Damianus Journal of Medicine
Not a member yet
169 research outputs found
Sort by
English
Introduction: Congenital heart disease (CHD) is the most prevalent congenital disability found in newborns. Many cases remain unknown until complications occur, usually in young adults. Transthoracic and Doppler echocardiography are modalities of choice for CHD detection, but these are limited in Indonesia. Electrocardiography (ECG) is a widely available and low-cost test. This study investigated the role of ECG as a screening modality for CHD.
Methods: A cross-sectional study was held at Atma Jaya School of Medicine and Health Science from August to November 2019. Participants were students aged 18 years old or more. Exclusion criteria was previously detected for CHD. Data were collected through history taking, anthropometrics, blood pressure measurement, and 12 leads ECG. ECG results were interpreted independently by two cardiologists to minimize observer bias.
Results: A total of 193 students, 78 male and 115 female, participated. The mean age was 19.22±1.85 years. ECG abnormalities were discovered in 57 (29.5%) participants:15 with crochetage sign, 13 right axis deviation, three left axis deviation, nine right ventricle hypertrophy, and nine left ventricle hypertrophy, six left bundle branch block, and two defective T wave. Further evaluation was done with echocardiography in 20 participants, which resulted in one participant having mitral valve prolapsed (MVP).
Conclusion: ECG could detect the characteristic patterns suggestive of CHD, but ECG alone is insufficient to confirm cardiac structural abnormalities.Pendahuluan: Penyaki jantung bawaan (PJB) merupakan cacat lahir yang paling sering ditemukan. Banyak kasus PJB tidak terdeteksi hingga terjadi komplikasi, umumnya pada usia dewasa muda. Pemeriksaan ekokardiografi transtorakal dan Doppler merupakan modalitas pilihan untuk mendeteksi PJB, tetapi modalitas ini terbatas di Indonesia. Elektrokardiografi (EKG) merupakan modalitas yang banyak digunakan dan berbiaya rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan EKG sebagai modalitas penapisan PJB.
Metode: Studi potong lintang dilakukan di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Unika Atma Jaya pada Agustus-November 2019. Subjek adalah mahasiswa berusia 18 tahun ke atas. Subjek dengan riwayat PJB sebelumnya dieksklusi dari penelitian. Data dikumpulkan berdasarkan anamnesis, antropometri, pengukuran tekanan darah, dan EKG 12 sadapan. Hasil EKG diinterpretasikan oleh dua kardiologis secara independen.
Hasil: Total subjek berjumlah 193 orang, terdiri dari 78 pria dan 115 wanita. Rerata usia subjek 19.22 ± 1.85 tahun. Didapatkan hasil berupa 57 orang (29.5%) dengan abnormalitas EKG berupa tanda chrocetage 15 orang, deviasi aksis ke kanan 13 orang, deviasi aksis ke kiri 3 orang, hipertrofi ventrikel kanan dan kiri masing-masing 9 orang, blok cabang berkas kiri 6 orang, dan defektif gelombang T sebanyak 2 orang. Evaluasi lanjutan dengan ekokardiogram dilakukan pada 20 partisipan, ditemukan satu subjek memiliki prolaps katup mitral
Perbandingan Efektivitas Terapi Injeksi Intra-artikular HA, LP-PRP, dan LR-PRP Terhadap Keluhan Nyeri Lutut Pada Osteoarthritis: Meta-analysis
Pendahuluan: Osteoarthritis dapat mengurangi kualitas hidup seseorang akibat nyeri dan keterbatasan gerak. Pengobatan OA menggunakan obat analgesik dan antiinflamasi berisiko mengakibatkan perdarahan pada lambung. Terapi invasif dengan penyuntikan IA menjadi pilihan yang baik namun karena risiko akibat penyuntikan dan biaya yang cukup mahal sehingga perlu melakukan meta-analisis untuk menentukan mana yang paling efektif mengurangi nyeri pada pasien KOA. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu pemilihan terapi injeksi intra artikular yang lebih efektif dan tepat dalam memberikan terapi pada pasien KOA.
Metode: Pencarian artikel RCT yang menilai efektifitas IA PRP (LP-PRP atau LR-PRP) dengan IA-HA, terhadap nyeri dengan skor Western Ontario and McMaster Universities Osteoarthritis Index (WOMAC) sebagai alat ukur, dari Pubmed, Cochrane, Proquest, ScienceDirect, Clinical Key, dan EBSCO host. Artikel dinilai kualitasnya dengan skala JADAD. Lalu yang terpilih akan dilakukan meta analisis. Alur pemilihan artikel akan disajikan dalam PRISMA flow chart.
Hasil: Enam penelitian memenuhi kriteria kelayakan yang dipisahkan berdasarkan variabelnya, leukocyte-poor platelet rich plasma dan HA dan leukocyte-rich platelet rich plasma dan HA. Terdapat perbedaan rerata skor WOMAC yang signifikan pada LR-PRP dibandingkan dengan HA (mean difference -5,24) dan LP-PRP dibandingkan dengan HA (mean difference -3,82).
Simpulan: Hasil meta-analisis ini dapat disimpulkan bahwa terapi injeksi intra-artikular dengan LR-PRP lebih unggul daripada LP-PRP dan HA pada 6 dan 12 bulan, terutama untuk nyeri lutut simtomatik.Latar Belakang: Osteoarthritis dapat mengurangi kualitas hidup seseorang akibat nyeri dan keterbatasan gerak. Pengobatan OA menggunakan obat analgesik dan antiinflamasi berisiko mengakibatkan perdarahan pada lambung. Terapi invasif dengan penyuntikan IA menjadi pilihan yang baik namun karena risiko akibat penyuntikan dan biaya yang cukup mahal sehingga perlu melakukan metaanalisis untuk menentukan mana yang paling efektif mengurangi nyeri pada pasien KOA. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu pemilihan terapi injeksi intra artikular yang lebih efektif dan tepat dalam memberikan terapi pada pasien KOA.
Metode: Pencarian artikel RCT yang menilai efektifitas IA PRP (LP-PRP atau LR-PRP) dengan IA-HA, terhadap nyeri dengan skor WOMAC sebagai alat ukur, dari Pubmed, Cochrane, Proquest, ScienceDirect, Clinical Key, dan EBSCO host. Artikel dinilai kualitasnya dengan skala JADAD. Lalu yang terpilih akan dilakukan meta analisis. Alur pemilihan artikel akan disajikan dalam PRISMA flow chart.
Hasil: Enam penelitian memenuhi kriteria kelayakan yang dipisahkan berdasarkan variabelnya, leukocyte poor platelet rich plasma dan HA dan leukocyte rich platelet rich plasma dan HA. Terdapat perbedaan rerata skor WOMAC yang signifikan pada LR-PRP dibandingkan dengan HA (mean difference -5,24) dan LP-PRP dibandingkan dengan HA (mean difference -3,82).
Kesimpulan: Hasil meta-analisis ini dapat disimpulkan bahwa terapi injeksi intra-artikular dengan LR-PRP lebih unggul daripada LP-PRP dan HA pada 6 dan 12 bulan, terutama untuk nyeri lutut simtomatik.
Kata Kunci: Nyeri Lutut · Osteoarthritis lutut · PRP · Platelet-rich plasma · Asam Hialuronat · Meta-analysis · Systematic review · Leukocyte Poor Platelet Rich Plasma · Leukocyte Rich Platelet Rich Plasma
Sikap Dokter Puskesmas di Jakarta Terhadap Pasien dengan Adiksi Zat Psikoaktif
Introduction: The increasing number of substance use cases has been becoming a public health problem in Indonesia. Primary healthcare doctors play an important role in health promotion and early detection of health problems. Several studies have shown that, physicians have negative attitudes towards patients with substance use problem. Negative attitudes among physicians may affect the quality of healthcare delivery. The objective of the current study was to assess primary healthcare doctors’s attitudes towards patients with substance use problems in Jakarta.
Methods: This was an observational descriptive study using a cross-sectional method. Participants of this research were primary healthcare doctors in Jakarta. Data were gathered using Medical Condition Regard Scale. Participants’ attitudes towards patients with substance use problems was analysed using a descriptive approach.
Result: 569 data from participants were analysed. Most of them were female, age 25-35 years old, and have less than 5 years working experience. We found that 307 primary healthcare doctors had negative attitudes toward patients with substance use problems (54%) and 262 doctors had positive attitudes (46%).
Conclusion: The result indicates that primary healthcare doctors in Jakarta have negative attitudes towards patients with substance use problems. Further studies are needed to evaluate factors that might influence such attitude.
Keywords: attitudes, primary healthcare doctors, Medical Condition Regard ScaleLatar Belakang: Peningkatan penggunaan zat psikoaktif masihmenjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Dokter puskesmas memiliki peranan penting untuk deteksi dini dan melakukan promosi kesehatan. Beberapa penelitian justru menemukan dokter cenderung bersikap negatif terhadap pasien dengan adiksi zat psikoaktif. Sikap negatif dari para dokter dapat menyebabkan layanan kesehatan yang diberikan menjadi tidak optimal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi sikap dokter puskesmas terhadap pasien dengan adiksi zat psikoaktif.
Metode: Desain penelitian ini adalah studi deskriptif dengan metode potong lintang. Sampel penelitian adalah dokter puskesmas yang praktik di unit-unit pelayanan kesehatan di seluruh puskesmas wilayah DKI Jakarta. Data sikap dokter diambil menggunakan kuesioner Medical Condition Regard Scale. Data penelitian yang diperoleh dianalisis menggunakan uji deskriptif.
Hasil: Sebanyak 569 dokter berpartisipasi dalam penelitian ini. Sebagian besar dari mereka adalah perempuan berusia 25-35 tahun dengan pengalaman bekerja kurang dari lima tahun. Hasil dari penelitian ini menunjukkan 307 dokter puskesmas memiliki sikap negatif (54%), sedangkan 262 dokter memiliki sikap positif (46%).
Kesimpulan: Dokter puskesmas di wilayah DKI Jakarta cenderung memiliki sikap yang negatif terhadap pasien dengan adiksi zat psikoaktif. Penelitian-penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi sikap dokter tersebut.
Kata Kunci: sikap, dokter, puskesmas, Medical Condition Regard Scal
KORELASI KEKUATAN GENGGAMAN TANGAN DENGAN KARAKTER ANTROPOMETRI LENGAN BAWAH DAN TANGAN SERTA INDEKS MASSA TUBUH
Introduction: An individual’s overall muscle strength is commonly assessed by a power grip measurement, a reliable indicator of functional capacity and physical condition. The development of muscle parallels the changes of body composition during growth. Aim of this study is to examine the correlationship between hand grip strength and anthropometric.
Methods: This cross-sectional study involved 76 male students of Dhammasavana School, aged between 12 – 16 years old, North Jakarta. Hand grip strength was examined using a digital dynamometer on the dominant side. Statistical analysis was computed using SPSS ver. 15.0 program with Spearman correlations test. Significance was set at p<0.05.
Results: Dominant hand grip strength was found to have significant (p<0.05 - 0.001) positive correlation with height (r=0.612), lower arm muscle-and-bone cross-sectional circumference and area (CSA) (r=0.553 and r=0.553 respectively), hand length (r=0.548), forearm length (r=0.540), age (r=0.520), weight (r=0.416), and forearm girth (r=0.376).
Conclusion: No significant correlation between grip strength and body mass index was found. Positive correlations between the variables mentioned above conclude that the higher the value of the anthropometric measurements, the greater the strength generated in a power grip.Pendahuluan: Kekuatan otot secara umum dapat dinilai dari kekuatan menggenggam yang merupakan salah satu suatu indikator kebugaran fisik dan kemampuan fungsional. Perkembangan kekuatan otot berjalan bersamaan dengan perubahan komposisi tubuh yang terjadi pada puncak masa pertumbuhan, maka dicari korelasi antara kekuatan genggaman tangan dengan beberapa nilai-nilai antropometri tubuh.Metode: Penelitian dilakukan secara potong-lintang di Sekolah Dhammasavana, Jakarta Utara pada 76 responden laki-laki yang berusia 12-16 tahun. Pengambilan data pada daerah lengan dan tangan dilakukan pada tangan yang dominan menggunakan dynamometer digital. Pengolahan data menggunakan program SPSS ver. 15.0 dengan uji korelasi Spearman. Signifikansi p<0,05.Hasil: Pada responden laki-laki, kekuatan genggaman tangan pada tangan dominan memiliki korelasi positif yang bermakna (p<0,05-0,001) dengan tinggi badan (r=0,612), lingkar dan luas otot-tulang lengan bawah (keduanya bernilai r=0,553), panjang tangan (r=0,548), panjang lengan bawah (r=0,540), usia (r=0,520), berat badan (r=0,416), dan lingkar lengan bawah (r=0,376).Simpulan: Tidak ditemukan korelasi bermakna antara kekuatan genggaman tangan dengan indeks massa tubuh. Hasil korelasi positif antar variabel menyimpulkan bahwa semakin tinggi karakter antropometri tersebut, semakin tinggi kekuatan genggaman tangan yang dapat dihasilkan
BIOINSEKTISIDA TERHADAP NYAMUK AEDES AEGYPTI BERBAHAN DASAR EKSTRAK ETANOL DAUN SERAI (CYMBOPOGON CITRATUS)
Introduction: Dengue hemorrhagic fever is one of the most common infectious diseases in Indonesia. The vector of this disease is Aedes aegypti (Ae. aegypti). Dengue hemorrhagic fever can be controlled by a few measures, one of them is using insecticide. However, frequent use of chemical insecticide could lead to resistance and is harmful to non-target organisms. One of the solutions for this problem is the use of bioinsecticide derived from lemongrass (Cymbopogon citratus or C. citratus) leaves extract.
Methods: The design of this study is true experimental post-test only control group. The population used are adult Ae. aegypti mosquitoes. For each experiment, 10 mosquitoes are required and given the extract of C. citratus in 2%, 10%, and 20% concentrations, and negative control respectively.The lethal effect of the extract is observed in 10, 30, 60 minutes and 6, 12, 18, 24 hours.
Results: There is a significant difference in the lethal effect of Ae. aegypti mosquitoes with variations in duration of exposure to the C. citratus leaves extract (p = 0.007), but no significant difference with variations in extract concentration given (p = 0.281).
Conclusion: C. citratus leaves extract has bioinsecticidal effect on Ae. aegypti mosquitoes. The optimal result of mosquito mortality is achieved by using the extract in 20% concentration with duration of 12 hours
The ASSOCIATION BETWEEN MICROTRANSACTION IN VIDEO GAMES WITH VIDEO GAME ADDICTION AMONG PRECLINICAL MEDICAL STUDENTS IN ATMA JAYA CATHOIC UNIVERSITY OF INDONESIA FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCE
ABSTRACT
Introduction: Video game addiction is a control impairment over the desire to play video games that stems from a habbit of prolonged gaming with high intensity. One of its causes are in-game microtransactions. Microtransaction involves various purchases within a video game by using real-life money. Microtransactions can make games easier, customize in-game looks, and earn rare in-game items. This is suspected to increase gaming intensity and duration. This research aims to find out the association between microtransaction in video games and video game addiction among medical students in Atma Jaya Catholic University of Indonesia.
Methods: This study is an observational-analytical study with a cross-sectional approach with a total of 70 respondents. The respondents consist of medical students from class years 2016-2018 at Atma Jaya Catholic University that fulfil the inclusion and exclusion criterias. The data was collected by distributing an online survey to each PBL groups from each class years. Questionnaires used are Video Game Addiction Test (VAT) to assess video game addiction and microtransaction questionnaire to assess in-game microtransactions. Data analysis was done using a computer program.
Results: The number of male and female respondents are equal. This study has found 32.9% of students with video game addiction. The proportion of students who have carried out in-game microtransactions is 41.4%. Chi square test shows that there is a significant association between in-game microtransactions and video game addiction (p = 0.001), with an odds ratio of 6.
Conclusion: There is a significant association between microtransaction in video games with video game addiction.
Keywords: microtransaction in video games, pre-clinical medical student, video game addictionABSTRAK
Pendahuluan: Adiksi video game adalah sebuah gangguan pengendalian atas keinginan untuk bermain video game yang disebabkan oleh kebiasaan bermain video game dengan intensitas tinggi secara terus-menerus. Salah satu pemicu hal tersebut adalah melakukan mikrotransaksi dalam video game. Mikrotransaksi adalah sejumlah pembelian di dalam video game dengan menggunakan mata uang asli. Mikrotransaksi dapat mempermudah permainan, mengubah penampilan karakter di dalam video game, dan memperoleh benda-benda virtual langka. Hal ini diperkirakan dapat meningkatkan intensitas dan durasi bermain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara mikrotransaksi dalam video game dengan adiksi video game pada mahasiswa kedokteran di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya.
Metode: Penelitian ini menggunakan metode observasional-analitik dengan pendekatan cross sectional yang melibatkan 70 responden yang berasal dari mahasiwa kedokteran Unika Atma Jaya Jakarta angkatan 2016-2018 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Pengumpulan data dilakukan melalui online survey yang disebarkan ke seluruh grup PBL di setiap angkatan. Penilaian adiksi video game dilakukan dengan menggunakan Video Game Addiction Test (VAT) dan penilaian mikrotransaksi dalam video game dilakukan dengan menggunakan kuesioner mikrotransaksi. Kemudian data dianalisa dengan menggunakan program komputer.
Hasil: Berdasarkan jenis kelamin, jumlah responden pria sama dengan wanita. Diperoleh prevalensi adiksi video game pada mahasiswa sebanyak 32,9%. Prevalensi mahasiswa yang melakukan mikrotransaksi dalam video game adalah sebanyak 41,4%. Didapatkan hubungan yang bermakna antara mikrotransaksi dalam video game dengan adiksi video game melalui uji chi square (p = 0,001), dengan odds ratio sebesar 6.
Simpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara mikrotransaksi dalam video game dengan adiksi video game.
Kata Kunci: adiksi video game, mahasiswa pre-klinik, mikrotransaksi dalam video gam
DISTRIBUSI SKOR KALSIUM ARTERI KORONER BERDASARKAN USIA DAN JENIS KELAMIN PADA POPULASI SEHAT
Introduction: Coronary Artery Calcification (CAC) score may give information in cardiovascular risk stratification asymptomatic individuals. Profiles and distribution of CAC scores are still scarce in Indonesia. This study aimed to evaluate the distribution of CAC based on age and gender in asymptomatic patients.
Methods: Subjects were asymptomatic Asian above 40 years-old undergoing cardiovascular check-up, including Computed Tomography (CT) CAC at Siloam Heart Institute, from April 2018 to August 2019. Data were obtained retrospectively and analyzed statistically with IBM SPSS version 22.
Results: A total of 1640 patients were enrolled, with males slightly more than half. The mean age was 55,6 ± 9,6 years, with age group of 50-59 years as the majority (35,9%). Almost half of the subjects had zero CAC score. Around two-thirds of females, particularly below 50 years old, had zero CAC scores. CAC scores >400 were more prevalent in males across all age groups. The majority of healthy males had a CAC score between 0-99. There was a positive correlation between age and CAC scores in both genders. Females with CAC score >400 were found mostly after 70 years old, ten years older than males. CAC score >1000 was more prevalent in older males compared to females.
Conclusion: The distribution of CAC score is remarkably affected by age and gender. Zero CAC score is found predominant in our subjects. CAC scores of ≥400 are common in males across all age groups. CAC score >1000 is more exclusively found in the elderly malePendahuluan: Skor kalsifikasi arteri koroner (KAK) dapat memberikan informasi dalam stratifikasi risikokardiovaskular pada individu tanpa gejala. Profil dan distribusi dari skor KAK masih sangat jarang di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi distribusi KAK berdasarkan usia dan jenis kelamin pada pasien tanpa gejala.Metode: Subjek meliputi individu sehat dengan usia 40 tahun ke atas yang menjalani pemindai ComputedTomography (CT) kalsifikasi arteri koroner pada pemeriksaan rutin kardiovaskular di Siloam Heart Institutepada April 2018 hingga Agustus 2019. Pemindaian computerized tomography (CT) untuk menilai KAKdilakukan dengan menggunakan multi-detektor 64-slice dari mesin SOMATOM Definition Flash Siemens Dualsource. Data diperoleh secara retrospektif dan dianalisis secara statistik dengan IBM SPSS versi 22.Hasil: Sebanyak 1640 pasien diikutsertakan pada penelitian ini, dengan jumlah laki-laki sedikit lebih banyak.Usia rata-rata 55,6 ± 9,6 tahun dengan kelompok usia terbanyak 50-59 tahun (35,9%). Hampir setengah daritotal subjek memiliki skor KAK nol. Sekitar dua pertiga kelompok perempuan terutama di bawah usia 50 tahun memiliki skor KAK nol. Pada skor KAK >400 lebih sering pada laki-laki di semua kelompok umur. Sebagian besar laki-laki sehat memiliki skor KAK antara 0-99. Terdapat korelasi positif antara usia dan skor KAK pada kedua jenis kelamin. Perempuan dengan skor KAK >400 ditemukan pada kelompok usia di atas 70 tahun, 10 tahun lebih tua dibanding dengan laki-laki. Skor KAK >1000 lebih umum pada kelompok laki-laki yang lebih tua dibanding dengan perempuan.
Simpulan: Distribusi skor KAK sangat dipengaruhi oleh usia dan jenis kelamin. Skor KAK nol mendominasipada subjek penelitian kami. Skor KAK ≥400 lebih sering pada laki-laki pada setiap kelompok usia. Skor KAK> 1000 khususnya ditemukan pada laki-laki usia tu
REHABILITASI MEDIK PADA SINDROMA DEKONDISI PASCA COVID-19 DERAJAT BERAT
Introduction: COVID-19 is characterized by complaints of fever, cough, weakness, respiratory, and gastrointestinal disorders. The existence of treatment in the isolation room accompanied by prolonged bed rest will cause the patient to experience deconditioning syndrome.
Case Report: A man, 58 years old, post severe COVID-19 patients with shortness of breath, ineffective cough and feeling weak in all four extremities due to prolonged bed rest (denconditioning syndrome). Deconditioning syndrome is defined as a reduction in anatomical and physiological function caused by disease, age, or physical inactivity. The patient was given active gradual mobilization, range of movement exercise, endurance, strengthening, balance, and coordination exercise. The patient was also given breathing exercise, chest physical therapy, and effective cough. Seven days after rehabilitation, the patient could regulate his breathing pattern and ambulate independently. The patient was discharged and continue self training at home.
Conclusion: Breathing exercise, chest physical therapy, aerobic exercise, muscle strengthening exercises in all four extremities, coordination, balance exercise, and gradual mobilization training are very important in the recovery of post severe COVID-19 patients.Pendahuluan: COVID-19 ditandai dengan adanya keluhan demam, batuk, lemas, gangguan saluran napas dan saluran cerna. Perawatan pada ruang isolasi disertai dengan tirah baring lama akan membuat pasien mengalami sindroma dekondisi.
Laporan Kasus: Pasien laki-laki, 58 tahun pasca COVID-19 derajat berat dengan keluhan sesak bila beraktivitas, mudah lelah, batuk tidak efektif, lemas pada keempat ekstremitas akibat tirah baring lama (sindrom dekondisi). Dekondisi diartikan sebagai berkurangnya fungsi anatomis dan fisiologis yang disebabkan oleh penyakit, usia, atau inaktivitas fisik. Pasien mendapatkan program latihan peningkatan lingkup gerak sendi, ketahanan aerobik, penguatan otot, keseimbangan dan koordinasi, serta latihan mobilisasi bertahap. Pasien juga mendapatkan latihan pernapasan, terapi fisik dada dan latihan batuk efektif. Tujuh hari pasca rehabilitasi, Pasien telah dapat mengatur pola napas dan melakukan ambulasi mandiri. Pasien diperbolehkan pulang untuk melanjutkan terapi latihan mandiri di rumah.
Simpulan: Latihan pernapasan, terapi fisik dada, latihan aerobik, latihan penguatan otot pada keempat ekstremitas, latihan koordinasi dan keseimbangan, serta latihan mobilisasi aktif secara bertahap sangat penting pada pemulihan pasien pasca COVID-19 derajat berat
HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN DAN PENGALAMAN TERKAIT STROKE DENGAN PENGETAHUAN STROKE
Background: Stroke is a medical emergency caused by poor or blocked blood flow to the brain resulting in brain damage and death. In the efforts to lower the number of stroke related mortality and encourage a higher quality of public health, knowledge and understanding of the definition, risks, signs and symptoms, and complication associated with stroke must become publicly available and further research should be encouraged. Higher education level and experience are expected to raise awareness of stroke disease.
Objective: This study is conducted in order to determine the relationship between education level in correlation to knowledge of stroke at Paris Jaya in 2020.
Method: The study is a descriptive analytic with a cross-sectional approach using 165 population of Poris Jaya. Population answered the provided questionnaire about sociodemographic and knowledge of stroke. The data collected was analyzed and scored using the Spearman test to see the correlation between educational level and knowledge while the Chi-square test was used to score the association between experience and knowledge.
Result: There was a correlation between education level and knowledge score (p<0,05). There was also association between experience having stroke (p=0,01) and experience taking care stroke patient (p=0,03) with knowledge score. The most common education level that respondents have is graduated from senior high school. The average score of knowledge based on questionnaire was 68,667. Internet mostly used to find further information about this disease.
Conclusion: Strong relationship are shown between education level and experience with knowledge of stroke at Poris Jaya in 2020
Latar belakang. Stroke merupakan penyakit kerusakan otak yang disebabkan karena komplikasi vaskuler dan dapat menyebabkan kematian. Dalam upaya penurunan angka kematian dan peningkatan kesejahteraan kesehatan masyarakat perlu adanya pengetahuan tentang definisi, tanda dan gejala, faktor risiko, dan komplikasi dari penyakit stroke. Melalui tingkat pendidikan yang semakin tinggi dan pengalaman yang dimiliki diharapkan mangalami peningkatan pengetahuan tentang penyakit stroke.
Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan dan pengalaman dengan pengetahuan stroke pada penduduk Kelurahan Poris Jaya 2020.
Hasil. Terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dengan tingkat pengetahuan (p<0,05). Terdapat pula hubungan antara pengalaman menderita stroke (p=0,01) dan pengalaman merawat orang stroke (p=0,03) terhadap tingkat pengetahuan seseorang. Tingkat pendidikan yang paling banyak ditamatkan adalah SLTA. Rerata tingkat pengetahuan berdasarkan hasil pengisian kuesioner adalah 68,667. Modalitas terbanyak yang digunakan untuk memperoleh informasi adalah internet.
Kesimpulan. Terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dan pengalaman dengan pengetahuan stroke pada penduduk Kelurahan Poris Jaya tahun 2020.
Kata Kunci: Pendidikan, pengalaman, pengetahuan strok
MALARIA KNOWLESI PADA MANUSIA
Introduction: Plasmodium knowlesi is a malaria agent that initially only infected monkeys, Macaca fascicularis and Macaca nemestrina. P. knowlesi has developed to infect zoonotically by transmitting from animals to humans by the female Anopheles vector. Since the first endemic incidence of knowlesi malaria in 2004 in Sarawak, Malaysia, the number of its infection cases has expanded to almost all regions in Southeast Asia, including Indonesia. The P. knowlesi infection cases increase results from complex interactions between humans, agents, and environment. Individual and environmental factors are risk factors for knowlesi malaria. The life cycle of P. knowlesi is concise and tends to infect all erythrocyte types along with other Plasmodium species. The P. knowlesi morphology and clinical features are very similar to the other Plasmodium species, making them difficult to differentiate and contributing to the increase in infection cases. Presently, the knowlesi malaria molecular PCR diagnosis technique is the most accurate method. Immediate treatment is needed to prevent severe malaria and death.
Objective: This article aims to study epidemiology, risk factors, life cycle, morphology, clinical symptoms, diagnosis, and the latest management of knowlesi malaria cases, especially in Indonesia.
Method: Writing articles used a literature review method from various literature on knowlesi malaria.
Discussion: Knowledge of epidemiology, risk factors, life cycle, morphology, clinical symptoms, diagnosis, and management of malaria cases can add information to the development of research on the distribution and control of knowlesi malaria. This article can help accelerate the target of malaria elimination in Indonesia by 2030.Pendahuluan: Plasmodium knowlesi merupakan agen malaria yang mulanya hanya menginfeksi kera, yakni kera ekor panjang (Macaca fascicularis) dan kera ekor babi (Macaca nemestrina). P. knowlesi telah berkembang untuk menginfeksi secara zoonotik, yaitu ditransmisikan dari hewan kepada manusia oleh vektor nyamuk Anopheles betina. Sejak kejadian endemik malaria knowlesi pertama pada tahun 2004 di Serawak, Malaysia, jumlah kasus infeksi P. knowlesi meluas dan meningkat hingga hampir ke seluruh wilayah di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Peningkatan kasus infeksi P. knowlesi merupakan hasil interaksi yang kompleks antara manusia, agen, dan lingkungan. Faktor individu dan lingkungan merupakan faktor risiko malaria knowlesi. Siklus hidup P. knowlesi sangat singkat dan cenderung menginfeksi semua jenis eritrosit bersama dengan spesies Plasmodium lainnya (infeksi campuran). Morfologi dan gejala klinis P. knowlesi sangat mirip dengan spesies Plasmodium lain, membuatnya sulit didiferensiasi dan turut memengaruhi peningkatan kasus infeksi. Diagnosis malaria knowlesi dengan teknik molekuler PCR merupakan metode yang paling akurat saat ini. Pengobatan terhadap malaria knowlesi harus segera dilakukan untuk mencegah progresivitas menjadi malaria berat hingga kematian.
Tujuan: Artikel ini bertujuan untuk mempelajari epidemiologi, faktor risiko, siklus hidup, morfologi, gejala klinis, diagnosis dan tatalaksana terbaru terhadap kasus malaria knowlesi, terutama di Indonesia.
Metode: Penulisan artikel menggunakan metode tinjauan pustaka dari berbagai literatur mengenai malaria knowlesi.
Diskusi: Pengetahuan akan epidemiologi, faktor risiko, siklus hidup, morfologi, gejala klinis, diagnosis, dan tatalaksana terhadap kasus malaria knowlesi dapat menambah informasi untuk perkembangan penelitian terhadap distribusi dan pengendalian kasus malaria knowlesi. Artikel ini diharapkan dapat membantu mempercepat target eliminasi malaria di Indonesia pada tahun 2030.
Kata Kunci: Infeksi, malaria knowlesi, manusia, Plasmodium knowles