Damianus Journal of Medicine
Not a member yet
    169 research outputs found

    Hubungan Pengetahuan Dengan Perilaku Penggunaan Multivitamin Pada Peserta Seleksi Bintara Tenaga Kesehatan TNI AU

    Full text link
    Pendahuluan: Multivitamin berguna dalam meningkatkan, memperbaiki dan memelihara kesehatan. Selain itu multivitamin juga memiliki efek fisiologis serta berguna untuk memenuhi kebutuhan gizi. Penggunaan multivitamin harus sesuai dengan aturan pakai guna mencegah efek samping yang tidak diinginkan. Tahap awal seleksi bintara tenaga kesehatan TNI AU adalah tes samapta. Tes samapta jasmani merupakan alat untuk mengukur kemampuan kondisi atau kebugaran jasmani. Tes samapta merupakan tes untuk kebugaran jasmani sehingga para peserta seleksi banyak yang mengonsumsi multivitamin untuk menjaga stamina tubuh selama mengikuti tes samapta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan perilaku terhadap penggunaan multivitamin pada peserta seleksi bintara tenaga kesehatan TNI AU. Metode: Penelitian deskriptif analitik ini mengumpulkan data dengan menggunakan survei, pengambilan sampel menggunakan teknik non propability sampling dengan pendekatan total sampling. Jumlah sampel yang diperoleh sebanyak 35 dan dilakukan uji statistis, yaitu dengan menggunakan uji Chi-square. Hasil: Hasil analisis dari penelitian ini menunjukan bahwa tingkat pengetahuan kategori baik 37,1% dan cukup sebanyak 62,9%. Adapun perilaku yang tergolong baik sebanyak 17,1% dan cukup sebanyak 82,9%. Hasil uji analisis menyatakan bahwa nilai signifikansi berjumlah 0,039 (<0,05) yang berarti terdapat adanya pengaruh antara pengetahuan pada perilaku. Simpulan: Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan dan perilaku. Kata Kunci: bintara, multivitamin, pengetahuan, perilaku, tenaga kesehatanPendahuluan: Multivitamin berguna dalam meningkatkan, memperbaiki dan memelihara kesehatan. Selain itu multivitamin juga memiliki efek fisiologis dan berguna untuk memenuhi kebutuhan gizi. Penggunaan multivitamin harus sesuai dengan  aturan pakai untuk mencegah adanya efek samping yang tidak diinginkan. Peserta seleksi Bintara Tenaga Kesehatan TNI AU pada tahap awal mengikuti tes samapta. Tes samapta jasmani merupakan alat untuk mengukur kemampuan sejauh mana kondisi atau kebugaran jasmani. Mengingat tes samapta merupakan tes untuk kebugaran jasmani sehingga para peserta seleksi banyak yang mengkonsumsi multivitamin untuk menjaga stamina tubuh selama mengikuti tes samapta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui relasi atau hubungan antara pengetahuan dan perilaku terhadap pengggunaan multivitamin peserta seleksi Bintara Tenaga Kesehatan TNI AU. Metode: Penelitian deskriptif analitik ini mengumpulkan data dengan menggunakan survei, dimana dalam pengambilan sampel menggunakan teknik non propability sampling dengan pendekatan total sampling.  Jumlah sampel yang diperoleh sebanyak 35 dan dilakukan uji statistis, yaitu dengan menggunakan Chi-square test Hasil: Hasil analisis dari penelitian ini menunjukan bahwa tingkat pengetahuan kategori baik 37,1% dan cukup sebanyak 62,9%. Adapun perilaku yang tergolong baik sebanyak 17,1% dan cukup sebanyak 82,9%. Hasil uji analisis menyatakan bahwa nilai signifikansi berjumlah 0,039 (<0,05) yang berarti terdapat adanya pengaruh antara pengetahuan pada perilaku. Simpulan: Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan dan perilaku

    Korelasi Kadar Serum Albumin terhadap Massa, Kekuatan Otot dan Performa Fisik pada Usia Lanjut di Poliklinik Geriatri Rsmh Palembang

    No full text
    Introduction: Sarcopenia is a common problem found in the elderly. It is characterized by loss of muscle mass, muscle strength, and/or low physical performance. Currently, there’s little research on the association between serum albumin and muscle mass, muscle strength, and physical performance in the elderly, especially in Indonesia. This study aimed to find the correlation between serum albumin and muscle mass, muscle strength, and physical performance in the elderly. Method: A cross-sectional study was conducted from July 2022 to December 2022 towards elderly patients (>60 years) from the geriatric polyclinic at RSUP Moh. Hoesin Palembang. Serum albumin was examined for its correlation with muscle mass, muscle strength, and physical performance using Spearman’s test. Result: 41 elderly patients were included in this study (mean age 70.75 ± 7 years, 56.1% women). Correlation analysis showed that there’s a significant positive correlation between serum albumin with muscle strength (r=0.354, p=0.012) and a negative correlation with physical performance (r=-0.5, p <0.001). In comparison, there was no significant correlation between serum albumin and muscle mass (r=- 0.05, p=0.367). Conclusion: Muscle strength and physical performance have a significant correlation with serum albumin in the elderly. Therefore, even in the normal range, lower serum albumin is closely related to sarcopenia in the elderly. Key Words: albumin, muscle mass, muscle strength, physical performance, sarcopenia.hilangnya massa otot, kekuatan otot, dan/atau performa fisik yang rendah. Saat ini belum banyak penelitian mengenai hubungan antara albumin serum dengan massa otot, kekuatan otot, dan performa fisik pada lansia, khususnya di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara serum albumin dengan massa otot, kekuatan otot, dan performa fisik pada lansia. Metode: Studi cross sectional dilakukan dari Juli 2022 hingga Desember 2022 terhadap pasien lanjut usia (>60 tahun) dari poliklinik geriatri RSUP Moh. Hoesin Palembang. Kadar albumin diperiksa dan dilakukan analisis korelasi dengan massa otot, kekuatan otot, dan performa fisik menggunakan uji Spearman. Hasil Penelitian: Total 41 pasien lanjut usia masuk dalam penelitian ini (usia rata-rata 70,75 + 7 tahun, 56,1% wanita). Analisis korelasi menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif yang signifikan antara serum albumin dengan kekuatan otot (r = 0,354, p = 0,012) dan korelasi negatif dengan performa fisik (r = -0,5, p < 0,001). Disamping itu, tidak terdapat korelasi yang signifikan antara albumin serum dan massa otot (r = - 0,05, p = 0,367). Kesimpulan: Kekuatan otot dan performa fisik memiliki korelasi yang signifikan dengan serum albumin pada lansia. Oleh karena itu, meski dalam kisaran normal, albumin serum yang lebih rendah terkait erat dengan sarkopenia pada lansia

    Tumor Wilms asimptomatik pada anak

    Full text link
    Pendahuluan: Tumor Wilms merupakan salah satu keganasan pada anak yang cukup sering ditemukan terutama pada anak usia di bawah 5 tahun. Seringkali tumor ini ditemukan secara kebetulan oleh orangtua ataupun pengasuh yang merasakan benjolan di perut anak. Kasus: Kami laporkan kasus tumor wilms pada anak usia 8 tahun yang ditemukan secara insidental. Pasien datang dengan keluhan nyeri perut kanan bawah disertai mual muntah dan demam, ditemukan nyeri tekan perut kanan bawah dan leukositosis. Kecurigaan awal mengarah ke apendisitis akut, namun pada pemeriksaan fisik juga ditemukan masa di abdomen kanan atas yang tidak dikeluhkan pasien. CT scan abdomen menunjukkan masa tersebut di ginjal kanan dan dicurigai sebagai tumor wilms. Pasien menjalani operasi. Diskusi: Berdasarkan temuan intraoperatif adanya “spillage” dan hasil patologi anatomi sesuai dengan tumor wilms favourable maka pasien dikategorikan terkena tumor Wilms stadium III dengan jenis favourable. Simpulan: Laporan kasus ini menunjukkan bahwa diperlukan pendekatan klinis yang cermat dan perlu dipikirkan tumor Wilms sebagai diagnosis banding pada anak dengan temuan massa di perut

    EFEKTIVITAS ENKAPSULASI ENZIM PROTEASE DENGAN BEAD HIDROGEL BERBAHAN ALGINAT-KITOSAN

    Full text link
    Introduction: The addition of the protease enzyme from an external source can increase protein absorption in the human digestive system. Protease enzyme is formulated by encapsulated inside alginate-chitosan hydrogel beads to deny immediate proteolysis reaction with the protein consumed and maintain the encapsulated enzyme in a temperature range acidity. This research aims to know the encapsulation effectivity of protease enzyme with alginate-chitosan hydrogel beads. Methods: Experiments were conducted to encapsulate protease enzyme with ionotropic gelation method using alginate and chitosan. Encapsulation yield, bead size, encapsulated enzyme activity, release rate, and stability were analyzed from the hydrogel beads that were obtained. The data is then analyzed using analysis of variance (ANOVA) and Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Results: From four variants of hydrogel beads that were obtained, this research shows that the volume addition of alginate solution in the encapsulation material will increase the value of encapsulation yield (EY), bead size, and release rate of the encapsulated protease enzyme. Therefore, the volume addition of chitosan solution will increase the value of encapsulation efficiency (EE). Hydrogel beads incubation at 6°C for 24 days maintain 75,55% of encapsulated enzyme activity. Conclusion: Protease enzyme can be formulated with protein by being encapsulated with alginate-chitosan hydrogel beads. Key Words: alginate, chitosan, protease enzyme encapsulationPendahuluan: Penambahan enzim protease dari sumber lain dapat meningkatkan penyerapan protein oleh organ pencernaan manusia. Enzim protease dari sumber lain diformulasikan dengan cara dienkapsulasi dalam bead hidrogel agar tidak langsung bereaksi dengan protein yang dikonsumsi dan tahan terhadap lingkungan suhu dan keasaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas enkapsulasi enzim protease dengan bead hidrogel berbahan alginat-kitosan. Metode: Penelitian ini dilakukan secara eksperimental untuk mengenkapsulasi enzim protease dengan metode ionotropic gelationdengan bahan alginat dan kitosan. Bead hidrogel yang terbentuk akan dianalisis yield enkapsulasi, ukuran bead yang terbentuk, aktivitas, tingkat pelepasan, dan stabilitas enzim protease yang dienkapsulasi. Data kemudian akan dianalisis variasinya dengan menggunakan uji analisis keragaman (ANOVA) dan uji beda nyata terkecil Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Hasil: Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dari keempat variasi bead hidrogel yang terbentuk, penambahan volume larutan alginat pada bahan enkapsulasi akan meningkatkan nilai yield enkapsulasi (EY), ukuran bead, dan tingkat pelepasan enzim yang dienkapsulasi (L), sementara penambahan volume larutan kitosan akan meningkatkan nilai efisiensi enkapsulasi (EE). Inkubasi bead selama 24 hari pada suhu 6°C berhasil mempertahankan aktivitas enzim protease yang dienkapsulasi sebesar 75,55%. Simpulan: Enzim protease dapat diformulasikan dengan dienkapsulasi dalam bead hidrogel berbahan alginat-kitosan. Kata Kunci: alginat, enkapsulasi enzim protease, kitosa

    Association Between Oral Hygiene and Glycemic Control Status with Periodontal Parameter in Type-2 Diabetes Mellitus: A Cross Sectional Study

    No full text
    Introduction: Many studies have shown the role of DM in periodontal disease, but few have examined the effect of glycemic control in DM patients on periodontal status, especially in Indonesia. Determining the link between oral hygiene index, periodontal status, and glycemic status in type 2 DM patients may be beneficial to achieve a more holistic treatment of DM and periodontal disease.   Methods: This is a cross sectional study.Sixty-nine subjects over 30 years who were diagnosed with DM at Atma Jaya Teaching and Research Hospital, Indonesia, had not taken systemic antibiotics and undergone periodontal treatment for the last 6 months, and did not smoke for the past 1 year, were divided into thirty-two subjects of controlled glycemic group (HbA1c< 7%) and thirty-seven subjects of uncontrolled glycemic group (HbA1c >7%). The exclusion criteria were as follows: consumption of drugs which can increase the risk of diabetes and affect the healing of periodontal tissue, and pregnancy. Each group was tested for HbA1c, oral hygiene index (OH-Index), papillary bleeding index (PBI), periodontal pocket depth (PD), gingival recession (GR), and clinical attachment loss (CAL). Those parameters were compared between the two groups. OH-index was further divided into good, moderate, and poor, and periodontal parameters were also compared between those OH-index groups.   Results: There were no significant differences in OH-index, PD, GR, and CAL between the controlled and uncontrolled DM group (p>0,05), but there was significant difference in PBI between the two groups (p<0,05). There was significant difference in periodontal parameter between OH-index groups (p<0,05)   Conclusion: Glycemic control has more effect on reversible inflammatory periodontal parameters compared to irreversible parameters. Poor oral hygiene plays an important role in the etiology of periodontal disease, while type 2 DM only acts as a risk factor. Dental health education plays an important factor in improving periodontal status of diabetic patients. Key Words: Clinical Attachment Loss, Diabetes Mellitus, Gingival Recession, Papillary Bleeding Index, Periodontal Pocket, Periodontitis, OH-index.Pendahuluan: Banyak penelitian menunjukkan peranan diabetes mellitus (DM) terhadap pernyakit periodontal, tetapi masih sedikit yang meneliti pengaruh kontrol glikemik pasien DM terhadap status periodontal, terutama di Indonesia. Dengan menentukan hubungan antara tingkat kebersihan mulut (OH-index) dan status glikemik dengan parameter periodontal pada pasien DM tipe 2, diharapkan bermanfaat dalam menentukan perawatan penyakit DM dan periodontal yang lebih menyeluruh Metode: Penelitian ini merupakan penelitian potong lintang. Sebanyak 36 pasien berusia diatas 30 tahun yang didiagnosa hanya memiliki DM tipe 2 di Rumah Sakit Atma Jaya, Indonesia, tidak mengkonsumsi antibiotik sistemik dan menjalani terapi periodontal 6 bulan terakhir, dan tidak merokok 1 tahun terakhir, dibagi menjadi 32 subjek glikemik terkontrol (HbA1C <7%) dan 37 tidak terkontrol (HbA1C > 7%). Kriteria eksklusi adalah: mengkonsumsi obat-obatan yang dapat meningkatkan risiko diabetes, penyembuhan jaringan periodontal, dan kehamilan. Setiap kelompok diperiksa kadar HbA1c, OH-index, indeks perdarahan papila (PBI), kedalaman poket periodontal (PD), resesi gingiva (GR), dan kehilangan perlekatan klinis (CAL). Kemudian parameter tersebut dibandingkan antara kedua kelompok. OH-index dibagi 3 kelompok menjadi OH baik, sedang, dan buruk, dan parameter periodontal juga dibandingkan diantara ketiga kelompok tersebut.   Hasil: Tidak terdapat perbedaan bermakna antara OH-index, PD, GR, dan CAL antara kelompok glikemik terkontrol dengan tidak terkontrol (p>0,05), tetapi terdapat perbedaan bermakna antara PBI antara kedua kelompok (p<0,05). Terdapat perbedaan parameter periodontal yang bermakna diantara ketiga kelompok OH-index (p<0,05)   Simpulan: Kontrol glikemik lebih berpengaruh terhadap parameter inflamasi periodontal yang reversibel dibandingkan dengan parameter ireversibel, tetapi hal ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Kebersihan mulut yang buruk berperan penting dalam menyebabkan penyakit periodontal, dan kondisi glikemik hanya berperan sebagai faktor yang memperberat. Edukasi mengenai kesehatan gigi merupakan faktor penting dalam meningkatkan status periodontal pasien DM.   Kata Kunci: Diabetes Mellitus, Kehilangan Perlekatan Klinis, OH-Index, Papillary Bleeding Index, Periodontitis, Poket Periodontal, Resesi Gingiva

    THE ROLE OF FORENSIC ENTOMOLOGY IN ESTIMATING THE TIME OF DEATH

    Full text link
    It takes dedication and thoroughness in uncovering the various mysteries behind forensic cases. Various methods will be needed in answering various questions related to these cases, and it is imperative that the evidence or expert testimony is can be accounted for. Over time, some of the evidence, especially human body tissue will undergo a process of degradation and eventually disappear. However, for a forensic entomologist, the damage and loss of body tissue can bring new evidence. Evidence which of course can be justified scientifically at court. Like when alive, the tissues of the human body after death remain attractive to them various types of insects. Different types of insects will be attracted at different stages from the decay stages of human tissue. These insects follow a development patterns. Related to knowledge about growth and development them, it can be used to make an estimate of how long it has been since the body has been dead. In addition, the identification of the above will also indicate whether a corpse has been moved from one area to another

    HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN PERILAKU PENCEGAHAN COVID 19 PADA SISWA/I KELAS IV VI SD XYZ

    Full text link
    Introduction: The coronavirus disease 2019 (COVID-19) pandemic has been a great issue for people throughout Indonesia, including elementary students. Although most confirmed cases of COVID-19 in children are reported as asymptomatic or mild, children infected with SARS-CoV-2 are still prone to complications or worsening. Until now, there is still a lack of research on the relationship between knowledge and prevention practice regarding COVID-19 among elementary students. The purpose of this research is to find out the relationship between knowledge and prevention practice regarding COVID-19 among grade 4-6 students at XYZ Elementary School. Methods: A descriptive analytical research with a cross-sectional study towards 297 grade 4-6 students at XYZ Elementary School. Inclusion criteria include active students of XYZ Elementary School, willing to participate and have gotten permission from teacher/parents/guardian through informed consent. Exclusion criteria include students who are not present during research, do not understand Indonesian and English as well as having mental and emotional disabilities. Data in this research was acquired through a questionnaire. Data analysis was conducted using Chi-square test. Results: Most of the respondents, as many as 194 respondents (65.3%), have a low level of knowledge. Most of the respondents, as many as 141 respondents (47.5%), have good prevention practice regarding COVID-19. Analysis with Chi-square test showed a significant relationship between knowledge and prevention practice regarding COVID-19 (p<0.001). Conclusion: There is a significant relationship between knowledge and prevention practice regarding COVID-19 among grade 4-6 students at XYZ Elementary School. Key Words: COVID-19, elementary students, knowledge, practice, preventionPendahuluan: Pandemi coronavirus disease 2019 (COVID-19) menjadi suatu permasalahan yang berat bagi seluruh masyarakat Indonesia, tidak terkecuali siswa/i SD. Walaupun sebagian besar kasus konfirmasi COVID-19 pada anak dilaporkan sebagai asimtomatik ataupun hanya gejala ringan, namun anak-anak yang terinfeksi SARS-CoV-2 masih rawan untuk menderita komplikasi maupun perkembangan penyakit menjadi lebih berat. Sampai saat ini, masih kurang penelitian mengenai hubungan tingkat pengetahuan dan perilaku pencegahan COVID-19 pada anak-anak siswa/i tingkat SD. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dengan perilaku pencegahan COVID-19 pada siswa/i kelas IV, V dan VI SD XYZ. Metode: Penelitian deskriptif analitik dengan metode potong lintang terhadap 297 siswa/i kelas IV, V dan VI SD XYZ. Kriteria inklusi berupa siswa/i aktif pada SD XYZ, bersedia berpartisipasi dalam penelitian dan sudah mendapatkan izin dari guru/orang tua/wali yang sudah menandatangani informed consent. Kriteria eksklusi berupa siswa/i yang tidak hadir saat penelitian berlangsung, tidak dapat memahami bahasa Indonesia dan bahasa Inggris serta memiliki keterbatasan mental dan emosional. Data penelitian diperoleh melalui kuesioner. Analisis data dilakukan dengan uji Chi-square. Hasil: Sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang kurang yaitu sebanyak 194 responden (65,3%). Perilaku responden dalam pencegahan COVID-19 sebagian besar dalam kategori baik yaitu sebanyak 141 responden (47,5%). Analisis dengan uji Chi-square menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku pencegahan COVID-19 (p<0,001). Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku pencegahan COVID-19 pada siswa/i Kelas IV, V dan VI SD XYZ. Kata Kunci: COVID-19, pencegahan, perilaku, siswa/i SD, tingkat pengetahua

    Hubungan derajat herniasi diskus intervertebralis dengan tipe perubahan endplate modic pada pasien yang menjalani MRI lumbosakral

    Full text link
    Pendahuluan: Nyeri punggung bawah atau low back pain (LBP) adalah gangguan kesehatan yang sering dan memilki dampak sosial ekonomi yang berat. Kurang lebih 40% dari nyeri punggung bawah diakibatkan oleh herniasi diskus. Selain herniasi diskus, perubahan endplate tipe Modic juga telah diasosiasikan dengan kejadian nyeri punggung bawah. Meskipun memiliki insidensi yang relatif tinggi dan sering dihubungkan dengan LBP, hubungan antara perubahan endplate tipe Modic dengan penyebab lain LBP seperti herniasi diskus masih belum diketahui dengan jelas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara derajat herniasi diskus dengan masing-masing tipe perubahan endplate Modic pada pasien yang menjalani pemeriksaan MRI lumbosakral. Metode: Penelitian ini dilakukan dengan desain observasi potong lintang menggunakan data sekunder pada 488 sampel. Derajat herniasi diskus intervertebrais dan tipe perubahan endplate Modic dinilai menggunakan pemeriksaan MRI lumbosakral. Hasil: Derajat herniasi diskus yang paling banyak ditemukan adalah protrusio sebanyak 199 sampel (40,8%) diikuti dengan bulging diskus sebanyak 154 sampel (31,6%). Tipe perubahan Modic yang paling banyak ditemukan pada level terjadinya herniasi diskus adalah perubahan Modic tipe II sebanyak 168 sampel (34,4%). Menggunakan analisa Chi-Square, didapatkan hubungan yang bermakna antara derajat herniasi diskus dengan tipe perubahan Modic dengan nilai p<0,001. Simpulan: Perubahan Modic tipe 1 lebih sering terjadi pada bulging diskus, sedangkan perubahan Modic tipe 2 dan 3 lebih banyak didapatkan pada derajat herniasi yang lebih berat seperti protrusio, ekstrusio dan sekuesterasi.Pendahuluan: Nyeri punggung bawah atau low back pain (LBP) adalah gangguan kesehatan yang sering dan memilki dampak sosial ekonomi yang berat. Kurang lebih 40% dari nyeri punggung bawah diakibatkan oleh herniasi diskus. Selain herniasi diskus, perubahan endplate tipe Modic juga telah diasosiasikan dengan kejadian nyeri punggung bawah. Meskipun memiliki insidensi yang relatif tinggi dan sering dihubungkan dengan LBP, hubungan antara perubahan endplate tipe Modic dengan penyebab lain LBP seperti herniasi diskus masih belum diketahui dengan jelas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara derajat herniasi diskus dengan masing-masing tipe perubahan endplate Modic pada pasien yang menjalani pemeriksaan MRI lumbosakral. Metode: Penelitian ini dilakukan dengan desain observasi potong lintang menggunakan data sekunder pada 488 sampel. Derajat herniasi diskus intervertebrais dan tipe perubahan endplate Modic dinilai menggunakan pemeriksaan MRI lumbosakral. Hasil: Derajat herniasi diskus yang paling banyak ditemukan adalah protrusio sebanyak 199 sampel (40,8%) diikuti dengan bulging diskus sebanyak 154 sampel (31,6%). Tipe perubahan Modic yang paling banyak ditemukan pada level terjadinya herniasi diskus adalah perubahan Modic tipe II sebanyak 168 sampel (34,4%). Menggunakan analisa Chi-Square, didapatkan hubungan yang bermakna antara derajat herniasi diskus dengan tipe perubahan Modic dengan nilai p<0,001. Simpulan: Perubahan Modic tipe 1 lebih sering terjadi pada bulging diskus, sedangkan perubahan Modic tipe 2 dan 3 lebih banyak didapatkan pada derajat herniasi yang lebih berat seperti protrusio, ekstrusio dan sekuesterasi

    Kegunaan Moulage Pasien Simulasi Dalam Pembelajaran Keterampilan Klinis

    No full text
    Introduction: Student’s mastery of clinical skills through simulation is affected by many factors, one of which is fidelity. Clinical skills mastery is expected to be higher if using a higher fidelity simulation method. Simulated patients’ method’s fidelity can be increased by using moulage. This method is relatively new and its effect in clinical skills learning in Indonesia has never been reported before. Thus, the aim of this research is to find out the effect of moulage in simulated patient method for clinical skill learning in skills laboratory setting. Methods: This study was quantitative experimental research using 2 groups post test only design (n = 40 students). Students were divided randomly into the experimental group (with moulage) and control group (without moulage). Assessment was performed using rubric and check list that consist of history taking, physical examination (PE), and proffesionalism component. The result was statistically analyzed using Wilcoxon test. Evaluation of implementation was obtained from students and skill lab instructor.  Results: The PE, professionalism and final score in the experimental group is higher than control group, while the history taking is lower, all scores are not statistically significant (p=1; p=0.37; p=0.32). The score for washing hands after doing PE and identifying the wound correctly is higher in the experimental group. This study finds that moulage encourage student to participate in clinical skills learning just like in the real practice. Conclusion: Moulage gives a positive influence in clinical skills learning, especially in treating the simulated patient just like a real patient. Key Words: simulated patient, simulation method, skills lab, Moulage.Pendahuluan: Tingkat penguasaan keterampilan klinis mahasiswa dengan metode simulasi dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah fidelity. Semakin mirip suatu simulasi dengan situasi nyata, penguasaan keterampilan akan semakin baik. Penggunaan Moulage pada pasien simulasi merupakan salah satu cara untuk meningkatkan fidelity. Metode ini relatif baru dan pengaruhnya pada pembelajaran keterampilan klinis di Indonesia belum pernah dilaporkan. Dengan demikian, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan moulage dalam metode simulasi untuk pembelajaran keterampilan klinis dalam setting skills lab (SL). Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental kuantitatif menggunakan 2 groups post test only design (n = 40 orang). Partisipan dibagi secara acak kedalam 2 kelompok yaitu kelompok perlakuan (dengan moulage) dan kKeelompok kontrol (tanpa moulage). Penilaian dilakukan menggunakan rubrik dan check list penilaian yang terdiri dari komponen anamnesis, Pemeriksaan Fisik (PF), dan profesionalisme. Hasil penilaian diolah secara statistik menggunakan uji Wilcoxon. Evaluasi pelaksanaan dilakukan pada mahasiswa dan instruktur SL. Hasil: Dari hasil penelitian didapat nilai PF, profesionalisme, dan nilai akhir pada kelompok perlakuan lebih tinggi dari kelompok kontrol, sementara nilai anamnesa lebih rendah, semua nilai tersebut secara statistik tidak signifikan (p=0.1; p=0.37; p=0.32). Nilai tindakan mencuci tangan setelah pemeriksaan dan mengidentifikasi luka dengan benar lebih tinggi pada kelompok perlakuan. Penelitian ini membuktikan moulage mendorong mahasiswa untuk berpartisipasi dalam pembelajaran keterampilan klinis seperti dalam praktik nyata. Kesimpulan: Moulage mempunyai pengaruh positif pada pembelajaran keterampilan klinis terutama dalam memperlakukan pasien simulasi seperti pasien yang sebenarnya. Kata Kunci: metode simulasi, Moulage, pasien simulasi, skills lab

    Hubungan adiksi game online dengan keterampilan sosial pada siswa sekolah menengah pertama

    Full text link
    Pendahuluan: Adiksi game online merupakan ketergantungan yang tak terkendali terhadap game online. Keterampilan sosial remaja dengan adiksi game online cenderung sulit untuk berkembang dan akan menyebabkan terhambatnya perkembangan sosial. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan adiksi game online dengan keterampilan sosial pada siswa SMP Tunas Bangsa Greenville. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian analitik potong lintang pada siswa SMP Tunas Bangsa Greenville. Responden mengisi kuesioner demografi, Indonesian Online Game Addiction Questionnaire, dan Matson Evaluation of Social Skills with Youngsters. Analisis data menggunakan uji kai kuadrat. Hasil: Terdapat 73 responden pada penelitian ini, terbanyak berusia 14 tahun, perempuan, dan SMP kelas III. Terdapat 82,2% responden dengan keterampilan sosial normal 60,3% responden dengan adiksi game online. Terdapat 56,2% responden dengan frekuensi bermain game online ≥4 hari/minggu, 65,8% responden bermain ≤4 jam/hari sekolah, 57,5% responden bermain ≤4 jam/hari libur, dan 27,4% responden bermain game online dengan jenis shooting game. Analisis kai kuadrat menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara jenis kelamin (p=0,048), frekuensi bermain game online (p=0,011), durasi bermain game online pada hari libur (p=0,037), dan jenis game online (p=0,036) dengan adiksi game online. Simpulan: Tidak terdapat hubungan bermakna antara adiksi game online dengan keterampilan sosial pada siswa SMP Tunas Bangsa Greenville.Pendahuluan: Adiksi game online merupakan ketergantungan yang tak terkendali terhadap game online. Keterampilan sosial remaja dengan adiksi game online cenderung sulit untuk berkembang dan akan menyebabkan terhambatnya perkembangan sosial. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan adiksi game online dengan keterampilan sosial pada siswa SMP Tunas Bangsa Greenville. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian analitik potong lintang pada siswa SMP Tunas Bangsa Greenville. Responden mengisi kuesioner demografi, Indonesian Online Game Addiction Questionnaire, dan Matson Evaluation of Social Skills with Youngsters. Analisis data menggunakan uji kai kuadrat. Hasil: Terdapat 73 responden pada penelitian ini, terbanyak berusia 14 tahun, perempuan, dan SMP kelas III. Terdapat 82,2% responden dengan keterampilan sosial normal 60,3% responden dengan adiksi game online. Terdapat 56,2% responden dengan frekuensi bermain game online ≥4 hari/minggu, 65,8% responden bermain ≤4 jam/hari sekolah, 57,5% responden bermain ≤4 jam/hari libur, dan 27,4% responden bermain game online dengan jenis shooting game. Analisis kai kuadrat menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara jenis kelamin (p=0,048), frekuensi bermain game online (p=0,011), durasi bermain game online pada hari libur (p=0,037), dan jenis game online (p=0,036) dengan adiksi game online. Simpulan: Tidak terdapat hubungan bermakna antara adiksi game online dengan keterampilan sosial pada siswa SMP Tunas Bangsa Greenville

    112

    full texts

    169

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Damianus Journal of Medicine
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇