Damianus Journal of Medicine
Not a member yet
169 research outputs found
Sort by
EFEKTIVITAS ASAM RETINOIK PADA PENYEMBUHAN LUKA PERFORASI BARU MEMBRAN TIMPANI HEWAN COBA MARMOT
Introduction: Tympanic membrane (TM) perforation is common in our practice, it may be due to infection or trauma. Retinoic acid (RA) has been studied for its effect on wound healing, it can stimulate angiogenesis and increase the rate of re-epithelialization in wounded skin. The purpose of this study is to determine the effectiveness and the rate of healing of RA in wound closure of acute TM perforations in Guinea pigs
Methods: This is a randomized control trial animal experimental study, twenty Guinea pigs (40 TM) were used. Randomization to determine group for intervention and control was done using the toss coin method. A small perforation using spinal needle G 20 was done. RA was introduced in the intervention group while in the control group, TM was allowed to heal spontaneously. All TM were examined on day 3, 7, 10 and 14. Recording of perforation was done with endoscopic system. Measurement of the TM as well as the perforation was done by using a graphic program (AutoCAD R14).
Results: TM healed completely on day 14 in the intervention group and the control group was 52.9 % and 47.1% respectively with p =0.492. The rate of healing on day 3,7 and 10 in the intervention group and the control group was 0.15 & 0.08; 0.38 & 0.69; 0.29 & 0.58 respectively with p= 0.01; 0.003 and 0.001.
Conclusion: Tympanic membrane with RA treated group showed a significant rate of healing on day 3,7 and 10. However, RA have no significant effect on closure of acute traumatic perforations after day 14Pendahuluan: Perforasi membran timpani (MT) merupakan masalah yang umum dijumpai dalam praktek sehari-hari, Infeksi atau pun trauma merupakan salah satu penyebab terjadinya perforasi MT. Asam retinoik (AR) telah lama diketahui mempunyai efek pada penyembuhan luka. AR dikatakan dapat menstimulasi proses angiogenesis dan meningkatkan kecepatan re-epitelisasi pada luka di kulit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh efektifitas dan kecepatan penyembuhan luka perforasi baru pada MT hewan guinea pig.
Metode: Penelitian ini adalah studi eksperimental kasus kelola teracak pada hewan percobaan, Penelitian ini melibatkan dua puluh guinea pigs (40 MT). Pemilihan acak untuk menentukan kelompok intervensi dan kelompok kontrol melalui metode lempar koin. Perforasi kecil pada MTdilakukan dengan menggunakan jarum spinal ukuran 20G. Pemberian AR dilakukan sekali saja pada kelompok intervensi, sedangkan pada kelompok kontrol dibiarkan sembuh spontan. Semua MT diperiksa pada hari ke 3,7,10 dan 14. Perekaman gambar perforasi dilakukan dengan menggunakan videoendoskopi sistem. Pengukuran luas area MT dan luas area perforasi dengan menggunakan program grafis (AutoCAD R14).
Hasil: MT yang menutup sempurna pada hari ke 14 pada kelompok intervensi dan kontrol adalah 52.9% vs 47.1% dengan p=0.492, Tingkat penutupan perforasi (TPP) pada hari ke 3, 7 dan 10 pada kelompok intervesi dibandingkan dengan kelompok kontrol adalah 0.15 & 0.08; 0.38 & 0.69; 0.29 & 0.58 dengan p= 0.01; 0.003 dan 0.001.
Simpulan: Pemberian AR pada kelompok intervensi memberikan hasil penyembuhan luka perforasi yang lebih cepat secara signifikan pada hari ke 3, 7 dan 10, tetapi Pemberian AR tidak memberikan efek penyembuhan luka perforasi setelah hari ke 14.
 
Pola Penggunaan Produk Over The Counter (OTC) pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran yang Menderita Akne Vulgaris
Introduction: Acne vulgaris (AV) is a skin disorder caused by inflammation in the pilosebaceous unit and may cause a psychosocial burden for patients. Self-medication is common in medical students, including in treating AV. This study aimed to determine the behavioral characteristics of using over-the-counter (OTC) products for acne-prone skin in medical students in Jakarta.
Methods: This was a cross-sectional observational study of 100 medical students with AV. The study was conducted using questionnaires consisting of clinical survey, medications, and OTC products. The clinical assessment of the severity of AV was determined using the Global Acne Grading System (GAGS) criteria.
Results: Sixty-nine study subjects only used OTC products for their acne management. The most common OTC product was a facial cleanser, which facial cleanser (89 subjects) and cleansing oil (29 subjects). Fifty percent of the study subjects did not know the active ingredients in the products; 15% used benzoyl peroxide, 13% used topical retinoid, and 12% used nicotinamide.
Conclusion: Self-medication with OTC products for acne-prone skin is frequent among medical students in Jakarta, and the most commonly used product is a facial cleanser. Most study subjects did not know the active ingredients in their OTC products.Abstrak
Pendahuluan: Akne vulgaris (AV) merupakan kelainan kulit akibat inflamasi pada unit pilosebasea yang dapat menyebabkan beban psikososial bagi penderitanya. Pengobatan sendiri (self medication) banyak dijumpai pada mahasiswa fakultas kedokteran, yang bertujuan untuk mengatasi AV. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola perilaku penggunaan produk over the counter (OTC) untuk kulit berjerawat pada mahasiswa fakultas kedokteran di Jakarta. Metode: Penelitian observasional secara potong lintang pada 100 mahasiswa kedokteran yang menderita AV, dengan menyebarkan kuesioner berisi survei klinis, pengobatan, serta penggunaan produk OTC. Penilaian klinis derajat keparahan AV dinilai menggunakan kriteria Global Acne Grading System (GAGS). Hasil: Sebanyak 69 subjek penelitian (SP) ditemukan menggunakan produk OTC untuk mengatasi AVnya. Jenis produk OTC yang paling banyak digunakan adalah pembersih wajah, yaitu sabun wajah (89 SP) dan cleansing oil (29 SP). Lima puluh persen SP tidak mengetahui kandungan bahan aktif dalam produk OTC yang digunakan, 15% menggunakan benzoil peroksida, 13% retinoid topikal, dan 12% nicotinamide. Kesimpulan: Pengobatan sendiri dengan produk OTC untuk kulit berjerawat sering dilakukan oleh mahasiswa kedokteran di Jakarta, dengan produk terbanyak yang digunakan adalah pembersih wajah. Sebagian besar SP tidak mengetahui baha
HUBUNGAN POLA ASUH DENGAN MASALAH PERILAKU DAN EMOSI PADA SISWA SD DI KECAMATAN PENJARINGAN JAKARTA UTARA
Background: Parenting is defined as an act of giving education, guidance, patronage, and supervision by the parents to their children. Different methods of parenting may result in distinctive character developments as well as determining the children's behaviour and emotional demeanour. Objective: To determine the relationship between parenting towards behavioral and emotional problems among primary school student in Penjaringan, North Jakarta. Methods: This study was a cross-sectional study of 512 primary school students in Penjaringan, North Jakarta. Measuring instruments used were Strength and Difficulties Questionnaire (SDQ) dan Parenting Questionnaire Children’s Point of View. Both instruments were filled directly by students. Data analysis was performed descriptively and bivariate (chi-square). Result: There were 32% respondents with behavioral and emotional problems, among them 38.5% conduct problems; 34.2% peer problems; 25% emotional symptoms. This study finds that 66.2% respondents with Exposure parenting, among them 51.8% with type B parenting (authoritarian), 7.6% with type D parenting (Inconsistent), and 6.8% type C parenting (Permissive). Bivariate analysis found that there is significant relationship between parenting towards behavioral and emotional problems (p<0.05; 95%CI = 0.448 – 0.970; OR = 0.659). Conclusion: There is association between parenting towards behavioral and emotional problems among primary school students.
Keywords: Parenting, behavioral and emotional disorder, children, elementary schoolLatar Belakang: Pola asuh orang tua merupakan kegiatan mendidik, membimbing, memberi perlindungan serta pengawasan terhadap anak. Pola pengasuhan yang diterapkan oleh orang tua memberikan pengaruh dalam perkembangan karakter serta menentukan pola tumbuh kembang perilaku dan emosi anak.
Tujuan: Mendapatkan hubungan antara pola asuh dengan masalah perilaku dan emosi pada siswa Sekolah Dasar di Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian potong lintang pada 512 siswa SD di Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. Alat ukur yang digunakan adalah Strength and Difficulties Questionnaire (SDQ) dan Kuesioner Pola Asuh Sudut Pandang Anak yang langsung diisi oleh siswa. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan bivariat (chi-square). Hasil: 32% responden dengan masalah perilaku dan emosi, diantaranya 38.5% masalah tingkah laku; 34.2% masalah dengan teman sebaya; 25% masalah emosional. Sebanyak 66.2% dengan pola asuh Exposure diantaranya 51.8% dengan pola asuh tipe B (Otoriter), 7.6% dengan pola asuh tipe D (Tidak Konsisten), dan 6.8% pola asuh C (Permisif). Analisis bivariat menunjukkan hubungan signifikan antara masalah perilaku dan emosi dengan pola asuh orang tua dari sudut pandang anak (p<0.05; 95%CI = 0.448 – 0.970; OR = 0.659). Kesimpulan: terdapat hubungan antara pola asuh dengan masalah perilaku dan emosi pada siswa SD.
Kata kunci: Pola asuh, masalah perilaku dan emosi, anak, sekolah dasa
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN ANTI HIPERKOLESTEROLEMIA EKSTRAK UMBI BAWANG DAYAK (Eleutherine bulbosa [Mill.] Urb)
Introduction: High cholesterol levels can build up plaque inside the lining of the artery wall leading to coronary heart disease. Dayak onion bulbs (Eleutherine bulbosa (Mill.) Urb) contain flavonoids that can act as antioxidants and are believed to reduce blood cholesterol level. This study investigated the flavonoid content and antioxidant activity of Dayak onion tuber extract, and their effect on total blood cholesterol levels.
Methods: Dayak onion bulbs were extracted by maceration (ethanol 70%). Total flavonoid was determined by a colorimetric method using AlCl3. Antioxidant activity was determined based on DPPH radical scavenging activity. Anti-hypercholesterolemia effect was studied in vitro. Thirty-six white male rats (Rattus novergicus) were divided into 6 groups: healthy rats, hyper-cholesterol rats, hyper-cholesterol rats treated with simvastatin (18 mg/bw) and rutin (75 mg/bw) as positive controls, hyper-cholesterol rats treated with dayak union bulbs extracts (75 and 150 mg/bw). Measurement of total cholesterol levels was performed using CHOD-PAP method. Data were analyzed using paired t-test and one-way anova.
Results: Flavonoids were present in onion bulb extract with a concentration of 1.7 mg/g dried biomass. The antioxidant activity of the extract (IC50 0.37 mg/mL) was weaker than that of rutin (IC50 15.58 µg/mL). The addition of dayak onion bulbs extract dose of 150 mg/kg bw was the best dose in reducing total blood cholesterol levels on the 14th day, p = 0,001.
Conclusion: dayak onion bulbs can be further investigated for application as anti hypercholesterolemia agent.Pendahuluan: Kadar kolesterol yang tinggi dapat membentuk plak pada dinding arteri, sehingga dapat menyebabkan penyakit jantung koroner (PJK). Umbi bawang dayak (Eleutherine bulbosa (Mill.) Urb mengandung flavonoid yang berperan sebagai antioksidan dan dipercaya dapat menurunkan kadar kolesterol darah. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kandungan flavonoid dan aktivitas antioksidan ekstrak umbi bawang dayak, juga pengaruhnya terhadap kadar kolesterol darah total.
Metode: Umbi bawang dayak diekstrasi dengan cara maserasi (etanol 70%). Kadar flavonoid total ditentukan dengan metode colorimetry menggunakan AlCl3. Aktivitas antioksidan ditentukan dengan metode pemadaman radikal bebas DPPH. Aktivitas antihiperkolesterolemia diujikan secara in vitro. Sebanyak 36 ekor tikus (Rattus novergicus) dibagi menjadi 6 kelompok yaitu kelompok sehat (kontrol), kelompok hiperkolesterolemia (kontrol negatif), simvastatin (18 mg/kg BB) (kontrol positif), rutin (75 mg/kg BB) (kontrol positif), dan kelompok hiperkolesterolemia dengan pemberian ekstrak umbi bawang dayak (75 dan 150 mg/kg BB). Kadar kolesterol total diukur menggunakan kit pereaksi cholesterol-oxidase para amino antipyrine (CHOD-PAP). Data dianalisis menggunakan t-test berpasangan dan One way Anova dilanjutkan dengan uji Post Hoc LSD.
Hasil: ekstrak umbi bawang dayak mengandung kadar total flavonoid sebesar 1,7 mg/gram biomassa kering. Aktivitas pemadaman radikal bebas umbi bawang Dayak lebih lemah (IC50 0,37 mg/mL) dibandingkan rutin (IC50 15,58 µg/mL). Pada penelitian ini, ekstrak umbi bawang dayak dosis 150 mg/kg BB, merupakan dosis terbaik dalam menurunkan kadar kolesterol darah total pada hari ke-14, dengan nilai p = 0,001.
Simpulan: Umbi bawang Dayak dapat diteliti lebih lanjut untuk dikembangkan sebagai agen antikolesterol
Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Perilaku Masyarakat tentang Pandemi Covid-19 di Dusun Plakaran Kecamatan Banguntapan Bantul
Pendahuluan: Pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) yang terjadi akibat terinfeksi virus SARS CoV-2 (Severe Acute respiratory Syndrome Coronavirus-2) menjadi peristiwa yang mengancam kesehatan masyarakat seluruh dunia. Berdasarkan data Gugus Tugas COVID-19 Republik Indonesia, per tanggal 18 Maret 2021 terdapat kasus positif sebesar 1.443.853 jiwa. Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta per tanggal 14 Maret 2021 menempati posisi kesebelas di Indonesia dalam jumlah pasien positif COVID-19, yaitu sebesar 30.117 (2,1%), di Kabupaten Bantul memiliki jumlah pasien yang dirawat tertinggi yaitu sebesar 4.493 jiwa. Upaya preventif terbaik yang dilakukan adalah dengan menghindari paparan virus dengan didasarkan pada PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat). Pengetahuan dan tindakan yang nyata dari pemerintah dan masyarakat terkait PHBS mampu menurunkan jumlah kasus COVID-19, sehingga masa pandemi COVID-19 dapat berakhir dengan cepat. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dan perilaku masyrakat tentang covid-19 di Dusun Plakaran kecamatan Banguntapan Bantul.
Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif analitik, subjek penelitian adalah 120 masyarakat di Dusun Plakaran, Banguntapan Bantul yang memenuhi kriteria inklusi. Adapun kriteria inklusi sebagai berikut masyarakat dusun plakaran yang ber-KTP dan berdomisili di Dusun Plakaran dengan rentang usia 17- 65 tahun, bisa membaca dan menulis serta bersedia menjadi responden. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling.
Hasil: Hasil uji korelasi rumus korelasi Spearman p=0,007 (nilai p<0,05) dari data dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan perilaku masyarakat Dusun Plakaran Kecamatan Banguntapan Bantul terhadap COVID-19.
Simpulan: Terdapat hubungan antara pengetahuan dan perilaku terhadap COVID-19.Pendahuluan: Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) yang terjadi akibat terinfeksi virus SARS CoV-2 (Severe Acute respiratory Syndrome Coronavirus-2) menjadi peristiwa yang mengancam kesehatan masyarakat seluruh dunia. Berdasarkan data Gugus Tugas Covid-19 Republik Indonesia, per tanggal 18 Maret 2021 terdapat kasus positif sebesar 1.443.853 jiwa. Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta per tanggal 14 Maret 2021 menempati posisi kesebelas di Indonesia dalam jumlah pasien positif Covid-19, yaitu sebesar 30.117 (2,1%), di Kabupaten Bantul memiliki jumlah pasien yang dirawat tertinggi yaitu sebesar 4.493 jiwa. Upaya preventif terbaik yang dilakukan adalah dengan menghindari paparan virus dengan didasarkan pada PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat). Pengetahuan dan tindakan yang nyata dari pemerintah dan masyarakat terkait PHBS mampu menurunkan jumlah kasus COVID-19, sehingga masa pandemi COVID-19 dapat berakhir dengan cepat. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dan perilaku masyrakat tentang covid-19 di dusun Plakaran kecamatan Banguntapan Bantul.
Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif analitik, subjek penelitian adalah 120 masyarakat di Dusun Plakaran, Banguntapan Bantul yang memenuhi kriteria inklusi. Adapun kriteria inklusi sebagai berikut masyarakat dusun plakaran yang ber KTP dan domisili di dusun plakaran dengan rentang usia 17- 65 tahun, bisa membaca dan menulis serta bersedia menjadi responden. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposiv sampling.
Hasil: Hasil uji korelasi rumus korelasi spearman p=0,007 (nilai p<0,05) dari data dapat disimpulakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan perilaku masyarakat dusun plakaran kecamatan Banguntapan Bantul terhadap Covid-19.
Simpulan: Terdapat hubungan antara pengetahuan dan perilaku terhadap covid-19.
Kata Kunci: pengetahuan, Perilaku, Covid-1
Pengaruh tingkat aktivitas fisik terhadap derajat dismenorea primer pada wanita usia dewasa muda
Pendahuluan: Dismenorea primer merupakan masalah ginekologis yang paling umum pada wanita dan seringkali menyebabkan gangguan pada aktivitas sehari-hari. Prevalensi dismenorea primer di Indonesia mencapai 54,89% dan paling banyak ditemukan pada usia produktif. Dismenorea dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah aktivitas fisik. Secara global, 84% wanita dinyatakan kurang melakukan aktivitas fisik. Tingginya prevalensi dismenorea primer dan persentase wanita yang kurang melakukan aktivitas fisik merupakan dasar ketertarikan dilakukannya penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara intensitas aktivitas fisik dengan derajat keparahan dismenorea primer.
Metode: Penelitian ini merupakan sebuah studi analitik potong lintang. Pengambilan data dilakukan pada bulan Agustus 2020 dengan total 107 responden yang memiliki usia berkisar antara 17 hingga 22 tahun. Pengambilan data penelitian menggunakan Kuesioner Baecke untuk menilai intensitas aktivitas fisik dan Verbal Multidimensional Scoring System dan Visual Analog Scale untuk menentukan derajat dismenorea primer. Analisis bivariat hubungan intensitas aktivitas fisik dengan derajat keparahan dismenorea primer menggunakan uji korelasi Kendall’s Tau.
Hasil: Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengalami dismenorea primer derajat 1 (45,8%) dan memiliki tingkat intensitas aktivitas fisik sedang (58,9%). Analisis bivariat menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara intensitas aktivitas fisik dengan derajat keparahan dismenorea primer (p=0,290).
Simpulan: Tidak ada hubungan antara intensitas aktivitas fisik dengan derajat keparahan dismenorea primer.Pendahuluan: Dismenorea primer merupakan masalah ginekologis yang paling umum pada wanita dan seringkali menyebabkan gangguan pada aktivitas sehari-hari. Prevalensi dismenorea primer di Indonesia mencapai 54,89% dan paling banyak ditemukan pada usia produktif. Dismenorea dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah aktivitas fisik. Secara global, 84% wanita dinyatakan kurang melakukan aktivitas fisik. Tingginya prevalensi dismenorea primer dan persentase wanita yang kurang melakukan aktivitas fisik merupakan dasar ketertarikan dilakukannya penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara intensitas aktivitas fisik dengan derajat keparahan dismenorea primer.
Metode: Penelitian ini merupakan sebuah studi analitik potong lintang. Pengambilan data dilakukan pada bulan Agustus 2020 dengan total 107 responden yang memiliki usia berkisar antara 17 hingga 22 tahun. Pengambilan data penelitian menggunakan Kuesioner Baecke untuk menilai intensitas aktivitas fisik dan Verbal Multidimensional Scoring System dan Visual Analog Scale untuk menentukan derajat dismenorea primer. Analisis bivariat hubungan intensitas aktivitas fisik dengan derajat keparahan dismenorea primer menggunakan uji korelasi Kendall’s Tau.
Hasil: Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengalami dismenorea primer derajat 1 (45,8%) dan memiliki tingkat intensitas aktivitas fisik sedang (58,9%). Analisis bivariat menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara intensitas aktivitas fisik dengan derajat keparahan dismenorea primer (p=0,290).
Simpulan: Tidak ada hubungan antara intensitas aktivitas fisik dengan derajat keparahan dismenorea primer
The correlation between nutritional status and CD8+ cell counts in the elderly after the second COVID-19 vaccination in Palembang, Indonesia
Introduction: The SARS-CoV-2 virus is the cause of coronavirus illness (COVID-19). The WHO classified the outbreak a pandemic on March 9, 2020. The COVID-19 vaccine has been widely utilized to manage the pandemic. However, some high-risk conditions that can compromise the vaccine's efficacy require careful consideration. Patients over 60 years old are at a greater risk for COVID-19. Due to the involution of the thymus and the transformation of the cortex and medulla tissue into adipose tissue, CD8+ T cell numbers decline. In addition, undernutrition reduces the number of CD8+ T cells. The purpose of this study is to examine the relationship between nutritional status and CD8+ T cell counts in elderly patients following the second COVID-19 vaccination.
Methods: This study is a pilot project employing a cross-sectional design. The sampling employed a technique of sequential sampling. On day 28, following the administration of the second vaccine, the Mini Nutritional Assessment (MNA) and the amount of CD8+ T cells in the blood were utilized to evaluate the nutrition status.
Results: Between May and November of 2021, forty subjects were collected. The average number of CD8+ T cells was 517.32±41.67. Therefore, five people (12.5%) were at risk of malnutrition, whereas thirty-five (87.5%) had a normal nutritional status.
Conclusion: There is a significant relationship between MNA and CD8+ levels (P<0.05) and a positive correlation between nutritional status and CD8+ T cell counts in the elderly who have received the second covid-19 vaccination in Palembang
Masalah perilaku dan emosi tidak memengaruhi tingkat kehadiran dan prestasi akademik anak sekolah dasar
Pendahuluan: Masalah perilaku dan emosi anak dapat memengaruhi aktivitas anak sehari-hari termasuk proses belajar dan menimbulkan masalah sekolah yang dapat berkontribusi terhadap rendahnya tingkat kehadiran di sekolah dan prestasi akademik.
Metode: Penelitian ini adalah penelitian potong lintang pada 515 siswa SD di Kecamatan Penjaringan Jakarta Utara. Alat ukur yang digunakan adalah Strength and Difficulties Questionnaire (SDQ) yang langsung diisi oleh siswa, buku absensi siswa, dan nilai Ujian Tengah Semester yang merupakan data sekunder. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan bivariate (chi-square).
Hasil: Terdapat 32% responden dengan masalah perilaku dan emosi, 2,9% dengan tingkat kehadiran yang rendah, dan 49,1% dengan prestasi akademik yang kurang. Terdapat 3,0% responden dengan masalah perilaku dan emosi yang memiliki tingkat kehadiran rendah. Sedangkan terdapat 52,1% responden dengan masalah perilaku dan emosi yang memiliki prestasi akademik yang kurang. Analisis bivariat menunjukkan tidak ada hubungan bermakna antara masalah perilaku dan emosi terhadap tingkat kehadiran (p>0,05; 95% CI=0,316-2,799; OR=0,941) dan prestasi akademik (p>0,05; 95% CI=0,824-1,728; OR=1,193).
Simpulan: Masalah perilaku dan emosi pada anak tidak menentukan tingkat kehadiran dan prestasi akademik anak SD.Pendahuluan: Masalah perilaku dan emosi anak dapat memengaruhi aktivitas anak sehari-hari termasuk proses belajar dan menimbulkan masalah sekolah yang dapat berkontribusi terhadap rendahnya tingkat kehadiran di sekolah dan prestasi akademik.
Metode: Penelitian ini adalah penelitian potong lintang pada 515 siswa SD di Kecamatan Penjaringan Jakarta Utara. Alat ukur yang digunakan adalah Strength and Difficulties Questionnaire (SDQ) yang langsung diisi oleh siswa, buku absensi siswa, dan nilai Ujian Tengah Semester yang merupakan data sekunder. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan bivariate (chi-square).
Hasil: Terdapat 32% responden dengan masalah perilaku dan emosi, 2,9% dengan tingkat kehadiran yang rendah, dan 49,1% dengan prestasi akademik yang kurang. Terdapat 3,0% responden dengan masalah perilaku dan emosi yang memiliki tingkat kehadiran rendah. Sedangkan terdapat 52,1% responden dengan masalah perilaku dan emosi yang memiliki prestasi akademik yang kurang. Analisis bivariat menunjukkan tidak ada hubungan bermakna antara masalah perilaku dan emosi terhadap tingkat kehadiran (p>0,05; 95% CI=0,316-2,799; OR=0,941) dan prestasi akademik (p>0,05; 95% CI=0,824-1,728; OR=1,193).
Simpulan: Masalah perilaku dan emosi pada anak tidak menentukan tingkat kehadiran dan prestasi akademik anak SD
ASAP ROKOK KONVENSIONAL DAN ELEKTRONIK MEMBERIKAN GAMBARAN KERUSAKAN STRUKTUR ALVEOLUS YANG SAMA
Introduction: Cigarettes have become the cause of health problems and even death, especially in developing countries like Indonesia. Cigarettes contain various free radical components for the body, thereby increasing inflammation in various organs and tissues, especially the lungs. This will trigger proteolysis so that the alveoli lose elasticity. Electronic cigarettes are then introduced as an alternative to reduce smoking. However, there has been not enough research conducted on their safety and long-term effects of e-cigarettes, so researcher aim to compare the impact of conventional and electronic cigarettes on alveolar damage.
Methods: This research was conducted experimentally, using 30 male Sprague Dawley rats aged 10-12 weeks and weighing 150-250 grams as sample. These rats were necropsed after being exposed to cigarettes smoke and e-cigarettes vapor for 2 weeks and 4 weeks to make lung tissue preparations with HE staining. These preparations were observed under a microscope to measure the degree of alveolar damage based on the edema, alveolar septal destruction, and inflammatory cell infiltration. Finally, the data was analyzed using Kruskal-Wallis followed by one-Mann-Whitney statistical tests with STATA.
Results: Rats exposed to conventional cigarette smoke and e-cigarette vapor in the second week already showed significant alveolar damage compared to the control group. (p<0.05). However, there was no significant difference between exposure for 2 weeks and 4 weeks. (p>0.05) Between rats given conventional cigarette smoke and electronic cigarette vapor, there was no significant difference in degree of alveolar damage at week 2 and week 4. (p>0.05)
Discussion: As a result, both conventional cigarette smoke and e-cigarette vapor have the same effect on alveolar damage. This is because both conventional cigarette smoke and e-cigarette vapor contain nicotine which will trigger the release of fibronectin so that it can trigger fibrosis in the lung parenchyma. In addition, the carbon monoxide contained in both can inhibit fibroblast proliferation and damage the elastin in the alveolar wall, so that the alveoli lose its elasticity and tend to expand.
Keywords: Lung inflammation, cigarettes effect on lungs, e-cigarettes, tobacco cigarette, lung damagePendahuluan: Rokok telah menjadi penyebab masalah kesehatan bahkan kematian terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Rokok mengandung berbagai komponen radikal bebas bagi tubuh, sehingga meningkatkan inflamasi pada berbagai organ dan jaringan terutama paru - paru. Hal ini akan memicu proteolisis sehingga alveolus kehilangan elastisitasnya. Rokok elektronik hadir dan dianggap sebagai alternatif untuk mengurangi kebiasaan merokok. Namun, belum banyak penelitian mengenai keamanan serta efek jangka panjang rokok elektronik sehingga peneliti bertujuan untuk membandingkan dampak rokok konvensional dan elektronik pada kerusakan alveolus.
Metode: Penelitian ini dilakukan secara eksperimental dengan menggunakan sampel tikus Spargue Dawley jantan dengan usia 10-12 minggu dan berat badan 150 – 250 gram berjumlah 30 ekor. Tikus akan dinekropsi setelah diberi paparan asap rokok konvensional sebanyak 12 kali hisapan yang setara dengan 0,33 mg nikotin dan uap rokok elektronik sebanyak 12 hisapan per hari selama 2 minggu dan 4 minggu, lalu akan dibuat preparat jaringan paru dengan pewarnaan HE. Preparat ini akan diamati dibawah mikroskop dan dilihat derajat kerusakan alveolusnya berdasarkan edema, destruksi septum alveolar, dan infiltrasi sel radangnya. Selanjutnya, data akan dianalisis dengan melakukan uji Kruskal-Wallis dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney menggunakan aplikasi STATA.
Hasil: Tikus yang diberikan paparan asap rokok konvensional dan uap rokok elektronik pada minggu kedua sudah menunjukkan kerusakan alveolus yang signifikan dibandingkan kelompok kontrol (p<0.05). Namun, tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara paparan selama 2 minggu dan 4 minggu. (p>0.05) Antara tikus yang diberikan asap rokok konvensional dan uap rokok elektronik tidak terdapat berbedaan derajat kerusakan alveolus yang bermakna baik pada minggu ke 2 maupun minggu ke 4. (p>0.05)
Diskusi : Berdasarkan hasil, baik asap rokok konvensional maupun uap okok elektronik menimbulkan efek yang sama pada kerusakan alveolus. Hal ini disebabkan karena keduanya memiliki kandungan nikotin yang akan memicu pelepasan fibronectin sehingga dapat memicu fibrosis pada parenkim paru. Selain itu, karbon monoksida yang terkandung di keduanya dapat menghambat proliferasi fibroblas dan merusak elastin pada dinding alveolus, sehingga alveolus kehilangan keelastisannya dan cenderung melebar.
Kata Kunci: inflamasi paru, efek asap rokok ke paru – paru, rokok elektronik, rokok konvensional, kerusakan alveolu
HUBUNGAN ANTARA RIWAYAT PENGGUNAAN ZAT DAN KUALITAS HIDUP PADA SISWA SMA DENGAN RISIKO GANGGUAN BIPOLAR DI KELURAHAN PENJARINGAN JAKARTA UTARA
Pendahuluan: Gangguan bipolar merupakan gangguan jiwa yang bersifat persistent, dialami seumur hidup, dan memiliki risiko tinggi terjadinya penyalahgunaan zat yang berdampak pada kualitas hidup yang buruk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengunaan zat dan kualitas hidup pada siswa SMA dengan risiko gangguan bipolar di Kelurahan Penjaringan Jakarta Utara.
Metode: Penelitian ini adalah penelitian potong lintang pada 203 siswa SMA di Kelurahan Penjaringan Jakarta Utara. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner demografi, kuesioner World Health Organization Quality of Life - BREF (WHOQOL-BREF), dan Alcohol, Smoking, and Substance Involvement Screening Test (ASSIST) yang diisi langsung oleh responden. Analisis data secara deskriptif dan bivariat (chi-square).
Hasil: Sebanyak 96,6% responden didapatkan dengan risiko gangguan bipolar tipe I dan 3,4% tipe II. Terdapat (24,1%) responden dengan risiko gangguan bipolar disertai penggunaan zat dengan zat terbanyak pada laki-laki adalah tembakau (84,6%) dan pada perempuan adalah alkohol (60%). Gambaran kualitas hidup buruk pada responden perempuan dijumpai pada domain hubungan sosial (38,9%), sedangkan gambaran kualitas hidup buruk pada laki-laki dijumpai pada domain hubungan sosial (27,1%) dan lingkungan (27,1%). Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan bermakna antara penggunaan zat dan kualitas hidup domain hubungan sosial dengan risiko gangguan bipolar (p=0,001; 95% CI=1,505-5,659; OR=2,918).
Simpulan: Penyandang gangguan bipolar dengan penggunaan zat memiliki kualitas hidup buruk pada domain hubungan sosial.Latar Belakang: Gangguan Bipolar merupakan gangguan jiwa yang bersifat persistent, dialami seumur hidup, dan memiliki risiko tinggi terjadinya penyalahgunaan zat yang berdampak pada kualitas hidup yang buruk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara riwayat pengunaan zat dan kualitas hidup pada siswa SMA dengan risiko Gangguan Bipolar di Kelurahan Penjaringan Jakarta Utara.
Metode: Penelitian ini adalah penelitian potong lintang pada 203 siswa SMA di Kelurahan Penjaringan Jakarta Utara. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner demografi, kuesioner World Health Organization Quality of Life - BREF (WHOQOL-BREF), dan Alcohol, Smoking, and Substance Involvement Screening Test (ASSIST) yang diisi langsung oleh responden. Analisis data secara deskriptif dan bivariat (chi-square).
Hasil: Sebanyak 96,6% responden didapatkan dengan risiko Gangguan Bipolar tipe I dan 3,4% tipe II. Terdapat (24.1%) responden dengan risiko Gangguan Bipolar memiliki riwayat penggunaan zat dengan zat terbanyak pada laki-laki adalah tembakau (84.6%) dan pada perempuan adalah alkohol (60%). Gambaran kualitas hidup buruk pada responden perempuan dijumpai pada domain hubungan sosial (38.9%), sedangkan gambaran kualitas hidup buruk pada laki-laki dijumpai pada domain hubungan sosial (27.1%) dan lingkungan (27.1%). Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan bermakna antara riwayat penggunaan zat dan kualitas hidup domain hubungan sosial pada responden dengan risiko Gangguan Bipolar (p=0.001; CI= 1505-5659; OR=2.918).
Kesimpulan: Penderita Gangguan Bipolar dengan riwayat penggunaan zat memiliki kualitas hidup buruk pada domain hubungan sosial.
Kata kunci: Gangguan Bipolar, kualitas hidup, remaja, riwayat penggunaan za