Damianus Journal of Medicine
Not a member yet
    169 research outputs found

    Identifikasi dan Manajemen pada Nyeri Sentral Paska Stroke

    Full text link
    Pendahuluan: Nyeri sentral pascastroke (NSPS) merupakan nyeri neuropatik sentral yang timbul setelah terjadinya stroke. Kondisi ini ditemukan pada 1-12% dari penderita stroke dan umumnya terjadi dalam 6 bulan pertama setelah terjadinya stroke. Nyeri yang ditimbulkan pada NSPS dapat mengakibatkan penurunan kualitas hidup, menghambat proses rehabilitasi, serta menimbulkan keterbatasan aktivitas dan interaksi sosial. Tujuan: Sebagai bahan pembelajaran yang membahas mengenai diagnosis, manifestasi klinis, patofisiologi hingga tatalaksana dari NSPS. Metode: Penulisan artikel ini menggunakan metode tinjauan naratif sebagai bagian dari studi literatur. Diskusi: Pasien dengan NSPS datang dengan gejala sensoris yang bervariasi mulai dari sensasi terbakar, tertikam, hingga tersengat listrik. Adanya alodinia, disestesia dan hiperalgesia merupakan manifestasi tersering yang ditemukan pada penderita NSPS. Patofisiologi dari NSPS masih belum diketahui secara pasti, namun dikatakan adanya disinhibisi, sensitisasi sentral dan kerusakan pada jalur spinotalamikus dan talamus turut berperan dalam NSPS. Pendekatan tatalaksana pada NSPS dapat berupa terapi farmakologis maupun non farmakologis. Golongan antikonvulsan seperti gabapentin dan pregabalin, serta antidepresan seperti amitriptilin saat ini masih direkomendasikan sebagai terapi lini pertama. Sedangkan pada kasus NSPS yang refrakter, dapat digunakan terapi non farmakologis seperti deep brain stimulation dan motor cortex stimulation (MCS). Peripheral nerve block dalam beberapa laporan kasus juga memperlihatkan hasil yang menjanjikan, namun hal ini perlu ditelusuri lebih lanjut. Kata Kunci: nyeri neuropatik, nyeri sentral, nyeri sentral pascastroke, stroke.Pendahuluan: Nyeri sentral paska stroke (NSPS) merupakan nyeri neuropatik sentral yang timbul setelah terjadinya stroke. Kondisi ini ditemukan pada 1-12% dari penderita stroke dan umumnya terjadi dalam 6 bulan pertama setelah terjadinya stroke. Nyeri yang ditimbulkan pada NSPS dapat mengakibatkan penurunan kualitas hidup, menghambat proses rehabilitasi, serta menimbulkan keterbatasan aktivitas dan interaksi sosial. Tujuan: Sebagai bahan pembelajaran yang membahas mengenai diagnosis, manifestasi klinis, patofisiologi hingga tatalaksana dari NSPS. Metode: Penulisan artikel ini menggunakan metode tinjauan naratif sebagai bagian dari studi literatur. Diskusi: Pasien dengan NSPS datang dengan gejala sensoris yang bervariasi mulai dari sensasi terbakar, tertikam, hingga tersengat listrik. Adanya allodinia, disestesia dan hiperalgesia merupakan manifestasi tersering yang ditemukan pada penderita NSPS. Patofisiologi dari NSPS masih belum diketahui secara pasti, namun dikatakan adanya disinhibisi, sensitisasi sentral dan kerusakan pada jalur spinothalamikus dan thalamus turut berperan dalam NSPS. Pendekatan tatalaksana pada NSPS dapat berupa terapi farmakologis maupun non farmakologis. Golongan antikonvulsan seperti gabapentin dan pregabalin, serta antidepresan seperti amitriptilin saat ini masih direkomendasikan sebagai terapi lini pertama. Sedangkan pada kasus NSPS yang refrakter, dapat digunakan terapi non farmakologis seperti deep brain stimulation dan motor cortex stimulation (MCS). Peripheral nerve block dalam beberapa laporan kasus juga memperlihatkan hasil yang menjanjikan, namun hal ini perlu ditelusuri lebih lanjut

    Perbandingan pemeriksaan kadar glukosa darah mandiri dengan uji laboratorium menggunakan metode baku emas

    No full text
    Pendahuluan: Ketersediaan point of care testing (POCT) glukosa darah saat ini dipakai secara luas untuk melakukan pemantauan glukosa darah mandiri (PGDM) bagi pasien diabetes. Saat ini berbagai pilihan alat POCT menggunakan metode glukosa dehidrogenase sudah tersedia. Penelitian ini berupaya membandingkan berbagai alat POCT dengan pemeriksaan laboratorium secara spektrofotometri menggunakan metode heksokinase yang merupakan baku emas dari pemeriksaan glukosa darah. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian potong lintang dengan subjek penelitian berupa populasi dewasa muda laki laki dan perempuan dengan rentang usia 18-21 tahun dengan jumlah 97 sampel, dengan kriteria eksklusi sedang sakit berat, terdapat luka pada lokasi pengambilan darah, memiliki riwayat gangguan pembekuan darah, dan hasil pemeriksaan glukosa darah sewaktu >200 mg. Sampel yang diambil berupa darah kapiler yang langsung akan diujikan pada alat POCT dan sampel darah vena yang akan diuji menggunakan metode heksokinase. Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan STATA versi 14.0. Data yang diperoleh akan dianalisis menggunakan Bland-Altman plot. Hasil: Didapatkan hasil glukosa darah POCT menggunakan alat Accu-chek® Performa dan Accu-chek® Instant memiliki rerata perbedaan dengan metode heksokinase yang bernilai negatif, sedangkan untuk GlucoDr.™Auto memiliki rerata perbedaan yang lebih mendekati angka nol dibandingkan dengan alat Accu-chek® Performa dan Accu-chek® Instant. Simpulan: Metode POCT dapat membantu dalam pemantauan glukosa darah pasien,namun tidak dapat menggantikan metode heksokinase.  ABSTRAK Pendahuluan: Ketersediaan point of care testing (POCT) saat ini dipakai secara luas untuk melakukan pemantauan glukosa darah mandiri (PGDM) bagi pada pasien diabetes. Berbagai pilihan alat POCT meggunakan metode glukosa dehidrogenase sudah tersedia saat ini. Penelitian ini berupaya membandingkan berbagai alat POCT dengan metode heksokinase yang merupakan baku emas dari pemeriksaan glukosa darah. Metode: Subjek penelitian merupakan subjek dewasa muda dengan rentang usia 18-21 tahun, dengan kriteria eksklusi sedang sakit berat, terdapat luka pada lokasi pengambilan darah, memiliki riwayat gangguan pembekuan darah, dan hasil pemeriksaan glukosa darah >200 mg. Pengambilan sampel dilakukan secara potong lintang. Sampel yang akan diambil berupa darah kapiler yang langsung akan diujikan pada alat POCT dan sampel darah vena yang akan diuji menggunakan metode heksokinase. Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan STATA versi 14.0. Data yang diperoleh akan dianalisis menggunakan Bland-Altman plot. Hasil: Didapatkan hasil glukosa darah POCT alat AccuChek Performa dan AccuChek Instant memiliki rerata perbedaan yang bernilai negatif dan untuk GlucoDrAuto memiliki rerata perbedaan yang lebih mendekati angka nol dibandingkan dengan alat AccuChek Performa dan AccuChek Instant. Simpulan: Metode POCT dapat membantu dalam pemantauan glukosa darah pasien, tidak dapat menggantikan metode heksokinase. &nbsp

    Pengaruh Variasi Ukuran Partikel pada Ekstraksi Biji Alpukat (Persea americana Mill.) Terhadap Penurunan Kadar Trigliserida Pada Tikus Hiperlipidemia

    No full text
    Pendahuluan:  Biji buah alpukat memiliki zat aktif yang dapat menurunkan kadar trigliserida.  Pemanfaatan biji buah alpukat sebagai obat penurun kadar trigliserida masih memiliki potensial yang perlu dikembangkan untuk menjadi salah obat herbal yang alternatif. Metode: Penelitian eksperimental dilakukan terhadap tikus Sprague Dawley, tikus diberikan sediaan propylthiouracil (PTU) selama 14 hari untuk mencapai kondisi hiperlipidemia yang dibagi ke dalam 2 kelompok intervensi. Kelompok pertama diberikan ekstrak biji alpukat yang diekstraksi dengan metode remaserasi dari biji alpukat yang digerus selama 15 menit dan kelompok kedua digerus selama 30 menit. Ukuran partikel didapatkan dari rata-rata diameter 10 partikel biji alpukat secara acak dari setiap variasi waktu penggerusan. Kadar trigliserida dalam darah tikus diukur setelah 14 hari pemberian PTU dan diukur lagi setelah 7 hari, dan 14 hari pemberian ekstrak biji alpukat. Analisis data menggunakan uji paired t-test dan unpaired t-test. Hasil: Rata-rata ukuran partikel biji alpukat pada kelompok 1 sebesar 27,03 µm dan kelompok 2 sebesar 13,50 µm Pemberian ekstrak biji alpukat mampu menurunkan kadar trigliserida secara signifikan dari hari 0-7, hari 0-14, dan hari 7-14 pada kelompok 1 (p<0,05). Hal yang sama ditemukan pada kelompok 2 (p<0,05) selain dari hari 7-14 (p>0,05). Tidak ditemukan perbedaan yang signifikan dalam penurunan trigliserida pada kelompok pertama dan kedua (p>0,05). Simpulan: Pemberian ekstrak biji alpukat dapat menurunkan kadar trigliserida pada tikus. Perbedaan waktu penggerusan dan ukuran biji alpukat yang diekstraksi tidak memengaruhi efektivitas dalam penurunan kadar trigliserida.  Background: Avocado seed (Persea americana Mill.) which is usually thrown away after avocado fruit consumption, contains active compounds that can lower blood triglyceride level. Utilization of avocado seed as a medication to lower triglyceride has potentials that still needs to be discovered before it can be used as an alternative herbal medicine. Objectives: The purpose of this research is to find out the effect of avocado seed’s particle size variation during extraction on the extract effectiveness in lowering blood triglyceride level. Methods: This is an experimental research which is done on Sprague Dawley rats. The rats are propylthiouracil (PTU) for 14 days to reach hyperlipidemic state. The hyperlipidemic rats are divided into 2 groups of intervention. The first group receives avocado seed extract which was extracted from avocado seeds that had been milled for 15 minutes. The second group receives avocado seed extract which was extracted from avocado seeds that had been milled for 30 minutes. Particle size is determined by the average diameter of 10 random avocado seed particle in each group. The avocado seed particle is extracted using remaceration method. Avocado seed extract is given for 14 days with a daily dose of 250 mg/kgBW. Triglyceride level in the rats’ blood is measured after PTU has been given for 14 days and is measured again after 7 days, and 14 days of avocodo seed extract intervention. Unpaired T-test and Paired T-test are used to analyze the data. Results: The average particle size of avocado seed in the second group avocado seed’s extraction  the second group is 13.50 µm. Avocado seed extract lowers blood triglyceride level on hyperlipidemic rats from day 0-7, day 0-14 and day 7-14 in the first group (p<0.05). The findings in the second group are similar (p<0.05), except for day 7-14 (p>0.05). There is no significant difference in the decrease of blood triglyceride level between the first group and the second group (p>0.05). Conclusions: Avocado seed extract can lower the level of blood triglyceride in rats. The variation of avocado seed’s particle size on its extraction has no effect on the decrease of blood triglyceride. &nbsp

    Prediksi Toksisitas In Silico Senyawa Bioaktif Daun Kemangi (Ocimum sanctum L.)

    Full text link
    Pendahuluan: Ocimum sanctum L. (daun kemangi) banyak ditemukan dan sering digunakan sebagai bahan makanan di Indonesia. Senyawa flavonoid merupakan kelompok senyawa kimia yang banyak terkandung dalam Ocimum sanctum L. Senyawa ini dikenal dengan aktivitas biologisnya yang beragam, antara lain antibakteri, antimikroba, antiinflamasi, antimalaria, dan antikanker. Pada penelitian ini, kami bertujuan untuk menyelidiki penyerapan, distribusi, metabolisme, ekskresi, dan toksisitas (the absorption, distribution, metabolism, excretion, and toxicity/ADMET) senyawa flavonoid dalam Ocimum sanctum L. Metode: Dalam mencapai tujuan penelitian, prediksi properti ADMET senyawa flavonoid pada Ocimum sanctum L. dilakukan menggunakan tiga web server yang terdiri dari SwissADME, pkCSM, dan ProTox-II. Parameter yang diamati dibagi menjadi parameter ADMET. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa senyawa flavonoid dalam Ocimum sanctum L. memiliki median lethal dose (LD50) yang berkisar antara 2000 mg/kg hingga 5600 mg/kg, dengan klasifikasi kelas toksisitas IV, V, dan VI. Selain itu, senyawa flavonoid ini menunjukkan imunotoksisitas, sitotoksisitas, dan dampak pada Mitochondrial Membrane Potential (MMP). Simpulan: Penelitian kami menunjukkan bahwa senyawa metabolik yang berasal dari Ocimum sanctum L. dianggap aman.Pendahuluan: Ocimum sanctum L. (daun kemangi) banyak ditemukan dan sering digunakan sebagai bahan makanan di Indonesia. Senyawa flavonoid merupakan kelompok senyawa kimia yang banyak terkandung dalam Ocimum sanctum L. Senyawa ini dikenal dengan aktivitas biologisnya yang beragam, antara lain antibakteri, antimikroba, antiinflamasi, antimalaria, dan antikanker. Pada penelitian ini, kami bertujuan untuk menyelidiki penyerapan, distribusi, metabolisme, ekskresi, dan toksisitas (the absorption, distribution, metabolism, excretion, and toxicity/ADMET) senyawa flavonoid dalam Ocimum sanctum L. Metode: Dalam mencapai tujuan penelitian, prediksi properti ADMET senyawa flavonoid pada Ocimum sanctum L. dilakukan menggunakan tiga web server yang terdiri dari SwissADME, pkCSM, dan ProTox-II. Parameter yang diamati dibagi menjadi parameter ADMET. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa senyawa flavonoid dalam Ocimum sanctum L. memiliki median lethal dose (LD50) yang berkisar antara 2000 mg/kg hingga 5600 mg/kg, dengan klasifikasi kelas toksisitas IV, V, dan VI. Selain itu, senyawa flavonoid ini menunjukkan imunotoksisitas, sitotoksisitas, dan dampak pada Mitochondrial Membrane Potential (MMP). Simpulan: Penelitian kami menunjukkan bahwa senyawa metabolik yang berasal dari Ocimum sanctum L. dianggap aman

    The Hubungan Antara Dukungan Sosial Dan Empati Mahasiswa Tahun Pertama Fakultas Kedokteran Unika Atma Jaya

    No full text
    Pendahuluan: Empati dalam perawatan pasien merupakan salah satu komponen dalam membangun hubungan dokter-pasien yang baik. Salah satu faktor yang terlibat dalam kejadian penurunan empati adalah masalah dukungan sosial. Dukungan sosial adalah pemberian bantuan atau kenyamanan kepada orang lain. Dukungan sosial yang rendah dapat menyebabkan tingkat empati yang rendah, karena dukungan sosial yang rendah terkait erat dengan stres dan, pada gilirannya, stres dikaitkan dengan tingkat empati yang rendah. Metode: Penelitian potong lintang ini dilaksanakan pada tahun 2021. Subjek penelitian ini adalah 98 mahasiswa tahun pertama Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Indonesia Unika Atma Jaya (FKIK UAJ). Empati dinilai dengan kuesioner JSPE, sedangkan dukungan sosial dinilai dengan kuesioner MSPSS. Hasil: Rerata skor empati mahasiswa FKIK UAJ angkatan 2020 adalah 102,2 sedangkan rerata skor dukungan sosial adalah 5,7. Tidak ada perbedaan rerata skor empati yang bermakna berdasarkan jenis kelamin (p=0,555), tempat tinggal (p=0,084), dan preferensi spesialis (p=0,665). Tidak terdapat korelasi antara dukungan sosial dengan empati (p=0,893). Simpulan: Mahasiswa FKIK UAJ angkatan 2020 menerima dukungan sosial yang tinggi tetapi memiliki rasa empati yang rendah. Tidak terdapat hubungan antara dukungan sosial dan empati, sehingga mahasiswa yang menerima dukungan sosial belum tentu memiliki rasa empati yang tinggi juga. Penelitian yang sama di masa yang akan datang sebaiknya dilakukan kembali pada mahasiswa angkatan 2020 saat mereka sudah menerima pelajaran humaniora dan filsafat untuk melihat perbedaan skor empati yang dimiliki mahasiswa sebelum dan sesudah menerima pelajaran tersebut.Pendahuluan. Empati dalam perawatan pasien merupakan salah satu komponen dalam membangun hubungan dokter-pasien yang baik. Salah satu faktor yang terlibat dalam kejadian penurunan empati adalah masalah dukungan sosial. Dukungan sosial adalah pemberian bantuan atau kenyamanan kepada orang lain. Dukungan sosial yang rendah dapat menyebabkan tingkat empati yang rendah, karena dukungan sosial yang rendah terkait erat dengan stres dan, pada gilirannya, stres dikaitkan dengan tingkat empati yang rendah. Metode. Penelitian cross-sectional ini dilaksanakan pada tahun 2021. Subjek penelitian ini adalah 98 mahasiswa tahun pertama FK Unika Atma Jaya. Empati dinilai dengan kuesioner JSPE, sedangkan dukungan sosial dinilai dengan kuesioner MSPSS. Hasil. Rerata skor empati mahasiswa FK Unika Atma Jaya angkatan 2020 adalah 102,2 sedangkan rerata skor dukungan sosial adalah 5,7. Tidak ada perbedaan rerata skor empati yang bermakna berdasarkan jenis kelamin (p=0,555), tempat tinggal (p=0,084), dan preferensi spesialis (p=0,665). Tidak terdapat korelasi antara dukungan sosial dengan empati (p=0,893). Kesimpulan. Mahasiswa FK Unika Atma Jaya angkatan 2020 menerima dukungan sosial yang tinggi tetapi memiliki rasa empati yang rendah. Tidak terdapat hubungan antara dukungan sosial dan empati, sehingga mahasiswa yang menerima dukungan sosial belum tentu memiliki rasa empati yang tinggi juga. Penelitian yang sama di masa yang akan datang sebaiknya dilakukan kembali pada mahasiswa angkatan 2020 saat mereka sudah menerima pelajaran humaniora dan filsafat untuk melihat perbedaan skor empati yang dimiliki mahasiswa sebelum dan sesudah menerima pelajaran tersebut

    Hubungan Karakteristik dan Tingkat Pengetahuan Masyarakat Desa Welahan Wetan Tentang Penggunaan Vitamin C Sebagai Pencegah COVID-19

    Full text link
    Pendahuluan: Coronavirus disease (COVID-19) telah menyebar sangat cepat dan luas sehingga menginfeksi setiap negara di seluruh dunia dan akibatnya pandemik global berlangsung sampai sekarang. Tindakan pencegahan COVID-19 ini di antaranya ialah memberi edukasi serta sosialisasi untuk masyarakat agar mematuhi protokol kesehatan dan meningkatkan daya tahan tubuh atau sistem imun. Banyak hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan sistem imun, salah satunya dengan mengonsumsi vitamin C. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif dengan metode survei yang dalam teknik pengambilan sampelnya menggunakan purposive sampling, untuk mengumpulkan data menggunakan alat bantu kuesioner. Hasil: Hasil analisis univariat didapatkan bahwa tingkat pengetahuan reponden dalam kategori baik sebesar 53,79%. Kategori cukup sebesar 29,65% dan kategori kurang sebesar 16,55%. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat korelasi antara usia dengan tingkat pengetahuan masyarakat Desa Welahan Wetan tentang penggunaan vitamin C sebagai pencegahan COVID-19 (p=0,036), tidak terdapat korelasi antara jenis kelamin dengan tingkat pengetahuan masyarakat Desa Welahan Wetan tentang penggunaan vitamin C sebagai pencegahan COVID-19 (p=0,873), terdapat korelasi antara pendidikan dengan tingkat pengetahuan masyarakat desa Welahan tentang penggunaan vitamin C sebagai pencegahan COVID-19 (p=0,016). Simpulan: Terdapat hubungan antara karakteristik usia dan pendidikan dengan tingkat pengetahuan masyarakat Desa Welahan Wetan tentang penggunaan vitamin C sebagai pencegahan COVID-19 dan tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan tingkat pengetahuan masyarakat Desa Welahan Wetan mengenai penggunaan vitamin C sebagai pencegahan COVID-19.Pendahuluan: Virus corona atau COVID-19 telah menyebar sangat cepat serta luas sehingga menginfeksi setiap negara diseluruh dunia dan akibatnya pandemic global berlangsung sampai sekarang. Tidakan pecegahan COVID-19 ini diantaranya ialah memberi edukasi serta sosialisasi untuk masyarakat agar mematuhi protokol kesehatan dan meningkatkan daya tahan tubuh atau sistem imun. Banyak hal yang dapat di lakukan untuk meningkatkan sistem imun, salah satunya dengan megkonsumsi vitamin C. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif dengan metode survei yang dalam teknik pengambilan sampelnya menggunakan sampling kuota, untuk mengumpulkan data menggunakan alat bantu kuesioner. Hasil: Hasil analisis univariat didapatkan bahwa tingkat pengetahuan reponden dalam kategori baik sebesar 53,79%. Kategori cukup sebesar 29,65% dan kategori kurang sebesar 16,55%. Hasil analisis bivariat didapatkan bahwa terdapat hubungan antara usia dengan tingkat pengetahuan masyarakat desa welahan tentang penggunaan vitamin C sebagai pencegah COVID-19 (p = 0,036), tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan tingkat pengetahuan masyarakat desa welahan tentang penggunaan vitamin C sebagai pencegah COVID-19 (p = 0,873), terdapat hubungan pendidikan dengan tingkat pengetahuan masyarakat desa welahan tentang penggunaan vitamin C sebagai pencegah COVID-19 (p = 0,016). Simpulan: Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan antara karakteristik usia dan pendidikan dengan tingkat pengetahuan masyarakat desa welahan tentang penggunaan vitamin C sebagai pencegah COVID-19 dan tidak terdapat hubungan jenis kelamin dengan tingkat pengetahuan masyarakat desa welahan tentang penggunaan vitamin C sebagai pencegah COVID-19

    Kerawanan Pangan Rumah Tangga Dikaitkan Dengan Lingkar Lengan Atas (LILA) Ibu di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur : Studi Crossectional

    No full text
    Pendahuluan: Kerawanan pangan dan malnutrisi terkait mengakibatkan masalah kesehatan yang serius di negara berkembang. Penelitian ini menentukan status gizi ibu dengan indeks lingkar lengan atas dan hubungannya dengan kerawanan pangan di Kabupaten Kupang. Metode: Penelitian ini adalah studi potong-lintang komparatif berbasis masyarakat yang dilakukan pada 15 Maret - 21 Juni 2021. Multistage random sampling digunakan untuk memilih 1.600 sampel. Skala akses ketahanan pangan yang dikembangkan oleh FAO digunakan untuk mengukur ketahanan pangan. Data sosiodemografi dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner terstruktur. Model regresi logistik binier digunakan untuk menilai hubungan kerawanan pangan dan status gizi ibu. Hasil: 96% dari total peserta, perbandingan gizi kurang ibu di dua wilayah studi mengungkapkan 8,8% (95% CI 7,6%-10,2%) di daerah perkotaan dan 16,4% (95% CI 14,8%-18,1%) di daerah perdesaan yang kurang gizi. Kerawanan pangan yang parah secara signifikan terkait dengan LILA ibu (odds ratio yang disesuaikan/adjusted odds ratio [AOR] 3,6 dan 2,31, 95% CI 2,32-5,57 dan 1,52-3,5, masing-masing) di daerah perkotaan dan daerah perdesaan. Kerawanan pangan ringan (AOR 1,77, 95% CI 1,21-2,6) dan sedang (AOR 1,6, 95% CI 1,18-2,16) berhubungan signifikan dengan gizi kurang ibu di daerah perdesaan. Demikian pula, semua bentuk kerawanan pangan berhubungan signifikan dengan lingkar lengan atas ibu baik di wilayah perkotaan maupun perdesaan. Simpulan: Kerawanan pangan berhubungan signifikan dengan lingkar lengan atas di wilayah penelitian. Kewenangan ibu rumah tangga juga berhubungan signifikan dengan LILA Ibu.ABSTRAK  Pendahuluan: Kerawanan pangan dan malnutrisi terkait mengakibatkan masalah kesehatan yang serius di negara berkembang. Penelitian ini menentukan status gizi ibu dengan indeks lingkar lengan atas dan hubungannya dengan kerawanan pangan di Kabupaten Kupang. Metode: Penelitian Ini adalah studi cross-sectional komparatif berbasis masyarakat yang dilakukan pada 15 Maret - 21 Juni 2021. Multistage random sampling digunakan untuk memilih 1.600 sampel. Skala akses ketahanan pangan yang dikembangkan oleh FAO digunakan untuk mengukur ketahanan pangan. Data sosiodemografi dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner terstruktur. Model regresi logistik binier digunakan untuk menilai hubungan kerawanan pangan dan status gizi ibu. Hasil: 96% dari total peserta, Perbandingan gizi kurang ibu di dua wilayah studi mengungkapkan 8,8% (95% CI 7,6%-10,2%) di daerah perkotaan dan 16,4% (95% CI 14,8%-18,1%) di daerah perdesaan yang kurang gizi. Kerawanan pangan yang parah secara signifikan terkait dengan LILA ibu (rasio odds yang disesuaikan [AOR] 3,6 dan 2,31, 95% CI 2,32-5,57 dan 1,52-3,5, masing-masing) di daerah perkotaan dan daerah perdesaan. Kerawanan pangan ringan (AOR 1,77, 95% CI 1,21-2,6) dan sedang (AOR 1,6, 95% CI 1,18-2,16) berhubungan signifikan dengan gizi kurang ibu di daerah perdesaan. Demikian pula, semua bentuk kerawanan pangan berhubungan signifikan dengan lingkar lengan atas ibu baik di wilayah perkotaan maupun perdesaan. Simpulan: Kerawanan pangan berhubungan signifikan dengan lingkar lengan atas di wilayah penelitian. Kewenangan ibu rumah tangga juga berhubungan signifikan dengan LILA Ibu. Program intervensi gizi ibu harus fokus pada strategi pemberdayaan perempuan yang memungkinkan mereka untuk memutuskan pendapatan keluarga digunakan untuk penyediaan gizi rumah tangga.  Kata Kunci: kerawanan pangan, LILA, ketahanan pangan, status gizi ib

    Hubungan adiksi game online dengan self-esteem dan psikopatologi pada siswa menengah pertama di Jakarta Utara

    Full text link
    Pendahuluan: Adiksi game online merupakan gangguan perilaku bermain game online yang tidak terkontrol. Dampak negatif yang dapat terjadi akibat bermain game online antara lain gangguan mental dan self esteem rendah. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara adiksi game online dengan self esteem dan psikopatologi pada siswa sekolah menengah pertama (SMP). Metode: Penelitian potong lintang dengan pengambilan sampel berurutan dilakukan pada 1.474 siswa SMP dengan mengisi kuesioner adiksi Game Online Indonesia (IOGAQ), SCL-90, dan Rosenberg’s Self Esteem Scale. Kriteria inklusi adalah semua siswa SMP kelas I sampai kelas III di Kelurahan Penjaringan, Jakarta Utara. Kriteria eksklusi adalah siswa yang tidak bersedia menandatangani persetujuan sebagai responden. Uji bivariat dilakukan untuk menganalisis data. Hasil: Dari 1.474 siswa didapatkan 90,1% laki-laki dan 79,1% perempuan dengan adiksi game online dan terbanyak pada siswa kelas I SMP (87,3%). Adiksi game online lebih banyak dilakukan dengan frekuensi bermain game online ≥4 hari/minggu (95%), durasi bermain game online pada hari sekolah (95,5%) atau hari libur (94,2%) adalah >4 jam/hari. Jenis game online yang sering digunakan adalah shooting (92,4%) dan jenis perangkat yang banyak digunakan adalah portable (88,2%).Terdapat 84% responden dengan adiksi game   online dengan self-esteem rendah dan 83,8% dengan ada psikopatologi. Analisis bivariat menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara adiksi game online dengan self esteem dan psikopatologi (p≥0,05). Simpulan: Tidak terdapat hubungan bermakna antara adiksi game online dengan self-esteem dan psikopatologi. Namun, bermain game online tetap harus bijaksana guna menghindari dampak negatif lainnya yang dapat ditimbulkan. Kata Kunci: adiksi, game online, psikopatologi, self-esteem

    Hubungan Strategi Koping dengan Stres dan Kualitas Tidur pada Mahasiswa Kedokteran

    Full text link
    Pendahuluan: Stres dan kualitas tidur yang buruk di kalangan mahasiswa kedokteran lebih tinggi dibandingkan dengan mahasiswa prodi lainnya. Hal ini perlu dikelola dengan strategi koping yang tepat. Penggunaan strategi koping yang tidak tepat akan berdampak negatif pada kesehatan baik secara fisik maupun mental dan prestasi akademik. Para mahasiswa, khususnya mahasiswa kedokteran, perlu mengetahui cara koping yang tepat untuk mengatasi stres sehingga dapat memiliki kualitas tidur yang lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk  mengetahui hubungan strategi koping dengan stres dan kualitas tidur pada mahasiswa FKIK UAJ angkatan 2018-2020. Metode: Studi potong-lintang dilakukan kepada 189 mahasiswa kedokteran FKIK UAJ angkatan 2018-2020 yang tidak memiliki gangguan tidur. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner Depression Anxiety Stress Scale (DASS-42), BRIEF COPE, dan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Analisis data dilakukan dengan uji korelasi Spearman dan regresi logistik. Hasil: Terdapat 22,2% mahasiswa kedokteran yang mengalami stres dan 43,9% mahasiswa kedokteran yang mengalami kualitas tidur yang buruk. Emotion-focused coping merupakan strategi koping yang sering digunakan oleh mahasiswa kedokteran di FKIK UAJ. Terdapat hubungan yang signifikan antara stres dengan kualitas tidur (r=0,48, p<0,001), stres dengan dysfunctional coping (r=0,44, p<0,001), dysfunctional coping dengan kualitas tidur (r=0,29, p<0,001). Melihat efek strategi koping dan stres terhadap kualitas tidur menggunakan regresi logistik dengan model signifikan secara statistik (x2(184)=38,59, p<0,001). Didapatkan hasil bahwa meningkatnya stres (OR=1,10, p<0,001) dan penggunaan dysfunctional coping (OR=1,12, p<0,05) dikaitkan dengan peningkatan kemungkinan kualitas tidur yang buruk. Simpulan: Tingkat keparahan stres memiliki hubungan dengan kualitas tidur. Stres dan dysfunctional coping menjadi prediktor untuk kualitas tidur yang buruk.Latar Belakang: Stres dan kualitas tidur yang buruk dikalangan mahasiswa kedokteran lebih tinggi dibandingkan dengan mahasiswa prodi lainnnya. Hal ini perlu dikelola dengan strategi koping yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara strategi koping dengan stres dan kualitas tidur pada mahasiswa prodi sarjana kedokteran angkatan 2018-2020 FKIK-UAJ. Tujuan: Mengetahui hubungan strategi koping dengan stres dan kualitas tidur. Metode: Studi cross-sectional dilakukan kepada 189 mahasiswa kedokteran FKIK-UAJ angkatan 2018-2020 yang tidak memiliki gangguan tidur. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner Depression Anxiety Stress Scale (DASS-42), BRIEF COPE, dan The Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Analisis data dilakukan dengan uji korelasi Spearman dan Regresi Logistik. Hasil: Terdapat 22,2% mahasiswa kedokteran yang mengalami stres dan 43,9% mahasiswa kedokteran yang mengalami kualitas tidur yang buruk. Emotion Focused coping merupakan strategi koping yang sering digunakan oleh mahasiswa kedokteran di FKIKUAJ. Terdapat hubungan yang signifikan antara stres dengan kualitas tidur (r = 0,48, p < 0,001), stres dengan dysfunctional coping (r = 0,44, p < 0,001), dysfunctional coping dengan kualitas tidur (r = 0, 29, p < 0,001). Melihat efek strategi koping dan stres terhadap kualitas tidur menggunakan regresi logistik dengan model signifikan secara statistik, (x2 (184) = 38,59, p<0,001). Didapatkan hasil bahwa meningkatnya stres (OR = 1,10, p < 0,001) dan penggunaan dysfunctional coping (OR = 1,12, p < 0,05) dikaitkan dengan peningkatan kemungkinan kualitas tidur yang buruk. Kesimpulan: Tingkat keparahan stres memengaruhi kualitas tidur. Stres dan dysfunctional coping menjadi prediktor untuk kualitas tidur yang buruk. Kata Kunci: Mahasiswa kedokteran; stres; strategi koping; kualitas tidu

    Hubungan Konsumsi Kafein Dengan Gangguan Tidur Pada Mahasiswa Preklinik FKIK UAJ

    No full text
    Pendahuluan: Gangguan tidur adalah beberapa kondisi yang mengganggu pola tidur normal dan dapat terjadi pada semua orang termasuk mahasiswa Kedokteran. Gangguan tidur dapat menyebabkan penurunan fungsi kognitif, penurunan kemampuan bekerja dan penurunan performa akademik. Namun mahasiswa mengonsumsi kafein untuk meningkatkan performa dalam belajar maupun bekerja. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara konsumsi kafein dengan gangguan tidur pada mahasiswa preklinik Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya (FKIK UAJ). Metode: Penelitian deskriptif analitik dengan metode potong lintang terhadap 386 mahasiswa preklinik FKIK UAJ. Kriteria inklusi berupa mahasiswa preklinik yang masih aktif di FKIK UAJ, bersedia berpartisipasi dalam penelitian ini dan mengisi kuesioner dengan lengkap. Kriteria eksklusi berupa mahasiswa yang memiliki kondisi kesehatan fisik tertentu yang menyebabkan gangguan tidur, mahasiswa yang memiliki gangguan kecemasan yang mengganggu tidur, dan konsumsi kafein >400mg. Gangguan tidur diukur menggunakan kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) dan konsumsi kafein diukur menggunakan modified Caffeine Consumption Questionnaire (CCQ). Analisis data dilakukan dengan uji chi-square. Hasil: Berdasarkan 386 responden, terdapat 21,5% yang mengalami gangguan tidur dan 43,52% yang mengonsumsi kafein. Hasil analisis dengan uji chi-square menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara konsumsi kafein dengan gangguan tidur (p<0,05). Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi kafein dengan gangguan tidur pada mahasiswa preklinik FKIK UAJ.Pendahuluan: Gangguan tidur adalah beberapa kondisi yang menggangu pola tidur normal dan dapat terjadi pada semua orang termasuk mahasiswa Kedokteran. Gangguan tidur dapat menyebabkan penurunan fungsi kognitif, penurunan kemampuan bekerja dan penurunan performa akademik. Namun mahasiswa mengonsumsi kafein untuk meningkatkan performa dalam belajar maupun bekerja. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara konsumsi kafein dengan gangguan tidur pada mahasiswa preklinik Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya. Metode: Penelitian deskriptif analitik dengan metode potong lintang terhadap 386 mahasiswa preklinik Fakultas Kedokteran Atma Jaya. Kriteria inklusi berupa mahasiswa preklinik yang masih aktif di Fakultas Kedokteran Atma Jaya, bersedia berpartisipasi dalam penelitian ini dan mengisi kuesioner dengan lengkap. Kriteria eksklusi berupa mahasiswa yang memiliki kondisi kesehatan fisik tertentu yang menyebabkan gangguan tidur, mahasiswa yang memiliki gangguan kecemasan yang menggangu tidur, dan konsumsi kafein >400mg. Gangguan tidur diukur menggunakan kuesioner The Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) dan konsumsi kafein diukur menggunakan Modified Caffeine Consumption Questionnaire (CCQ). Analisis data dilakukan dengan uji Chi-square. Hasil: Berdasarkan 386 responden, terdapat 21,5% yang mengalami gangguan tidur dan 43,52% yang mengonsumsi kafein. Hasil analisis dengan uji Chi-square menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara konsumsi kafein dengan gangguan tidur (p<0,05). Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi kafein dengan gangguan tidur pada mahasiswa preklinik FKIK UAJ. Kata Kunci: Gangguan tidur, kafein, mahasiswa kedokteran, preklini

    112

    full texts

    169

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Damianus Journal of Medicine
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇