Medicine
Not a member yet
    169 research outputs found

    Rehabilitation Management of A Child with Atypical Case of Sturge Weber Syndrome

    Full text link
    Sturge-Weber syndrome (SWS) is a capillary-venous malformation affecting the brain, the eye, and the adjacent trigeminal dermatomes of the skin or a facial port wine stain or nevus. Type 3 SWS is a form of disease that comes without the physical facial angioma that made the disease undiagnosed and untreated optimally. We report a case of a 6-year-old girl with history of seizures without fever since she was 13 months old. The seizure was repeated couple times within a month and a year afterwards, but relatively controlled with routine oral medications, with last seizure attack was when she was 4 years 8 months old.  Unluckily, by the age of 6 and 3 months old, she was brought to the emergency department due to sudden focal seizure and weakness on her right extemities. The enhanced MSCT angio and brain MRI examination revealed the abnormality of the cerebral angiography, and raised the diagnostic of Sturge-Weber syndrome. After several medical treatment and rehabilitation programs, her gross motor ability and balance was getting much improved with some dysfunction on fine motor ability on her right hands and little difficulties on her basic speech. There was also some disturbance of her cognitive skill since she seemed to have a slower memory recall and speed processing after the latest seizure attack. &nbsp

    Biopsi cair pada kanker kolorektal: Harapan dan tantangan

    Full text link
    Pendahuluan: Global Cancer Statistics 2020 menunjukkan angka kejadian kanker kolorektal menduduki peringkat ketiga dengan urutan kedua angka kematian. Pemeriksaan biopsi cair pada kanker kolorektal mulai dilakukan untuk mempelajari sel-sel tumor yang ada di dalam sirkulasi yaitu circulating tumor cells (CTCs) dan cell-free circulating tumor DNA (ctDNA/cfDNA). Tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk menemukan dan menelaah penelitian-penelitian yang telah dilakukan mengenai biopsi cair baik dari sisi metode, hasil maupun manfaat klinik pada kanker kolorektal. Metode: Metode pencarian literatur dilakukan melalui Embase, Scopus dan PubMed. Dari 143 artikel yang ditemukan saat pencarian awal, setelah melalui tahap seleksi akhir ditentukan 15 artikel yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil: Biopsi cair dapat digunakan untuk mendeteksi mutasi yang tidak ditemukan pada tumor primer pasien kanker kolorektal serta analisis kombinasi circulating cell-free DNA (ccfDNA) dan ctcDNA dapat meningkatkan jumlah mutasi yang terdeteksi. Analisis ctDNA dalam plasma yang dikumpulkan secara serial, memungkinkan mendeteksi ctDNA mutan yang muncul, sehingga dapat digunakan untuk memantau perkembangan penyakit pasien serta menemukan mekanisme resistensi. Pengambilan sampel pasien secara serial menunjukkan bahwa penurunan metilasi terjadi pada pasien yang berespon baik terhadap pengobatan, baik operasi maupun kemoterapi. Sebaliknya pasien yang tidak diobati atau mengalami kekambuhan menunjukkan peningkatan metilasi. Status MSI pada kanker kolorektal yang terdeteksi melalui cfDNA relatif konsisten dengan yang ada di sampel jaringan tumor. Simpulan: Keuntungan biopsi cair adalah darah lebih mudah didapat, efektif dan tidak invasif dibandingkan dengan biopsi terutama pada tumor yang sulit dijangkau dengan biopsi. Biopsi cair dapat dilakukan berulang secara serial sehingga dapat digunakan untuk memantau perkembangan penyakit, mengetahui respon pengobatan dan menentukan prognosis

    3-YEAR OLD BOY FROM KOROWAY TRIBE WITH NOMA AND MALNUTRITION

    No full text
    Background:  Noma is a rare infectious disease that rapidly destroys the soft tissues, perforating the hard tissues and the skin of the face. It was first named in the eighteenth century. Children aged between 2 and 6 years with poor oral hygiene, malnutrition, malaria, HIV infection, measles, living in a poor condition, and resource-constrained areas are at risk of the disease. This case emphasized the needs of greater understanding not only of the disease but also the multifactorial approach to attain health.   Case Presentation Summary:  A 3 year-old boy from Koroway was admitted with a month history of a lesion on the left cheek. The lesion had started as a vesicle on the left gum, progressing rapidly into an ulcer. At present, there was a hole on the left cheek. An ulcer with diameter of 5 cm, a greyish black area and edema appears on the external surface of the cheek, mandibular bone and teeth exposed. Associated with the lesion was pain, pus, malnutrition, no immunization records, and has a past history of recently malaria. The patient was living with his parents, a brother, and a sister in the tree house at Koroway.  Physical examination revealed pale conjunctiva and ronkhi at the basal of the lungs. His height was 89 cm, weighed 10 kg which showed thinness. Laboratory findings were microcytic hypochromic anemia, elevated erythrocyte sedimentation rate, normal leukocytes, and hypoalbuminemia, Mantoux test was negative and no HIV infection was found. The patient was managed by blood transfusion, administration of antibiotics, debridement of the affected area, and putting on a high carbohydrate and protein diet, which was local foods such as bananas, eggs, and sago. After the lesion was smaller and no other complication revealed, the patient was discharged.   Learning Points/Discussion:  NOMA is an abandoned disease and known as the “face of poverty”. Early intervention can be made to minimize tissue destruction. Nevertheless, adequate steps regarding the availability, accessibility, and utilization of the resources with cultural approach might help to improve the health condition of individuals living in susceptible areas. Latar Belakang: Noma adalah salah satu penyakit infeksi langka yang menyerang jaringan lunak, hingga perforasi tulang dan kulit wajah. Penyakit ini pertama kali ditemukan di abad ke-18. Anak usia 2 hingga 6 tahun dengan sanitasi rendah, malnutrisi, malaria, HIV, campak, tinggal di dalam kemiskinan, dan lingkungan yang jauh dari fasilitas merupakan faktor risiko dari noma. Kasus ini menunjukkan bahwa diperlukan pengertian menyeluruh tidak hanya mengenai penyakit tertentu, tetapi juga multifaktor lainnya untuk mencapai status sehat.   Ringkasan Kasus: Anak laki-laki, usia 3 tahun dari Korowai datang dengan keluhan lesi di pipi kiri sejak 1 bulan sebelum masuk rumah sakit. Pada awalnya lesi muncul sebagai vesikel di gusi kiri dan kemudian berkembang menjadi ulkus. Saat pemeriksaan ditemukan lubang pada pipi kiri pasien. Tampak sebuah ulkus dengan diameter 5 cm yang disertai area abu kehitaman dan edema pada permukaan luarnya. Tampak tulang mandibula dan gigi pasien dari luar. Keluhan disertai dengan nyeri dan nanah di tempat luka. Pasien juga datang dalam kondisi malnutrisi, tidak ada status imunisasi, dan riwayat sering terkena malaria sebelumnya.  Pada pemeriksaan fisik ditemukan konjungtiva anemis dan ronki pada kedua basal paru. Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan anemia mikeositik hipokrom, peningkatan laju endap darah, leukosit dalam batas normal, dan hipoalbuminemia. Hasil tes Mantoux negatif dan pemeriksan HIV non reaktif.  Tatalaksana pasien ini meliputi transfusi darah, antibiotik, debridemen pada daerah yang terinfeksi, dan diet tinggi protein dan karbohidrat yang sesuai dengan makanan lokalnya seperti pisang, telur, dan sagu. Pasien dipulangkan setelah lesi membaik dan komplikasi teratasi.    Pembelajaran/Kesimpulan: Noma adalah salah satu penyakit yang sudah lama ditinggalkan dan disebut sebagai “Face of Poverty”. Intervensi dini dapat dilakukan untuk mengurangi kerusakan jaringan. Selain itu, diperlukan tatalaksana adekuat yang meliputi availabilitas, aksesibilitas, utilisasi sumber daya, dan disertai dengan pendekatan budaya untuk membantu meningkatkan kesehatan masyarakat yang tinggal di area yang bersangkutan

    Persepsi Warganet Mengenai Kebijakan Penggunaan Rapid Test Antigen Selama Pandemi COVID-19 di Indonesia

    Full text link
    Pendahuluan: Pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), di antaranya peningkatan jumlah tes sebagai upaya deteksi kasus positif serta membatasi perjalanan orang untuk mencegah dan memutus rantai penularan COVID-19. Selama pandemi juga terjadi peningkatan jumlah pengguna internet dan media sosial akibat pembatasan kegiatan secara langsung. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menggambarkan persepsi warganet Indonesia mengenai kebijakan penggunaan rapid test antigen sebagai syarat perjalanan dalam negeri. Gambaran persepsi warganet dapat membantu pemerintah, institusi, atau pihak yang berperan dalam promosi kesehatan untuk mengetahui sikap dan respon masyarakat terhadap kebijakan penggunaan rapid test antigen sebagai syarat perjalanan dalam negeri. Metode: Penelitian ini adalah penelitian deskriptif menggunakan metode kombinasi explanatory sequential. Objek penelitian ini adalah twit warganet Indonesia yang diunggah di Twitter pada 19 Desember 2020 hingga 30 Juni 2021. Uji validasi dalam penelitian ini menggunakan metode member checking dan triangulasi antar-peneliti. Hasil: Sampel yang didapatkan adalah 655 twit, dengan 51% persepsi negatif, 25% persepsi positif, dan 24% persepsi netral. Terdapat dua jenis narasi yaitu narasi medis dan non-medis. Narasi medis mendominasi yaitu sebesar 85% sedangkan narasi medis hanya sebesar 15%. Simpulan: Diperlukan upaya peningkatan pemahaman masyarakat terkait kegunaan dan manfaat dari pemeriksaan COVID-19 sebelum dan sesudah melakukan perjalanan sebagai upaya pengendalian COVID-19 di Indonesia.Pendahuluan: Pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), diantaranya peningkatan jumlah tes sebagai upaya deteksi kasus positif serta membatasi perjalanan orang untuk mencegah dan memutus rantai penularan COVID-19. Selama pandemi juga terjadi peningkatan jumlah pengguna internet dan media sosial akibat pembatasan kegiatan secara langsung. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menggambarkan persepsi warganet Indonesia mengenai kebijakan penggunaan rapid test antigen sebagai syarat perjalanan dalam negeri. Gambaran persepsi warganet dapat membantu pemerintah, institusi, atau pihak yang berperan dalam promosi kesehatan untuk mengetahui sikap dan respon masyarakat terhadap kebijakan penggunaan rapid test antigen sebagai syarat perjalanan dalam negeri. Metode: Penelitian ini adalah penelitian deskriptif menggunakan metode kombinasi explanatory sequential. Objek penelitian ini adalah twit warganet Indonesia yang diunggah di Twitter pada 19 Desember 2020 hingga 30 Juni 2021. Uji validasi dalam penelitian ini menggunakan metode member checking dan triangulasi antar-peneliti. Hasil: Dari sampel 655 twit, didapatkan 51% persepsi negatif, 25% persepsi positif, dan 24% persepsi netral. Terdapat dua jenis narasi yaitu narasi medis dan non-medis. Narasi medis mendominasi yaitu sebesar 85% sedangkan narasi medis hanya sebesar 15%. Simpulan: Diperlukan upaya peningkatan pemahaman masyarakat terkait kegunaan dan manfaat dari pemeriksaan COVID-19 sebelum dan sesudah melakukan perjalanan sebagai upaya pengendalian COVID-19 di Indonesia. Kata Kunci: COVID-19, persepsi, pembatasan perjalanan, rapid test antige

    Komplikasi yang Meningkatkan Mortalitas Covid-19 pada Pasien Usia Lanjut

    No full text
    Introduction: Covid-19 infection commonly does not cause severe ill for immunocompetent patients, but the opposite will occur in elderly and patients with comorbidities. In elderly, the risk factors highly increase to have severe complications which increase the mortality and morbidity rate. Therefore, the aim of this literature review is to detect what kind of complications of Covid-19 in the elderly that will increase the mortality of Covid-19 patients.Methods: The literature had been searched by using scientific search tools, such as Pubmed, using the keywords "Covid 19" AND "Complication" AND "Mortality" AND "Geriatric". Furthermore, the collected articles were screened using the inclusion and exclusion criteria that had been set. The selected articles are reviewed to answer the objectives.Results: After searching and filtering according to the criteria, six articles are  obtained for review. The results show that the most frequent complication causing mortality in geriatric patients with Covid-19 was Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) with a mortality rate that occurred up to 1,730 (81%) patients. Meanwhile, the most frequent comorbid in Covid-19 patients with a rising mortality rate is hypertension (75%) with the number of  2,080 cases.Conclusion: The Covid-19 mortality rate in elderly patients tends to be high due to severe complications such as ARDS and hypertension as comorbid diseases. Therefore, further research is needed to manage and prevent the complications of ARDS and its correlation with hypertension.Pendahuluan: Gejala Infeksi Covid-19 umumnya ringan pada orang yang imunokompeten namun tidak  pada pasien usia lanjut dan pasien dengan komorbiditas. Hal ini terjadi karena meningkatnya faktor resiko terjadinya komplikasi yang mengakibatkan  peningkatan mortalitas dan morbiditas. Tujuan penulisan Literature review ini untuk mengetahui komplikasi dari Covid-19 dan komorbid yang sering terjadi pada pasien lansia yang meningkatkan mortalitas pasien Covid-19.Metode: Metode pencarian literatur dilakukan dengan alat pencarian ilmiah seperti Pubmed menggunakan kata kunci “Covid 19” AND “Complication” AND “Mortality” AND “Geriatric”. Selanjutnya artikel disaring menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Artikel yang terpilih lalu dikaji untuk menjawab tujuan.Hasil: Dari hasil pengumpulan artikel ditemukan 6 artikel yang memenuhi kriteria pencarian. Hasil kajian ke-enam artikel menunjukkan bahwa komplikasi yang paling sering terjadi pada pasien geriatri dengan Covid-19 yaitu ARDS dengan angka kematian yang terjadi mencapai hingga 1.730 (81%) pasien. Sedangkan komorbid yang paling sering menyebabkan kematian pada pasien COVID-19 yaitu hipertensi dengan angka kasus mencapai 2.080 (75%) pasien.Simpulan: Tingkat kematian yang tinggi pada pasien lansia  dengan Covid-19 disebabkan adanya komplikasi berat seperti ARDS dan penyakit komorbid hipertensi. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengurangi kemungkinan terjadinya ARDS pada lansia dengan Covid-19 dan hubungannya dengan komorbid hipertensi

    Pengaruh pendinginan dalam meringankan delayed onset muscle soreness (DOMS)

    Full text link
    Pendahuluan: Delayed Onset Muscle Soreness (DOMS) adalah nyeri yang dirasakan seseorang dalam waktu 24-72 jam setelah melakukan aktivitas olahraga. DOMS menimbulkan kekakuan, bengkak, penurunan kekuatan dan nyeri pada otot. Salah satu pemicu DOMS adalah olahraga eksentrik. Beberapa penelitian mengatakan bahwa pendinginan ikut berpengaruh dalam mengurangi terjadinya cedera otot sesudah berolahraga, tetapi banyak juga penelitian yang mengatakan bahwa pendinginan tidak berpengaruh dalam mengurangi risiko cedera otot setelah olahraga. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah pendinginan meringankan nyeri yang timbul setelah berjalan jongkok pada mahasiswa perempuan angkatan 2012 Fakultas Kedokteran Unika Atma Jaya (FKUAJ). Metode: Penelitian ini bersifat intervensi, jumlah responden 69 orang dibagi dalam 23 orang kelompok kontrol, 23 orang kelompok perlakuan 1, dan 23 orang kelompok perlakuan 2. Setiap responden melakukan pemanasan selama 5 menit, jalan jongkok 8x18 langkah. Kelompok perlakuan 1 melakukan pendinginan selama 5 menit, kelompok perlakuan 2 selama 10 menit, sedangkan kelompok kontrol tidak melakukan pendinginan. Hasil: Uji Chi-Square menunjukkan perbedaan signifikan antara responden yang melakukan pendinginan dan tidak melakukan pendinginan (p<0,05). Simpulan: Pendinginan dapat meringankan gejala DOMS pada mahasiswi angkatan 2012 FKUAJ.Pendahuluan: Delayed Onset Muscle Soreness (DOMS) adalah nyeri yang dirasakan seseorang dalam waktu 24-72 jam setelah melakukan aktivitas olahraga. DOMS menimbulkan kekakuan, bengkak, penurunan kekuatan dan nyeri pada otot. Salah satu pemicu DOMS adalah olahraga eksentrik. Beberapa penelitian mengatakan bahwa pendinginan ikut berpengaruh dalam mengurangi terjadinya cedera otot sesudah berolahraga, tetapi banyak juga penelitian yang mengatakan bahwa pendinginan tidak berpengaruh dalam mengurangi risiko cedera otot setelah olahraga. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah pendinginan meringankan nyeri yang timbul setelah berjalan jongkok pada mahasiswa perempuan angkatan 2012 Fakultas Kedokteran Unika Atma Jaya (FKUAJ). Metode: Penelitian ini bersifat intervensi, jumlah responden 69 orang dibagi dalam 23 orang kelompok kontrol, 23 orang kelompok perlakuan 1, dan 23 orang kelompok perlakuan 2. Setiap responden melakukan pemanasan selama 5 menit, jalan jongkok 8x18 langkah. Kelompok perlakuan 1 melakukan pendinginan selama 5 menit, kelompok perlakuan 2 selama 10 menit, sedangkan kelompok kontrol tidak melakukan pendinginan. Hasil: Uji Chi-Square menunjukkan perbedaan signifikan antara responden yang melakukan pendinginan dan tidak melakukan pendinginan (p<0,05). Simpulan: Pendinginan dapat meringankan gejala DOMS pada mahasiswi angkatan 2012 FKUAJ

    THE POTENTIAL OF INTERLEUKIN 17 AS A PROGNOSTIC BIOMARKER AND A TARGET OF THERAPEUTIC MODALITIES IN ATOPIC DERMATITIS

    Full text link
    Background. Atopic dermatitis (AD) is one of the most common chronic relapsing inflammatory skin disease. AD causes negative impacts on social and economic, especially on the patients’ and their families’ quality of life. The immune dysregulation in AD resulting in disruption of keratinocyte barrier and inflammation AD recently was associated with the response of TH17, which produce IL-17. This study aims to investigate the correlation of IL-17 with severity of AD. Methods. This retrospective cohort study was conducted in dermatovenerology outpatient department. Consecutive sampling was done during the period of the study on patients aged more than 14 years old diagnosed with AD. Demographic data, Scoring for AD (SCORAD) index, stress score, onset and duration of disease, and three mililitres of whole blood in vacutainer were obtained. IL-17 serum level analysis was measured on the blood by ELISA technique according to manufacturer’s protocol. P-value smaller than 0.05 was appraised as statistically significant. Results. There were significantly higher IL-17 serum level in AD patients compared with control patients. There were higher IL-17 serum level in moderate-severe compared to mild AD patients. There were also significantly longer in the duration of the disease and higher SCORAD index in moderate-severe compared to mild AD patients. There was very strong positive correlation between IL-17 serum level and SCORAD index. Conclusions. The findings of this study emphasize the potency of IL-17 as prognostic biomarkers and also as the potential target of therapeutic modalities.Latar Belakang. Dermatitis Atopik (DA) merupakan salah satu penyakit kulit peradangan kronik berulang tersering. DA menyebabkan  dampak negatif pada sosioekonomi, terutama pada kualitas hidup pasien dan keluarganya. Gangguan imun pada DA dapat menyebabkan kerusakan sawar keratinosit dan inflamasi pada DA diasosiasikan dengan respon Th17 yang menghasilkan Interleukin-17 (IL-17). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat korelasi antara IL-17 dan tingkat keparahan DA. Metode. penelitian kohor retrospektif ini dilakukan di unit rawat jalan poliklinik kulit dan kelamin. Sampling konsekutif dilakukan selama periode penelitian pada pasien dengan usia lebih dari sama dengan 14 tahun dengan diagnosis DA. Data demografis, indeks Scoring for AD (SCORAD), skor stres, onset dan durasi penyakit, dan tiga mililiter darah dalam vakutainer diambil dari pasien. Analisis kadar serum IL-17 diukur pada darah dengan teknik ELISA berdasarkan protokol pabrik. Nilai p kurang dari 0,05 dinilai sebagai signifikan. Hasil. Terdapat kadar serum IL-17 yang lebih tinggi pada pasien DA dibandingkan dengan kontrol. Terdapat kadar serum IL-17 yang lebih tinggi pada pasien DA sedang-berat dibandingkan dengan DA ringan. Terdapat pula durasi yang lebih lama dan indeks SCORAD yang lebih tinggi pada pasien DA sedang-berat dibandingkan dengan pasien DA ringan. Terdapat korelasi positif yang sangat kuat antara kadar serum IL-17 dan indeks SCORAD. Kesimpulan. Hasil dari penelitian ini menekankan potensi IL-17 sebagai biomarker prognostik dan juga sebagai potensi target modalitas terapeutik

    Perbandingan obesitas general dan obesitas sentral terhadap risiko hipertensi pada usia dewasa di wilayah Kecamatan Cisauk Kabupaten Tangerang

    Full text link
    Pendahuluan: Hipertensi dan obesitas menjadi masalah kesehatan utama hampir diseluruh dunia saat ini. Kejadian hipertensi maupun obesitas meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Obesitas telah diketahui sebagai faktor risiko utama terjadinya hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan risiko obesitas general dengan menggunakan parameter indeks massa tubuh (IMT) dengan obesitas sentral yang menggunakan parameter rasio lingkar pinggang tinggi badan terhadap kejadian hipertensi pada subjek dewasa usia 26-45 tahun di Wilayah Kecamatan Cisauk Kabupaten Tangerang. Metode: Penelitian ini adalah penelitian potong lintang, pada subjek dewasa usia 26-45 tahun dengan obesitas general (IMT ≥ 25 kg/m2) dan obesitas sentral (rasio lingkar pinggang tinggi badan >0,5). Masing-   masing kelompok obesitas sebanyak 88 orang, diperoleh dengan menggunakan tehnik non probability sampling dengan metode consecutive sampling. Berat badan, tinggi badan, lingkar pinggang, dan tekanan darah diukur pada masing-masing responden. Indeks massa tubuh dan rasio lingkar pinggang tinggi badan dihitung. Analisis yang dipergunakan analisi univariat, bivariat dengan independent t-test, kemudian dilanjutkan dengan analisis multivariate regresi logistik.  Hasil: Responden berusia dewasa awal (26-35 tahun) yang mengalami hipertensi sebanyak 26 orang (14,8%) sedangkan yang berusia dewasa akhir (36-45 tahun) sebanyak 63 orang (35,8%). Responden laki-laki yang mengalami hipertensi sebanyak 24 orang (13,6%) dan perempuan sebanyak 120 (36,9%). Responden dengan riwayat keluarga hipertensi dan saat ini mengalami hipertensi didapatkan sebanyak 52 orang (29,5%) dan tanpa riwayat keluarga hipertensi sebanyak 37 orang (21,0%). Responden dengan riwayat keluarga hipertensi dan saat ini mengalami hipertensi adalah 52 (29,5%) dan 37 (21,0%) tanpa riwayat keluarga hipertensi. Responden dengan riwayat keluarga hipertensi memiliki risiko hipertensi 2,7 kali (OR (CI 95%) =2,670 (1,450 – 4,919)) jika dibandingkan dengan responden yang tidak memiliki riwayat hipertensi dalam keluarga.  Responden dengan obesitas general secara signifikan meningkatkan risiko hipertensi 0.5 kali (OR (CI95%) = 0,457 (0,250 – 0,835), p=0,016) jika dibandingkan dengan responden tanpa obesitas general. Sedangkan responden dengan obesitas sentral memiliki risiko 0.5 kali (OR (CI 95%) = 0,489 (0,420 – 0,569), p=0,243). Simpulan: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa antara obesitas general obesitas sentral memiliki risiko yang sama terhadap hipertensi.  Pendahuluan: Hipertensi dan obesitas menjadi masalah kesehatan utama hampir diseluruh dunia saat ini. Kejadian hipertensi maupun obesitas meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Obesitas telah diketahui sebagai faktor risiko utama terjadinya hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan risiko obesitas general dengan menggunakan parameter indeks massa tubuh (IMT) dengan obesitas sentral yang menggunakan parameter rasio lingkar pinggang tinggi badan terhadap kejadian hipertensi pada subjek dewasa usia 26-45 tahun di Wilayah Kecamatan Cisauk Kabupaten Tangerang. Metode: Penelitian ini adalah penelitian potong lintang, pada subjek dewasa usia 26-45 tahun dengan obesitas general (IMT ≥ 25 kg/m2) dan obesitas sentral (rasio lingkar pinggang tinggi badan >0.5). Masing-masing kelompok obesitas sebanyak 88 orang, diperoleh dengan menggunakan tehnik non probability sampling dengan metode consecutive sampling. Berat badan, tinggi badan, lingkar pinggang, dan tekanan darah diukur pada masing-masing responden. Indeks massa tubuh dan rasio lingkar pinggang tinggi badan dihitung. Analisis yang dipergunakan analisi univariat, bivariat dengan independent t-test, kemudian dilanjutkan dengan analisis multivariate regresi logistik.  Hasil: Responden berusia dewasa awal (26-35 tahun) yang mengalami hipertensi sebanyak 26 orang (14.8%) sedangkan yang berusia dewasa akhir (36-45 tahun) sebanyak 63 orang (35.8%). Responden laki-laki yang mengalami hipertensi sebanyak 24 orang (13.6%) dan perempuan sebanyak 120 (36.9%). Responden dengan riwayat keluarga hipertensi dan saat ini mengalami hipertensi didapatkan sebanyak 52 orang (29.5%) dan tanpa riwayat keluarga hipertensi sebanyak 37 orang (21.0%). Responden dengan riwayat keluarga hipertensi dan saat ini mengalami hipertensi adalah 52 (29,5%) dan 37 (21,0%) tanpa riwayat keluarga hipertensi. Responden dengan riwayat keluarga hipertensi memiliki risiko hipertensi 2.7 kali (OR (CI 95%) =2.670 (1.450 – 4.919)) jika dibandingkan dengan responden yang tidak memiliki riwayat hipertensi dalam keluarga.  Responden dengan obesitas general secara signifikan meningkatkan risiko hipertensi 0.5 kali (OR (CI95%) = 0.457 (0.250 – 0.835), p=0.016) jika dibandingkan dengan responden tanpa obesitas general. Sedangkan responden dengan obesitas sentral memiliki risiko 0.5 kali (OR (CI 95%) = 0.489 (0.420 – 0.569), p=0.243). Simpulan: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa antara obesitas general obesitas sentral memiliki risiko yang sama terhadap hipertensi.   &nbsp

    HUBUNGAN AKTIVITAS FISIK DENGAN WAIST/HIP RATIO, TEKANAN DARAH, DAN KOLESTEROL PADA MAHASISWA KEDOKTERAN YANG MENGALAMI OVERWEIGHT

    Full text link
    ABSTRACT Introduction: Cardiovascular disease has been a major health problem as of late, with over 17.5 million death per year. Accompanied with many risk factors such as hypercholesterolemia and abnormal body mass index, many researches have sought to find a way to alleviate the number of incidence. Physical activity then has been a well-known way to mitigate such symptoms and though many studies before have given insight on the relationship between physical activity and cardiovascular risk factors, this study aims to determine more closely on the relationship between physical activity in an overweight population with blood cholesterol, blood pressure and waist/hip ratio. Methods: It is a analytic comparative study with a cross-sectional method. The research subjects were 250 people divided into two groups. Physical activity data were obtained using the Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ), blood cholesterol level was measured using capillary blood sampling on a easy touch device, blood pressure was measured using a mercury sphygmomanometer, waist/hip ratio was measured using an anthropometric band,  body mass index (BMI) was measured by the way the weight divides the body in kilograms (kg) by height in meters squared (m2). Results: Among the overweight students of FKIK UAJ no significant relationship was found between physical activity with blood cholesterol, waist/hip ratio and blood pressure (p > 0.05). Conclusions: There is no significant relationship between physical activity in an overweight population with blood cholesterol, waist/hip ratio, and blood pressure. There is also no significant value differences between physical activity with blood cholesterol, waist/hip ratio, and blood pressure. Keywords: Blood Cholesterol, Blood Pressure, Overweight, Physical Activity, Waist/hip Ratio.  ABSTRAK   Pendahuluan: Penyakit kardiovaskuler telah menjadi masalah kesehatan yang penting belakangan ini, dengan lebih dari 17,5 juta jiwa yang tertelan setiap tahunnya. Dengan banyak faktor risiko yang ada seperti hiperkolesterolemia dan indeks massa tubuh yang tidak normal, banyak penelitian yang mencari cara untuk menurunkan angka penyakit ini. Aktivitas fisik pun telah menjadi sebuah cara yang ampuh untuk menanggulangi faktor risiko penyakit ini. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan aktivitas fisik pada populasi overweight dengan kadar kolesterol darah, tekanan darah, dan waist/hip ratio. Metode: Merupakan penelitian analitik komparatif dengan metode potong lintang. Subjek penelitian sebanyak 250 orang yang kemudian dibagi dalam 2 kelompok. Data aktivitas fisik didapat menggunakan Global Physical Activity Questionnaire(GPAQ), kadar kolesterol darah diukur menggunakan metode capillary blood sampling, tekanan darah diukur menggunakan sphygmomanometer merkuri, indeks massa tubuh (IMT) diukur dengan cara berat membagi badan dalam kilogram (kg) dengan tinggi badan dalam meter kuadrat (m2), dan waist/hip ratio diukur menggunakan pita ukur antropometri. Hasil: Tidak ditemukannya sebuah hubungan antara aktivitas fisik pada populasi overweight dengan kadar kolesterol darah, tekanan darah, dan waist/hip ratio pada mahasiswa FKIK UAJ(p>0,05). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara aktivitas fisik pada populasi overweight dengan kadar kolesterol darah, tekanan darah, dan waist/hip ratio. Tidak terdapat perbedaan nilai kadar kolesterol darah, tekanan darah, dan waist/hip ratio berdasarkan aktivitas fisik pada populasi overweight. Kata kunci: Aktivitas Fisik, Kolesterol Darah, Overweight, ITekanan Darah , Waist/hip Ratio. &nbsp

    OVERVIEW OF PARENTAL’S EARLY STIMULATION IN KNOWLEDGE, ATTITUDE, AND PRACTICE OF CHILDREN IN JABODETABEK

    No full text
    The first year of life is a golden period which is the most rapid child development. To get the best results, parents need to stimulate their children as early as possible according to their own childs’s personal age. In order to achieve the best results, parents are needed to have the important knowledge, attitude, and practice towards children’s developments especially in language and social personal developments. The purpose of the study is to describe the parental’s knowledge, attitude, and practice in early stimulation towards language and social personal development of children aged 6–24 months in Jabodetabek Region

    112

    full texts

    169

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Damianus Journal of Medicine
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇