Damianus Journal of Medicine
Not a member yet
    169 research outputs found

    HUBUNGAN STRES, CEMAS, DAN DEPRESI DENGAN KEJADIAN MIGRAIN PADA MAHASISWA KEDOKTERAN DI JAKARTA

    Full text link
    Introduction: Mental disorders such as stress, anxiety, and depression are becoming a global concern for young adults, especially among medical students. The tight schedule of medical education curriculum has shown to contribute to a high prevalence of mental disorders among students, which may increase the risk of physical symptoms such as migraines. Methods: Carried out at School of Medicine and Health Sciences Atma Jaya Catholic University of Indonesia - Jakarta, this cross-sectional study used a proportional sampling method. Depression, anxiety, and stress were measured by using DASS 42 scale and the incidence of migraine was measured by Migraine Screen Questionnaire (MS-Q). Data were statistically analyzed by using Chi-Square test with 95% significance level. Results: A total of 196 students had participated, consisting of 98 male and 98 female students, aged 18-21 years old, and they experienced stress (41.3%), anxiety (57.1%), and depression (26.5%). Migraine was found in (28.1%) of respondents with higher incidence among female students (61.8%). Stress, anxiety, and depression had a significant relationship with the incidence of migraines (p <0.01). Conclusion: Depression, anxiety, and stress are common among medical student in Atma Jaya Catholic University of Indonesia, and were significantly associated with the incidence of migraines. Further research is needed to describe other factors that can trigger migraines such as hormonal, physical, and dietary factors.Pendahuluan: Gangguan mental emosional seperti stres, cemas, dan depresi saat ini menjadi perhatian global bagi kaum dewasa muda, khususnya pada mahasiswa kedokteran. Kurikulum pendidikan dokter dapat berkontribusi terhadap tingginya prevalensi gangguan mental emosional di kalangan mahasiswa kedokteran yang dapat meningkatkan risiko timbulnya migrain. Metode: Penelitian ini merupakan studi potong lintang yang dilakukan di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya (FKIK UAJ) Jakarta dengan menggunakan metode proportional sampling. Stres, cemas, dan depresi dinilai menggunakan kuesioner DASS 42 sedangkan migrain dinilai menggunakan Migraine Screen Questionaire (MS-Q). Data dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan derajat kepercayaan 95%. Hasil: Sebanyak 196 mahasiswa yang terdiri dari 98 laki-laki dan 98 perempuan dengan rentang usia 18-21 tahun mengalami stres (41,3%), cemas (57,1%), dan depresi (26,5%). Migrain ditemukan sebanyak (28,1%), responden, di antaranya lebih tinggi pada perempuan (61,8%). Stres, cemas, dan depresi memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian migrain (p<0,01). Simpulan: Stres, cemas, dan depresi ditemukan pada mahasiswa kedokteran Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, dan secara signifikan berhubungan dengan kejadian migrain. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menggambarkan faktor-faktor lain yang dapat memicu migrain seperti faktor hormonal, fisik, dan diet

    PERBANDINGAN EFEKTIVITAS TEH HIJAU DAN TEH HITAM DALAM MENURUNKAN KADAR TRIGLISERIDA PADA HEWAN COBA MODEL HIPERLIPIDEMIA

    Full text link
    Introduction: Hyperlipidemia is the cause of 18% of cardiovascular disease and 56% of ischemic heart disease worldwide. According to the World Health Organization (WHO), in 2017, cardiovascular disease is the leading cause of death worldwide. In its role against cardiovascular disease, green tea and black tea can be used as an alternative treatment in reducing triglyceride levels.Methods: This study is an in vivo experimental. This experiment using 16 Rattus norvegicus rats strain Sprague-Dawley induced with lard and raw quail egg yolk before and divided into two groups; green tea and black tea groups. Treatment is carried out for 17 days and checking the triglyceride level before and after intervention using test strip and tools from Lipid Pro. Data were collected and analyzed using the Shapiro-Wilk test, paired t-test, and unpaired t-test.                                                                                                                                                              Results: The results showed that the data were normally distributed (Shapiro-Wilk test p> 0.05). Treatment with green tea and black tea for 17 days led to a significant drop in triglyceride level (paired t-test p <0.05), and there is a significant difference between the effectiveness of the intervention group (unpaired t-test p <0.05).Conclusion: There was a significant decrease in rats’ triglyceride levels in the administration of green tea and black tea, and green tea is more effective than black tea in reducing triglyceride levels on hyperlipidemic Rattus Norvegicus.Pendahuluan: Hiperlipidemia merupakan penyebab 18% penyakit kardiovaskular dan 56% penyakit jantung iskemik di seluruh dunia. Menurut World Health Organization (WHO) pada tahun 2017, penyakit kardiovaskular merupakan penyebab kematian pertama di seluruh dunia. Pada perannya terhadap penyakit kardiovaskuler, teh hijau dan teh hitam dapat digunakan sebagai pengobatan alternatif dalam menurunkan kadar trigliserida.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental in vivo. Penelitian ini menggunakan 16 tikus Rattus norvegicus galur Sprague-Dawley yang telah dikondisikan menjadi hiperlipidemia dengan minyak babi dan kuning telur puyuh mentah dan dibagi menjadi 2 kelompok perlakuan yaitu kelompok teh hijau dan teh hitam. Perlakuan dilakukan selama 17 hari dan pengecekan trigliserida dilakukan sebelum dan sesudah perlakuan menggunakan alat dan strip test merek Lipid Pro. Data dikumpulkan dan dianalisis menggunakan uji Saphiro-Wilk, paired t-test, dan unpaired t-test.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa data berdistribusi normal (uji Saphiro-Wilk p>0,05). Perlakuan teh hijau dan teh hitam selama 17 hari menyebabkan terjadinya penurunan trigliserida yang signifikan (uji paired t-test p<0,05), terdapat perbedaan efektivitas penurunan trigliserida antar kelompok perlakuan (Uji unpaired t-test p<0,05).                                                                                                                                            Simpulan: Terdapat penurunan trigliserida tikus yang bermakna pada pemberian teh hijau maupun teh hitam. Teh hijau lebih efektif dibandingkan dengan teh hitam dalam menurunkan kadar trigliserida Rattus norvegicus model hiperlipidemia

    FAKTOR-FAKTOR YANG BERKAITAN DENGAN DOMAIN KUALITAS HIDUP SISWA DENGAN GANGGUAN PENDENGARAN

    Full text link
    Introduction: Hearing problems in school-age children impact several aspects of their quality of life (QoL). This study aims to describe the presiding QoL domains in students with hearing problems and investigate factors related to their quality of life.Methods: A cross-sectional study design using a modification of the World Health Organization Quality of Life Abbreviation version (WHOQOL-BREF) applied in a special school for hearing-impaired students. The self-answered questionnaire was collected by the teacher, along with several questions of sociodemographic and community engagement. A descriptive analysis was conducted to describes the QoL domains on student's characteristics. The multivariate analysis was then performed to denotes the association between variables of interest and QoL domains.Results: A total of 34 students were enrolled in the study. The environment domain shows the highest scores (65.5±14), while social interaction is the lowest (51.7±10). The environment and the social interaction domains indicate a positive correlation with community engagement (p=0.04). A negative correlation was found between the environment domain and age (p=0.0001).Conclusion: Deaf-community engagement has a positif correlation with the environment and social interaction domain in the student's quality of life. The low social interaction scores specify the importance of community engagement in motivation and self-development. Special attention to older students needed to improve their adaptation ability in society and function normallyPendahuluan: Gangguan pendengaran pada anak usia sekolah memengaruhi berbagai domain kualitas hidup penderitanya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat domain kualitas hidup yang dominan serta menganalisis keterkaitan faktor-faktor sosial dan kualitas hidup siswa dengan gangguan pendengaran.Metode: Penelitian dengan studi potong lintang menggunakan kuesioner WHOQOL-BREF dilakukan pada siswa Sekolah Luar Biasa B (SLB-B). Pengisian kuesioner dilakukan secara mandiri diawali dengan penjelasan oleh wali kelas. Analisis deskriptif karakteristik responden dan domain kualitas hidup dilakukan pada tahap awal, analisis multivariat dengan empat domain kualitas hidup sebagai dependen variabel diaplikasikan pada tahap selanjutnya untuk melihat keterkaitan pada faktor usia, jenis kelamin, keterlibatan dalam komunitas dan status ekonomi keluarga.Hasil: Seluruh responden berjumlah 34 siswa. Domain lingkungan memiliki skor kualitas hidup tertinggi (65,5±14) dan domain interaksi sosial memiliki skor terendah (51,7±10). Domain lingkungan dan interaksi sosial berkorelasi positif dengan keterlibatan siswa pada komunitas tuli (p=0,04). Korelasi negatif ditemukan pada domain lingkungan dengan usia siswa (p=0,0001).Simpulan: Keterlibatan siswa di komunitas tuli memiliki korelasi positif dengan domain lingkungan dan interaksi sosial pada kualitas hidup siswa. Rendahnya skor interaksi sosial menunjukkan pentingnya motivasi untuk bergabung dengan komunitas yang memberikan dukungan postif dan pengembangan diri. Perhatian khusus pada siswa yang lebih tua diperlukan dalam mempersiapkan masa depan dimana persiapan mencari lapangan pekerjaan, informasi luas tentang akses kesehatan dan dukungan keluarga menjadi poin penting yang perlu ditingkatkan

    AMNIOSENTESIS: TINJAUAN MENYELURUH

    Full text link
    Introduction: Amniocentesis is an invasive procedure that removes the amount of amniotic fluid to obtain fetal cells to chromosomal examination. It's one of the prenatal diagnostic techniques and methods introduced during the last ten years. This practice is essential to present because of the large incidence of chromosomal abnormalities in infants, which is 90 events per 10,000 births.Objective: This article is used as a learning material to increase insight regarding amniocentesis, which is the most frequently used invasive prenatal diagnostic method. Amniocentesis has a reasonably high success rate and helps prevent and detect early hereditary diseases and congenital abnormalities in the unborn fetus.Method: The writing of this article used the narrative review method as part of the literature studyDiscussion: Amniocentesis has other purposes, such as fetal lung maturity level assessment, and determines whether fetal infection occurred. The amniocentesis procedure is usually done at 15-20 weeks' gestation. If the amniocentesis procedure is performed earlier than 15 weeks' gestation, the risk of pregnancy loss increases. Amniotic fluid phospholipid analysis can determine the degree of fetal lung maturation. Amniotic fluid can also be used for biochemical analysis, molecular studies, and microarray chromosome analysis (CMA).Pendahuluan: Amniosentesis adalah suatu prosedur invasif pengambilan cairan amnion untuk mendapatkan sel-sel janin dalam rangka pemeriksaan kromosom, salah satu teknik dan prosedur diagnosis prenatal yang diperkenalkan selama 10 tahun terakhir. Hal ini penting diperkenalkan karena besarnya insiden kelainan kromosom pada bayi yaitu 90 kejadian per 10.000 kelahiran.Tujuan: Artikel ini digunakan sebagai bahan pembelajaran untuk meningkatkan wawasan mengenai amniosentesis yang merupakan metode diagnostik prenatal invasif yang paling sering digunakan dengan tingkat keberhasilan yang cukup tinggi serta membantu agar dapat melakukan pencegahan dan deteksi dini penyakit keturunan dan kelainan bawaan pada janin yang belum lahir.Metode: Penulisan artikel ini menggunakan metode tinjauan naratif sebagai bagian dari studi literatureDiskusi: Amniosentesis memiliki tujuan lainnya seperti menilai tingkat pematangan paru janin dan mengetahui apakah terdapat infeksi pada janin. Prosedur amniosentesis biasanya dilakukan pada usia kehamilan 15 – 20 minggu. Jika prosedur amniosentesis dilakukan di bawah usia kehamilan 15 minggu, dapat meningkatkan kejadian keguguran. Analisis fosfolipid cairan amnion dapat menentukan tingkat pematangan paru janin. Cairan amnion juga dapat digunakan untuk analisis biokimia, studi molekuler, dan microarray chromosome analysis (CMA)

    IDENTIFIKASI DAN INTERVENSI GANGGUAN BELAJAR SPESIFIK PADA ANAK

    Full text link
    Introduction: Education is part of a child's learning process to form cognitive abilities and a good personality. Children who are unable to involve thinking skills, sensory and motor integration systems, as well as verbal and non-verbal functions, will experience learning disorders. The inability to read (dyslexia), write (dysgraphia), or arithmetic (dyscalculia) forms the domain of specific learning disorder in children. Identification and intervention of such cases require the full cooperation of parents, medical personnel, and teachers. Case: A boy, seven years of age, had been having barrier in reading based on six months of observation by school teacher since first-grade elementary school. The child did not have health problems, growth and development were according to age, and was able to engage in social interaction both at school and home environment. The patient fulfilled the reading domain criteria of specific learning disorder based on the Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5). Patients received adequate intervention and are now successfully in the second grade of elementary school with the advancement in reading skills. Conclusion: The importance of early identification, intervention, and long term follow up in children with a specific learning disorder to achieve optimal quality of life.Pendahuluan: Pendidikan merupakan bagian dari proses belajar seorang anak untuk membentuk kemampuan kognitif dan kepribadian yang baik. Anak yang tidak mampu melakukan koordinasi kemampuan berpikir, sistem integrasi sensorik dan motorik, atau fungsi verbal dan non-verbal dapat mengalami gangguan belajar. Ketidakmampuan membaca (disleksia), menulis (disgrafia), maupun berhitung (diskalkulia) merupakan domain dari gangguan belajar spesifik pada anak. Identifikasi dan intervensi pada anak dengan gangguan belajar memerlukan kerja sama tenaga medis, guru dan orangtua. Kasus: Anak laki-laki, usia tujuh tahun memiliki hambatan dalam membaca berdasarkan pengamatan selama enam bulan oleh guru sekolah sejak anak belajar di kelas satu sekolah dasar. Anak sehat secara fisik, tumbuh kembang sesuai usia dan mampu berinteraksi baik dengan teman sekolah maupun lingkungan rumah. Pasien memenuhi kriteria gangguan belajar spesifik domain membaca sesuai dengan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5). Pasien sudah menjalani intervensi yang adekuat untuk mengatasi gangguan belajar spesifik dan berhasil naik kelas dua sekolah dasar dengan kemajuan kemampuan membaca. Simpulan: Pentingnya identifikasi dan intervensi dini serta permantauan berkelanjutan pada anak dengan gangguan belajar spesifik untuk mencapai kualitas hidup yang optimal

    ANALISIS METODE PRESERVASI SUBKULTUR BERKALA DAN DENGAN AIR STERIL UNTUK JAMUR Aspergillus sp. DAN Candida albicans

    Full text link
    Introduction: A good and proper preservation can maintain all collection of culture. Periodic subculture preservation is an old technique that is less able to guarantee the genetic characteristic for a long time. Sterile water is an alternative method in various studies to ensure the genetic characteristic for a long time and can be done in a simple laboratory concept. This study aimed to examine the method of periodic subculture and with sterile water Methods: This research was a descriptive study with an experimental laboratory design on Aspergillus sp. and Candida albicans. This study examined at periodic subculture methods and with sterile water in maintaining viability, level of contamination, morphology, and antifungal resistance after six months Results: The fungus had lived after being preserved with periodic subcultures without contamination, morphological changes, and resistance. Aspergillus sp. and Candida albicans also lived after being preserved with sterile water for six months with the same morphology and without contamination. The zone of inhibition of Aspergillus sp. had decreased but in Candida albicans remains the same. Conclusion: Preservation with periodic subculture and with sterile water can be applied to Aspergillus sp. and Candida albicans.Pendahuluan: Preservasi yang baik dan tepat dapat mempertahankan koleksi kultur dengan baik. Teknik preservasi subkultur berkala merupakan teknik lama yang kurang dapat menjamin sifat-sifat genetik jamur dalam jangka waktu lama. Air steril adalah salah satu metode alternatif dalam berbagai penelitian dalam menjamin sifat-sifat genetik jamur dalam waktu lama dan dapat dilakukan pada konsep laboratorium sederhana. Penelitian ini bertujuan untuk melihat metode preservasi berkala dan dengan air steril. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain eksperimental laboratorium pada jamur Aspergillus sp. dan Candida albicans.Penelitian ini melihat metode subkultur berkala dan dengan air steril dalam menjaga viabilitas, tingkat kontaminasi, morfologi dan resistensi terhadap antijamur setelah enam bulan. Hasil: Jamur dapat hidup setelah dipreservasi dengan subkultur berkala tanpa kontaminasi, perubahan morfologi dan resistensi. Aspergillus sp. dan Candida albicans juga hidup setelah dipreservasi dengan air steril selama enam bulan dengan morfologi yang sama dan tanpa kontaminasi. Zona inhibisi Aspergillus sp. mengalami penurunan namun pada Candida albicans tetap sama. Simpulan: Preservasi jamur dengan subkultur berkala dan dengan air steril dapat diterapkan pada Aspergillus sp. dan Candida albicans

    KARAKTERISTIK KLINIS PASIEN KEJANG DEMAM YANG DIRAWAT DI RUMAH SAKIT BAPTIS BATU

    Full text link
    Introduction: Febrile seizure is the most common type of seizure in children, mostly occurred in children aged 6 months to 5 years. The aim of the study was to describe the demographic and clinical characteristics of febrile seizures in children in the Baptist Hospital Batu. Methods: This was a cross-sectional research, including febrile seizure children (n=41) who were admitted into the Baptist Hospital Batu on January 2017 to October 2018. The data was collected from the medical records and described and presented in frequency tables. Results: Febrile seizure was common in boys (61%), aged 1 to 2 years old (46.3%). Generalized seizure (97.6%) was the most febrile seizures. The duration of seizure was <15 minutes (95.1%) with the majority patients with febrile seizure experience one seizure episode (73.2%). Simple febrile seizure (70.7%) was more common than complex febrile seizures. The body temperature was ≥38⁰ C (68.3%), however, the leukocyte counts was normal (63.4%). Conclusion: Febrile children younger than 2 years old, especially boys need to be well monitored as these children may develop into febrile seizure.Pendahuluan: Kejang demam adalah jenis kejang tersering yang ditemukan pada pasien anak. Kejang demam dialami pada anak usia 6 bulan – 5 tahun disertai dengan peningkatan suhu tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan karakteristik demografis dan klinis kejang demam pada anak.  Metode: Desain penelitian adalah potong lintang, dilakukan pada 41 pasien kejang demam yang dirawat inap di Rumah Sakit Baptis Batu periode Januari 2017 – Oktober 2018. Data rekam medis dikumpulkan dan karakteristik klinik pasien digambarkan dalam bentuk tabel. Hasil: Kejang demam lebih banyak diderita oleh anak laki-laki (61%), sebagian besar berusia 1 sampai 2 tahun (46,3%). Kejang umum (97,6%) merupakan jenis kejang yang sering ditemukan dengan durasi <15 menit (95,1%). Pasien kejang demam lebih banyak yang mengalami satu kali episode kejang (73,2%) dengan jenis kejang demam sederhana (70,7%). Suhu tubuh anak-anak mencapai ≥38⁰C (68,3%) dengan jumlah leukosit yang normal (63,4%). Simpulan: Demam pada anak dengan usia <2 tahun, terutama dengan jenis kelamin laki-laki berpotensi menimbulkan kejang demam

    EKSTRAK ETANOL BIJI ALPUKAT (Persea americana Mill.) DAN EKSTRAK ASETON DAUN YAKON (Smallanthus sonchifolius) SAMA EFEKTIFNYA DALAM MENURUNKAN KADAR GULA DARAH TIKUS YANG DIINDUKSI ALOKSAN

    Full text link
    Introduction: Diabetes mellitus is a disease that affects many people globally, including Indonesia. The prevalence of diabetics in Indonesia increased from 6.9% (2013) to 8.5% (2018). Herbs can be used to lower the glucose concentration, including avocado seeds and yacon leaves that contain flavonoids and astringent compounds.The aim of the study to see the comparison of the effectiveness of avocado seeds extract and yacon leaves extract in reducing blood sugar levels in rats.Methods: This research was an experimental study using rat as animal model. Rats were divided into groups which were given ethanol extract of avocado seed (Persea americana Mill.) and acetone yacon leaf extract (Smallanthus sonchifolius) with various doses i.e. 150mg/kg, 300mg/kg, and 450mg/kg. The rat was given alloxan to induce blood sugar levels increase and the results were observed 2 days before administration of the extract for 5 days. The extraction process was done by maceration method. Data was analysed using One Way Anova.Results: There was a decline in blood sugar levels in each group given the avocado seed extract and yacon leaf extract . However, there was no statistical difference in effectiveness between the extracts.Conclusion: Both avocado seed extract and yakon leaf extract are equally effective in decreasing blood sugar levels in alloxan-induced rats.Latar Belakang: Diabetes melitus merupakan penyakit yang banyak diderita oleh masyarakat di dunia termasuk Indonesia. Prevalensi penderita diabetes di Indonesia meningkat dari sebelumnya 6,9% (2013) menjadi 8,5% (2018). Biji alpukat dan daun yakon mengandung senyawa flavonoid dan astringen yang diduga memilliki efek menurunkan kadar gula darah. Tujuan penelitian ini untuk melihat perbandingan efektivitas ekstrak biji alpukat dan ekstrak daun yakon dalam menurunkan kadar gula darah pada tikus.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunakan hewan uji tikus. Tikus dibagi ke dalam kelompok yang diberikan dosis 150 mg/kgBB, 300 mg/kgBB, dan 450 mg/kgBB. Kelompok tikus perlakuan diinduksi aloksan untuk meningkatkan kadar gula darah dan dilihat hasilnya 2 hari sebelum dilakukan pemberian ekstrak selama 5 hari. Proses ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi. Analisis statistik menggunakan uji One Way Anova.Hasil: Terdapat penurunan kadar gula darah pada tiap kelompok tikus perlakuan yang diberikan alpukat dan daun yakon. Perbandingan efektivitas antara kedua perlakuan didapatkan hasil yang tidak bermakna (p>0,05).Simpulan: Ekstrak biji alpukat sama efektifnya dengan ekstrak daun yakon dalam penurunan kadar gula darah pada tikus yang diinduksi aloksan

    KUALITAS TIDUR YANG BURUK AKIBAT GANGGUAN MAKAN PADA PELAJAR SEKOLAH MENENGAH DI JAKARTA

    Full text link
    Introduction: Eating disorders can affect sleep quality, especially teenagers, because adolescence is a period of physical and psychological changes. Hormone release and glucose metabolism occur during sleep, whereas the neuroendocrine system influences appetite. This study objective is to find out the association of the risk of eating disorders with adolescents sleep quality because adolescents today have not cared about eating time and food consumed. Methods: This research was cross-sectional analytic research of 275 respondents of junior and senior high school students in an international school located in West Jakarta who met the inclusion criteria in October 2019. The measuring instrument was a demographic questionnaire, screening questionnaire, Eating disorder Examination Questionnaire (EDE-Q) and Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Bivariate analysis was used to analyze the correlation between the risk of eating disorder and sleep quality.Results: Most respondents were women as many as 173 people (62,9%), while men as many as 102 people (37,1%). Most respondents, 125 people (45,5%), were 12-13 years old, and the class with most respondents was class 8 as many as 62 people (22,6%). Respondents with the risk of eating disorders as many as 156 people (56,7%) while those with poor sleep quality as many as 240 people (87,3%). Among respondents with the risk of eating disorders, 151 people (96,8%) had poor sleep quality, and five people (3.,2%) had good sleep quality. Chi-square test results showed a significant relationship between the risk of eating disorder with sleep quality (p=0,000) Conclusion: There is a relationship between the risk of eating disorders on sleep quality in junior and senior school students at Kairos Gracia International School in 2019, so the students need to be given knowledge and advice as well counselling for the student who has a risk of eating disorder to achieve a better quality of lifePendahuluan: Gangguan makan dapat memengaruhi kualitas tidur, terutama remaja karena masa remaja merupakan masa terjadi perubahan fisik dan psikologi. Pelepasan hormon dan metabolisme glukosa terjadi saat tidur, sedangkan nafsu makan dipengaruhi oleh sistem neuroendokrin. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan risiko gangguan makan terhadap kualitas tidur remaja karena remaja zaman sekarang kurang memedulikan waktu makan dan makanan yang dikonsumsi. Metode: Penelitian potong lintang dilakukan pada 275 siswa-siswi SMP dan SMA salah satu sekolah internasional di Jakarta Barat yang memenuhi kriteria inklusi. Kuesioner demografi, kuesioner skrining, Eating disorder Examination Questionnaire (EDE-Q) dan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) diisi secara mandiri. Analisis bivariat dilakukan untuk menguji hubungan risiko gangguan makan dengan kualitas tidur responden.Hasil: Responden paling banyak adalah wanita sebanyak 173 orang (62,9%), sedangkan laki-laki sebanyak 102 orang (37,1%). Usia responden sebagian besar berusia 12-13 tahun sebanyak 125 orang (45,5%) dan kelas terbanyak yang menjadi responden adalah kelas 8 sebanyak 62 orang (22,6%). Responden dengan risiko gangguan makan sebanyak 156 orang (56,7%), sedangkan dengan kualitas tidur buruk sebanyak 240 orang (87,3%)%, dengan perincian 151 orang dengan risiko gangguan makan (96,8%) mempunyai kualitas tidur yang buruk, dan 5 orang (3,2%) mempunyai kualitas tidur yang baik. Hasil uji Chi square menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara risiko gangguan makan dengan kualitas tidur (p=0,000). Simpulan: terdapat hubungan bermakna antara risiko gangguan makan terhadap kualitas tidur pada siswa-siswi SMP dan SMA di salah satu sekolah internasional di Jakarta Barat pada tahun 2019, sehingga perlu diberikan edukasi mengenai perilaku dan pola makan yang sehat kepada para remaja agar memiliki kualitas hidup yang lebih baik

    EFEKTIVITAS BIOLARVASIDA EKSTRAK DAUN KEMANGI (Ocimum basilicum) TERHADAP LARVA Aedes aegypti

    Full text link
    Introduction: Indonesia as a tropical country is vulnerable to mosquito-borne diseases like dengue fever, chikungunya, and zika by Aedes aegypti mosquito. Various efforts have been made to eradicate mosquitoes, one of which is by fogging. But this method only eradicates adult mosquitoes and its smoke can also have a bad impact for human health. Therefore, a variety of herbal plants began to be used as biolarvacide, including basil plants (Ocimum basilicum). Methods: This is an experimental research by comparing the lethal effect between concentration and time. In this experiment there were 10 larvas used for each concentration, which were 0,4%, 0,7%, 1,0%, 1,5%, and 2,0%. The lethal effect arising in larval groups is observed every 1 hour in the first 6 hours, and subsequently every 3 hours until 24 hours after exposure. Results: With one way ANOVA test, the result is p=0,012 (p<0,05) this shows that there is a significance difference between the different concentrations and the lethal effect of A.aegypti larvae. With Friedman test, the result is p=0,000 (p<0,05), this shows that there is a significance difference between the different time of exposure of the extract and the lethal effect of A.aegypti larvae. Conclusion: Leaves extract of O.basilicum has lethal effect as biolarvacide against A.aegypti larvae. The higher concentration and the longer time of exposure to O.basilicum extract, increases the lethal effect of A.aegypti larvae.Pendahuluan: Indonesia sebagai negara beriklim tropis rentan terkena berbagai penyakit yang ditularkan oleh nyamuk, seperti demam dengue, chikungunya, dan zika yang disebabkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Berbagai upaya telah dilakukan untuk memberantas nyamuk ini, salah satunya adalah dengan pengasapan. Namun cara ini hanya dapat memberantas nyamuk dewasa, selain itu asapnya juga dapat berdampak buruk bagi kesehatan manusia. Maka dari itu berbagai tanaman herbal mulai digunakan sebagai biolarvasida, antara lain tanaman kemangi (Ocimum basilicum). Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan membandingkan efek letal antar konsentrasi dan waktu. Sampel penelitian ini adalah larva A.aegypti instar IV sebanyak 10 ekor per konsentrasi. Konsentrasi ekstrak daun O.basilicum yang digunakan adalah 0,4%, 0,7%, 1,0%, 1,5%, dan 2,0%. Efek letal yang timbul pada kelompok larva diamati pada setiap 1 jam dalam 6 jam pertama, dan selanjutnya setiap 3 jam hingga 24 jam setelah pemaparan. Penelitian ini dilakukan sebanyak dua kali. Hasil: Dengan uji one way ANOVA didapatkan hasil p=0,012 (p<0,05), yaitu terdapat perbedaan efek letal terhadap konsentrasi yang signifikan. Selain itu juga efek letal yang dilihat setiap satu jam selama enam jam pertama menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan, yaitu p=0,000 (p<0,05), menggunakan uji Friedman. Simpulan: Ekstrak daun kemangi (O.basilicum) memiliki potensi sebagai biolarvasida alternatif terhadap larva A.aegypti. Semakin tinggi konsentrasi dan semakin lama waktu pemaparan, dapat meningkatkan efek letal terhadap larva nyamuk A.aegypti instar IV

    112

    full texts

    169

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Damianus Journal of Medicine
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇