Damianus Journal of Medicine
Not a member yet
169 research outputs found
Sort by
Corticophobia pada Pasien Psoriasis di Indonesia: Studi Berbasis TOPICOP
Pendahuluan: Corticophobia adalah kekakutan atau kekhawatiran terhadap kortikosteroid topikal (topical corticosteroids, TCS), terutama terhadap efek sampingnya, seperti penipisan kulit. Dampak yang paling dikhawatirkan dengan corticophobia adalah ketidakpatuhan terhadap pengobatan TCS. Penelitian ini bertujuan untuk mencari gambaran corticophobia di Indonesia yang belum pernah dilakukan sebelumnya.
Metode: Sebuah kuesioner disebar pada story Instagram pada akun Instagram dari organisasi Psoriasis Indonesia @psoriasis_id. Kuesionernya berisi identitas pasien, diagnosis kualitatif corticophobia, riwayat penggunaan TCS, dan kuesioner TOPICOP yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Kriteria inklusi adalah pasien atau orang tua pasien psoriasis.
Hasil: Sebanyak 204 responden yang telah memenuhi kriteria inklusi diminta untuk mengisi kuesioner. Prevalensi corticophobia adalah 76% dengan nilai rerata TOPICOP 68,3%, keduanya relatif tinggi dibanding negara lainnya. Domain dengan nilai TOPICOP tertinggi adalah domain kekhawatiran, sedangkan item dengan nilai TOPICOP tertinggi adalah “Saya memerlukan kepastian keamanan penggunaan TCS.” Pada penelitian ini, perempuan juga secara konsisten memiliki prevalensi corticophobia dan nilai TOPICOP lebih tinggi pada setiap populasi.
Simpulan: Intervensi yang sesuai terdiri dari edukasi yang tepat dan menjaga hubungan dokter-pasien harus dilakukan pada pasien dengan atau berisiko mengalami corticophobia, dan penelitian corticophobia di Indonesia yang lebih luas dengan jumlah sampel lebih besar dan pada populasi lain masih dibutuhkan.
Kata Kunci: corticophobia, kortikosteroid topikal, TOPICOPPendahuluan: Corticophobia adalah kekakutan atau kekhawatiran terhadap kortikosteroid topikal (topical corticosteroids, TCS), terutama terhadap efek sampingnya, seperti penipisan kulit. Dampak yang paling dikhawatirkan dengan corticophobia adalah ketidahpatuhan terhadap pengobatan TCS. Penelitian ini bertujuan untuk mencari gambaran corticophobia di Indonesia yang belum pernah dilakukan sebelumnya.
Metode: Sebuah kuesioner disebar pada story Instagram pada akun Instagram dari organisasi Psoriasis Indonesia @psoriasis_id. Kuesionernya berisi identitas pasien, diagnosis kualitatif corticophobia, riwayat penggunaan TCS, dan kuesioner TOPICOP yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Kriteria inklusi adalah pasien atau orang tua pasien psoriasis.
Hasil: Sebanyak 204 responden yang telah memenuhi kriteria inklusi diminta untuk mengisi kuesioner. Prevalensi corticophobia adalah 76% dengan nilai TOPICOP rata-rata 68,3%, keduanya relatif tinggi dibanding negara lainnya. Domain dengan nilai TOPICOP tertinggi adalah domain kekhawatiran, sedangkan item dengan nilai TOPICOP tertinggi adalah “Saya memerlukan kepastian keamanan penggunaan TCS.” Pada penelitian ini, perempuan juga secara konsisten memiliki prevalensi corticophobia lebih banyak dan nilai TOPICOP lebih tinggi pada setiap populasi.
Simpulan: Intervensi yang sesuai terdiri dari edukasi yang tepat dan menjaga hubungan pasien-dokter harus dilakukan pada pasien dengan atau berisiko mengalami corticophobia, dan penelitian corticophobia di Indonesia yang lebih luas dengan jumlah sampel lebih besar dan pada populasi lain masih dibutuhkan.
 
Hubungan Tingkat Aktivitas Fisik terhadap Tingkat Kecemasan Mahasiswa Fakultas Teknik selama Pandemi COVID-19
Pendahuluan: Aktivitas fisik diketahui sebagai salah satu metode untuk meningkatkan kesehatan mental. Namun, munculnya pandemi COVID-19 menyebabkan pengurangan frekuensi aktivitas fisik. Banyak literatur yang telah membahas mengenai hubungan aktivitas fisik terhadap gangguan cemas, namun penelitian tersebut belum pernah dilakukan pada mahasiswa fakultas teknik di Indonesia.
Metode: Penelitian ini merupakan studi potong lintang dengan jumlah sampel 101 mahasiswa Fakultas Teknik Unika Atma Jaya angkatan 2018-2020. Alat ukur yang digunakan adalah International Physical Activity Questionnaire (IPAQ) long form Bahasa Indonesia dan kuesioner Generalized Anxiety Disorder 7-item (GAD- 7). Analisis data menggunakan uji Kruskall Wallis diikuti dengan uji analisis post-hoc Dunn-Bonferroni dan uji korelasi Spearman.
Hasil: Sebanyak 46 mahasiswa (45,55%) mencapai tingkat aktivitas fisik sedang dan sebanyak 41 orang (40,59%) tidak mengalami gangguan cemas. Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat aktivitas fisik dan tingkat gangguan cemas (p=0,004). Ditemukan korelasi lemah negatif yang signifikan antara tingkat aktivitas fisik dan tingkat gangguan cemas (p=0,033; r=-0,213)
Simpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat aktivitas fisik dan tingkat gangguan cemas pada mahasiswa Fakultas Teknik Unika Atma Jaya angkatan 2018-2020, dengan korelasi lemah negatif yang signifikan.Pendahuluan: Aktivitas fisik diketahui dapat menjadi salah satu metode untuk menjaga kesehatan mental seseorang. Namun, munculnya pandemi COVID-19 menyebabkan berkurangnya frekuensi aktivitas fisik seseorang. Banyak literatur yang telah membahas mengenai hubungan aktivitas fisik terhadap gangguan cemas, namun penelitian tersebut belum pernah dilakukan pada mahasiswa fakultas teknik di Indonesia.
Metode: Penelitian ini merupakan studi cross sectional dengan jumlah sampel 101 mahasiswa Fakultas Teknik Unika Atma Jaya angkatan 2018-2020. Alat ukur yang digunakan adalah International Physical Activity Questionnaire (IPAQ) long form Bahasa Indonesia dan kuesioner Generalized Anxiety Disorder 7-item (GAD-7). Analisis data menggunakan metode Kruskall Wallis dengan analisis post-hoc Dunn-Bonferroni dan uji korelasi Spearman.
Hasil: Sebanyak 46 mahasiswa (45,55%) mencapai tingkat aktivitas fisik sedang dan sebanyak 41 orang (40,59%) tidak mengalami gangguan cemas. Ditemukan hubungan yang signifikan antara tingkat aktivitas fisik dengan tingkat gangguan cemas (p-value = 0,004). Ditemukan korelasi negatif yang signifikan pada tingkat aktivitas fisik dan tingkat gangguan cemas (p-value = 0,033; r = -0,213)
Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat aktivitas fisik dengan tingkat gangguan cemas pada mahasiswa Fakultas Teknik Unka Atma Jaya angkatan 2018-2020
Correlation of Comorbidities and Chest CT Severity Scores in Confirmed COVID-19 Patients: A Retrospective Cross-Sectional Study
Pendahuluan: CT scan toraks berperan penting dalam COVID-19, baik dalam penentuan diagnosis, menentukan tingkat keparahan, dan memandu tatalaksana. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan komorbiditas dengan tingkat keparahan COVID-19 berdasarkan CT Severity Score (CT SS).
Metode: Desain penelitian retrospektif cross-sectional dilakukan pada 192 pasien terkonfirmasi COVID-19 yang memenuhi syarat dan menjalani CT scan toraks. Analisis karakteristik gambaran CT scan toraks pasien dilakukan pada window paru dan mediastinal. CT SS dilakukan untuk penilaian derajat keparahan COVID-19. Perbedaan proporsi gambaran CT scan berdasarkan komorbiditas diuji dengan chi-square.
Hasil: Penyakit komorbid yang paling banyak ditemukan yaitu hipertensi (51 pasien), diabetes mellitus (37 pasien), gagal ginjal kronik (29 pasien), penyakit jantung koroner (14 pasien), keganasan (14 pasien), dan tuberkulosis (5 pasien). Temuan CT scan yang paling sering adalah ground-glass opacities, konsolidasi, crazy paving, dan fibrosis dengan distribusi periferal. Terdapat hubungan yang signifikan antara pasien berusia > 50 tahun, memiliki riwayat komorbiditas, komorbiditas >1, memiliki riwayat diabetes mellitus, hipertensi, dan penyakit jantung koroner dengan CT SS ≥19,5 menunjukkan tingkat penyakit yang lebih berat (p<0,05).
Simpulan: Pasien dengan riwayat komorbiditas, komorbiditas >1, berusia >50 tahun, memiliki riwayat diabetes mellitus, hipertensi, dan PJK menunjukkan tingkat penyakit yang lebih berat berdasarkan CT SS.
Kata Kunci: COVID-19, CT scan toraks, CT severity score, komorbiditas.Pendahuluan : CT scan toraks penting dalam COVID-19, baik dalam penentuan diagnosis, grading keparahan, dan memandu tatalaksana. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan komorbiditas dengan CT Severity Score (CT-SS) pada pasien terkonfirmasi COVID-19.
Metode: Desain penelitian retrospective cross-sectional dilakukan pada 192 pasien terkonfirmasi COVID-19 yang memenuhi syarat dan menjalani CT scan toraks. Analisis karakteristik gambaran CT scan toraks pasien dilakukan pada lung window dan mediastinal. CT-SS dilakukan untuk penilaian derajat keparahan COVID-19. Perbedaan proporsi gambaran CT scan berdasarkan komorbiditas diuji dengan chi-square.
Hasil : Komorbiditas yang sering ditemukan adalah hipertensi (51 orang), diabete mellitus (37 orang), gagal ginjal kronik (29 orang), penyakit jantung koroner (14 orang), keganasan (14 orang) dan tuberkulosis (5 orang). Temuan CT scan yang paling sering adalah groundglass opacities, konsolidasi, crazy paving, dan fibrosis dengan distribusi periferal. Terdapat hubungan signifikan antara pasien berusia > 50 tahun, riwayat komorbiditas, diabetes mellitus, hipertensi dan penyakit jantung koroner dengan CT severity score ≥ 19.5 yang menunjukkan penyakit yang lebih berat (p<0.05)
Simpulan : CT scan toraks dapat memberikan gambaran lesi di paru-paru serta memberikan penilaian semi-kuantitatif terhadap tingkat keparahan penyakit COVID-19, khususnya pada pasien dengan komorbiditas
HUBUNGAN POSISI DAN DURASI DUDUK TERHADAP NYERI OTOT PADA MAHASISWA PREKLINIK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ATMA JAYA
Pendahuluan: Mahasiswa fakultas kedokteran menghabiskan banyak waktu untuk belajar. Dengan meningkatnya durasi duduk dan posisi duduk yang tidak ergonomis maka akan menyebabkan masalah nyeri otot. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan durasi duduk dan posisi duduk dengan nyeri otot pada mahasiswa preklinik FKIK UAJ.
Metode: Penelitian analitik cross sectional yang dilakukan pada 352 mahasiswa preklinik FKIK UAJ Angkatan 2020-2022. Penilaian nyeri otot menggunakan kuesioner Nordic Body Map (NBM). Penilaian durasi dan jenis posisi duduk menggunakan SLUMPQ yang telah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Analisis data menggunakan uji chi-square
Hasil: Didapatkan sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan (70,5%), indeks massa tubuh normal (64,5%), durasi duduk ≥3 jam/hari (82,4%), dan duduk dengan posisi duduk 1 (leher netral menatap lurus ke depan layar laptop). Sebanyak 243 responden memiliki keluhan nyeri otot (69%) dengan paling banyak pada bagian punggung (61,1%), bawah leher (56,8%), pinggang (54,5%), dan atas leher (51,7%). Hasil analisis bivariat terhadap variabel nyeri otot mendapatkan adanya hubungan yang bermakna dengan jenis kelamin (p=0,000), durasi duduk (p=0,027), posisi duduk 1 (p=0,003), posisi duduk 2 (p=0,001), dan posisi duduk 5 (p=0,007).
Simpulan: Mahasiswa preklinik FKIK UAJ mayoritas duduk dengan posisi leher menatap lurus ke depan layar laptop (76,4%), duduk dengan rata-rata durasi 6,2 jam/hari, dan terdapat adanya hubungan yang bermakna antara durasi duduk dan posisi duduk 2,3, dan 5 terhadap nyeri otot.Latar Belakang: Jurusan kedokteran merupakan salah satu jurusan yang sulit oleh karena itu mahasiswa banyak menghabiskan waktunya untuk belajar. Dengan meningkatnya durasi duduk dan posisi duduk yang tidak ergonomis maka akan menyebabkan masalah nyeri otot. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan durasi duduk dan posisi duduk dengan nyeri otot pada mahasiswa preklinik FKIK UAJ.
Metode: Penelitian analitik cross sectional yang dilakukan pada 352 mahasiswa preklinik FKIK UAJ Angkatan 2020-2022. Penilaian nyeri otot menggunakan kuesioner Nordic Body Map (NBM). Penilaian durasi dan jenis posisi duduk menggunakan SLUMPQ yang telah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Analisis data menggunakan uji Chi-square
Hasil: Didapatkan sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan(70.5%), indeks massa tubuh normal(64.5%), durasi duduk ≥3 Jam/hari(82.4%), dan duduk dengan posisi duduk 1(leher netral menatap lurus ke depan layar laptop). Sebanyak 243 responden memiliki keluhan nyeri otot(69%) dengan paling banyak pada bagian punggung(61.1%), bawah leher(56.8%), pinggang(54.5%), dan atas leher(51.7%). Hasil analisis yang didapatkan adalah jenis kelamin(p=0.000), Indeks massa tubuh(p=0.234), durasi duduk(p=0.027), posisi duduk 1(p=0.380), posisi duduk 2(p=0.003), posisi duduk 3(p=0.001), posisi duduk 4(p=0.374), dan posisi duduk 5(p=0.007).
Kesimpulan: Mahasiswa preklinik FKIK UAJ mayoritas duduk dengan posisi leher menatap lurus ke depan layar laptop (76.4%), duduk dengan rata-rata durasi 6.2 jam/hari, dan terdapat adanya hubungan yang bermakna antara durasi duduk dan posisi duduk 2,3, dan 5 terhadap nyeri otot
HUBUNGAN KADAR GDP DENGAN KADAR ASAM URAT SERUM PADA PASIEN DM TIPE 2 DI RS ATMA JAYA
Pendahuluan: Penyakit kardiovaskular merupakan penyebab kematian utama (70%) pada pasien diabetes melitus tipe 2 (DMT2) sehingga kontrol glikemik yang akurat direkomendasikan untuk mencegah komplikasi kardiovaskular. Pemeriksaan Glukosa Darah Puasa (GDP) merupakan parameter kontrol glikemik sederhana dengan korelasi yang cukup kuat dengan HbA1C sebagai baku emas (r=0,61). Peningkatan asam urat serum (AUS) sebesar 1,8 mg/dL juga dapat meningkatkan risiko terhadap komplikasi makro dan mikrovaskular (28%) dan risiko mortalitas (9%) pada pasien DMT2. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara kadar GDP sebagai parameter kontrol glikemik sederhana terhadap kadar AUS sebagai salah satu faktor risiko penyakit kardiovaskular pada pasien DMT2 di RS Atma Jaya.
Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan potong-lintang. Data pasien diambil dari rekam medis pasien DMT2 yang berobat di Poliklinik Cosmas Rumah Sakit (RS) Atma Jaya. Pasien yang memiliki gangguan fungsi ginjal dan mengonsumsi obat-obatan yang dapat memengaruhi kadar asam urat (seperti allopurinol) dieks-klusi.
Hasil: Jumlah pasien yang diikutkan dalam penelitian ini adalah 35 orang. Uji korelasi Pearson menemukan hubungan yang tidak signifikan antara GDP dan AUS (r=-0,101, p=0,563), namun terdapat hubungan yang signifikan antara IMT dan AUS (r=0,350, p=0,039). Uji Korelasi Spearman ditemukan hubungan yang tidak signifikan antara TD Sistolik dan AUS (r=0,145, p=0,407), TD Diastolik dan AUS (r=-0,026, p=0,884).
Simpulan: GDP, TD Sistolik, dan TD Diastolik tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan AUS, namun IMT memiliki hubungan yang signifikan terhadap AUS pada pasien DMT2 di Poliklinik Cosmas, RS Atma Jaya.
Kata Kunci: asam urat serum, diabetes melitus, gula darah puasa, inflamasi, obesitas.Pendahuluan: Penyakit kardiovaskular merupakan penyebab kematian utama (70%) pada pasien DMT2 sehingga kontrol glikemik yang akurat direkomendasikan untuk mencegah komplikasi kardiovaskular. Pemeriksaan Glukosa Darah Puasa (GDP) merupakan parameter kontrol glikemik sederhana dengan korelasi yang cukup kuat dengan HbA1C sebagai gold standard (r = 0.61). Peningkatan asam urat serum (AUS) sebesar 1.8 mg/dL juga dapat meningkatkan risiko terhadap komplikasi makro dan mikrovaskular (28%) dan risiko mortalitas (9%) pada pasien DMT2. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara Kadar GDP sebagai parameter kontrol glikemik sederhana terhadap Kadar AUS sebagai salah satu faktor risiko penyakit kardiovaskular pada pasien DMT2 di RS Atma Jaya.
Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan cross-sectional. Data responden diambil dari rekam medis pasien DM Tipe 2 yang berobat di Poliklinik Cosmas, Rumah Sakit (RS) Atma Jaya. Pasien yang memiliki gangguan fungsi ginjal dan mengonsumsi obat-obatan yang dapat mempengaruhi kadar asam urat (seperti allopurinol) dieksklusikan.
Hasil: Jumlah responden yang berpartisipasi dalam penelitian ini adalah 35 responden. Uji Korelasi Pearson menemukan hubungan yang tidak signifikan antara GDP dan AUS (r = -0.101, p = 0.563), namun terdapat hubungan yang signifikan antara IMT dan AUS (r = 0.350, p = 0.039). Uji Korelasi Spearman ditemukan hubungan yang tidak signifikan antara TD Sistolik dan AUS (r = 0.145, p = 0.407), TD Diastolik dan AUS (r = -0.026, p = 0.884).
Simpulan: GDP, TD Sistolik, dan TD Diastolik memiliki hubungan yang tidak signifikan terhadap AUS, namun IMT memiliki hubungan yang signifikan terhadap AUS pada pasien DMT2 di Poliklinik Cosmas, RS Atma Jaya.
Kata Kunci: AUS, DMT2, GDP, IMT, Inflamasi, Obesitas, T
Hubungan Konsumsi Buah dan Sayur Terhadap Infeksi Saluran Kemih
Pendahuluan: Infeksi Saluran Kemih (ISK) merupakan penyakit yang menyerang sistem kemih, baik organ maupun salurannya. Penyakit ini merupakan penyakit infeksi dengan angka tersering kedua pada anak, setelah penyakit infeksi saluran pernafasan dan dapat menimbulkan beban ekonomi negara sehingga harus segera diatasi. Sekitar 56,6% anak usia sekolah tidak mengonsumsi buah dan sayur yang cukup. Hal ini dapat menjadi faktor pendukung tingginya angka kasus ISK di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kecukupan makan buah dan sayur dengan kejadian suspek ISK pada anak.
Metode: Desain penelitian ini adalah studi observasional potong lintang yang menggunakan analisis data sekunder (ADS). Jumlah sampel sebanyak 331 murid kelas 4-6 dari dua Sekolah Dasar di Jakarta Utara. Data kecukupan konsumsi buah dan sayur didapatkan melalui pengisian kuesioner, sedangkan dugaan ISK diperoleh dari pemeriksaan urinalisis (makroskopik, kimiawi, dan mikroskopik).
Hasil: Terdapat 154 murid kurang mengonsumsi buah dan sayur, serta 9 murid diduga ISK. Tidak ditemukan hubungan bermakna antara kecukupan konsumsi buah dan sayur dengan kejadian ISK (p=0,378), namun pada responden yang mengonsumsi cukup buah dan sayur memiliki persentase suspek ISK yang lebih kecil dibandingkan dengan responden yang kurang mengonsumsi buah dan sayur.
Simpulan: Konsumsi buah dan sayur tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan suspek ISK pada anak. tetapi berdasarkan persentase suspek ISK, anak yang cukup mengonsumsi buah dan sayur memiliki persentase suspek ISK yang lebih rendah.
Kata Kunci: urinalisis, pola kebiasaan makan buah dan sayur, infeksi saluran kemih.ABSTRAK
Pendahuluan: Infeksi Saluran Kemih (ISK) merupakan penyakit yang menyerang sistem perkemihan, baik dari organ hingga ke salurannya. Pada anak-anak, penyakit ini merupakan penyakit infeksi dengan angka tersering ke-2 setelah penyakit infeksi pernafasan dan dapat menimbulkan beban ekonomi negara sehingga harus segera diatasi. Sekitar 56,6% anak usia sekolah tidak mengonsumsi buah dan sayur yang cukup. Hal ini dapat menjadi faktor penyebab angka kasus ISK tinggi di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan konsumsi buah dan sayur terhadap ISK.
Metode: Penelitian ini adalah penelitian cross-sectional yang menggunakan analisis data sekunder (ADS). Jumlah sampel 331 murid kelas 4-6 di Jakarta Utara.Data kecukupan konsumsi buah dan sayur didapatkan melalui pengisian kuesioner, sedangkan diagnosis ISK menggunakan pemeriksaan penunjang (pemeriksaan dipstik) untuk mengetahui nilai suspek ISK pada responden.
Hasil: Dari 331 responden didapatkan 9 murid memiliki nilai positif suspek ISK. Hasil analisis hubungan antara kecukupan konsumsi buah, sayur dan air putih tidak menunjukan adanya hubungan bermakna (konsumsi buah dan sayur P= 0,378). Walaupun hasil analisis data tidak menunjukan adanya hubungan yang bermakna, namun pada responden yang mengkonsumsi cukup buah dan sayur memiliki persentase lebih kecil positif suspek ISK dibandingkan dengan responden yang kurang menkonsumsi buah dan sayur.
Simpulan: Konsumsi buah & sayur tidak hubungan yang signifikan terhadap jumlah suspek ISK pada anak, tetapi berdasarkan persentase suspek ISK, anak yang cukup mengonsumsi buah dan sayur memiliki persentase risiko lebih rendah daripada anak yang kurang mengHUbunganonsumsi buah dan sayur.
Kata Kunci: Infeksi Saluran Kemih, Pemeriksaan carik celup, Pola kebiasaan makan buah dan sayur
Hubungan Pengetahuan Batuk dan Common Cold dengan Perilaku Swamedikasi Batuk dan Common Cold pada Mahasiswa Kedokteran, Jakarta Utara
Pendahuluan: Swamedikasi yang salah akan menimbulkan dampak negatif. Pengetahuan adalah salah satu faktor pembentuk tindakan seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan batuk dan common cold dengan perilaku swamedikasi batuk dan common cold pada mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Indonesia (FKIK UAJ) angkatan 2018-2021.
Metode: Penelitian menggunakan desain potong-lintang pada 454 mahasiswa FKIK UAJ Angkatan 2018-2021. Pengambilan data dilakukan pada bulan Februari-Maret 2022, menggunakan kuesioner pengetahuan batuk dan common cold, serta kuesioner perilaku swamedikasi batuk dan common cold. Data penelitian diuji dengan uji Man Whitneyy U-test.
Hasil: 433 mahasiswa (95,4%) berpengetahuan batuk dan common cold baik, 20 (4,4%) berpengetahuan cukup dan 1 berpengetahuan kurang (0,2%). Terdapat 427 mahasiswa (94,1%) berperilaku swamedikasi batuk dan common cold tepat dan 27 sisanya (5,9%) berperilaku swamedikasi tidak tepat. Hasil uji menunjukkan hubungan bermakna antara pengetahuan batuk dan common cold dengan perilaku swamedikasi batuk dan common cold pada mahasiswa kedokteran (p<0,001).
Simpulan: Terdapat hubungan antara pengetahuan batuk dan common cold dengan perilaku swamedikasi batuk dan common cold pada mahasiswa FKIK UAJ angkatan 2018-2021.Pendahuluan: Swamedikasi yang salah akan menimbulkan dampak negatif. Pengetahuan adalah salah satu faktor pembentuk tindakan seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan batuk dan common cold dengan perilaku swamedikasi batuk dan common cold pada mahasiswa kedokteran FKIK UNIKA Atma Jaya Angkatan 2018-2021.
Metode: Penelitian menggunakan desain cross sectional pada 454 mahasiswa kedokteran FKIK UNIKA Atma Jaya Angkatan 2018-2021. Pengambilan data dilakukan pada bulan Februari-Maret 2022, menggunakan kuesioner pengetahuan batuk dan common cold, serta kuesioner perilaku swamedikasi batuk dan common cold. Data penelitian diuji dengan uji Man Whitneyy U-test.
Hasil: 433 mahasiswa (95,4%) berpengetahuan batuk dan common cold baik, 20 (4,4%) berpengetahuan cukup dan 1 berpengetahuan kurang (0,2%). Terdapat 427 mahasiswa (94,1%) berperilaku swamedikasi batuk dan common cold tepat dan 27 sisanya (5,9%) berperilaku swamedikasi tidak tepat. Hasil uji menunjukan hubungan bermakna antara pengetahuan batuk dan common cold dengan perilaku swamedikasi batuk dan common cold pada mahasiswa kedokteran (p <0,001).
Simpulan: Terdapat hubungan antara pengetahuan batuk dan common cold dengan perilaku swamedikasi batuk dan common cold pada mahasiswa kedokteran FKIK UNIKA Atma Jaya Angkatan 2018-2021.
Kata Kunci: Pengetahuan, Perilaku, Swamedikasi, Batuk, Common cold, Mahasiswa Kedoktera
A KOLESTEATOMA KONGENITAL PADA PRIA USIA 30 TAHUN DENGAN GEJALA YANG TIDAK SPESIFIK
Pendahuluan: Kolesteatoma merupakan kelainan patologis telinga tengah yang serius yang secara bertahap dapat meluas dan menyebabkan komplikasi berupa erosi struktur tulang. Kolesteatoma kongenital didefinisikan sebagai residu embrionik jaringan epitel di belakang membran timpani normal. Gejala kolesteatoma kongenital biasanya tidak spesifik sehingga mungkin tidak terdiagnosis selama bertahun-tahun.
Tujuan: Untuk mendeskripsikan kasus kolesteatoma kongenital pada pria paruh baya.
Kasus: Seorang laki-laki datang dengan keluhan gatal pada telinga kiri yang dirasakan lebih dari 2 tahun. Pasien juga mengeluh keluar cairan dua kali tanpa rasa sakit dalam waktu 6 bulan. Keluhan gangguan pendengaran sudah dirasakan sejak lama. Pasien mengaku memiliki kebiasaan sering mengorek telinga. Gambaran klinis telinga yaitu jaringan granulasi berwarna keputihan di belakang membran timpani yang masih intak. Rontgen Schuller menunjukkan gambaran mastoditis kiri dengan tipe sklerotik. CT scan telinga bagian dalam menunjukkan kolesteatoma pars flaccida kiri. Audiometri menunjukkan gangguan pendengaran konduktif untuk telinga kiri. Pasien menjalani operasi canall wall-up dan timpanoplasti tipe 1. Pemeriksaan biopsi regio mastoid menunjukkan granuloma. Pasien merespons pengobatan dengan baik dan dipulangkan ke rumah dengan antibiotik oral dan dijadwalkan kembali untuk kontrol.
Simpulan: Kolesteatoma kongenital dapat ditemukan pada dewasa muda dengan keluhan tidak spesifik. Komplikasi kolesteatoma dapat berat yaitu menyebabkan infeksi intrakranial dan menyebabkan kematian, sehingga diagnosis kolesteatoma harus tepat disertai dengan intervensi yang cepat.Latar Belakang : Kolesteatoma merupakan kelainan patologis telinga tengah yang serius yang secara bertahap dapat meluas dan menyebabkan komplikasi berupa erosi struktur tulang. Kolesteatoma kongenital didefinisikan sebagai residu embrionik jaringan epitel di belakang membran timpani normal. Gejala kolesteatoma kongenital biasanya tidak menimbulkan rasa sakit sehingga mungkin tidak terdiagnosis selama bertahun-tahun.
Tujuan : Untuk mendeskripsikan kasus kolesteatoma kongenital pada pria paruh baya.
Kasus : Seorang laki-laki datang dengan keluhan gatal pada telinga kiri yang dirasakan lebih dari 2 tahun. Pasien juga mengeluh keluar cairan dua kali tanpa rasa sakit dalam waktu 6 bulan. Keluhan gangguan pendengaran sudah dirasakan sejak lama. Pasien mengaku memiliki kebiasaan sering mengorek telinga. Rontgen Schuller menunjukkan gambaran Mastoditis kiri dengan tipe sklerotik. CT scan telinga bagian dalam menunjukkan kolesteatoma pars flaccida kiri. Audiometri menunjukkan gangguan pendengaran konduktif untuk telinga kiri. Pasien menjalani operasi Canall Wall-Up dan timpanoplasti tipe 1. Pemeriksaan biopsi regio mastoid menunjukkan granuloma. Sebelum operasi, pasien diobati dengan injeksi Ceftriaxone dan Metoclopramide. Perawatan pasca operasi adalah Ceftriaxone 2 gram/hari, Metamizole untuk meredakan nyeri dan obat golongan Protont Pump Inhibitor (PPI). Pasien dirawat selama 3 hari. Pasien merespons pengobatan dengan baik dan dipulangkan ke rumah dengan antibiotik oral dan dijadwalkan kembali untuk kontrol.
Kesimpulan : Kolesteatoma kongenital dapat ditemukan pada dewasa muda dengan keluhan tidak spesifik. Komplikasi kolesteatoma dapat berat yaitu menyebabkan infeksi intrakranial dan menyebabkan kematian, sehingga diagnosis kolesteatoma harus tepat disertai dengan intervensi yang cepat.
 
Efektivitas Penggunaan Vitamin B12 dalam Terapi Nyeri Punggung Bawah
Pendahuluan: Nyeri punggung bawah (NPB) merupakan kondisi nyeri tubuh yang sering dialami oleh manusia yang dapat disebabkan oleh cedera otot atau ligamen. Keadaan nyeri pada punggung bawah biasanya disebabkan oleh cedera mekanik, neurogenik, ataupun penyakit peradangan sistemik. Hingga saat ini terdapat berbagai pilihan modalitas terapi NPB. Tinjauan Pustaka ini ditulis untuk mengevaluasi pemberian vitamin B12 sebagai terapi pada pasien NPB.
Metode: Tinjauan pustaka sistematik dilakukan dengan cara pencarian literatur yang bersumber dari Pubmed, Proquest, dan Google Cendekia.
Hasil: Terdapat 3 studi dari berbagai negara yang memenuhi kriteria inklusi. Ketiga studi tersebut menunjukkan pemberian vitamin B12 dalam berbagai sediaan menurunkan skala nyeri visual pada pasien NPB.
Simpulan: Vitamin B12 memiliki potensi sebagai salah satu modalitas terapi pada pasien NPB.Pendahuluan: Nyeri punggung bawah (NPB) merupakan kondisi nyeri tubuh yang sering dialami oleh manusia yang disebabkan oleh cedera otot atau ligamen. Keadaan nyeri pada punggung bawah biasanya disebabkan oleh postur tubuh yang buruk, tidak melakukan aktivitas fisik secara teratur, postur tubuh yang salah saat mengangkat beban berat, ataupun artritis. Hingga saat ini terdapat berbagai pilihan modalitas terapi NPB. Tinjauan Pustaka ini ditulis untuk mengevaluasi pemberian vitamin B12 sebagai terapi pada pasien NPB.
Metode: Tinjauan Pustaka Sistematik dilakukan dengan cara pencarian literatur yang bersumber dari Pubmed, Proquest, dan Google Cendekia.
Hasil: Didapatkan 3 studi dari berbagai negara yang memenuhi kriteria inklusi. Ketiga studi tersebut menunjukkan pemberian vitamin B12 dalam berbagai sediaan menghasilkan penurunan visual analogue scale (VAS) pada pasien NPB.
Simpulan: Vitamin B12 memiliki potensi sebagai salah satu modalitas terapi pada pasien NPB
Hubungan Kualitas Tidur Dengan Kejadian Astenopia Pada Mahasiswa Preklinik Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya
Pendahuluan: Astenopia atau yang dikenal dengan mata lelah merupakan kelelahan okular atau ketegangan yang terjadi pada mata akibat penggunaan otot mata secara berlebih. Banyak faktor yang dapat memengaruhi astenopia salah satunya adalah kualitas tidur. Jika seorang individu mengalami gangguan tidur, hal tersebut dapat mengakibatkan seseorang mudah lelah, salah satunya berefek pada mata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana hubungan kualitas tidur dengan kejadian astenopia pada mahasiswa preklinik Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian potong lintang dengan total 70 responden mahasiswa preklinik Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya dan dilakukan secara Stratified Random Sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui pengisian kuesioner Pittsburg Sleep Quality Index dan 17-item Asthenopia Survey Questionnaire. Analisis data menggunakan analisis univariat dan analisis bivariat.
Hasil: Hasil uji statistik menunjukkan hubungan yang tidak bermakna antara kualitas tidur dengan astenopia dengan nilai p sebesar 0,076.
Simpulan: Tidak terdapat hubungan kualitas tidur dengan kejadian astenopia pada mahasiswa preklinik Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya.Pendahuluan: Astenopia atau yang dikenal dengan mata lelah merupakan kelelahan okular atau ketegangan yang terjadi pada mata akibat penggunaan otot mata secara berlebih. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi astenopia salah satunya adalah kualitas tidur. Jika seorang individu mengalami gangguan tidur, hal tersebut dapat mengakibatkan seseorang mudah lelah, salah satunya berefek pada mata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana hubungan kualitas tidur dengan kejadian astenopia pada mahasiswa preklinik Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian potong lintang dengan total 70 responden mahasiswa preklinik Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya dan dilakukan secara Stratified Random Sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui pengisian kuesioner Pittsburg Sleep Quality Index dan 17-item Asthenopia Survey Questionnaire. Analisis data menggunakan analisis univariat dan analisis bivariat.
Hasil: Hasil uji statistik menunjukkan hubungan yang tidak bermakna antara kualitas tidur dengan astenopia dengan nilai p value sebesar 0,076 (p value>0,05).
Simpulan: Tidak terdapat hubungan kualitas tidur dengan kejadian astenopia pada mahasiswa preklinik Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya