Damianus Journal of Medicine
Not a member yet
    169 research outputs found

    HUBUNGAN DERAJAT MIOPISASI DENGAN KATARAK SENILIS TIPE NUKLEAR PADA PASIEN POLI KLINIK MATA RUMAH SAKIT ATMA JAYA JAKARTA TAHUN 2018-2023

    No full text
    Pendahuluan: Katarak adalah penyebab utama gangguan penglihatan, memengaruhi jutaan orang di seluruh dunia, termasuk 81% kasus kebutaan di Indonesia, terutama katarak senilis. Miopia, yang sering dikaitkan dengan katarak nuklear, terjadi akibat perubahan indeks bias pada lensa mata yang mengakibatkan "myopic shift" atau miopisasi. Miopisasi dapat memberikan ilusi perbaikan penglihatan dekat ("second-sight"), yang sering menunda diagnosis dan perawatan katarak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui insidensi dan derajat miopisasi pada pasien katarak senilis di klinik mata Rumah Sakit Atma Jaya (RSAJ), Jakarta. Metode: Penelitian analitik dengan metode potong lintang retrospektif pada 92 sampel mata pasien di klinik mata RSAJ. Pengumpulan data dilakukan melalui rekam medis pasien yang terdiagnosis katarak senilis tipe nuklear dan mengalami miopisasi. Pengambilan data rekam medis dilakukan di RSAJ pada bulan April 2023 – Juli 2023 kemudian dilanjutkan pengolahan data dengan uji Chi-square. Hasil: Penelitian ini menunjukkan insidensi miopisasi pada katarak senilis berjenis nuklear dengan derajat NO3-NO6 sebesar 39,1% dengan derajat miopia ringan terbanyak yaitu 88,1% dan terdapat hubungan bermakna antara derajat miopisasi ringan dengan katarak senilis tipe nuklear (p=<0,001). Hasil analisis data juga menunjukkan tidak terdapat hubungan antara derajat miopisasi sedang dengan katarak senilis tipe nuklear (p=0,056). Simpulan: Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara derajat miopisasi ringan dan sedang dengan katarak senilis tipe nuklear pada pasien di klinik mata RSAJ.  ABSTRAK   Pendahuluan: Katarak senilis tipe nuklear merupakan masalah penglihatan utama di seluruh dunia termasuk di Indonesia dengan prevalensi yang tinggi dan banyaknya angka kejadian yang belum terdiagnosis. Miopia disebabkan oleh perubahan pada kornea dan lensa, yang menyebabkan "pergeseran miopia" atau "miopisasi". Diagnosis dan pengobatan katarak senilis sangat penting untuk menjaga penglihatan dan mencegah kebutaan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara katarak senilis tipe nuklear dengan derajat miopisasi. Metode: Penelitian analitik dengan metode potong lintang retrospektif pada 92 sampel mata pasien di Poli Klinik Mata Rumah Sakit Atma Jaya Jakarta. Pengumpulan data dilakukan melalui rekam medis pasien yang terdiagnosis katarak senilis tipe nuklear dan mengalami miopisasi. Pengambilan data rekam medis dilakukan di Rumah Sakit Atma Jaya Jakarta pada bulan April 2023 – Juli 2023 kemudian dilanjutkan pengolahan data dengan uji Chi-square. Hasil: Penelitian ini menunjukkan insidensi miopisasi pada katarak senilis berjenis nuklear dengan derajat NO3-NO6 sebesar 39,1% dengan derajat miopia ringan terbanyak yaitu 88,1% dan terdapat hubungan bermakna antara derajat miopisasi ringan dengan katarak senilis tipe nuklear (p= <0,001). Hasil analisis data juga menunjukkan tidak terdapat hubungan antara derajat miopisasi sedang dengan katarak senilis tipe nuklear (p=0,056). Simpulan: Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara derajat miopisasi ringan dengan katarak senilis tipe nuklear pada pasien di Poli Klinik Mata Rumah Sakit Atma Jaya Jakarta. Penelitian ini juga menunjukkann tidak adanya hubungan antara derajat miopisasi sedang dengan katarak senilis tipe nuklear pada pasien di Poli Klinik Mata Rumah Sakit Atma Jaya Jakarta. &nbsp

    Determinan Diabetes Melitus pada Pasien Tuberkulosis: Case Control Study

    No full text
    Pendahuluan: Penderita TB dengan komorbid DM memiliki risiko sebesar 1,88 kali untuk mengalami kematian dan sebesar 1,64 kali mengalami kekambuhan sehingga menimbulkan peningkatan angka kecacatan, kematian dini, dan timbulnya kasus multi drug resisten baru. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang memengaruhi kejadian diabetes melitus pada penderita tuberkulosis di RSUD Dr.Soeroto Kabupaten Ngawi. Metode: Penelitian ini menggunakan metode analitik observasional dengan pendekatan case-control yang dilaksanakan pada April - Agustus 2022. Subjek penelitian adalah penderita TB-DM dan TB sebanyak 82 orang dengan teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dan simple random sampling. Analisis data dilakukan dengan uji regresi logistik. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh usia (p=0,001), jenis kelamin (p=0,048), status merokok (p=0,027), riwayat diabetes (p=0,001), dan jenis tuberkulosis (p=0,003) terhadap kejadian diabetes melitus pada penderita tuberkulosis. Simpulan: Faktor yang memengaruhi kejadian diabetes melitus pada penderita tuberkulosis adalah usia, jenis kelamin, status merokok, riwayat diabetes pada keluarga, dan jenis tuberkulosis. Perlu adanya pemeriksaan kadar gula darah secara teratur, berhenti merokok, meningkatkan gaya hidup sehat dan menjaga daya tahan tubuh untuk menghindari tejadinya DM khususnya pada pasien tuberkulosis.Pendahuluan: Penderita TB dengan komorbid DM memiliki risiko sebesar 1,88 kali untuk mengalami kematian dan sebesar 1,64 kali mengalami kekambuhan sehingga menimbulkan peningkatan angka kecacatan, kematian dini, dan timbulnya kasus multi drug resisten baru. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang mempengaruhi kejadian diabetes melitus pada penderita tuberkulosis di RSUD Dr.Soeroto Kabupaten Ngawi. Metode: Penelitian ini menggunakan metode analitik observasional dengan pendekatan case-control yang dilaksanakan pada April - Agustus 2022. Subjek penelitian adalah penderita TB-DM dan TB sebanyak 82 orang dengan teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dan simple random sampling. Analisis data dilakukan dengan uji regresi logistik. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh usia (p = 0,001), jenis kelamin (p = 0,048), status merokok (p = 0,027), riwayat diabetes (p = 0,001), dan jenis tuberkulosis (p = 0,003) terhadap kejadian diabetes melitus pada penderita tuberkulosis. Simpulan: Pada penderita TB yang memiliki usia lebih dari 45 tahun dan berjenis kelamin laki-laki perlu memeriksakan kadar gula darah secara teratur, berhenti merokok, meningkatkan gaya hidup sehat seperti melakukan aktivitas fisik dan menghindari stres, serta yang memiliki TB paru perlu untuk menjaga daya tahan tubuh dengan menjaga nutrisi dan berjemur di pagi hari. Kata Kunci: Determinan TB-DM, Sosio-demografi, Perilaku Merokok &nbsp

    Hubungan Penggunaan Pantyliner dengan Kejadian Fluor Albus pada Mahasiswi Preklinik Universitas Atma Jaya Jakarta

    No full text
    Pendahuluan: Keputihan (fluor albus) merupakan sekret yang berwarna jernih hingga putih, dan keluar dari rongga uterus atau vagina. Kasus keputihan di Indonesia mengalami peningkatan setiap tahun sebanyak 10% pada tahun 2010 hingga 2013. Kejadian keputihan sering dikaitkan dengan penggunaan pantyliner dikarenakan dapat memengaruhi suhu dan kelembaban kulit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan penggunaan pantyliner dengan kejadian keputihan pada mahasiswi preklinik Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya (FKIK UAJ). Metode: Penelitian ini dilakukan menggunaakan studi observasional analitik dengan metode potong-lintang. Sampel diambil dari mahasiswi preklinik FKIK UAJ angkatan 2020-2022. Penggunaan pantyliner diukur dengan kuesioner yang berisi pertanyaan untuk mengetahui perilaku penggunaan pantyliner. Kejadian keputihan diukur dengan kuesioner untuk mengetahui kejadian dan karakteristik keputihan yang dialami. Analisis data akan dilakukan dengan uji chi-square. Hasil: Data dari 107 responden menunjukkan bahwa 27 mahasiswi (25,2%) menggunakan pantyliner dengan tidak baik, dan sebanyak 14 mahasiswi mengalami keputihan patologis, sedangkan 13 mahasiswi lainnya tidak mengalami keputihan patologis. Analisis data menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara penggunaaan pantyliner dengan kejadian keputihan (p=0,006). Simpulan: Terdapat hubungan penggunaan pantyliner dengan kejadian keputihan pada mahasiswi preklinik FKIK UAJ.Pendahuluan: Fluor albus atau yang bisa disebut juga dengan keputihan merupakan sekret yang berwarna jernih hingga putih, dan keluar dari rongga uterus atau vagina. Di Indonesia, kasus fluor albus mengalami peningkatan setiap tahun sebanyak 10% pada tahun 2010 hingga 2013. Kejadian fluor albus sendiri sering dikaitkan dengan penggunaan pantyliner dikarenakan dapat mempengaruhi suhu dan kelembaban kulit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan penggunaan pantyliner dengan kejadian fluor albuspada mahasiswi preklinik Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta. Metode: Penelitian ini dilakukan menggunaakan studi observasional analitik dengan metode cross-sectional. Sampel diambil dari mahasiswi preklinik Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta angkatan 2020-2022. Penggunaan pantylinerdiukur menggunakan kuesioner yang berisi pertanyaan untuk mengetahui perilaku penggunaan pantyliner. Kejadian fluor albus diukur menggunakan kuesioner untuk mengetahui kejadian dan karakteristik fluor albus yang dialami. Analisis data akan dilakukan dengan uji chi-square. Hasil: Dari 107 responden, 27 mahasiswi (25,2%) menggunakan pantyliner dengan tidak baik, dan sebanyak 14 mahasiswi mengalami fluor albus patologis, sedangkan 13 mahasiswi lainnya tidak mengalami fluor albus patologis. Analisis data menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara penggunaaan pantyliner dengan kejadian fluor albus (p=0,006). Simpulan: Terdapat hubungan penggunaan pantyliner dengan kejadian fluor albus pada mahasiswi preklinik Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta. Kata Kunci: Pantyliner, Fluor Albus, Fluor Albus Patologi

    Gambaran penggunaan kondom pada remaja aktif seksual pra-nikah di Indonesia Tahun 2009: Analisis data sekunder

    No full text
    Pendahuluan: Peningkatan angka kejadian penyakit infeksi menular seksual salah satunya disebabkan oleh meningkatnya perilaku remaja yang aktif secara seksual. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran penggunaan kondom pada remaja aktif seksual di Indonesia tahun 2009. Metode: Penelitian menggunakan data sekunder dari survei kesehatan reproduksi remaja di sekolah  menengah atas di 4 provinsi di Indonesia yang dilakukan pada 2008-2009 oleh PPKUI atas dukungan Rutgers WPF Indonesia. Sebanyak 2315 siswa berpartisipasi dalam studi ini melalui pengisian angket (self administered questionaires). Hasil: Terkait perilaku seksual sebanyak 9% remaja laki-laki dan 3,7% remaja perempuan menyatakan pernah melakukan hubungan seksual, dengan usia pertama kali melakukan hubungan seksual adalah 14,9 tahun. Penelitian kami menunjukkan 1,9% responden menggunakan kondom saat pertama kali hubungan seksual. Sementara, terkait sikap remaja terkait penggunaan kondom, 60% remaja di antaranya setuju penggunaan kondom dapat mencegah penyakit infeksi menular seksual, 60% remaja juga menyatakan adanya intensi menggunakan kondom kembali saat melakukan hubungan seks berikutnya.  Simpulan: Hubungan seks pranikah di kalangan remaja sekolah ditemukan meningkat, namun hanya sepertiga yang menggunakan kondom. Potensi penggunaan kondom di kalangan remaja tercermin melalui sikap positif terhadap manfaat penggunaan kondom untuk mencegah infeksi menular seksual. Selain itu, lebih dari separuh remaja yang pernah menggunakan kondom mempunyai niat untuk menggunakan kondom pada hubungan seksual berikutnya.Pendahuluan: Di Indonesia, remaja yang telah aktif secara seksual menunjukkan pencegahan penyakit infeksi menular seksual yang rendah, termasuk pencegahan dengan penggunaan kondom. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran penggunaan kondom pada remaja aktif seksual di Indonesia tahun 2009. Metode: Penelitian menggunakan data sekunder dari survei kesehatan reproduksi remaja di Sekolah Menengah Atas di 4 provinsi di Indonesia (Jambi, DKI Jakarta, Lampung dan Bali) yang dilakukan pada 2008-2009 oleh PPKUI atas dukungan RutgersWPF Indonesia. Sebanyak 2315 siswa berpartisipasi dalam studi ini melalui pengisian angket (self administered questionaires). Hasil: Sebagian besar respoden berjenis kelamin perempuan sebesar 65%. Terkait perilaku seksual sebanyak 9% remaja laki-laki dan 3,7% remaja perempuan menyatakan pernah melakukan hubungan seksual, dimana usia pertama kali melakukan hubungan seksual adalah 14,9 tahun. Sementara itu, terkait perilaku dan sikap penggunaan kondom penelitian kami menunjukkan 1,9% responden menggunakan kondom saat pertama kali hubungan seksual. Sikap remaja terkait penggunaan kondom, 60% remaja diantaranya setuju penggunaan kondom dapat mencegah penyakit infeksi menular seksual, sebanyak 60% remaja juga menyatakan adanya intensi menggunakan kondom kembali saat melakukan hubungan seks berikutnya.  Simpulan: Hubungan seks sebelum menikah di kalangan remaja sekolah berpotensi meningkat, namun hanya sepertiga dari yang melakukan hubungan seks yang mengaku sudah menggunakan kondom. Potensi penggunaan kondom pada remaja cukup tinggi tergambar dari sikap remaja yang menyatakan setuju bahwa penggunaan kondom pada saat hubungan seks dapat mencegah penyakit infeksi menular seksual. Selain itu, lebih dari separuh remaja yang sudah pernah menggunakan kondom memiliki intensi untuk menggunakan kondom kembali pada hubungan seksual berikutnya

    KADAR 2,3-DINOR-6-KETO-PROSTAGLANDIN-F1 DALAM URIN WANITA PASCAMENOPAUSE ALAMI DAN PRAMENOPAUSE YANG MINUM ASPIRIN 100 MG

    Full text link
    Background: The prevalence of cardiovascular diseases in women increases sharply after menopause. In postmenopausal women, thromboxane production increases while prostacyclin production decreases. Low dose aspirin (75- 150 mg) has long been known as an antiplatelet aggregator. Aspirin reduces the production of both thromboxane (potent thrombocyte aggregator and vasoconstrictor) and prostacyclin (anti thrombocyte aggregator and potent vasodilator).Methods: The present study was an open-label clinical trial with 2 parallel groups. One group consisted of 15 premenopausal women (age > 40 years) while the other group 15 postmenopausal women (for 3 - 5 years). Twenty-four hours urine was collected from each subject before and after aspirin 100 mg daily for 7 days. The concentration of prostacyclin was measured as its metabolite (2,3-dinor-6-keto-prostaglandin-F1) in urine using EIA (Enzyme Immunoassay). Thromboxane as its urinary metabolites (11-dehidrotromboksan-B2) was also measured in these same urine samples in the previous study.Results: Previous study showed that aspirin significantly reduced thromboxane in both groups, with significantly larger percentage reduction in postmenopausal women compared to premenopausal women. Results of the present study showed that aspirin reduced prostacyclin significantly in both premenopausal women (mean difference = 78.44 ng/g creatinine; p = 0.001) and postmenopausal women (mean difference = 35.71 ng/g creatinine; p <0.001), but the percentage reduction between the groups was not significantly different (46,26% vs. 40,94%; p = 0,574). The decrease in thromboxane and prostacyclin should be compared (as the decrease in the ratio of 11-dehidrotromboksan-B2 / 2,3-dinor-6-keto-prostaglandin-F1) to assess aspirin efficacy as an antithrombotic. Calculation of the ratio of 11-dehidro-tromboksanB2 / 2,3-dinor-6-keto-prostaglandin-F1 before aspirin consumption was much higher in postmenopausal women compared to that in premenopausal women (4.09 vs. 1.13; p = 0.001). The decrease in 11-dehidro-tromboksan-B2 / 2,3- dinor-6-keto-prostaglandin-F1? ratio by aspirin was found much larger in postmenopausal women compared to that in premenopausal women (1.91 vs.0.17; p = 0.022).Conclusions: It was concluded that aspirin reduced prostacyclin significantly in each group with nonsignificant percentage reduction between groups, but reduced the 11-dehidro-tromboksan-B2/2,3-dinor-6-keto-prostaglandin-F1? ratio much larger in post-menopausal women compared to that in premenopausal women

    Neuromyelitis Optica Spectrum Disorder (NMOSD): Challenges and Updates

    No full text
    Pendahuluan: Neuromyelitis optica spectrum disorder (NMOSD) merupakan kondisi autoimun yang ditandai dengan inflamasi pada nervus optikus, saraf spinal, dan sistem saraf pusat. Meskipun NMOSD memiliki angka prevalensi yang relatif rendah, prognosis visual penyakit ini cukup buruk dan laju relapsnya tinggi. Tinjauan pustaka ini diharapkan dapat mendorong pembaca untuk bisa mendiagnosis secara lebih dini untuk menentukan tatalaksana serangan akut dan mencegah serangan berikutnya sesuai dengan kompetensi kedokteran. Metode: Artikel ini disusun berdasarkan kepustakaan yang diperoleh dari database Google Scholar, PubMed, dan ProQuest, menggunakan kata kunci “neuromyelitis optica spectrum disorder” dari publikasi tahun 2012 sampai dengan tahun 2022. Hasil: Penyebab NMOSD hingga saat ini masih tidak diketahui dengan pasti, namun diduga disebabkan oleh kondisi sistem imun humoral di dalam tubuh menyerang astrosit. Kriteria diagnosis NMOSD didasarkan pada konsensus yang dikeluarkan oleh International Panel for Neuromyelitis Optica Diagnosis. Myelitis akut, neuritis optik yang berat, muntah dan cegukan berulang merupakan gejala khas pada NMOSD. Lesi myelitis transversal ekstensif longitudinal merupakan penemuan khas pada magnetic resonance imaging (MRI). Tatalaksana NMOSD pada fase akut berupa kortikosteroid dosis tinggi, sedangkan pada fase pemeliharaan berupa imunosupresan. Kejadian relaps ditemukan pada 90% pasien dan komplikasi yang terjadi dapat berupa disabilitas visual, disabilitas motorik, hingga kematian. Simpulan: Diagnosis NMOSD ditegakkan berdasarkan penemuan klinis, pencitraan, dan laboratorium. Tatalaksana yang tepat dan adekuat berguna untuk mencegah disabilitas dan morbiditas di kemudian hari.Pendahuluan: Neuromyelitis optica spectrum disorder (NMOSD) merupakan kondisi autoimun yang ditandai dengan inflamasi pada nervus optikus, saraf spinal, dan sistem saraf pusat. Meskipun NMOSD memiliki angka prevalensi yang relatif rendah, prognosis visual penyakit ini cukup buruk dan laju relapsnya tinggi. Tinjauan pustaka ini diharapkan dapat mendorong pembaca untuk bisa mendiagnosis secara lebih dini untuk menentukan tatalaksana serangan akut dan mencegah serangan berikutnya sesuai dengan kompetensi kedokteran. Hasil: Penyebab NMOSD hingga saat ini masih tidak diketahui dengan pasti, namun diduga disebabkan oleh kondisi di mana sistem imun humoral di dalam tubuh menyerang astrosit. Kriteria diagnosis NMOSD didasarkan pada konsensus yang dikeluarkan oleh International Panel for Neuromyelitis Optica Diagnosis. Myelitis akut, neuritis optik yang berat, muntah dan cegukan berulang merupakan gejala khas pada NMOSD. Lesi myelitis transversal ekstensif longitudinal merupakan penemuan khas pada magnetic resonance imaging (MRI). Tatalaksaa NMOSD pada fase akut berupa kortikosteroid dosis tinggi, sedangkan pada fase pemeliharaan berupa imunosupresan. Kejadian relaps ditemukan pada 90% pasien dan komplikasi yang terjadi dapat berupa disabilitas visual, disabilitas motorik, hingga kematian. Simpulan: Diagnosis NMOSD ditegakkan berdasarkan penemuan klinis, pencitraan, dan laboratorium. Tatalaksana yang tepat dan adekuat berguna untuk mencegah disabilitas dan morbiditas di kemudian hari

    Potensi laktoferin susu sapi sebagai antibiotik tunggal dan kombinasi dengan sefepim terhadap Pseudomonas aeruginosa secara in vitro

    Full text link
    Pendahuluan: Pseudomonas aeruginosa merupakan salah satu bakteri yang paling sering resistan terhadap berbagai macam antibiotik, sehingga diperlukannya perkembangan antibiotik terbaru. Sefepim merupakan salah satu antibiotik yang sering digunakan dalam pengobatan terhadap bakteri resistan dengan menghambat pembentukan peptidoglikan. Laktoferin susu sapi merupakan glikoprotein pada susu yang memiliki potensi antimikroba dengan mengikat zat besi dan merusak dinding sel. Dengan demikian, terdapat potensi interaksi sinergisme antara sefepim dan laktoferin dalam menghambat Pseudomonas aeruginosa. Dengan demikian, tujuan dari studi ini adalah untuk mengetahui potensi antimikroba laktoferin susu sapi dan potensi interaksinya dengan sefepim dalam menghambat Pseudomonas aeruginosa. Metode: Sampel bakteri yang digunakan adalah Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853. Uji suseptibilitas dilakukan menggunakan uji difusi cakram dan mikrodilusi secara in vitro berdasarkan pedoman Clinical and Laboratory Standards Institute. Sefepim dan cakram kosong digunakan sebagai kontrol. Untuk mengetahui interaksi antara laktoferin susu sapi dengan sefepim dilakukannya uji metode checkerboard. Hasil: Pada uji difusi cakram dan mikrodilusi, laktoferin susu sapi tidak dapat menghambat pertumbuhan Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853. Hal ini sudah dilakukan dengan berbagai macam konsentrasi sampai dengan 0,5 g/ml. Pada uji checkerboard tidak ditemukan interaksi antara sefepim dan laktoferin susu sapi. Simpulan: Laktoferin susu sapi tidak dapat menghambat pertumbuhan bakteri Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 secara in vitro.Pendahuluan: Pseudomonas aeruginosa merupakan salah satu bakteri yang paling sering resistan terhadap berbagai macam antibiotik, sehingga diperlukannya perkembangan antibiotik terbaru. Sefepim merupakan salah satu antibiotik yang sering digunakan dalam pengobatan terhadap bakteri resistan dengan menghambat pembentukan peptidoglikan. Laktoferin susu sapi merupakan glikoprotein pada susu yang memiliki potensi antimikroba dengan mengikat zat besi dan merusak dinding sel. Dengan demikian, terdapat potensi interaksi sinergisme antara sefepim dan laktoferin dalam menghambat Pseudomonas aeruginosa. Dengan demikian, tujuan dari studi ini adalah untuk mengetahui potensi antimikroba laktoferin susu sapi dan potensi interaksinya dengan sefepim dalam menghambat Pseudomonas aeruginosa. Metode: Sampel bakteri yang digunakan adalah Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853. Uji suseptibilitas dilakukan menggunakan uji difusi cakram dan mikrodilusi secara in vitro berdasarkan pedoman Clinical and Laboratory Standards Institute. Sefepim dan cakram kosong digunakan sebagai kontrol. Untuk mengetahui interaksi antara laktoferin susu sapi dengan sefepim dilakukannya uji metode checkerboard. Hasil: Pada uji difusi cakram dan mikrodilusi, laktoferin susu sapi tidak dapat menghambat pertumbuhan Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853. Hal ini sudah dilakukan dengan berbagai macam konsentrasi sampai dengan 0.5 g/ml. Pada uji checkerboard tidak ditemukan interaksi antara sefepim dan laktoferin susu sapi. Simpulan: Laktoferin susu sapi tidak dapat menghambat pertumbuhan bakteri Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 secara in vitro

    Gangguan Fungsi Kognitif Sebagai Faktor Risiko Utama Kejadian Depresi Pada Lansia

    Full text link
    Latar Belakang: Peningkatan prevalensi depresi pada lansia dapat berdampak pada tingginya angka morbiditas dan mortalitas. Penelitian ini secara spesifik dilakukan untuk mengetahui persentase depresi beserta hubungannya dengan usia, jenis kelamin, pendidikan, sarkopenia, dan gangguan fungsi kognitif pada lansia yang memiliki latar belakang homogen di lingkungan perkotaan. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik yang menggunakan metode cross-sectional. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus 2022 s.d. Oktober 2022 di Pusat Santunan Keluarga (PUSAKA) Jelambar dan Kebon Jeruk, Jakarta Barat dengan subjek penelitian 203 lansia (≥60 tahun). Depresi dinilai dengan Geriatric Depression Scale-15; sarkopenia diukur menggunakan Bio-Impedance Analysis, handgrip dynamometer, dan stopwatch; fungsi kognitif dinilai menggunakan Montreal Cognitive Assessment versi Indonesia; variabel lainnya menggunakan kuisioner.  Hasil: Terdapat hubungan yang bermakna antara gangguan fungsi kognitif dengan kejadian depresi pada lansia (p≤0,05; OR=2,523). Responden yang mengalami gangguan fungsi kognitif memiliki persentase depresi yang lebih tinggi dibandingkan dengan responden yang tidak mengalami gangguan fungsi kognitif. Akan tetapi, tidak ditemukan hubungan yang bermakna antara usia, jenis kelamin, lama pendidikan, dan sarkopenia dengan kejadian depresi pada lansia. Simpulan: Lansia dengan gangguan fungsi kognitif 2,5 kali lipat lebih berisiko mengalami depresi. Oleh karena itu, peningkatan layanan kesehatan penting untuk mendeteksi dini kejadian depresi, terutama pada lansia dengan gangguan fungsi kognitif. Terlepas dari kenyataan saat ini, bahwa gangguan fungsi kognitif tidak dapat diobati, masih banyak gaya hidup dan faktor lingkungan yang dapat dimodifikasi untuk menurunkan risiko.Latar Belakang: Peningkatan prevalensi depresi pada lansia dapat berdampak pada tingginya angka morbiditas dan mortalitas. Penelitian ini secara spesifik dilakukan untuk mengetahui persentase depresi beserta hubungannya dengan usia, jenis kelamin, pendidikan, sarkopenia, dan gangguan fungsi kognitif pada lansia yang memiliki latar belakang homogen di lingkungan perkotaan. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik yang menggunakan metode cross-sectional. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus 2022 s.d. Oktober 2022 di Pusat Santunan Keluarga (PUSAKA) Jelambar dan Kebon Jeruk, Jakarta Barat dengan subjek penelitian 203 lansia (≥60 tahun). Depresi dinilai dengan Geriatric Depression Scale-15; sarkopenia diukur menggunakan Bio-Impedance Analysis, handgrip dynamometer, dan stopwatch; fungsi kognitif dinilai menggunakan Montreal Cognitive Assessment versi Indonesia; variabel lainnya menggunakan kuisioner.  Hasil: Terdapat hubungan yang bermakna antara gangguan fungsi kognitif dengan kejadian depresi pada lansia (p£0,05; OR= 2,523).Responden yang mengalami gangguan fungsi kognitif memiliki persentase depresi yang lebih tinggi dibandingkan dengan responden yang tidak mengalami gangguan fungsi kognitif. Sementara, tidak ditemukan hubungan yang bermakna antara usia, jenis kelamin, lama pendidikan, dan sarkopenia dengan kejadian depresi pada lansia. Kesimpulan: Lansia dengan gangguan fungsi kognitif 2,5 kali lipat lebih berisiko mengalami depresi. Oleh karena itu, peningkatan layanan kesehatan penting untuk mendeteksi dini kejadian depresi, terutama pada lansia dengan gangguan fungsi kognitif. Terlepas dari kenyataan saat ini, bahwa gangguan fungsi kognitif tidak dapat diobati, masih banyak gaya hidup dan faktor lingkungan yang dapat dimodifikasi untuk menurunkan risiko

    Hubungan Status Gizi dan Asupan Energi-Protein dengan Pertambahan Berat Badan Selama Hamil sebagai Risiko Maternal

    No full text
    Pendahuluan: Pertambahan berat badan selama kehamilan yang ideal diharapkan dapat mendukung persalinan yang aman. Status gizi ibu prakehamilan menjadi acuan dalam menentukan pertambahan berat badan yang ideal di setiap trimester kehamilan. Asupan gizi yang adekuat, terutama asupan energi dan protein, diharapkan dapat memenuhi kebutuhan ini. Status gizi prakehamilan dan asupan gizi yang tidak mencukupi merupakan risiko maternal yang harus dipantau. Penelitian ini memiliki tujuan utama untuk menganalisis hubungan antara status gizi ibu prakehamilan dan asupan energi-protein dengan pertambahan berat badan pada ibu hamil di Kecamatan Gandus. Metode: Penelitian ini memiliki desain cross-sectional menggunakan data primer. Ibu hamil trimester 2 dan 3 dengan kehamilan janin tunggal yang menghadiri kegiatan skrining kesehatan di Balai Kecamatan Gandus Palembang, memiliki data berat badan sebelum hamil, dan bersedia berpatisipasi direkrut sebagai responden penelitian. Responden menjalani pengukuran antropometri dan wawancara asupan energi-protein 1 bulan terakhir menggunakan formulir SQ-FFQ. Data dianalisis menggunakan Chi-Square (alternatif Fisher/Kolmogorov-Smirnov). Hasil: Sebanyak enam puluh ibu hamil berpartisipasi, sebagian besar berada pada rentang usia reproduktif, masa kehamilan trimester 3, dan beraktivitas sebagai ibu rumah tangga. Status gizi sebelum hamil sebagain besar berada pada berat badan lebih/obes dan tidak ditemukan status gizi kurang. Pertambahan berat badan ibu sebagian besar tidak memenuhi rekomendasi, demikian pula dengan asupan energi-protein. Terdapat hubungan bermakna antara status gizi prakehamilan dan pertambahan berat badan selama hamil (p=0,014). Tidak terdapat hubungan antara asupan energi maupun protein dengan pertambahan berat badan selama hamil. Simpulan: Status gizi prakehamilan berhubungan dengan pertambahan berat badan selama hamil, sebaliknya asupan energi-protein tidak berhubungan.Pendahuluan: Pertambahan berat badan selama kehamilan yang adekuat diharapkan dapat mendukung persalinan yang aman. Status gizi ibu prakehamilan, menjadi acuan dalam menentukan pertambahan berat badan yang ideal. Kecukupan asupan gizi penting dipenuhi selama hamil. Penelitian ini memiliki tujuan utama untuk menganalisis hubungan anatara status gizi ibu prakehamilan dan asupan energi-protein dengan pertambahan berat badan selama hamil. Metode: Penelitian ini memiliki desain cross-sectional menggunakan data primer. Ibu hamil trimester 2 dan 3 dengan kehamilan janin tunggal yang menghadiri kegiatan skrining kesehatan di Balai Kecamatan Gandus Palembang, memiliki data berat badan sebelum hamil, dan bersedia berpatisipasi direkrut sebagai responden penelitian. Responden menjalani pengukuran antropometri dan wawancara asupan energi-protein 1 bulan terakhir menggunakan formulir SQ-FFQ. Data dianalisis menggunakan Chi-Square (alternatif Fisher/Kolmogorov-Smirnov). Hasil: Sebanyak enam puluh ibu hamil berpartisipasi, sebagian besar berada pada rentang usia reproduktif, masa kehamilan trimester 3, dan beraktivitas sebagai ibu rumah tangga. Status gizi sebelum hamil sebagain besar berada pada berat badan lebih/obes dan tidak ditemukan status gizi kurang. Pertambahan berat badan ibu sebagian besar tidak memenuhi rekomendasi, demikian pula dengan asupan energi-protein. Terdapat hubungan bermakna antara status gizi prakehamilan dan pertambahan berat badan selama hamil (p=0,014). Tidak terdapat hubungan antara asupan energi maupun protein dengan pertambahan berat badan selama hamil. Simpulan: Status gizi prakehamilan berhubungan dengan pertambahan berat badan selama hamil, sebaliknya asupan energi-protein tidak berhubungan. Kata Kunci: Asupan energi, Asupan protein, Pertambahan berat badan kehamilan, Status giz

    Long term side effects of methylphenidate hydrochloride in childhood ADHD in primary care: An evidence-based case report

    Full text link
    Background: Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) often emerges in childhood and can persist into adolescence and adulthood. Methylphenidate is the primary medication for managing ADHD in youth, but its long-term effects remain uncertain. Evaluating the evidence on the long-term effects of methylphenidate in children with ADHD is crucial. Case: A 7-year-old with school difficulties, hyperactivity, and distractibility (Conner's score 22) was diagnosed with ADHD and treated with methylphenidate. Significant behavioral improvement was observed (Conner's score 8), but parental concerns regarding long-term medication use persisted. Metode: We conducted a structured search in PubMed, EBSCOhost, Cochrane, and SAGE databases, focusing on the past 5 years of English-language human studies with full-text availability. We selected randomized control trials (RCTs), meta-analyses, and systematic reviews and screened them based on relevance to our clinical question. The search yielded results from PubMed (43 articles), EBSCOhost (46 articles), Cochrane (41 articles), and SAGE (125 articles). After rigorous screening, some articles were identified as relevant. Conclusion: Our case analysis based on evidence revealed that methylphenidate treatment is associated with serious and non-serious side effects, irrespective of treatment duration. Primary care clinicians should exercise caution when prescribing methylphenidate for ADHD management in childhood.Latar Belakang: Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktifitas (ADHD) sering kali muncul pada masa kanak-kanak dan dapat menetap hingga masa remaja dan dewasa. Methylphenidate adalah obat utama untuk menangani ADHD di masa muda, namun efek jangka panjangnya masih belum pasti. Mengevaluasi bukti mengenai efek jangka panjang methylphenidate pada anak-anak dengan ADHD sangatlah penting. Metode: Kami melakukan pencarian terstruktur di database PubMed, EBSCOhost, Cochrane, dan SAGE, dengan fokus pada penelitian manusia berbahasa Inggris selama 5 tahun terakhir dengan ketersediaan teks lengkap. Kami memilih uji coba kontrol acak (RCT), meta-analisis, dan tinjauan sistematis dan menyaringnya berdasarkan relevansi dengan pertanyaan klinis kami. Hasil: Pencarian menghasilkan hasil dari PubMed (43 artikel), EBSCOhost (46 artikel), Cochrane (41 artikel), dan SAGE (125 artikel). Setelah penyaringan yang ketat, beberapa artikel diidentifikasi relevan. Artikel ini memberikan ringkasan komprehensif bukti terbaru mengenai efek samping jangka panjang penggunaan methylphenidate pada anak-anak dan remaja dengan ADHD. Kesimpulan: Analisis kasus kami berdasarkan bukti mengungkapkan bahwa pengobatan methylphenidate dikaitkan dengan efek samping yang serius dan tidak serius, terlepas dari durasi pengobatan. Dokter terutama di layanan primer harus berhati-hati ketika meresepkan methylphenidate untuk manajemen ADHD di masa kanak-kanak

    112

    full texts

    169

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Damianus Journal of Medicine
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇