Damianus Journal of Medicine
Not a member yet
169 research outputs found
Sort by
Sebuah Sebuah Laporan Kasus: Berbagai Faktor yang Berkontribusi Terhadap Kejadian Statin-Associated Muscle Symptoms ¬Imbas Atorvastatin
Pendahuluan: Adverse drug reaction (ADR) merupakan salah satu masalah kesehatan yang dapat menyebabkan pasien mengalami perawatan rumah sakit dan memperpanjang masa rawat. Statin berpotensi untuk menyebabkan efek samping yang berkaitan dengan gangguan otot. Atorvastatin merupakan salah satu obat golongan statin yang banyak digunakan saat ini.
Kasus: Seorang wanita 78 tahun, masuk rumah sakit dengan nyeri pada seluruh badan termasuk kedua tungkai. Pasien rutin menggunakan atorvastatin untuk menurunkan kolesterol. Pasien memiliki riwayat gangguan hati dan penggunaan Syzygium polyanthum. Pasien didiagnosis dengan rabdomiolisis akibat atorvastatin. Pasien diberikan Coenzym Q10 kemudian berangsur membaik setelah atorvastatin dihentikan.
Diskusi: Perubahan faktor fisiologis yang dapat memengaruhi farmakokinetik obat. Selain itu, interaksi bersama herbal juga dapat menyebabkan perubahan paparan atorvastatin. Hal ini dapat berkontribusi terhadap kejadian rabdomiolisis. Diagnosis Statin-Associated Muscle Symptom (SAMS) dapat diidentifikasi dengan SAMS Clinical Index.
Simpulan: Kejadian efek samping obat dapat disebabkan oleh beberapa faktor yang mendasari. Upaya deteksi dini melalui monitoring aktif dalam pelayanan kesehatan merupakan salah satu upaya peningkatan patient safety di rumah sakit.Pendahuluan: Adverse drug reaction (ADR) merupakan salah satu masalah kesehatan yang dapat dihadapi ketika perawatan pasien. Statin berpotensi untuk menyebabkan efek samping yang berkaitan dengan gangguan otot. Atorvastatin merupakan salah satu obat golongan statin yang banyak digunakan saat ini.
Kasus: Seorang wanita 78 tahun, masuk rumah sakit dengan nyeri pada seluruh badan termasuk kedua tungkai. Pasien rutin menggunakan atorvastatin untuk menurunkan kolesterol. Pasien memiliki riwayat gangguan hati dan penggunaan Syzygium polyanthum. Pasien didiagnosis dengan rabdomiolisis akibat atorvastatin. Pasien diberikan Coenzym Q10 kemudian berangsur membaik setelah atorvastatin dihentikan.
Diskusi: Perubahan faktor fisiologis yang dapat mempengaruhi farmakokinetik obat. Selain itu, interaksi bersama herbal juga dapat menyebabkan perubahan paparan atorvastatin. Hal ini dapat berkontribusi terhadap kejadian rabdomiolisis. Diagnosis SAMS dapat dilakukan dengan The Statin-Associated Muscle Symptom Clinical Index.
Simpulan: Kejadian efek samping obat dapat disebabkan oleh beberapa faktor yang mendasari. Upaya deteksi dini melalui monitoring aktif dalam pelayanan kesehatan merupakan salah satu upaya peningkatan patient safety di rumah sakit
Gambaran Histopatologi Spesimen Gaster post Laparoscopic Sleeve Gastrectomy di Rumah Sakit Sumber Waras Jakarta Barat
Pendahuluan: Obesitas seringkali menimbulkan berbagai masalah kesehatan. Laparoscopic Sleeve Gastrectomy (LSG) merupakan pilihan terapi bagi pasien obesitas berat yang gagal dengan perubahan gaya hidup atau terapi obat. Publikasi perubahan histopatologi spesimen gaster pasca LSG masih sedikit. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari data demografi dan gambaran histopatologi pasien yang telah menjalani LSG.
Metode: Penelitian ini adalah penelitian deskriptif potong lintang dengan jumlah sampel sebanyak 140 pasien dan berlokasi di RS Sumber Waras, Jakarta Barat, Indonesia. Variabel penelitian adalah jenis kelamin, umur, dan gambaran histopatologi. Data pasien yang menjalani LSG antara bulan Desember 2018 – Desember 2023 dikumpulkan secara purposive sampling.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan 140 pasien telah menjalani LSG dan diperiksa gambaran histopatologinya, perempuan 114 orang (81,4%) dan laki-laki 26 orang (18,6%). Usia penderita berkisar antara 13 hingga 67 tahun, dan sebagian besar pada kelompok usia 31-40 tahun. Histopatologi spesimen terbanyak adalah gastritis kronik sebanyak 37,2%, disusul gambaran gaster normal sebanyak 31,4%, agregat limfoid (18,6%), polip kelenjar fundus (4,3%), gastropati kongestif (2,7%), gastritis atrofik (1,6%), leiomioma (1,6%), hiperplasia kelenjar fundus (1,1%), polip inflamatorik (0,5%), divertikel (0,5%), dan neurofibroma (0,5%).
Simpulan: Gambaran histopatologi yang didapatkan pada spesimen gaster pasca LSG bervariasi dari gaster normal, lesi non neoplasma, dan neoplasma jinak yaitu leiomioma dan neurofibroma. Hasil temuan penelitian ini menunjukkan perlunya pemeriksaan histopatologi rutin pada spesimen LSG.Pendahuluan: Obesitas seringkali dikaitkan dengan berbagai penyakit penyerta dan masalah kesehatan. Bedah bariatrik adalah pilihan tepat bagi pasien obesitas berat yang mengalami kegagalan dalam perubahan gaya hidup atau terapi obat. Salah satu metode bedah bariatrik adalah Laparoscopic Sleeve Gastrektomi (LSG). Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari data demografi dan temuan histopatologi pasien yang telah menjalani LSG.
Metode: Penelitian ini adalah penelitian deskriptif potong lintang dengan jumlah sampel sebanyak 140 pasien dan berlokasi di laboratorium patologi anatomi RS Sumber Waras, Jakarta Barat, Indonesia. Variabel yang diteliti adalah jenis kelamin, umur, dan hasil histopatologi. Data pasien yang menjalani LSG antara bulan Desember 2018 – Desember 2023 dikumpulkan secara non-random sampling.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 140 pasien yang telah menjalani LSG dan diperiksa gambaran histopatologinya, 114 orang (81,4%) adalah perempuan dan 26 orang (18,6%) adalah laki-laki. Usia penderita berkisar antara 13 hingga 67 tahun, dan sebagian besar berada pada kelompok usia 31-40 tahun. Pemeriksaan histopatologi spesimen menunjukkan gastritis adalah temuan histopatologi terbanyak yaitu sebanyak 70 orang (37,2%), disusul gambaran gaster normal sebanyak 59 orang (31,4%). Temuan patologis lainnya adalah aggregat limfoid (18,6%), fundic gland polyp (4,3%), gastropati kongestif (2,7%), atrofi gaster (1,6%), leiomioma (1,6%), hiperplasia kelenjar fundal (1,1%), polip inflamatorik (0,5%), divertikel (0,5%), dan neurofibroma (0,5%).
Simpulan: Temuan pada penelitian ini menunjukkan perlunya pemeriksaan histopatologi rutin pada spesimen LSG. Studi ini juga menyoroti leiomioma dan neurofibroma sebagai temuan histopatologis yang ditemukan secara kebetulan dalam spesimen gaster.
Kata Kunci: obesitas, bedah bariatrik, laparoscopic sleeve gastrectomy, gambaran histopatolog
Efektivitas Latihan Peregangan sebagai Penanganan Osteoartritis Lutut
Pendahuluan: Terapi latihan peregangan merupakan terapi utama dan mudah dilakukan untuk osteoartritis lutut, penyebab utama disabilitas dan nyeri di dunia. Saat ini, standar pemberian terapi dan efeknya pada osteoartritis lutut masih bervariasi. Tinjauan pustaka ini bertujuan merangkum efektivitas terapi latihan peregangan terhadap penanganan osteoartritis lutut.
Metode: Artikel ini menggunakan tinjauan pustaka dari berbagai literatur artikel penelitian mengenai efektivitas latihan peregangan terhadap osteoartritis lutut.
Hasil: Latihan peregangan dapat dilakukan sebagai latihan tunggal ataupun bersamaan dengan latihan lainnya. Latihan ini memberikan efek penurunan nyeri, peningkatan lingkup gerak sendi, dan penurunan disabilitas. Efek-efek tersebut dinilai dengan instrumen Visual Analog Scale (VAS), pemeriksaan lingkup gerak sendi dengan goniometer, Knee Injury and Osteoarthritis Outcome Score (KOOS), Western Ontario and McMaster University Osteoarthritis Index (WOMAC), dan Lequesne’s Index. Peregangan dapat dilakukan secara bervariasi dengan target otot utama adalah kuadrisep dan hamstring selama 15-30 detik, empat sampai sepuluh kali repetisi, dengan frekuensi setiap hari hingga tiga kali seminggu dalam bentuk teknik peregangan statis atau proprioceptive neuromuscular facilitation (PNF). Hasil yang signifikan sudah dapat terlihat dalam enam minggu hingga tiga bulan.
Simpulan: Latihan peregangan menunjukkan efek yang baik dalam menurunkan nyeri, meningkatkan lingkup gerak sendi, menurunkan disabilitas, dan meningkatkan kualitas hidup, terutama latihan menggunakan metode peregangan PNF.Pendahuluan: Osteoartritis lutut merupakan salah satu penyebab utama nyeri dan disabilitas di dunia yang memerlukan penanganan maksimal. Salah satu penanganan penting dan mudah dilakukan adalah latihan peregangan.
Tujuan Tinjauan pustaka ini bertujuan mengetahui efektivitas latihan peregangan terhadap penanganan osteoarthritis lutut.
Metode: Artikel ini menggunakan tinjauan pustaka dari berbagai literatur artikel penelitian mengenai efektivitas latihan pereganan terhadap osteoartritis lutut.
Diskusi: Cara peregangan dapat dilakukan bervariasi dengan target otot utama adalah kuadrisep dan hamstring selama 15 – 30 detik, empat sampai sepuluh kali repetisi, dengan frekuensi setiap hari hingga tiga kali seminggu dalam bentuk teknik peregangan statis, dinamis, atau proprioceptive neuromuscular facilitation (PNF). Latihan peregangan dapat dilakukan sebagai latihan tunggal ataupun bersamaan dengan latihan lainnya. Latihan ini memberikan efek penurunan nyeri, peningkatan lingkup gerak sendi, dan penurunan disabilitas. Efek-efek tersebut dinilai dengan instrumen Visual Analog Scale (VAS), pemeriksaan lingkup gerak sendi dengan goniometer, Knee Injury and Osteoarthritis Outcome Score (KOOS), Western Ontario and McMaster University Osteoarthritis Index (WOMAC), dan Lequesne’s Index. Hasil yang signifikan sudah dapat terlihat dalam enam minggu hingga tiga bulan. Semua program dan teknik peregangan memberikan efek baik pada penurunan nyeri, peningkatan lingkup gerak sendi, penurunan disabilitas dan peningkatan kualitas hidup, terutama latihan dengan teknik peregangan PNF
English
Introduction: Cataract surgery technologies continue to manage complications. Current surgical methods for secondary Intra Ocular Lens (IOL) include Anterior Chamber IOL, Iris Claw IOL, and sutured and sutureless techniques of Scleral Fixation IOL (SFIOL). The Yamane technique of SFIOL is a novel, relatively safe, and easy method of sutureless SFIOL. This study aims to describe and analyze the surgical outcomes and complications of the Yamane IOL implantation technique.
Methods: A retrospective study of 21 eyes of 21 patients that underwent scleral fixation of IOL by the Yamane technique was observed. Demographic data, primary indications for surgery, best corrected visual acuity (BCVA), intraocular pressure (IOP) pre-operative and post-operative during follow-up, and complications were also analyzed.
Results: Twenty-one patients were included, with an average age of 52.57±23.41 years old. Eleven eyes with lens subluxation (52.4%), 9 eyes with aphakia (42.9%), and 1 eye with phacodonesis (4.8%) were indicated for the Yamane technique of SFIOL in this study. The preoperative mean BCVA was 2.2±0.9 LogMAR, while the 1-month postoperative BCVA was 1.1±0.9 LogMAR. The mean preoperative IOP was 15.81±6.7 mmHg, and the 1-month postoperative IOP was 16.00±7.7 mmHg. This study found that there was a significant improvement in BCVA with p=0.00 (p<0.05), and there was no significant postoperative IOP spike with p=0.88 (p<0.05). The main complications observed in this study were corneal edema (23.8%) and postoperative IOP spike (14,3%).
Conclusion: The Yamane SFIOL technique is a relatively safe approach for the surgical management of patients who need secondary IOL implantation with significantly improved visual function without significant complications
Analisis in silico pasangan miRNA-mRNA pada sindrom metabolik dan Parkinson: Hubungan molekuler dan potensi biomarker
Introduction: Parkinson's disease (PD) is the second most common neurodegenerative disease. Identification of PD biomarkers is critical for early diagnosis and development of therapeutic targets. There are many factors that are associated with PD, including metabolic syndrome (MetS). However, molecular links between MetS and PD for biomarkers is still a challenge. This study aims to determine the molecular links between MetS and PD using an in silico approach.
Methods: Data were obtained from Gene Expression Omnibus to identify differentially expressed genes (DEGs) and microRNA (DEMs) in PD and MetS. DEGs were mapped to protein-protein interaction (PPI) networks using the STRING platform. Then, gene ontology (GO) and pathway analysis was performed with EnrichR to reveal specific and overlapped biological processes. Finally, microRNA (miRNA) and mRNA pairs were predicted using TargetScan.
Results: A total of 25 DEGs were identified in both MetS and PD. GO and pathway analysis for MetS-PD revealed that these DEGs mainly related to metabolic and cytokine pathways. Examination of miRNA showed that hsa-miR-631 was down-regulated in both MetS and PD. GO and pathway analysis on predicted targets of hsa-miR-631 showed major changes in metabolic pathways. Hsa-miR-631 can target the 3' UTR of ATP2B4 at poorly conserved site, indicating a specific miRNA-mRNA pairing in humans.
Conclusion: In patients with MetS and PD, hsa-miR-631 and ATP2B4 are depleted and elevated, respectively. Bioinformatic analysis indicates that ATP2B4 is a target of hsa-miR-631. We demonstrate for the first time that hsa-miR-631/ ATP2B4 pair is potential biomarker for PD due to MetS.Pendahuluan: Parkinson (PD) adalah penyakit neurodegeneratif paling umum kedua di dunia. Identifikasi biomarker PD sangat penting untuk diagnosis dini dan pengembangan target terapi. Terdapat banyak faktor yang tidak hanya terkait dengan PD tetapi juga bertanggung jawab atas progresivitas, seperti sindrom metabolik (MetS). Namun, menemukan kaitan molekuler yang menghubungkan MetS dan PD yang dapat digunakan sebagai biomarker faktor risiko masih merupakan tantangan. Penelitian ini bertujuan untuk mencari hubungan molekuler MetS dan PD dengan pendekatan in silico.
Metode: Data diunduh dari Gene Expression Omnibus untuk mengidentifikasi informasi ekspresi mikroRNA (miRNA) dan mRNA pada MetS dan PD. Informasi gen dipetakan ke jejaring interaksi protein-protein (PPI) menggunakan platform STRING. Kemudian, ontologi gen dan analisis jalur dilakukan dengan EnrichR untuk menunjukkan proses biologis spesifik dan beririsan, serta deregulasi jalur. Terakhir, pasangan miRNA dan mRNA diprediksi dengan TargetScan.
Hasil: Sebanyak 25 gen mengalami perubahan pada MetS dan PD. Ontologi gen dan analisis jalur untuk gen asosiasi MetS-PD terutama terkait dengan jalur metabolisme dan sitokin. Pemeriksaan miRNA menunjukkan hsa-miR-631 mengalami penurunan ekspresi pada MetS dan PD. Ontologi gen dan analisis jalur pada prediksi target hsa-miR-631 juga menunjukkan perubahan dominan pada jalur metabolisme. Hsa-miR-631 dapat mentargetkan 3’ UTR dari ATP2B4 pada bagian yang tidak lestari, mengindikasikan pasangan miRNA-mRNA spesifik pada manusia.
Simpulan: Pada pasien MetS dan PD, ekspresi hsa-miR-631 menurun dan ekspresi ATP2B4 meningkat dalam darah. Analisis bioinformatik menunjukkan bahwa ATP2B4 merupakan target dari hsa-miR-631. Hasil ini merupakan laporan pertama yang menunjukkan potensi pasangan hsa-miR-631-ATP2B4 sebagai biomarker risiko PD pada penderita MetS
Hospital Electronic Medical Record: Satisfaction, Use And Perceived Benefit With Computer Literacy As Mediator in Sumba
Pendahuluan: Penggunaan rekam medis elektronik (RME) yang diwajibkan oleh Kementerian Kesehatan pada akhir tahun 2023 memberikan tantangan bagi perumahsakitan di Indonesia. Masih ada beberapa daerah yang memiliki sumber daya minimal namun “suka atau tidak suka” harus menjalankan RME dalam semua pelayanan. Faktor-faktor yang memengaruhi penggunaan RME tersebut perlu dikaji secara seksama, di antaranya adalah faktor literasi komputer.
Metodologi: Lokasi penelitian dilakukan di RS Karitas Weetabula, Kabupaten Sumba Barat Daya, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia dengan jumlah populasi pengguna RME 249 orang dengan tingkat pendidikan dari SMA-S3 dengan menggunakan Google Form yang disebarkan melalui pesan singkat. Terhimpun sampel sejumlah 185 orang yang kemudian diolah dengan SEM PLS 3.0.
Hasil: Ditemukan adanya hubungan positif dan signifikan antara kualitas sistem, kualitas layanan dengan kepuasan pengguna RME (P<0,05; T>1,96) begitu juga dengan hubungan antara penggunaan RME serta kepuasan pengguna terhadap manfaat RME baik individu maupun organisasi (P<0,05; T>1,96). Literasi komputer tidak memiliki hubungan moderasi yang bermakna namun memiliki hubungan mediasi terhadap kepuasan pengguna RME (P<0,05; T>1,96).
Simpulan: Perlu adanya penelitian lanjutan untuk mencari hubungan literasi komputer dalam memediasi kepuasan pengguna RME.ABSTRACT
Introduction: The use of the Electronic Medical Record (EMR) which is required by the ministry of health at
the end of 2023 poses a challenge for hospitals in Indonesia. There are still a number of areas that have
minimal resources but "like it or not" have to carry out EMR in all services. For this reason, it is necessary to
examine carefully the factors that influence the use of EMR, one of which is the factor of computer literacy.
Methodology: The research location was conducted at Karitas Weetabula Hospital, Southwest Sumba
Regency, East Nusa Tenggara Province, Indonesia with a population of 249 users with education levels from
High School Graduate to Doctoral Graduate by using the Google form which was distributed via short
messages. A sample of 185 people was collected which was then processed with SEM PLS 3.0
Results: There is a positive and significant relationship founding between system quality, service quality and
EMR user satisfaction (P<0,05; T>1,96) as well as the relationship between the use of EMR and user
satisfaction with the benefits of EMR both individuals and organizations (P<0,05; T>1,96). Computer literacy
does not have a significant moderating relationship but may have a mediating relationship to RME user
satisfaction (P<0,05; T>1,96).
Conclusion: Further research is needed to find the relationship between computer literacy in mediating EMR
user satisfaction.
Keywords: Computer Literacy, Electronic Medical Records, EMR, Perceived Benefits, Service Quality,
System Quality, Use of EMR, User Satisfaction
ABSTRAK
Pendahuluan: Penggunaan Rekam Medis Elektronik (RME) yang diwajibkan oleh kementerian kesehatan
pada akhir tahun 2023 memberikan tantangan bagi perumahsakitan di Indonesia. Masih ada beberapa daerah
yang memiliki sumber daya minimal namun “suka atau tidak suka” harus menjalankan RME Dalam semua
pelayanan. Untuk itu perlu dikaji secara seksama faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan RME tersebut
di antaranya adalah faktor literasi komputer.
Metodologi: Lokasi penelitian dilakukukan di RS Karitas Weetabula, Kabupaten Sumba Barat Daya, Provinsi
Nusa Tenggara Timur, Indonesia dengan jumlah populasi pengguna RME 249 orang dengan tingkat
pendidikan dari SMA-S3 dengan menggunakan google form yang disebarkan melalui pesan singkat.
Terhimpun sampel sejumlah 185 orang yang kemudian diolah dengan SEM PLS 3.0
Hasil: Ditemukan adanya hubungan positif dan signifikan antara kualitas sistem, kualitas layanan dengan
kepuasan pengguna RME (P<0,05; T>1,96) begitu juga dengan hubungan antara penggunaan RME serta
kepuasan pengguna terhadap manfaat RME baik individu maupun organisasi (P<0,05; T>1,96). Literasi
komputer tidak memiliki hubungan moderasi yang bermakna namun memiliki hubungan mediasi terhadap
kepuasan pengguna RME (P<0,05; T>1,96).
Kesimpulan: Perlu adanya penelitian lanjutan untuk mencari hubungan literasi komputer dalam memediasi
kepuasan pengguna RME
Sindrom Gitelman dengan manifestasi paralisis hipokalemia pada wanita hamil
Pendahuluan: Sindrom Gitelman merupakan kondisi tubulopati kehilangan garam yang ditandai dengan alkalosis metabolik dengan hipokalemia, hipomagnesemia, dan hipokalsiuria. Kasus sindrom Gitelman pada kehamilan jarang dipublikasikan hingga saat ini.
Laporan Kasus: Seorang wanita berusia 23 tahun pada kehamilan ketiga dengan usia gestasi 21 minggu datang dengan kelemahan pada kedua tungkai dan kekakuan pada kedua tangan, kemudian terdiagnosis dengan sindrom Gitelman (SG). Pasien memiliki riwayat emesis gravidarum dan defek septum atrium (DSA). Pada pemeriksaan neurologis didapatkan penurunan kekuatan motorik pada kedua tungkai. Pemeriksaan elektrolit menunjukkan adanya hiponatremia, hipokalemia, hipokalsemia, dan hipomagnesemia, serta terdapat peningkatan kadar natrium, kalium, dan klorida pada urin. Ekokardiografi menunjukkan adanya defek septum atrium sekundum dengan left-to-right shunt. Selama perawatan, pasien diberikan natrium, kalium, kalsium, dan magnesium secara intravena yang kemudian dilanjutkan secara oral. Pasien kemudian melahirkan bayi yang sehat dan tidak ditemukan komplikasi selama dan sesudah persalinan. Dua bulan setelah persalinan, pasien kontrol ke poliklinik penyakit dalam dan kondisinya stabil dengan dosis suplementasi kalium yang diturunkan.
Diskusi: Pasien dengan SG mengalami gangguan dalam kon-servasi kadar kalium dan magnesium. Kondisi ini dapat diperburuk dengan perubahan fisiologis yang terjadi selama kehamilan, meliputi ekspansi volume serta meningkatnya aliran darah ke ginjal dan laju filtrasi glomerulus, yang berkontribusi terhadap hipo-kalemia. Selain itu, terdapat peningkatan kebutuhan kalium dan magnesium pada populasi ibu hamil. Efek protektif yang menurun juga semakin memperburuk penurunan kadar kalium dan magnesium.
Simpulan: Diagnosis dan tatalaksana yang baik dapat membantu ibu hamil dengan SG dan DSA menjalani persalinan dengan lancar dan melahirkan bayi yang sehat
terhadap, dengan Pengaruh Ekstrak Etanol Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia) terhadap Pertumbuhan Escherichia coli dengan Metode Difusi Cakram
Latar Belakang: Bawang dayak merupakan salah satu tanaman yang dinyatakan berfungsi sebagai obat herbal. Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa bawang dayak berfungsi sebagai aktivittas antimikroba. Saat ini bawang dayak dalam bentuk serbuk banyak beredar di pasaran dan mudah terjangkau. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas antimikroba ekstrak serbuk bawang dayak yang beredar di pasaran terhadap pertumbuhan Escherichia coli dengan metode difusi cakram menggunakan media Mueller Hinton Agar.
Metode: Serbuk bawang dayak yang beredar di pasaran diekstrak dengan metode maserasi menggunakan etanol 96%. Ekstrak diuji terhadap pertumbuhan Escherichia coli ATCC 25922 menggunakan metode difusi cakram dengan media Mueller Hinton Agar dengan pengulangan lima kali kemudian diukur zona hambat yang terbentuk.
Hasil: Pada pengujian tampak efek antimikroba dari ekstrak serbuk bawang dayak konsentrasi 10, 50, dan 100 mg/ml air terhadap Escherichia coli ATCC 25922, tidak membentuk zona hambat.
Simpulan: Ekstrak serbuk bawang dayak yang beredar yang digunakan dalam penelitian ini tidak memiliki efek antimikroba terhadap Escherichia coli.Latar Belakang: Eshcerichia coli merupakan salah satu penyebab penyakit diare pada anak-anak dan infeksi saluran kemih pada orang dewasa. Meningkatnya angka resistensi obat oleh bakteri penyebab penyakit infeksi membuat pengobatan menjadi lebih sulit. Salah satu tanaman yang berfungsi sebagai obat herbal adalah bawang dayak. Saat ini bawang dayak banyak beredar di pasaran dan mudah terjangkau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas antimikroba ekstrak bawang dayak yang beredar di pasaran terhadap Escherichia coli dengan metode difusi cakram menggunakan media Mueller Hinton Agar.
Metode: Serbuk bawang dayak yang beredar di pasaran diekstrak dengan metode maserasi menggunakan etanol 96%. Ekstrak diuji terhadap Escherichia coli ATCC 25922 menggunakan metode difusi cakram dengan media Mueller Hinton agar dengan pengulangan lima kali kemudian diukur zona hambat yang terbentuk.
Hasil: Pada pengujian antimikroba ekstrak bawang dayak konsentrasi 10, 50, dan 100 mg/ml air terhadap Escherichia coli ATCC 25922, tidak terbentuk zona hambat.
Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan potensi ekstrak bubuk bawang dayak yang beredar yang digunakan dalam penelitian ini tidak memiliki efek antimikroba terhadap Escherichia coli
Uji Coba Modul Yoga untuk Mengatasi Insomnia Tingkat Ringan-sedang pada Mahasiswa Kedokteran
Pendahuluan: Insomnia adalah gangguan tidur yang paling umum terjadi. Gejalanya dapat berupa sulit untuk tertidur, sering terbangun pada malam hari dan tidak dapat tertidur kembali, bangun terlalu dini, atau bangun dengan kondisi kurang segar. Mahasiswa kedokteran merupakan salah satu kelompok yang rentan untuk memiliki insomnia. Kualitas tidur yang buruk dapat mengganggu kinerja kognitif dan motorik. Yoga dilaporkan dapat memberikan efek relaksasi sehingga dapat mengurangi gejala insomnia. Uji coba modul ini mengetahui pengaruh yoga terhadap insomnia tingkat ringan-sedang pada mahasiswa kedokteran.
Metode: Studi ini merupakan uji coba modul dengan menggunakan kelompok studi dan kelompok kontrol. Total partisipan ada 16 orang yang memenuhi kriteria penelitian. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner Insomnia Severity Index (ISI) untuk mengukur derajat insomnia dan 17 pertanyaan mengenai modul yoga. Intervensi latihan yoga dilakukan selama 8 minggu. Analisis data menggunakan uji-t berpasangan untuk mengetahui perubahan rerata skor ISI sebelum dan sesudah intervensi.
Hasil: Uji statistik menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara rerata skor ISI pre-intervention dan post-intervention (p<0,001) pada kelompok studi. Modul yoga juga dapat diikuti dengan baik oleh partisipan.
Simpulan: Penelitian ini mengindikasikan bahwa latihan yoga berdasarkan modul yang telah disusun dapat mengurangi gejala insomnia pada mahasiswa kedokteran. Modul yoga juga dapat diikuti dengan baik oleh partisipan.Pendahuluan: Insomnia adalah gangguan tidur yang paling umum terjadi. Gejalanya dapat berupa sulit untuk tertidur, sering terbangun pada malam hari dan tidak dapat tertidur kembali, bangun terlalu dini, atau bangun dengan kondisi kurang segar. Mahasiswa kedokteran merupakan salah satu kelompok yang rentan untuk memiliki insomnia. Kualitas tidur yang buruk dapat mengganggu kinerja kognitif dan motorik. Yoga dilaporkan dapat memberikan efek relaksasi sehingga dapat mengurangi gejala insomnia. Uji coba modul ini mengetahui pengaruh yoga terhadap insomnia tingkat ringan-sedang pada mahasiswa kedokteran.
Metode: Desain studi penelitian ini adalah kuasi-eksperimental. Total partisipan ada 16 orang yang memenuhi kriteria penelitian. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner Insomnia Severity Index (ISI) untuk mengukur derajat insomnia dan 17 pertanyaan mengenai modul yoga. Intervensi latihan yoga dilakukan selama 8 minggu. Analisis data menggunakan uji normalitas Shapiro-Wilk dan uji paired t-test untuk mengetahui perubahan rerata skor ISI sebelum dan sesudah intervensi.
Hasil: Uji statistik menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara rerata skor ISI pre-intervention dan post-intervention (p<0,001) pada kelompok studi. Modul yoga juga dapat diikuti dengan baik oleh partisipan.
Simpulan: Penelitian ini mengindikasikan bahwa latihan yoga berdasarkan modul yang telah disusun dapat mengurangi gejala insomnia pada mahasiswa kedokteran. Modul yoga juga dapat diikuti dengan baik oleh partisipan
Penurunan Kadar Malondialdehid (MDA) pada Tikus Putih Jantan Hiperlipidemia oleh Pemberian Ekstrak Etanol Bajakah Tampala
Pendahuluan: Penyebab kematian tertinggi di Indonesia adalah stroke dan penyakit jantung koroner. Salah satu faktor risiko adalah hiperlipidemia. Hiperlipidemia berisiko menyebabkan aterosklerosis. Stres oksidatif telah terbukti berperan pada hiperlipidemia dan aterosklerosis. Salah satu biomarker untuk menentukan stres oksidatif adalah malondialdehid (MDA). Penggunaan antioksidan dapat mengurangi kerusakan yang diakibatkan oleh radikal bebas. Bajakah tampala adalah tanaman yang mengandung berbagai metabolit sekunder yaitu flavonoid, fenol, tanin, dan saponin. Metabolit sekunder tersebut berperan sebagai antioksidan dan memiliki efek hipolipidemik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas dari ekstrak bajakah tampala dalam pengobatan penyakit hiperlipidemia.
Metode: Penelitian ini adalah studi eksperimental in vivo terhadap tikus dengan metode pre-test dan post-test. Sampel penelitian adalah 12 ekor tikus putih jantan Sprague-Dawley yang sehat dan tidak cacat berusia 8 minggu dengan berat badan ±200 gram. Tikus diinduksi hiperlipidemia selama 21 hari. Setelah itu, kelompok pertama diberikan ekstrak bajakah tampala dan kelompok kedua diberikan simvastatin selama 21 hari. Nilai absorbansi sampel campuran serum dengan reagen MDA assay kit pada panjang gelombang 450 nm, 532 nm, dan 600 nm diukur menggunakan metode spektrofotometri. Kadar MDA dihitung dengan rumus menggunakan nilai absorbansi tersebut. Data dianalisis dengan menggunakan uji T berpasangan dan uji T tidak berpasangan.
Hasil: Hasil menunjukkan penurunan yang signifikan pada rerata kadar MDA tikus putih jantan hiperlipidemia yang diberikan ekstrak bajakah tampala (p<0,05). Tidak terdapat perbedaan rerata penurunan kadar MDA yang signifikan antara yang diberikan ekstrak bajakah tampala dengan simvastatin (p>0,05).
Simpulan: Pemberian ekstrak bajakah tampala terbukti efektif dalam menurunkan kadar MDA pada tikus putih jantan hiperlipidemia.Pendahuluan: Penyebab kematian tertinggi di Indonesia adalah stroke dan penyakit jantung koroner. Salah satu faktor risiko adalah hiperlipidemia. Hiperlipidemia berisiko menyebabkan aterosklerosis. Stres oksidatif telah terbukti berperan pada hiperlipidemia dan aterosklerosis. Salah satu biomarker untuk menentukan stres oksidatif adalah malondialdehid (MDA). Penggunaan antioksidan dapat mengurangi kerusakan yang diakibatkan oleh radikal bebas. Bajakah tampala adalah tanaman yang mengandung berbagai metabolit sekunder yaitu flavonoid, fenol, tanin, dan saponin. Metabolit sekunder tersebut berperan sebagai antioksidan dan memiliki efek hipolipidemik. Peneliti ingin mengetahui efektivitas dari ekstrak bajakah tampala dalam pengobatan penyakit hiperlipidemia.
Metode: Penelitian ini adalah studi eksperimental in vivo terhadap tikus dengan metode pre-test dan post-test. Sampel penelitian adalah 12 ekor tikus putih jantan Sprague-Dawley yang sehat dan tidak cacat berusia 8 minggu dengan berat badan ±200 gram. Tikus diinduksi hiperlipidemia selama 21 hari. Setelah itu, kelompok pertama diberikan ekstrak bajakah tampala dan kelompok kedua diberikan simvastatin selama 21 hari. Nilai absorbansi sampel campuran serum dengan reagen MDA assay kit pada panjang gelombang 450 nm, 532 nm, dan 600 nm diukur menggunakan metode spektrofotometri. Kadar MDA dihitung dengan rumus menggunakan nilai absorbansi tersebut. Data dianalisis dengan menggunakan uji paired T-test.
Hasil: Hasil menunjukkan penurunan yang signifikan pada rerata kadar MDA tikus putih jantan hiperlipidemia yang diberikan ekstrak bajakah tampala (p<0,05). Tidak terdapat perbedaan rerata penurunan kadar MDA yang signifikan antara yang diberikan ekstrak bajakah tampala dengan simvastatin (p>0,05).
Kesimpulan: Pemberian ekstrak bajakah tampala terbukti efektif dalam menurunkan kadar MDA pada tikus putih jantan hiperlipidemia.
Kata Kunci: Bajakah tampala, malondialdehid, stres oksidatif, hiperlipidemi