Damianus Journal of Medicine
Not a member yet
169 research outputs found
Sort by
Vaksin Tungau Debu Rumah: Terobosan Baru untuk Mengatasi Tantangan Dermatitis Atopik
Pendahuluan: Dermatitis atopik (DA) adalah penyakit inflamasi kronis yang sering dikaitkan dengan alergen tungau debu rumah (TDR), terutama Dermatophagoides pteronyssinus. Penatalaksanaan saat ini belum memadai untuk memberikan perlindungan jangka panjang.
Tujuan: Tinjauan ini bertujuan untuk mengeksplorasi potensi vaksin TDR sebagai terobosan baru dalam pengelolaan DA.
Metode: Artikel ini disusun melalui telaah literatur dari jurnal, buku, dan dokumen relevan lainnya yang membahas DA, imunoterapi, dan vaksinasi terkait. Data dianalisis secara komprehensif untuk mendukung kesimpulan.
Diskusi: Disfungsi sawar kulit dan respons imun yang dimediasi IgE adalah faktor utama dalam pathogenesis DA. Vaksinasi berbasis epitope TDR menawarkan peluang untuk pencegahan dengan efektivitas tinggi. Studi in sillico menunjukkan hasil menjanjikan, namun validasi lebih lanjut secara in vitro dan in vivo diperlukan. Pengembangan vaksin TDR multi-epitop dapat menjadi alternatif jangka panjang untuk DA.
Simpulan: Vaksinasi TDR memiliki potensi besar sebagai strategi pencegahan primer untuk DA, namun penelitian lebih lanjut masih dibutuhkan untuk penerapan klinis.Dermatitis atopik (DA) adalah keadaan peradangan kulit kronis dan residitif, disertai gatal, yang umumnya terjadi pada masa bayi dan anak-anak, sering berhubungan dengan peningkatan kadar IgE dalam serum dan riwayat atopi pada keluarga atau penderita (DA, rinitis alergik, dan atau asma bronkial). Spesies tungau debu rumah Dermatophagoides pteronyssinus merupakan salah satu sumber utama alergen hirup yang mendasari reaksi alergi yang dimediasi oleh imunoglobulin E (IgE) yang bisa mencetuskan DA. Meskipun telah ada kemajuan saat ini dalam pengelolaan DA tetapi pengobatan yang memuaskan belum diperoleh. Vaksinasi merupakan pilihan yang paling ideal karena memberikan perlindungan yang lama dan aman karena sifat vaksin yang targetnya sangat spesifik. Vaksin tungau debu rumah (TDR) merupakan penatalaksanaan yang menjanjikan untuk mencegah alergi khususnya DA
Prediktor Klinis dan Pencitraan Hematoma Subdural Kronik pada Pasien Lanjut Usia di Instalasi Gawat Darurat
Pendahuluan: Subdural hematoma kronik (cSDH) merupakan salah kasus emergensi neurologi yang sering terjadi yang lebih sering terjadi pada lansia. Diagnosis cSDH memiliki kesulitan tersendiri pada pasien lansia. Studi ini bertujuan untuk mempelajari karakteristik klinis pasien lansia yang dapat menjadi prediktor adanya cSDH dan derajat keparahan gambaran cSDH yang ditemukan pada hasil CT-scan kepala.
Metode: Penelitian ini merupakan studi kasus-kontrol yang dilakukan di Instalasi Gawat Darurat Neurologi RSUP Prof. dr. I.G.N.G. Ngoerah dalam periode 3 tahun. Studi melibatkan 85 pasien lansia cSDH dan 85 kontrol yang terbukti tidak ada perdarahan intrakranial dari data imaging. Pengumpulan dan pengolahan data yang dilakukan meliputi variabel karakteristik demografi, faktor risiko, presentasi klinis, dan karakteristik cSDH pada gambaran computed-tomography scan (CT-scan) kepala.
Hasil: Studi ini menemukan pasien cSDH dengan rata-rata usia 72,9±8.1 tahun dan 75,3% laki-laki. Penurunan kesadaran dan defisit fokal merupakan presentasi klinis yang paling sering ditemukan dengan median onset 3 hari (rentang 1-30 hari). Usia lebih tua, laki-laki (RO=2,84, 95% IK 1,45-5,45, p=0,001), hipertensi (RO=3,66, 95% IK 1,89-7,06, p=0,000), dan gangguan ginjal kronik (RO=2,77, 95% IK 1,34-5,72, p=0,005) merupakan faktor risiko terjadinya cSDH yang signifikan. Efek massa dan Glasgow Coma Scale (GCS) yang rendah lebih sering terjadi pada cSDH dengan midline shift (MLS) >5mm.
Simpulan: Adanya cSDH perlu dipertimbangkan pada pasien lansia yang datang dengan onset manifestasi neurologis akut-subakut terutama pasien laki-laki, mengalami penurunan kesadaran dengan atau tanpa defisit fokal, disertai adanya komorbid hipertensi dan gangguan ginjal. Penurunan GCS dan efek massa dapat memperkirakan adanya MLS pada CT-scan kepala.Pendahuluan: Subdural hematoma kronik (cSDH) merupakan salah kasus emergensi neurologi yang sering terjadi yang lebih sering terjadi pada lansia. Diagnosis cSDH memiliki kesulitan tersendiri pada pasien lansia. Studi ini bertujuan untuk mempelajari karakteristik klinis yang dapat menjadi prediktor adanya cSDH dan karakteristik pencitraan cSDH pada pasien lansia.
Metode: Penelitian ini merupakan studi kasus-kontrol yang dilakukan di Instalasi Gawat Darurat Neurologi RSUP Prof. dr. I.G.N.G. Ngoerah dalam periode 3 tahun. Studi melibatkan 85 pasien lansia cSDH dan 85 kontrol yang terbukti tidak ada perdarahan intrakranial dari data imaging. Pengumpulan dan pengolahan data yang dilakukan meliputi variabel karakteristik demografi, faktor risiko, presentasi klinis, dan karakteristik cSDH pada gambaran CT-scan kepala.
Hasil: Studi ini menemukan prevalensi cSDH pada lansia sebesar 62% (85 pasien) dengan rata-rata usia 72,9±8.1 tahun dan 75,3% laki-laki. Penurunan kesadaran dan defisit fokal merupakan presentasi klinis yang paling sering ditemukan dengan median onset 3 hari (rentang 1-30 hari). Usia lebih tua, laki-laki (RO=2,84, 95% IK 1,45-5,45, p=0,001), hipertensi (RO=3,66, 95% IK 1,89-7,06, p=0,000), dan gangguan ginjal kronik (RO=2,77, 95% IK 1,34-5,72, p=0,005) merupakan faktor risiko terjadinya cSDH yang signifikan. Efek massa dan GCS yang rendah lebih sering terjadi pada cSDH dengan midline shift (MLS) >5mm.
Simpulan: Adanya cSDH perlu dipertimbangkan pada pasien lansia yang datang dengan onset manifestasi neurologis akut-subakut terutama pasien laki-laki, mengalami penurunan kesadaran dengan atau tanpa defisit fokal, disertai adanya komorbid hipertensi dan gangguan ginjal. Penurunan GCS dan efek massa dapat memperkirakan adanya MLS pada CT-scan kepala.
Kata kunci: hematoma subdural kronik, lansia, pencitraan, prediktor 
Hubungan antara Sukungan Sosial, Jenis Kelamin, dan Tingkat Pendidikan dengan Depresi dan Fungsi Kognitif Lanjut Suia dalam Komunitas Keagamaan
Introduction: Elderly individuals often experience psychosocial vulnerabilities that increase their risk for psychological disorders and are linked to cognitive impairments. This study explored how social support and demographic variables relate to the incidence of depression and cognitive decline among devout older adults.
Methods: This cross-sectional observational study involved 125 senior participants from the Javanese Christian Church in Ambarrukma District of Yogyakarta. The research utilized demographic questionnaires, social support evaluations, surveys on religious attitudes, the Geriatric Depression Scale, and the MOCA-Ina tests. Data will undergo univariate and bivariate analyses and binary linear regression to evaluate odds ratios (OR), 95% confidence intervals (CI), and Pearson correlations between variables.
Results: Elderly devout respondents (99.2%) who received good social support were more likely to experience no depression (47.9%) than those with poor social support (40.3%) (p=0.025; OR 0.182; 95% CI 0.038-0.873). The female gender suffered more from mild depression (p=0.021; OR 0.176; 95% CI 0.037-0.841) compared to men. Older adults with an education level of 7 years or more showed less mild cognitive impairment (p=0.044; OR 4.500; 95% CI 0.929-21.802).
Conclusion: This study revealed that social support plays a role in modifying the incidence of depression in devout elderly individuals. The female gender suffered more from mild depression. Additionally, lower education levels were correlated with mild cognitive impairment. Further research with a more robust analysis with a larger sample size and consideration of other factors is necessary to confirm the causal relationships between social support and gender and depression.
Latar Belakang: Penduduk di Indonesia akan memasuki struktur kependudukan usia tua. Kerentanan psikososial pada lanjut usia seringkali menyebabkan lanjut usia rentan mengalami gangguan psikologis dan berkaitan dengan gangguan fungsi kognitif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan sosial dan beberapa faktor demografi dengan terjadinya depresi dan fungsi kognitif pada lansia yang memiliki sikap keagamaan tinggi. Metode: Analisis studi observasional dengan desain cross-sectional pada 125 responden komunitas lansia Gereja Kristen Jawa Kecamatan Ambarrukma Yogyakarta. Instrumen penelitiannya adalah angket untuk mengetahui data demografi, angket dukungan sosial, angket Skala Depresi Geriatri, angket Sikap Beragama, dan angket MOCA-Ina. Data akan dianalisis secara univariat dengan menggambarkan karakteristik responden, bivariat untuk mengetahui signifikansi hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat, regresi linier biner untuk menentukan odds rasio (OR) dan interval kepercayaan 95% (CI 95%), dan menguji kelayakan responden. korelasi antar variabel. Hasil: Responden lanjut usia yang mendapat dukungan sosial baik lebih banyak mengalami depresi ringan (10.1%) dibandingkan dengan dukungan sosial buruk (1.7%) (p= 0.025; OR 0.182; 95% CI 0.038-0.873). Jenis kelamin perempuan lebih banyak mengalami depresi ringan (p= 0.021; OR 0.176; 95% CI 0.037-0.841) dan lebih banyak status perkawinan yang bercerai (p= 0.000; OR 0.376; 95% CI 0.239-0.591) dibandingkan laki-laki. Lansia dengan tingkat pendidikan 7 tahun atau lebih menunjukkan gangguan kognitif ringan (p= 0.044, OR 4.500, 95% CI 0.929-21.802). Kesimpulan: Dukungan sosial yang baik berhubungan dengan tingkat depresi yang lebih besar. Status perkawinan mempunyai dampak penting terhadap kejadian depresi ringan pada wanita lanjut usia. Rendahnya tingkat pendidikan berhubungan dengan gangguan fungsi kognitif ringan
Tingkat Pengetahuan Dokter Lulusan Baru Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Unika Atma Jaya Mengenai Neuropati Diabetika
Pendahuluan: Neuropati diabetika merupakan salah satu komplikasi mikrovaskular diabetes melitus (DM) yang paling sering ditemukan di praktik layanan primer. Menurut International Diabetes Federation (IDF), kurang dari satu pertiga dokter dapat mengenali tanda-tanda neuropati diabetika. Oleh karena itu, tingkat pengetahuan dokter mengenai neuropati diabetika yang akan berpraktik di fasilitas layanan kesehatan primer merupakan suatu hal yang penting untuk dibahas dan ditelusuri.
Metode: Tingkat pengetahuan diukur menggunakan sebuah kuesioner yang dirancang oleh peneliti dan diisi secara daring oleh responden. Kuesioner divalidasi oleh dua dokter spesialis neurologi dan pilot study dilakukan untuk menguji reliabilitas kuesioner. Perbaikan kuesioner dilakukan sesuai dengan masukan dan saran dari kedua peninjau kuesioner dan juga dari hasil pilot study.
Hasil: Didapatkan 53,8% responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai neuropati diabetika. Median nilai yang diperoleh responden adalah 80. Hasil analisis nonparametrik menggunakan uji Mann-Whiteney U untuk mengetahui hubungan antara tahap internship, jenis kelamin, memiliki kerabat atau anggota keluarga yang mengetahui atau memiliki riwayat neuropati diabetika, dan pengalaman mengikuti pelatihan atau seminar mengenai neuropati diabetika terhadap tingkat pengetahuan dokter lulusan baru menghasilkan nilai p sebesar 0,302, 0,678, 0,801, dan 0,951 secara berurutan. Hasil uji Kruskal Wallis untuk mengetahui hubungan tahun kelulusan terhadap tingkat pengetahuan neuropati diabetika menghasilkan nilai p sebesar 0,629.
Simpulan: Mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai neuropati diabetika dan faktor-faktor yang dianalisis pada studi ini tidak berhubungan dengan tingkat pengetahuan responden mengenai neuropati diabetika.Pendahuluan: Neuropati diabetika merupakan salah satu komplikasi mikrovaskular diabetes melitus (DM) yang paling sering ditemukan di praktik layanan primer. Menurut International Diabetes Federation (IDF), kurang dari satu pertiga dokter dapat mengenali tanda-tanda neuropati diabetika. Oleh karena itu, tingkat pengetahuan dokter mengenai neuropati diabetika yang akan berpraktik di fasilitas layanan kesehatan primer merupakan suatu hal yang penting untuk dibahas dan ditelusuri.
Metode: Tingkat pengetahuan diukur menggunakan sebuah kuesioner yang dirancang oleh peneliti dan diisi secara daring oleh responden. Kuesioner divalidasi oleh dua dokter spesialis neurologi dan pilot study dilakukan untuk menguji reliabilitas kuesioner. Perbaikan kuesioner dilakukan sesuai dengan masukan dan saran dari kedua peninjau kuesioner dan juga dari hasil pilot study.
Hasil: Didapatkan 53,8% responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai neuropati diabetika. Median nilai yang diperoleh responden adalah 80. Hasil analisis nonparametrik menggunakan uji Mann-Whiteney U untuk mengetahui hubungan antara tahap internship, jenis kelamin, memiliki kerabat atau anggota keluarga yang mengetahui atau memiliki riwayat neuropati diabetika, dan pengalaman mengikuti pelatihan atau seminar mengenai neuropati diabetika terhadap tingkat pengetahuan dokter lulusan baru menghasilkan nilai p sebesar 0,302, 0,678, 0,801, dan 0,951 secara berurutan. Hasil uji Kruskal Wallis untuk hubungan mengetahui tahun kelulusan terhadap tingkat pengetahuan neuropati diabetika menghasilkan nilai p sebesar 0,629.
Simpulan: Mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai neuropati diabetika dan faktor-faktor yang dianalisis pada studi ini tidak berhubungan dengan tingkat pengetahuan responden mengenai neuropati diabetika
Depresi dan Pendidikan Sebagai Determinan Utama Kualitas Hidup Pada Lansia
Pendahuluan: Kualitas hidup mencerminkan status kesehatan dan kesejahteraan lansia, namun kualitas hidup cenderung menurun seiring dengan bertambahnya usia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor (faktor sosiodemografi, depresi, dan fungsi kognitif) yang paling berpengaruh terhadap kualitas hidup lansia.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan studi potong lintang yang dilakukan pada 205 responden berusia ≥60 tahun di Pusat Santunan Keluarga (PUSAKA) Jelambar dan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Kualitas hidup dinilai dengan kuesioner World Health Organization Quality of Life – BREF (WHOQOL-BREF); depresi dinilai dengan Geriatric Depression Scale-15; fungsi kognitif dinilai dengan Montreal Cognitive Assessment versi Indonesia; variabel lainnya menggunakan kuesioner. Regresi logistik multivariat digunakan untuk menganalisis hubungan antara kualitas hidup dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Hasil: Berdasarkan karakteristik sosiodemografi, sebagian besar responden adalah wanita (72,2%), dengan usia lebih dari sama dengan 70 tahun (57,1%), berpendidikan kurang dari sama dengan 12 tahun (56,1%), dan bertatus menikah (55,6%). Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara depresi dengan kualitas hidup secara keseluruhan (p=0,014; OR=2,566), kepuasan terhadap kesehatan (p=0,007; OR=2,869), domain fisik (p=0,003; OR=3,049), domain psikologis (p=0,000; OR=4,458), domain hubungan sosial (p=0,000; OR=3,967), dan domain lingkungan (p=0,001; OR=3,407). Pendidikan memiliki hubungan yang signifikan dengan kualitas hidup secara keseluruhan (p= 0,002), kepuasan terhadap kesehatan (p= 0,016), domain fisik (p= 0,004), domain psikologis (p= 0,012), dan domain lingkungan (p= 0,008). Selain itu, usia hanya memiliki hubungan yang signifikan dengan kualitas hidup secara keseluruhan (p= 0,004).
Simpulan: Pendidikan rendah berpengaruh terhadap kualitas hidup secara keseluruhan, kepuasan terhadap kesehatan, domain fisik, domain psikologis, dan domain lingkungan, sedangkan depresi menjadi faktor yang paling berpengaruh terhadap kualitas hidup dan keempat domainnya serta lansia yang mengalami depresi lebih berisiko memiliki kualitas hidup yang buruk.ABSTRAK
Latar Belakang: Kualitas hidup mencerminkan status kesehatan dan kesejahteraan lansia, namun kualitas hidup cenderung menurun seiring dengan bertambahnya usia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor (faktor sosiodemografi, depresi, dan fungsi kognitif) yang paling berpengaruh terhadap kualitas hidup lansia.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan studi potong lintang yang dilakukan pada 205 responden berusia ≥60 tahun di Pusat Santunan Keluarga (PUSAKA) Jelambar dan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Kualitas hidup dinilai dengan kuesioner World Health Organization Quality of Life – BREF (WHOQOL-BREF); depresi dinilai dengan Geriatric Depression Scale-15; fungsi kognitif dinilai dengan Montreal Cognitive Assessment versi Indonesia; variabel lainnya menggunakan kuesioner. Regresi logistik multivariat digunakan untuk menganalisis hubungan antara kualitas hidup dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Hasil: Berdasarkan karakteristik sosiodemografi, sebagian besar responden adalah wanita (72,2%), dengan usia lebih dari sama dengan 70 tahun (57,1%), berpendidikan kurang dari sama dengan 12 tahun (56,1%), dan bertatus menikah (55,6%). Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara depresi dengan kualitas hidup secara keseluruhan (p=0,014; OR=2,566), kepuasan terhadap kesehatan (p=0,007; OR=2,869), domain fisik (p=0,003; OR=3,049), domain psikologis (p=0,000; OR=4,458), domain hubungan sosial (p=0,000; OR=3,967), dan domain lingkungan (p=0,001; OR=3,407). Pendidikan memiliki hubungan yang signifikan dengan kualitas hidup secara keseluruhan (p= 0,002), kepuasan terhadap kesehatan (p= 0,016), domain fisik (p= 0,004), domain psikologis (p= 0,012), dan domain lingkungan (p= 0,008). Selain itu, usia hanya memiliki hubungan yang signifikan dengan kualitas hidup secara keseluruhan (p= 0,004).
Kesimpulan: Pendidikan rendah berpengaruh terhadap kualitas hidup secara keseluruhan, kepuasan terhadap kesehatan, domain fisik, domain psikologis, dan domain lingkungan, sedangkan depresi menjadi faktor yang paling berpengaruh terhadap kualitas hidup dan keempat domainnya serta lansia yang mengalami depresi lebih berisiko memiliki kualitas hidup yang buruk.
Kata Kunci: Depresi, Kualitas Hidup, Lansia, Pendidikan, Usia
 
Effect Effect of Moringa Leaves (Moringa oleifera) on Fasting Blood Sugar Levels in Prediabetes
Pendahuluan: Prediabetes merupakan fase awal dari Diabetes Melitus tipe 2 (DM2). Dalam setahun, sekitar 5-10% pasien prediabetes akan berlanjut menjadi Diabetes Melitus tipe 2. Daun kelor memiliki potensi dalam mengontrol kadar gula darah, khususnya sebagai terapi tambahan alami dalam pencegahan dan terapi Diabetes Melitus tipe 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak daun kelor terhadap kadar gula darah puasa pada individu dengan prediabetes
Metode: Penelitian ini menggunakan desain randomized controlled trial (RCT). Pengambilan sampel dilakukan di sebuah klinik di Bekasi secara consecutive sampling, dengan 88 subjek yang memenuhi kriteria: prediabetes, usia 25-55 tahun, tidak menggunakan ADO dan insulin minimal 3 bulan sebelum penelitian, serta tidak sedang hamil dan menyusui. Subjek dibagi menjadi dua bagian kelompok yaitu: kelompok perlakuan (MO) yang mendapat kapsul daun kelor 2.400 mg/hari (n=45) dan kelompok kontrol (PLC) yang mendapat kapsul plasebo (n=43) selama 50 hari. Pemeriksaan kadar gula darah puasa dilakukan setiap 3 hari, dan data dianalisis menggunakan uji T-test tidak berpasangan dan Mann-Whitney (α=0,05)
Hasil: Terdapat perubahan yang bermakna dari rerata nilai kadar gula darah puasa pada kelompok perlakuan secara signifikan p <0.001 yaitu setelah 38 hari perlakuan.
Simpulan: Pemberian daun kelor selama 38 hari memengaruhi kadar gula darah puasa pasien prediabetes (p=0.001).Introduction: Prediabetes is an early stage in the development of type 2 Diabetes Mellitus. Within a year 5-10% of prediabetes patients develop into type 2 Diabetes Mellitus patients. Moringa leaves have the potential to regulate blood sugar levels, especially as a natural additional therapy in the prevention and treatment of type 2 Diabetes Mellitus. The aim of this research is to determine the effect of Moringa leaves on fasting blood sugar levels in prediabetes patient.
Methods :The design of this research was a Randomized Controlled Trial (RCT), consecutive sampling was carried out on patients at Clinic X Bekasi, there were 88 subjects who met the criteria; Prediabetes, aged 25-55 years, not using ADO and insulin for at least 3 months before the study, not pregnant and breastfeeding. Subjects were divided into two groups; The treatment group (MO) was given Moringa leaf capsules 2,400 mg/day (n=45) and the control group (PLC) was given placebo capsules (n=43) for 50 days. Fasting blood sugar levels were checked every 3 days and data were analyzed using the T-test and Mann Whitney test (a=0.05).
Results: The results showed that each group experienced a significant change in mean fasting blood sugar levels at p=0.001, namely after 38 days of treatment.
Conclusion: The conclusion of this study showed that giving Moringa leaves for 38 days had an effect on fasting blood sugar levels (p=0.001).
Key Words: Moringa leaves, Prediabetes, Randomized Controlled Trial
KEPATUHAN BEROBAT PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS, KOTA JAYAPURA, PROVINSI PAPUA TAHUN 2010
Background: The prevalence of pulmonary tuberculosis in Indonesia wasranked at the third position, following China and India across the world. The prevalence at Jayapura, the capital city of Papua province was 1.1% above the national prevalence. However, the treatment evaluation carried out in Primary Health Care at Jayapura City in 2008 pointed out that only 58.9% patiens recovered, 25.9% dropped out, 9.8% moved out and 5.4% died. It represented that although Primary Health Care in Jayapura city have been applying Directly Observed Treatment Short-course (DOTS ) program, but still drop out patients remained high.Design: Cross sectional study which was conducted in July 13, 2010 until August 1, 2010.Methods: Seven from nine primary health care at Jayapura city with 104 respondents were involved in this study. Sample was carried out from patients who came to the primary health care on the day of treatment that have beencompromised by each of the institution. The data was analyzed using SPSS 15 and Chi-Square and Fisher exact test.Conclusions: There was a significant relation between home visit and the attitude of health workers which take care of the patients with DOTS program. The suggestion of this study is to maintain or improve home visit activities toincrease the compliance treatment in patients with tuberculosis in primary health care at Jayapura City.Background: The prevalence of pulmonary tuberculosis in Indonesia wasranked at the third position, following China and India across the world. Theprevalence at Jayapura, the capital city of Papua province was 1.1% abovethe national prevalence. However, the treatment evaluation carried out inPrimary Health Care at Jayapura City in 2008 pointed out that only 58.9%patiens recovered, 25.9% dropped out, 9.8% moved out and 5.4% died. Itrepresented that although Primary Health Care in Jayapura city have beenapplying Directly Observed Treatment Short-course (DOTS ) program, but stilldrop out patients remained high.Design: Cross sectional study which was conducted in July 13, 2010 untilAugust 1, 2010.Methods: Seven from nine primary health care at Jayapura city with 104respondents were involved in this study. Sample was carried out from patientswho came to the primary health care on the day of treatment that have beencompromised by each of the institution. The data was analyzed using SPSS15 and Chi-Square and Fisher exact test.Conclusions: There was a significant relation between home visit and theattitude of health workers which take care of the patients with DOTS program.The suggestion of this study is to maintain or improve home visit activities toincrease the compliance treatment in patients with tuberculosis in primaryhealth care at Jayapura City.Key words: patient compliance, tuberculosis treatment, primary health care,Jayapura
Screening for Developmental Coordination Disorder in Elementary School Children Aged 6 – 8 Years During Covid-19 Pandemic in Cirebon City: A Comparative Study with Stunted and Normal-Height Children
Pendahuluan: Gangguan perkembangan koordinasi (GPK) merupakan gangguan neurodevelopmental pada anak, berupa defisit keterampilan motorik kasar dan halus. Anak dengan perawakan pendek sering mengalami berbagai masalah neurodevelopmental. Di Indonesia, belum ada penelitian secara spesifik membahas atau mengetahui mengenai GPK pada anak perawakan pendek dan normal. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran GPK pada anak perawakan pendek dan perbandingannya dengan anak perawakan normal.
Metode: Penelitian potong lintang dilakukan pada 172 anak sekolah dasar usia 6 – 8 tahun di Kota Cirebon. Pengambilan sampel menggunakan metode consecutive sampling. Penilaian GPK dinilai berdasarkan kuesioner DCDQ 2007 dan DCDDaily-Q terjemahan Bahasa Indonesia. Uji statistik menggunakan IBM SPSS ver 22.
Hasil: Jumlah proporsi GPK berdasarkan kuesioner DCDQ 2007 dan DCDDaily-Q yaitu 11,0% (n=19). Kejadian GPK pada anak perawakan pendek ditemukan lebih banyak dibandingkan anak perawakan normal (14,1% vs 8,9%). Hasil uji analisis didapatkan adanya perbedaan yang bermakna antar kedua kelompok pada rerata mean skor variabel performa (p=0,040) dan pembelajaran aktivitas motorik (AM) (p=0,035) pada subjek penelitian dengan GPK.
Simpulan: GPK lebih banyak ditemukan pada anak dengan perawakan pendek, terutama dengan defisit variabel performa dan pembelajaran AM. Deteksi dini perkembangan motorik anak sangat diperlukan, terutama saat pandemi COVID-19.Introduction: Developmental coordination disorder (DCD) is a neurodevelopmental disorder in children characterized by deficit in gross and fine motor skills. The majority of stunted children often experience various neurodevelopmental problems. In Indonesia, there are limited studies about DCD, specifically in stunted and normal-height children. This research aims to describe DCD in stunted children and its comparison with normal-height children.
Methods: A cross-sectional study of 172 elementary school children in Cirebon City. Sampling was done by consecutive sampling method. DCDQ 2007 and DCDDaily-Q was used to determine DCD in children and had been validated in Indonesian. Statistical analysis is conducted using IBM SPSS Ver 22.
Results: The proportion of DCD based on DCDQ 2007 and DCDDaily-Q was 11.0%. The incidence of DCD in stunted children was found to be higher than in normal-height children (14.1% vs 8.9%). Analysis test showed that there was a significant difference between the two groups in the mean quality score of the performance (p = 0.040) and learning activity daily living (ADL) (p = 0.035) on subjects with DCD,
Conclusion: DCD were more commonly found in stunted children, especially deficits in performance and learning ADL. Early detection for children's motor development is very necessary, especially during the Covid-19 pandemic
Analysis of Teenagers as Voluntary and Potential Blood Donors at the Blood Donation Unit PMI Bojonegoro
Pendahuluan: Donor darah merupakan kegiatan yang berhubungan langsung dengan keselamatan, kesehatan, dan nyawa, baik bagi pendonor sendiri maupun resipien, Pemenuhan kebutuhan darah sesuai jumlah yang dibutuhkan sangat diperlukan untuk mendukung sistem Kesehatan, terutama selama pandemi COVID-19 karena dipercaya bahwa produk plasmafesesis merupakan salah satu tindakan yang mampu menurunkan gejala pada pasien. Tingginya minat donor darah pada usia remaja di dasari oleh jiwa sosial dan motivasi yang tinggi untuk saling tolong menolong sehingga remaja dikategorikan sebagai pendonor darah potensial dan berkelanjutan.
Metode : Penelitian ini dilakukan di UDD PMI Kabupaten Bojonegoro pada Februari hingga Maret 2022. Desain penelitian yang digunakan yaitu penelitian deskriptif kuantitatif. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling dan diperoleh 668 responden, yang terdiri dari 449 donor laki-laki dan 179 donor perempuan.
Hasil: Total pendonor darah yang terkumpul selama periode Februari – Maret 2022 sebanyak 668 donor (449 laki-laki dan 179 perempuan). Menurut WHO, batas usia pendonor adalah usia remaja hingga lansia (sebelum 65 tahun). Analisis data menunjukkan 181 donor (27%) termasuk kategori remaja (17-25 tahun), 167 donor (25%) kategori dewasa awal (26-35 tahun), 167 donor (25%) kategori dewasa akhir (36-45 tahun), 124 donor (19%) kategori lansia awal (46-55 tahun), dan 29 donor (4%) kategori lansia akhir (56-65 tahun). Beberapa karakteristik yang memengaruhi keberhasilan donor darah pada kelompok usia remaja antara lain kadar hemoglobin, tekanan darah, dan konsumsi makanan <2 jam sebelum donor.
Simpulan: Penelitian ini disimpulkan bahwa presentasi keberhasilan terbanyak adalah pada remaja akhir sebanyak 181 (27%). Proses seleksi donor pada kelompok usia remaja dipengaruhi oleh kadar hemoglobin, tekanan darah, dan waktu terakhir makan.kesehatan, dan nyawa, baik bagi pendonor sendiri maupun resipien, Pemenuhan kebutuhan darah sesuai jumlah yang dibutuhkan sangat diperlukan untuk mendukung system Kesehatan, terutama selama pandemic COVID-19 dimana dipercaya bahwa produk plasmafesesis merupakan salah satu Tindakan yang mampu menurunkan gejala pada pasien. Tingginya minat donor darah pada usia remaja di dasari oleh jiwa sosial dan motivasi yang tinggi untuk saling tolong menolong sehingga remaja dikategorikan sebagai pendonor darah potensial dan berkelanjutan.
Metode : Penelitian ini dilakukan di UDD PMI Kabupaten Bojonegoro pada Februari hingga Maret 2022. Jenis penelitian yang diterapkan adalah deskriptif kuantitatif menggunakan teknik purposive Sampling dan data yang terkumpul dari 668 sampel, yang terdiri dari 449 calon pendonor laki-laki dan 179 pendonor perempuan.
Hasil : Total pendonor darah yang terkumpul selama periode Februari – Maret 2022 sebanyak 668 donor (449 pendonor laki-laki dan 179 pendonor perempuan). Berdasarkan WHO, batas usia pendonor adalah usia remaja hingga lansia (sebelum 65 tahun). Analisis data menunjukkan 181 donor (27%) termasuk kategori remaja, 167 donor (25%) kategori dewasa awal, 167 donor (25%) kategori dewasa akhir, 124 donor (19%) kategori lansia awal, dan 29 donor (4%) kategori lansia akhir. Beberapa karakteristik yang mempengaruhi keberhasilan donor darah pada kelompok usia remaja antara lain kadar hemoglobin, tekanan darah, dan waktu mengkonsumsi makanan kurang dari 2 jam sebelum donor.
Kesimpulan : Penelitian ini disimpulkan bahwa presentasi keberhasilan terbanyak adalah pada remaja akhir sebanyak 181 (27%). Proses seleksi donor pada kelompok usia remaja dipengaruhi oleh kadar hemoglobin, tekanan darah, dan waktu terakhir makan. .
Kata Kunci : Donor Darah, Remaja, Donor Potensia
Hubungan Hipertensi dan Depresi dengan Kualitas Hidup Pralansia dengan HIV
Latar Belakang: Efektivitas pengobatan ARV membuat angka harapan hidup pada orang dengan HIV bertambah, sehingga populasi lansia dengan HIV akan terus meningkat. Inflamasi kronis HIV dapat merusak jaringan tubuh sehingga meningkatkan risiko penyakit fisik seperti hipertensi. Paparan HIV juga meningkatkan risiko terjadinya gangguan kesehatan mental seperti depresi. Penelitian ini mengevaluasi hubungan hipertensi dan depresi dengan kualitas hidup khususnya pada pralansia dengan HIV untuk menjadi bahan pertimbangan dalam merekomendasikan penaganan peningkatan kualitas hidup saat memasuki fase lansia.
Metode: Penelitian ini merupakan studi crossectional terhadap 161 pralansia dengan HIV yang didampingi oleh beberapa yayasan ODHIV di DKI-Jakarta. Kriteria inklusi ialah ODHIV yang telah terdiagnosis dokter, menjalani ARV, berusia 45-59 tahun, dan menyetujui lembar informed consent. Kriteria eksklusi ialah dalam kondisi AIDS dan buta huruf. Alat ukur yang digunakan adalah sphygmomanometer, PHQ-9 dan WHOQOL-HIV BREF. Analisis data dilakukan dengan uji Mann-Whitney U dan uji Kruskal-Wallis.
Hasil: Sebagian besar partisipan mengalami hipertensi (52,5%) dan depresi (51,6%). Tidak ditemukan hubungan yang bermakna antara hipertensi dengan keseluruhan domain kualitas hidup (p>0,05). Terdapat hubungan yang bermakna antara depresi dengan keseluruhan domain kualitas hidup antara lain domain hubungan sosial (p=0,028), lingkungan (p=0,006), kesehatan fisik, kesehatan psikologis, tingkat kemandirian dan spiritual (p<0,001).
Simpulan: Proporsi hipertensi dan depresi pada pralansia dengan HIV cukup banyak ditemukan. Hipertensi tidak berhubungan dengan kualitas hidup pralansia dengan HIV, sedangkan depresi berhubungan dengan kualitas hidup pralansia dengan HIV.Latar Belakang: Efektivitas pengobatan ARV membuat angka harapan hidup pada orang dengan HIV bertambah, sehingga populasi lansia dengan HIV akan terus meningkat. Inflamasi kronis HIV dapat merusak jaringan tubuh sehingga meningkatkan risiko penyakit fisik seperti hipertensi. Paparan HIV juga meningkatkan risiko terjadinya gangguan kesehatan mental seperti depresi. Penelitian ini mengevaluasi hubungan hipertensi dan depresi dengan kualitas hidup khususnya pada pralansia dengan HIV untuk menjadi rekomendasi dalam mencapai kualitas hidup yang lebih baik pada fase lansia.
Metode: Penelitian ini merupakan studi crossectional terhadap 161 pralansia dengan HIV yang didampingi oleh beberapa yayasan ODHIV di DKI-Jakarta. Kriteria inklusi ialah ODHIV telah terdiagnosis dokter, menjalani ARV, berusia 45-59 tahun, dan menyetujui lembar informed consent. Kriteria Eksklusi ialah dalam kondisi AIDS dan buta huruf. Alat ukur yang digunakan adalah sphygmomanometer, PHQ-9 dan WHOQOL-HIV BREF. Analisis data dilakukan dengan uji Mann-Whitney U dan uji Kruskal-Wallis.
Hasil: Sebagian besar partisipan mengalami hipertensi (52,5%) dan depresi (51,6%). Tidak ditemukan hubungan yang bermakna antara hipertensi dengan keseluruhan domain kualitas hidup (p>0,05). Terdapat hubungan yang bermakna antara depresi dengan keseluruhan domain kualitas hidup antara lain domain hubungan sosial (p=0,028), lingkungan (p=0,006), kesehatan fisik, kesehatan psikologis, tingkat kemandirian dan spiritual (p<0,001).
Kesimpulan: Proporsi hipertensi dan depresi pada pralansia dengan HIV cukup banyak ditemukan. Hipertensi tidak berhubungan dengan kualitas hidup pralansia dengan HIV, sedangkan depresi berhubungan dengan kualitas hidup pralansia dengan HIV