Damianus Journal of Medicine
Not a member yet
    169 research outputs found

    HUBUNGAN KESEMBUHAN PASIEN TUBERKULOSIS PARU DENGAN ADA TIDAKNYA PENGAWAS MENELAN OBAT (PMO) DI RUMAH SAKIT ATMA JAYA

    Full text link
    Introduction: One of the biggest health problems faced by community is pulmonary tuberculosis (TB).TB is an respiratory tract infectious disease caused by Mycobacterium Tuberculosis. World Health Organization (WHO) recommends TB treatment with Directly Observed Treatment Short-course (DOTS) strategy, one of which is through the help of treatment supporter (PMO or Pengawas Minum Obat) who supervises the patient during the treatment period. Methods: This was an analytic descriptive study with cross sectional approach.. Respondents were taken by consecutive sampling, based on medical records at Atma Jaya Hospital. We applied inclusion criteria such as newly diagnosed TB patient with positive sputum smear microscopy results, adult TB patient who has finished 6 month of treatment and patients who have done sputum smear microscopy test after finishing their TB treatment. The exclusion criteria were TB-HIV patients and Milliary TB patients. After fulfilment of those criteria, a total of 81 respondents were selected. Data was analysed by Chi Square test (Fisher Exact test). Results: Most of patients were 15-50 years old (70,4%) with mean age at 38.49±17.83 years old),male (53.1%), had family as treatment supporter (91.4%) and had successful TB treatment (74.1%). TB patients with treatment supporter had more successful treatment (66.7%) than TB patients with no treatment supporter (7.4%), however there was no significant among the avalibility of treatment supporter and the success of TB treatment (p=0.670). Conclusion: Despite the insignificant result, this study gives good insight to implementation of TB DOTS strategy in Atma Jaya Hospital. The implementation of this strategy contributes to imbalance number of samples between patient with and without treatment supporter, leading to overestimate results on with TB treatment supporter group.Pendahuluan: Salah satu masalah kesehatan terbesar yang dihadapi komunitas saat ini adalah penyakit Tuberkulosis (TB) paru.TB paru adalah penyakit infeksi pada saluran saluran pernafasan dan disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis. World Health Organization WHO merekomendasikan strategi Directly Observed Treatment Short-course (DOTS) untuk penanggulangan TB. Salah satunya adalah dengan menyediakan Pengawas Menelan Obat (PMO) yang mengawasi penderita TB paru selama masa pengobatan. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Responden didapatkan dengan cara consecutive sampling dari rekam medis di Rumah Sakit Atma Jaya. Studi ini menggunakan kriteria inklusi seperti pasien TB baru dengan sputum positif, pasien TB dewasa yang telah menyelesaikan 6 bulan pengobatan dan pasien yang memeriksakan sputum kembali setelah pengobatan selesai. Kriteria eksklusi penelitian ini adalah pasien TB-HIV dan pasien TB Milllier. Total sampel yang didapatkan dari rekam medik sebanyak 81 responden dipilih sesuai kriteria penelitian. Data dianalisis dengan uji Chi Square (uji Fisher Exact). Hasil: Sebagian besar pasien berumur 15-50 tahun (70,4%) dengan umur rata-rata 38,49±17,83 tahun, laki-laki (53,1%), memiliki keluarga sebagai PMO (91,4%) dan memiliki pengobatan yang berhasil (74,1%). Pasien TB dengan PMO lebih banyak yang berhasil dalam pengobatannya, tetapi hasil ini tidak bermakna bila dibandingkan dengan pasien TB yang tidak memiliki PMO (p=0,670). Simpulan: Studi ini menunjukan implementasi strategi DOTS yang baik di Rumah Sakit Atma Jaya, walaupun hasilnya tidak bermakna. Implementasi dari TB DOTS yang baik dapat berkontribusi pada jumlah sampel yang tidak seimbang sehingga perkiraan keberhasilan pengobatan pasien TB dengan PMO menjadi lebih besar

    HUBUNGAN KEBERSIHAN DIRI DENGAN KEJADIAN INFEKSI ENTEROBIUS VERMICULARIS PADA ANAK USIA 2 – 10 TAHUN DI RUMAH SUSUN PENJARINGAN

    Full text link
     Introduction: Development of medicine in Indonesia goes along with the diseases that emerged from lifestyle. Prevention can be done by implementing clean and healthy life protection (PHBS). One of the diseases that can occur due to lack of PHBS is worm infection. One of the worms that often infects children is Enterobius vermicularis. This study was conducted to assess the relationship between personal hygiene and E. vermicularis infection. Methods: This is a cross-sectional study with data taken from 110 children (2-10 years) with parents / guardians at Rumah Susun Penjaringan, North Jakarta. The independent variable of this study is personal hygiene and the dependent variable is E. vermicularis infection in children that uses data from questionnaires and lab exams. Results: The study was attended by 110 respondents. It is found that more than 80% of respondents wash their hands with soap before eating, wash their hands with soap after using the toilet, do not scratch the anus at night, routinely clip nails at least once a week, and use footwear while playing outdoors. More than 90% of respondents change their bed sheets regularly and took a bath twice a day. All respondents bathed using clean water and soap. More than 70% of respondents do not bite their nails, wash their hands after going to play, and consume anthelmintics. More than 50% of respondents do not wear other people's underwear. The results of the laboratory study found no E. vermicularis eggs. Conclusion: There is no infection of E. vermicularis in children age 2 – 10 at Rumah Susun PenjaringanPendahuluan: Pembangunan dan perkembangan ilmu kesehatan di Indonesia berkembang pesat seiring dengan penyakit yang timbul akibat gaya hidup dan perilaku. Pencegahan dapat dilakukan dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Penyakit yang timbul akibat kurangnya PHBS antara lain cacingan. Salah satu cacing yang sering menginfeksi anak-anak adalah Enterobius vermicularis. Penelitian ini melihat hubungan antara kebersihan diri dengan infeksi E. vermicularis. Metode: Penelitian ini merupakan studi cross-sectional terhadap 110 anak (2 – 10 tahun) beserta orang tua/ wali di Rumah Susun Penjaringan, Jakarta Utara. Variable bebas penelitian ini adalah kebersihan diri dan variable terikat adalah infeksi E. vermicularis pada anak dengan menggunakan data yang diambil dengan kuesioner dan data yang diteliti di laboratorium. Hasil: Penelitian ini diikuti oleh 110 responden. Didapatkan lebih dari 80% responden mencuci tangan dengan sabun sebelum makan, mencuci tangan dengan sabun setelah menggunakan toilet, tidak menggaruk anus pada malam hari, rutin memotong kuku minimal satu kali seminggu, dan menggunakan alas kaki saat bermain di luar rumah. Lebih dari 90% responden rutin mengganti sprei secara berkala dan mandi minimal dua kali sehari. Semua responden mandi menggunakan air bersih dan sabun. Lebih dari 70% responden tidak menggigit kuku, mencuci tangan setelah pergi bermain, dan mengkonsumsi obat cacing. Lebih dari 50% responden tidak memakai pakaian dalam orang lain secara bergantian. Hasil penelitian di laboratorium tidak ditemukan adanya telur E. vermicularis. Simpulan: Tidak ditemukan infeksi E. vermicularis pada anak usia 2 – 10 tahun di Rumah Susun Penjaringa

    HUBUNGAN DERAJAT KEPARAHAN ACNE VULGARIS DENGAN BEBAN PSIKOSOSIAL PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS KATOLIK INDONESIA ATMA JAYA

    Full text link
    Introduction: Acne vulgaris (AV) is a common dermatological condition among adolescent. Although considered a benign condition and a self-limiting disease, AV can cause psychological problems such as anxiety, depression, and reduce self confidence especially in adolescence because it is a crucial period in psychological and mental development. The purpose of this study is to determine the correlation between AV severity and psychosocial burden on students at Atma Jaya Catholic University of Indonesia School of Medicine and Health Sciences (FKIK UAJ). Methods: This research is an analytic descriptive study with cross sectional method. Sample of this study consist of 141 active preclinic male students at FKIK UAJ year 2016, 2017, and 2018. AV severity was determined by Global Acne Grading System (GAGS). Cardiff Acne Disability Index (CADI) questionnaire was used to measure psychosocial burden caused by AV in the past month. This data was analyzed using Spearman correlation test with significant p<0,05. Results: The prevalence of AV is 100% with 74 respondent (52,5%) in mild severity. The prevalence of psychosocial burden is 86,5% with 96 respondent (68,1%) has little effect on psychosocial burden. There is a positive correlation with weak strength correlation between AV severity and psychosocial burden (p=0,397). Conclusion: There is a correlation between AV severity and psychosocial burden at FKIK UAJPendahuluan: Acne vulgaris (AV) merupakan kondisi dermatologis umum terkait populasi remaja.1 Meskipun dianggap sebagai kondisi jinak dan merupakan self limiting disease, AV dapat menimbulkan masalah psikologis seperti kecemasan, depresi, dan mengurangi rasa percaya diri terutama pada remaja karena masa remaja merupakan periode krusial dalam perkembangan psikis dan mental.2,3 Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui korelasi antara derajat keparahan AV dengan beban psikososial pada mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya (FKIK UAJ). Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan metode potong lintang. Sampel penelitian terdiri dari 141 mahasiswa preklinik aktif FKIK UAJ angkatan 2016, 2017, dan 2018. Derajat keparahan AV diobservasi dan dinilai dengan Global Acne Grading System (GAGS). Kuesioner Cardiff Acne Disability Index (CADI) digunakan untuk menentukan beban psikososial yang disebabkan AV pada satu bulan terakhir. Data dianalisis dengan uji korelasi Spearman dengan tingkat kemaknaan p<0,05. Hasil: Prevalensi AV adalah 100% dengan 74 responden (52,5%) berada dalam derajat keparahan ringan. Prevalensi beban psikososial adalah 86,5% dengan 96 responden (68,1%) sedikit berpengaruh terhadap beban psikososial. Terdapat korelasi bermakna dengan kekuatan korelasi lemah antara AV dengan beba

    MELATONIN SEBAGAI ANTIPENUAAN KULIT AKIBAT SINAR ULTRAVIOLET

    Full text link
    Penuaan kulit adalah perubahan struktur pada kulit yang merupakan konsekuensi dari bertambahnya usia. Paparan sinar ultraviolet (UV), yang dapat menginduksi pembentukan reactive oxygen species (ROS) dan reactive nitrogen species (RNS) sehingga merusak sel, dapat mempercepat timbulnya penuaan. Munculnya tanda-tanda penuaan kulit tersebut dapat mengganggu penampilan sehingga banyak orang mulai menggunakan produk perawatan kulit. Melatonin diperkirakan memiliki efek antipenuaan kulit, namun penggunaannya sebagai antipenuaan kulit akibat sinar UV belum banyak dipelajari. Sel kulit manusia diketahui dapat mensintesis serta memiliki beberapa jenis reseptor melatonin. Melatonin dan metabolitnya merupakan antioksidan poten yang dapat menekan formasi ROS dan RNS serta menurunkan respons inflamasi akibat sinar UV pada kulit. Pada beberapa penelitian, melatonin terbukti dapat menurunkan kerusakan dan jumlah sel yang mengalami apoptosis akibat paparan sinar UV. Disimpulkan bahwa melatonin dapat digunakan sebagai antipenuaan kulit akibat sinar UV, namun masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut mengenai bentuk sediaan, dosis, dan efek samping penggunaannya.Penuaan kulit adalah perubahan struktur pada kulit yang merupakan konsekuensidari bertambahnya usia. Paparan sinar ultraviolet (UV), yang dapat menginduksipembentukan reactive oxygen species (ROS) dan reactive nitrogen species(RNS) sehingga merusak sel, dapat mempercepat timbulnya penuaan. Munculnyatanda-tanda penuaan kulit tersebut dapat mengganggu penampilan sehinggabanyak orang mulai menggunakan produk perawatan kulit. Melatonin diperkirakanmemiliki efek antipenuaan kulit, namun penggunaannya sebagai antipenuaankulit akibat sinar UV belum banyak dipelajari. Sel kulit manusia diketahui dapatmensintesis serta memiliki beberapa jenis reseptor melatonin. Melatonin dan metabolitnya merupakan antioksidan poten yang dapat menekan formasi ROS dan RNS serta menurunkan respons inflamasi akibat sinar UV pada kulit. Padabeberapa penelitian, melatonin terbukti dapat menurunkan kerusakan dan jumlahsel yang mengalami apoptosis akibat paparan sinar UV. Disimpulkan bahwamelatonin dapat digunakan sebagai antipenuaan kulit akibat sinar UV, namun masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut mengenai bentuk sediaan, dosis, danefek samping penggunaannya

    APAKAH JENIS KELAMIN BERPENGARUH TERHADAP JENIS KECERDASAN GANDA?

    Full text link
    Latar Belakang: Gardner membagi menjadi 8 jenis kecerdasan yang dimiliki setiap orang, yaitu kecerdasan linguistik, logika-matematika, musikal, kinestetik, visual spasial, interpersonal, intrapersonal, dan natural. Setiap individu memiliki 8 jenis kecerdasan tersebut, namun tergantung jenis mana yang paling dominan. Tujuan: Mengetahui perbedaan jenis kecerdasan ganda berdasarkan jenis kelamin pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Unika Atma Jaya (FKUAJ) angkatan 2008. Metode: Penelitian bersifat deskriptif dan menggunakan desain potong lintang dengan jumlah subjek 174 orang. Kriteria inklusi: mahasiswa angkatan 2008 dan bersedia mengikuti penelitian. Masing-masing responden diminta untuk mengisi kuesioner mengenai kecerdasan ganda yang telah disediakan peneliti. Hasil: Sebagian besar responden berumur 21 tahun (77,0%), berjenis kelamin perempuan (60,9%), dan memiliki kecerdasan musikal (35,6%). Pada responden laki-laki memiliki kecerdasan kinestetik lebih dominan dibandingkan responden perempuan (29,4% vs 3,8%); sedangkan pada responden perempuan memiliki kecerdasan musikal lebih dominan dibandingkan responden laki-laki (39,6% vs 25,0%) (p < 0,0001). Kesimpulan: Terdapat perbedaan signifikan pada kecerdasan ganda yang dominan pada responden laki-laki dan perempuan.Introduction: Gardner classifies intelligence in human into eight kinds; ie: linguistic,logical-mathematical, musical, kinesthetic, visual-spatial, interpersonal,intrapersonal,and naturalist. Every person has multiple intelligences; however,thedominant intelligent is different from each other.Objectives: To understand the difference of multiple intelligences correlated togender, among the class of 2008 students of Atma Jaya Catholic University ofIndonesia School of Medicine.Methods: This study was a descriptive analysis, using cross-sectional design,with 174 participants. Inclusion criteria: students of class of 2008 who werewilling to get involved in the study. Each participant was asked to fulfill thequestionnaire about multiple intelligences.Results: Most participants age was 21 years (77.0%); female participants(60.9%), and has musical intelligence (35.6%). Male participant was dominanton kinesthetic intelligence compared to female (29.4% vs 3.8%); meanwhile,female participant was dominant on musical intelligence compared to male(39.6% vs 25.0%) (p<0.0001).Conclusions: There are significant differences of multiple intelligent on maleparticipant and female participant

    PENGARUH KURANGNYA JUMLAH JAM TIDUR TERHADAP PERUBAHAN KADAR GULA DARAH PADA MAHASISWA PREKLINIK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIKA ATMA JAYA

    Full text link
    Pendahuluan: Kurangnya jumlah jam tidur adalah suatu hal yang wajar bagi masyarakat zaman sekarang dikarenakan mereka ingin memaksimalkan waktu mereka untuk dapat melakukan semua aktivitasnya. Sementara itu tidur diperlukan untuk mengembalikan proses biokimia atau fisiologis yang menurun ke keadaan semula. Terdapat beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa kekurangan tidur kronis dapat meningkatkan risiko obesitas, penyakit kardiovaskular, dan peningkatan kadar gula darah, yang dapat berlanjut menjadi diabetes mellitus tipe 2. Tujuan: Penelitian ini merupakan studi pendahuluan untuk mengetahui efek berkurangnya jam tidur terhadap perubahan kadar gula darah. Metode: Mengukur kadar gula darah puasa dan kadar gula darah 2 jam setelah oral glucose tolerance test (OGTT) pada 18 mahasiswa preklinik Fakultas Kedokteran Unika Atma Jaya dalam keadaan cukup tidur (7 jam atau lebih) dan kurang tidur (kurang dari 7 jam) selama 2 malam. Data dianalisis menggunakan uji T berpasangan untuk melihat apakah kekurangan tidur selama 2 malam menyebabkan perubahan pada kadar gula darah puasa dan kadar gula darah 2 jam setelah OGTT. Hasil: Kadar gula darah puasa dan kadar gula darah 2 jam setelah OGTT meningkat setelah kekurangan tidur (kurang dari 7 jam) selama 2 malam. Kesimpulan: Kekurangan tidur parsial selama 2 malam menyebabkan peningkatan kadar gula darah puasa dan kadar gula darah 2 jam setelah OGTT.Pendahuluan: Kurangnya jumlah jam tidur adalah suatu hal yang wajar bagimasyarakat zaman sekarang dikarenakan mereka ingin memaksimalkan waktumereka untuk dapat melakukan semua aktivitasnya. Sementara itu tidur diperlukanuntuk mengembalikan proses biokimia atau fisiologis yang menurun ke keadaansemula. Terdapat beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa kekurangantidur kronis dapat meningkatkan risiko obesitas, penyakit kardiovaskular, danpeningkatan kadar gula darah, yang dapat berlanjut menjadi diabetes mellitustipe 2. Tujuan: Penelitian ini merupakan studi pendahuluan untuk mengetahui efekberkurangnya jam tidur terhadap perubahan kadar gula darah. Metode: Mengukur kadar gula darah puasa dan kadar gula darah 2 jam setelahoral glucose tolerance test (OGTT) pada 18 mahasiswa preklinik FakultasKedokteran Unika Atma Jaya dalam keadaan cukup tidur (7 jam atau lebih) dankurang tidur (kurang dari 7 jam) selama 2 malam. Data dianalisis menggunakanuji T berpasangan untuk melihat apakah kekurangan tidur selama 2 malammenyebabkan perubahan pada kadar gula darah puasa dan kadar gula darah 2jam setelah OGTT. Hasil: Kadar gula darah puasa dan kadar gula darah 2 jam setelah OGTTmeningkat setelah kekurangan tidur (kurang dari 7 jam) selama 2 malam.Kesimpulan: Kekurangan tidur parsial selama 2 malam menyebabkan peningkatankadar gula darah puasa dan kadar gula darah 2 jam setelah OGTT

    KONTRIBUSI HIPERTENSI DAN DIABETES MELLITUS TIPE 2 ATAU KEDUANYA TERHADAP STROKE BERULANG

    Full text link
    Latar Belakang: Stroke berulang merupakan penyebab utama kecacatan hingga kematian di dunia. Hipertensi, diabetes mellitus tipe 2, atau gabungan keduanya dikenal sebagai faktor risiko yang dapat menyebabkan kejadian stroke berulang, namun belum terlalu jelas faktor risiko mana yang paling berperan. Tujuan: Pada penelitian ini akan dibahas dan dievaluasi faktor risiko yang paling memengaruhi kejadian stroke berulang. Metode: Penelitian ini merupakan studi deskriptif analitik yang dilakukan di salah satu rumah sakit swasta di Jakarta Utara tahun 2009-2010. Data diambil dari rekam medis responden stroke menggunakan check list yang terdiri dari identitas responden, riwayat serangan stroke pertama dan terakhir, riwayat faktor risiko, tingkat kesadaran saat pertama kali datang, dan gangguan motorik atau sensorik yang ditimbulkan oleh stroke berulang. Hasil: Dari 152 rekam medis, diperoleh 59 rekam medis responden stroke berulang (38,8%). Analisis menunjukkan pengaruh hipertensi, diabetes mellitus, maupun gabungan keduanya, terhadap kejadian stroke berulang sama (p=0,077). Hasil tersebut terlihat juga pada analisis faktor risiko gabungan atau diabetes mellitus (p=0,714) dan faktor risiko hipertensi atau diabetes mellitus (p=0,157) yang menunjukkan pengaruh yang sama terhadap terjadinya stroke berulang (p=0,714). Namun, perbandingan antara faktor risiko hipertensi dengan faktor risiko gabungan (gabungan hipertensi dan diabetes mellitus) menunjukkan faktor risiko gabungan lebih berpengaruh terhadap terjadinya stroke berulang (p=0,026). Kesimpulan: Faktor risiko hipertensi tunggal kurang berpengaruh, namun dengan adanya kombinasi faktor risiko hipertensi dan diabetes mellitus akan meningkatkan risiko terjadinya stroke berulang.Latar Belakang: Stroke berulang merupakan penyebab utama kecacatan hinggakematian di dunia. Hipertensi, diabetes mellitus tipe 2, atau gabungan keduanyadikenal sebagai faktor risiko yang dapat menyebabkan kejadian stroke berulang,namun belum terlalu jelas faktor risiko mana yang paling berperan. Tujuan: Pada penelitian ini akan dibahas dan dievaluasi faktor risiko yang paling memengaruhi kejadian stroke berulang.Metode: Penelitian ini merupakan studi deskriptif analitik yang dilakukan di salahsatu rumah sakit swasta di Jakarta Utara tahun 2009-2010. Data diambil darirekam medis responden stroke menggunakan check list yang terdiri dari identitasresponden, riwayat serangan stroke pertama dan terakhir, riwayat faktor risiko,tingkat kesadaran saat pertama kali datang, dan gangguan motorik atau sensorikyang ditimbulkan oleh stroke berulang.Hasil: Dari 152 rekam medis, diperoleh 59 rekam medis responden stroke berulang(38,8%). Analisis menunjukkan pengaruh hipertensi, diabetes mellitus, maupungabungan keduanya, terhadap kejadian stroke berulang sama (p=0,077). Hasiltersebut terlihat juga pada analisis faktor risiko gabungan atau diabetes mellitus(p=0,714) dan faktor risiko hipertensi atau diabetes mellitus (p=0,157) yangmenunjukkan pengaruh yang sama terhadap terjadinya stroke berulang (p=0,714).Namun, perbandingan antara faktor risiko hipertensi dengan faktor risiko gabungan(gabungan hipertensi dan diabetes mellitus) menunjukkan faktor risiko gabunganlebih berpengaruh terhadap terjadinya stroke berulang (p=0,026).Kesimpulan: Faktor risiko hipertensi tunggal kurang berpengaruh, namun denganadanya kombinasi faktor risiko hipertensi dan diabetes mellitus akan meningkatkanrisiko terjadinya stroke berulang

    CAROTID ARTERY INTIMA-MEDIA THICKNESS IN HEALTHY YOUNG INDIVIDUALS

    Full text link
    Latar Belakang: Ketebalan tunika intima-media (IMT) arteri karotis merupakan prediktor independen terhadap kejadian penyakit vaskular. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menilai IMT arteri karotis dewasa muda dengan menggunakan ultrasonografi. Metode: Pengukuran IMT arteri karotis dilakukan dengan ultrasonografi B-mode di proksimal arteri carotis komunis kedua sisi pada 136 dewasa muda. Dilakukan pemeriksaan tekanan darah, berat badan, indeks massa tubuh, profil lipid, dan kadar glukosa darah untuk menyingkirkan faktor risiko. Hasil: Total terdapat 74 orang, rerata berusia 18,11 tahun, dan tidak memiliki faktor risiko yang terkait dengan aterosklerosis. Nilai IMT arteri karotis lebih tinggi pada laki-laki dan berbeda antara sisi kiri dan kanan (0,659 vs 0,612 mm dan 0,675 mm vs 0,648 mm). Rerata IMT arteri karotis 0,646±0,14 mm. Kesimpulan: Pengukuran IMT karotis penting untuk memprediksi kejadian vaskular di masa depan. Kami berharap hasil ini dapat digunakan sebagai data dasar untuk penelitian selanjutnya dalam mendeteksi proses aterosklerosis yang asimtomatik.Latar Belakang: Ketebalan tunika intima-media (IMT) arteri karotis merupakanprediktor independen terhadap kejadian penyakit vaskular.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menilai IMT arteri karotis dewasa mudadengan menggunakan ultrasonografi.Metode: Pengukuran IMT arteri karotis dilakukan dengan ultrasonografi B-modedi proksimal arteri carotis komunis kedua sisi pada 136 dewasa muda. Dilakukanpemeriksaan tekanan darah, berat badan, indeks massa tubuh, profil lipid, dankadar glukosa darah untuk menyingkirkan faktor risiko.Hasil: Total terdapat 74 orang, rerata berusia 18,11 tahun, dan tidak memiliki faktor risiko yang terkait dengan aterosklerosis. Nilai IMT arteri karotis lebih tinggi pada laki-laki dan berbeda antara sisi kiri dan kanan (0,659 vs 0,612 mm dan 0,675mm vs 0,648 mm). Rerata IMT arteri karotis 0,646±0,14 mm.Kesimpulan: Pengukuran IMT karotis penting untuk memprediksi kejadianvaskular di masa depan. Kami berharap hasil ini dapat digunakan sebagai data dasar untuk penelitian selanjutnya dalam mendeteksi proses aterosklerosis yangasimtomatik

    Cavum septi pellucidi and cavum vergae cyst in man

    Full text link
    Introduction: The cavum septi pellucidi (CSP) and cavum vergae (CV) are cystic anomalies of septum pellucidum. Case: A 30-year-old man, which revealed cavities at the anatomical location of the CSP and CV on brain magnetic resonance imaging (MRI) because of recurrent headache. Conclusions: The CSP and CV occur during the developmental process of the brain which regresses between the seventh month of intrauterine life and the second year of postnatal life. Persistence of these structures does not cause any symptoms, but sometimes related to malformations and psychiatric disturbances, mainly dependent on size. In this case, developmental disturbance is the underlying cause

    112

    full texts

    169

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Damianus Journal of Medicine
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇