Damianus Journal of Medicine
Not a member yet
169 research outputs found
Sort by
Uji Nilai Kelembaban Penggunaan Susu Yoghurt dari Susu Bubuk Kedaluwarsa Terhadap Hidrasi Kulit di Klinik Sukma Periode Januari 2023 - Februari 2023
Pendahuluan: Kondisi kulit yang kering cukup sering terjadi dan dapat mengenai semua usia. Maka dari itu diperlukan pengukuran kadar hidrasi untuk mencegah kondisi kulit kering. Terdapat beberapa faktor yang dapat menimbulkan kondisi kulit kering, baik faktor internal seperti usia, kadar hormon, dll maupun faktor eksternal seperti kondisi lingkungan dan penggunaan produk kecantikan secara topikal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghitung peningkatan kadar hidrasi sebelum dan sesudah penggunaan produk intervensi berupa masker berbahan dasar susu bubuk kedaluwarsa yang kemudian difermentasi menjadi yoghurt.
Metode: Penelitian ini adalah uji perbandingan dengan desain quasi experimental. Sampel diambil secara no random consecutive sampling, dengan kriteria inklusi pria dan wanita usia 18-60 tahun dan telah menghentikan penggunaan masker umum untuk minimal selama 3 hari, dan kriteria eksklusi berupa reponden yang menolak ikut dalam penelitian, dengan gangguan kulit yang parah, dan riwayat alergi terhadap bahan intervensi. Pengambilan data dilakukan dengan cara mengukur kadar hidrasi subjek menggunakan alat ukur berupa skin analyzer, serta membagikan kuisioner. Kemudian dianalisa menggunakan uji statistika Wilcoxon dan uji normalitas Kolmogorov Smirnov.
Hasil: Terdapat 100 subjek sehat yang diberikan intervensi, terdiri dari 70 responden wanita (70%) dan 30 responden pria (30%). Pada penelitian ini didapatkan perbedaan rerata skor hidrasi secara bermakna pada subjek sebelum dan sesudah intervensi dengan p=<0,001.
Simpulan: Berdasarkan hasil studi ini, didapatkan pemberian produk intervensi meningkatkan kadar hidrasi secara bermakna.Kondisi kulit kering merupakan salah satu kejadian yang cukup sering terjadi di berbagai kalangan usia. Kadar status hidrasi seseorang mempengaruhi kondisi kulit sehingga status hidrasi tentunya penting untuk diketahui untuk mencegah kondisi kulit kering. Kondisi kulit yang kering dapat berdampak pada terjadinya penyakit kulit yang lebih parah. Terdapat beberapa faktor yang dapat menimbulkan kondisi kulit kering, baik faktor internal seperti usia, kadar hormon, dll maupun faktor eksternal seperti kondisi lingkungan dan penggunaan produk kecantikan secara topikal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghitung peningkatan kadar hidrasi sebelum dan sesudah penggunaan produk intervensi berupa masker berbahan dasar susu bubuk kedaluwarsa yang kemudian difermentasi menjadi yogurt. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah quasi eksperimental dengan cara mengukur kadar hidrasi subjek menggunakan alat ukur berupa skin analyzer, serta membagikan kuisioner. Sampel diambil secara no random consecutive sampling, kemudian dianalisa menggunakan uji statistika Wilcoxon dan uji normalitas Kolmogorov Smirnov. Dari 100 subjek sehat yang diberikan intervensi, terdapat 70 (70%) responden wanita dan 30 (30%) responden pria. Pada penelitian ini didapatkan perbedaan rerata skor hidrasi secara bermakna pada subjek sebelum dan sesudah intervensi dengan p=<0,001
Hubungan Antara Telogen Effluvium Dengan Kejadian Paska Infeksi Covid-19 Di Klinik Sukma Periode Januari 2023-Februari 2023
Pendahuluan: Novel coronavirus disease (COVID-19) merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Salah satu contoh gejala pasca-COVID adalah kerontokan rambut (telogen effluvium). Oleh karena itu COVID-19 banyak dikaitkan dengan kejadian telogen effluvium. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari hubungan antara kejadian pasca-infeksi COVID-19 dengan telogen effluvium pada pasien Klinik Sukma.
Metode: Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah chi-square dengan cara membagikan kuesioner dan melakukan pull test. Sampel diambil secara consecutive sampling, kemudian dianalisis menggunakan Pearson’s chi-square dengan Yates’ correction.
Hasil: Jumlah pasien pasca-COVID-19 dengan kejadian rambut rontok sebesar 35 (55,6%). Tidak dapat hubungan yang bermakna secara statistik antara infeksi COVID-19 dengan kejadian rambut rontok (p=0,471). Namun demikian, orang yang terinfeksi COVID-19 berisiko 1,2 kali lebih besar untuk mengalami kerontokan rambut.
Simpulan: Dapat disimpulkan bahwa pasien pasca-COVID-19 berisiko terkena telogen effluvium dan dibutuhkan analisis multivariat pada variabel faktor lainnya. Pendahuluan: Coronavirus disease (COVID-19) merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus bernama SARS-CoV-2. Salah satu contoh gejala dari paska COVID adalah kerontokan rambut. Novel coronavirus disease (COVID-19) yang disebabkan oleh severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2), telah banyak dikaitkan dengan kejadian telogen effluvium. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari hubungan antara kejadian paska infeksi COVID-19 dengan telogen effluvium pada pasien Klinik Sukma.
Metode: Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah chi-square dengan cara membagikan kuesioner dan melakukan pull test. Sampel diambil secara consecutive sampling, kemudian dianalisis menggunakan pearson chi-square with yates correlation.
Hasil: Jumlah pasien paska COVID-19 dengan kejadian rambut rontok sebesar 35 (55,6%). Tidak dapat hubungan yang bermakna secara statistik antara infeksi COVID-19 dengan kejadian rambut rontok (p=0,471) disisi lain orang yang terinfeksi COVID-19 berisiko 1,2 kali lebih besar untuk mengalami kerontokan rambut.
Simpulan: Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan pasien paska COVID-19 berisiko terkena telogen effluvium dan dibutuhkan analisis multivariat pada variabel faktor lainnya. 
Viabilitas Bacillus Subtilis di Media Preservasi Agar Skim Milk pada Tiga Varian Suhu Penyimpanan yang Berbeda
Pendahuluan: Preservasi bakteri merupakan hal yang umum pada kebanyakan laboratorium mikrobiologi. Berbagai metode seperti kering beku dan penyimpanan suhu rendah dianggap sebagai metode preservasi yang ideal, tetapi metode ini membutuhkan alat dan operator khusus. Agar Susu Skim merupakan media yang umum digunakan untuk preservasi bakteri. B.subtilis merupakan bakteri yang mudah tumbuh pada kebanyakan media. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi viabilitas B.subtilis ATCC 6633 yang disimpan pada 3 suhu berbeda selama 150 dan 270 hari.
Metode: Isolat B.subtilis ATCC 6633 dikultivasi ke dalam tabung berisi agar susu skim, yang kemudian akan dibagi menjadi 3 kelompok penyimpanan berdasarkan suhu yang telah ditentukan. Uji viabilitas akan dilakukan sebanyak 2 kali pada hari ke-150 dan 270 dengan menggunakan metode Miles & Misra. Hasil uji akan dicatat dan dianalisa dengan menggunakan uji General Linear Model pada aplikasi SPSS.
Hasil: Viabilitas bakteri B.subtilis ATCC 6633 pada hari ke-150 dan 270 menunjukkan hasil yang sama yaitu bakteri tetap viabel. Secara statistik, tidak ada pengaruh yang bermakna oleh media preservasi dan suhu penyimpanan terhadap pertumbuhan bakteri B.subtilis (p>0,005).
Simpulan: Tidak ada pengaruh yang bermakna antara media preservasi dan suhu penyimpanan terhadap pertumbuhan bakteri B.subtilis ATCC 6633.
Kata Kunci: viabilitas bakteri, B.subtilis ATCC 6633, agar susu skim.Pendahuluan: Preservasi bakteri merupakan hal yang umum pada kebanyakan laboratorium mikrobiologi. Berbagai metode seperti kering beku dan penyimpanan suhu rendah dianggap sebagai metode preservasi yang ideal, tetapi metode ini membutuhkan alat dan operator khusus. Agar Susu Skim merupakan media yang umum digunakan untuk preservasi bakteri. B.subtilis merupakan bakteri yang mudah tumbuh pada kebanyakan media. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi viabilitas B.subtilis ATCC 6633 yang disimpan pada 3 suhu berbeda selama 150 dan 270 hari.
Metode: Isolat B.subtilis ATCC 6633 dikultivasi ke dalam tabung berisi agar susu skim, yang kemudian akan dibagi menjadi 3 kelompok penyimpanan berdasarkan suhu yang telah ditentukan. Uji viabilitas akan dilakukan sebanyak 2 kali pada hari ke-150 dan 270 dengan menggunakan metode Miles & Misra. Hasil uji akan dicatat dan dianalisa dengan menggunakan uji General Linear Model pada aplikasi SPSS.
Hasil: Viabilitas bakteri B.subtilis ATCC 6633 pada hari ke-150 dan 270 menunjukkan hasil yang sama yaitu bakteri tetap viabel. Secara statistik, tidak ada pengaruh yang bermakna oleh media preservasi dan suhu penyimpanan terhadap pertumbuhan bakteri B.subtilis (p>0.005).
Simpulan: Tidak ada pengaruh yang bermakna antara media preservasi dan suhu penyimpanan terhadap pertumbuhan bakteri B.subtilis ATCC 6633.
Kata Kunci: Viabilitas Bakteri, B.subtilis ATCC 6633, Agar susu ski
Gambaran Kehamilan Ektopik pada Magnetic Resonance Imaging
Pendahuluan: Kehamilan ektopik (KE) adalah kehamilan dengan letak implantasi di luar kavum uterus. Diagnosis KE ditegakkan melalui tes urin, ultrasonografi, penilaian level β-hCG, dan kuretase. Ultrasonografi transvaginal adalah modalitas imejing terpilih, meskipun pada beberapa kondisi, sulit menentukan antara kehamilan awal atau KE melalui Ultrasonografi transvaginal. Pada KE dapat terjadi juga beberapa gambaran kelainan di intra-uterus/endometrium.
Kasus: Seorang wanita 32 tahun dengan riwayat kehamilan ektopik 2 kali sebelum dan sekarang dengan periode menstruasi terlambat 2 bulan. Tes kehamilan positif dengan kadar β-hCG 24,411 mIU/ml. Pasien menjalani TVU dan dicurigai adanya massa intra uterin tanpa ditemukan struktur kantung gestasi (GS). Pasien diduga menderita gestational trophoblastic disease (GTD) karena pada pemeriksaan laboratorium didapatkan hasil tes kehamilan positif dan peningkatan kadar β-hCG, dan USG tidak menunjukkan adanya GS intra/ekstra kavum uteri. Pasien menjalani MR pelvis dengan hasil dicurigai adanya kantung kehamilan di adneksa kiri dan menunjukkan perubahan endometrium yang menyerupai lesi massa. Pasien menjalani operasi laparotomi dan mengungkapkan kehamilan ektopik di dalam tuba Fallopi kiri dengan hemoperitoneum masif, diagnosis ini dikonfirmasi pada hasil patologis.
Simpulan: Apabila sulit menegakkan diagnosis dengan ultrasonografi transvaginal, maka modalitas MRI menjadi pilihan karena memiliki kemampuan diagnosis yang lebih baik. Pengetahuan akan gambaran klinis dan MRI pada KE sangat penting untuk menentukan diagnosis yang akurat dan penatalaksanaan yang tepat.Pendahuluan: Kehamilan ektopik (KE) adalah kehamilan dengan letak implantasi di luar kavum uterus. Diagnosis KE ditegakkan melalui tes urin, ultrasonografi, penilaian level β-hCG, dan kuretase. Ultrasonografi transvaginal adalah modalitas imejing terpilih, meskipun pada beberapa kondisi, sulit menentukan antara kehamilan awal atau KE melalui Ultrasonografi transvaginal. Pada KE dapat terjadi juga beberapa gambaran kelainan di intra-uterus/endometrium.
Kasus: Seorang wanita 32 tahun dengan riwayat kehamilan ektopik 2 kali sebelum dan sekarang dengan periode menstruasi terlambat 2 bulan. Tes kehamilan positif dengan kadar β-hCG 24,411 mIU/ml. Pasien menjalani TVU dan dicurigai adanya massa intra uterin tanpa ditemukan struktur kantung gestasi (GS). Pasien diduga menderita gestational trophoblastic disease (GTD) karena pada pemeriksaan laboratorium didapatkan hasil tes kehamilan positif dan peningkatan kadar β-hCG, dan USG tidak menunjukkan adanya GS intra/ekstra kavum uteri. Pasien menjalani MR pelvis dengan hasil dicurigai adanya kantung kehamilan di adneksa kiri dan menunjukkan perubahan endometrium yang menyerupai lesi massa. Pasien menjalani operasi laparotomi dan mengungkapkan kehamilan ektopik di dalam tuba fallopi kiri dengan hemoperitoneum masif, diagnosis ini dikonfirmasi pada hasil patologis.
Simpulan: Apabila ultrasonografi transvaginal sulit menegakkan diagnosis ini, maka modalitas MRI menjadi pilihan karena memiliki kemampuan diagnosis yang lebih baik. Pengetahuan akan gambaran klinis dan MRI pada KE sangat penting untuk menentukan diagnosis yang akurat dan penatalaksanaan yang tepat
Hipertensi dalam Kehamilan
Pendahuluan: Hipertensi dalam kehamilan merupakan masalah kesehatan utama pada wanita hamil dan bayi. Insidensi hipertensi dalam kehamilan terus terjadi peningkatan meskipun telah meningkatnya kualitas perawatan prenatal. Akan tetapi, patofisiologi terjadinya hipertensi dalam kehamilan belum diketahui pasti dan merupakan penyakit yang multifaktorial. Sampai saat ini belum ada cara untuk mencegah hipertensi dalam kehamilan.
Tujuan: Makalah ini bertujuan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi hipertensi dalam kehamilan, tata laksana, dan komplikasinya.
Metode: Makalah ini disusun menggunakan metode tinjauan narasi sebagai bagian dari studi pustaka.
Simpulan: Diagnosis dini dan tata laksana yang bijak merupakan kunci dalam menurunkan risiko komplikasi hipertensi baik pada ibu maupun bayi.Hipertensi dalam kehamilan merupakan masalah kesehatan utama pada wanita hamil dan bayi. Insidensi hipertensi dalam kehamilan terus terjadi peningkatan meskipun telah meningkatnya kualitas perawatan prenatal. Di satu sisi, patofisiologi terjadinya hipertensi dalam kehamilan belum diketahui pasti dan merupakan penyakit yang multifaktorial. Sampai saat ini belum ada cara untuk mencegah hipertensi dalam kehamilan. Diagnosis dini dan tata laksana yang bijak merupakan kunci dalam menurunkan risiko komplikasi hipertensi baik pada ibu maupun bayi. Makalah ini bertujuan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi hipertensi dalam kehamilan, tata laksana, dan komplikasinya
FAKTOR HIGIENITAS PERORANGAN DAN SANITASI LINGKUNGAN RUMAH TANGGA TERHADAP KONTAMINASI SOIL TRANSMITTED HELMINTH (STH) PADA TANAH
Pendahuluan: Infeksi Soil-Transmitted Helminths (STH) merupakan penyakit yang ditularkan melalui telur dari tinja orang yang terinfeksi. Menurut WHO sekitar 1,5 miliar orang di dunia mengalami kasus infeksi cacing yang setelah ditelusuri penularannya melalui tanah. Perbaikan higienitas perorangan dan sanitasi lingkungan diketahui berpotensi meningkatkan keberhasilan program WHO untuk mengurangi infeksi cacingan terutama jenis STH. Hal itu dibuktikan oleh penelitian yang membahas tentang peningkatan fasilitas sanitasi jamban dapat mengurangi prevalensi infeksi STH.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain potong lintang di Kecamatan Kaliwates Kabupaten Jember. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 33 sampel. Penelitian ini menguji faktor higienitas perorangan dan sanitasi lingkungan terhadap kontaminasi STH pada tanah. Uji statistik menggunakan chi-square dan regresi logistik.
Hasil: Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa kebiasaan buang air besar, sarana pembuangan sampah, sarana pembuangan tinja tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kontaminasi STH pada tanah (p>0,05). Sedangkan sarana pembuangan air limbah rumah tangga, lokasi kandang hewan ternak dan penggunaan pupuk tanaman memiliki hubungan yang signifikan dengan kontaminasi STH pada tanah (p<0,05). Lokasi kandang hewan ternak merupakan variabel yang paling berpengaruh terhadap kontaminasi STH pada tanah.
Simpulan: Sarana pembuangan air limbah rumah tangga, lokasi kandang hewan ternak dan penggunaan pupuk tanaman berhubungan dengan kontaminasi STH pada tanah (p<0,05). Lokasi kandang hewan ternak merupakan variable yang paling berpengaruh terhadap kontaminasi STH pada tanah.
Kata Kunci: higienitas perorangan; sanitasi lingkungan rumah tangga, soil-transmitted helminths.ABSTRAK Pendahuluan: Infeksi Soil Transmitted Helminths (STH) merupakan penyakit yang ditularkan melalui telurdari tinja orang yang terinfeksi. Menurut WHOsekitar 1,5 miliar orang di dunia mengalami kasus infeksi cacing yang setelah ditelusuri penularannya melalui tanah. Perbaikan higienitas perorangan dan sanitasi lingkungandiketahui berpotensi meningkatkan keberhasilan program WHO untuk mengurangi infeksi cacingan terutama jenis STH. Hal itu dibuktikan oleh penelitian yang membahas tentang peningkatan fasilitas sanitasi jambandapat mengurangi prevalensi infeksi STH.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain cross-sectional diKecamatan Kaliwates Kabupaten Jember. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah purposivesampling. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 33 sampel. Penelitian ini menguji faktor higienitasperorangan dan sanitasi lingkungan terhadap kontaminasi STH pada tanah. Uji statistik menggunakan Chi Square dan Regresi Logistik.Hasil: Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa kebiasaan buang air besar, sarana pembuangan sampah, sarana pembuangan tinja tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kontaminasi STH pada tanah(p>0,05). Sedangkan sarana pembuangan air limbah rumah tangga, lokasi kandang hewan ternak dan penggunaan pupuk tanaman memiliki hubungan yang signifikan dengan kontaminasi STH pada tanah (p<0,05). Lokasi kandang hewan ternak merupakan variable yang paling berpengaruh terhadap kontaminasi STH pada tanah.Simpulan: Sarana pembuangan air limbah rumah tangga, lokasi kandang hewan ternak dan penggunaan pupuk tanaman berhubungan dengan kontaminasi STH pada tanah (p<0,05). Lokasi kandang hewan ternakmerupakan variable yang paling berpengaruh terhadap kontaminasi STH pada tanah.
 
Doctor's role in determining wounds qualification of terrorism victims
Introduction: The terms terrorist (perpetrator) and terrorism (action) are derived from the Latin word “terrere” which means to shake or vibrate. The European Convention first discussed the definition of terrorism on the Suppression of Terrorism (ECST) in Europe in 1977; there was a paradigm expansion in the meaning of Crime against State to Crime against Humanity. Crime against Humanity includes criminal acts committed to create a situation that causes individuals, groups, and the general public to be in a tense atmosphere. Necessary to have a clinical forensic examination to determine the degree of injury suffered by victims of terrorist criminal acts as a reference for providing compensation from the state.
Case Report: On Friday, October 23rd, 2020, at 09.25 a.m. at the Bhayangkara Hospital Emergency Installation, examinations were conducted on 4 men. The basis for the examination is based on a written request from the LPSK with the number: R-1176/1a.5.1/LPSK/10/2020 on October 21st, 2020.
Discussion: There is a mechanism in the forensic examination for the victims of terrorism crimes. The process for obtaining compensation can be submitted by victims of terrorism crimes, their families, or their heirs. LPSK will conduct a substantive examination and calculate the losses suffered by victims of terrorism crimes.
Conclusion: Regarding the provisions of these laws and regulations, the Indonesian Forensic Doctors Association (PDFI) cooperates with LPSK, as stated in the cooperation agreement.
Key Words: doctor’s role, wound qualification, terrorism victims
Prevalence of E-cigarette Users Students and Determinant Factors Affecting Their Use Behavior
Pendahuluan: Prevalensi pengguna rokok tembakau pada remaja di Indonesia terus meningkat dari 7,2% pada tahun 2013 menjadi 9,1% pada tahun 2018, tingkat penggunaannya dianggap dapat dikurangi dengan menggunakan rokok elektrik. Namun sebenarnya rokok elektrik belum dapat disebut sebagai terapi berhenti merokok konvensional karena belum terdapat bukti yang cukup kuat dan dampak penggunaannya pada kesehatan yang tidak dapat dikesampingkan. Sementara itu, beberapa studi menunjukkan bahwa penggunaan rokok elektrik juga berdampak buruk bagi kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi pengguna dan faktor determinan yang memengaruhi perilaku penggunaan rokok elektrik pada mahasiswa.
Metode: Studi ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi potong lintang atau cross sectional. Sampel yang digunakan sebanyak 410 orang dengan kriteria inklusi berupa mahasiswa aktif Unika Atma Jaya serta orang yang telah setuju untuk menjadi responden penelitian setelah membaca informed consent, dan kriteria eksklusi yaitu responden yang mengisi kuesioner dengan tidak lengkap. Perhitungan sampel dilakukan dengan metode proportional stratified random sampling. Pengambilan data responden menggunakan kuesioner secara daring melalui Google Forms. Analisis data menggunakan uji Chi Square dan Mann-Whitney.
Hasil: Prevalensi pengguna rokok elektrik pada mahasiswa sebesar 21,7%. Pada penelitian ini faktor yang berpengaruh pada keputusan penggunaan rokok elektrik adalah jenis kelamin (p<0,001), persepsi (p<0,001), tersedianya suplai (p<0,001), dukungan keluarga (p=0,002), dan dukungan teman (p<0,001).
Simpulan: Tingginya tingkat penggunaan rokok elektrik pada mahasiswa menunjukkan perlunya informasi dan edukasi serta promosi kesehatan mengenai dampak merugikan dari penggunaan rokok elektrik.Introduction: The prevalence of cigarette use among adolescents continues to increase in Indonesia every year, and this use is considered to be reduced by using e-cigarettes. However, e-cigarettes cannot be called conventional smoking cessation therapy because there is no strong enough evidence and because the impact of their use on health cannot be ruled out. Meanwhile, several studies show that the use of e-cigarettes also has a negative impact on health. This study aims at the prevalence of e-cigarette users and determinant factors that influence the behavior of using e-cigarettes in university students.
Methods: This study is a non-experimental study with a cross-sectional study design. The sample used was 410 people, with inclusion criteria being active students of Atma Jaya University and people who agreed to become respondents after reading the informed consent; the exclusion criteria were respondents who filled out the questionnaire incompletely. Data were obtained through online questionnaires via google form. Data were analyzed using the Chi-Square test and Mann-Whitney.
Results: The Prevalence of e-cigarette users is 21,7%. In this study, the variables that affect the use of e-cigarettes are gender (p<0,001), perception (p<0,001), availability of supply (p<0,001), family support (p=0,002), and friend support (p<0,001).
Conclusion: The high-level use of e-cigarettes by university students show the need for information, education, and health promotion regarding the harmful effects of using the e-cigarette
Pseudomonas aeruginosa biofilm formation and its resistance to beta-lactam antibiotics
ABSTRACT
Introduction: An opportunistic pathogen, Pseudomonas aeruginosa is a Gram-negative bacteria that causes acute and chronic human infections. By adhering to appropriate surfaces and creating a biofilm matrix, Pseudomonas aeruginosa has a high-resistance structure. Due to biofilm resistance mechanisms, this bacterial biofilm may increase natural antibiotic resistance. Antibiotics have difficulty penetrating the exopolysaccharide matrix that makes up the biofilm structure (Psl, Pe, alginate, and eDNA). Alginate is involved in generating mucus, and Psl and Pel components are implicated in biofilm development and antibiotic resistance. Due to the connection between biofilm production and antibiotic resistance, Pseudomonas aeruginosa involves mechanisms of beta-lactam antibiotic resistance.
Objective: On this basis, learning more about the connection between Pseudomonas aeruginosa bacteria's ability to form biofilms and their resistance to beta-lactam antibiotics is essential.
Methods: We use literature methods from various literature on the biofilm formation of P. aeruginosa and its resistance to beta-lactam antibiotics, including research papers and studies with no restrictions types of studies included in this article.
Discussion: Pseudomonas aeruginosa has intrinsic and adaptive antibiotic resistance mechanisms. Decreased membrane permeability, the production of enzymes resistant to antibiotics, chromosomal changes, and horizontal gene transfer from other bacteria contribute to antimicrobial resistance. Beta-lactam antibiotic resistance mechanisms are known to be developed by Pseudomonas aeruginosa. The resistance characteristics of Pseudomonas aeruginosa may change phenotypically due to biofilm development. This article will be helpful in future research on Pseudomonas aeruginosa therapy and medication.
Pseudomonas aeruginosa adalah bakteri gram negatif aerobik, patogen manusia oportunistik yang menyebabkan infeksi akut dan kronis pada manusia. Pseudomonas aeruginosa memiliki struktur resistensi yang kuat dengan menempel pada permukaan yangsesuai dan membentuk matriks biofilm. Biofilm bakteri ini dapat menyebabkan resistensi alami yang lebih tinggi terhadap antibiotik karena mekanisme toleransi yang dibuat oleh biofilm. Struktur biofilm terdiri dari matriks eksopolisakarida yang sangat sulit ditembus oleh antibiotik. Komponen matriks eksopolisakarida dari biofilm meliputi PsI, Pel, alginat dan eDNA. Diketahui bahwa Pseudomonas aeruginosa dapat menghasilkan ketiga jenis eksopolisakarida dimana komponen Psl dan Pel berperan dalam proses pematangan biofilm dan resistensi antibiotik, sedangkan alginat berperan dalam pembentukan mukus pelindung resistensi antibiotik Pseudomonas aeruginosa dan sistem kekebalan tubuh. Pseudomonas aeruginosa dapat mengembangkan mekanisme resistensi terhadap antibiotik beta-laktam karena adanya hubungan antara pembentukan biofilm dan resistensi antibiotik. Berdasarkan hal tersebut, diperlukan informasi lebih lanjut mengenai hubungan pembentukan biofilm bakteri P. aeruginosa dengan resistensinya terhadap antibiotik beta-laktam. Artikel ini menggunakan metode tinjauan Pustaka dari berbagai literatur mengenai pembentukan biofilm bakteri P. aeruginosa dan sifat resistensinya terhadap antibiotik beta-laktam, seperti artikel penelitian dan studi yang bersangkutan. Tidak ada pembatasan jenis dan lokasi studi referensi artikel ini. Pseudomonas aeruginosa merupakan bakteri patogen oportunistik yang dapat menghasilkan biofilm. Struktur biofilm dari Pseudomonas aeruginosa meliputi matriks eksopolisakarida yang membungkus bakteri dan tersusun dari Psl, Pel, alginat dan eDNA.Artikel ini diharapkan dapat memberikan informasi terkait hubungan biofilm. Bakteri P. aeruginosa memiliki mekanisme resistensi antibiotik yaitu resistensi intrinsik dan resistensi adaptif. Resistensi antibiotik ini meliputi penurunan permeabilitas membran, sintesis enzim yang dapat menonaktifkan antibiotik, mutasi melalui kromosom dan transfer gen horizontal dari bakteri lainnya. P. aeruginosa diketahui dapat mengembangkan mekanisme resistensi terhadap antibiotik beta-laktam. Selain itu pembentukan biofilm juga dapat menyebabkan sifat resistensi bakteri P. aeruginosa berubah secara fenotipik. Artikel ini diharapkan dapat menambah informasi untuk perkembangan penelitian terhadap penanganan dan terapi obat pada individu yang terinfeksi P. aeruginosa
Hubungan Posisi Dan Durasi Duduk Terhadap Nyeri Punggung Bawah Pada Pekerja Kantor Di Jakarta
Pendahuluan: Kejadian nyeri punggung bawah (NPB) sudah menjadi permasalahan global di dunia. Hal ini merupakan penyebab utama absensi kerja yang menimbulkan beban ekonomi yang tinggi. Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2018, terdapat 18% nyeri punggung bawah di Indonesia. Pekerja kantor identik dengan aktivitas duduk lama dan statis yang mengandalkan kekuatan otot punggung, dimana posisi duduk yang salah dapat menyebabkan nyeri punggung. Hal tersebut yang menjadi dasar ketertarikan penelitian ini.
Metode: Penelitian analitik potong lintang dengan 100 responden pekerja kantor berusia 21 – 45 tahun. Data penelitian menggunakan kuesioner mengenai kebiasaan posisi duduk, lamanya durasi duduk dan aktivitas fisik. Oswestry Low Back Pain Disability Questionnaire untuk menilai NPB. Hubungan antara variabel diuji menggunakan chi-square dan Fisher-exact dengan p<0,05.
Hasil: 72% responden mengalami NPB, 48% responden terbiasa dengan duduk membungkuk, 89% responden duduk dengan durasi ≥4 jam dalam sehari, 47% responden memiliki IMT berlebih, 68% responden dengan tingkat aktivitas fisik kategori tinggi. Tidak ditemukan hubungan yang bermakna antara posisi duduk, jenis kelamin, dan tingkat aktivitas fisik responden terhadap NPB (p>0,05). Terdapat hubungan yang bermakna antara durasi duduk, dan indeks massa tubuh dengan kejadian NPB (p<0,05).
Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara posisi duduk dengan kejadian nyeri punggung bawah. Durasi duduk dan IMT memiliki hubungan yang bermakna dengan NPB pada pekerja kantor di Jakarta.
Kata kunci: durasi duduk, nyeri punggung bawah, pekerja kantor, posisi dudukPendahuluan: Kejadian nyeri punggung bawah (NPB) sudah menjadi permasalahan global di dunia. Hal ini merupakan penyebab utama absensi kerja yang menimbulkan beban ekonomi yang tinggi. Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2018, terdapat 18% nyeri punggung bawah di Indonesia. Pekerja kantor identik dengan aktivitas duduk lama dan statis yang mengandalkan kekuatan otot punggung, dimana posisi duduk yang salah dapat menyebabkan nyeri punggung. Hal tersebut yang menjadi dasar ketertarikan penelitian ini.
Metode: Penelitian cross-sectional dengan 100 responden pekerja kantor berusia 21 – 45 tahun. Data penelitian menggunakan kuesioner mengenai kebiasaan posisi duduk, lamanya durasi duduk dan aktivitas fisik. Oswestry Low Back Pain Disability Questionnaire untuk menilai nyeri punggung bawah. Hubungan antara variabel diuji menggunakan Chi-Square dan Fisher-exact dengan p<0,05.
Hasil: 72% responden mengalami nyeri punggung bawah, 48% responden terbiasa dengan duduk membungkuk, 89% responden duduk dengan durasi ≥ 4 jam dalam sehari, 47% responden memiliki IMT berlebih, 68% responden dengan tingkat aktivitas fisik kategori tinggi. Tidak ditemukan hubungan yang bermakna antara posisi duduk, jenis kelamin, dan tingkat aktivitas fisik responden terhadap nyeri punggung bawah (p>0,05). Terdapat hubungan yang bermakna antara durasi duduk, dan indeks massa tubuh dengan kejadian nyeri punggung bawah (p<0,05).
Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara posisi duduk dengan kejadian nyeri punggung bawah. Durasi duduk dan IMT memiliki hubungan yang bermakna dengan nyeri punggung bawah pada pekerja kantor di Jakarta.
Kata kunci: durasi duduk, nyeri punggung bawah, pekerja kantor, posisi duduk