Damianus Journal of Medicine
Not a member yet
    169 research outputs found

    HUBUNGAN ADIKSI ONLINE GAME DENGAN MOTIVASI BELAJAR PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA DI JAKARTA UTARA

    Full text link
    Introduction: Online game addiction is a disorder with uncontrolable behavioral when playing online games. The academic achievement may decrease and has been negatively affected due to lack of learning motivation. The purpose of this study was to explore the relation between online game addiction and learning motivation among junior high school students in north Jakarta.Methods: A cross-sectional study was conducted in 1,474 junior high school students by filling in the questionnaire, consisting of the Indonesian Online Game Addiction Questionnaire (IOGAQ) and the Motivation Learning Strategy Questionnaire (MSLQ). The inclusion criteria were all junior high school (SMP) class I to class III in Kelurahan Penjaringan, North Jakarta. The exclusion criteria were students who did not signed the consent form. Bivariate test and multivariate logistic regression test were performed to analyze data.Results: From 1,474 respondents, most of them (52.5%) were aged 14 years old and girls (37.8%). The addiction to online game was more prevalent in boys (90.1%) and girls (79.1%), mostly (87.3%) in grade 1 junior high school. The respondents with online game addiction often played online games ≥4 days/week (95%), with the duration of playing online games on school days (95.5%) or holidays (94.2%) was >4hours/day. The types of online games played was role playing games (85.8%) using a portable tool (94,8%). The learning motivation was low (86.3%). Interestingly, bivariate analysis showed no significant relationship between online game addiction and learning motivation (p≥0.05).Conclusion: There is no significant relation between online game addiction and learning motivation. However, online game addiction need to be closely monitored as this may impact the learning motivation.Pendahuluan: Adiksi online game merupakan gangguan perilaku bermain online game yang tidak terkontrol. Dampak negatif yang dapat terjadi akibat bermain online game antara lain menurunnya prestasi akademik karena motivasi dan konsentrasi belajar yang kurang. Tujuan penelitian ini mengetahui hubungan antara adiksi online game dengan motivasi belajar pada siswa sekolah menengah pertama (SMP) di Jakarta Utara.Metode: Penelitian potong lintang dengan sampel berurutan dilakukan pada 1.474 siswa SMP dengan mengisi kuesioner adiksi online game Indonesia (IOGAQ) dan Kuesioner Strategi Pembelajaran Motivasi (MSLQ). Kriteria inklusi adalah semua siswa SMP kelas I sampai kelas III di Kelurahan Penjaringan, Jakarta Utara. Kriteria eksklusi adalah siswa yang tidak bersedia menandatangani persetujuan sebagai responden. Uji bivariat dan regresi logistik multivariat dilakukan untuk menganalisis data.Hasil: Dari 1.474 siswa, mayoritas adalah perempuan (37.8%) dan berusia 14 tahun (52.5%). Adiksi online game banyak dialami oleh responden laki-laki (90,1%) dan perempuan (79,1%) yang kebanyakan adalah siswa SMP kelas 1 (87,3%). Adiksi online game lebih banyak dilakukan dengan frekuensi bermain online game ≥4 hari/minggu (95%), durasi bermain online game pada hari sekolah (95,5%) atau hari libur (94,2%) adalah >4 jam/hari. Jenis online game yang sering digunakan adalah role playing game (85,8%) dan jenis perangkatnya berupa perangkat portable (94,8%). Mayoritas responden memiliki motivasi belajar rendah (86,3%). Walaupun demikian, hasil analisis bivariat menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara adiksi online game dan motivasi belajar (p≥0.05).Simpulan: Tidak terdapat hubungan bermakna antara adiksi online game dengan motivasi belajar. Meskipun begitu, adiksi online game perlu diperhatikan agar tidak mengganggu motivasi belajar siswa

    HUBUNGAN EDUKASI KESEHATAN TENTANG CEDERA ANKLE DAN TERAPI LATIHANNYA TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN MAHASISWA KEDOKTERAN PEMAIN FUTSAL

    Full text link
    Introduction: Indoor-soccer is among top ten sports that often causes injuries, with an incidence rate of 55.2 injuries per 10.000 hours of sports participation. Ankle injury is the most common and when this is not handled well, it may result in chronic ankle instability. The aim of this study was to explore the association between health education about ankle injury and exercise therapy on knowledge level among medical students who were member of indoor-soccer sport. Methods: This research was an experimental study with a cross-sectional approach, conducted at School of Medicine and Health Sciences, Atma Jaya Catholic University of Indonesia with purposive sampling. Health education was provided using slideshow and the knowledge level was measured using questionnaires. Data was analyzed with a paired T-test test. Results: Total respondents were 36 students. The level of knowledge of students before being given health education about ankle injury and exercise therapy was 66.3+11.6 (mean, range 40.0 - 93.3) which was significantly increased to 78.5+6.3 (mean; range 63.3 - 96.7) after being given health education about ankle injury and exercise therapy (p value <0.05, paired T-Test test). Conclusion: There is an increased knowledge among soccer members after health education explaining about ankle injury and exercise therapy. Therefore, it is necessary to equip the players with health education before any sports begin to avoid sport injury.Pendahuluan: Olahraga futsal termasuk ke dalam 10 olahraga yang paling sering menyebabkan cedera, dengan tingkat insidensi mencapai 55,2 cedera per 10000 jam partisipasi olahraga. Cedera pergelangan kaki atau ankle merupakan cedera yang paling banyak terjadi. Cedera ankle yang tidak ditangani dengan baik bisa berakibat pada chronic ankle instability. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan edukasi kesehatan tentang cedera ankle dan terapi latihannya terhadap tingkat pengetahuan anggota futsal FKIK UAJ. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian pre-experimental dengan pendekatan cross-sectional, yang dilakukan di Fakultas Kedokteran Dan Ilmu Kesehatan Unika Atma Jaya dengan purposive sampling. Edukasi kesehatan diberikan dengan menggunakan alat bantu slideshow dan tingkat pengetahuan diukur dengan menggunakan kuesioner. Data dianalisis dengan uji t-test berpasangan. Hasil: Total responden adalah 36 mahasiswa. Tingkat pengetahuan mahasiswa sebelum diberikan edukasi kesehatan tentang cedera ankle dan terapi latihannya memiliki nilai rata-rata 66,3 s.d.11,6 (kisaran 40,0 - 93,3) yang meningkat bermakna menjadi rata-rata 78,5 s.d. 6,3 (kisaran 63,3 - 96,7) setelah diberikan edukasi kesehatan tentang cedera ankle dan terapi latihannya (p <0.05, uji t-test berpasangan)Simpulan: Terdapat peningkatan pengetahuan anggota Medsoccer setelah pemberian edukasi kesehatan tentang cedera ankle dan terapi latihannya. Untuk itu sebelum memulai suatu olahraga, perlu diberikan pembekalan terkait cedera yang mungkin terjadi

    KOMORBIDITAS PADA EPISODE REKUREN SINDROM POSNER-SCHLOSSMAN DAN NEUROPATI OPTIK KARENA ETAMBUTOL

    Full text link
    Introduction: Posner-Schlossman Syndrome (PSS) or glaucomatocyclitic crisis is a rare ophthalmic disease characterized by unilateral, acute, and recurrent attacks of elevated intraocular pressure (IOP) accompanied by mild anterior chamber inflammation without any conclusive causative factor. This case report represents a concurrence of Ethambutol-induced Optic Neuropathy (EON) and recurrent episode of PSS. Although this combination rarely occurs, but it can significantly affect the prognosis of both conditions.Case: A 41-year-old woman with unilateral ocular pain and blurred vision for the last 24 hours presented with left anterior uveitis, elevated intraocular pressure 56.7 mmHg and was diagnosed with left eye PSS. Five years later she showed signs of bilateral EON after 5 months of ethambutol administration as tuberculosis treatment. Best Corrected Visual Acuity (BCVA) was (20/80 OD, 20/70 OS), with an unspecified bilateral cecocentral scotomas. After 1 month of ethambutol cessation, the patient had a recurrent episode of PSS on the left eye and worsening the visual acuity more on both eyes (20/400 OD, 20/200 OS). The patient was then treated with methylprednisolone injection, and the visual acuity starts to improve (20/100 ODS).Conclusion: Comprehensive examination to detect probable etiologies of PSS is important to prevent recurrences and possible comorbidities with other eye disease, such as EON in this case. Patients undergoing ethambutol medication should be assessed by an ophthalmologist before, during and after finished treatment to evaluate the patient’s risk factors, past medical history and progression of visual acuity during treatment.Pendahuluan: Posner-Schlossman Syndrome (PSS) atau glaucomatocyclitic crisis merupakan kelainan pada mata dengan karakteristik munculnya serangan unilateral yang akut dan rekuren, diikuti dengan peningkatan tekanan intraokular (TIO) dan inflamasi ringan pada segmen mata anterior tanpa adanya faktor pencetus yang jelas. Laporan kasus ini memaparkan mengenai neuropati optik karena ethambutol (EON) bersamaan dengan munculnya episode serangan rekuren PSS. Kombinasi dari kedua komorbid sangat jarang terjadi, namun dapat memengaruhi prognosis dari kedua kondisi.Kasus: Seorang wanita 41 tahun dengan nyeri dan pandangan kabur pada mata kiri dalam 24 jam terakhir. Pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya uveitis anterior mata kiri dan peningkatan tekanan intraokular ODS 21,4 / 56,7 mmHg. Pasien didiagnosis sebagai PSS. 5 tahun kemudian pasien menderita EON setelah 5 bulan penggunaan etambutol dalam terapi tuberkulosis. Pemeriksaan koreksi visus terbaik saat itu 20/80 OD, 20/70 OS, dengan skotoma sekosentral yang tidak spesifik. 1 bulan setelah etambutol dihentikan, pasien mengalami episode serangan rekuren PSS dan mulai memengaruhi progresivitas dari penurunan visus kedua mata mencapai 20/400 OD, 20/200 OS. Pasien ditangani dengan injeksi metilprednisolon 500 mg intravena, setelah beberapa dosis pemberian visus mulai membaik (VODS 20/100).Simpulan: Evaluasi secara berkelanjutan oleh dokter spesialis mata dibutuhkan sebelum dan selama pemberian etambutol, yang difokuskan kepada penggalian riwayat penyakit, faktor risiko sebelumnya, danstatus oftalmologi selama pengobatan. Pemeriksaan lengkap untuk mencari etiologi pada PSS penting untuk mengurangi risiko rekurensi. Faktor psikogenik juga perlu dipertimbangkan

    HUBUNGAN KANDUNGAN AIR PADA LENSA KONTAK DENGAN KEJADIAN DRY EYE SYNDROME (DES) PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS KATOLIK INDONESIA ATMA JAYA

    Full text link
    Introduction: Dry Eye Syndrome (DES) is a multifactorial disease of the eye characterized by loss of homeostasis from the tear film and is accompanied by ocular symptoms. One of many factors that can cause DES is the use of contact lenses. This research was conducted to determine the relationship of water content in contact lenses with the occurrence of DES. Methods: This research was conducted in 2019 with a cross-sectional study design with the Tear Break Up Time (TBUT) test, Schirmer test and questionnaire. The research respondents were students of Atma Jaya School of Medicine and Health Sciences (FKIK UAJ) whose eyes were examined as samples (n = 84). The water content of the respondent's contact lenses was obtained using a questionnaire. The inspection methods used to determine DES are TBUT test and Schirmer test. Data analysis using chi-square test with significance level of p <0.05. Results: The prevalence of DES obtained in students with a water content <50% is 25.9%, while the DES in students with a water content >50% is 25.5% . Conclusion: There is no significant relationship between water content in contact lenses with the occurrence of DES in FKIK UAJ students (p=0.963).Pendahuluan: Dry Eye Syndrome (DES) merupakan penyakit multifaktorial pada mata yang ditandai dengan hilangnya homeostasis dari lapisan air mata dan disertai dengan gejala okular. Salah satu faktor yang dapat menyebabkan DES adalah pemakaian lensa kontak. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan kandungan air pada lensa kontak dengan terjadinya DES. Metode: Penelitian dilaksanakan tahun 2019 dengan desain penelitian potong lintang dengan uji Tear Break Up Time (TBUT), uji Schirmer dan kuesioner. Responden penelitian adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Unika Atma Jaya (FKIK UAJ) yang setiap matanya diperiksa sebagai sampel (n=84). Kandungan air pada lensa kontak didapat menggunakan kuesioner. Metode pemeriksaan yang digunakan untuk menentukan DES adalah uji TBUT dan uji Schirmer. Analisa data menggunakan uji chi-square dengan tingkat kemaknaan p<0,05. Hasil: Prevalensi DES yang didapatkan pada mahasiswa dengan kandungan air <50% adalah 25,9%, sedangkan DES pada mahasiswa dengan kandungan air >50% adalah 25,5%. Simpulan: Tidak ada hubungan yang signifikan antara kejadian DES dengan kandungan air mata pada lensa kontak pada mahasiswa FKIK UAJ (p=0,963)

    PERBANDINGAN DAYA BIOLARVASIDA EKSTRAK BIJI BUAH DAN DAUN PEPAYA (Carica papaya) TERHADAP LARVA Aedes aegypti

    Full text link
    Introduction: Aedes aegypti is the major vector of dengue virus. Dengue virus can cause dengue hemorrhagic fever (DHF). DHF is dangerous because it can cause death. World Health Organization (WHO) noted Indonesia as state with the highest dengue cases in Southeast Asia. Effort to control A. aegypti vector that can be done is by using natural substances that have the effect of biolarvicides. This study aims to determine natural biolarvicides potencial of fruit seeds and leaf papaya (Carica papaya) extracts against A. aegypti larvae. Methods: This study was an experimental study and conducted in 2016 using two groups of samples with the design before and after intervention. Samples were A. aegypti larval instar III and IV with the number of 10 larvaeper concentration and 10 larvae of control for each types of extracts. The concentration used was 0 mg / L (control), 50 mg / L, 100 mg / L, and 150 mg / L for both types of extracts, then observed at 6 hours, 12 hours, 18 hours, and 24 hours after exposure. Results: This study using Kruskal Wallis test, p value = 0.352. (P> 0.05) means there is no significant difference in the effect of biolarvicides concentration between the two types of extracts that used to the number of dead larvae of A. aegypti. Conclusion: Fruit seeds and leaf papaya extracts (C. Papaya L.) with concentrations of 50 mg / L, 100 mg/ L, and 150 mg / L are not effective to kill the larvae of A. aegypti. Other studies show concentrations above 21.9 ppm of leaf extract and 442 ppm of fruit seed extract can effectively kill larvae, therefore future studies are needed to determine effective extract concentrations to kill the larvae of A. aegypti.Pendahuluan: Aedes aegypti merupakan vektor utama dari virus dengue. Virus dengue dapat menyebabkan demam berdarah dengue (DBD). DBD berbahaya karena dapat menyebabkan kematian. World Health Organization (WHO) mencatat Indonesia sebagai negara dengan kasus DBD tertinggi di Asia Tenggara. Upaya pengendalian vektor A. aegypti dapat dilakukan dengan memakai zat alami yang mempunyai efek biolarvasida. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan daya biolarvisida alami ekstrak biji buah dan daun pepaya (Carica papaya) terhadap larva A. aegypti.Metode: Desain penelitian adalah penelitian eksperimental pada tahun 2016 menggunakan dua kelompok sampel dengan rancangan sebelum dan sesudah intervensi. Sampel penelitian adalah larva A. aegypti instar III dan IV dengan jumlah 10 ekor per konsentrasi dan 10 ekor kontrol untuk masing-masing jenis ekstrak. Konsentrasi yang digunakan adalah 0 mg/L (kontrol), 50 mg/L, 100 mg/L, dan 150 mg/L untuk kedua jenis ekstrak, lalu diamati pada 6 jam, 12 jam, 18 jam, dan 24 jam setelah pemaparan.Hasil: Penelitian ini menggunakan uji Kruskal Wallis dan ,didapatkan nilai p = 0,352.(p>0,05). Hasil ini menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna pada efek biolarvasida antara konsentrasi kedua jenis ekstrak yang digunakan terhadap jumlah larva A. aegypti yang mati.Simpulan: Ekstrak biji buah dan daun pepaya (C. Papaya L.) dengan konsentrasi 50 mg/L, 100 mg/L, dan 150 mg/L tidak efektif untuk membunuh larva A. aegypti. Studi lain menunjukkan konsentrasi diatas 21.9 ppm ekstrak daun dan 442 ppm ekstrak biji buah dapat membunuh larva A. aegypti secara efektif, sehingga penelitian yang akan datang di perlukan untuk menentukan konsentrasi ekstrak yang efektif untuk membunuh larva A. aegypti

    PENGGUNAAN IMPLAN GIGI SEBAGAI ALTERNATIF GIGI TIRUAN

    Full text link
    Introduction: Loss of teeth leads to many problems anatomically and physiologically, leading to nutritional intake disturbances, and even affect patient’s psychological condition. There are several alternatives for tooth replacement such as removable denture, fixed partial denture (bridge), and implant. This case report described a loss of a single molar and its replacement with implant.Case Report: A 36-year-old female patient came with a chief complaint of missing lower left posterior teeth 5 years ago due to big caries. Patient wanted to replace with implant. Comprehensive evaluation was done to make sure that she was indicated for dental implant. Insertion of megagen implant was done on the first phase of surgery. Implant was left for 3 months for osseointegration. Insertion of healing abutment was done on the second phase of surgery and was left for 1 week. Impression was done and a screw-retained metal porcelain crown was made for the implant.Conclusion: Rehabilitation of tooth loss with implant requires several steps which are time-consuming and expensive. However, many patients still opt for implant therapy. Compared to other alternative therapy, implant is the most comfortable form of denture, does not damage adjacent teeth, has a high survival rate, and are more cost-effective in the long run.Pendahuluan: Kehilangan gigi geligi menimbulkan berbagai masalah baik secara anatomi maupun fisiologi, menimbulkan gangguan nutrisi dan bahkan berdampak terhadap kondisi psikologi seseorang. Beberapa alternatif penggantian gigi yang hilang antara lain gigi tiruan lepasan, gigi tiruan cekat (bridge), serta implan gigi. Laporan kasus ini menjelaskan kasus kehilangan gigi molar tunggal yang digantikan dengan implan. Pasien wanita berusia 36 tahun datangdengan keluhan hilangnya gigi belakang kiri bawah 5 tahun yang lalu akibat karies yang besar.Kasus: Pasien wanita berusia 36 tahun datang dengan keluhan hilangnya gigi belakang kiri bawah 5 tahun yang lalu akibat karies besar. Pasien ingin gigi tersebut direhabilitasi dengan implan. Pemeriksaan komprehensif dilakukan untuk memastikan bahwa pasien diindikasikan untuk implan. Insersi implan Megagen dilakukan pada fase bedah pertama. Implan didiamkan selama 3 bulan untuk oseointegrasi. Pemasangan healing abutment dilakukan pada fase bedah kedua, dan didiamkan selama 1 minggu. Implan dicetak dan dibuatkan protesa berupa screw-retained metal porcelain crown.Simpulan: Rehabilitasi dengan implan memang membutuhkan proses bertahap yang cukup lama dan biaya yang tidak sedikit, tetapi banyak pasien yang memilih terapi implan. Implan merupakan jenis gigi tiruan yang paling nyaman untuk pasien, tidak merusak gigi tetangga, mempunyai tingkat survival yang tinggi, dan biaya jangka panjang yang lebih efektif bila dibandingkan dengan alternatif terapi lainnya

    HUBUNGAN KADAR HEMOGLOBIN TERHADAP KETAHANAN AEROBIK DAN KEKUATAN OTOT PADA LANJUT USIA

    Full text link
    Introduction: The increase in the elderly population causes many health problems. One of them is the decline in physical function, making the elderly have difficulty performing daily activities. Some studies suggest the relation between decreased hemoglobin level with aerobic endurance and muscle strength. This study aims to determine the relation between hemoglobin and aerobic endurance, muscle strength in the elderly.                                                                                                                                                                        Methods: This research is an analytic-correlative research conducted cross-sectionally on 84 respondents in Kelurahan Cideng, Central Jakarta. The data is collected from questionnaires, hemoglobin level (sodium lauryl sulfate-hemoglobin method), and physical performance tests (2-minutes test, arm curl test, and chair stand test). Results: The mean hemoglobin level is 14.37 g/dL. There was a significant relation between hemoglobin with aerobic endurance (p<0.05), whereas no significant relation between hemoglobin with upper and lower limb muscle strength (p>0.05).                                                                                                                Conclusion: There was a relation between hemoglobin level with aerobic endurance in the elderly.Pendahuluan: Peningkatan populasi lanjut usia (lansia) menimbulkan banyak masalah kesehatan, salah satunya adalah penurunan fungsi fisik yang menyebabkan lansia kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari. Studi menunjukkan adanya hubungan antara penurunan kadar hemoglobin terhadap penurunan ketahanan aerobik dan kekuatan otot pada lansia. Tujuan penelitian ini mengetahui hubungan antara kadar hemoglobin dengan ketahanan aerobik dan kekuatan otot pada lansia.Metode: Penelitian ini adalah penelitian analitik-korelatif yang dilakukan secara potong-lintang pada 84 responden di Kelurahan Cideng, Jakarta Pusat. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuisioner, pemeriksaan laboratorium hemoglobin (metode sodium lauryl sulfate-hemoglobin), serta pemeriksaan performa fisik (2-minutes test, arm curl test, dan chair stand test).Hasil: Rata-rata hemoglobin lansia adalah 14,37 g/dL. Penelitian ini menunjukkan hubungan bermakna antara kadar hemoglobin terhadap ketahanan aerobik (p<0,05), namun tidak terdapat hubungan terhadap kekuatan otot (p>0,05).Simpulan: Kadar hemoglobin berhubungan dengan ketahanan aerobik lansia di kelurahan Cideng, Jakart

    STUDI DESKRIPTIF PENGUNJUNG POSBINDU PTM DI DUA RUKUN WARGA KELURAHAN PEJAGALAN

    Full text link
    Introduction: A community-based health post called ‘pos pembinaan terpadu’ (Posbindu) is a vital approach to NCDs prevention and control strategy in the community. However, the posts appear to receive low appreciation in urban areas, with less than 10% of the population at risk visiting the post. This study presented a descriptive evaluation in Posbindu visitors after half-year implementation in two hamlets in Pejagalan. Methods: A survey-based study was conducted in two Posbindu, each in a hamlet. A self-questionnaire regarding sociodemography, NCDs status, risk factors, visiting frequency and health-seeking behaviour were asked to all visitors and collected during Posbindu schedule. Results: Posbindu visitors in hamlet A and B (131 and 160) share common demographic characteristics, with women participation higher in both (Hamlet A= 90.1% and Hamlet B=80.6%) mostly in their 30-44 age group for hamlet A (38.9%) and 45-59 age group for hamlet B (50%). Homemakers and unemployed were more than 70% of the proportion with low education preceding (40%) in both hamlets. NCDs status slightly higher in hamlet A (54.1%) than in B (53.7%), with hypertension, occupied the most. More than 90% of visitors lack in physical activity. Health seeking behaviour is better in diabetes sufferer than hypertension. Conclusion: Posbindu visitors are usually housewives or unemployed group due to limitation of schedule. School and workplace-based NCDs prevention program have to be in consideration. Open space facilities on increasing the community's physical activity and intensive health literacy are necessary to maintain their healthy life years.Pendahuluan: Pos kesehatan berbasis masyarakat yang disebut 'pos pembinaan terpadu' (posbindu) merupakan pendekatan penting dalam strategi pencegahan dan pengendalian PTM di masyarakat. Namun, Posbindu mendapat apresiasi yang rendah di daerah perkotaan, dengan kurang dari 10% populasi berisiko mengunjungi pos tersebut. Penelitian ini menyajikan evaluasi deskriptif pengunjung Posbindu setelah pelaksanaan setengah tahun di dua rukun warga (RW) di Pejagalan.Metode: Survei dilakukan di dua posbindu, masing-masing satu pos dalam satu RW. Kuesioner mandiri mengenai sosiodemografi, status PTM, faktor risiko, frekuensi kunjungan dan perilaku mencari kesehatan diisi oleh semua pengunjung dan dikumpulkan saat jadwal pelaksanaan Posbindu.Hasil: Pengunjung posbindu di RW A dan B (131 dan 160) memiliki kesamaan karakteristik demografis, dengan partisipasi perempuan lebih tinggi di kedua RW (RW A=90,1% dan RW B=80,6%, sebagian besar dalam kelompok usia 30-44 pada RW A (38,9%) dan kelompok umur 45-59 pada RW B (50%). Ibu rumah tangga dan orang yang tidak bekerja menempati 70% proporsi pengunjung dengan tingkat pendidikan rendah yang dominan (40%) di kedua RW. Status PTM sedikit lebih tinggi di RW A (54,1%) dibandingkan RW B (53,7%), dan hipertensi sebagai jenis PTM terbanyak. Lebih dari 90% pengunjung kurang dalam aktivitas fisik. Perilaku pencarian kesehatan pada penderita diabetes lebih baik dari pada hipertensi.Simpulan: Pengunjung posbindu terbanyak adalah ibu rumah tangga atau orang yang tidak bekerja karena keterbatasan jadwal. Program pencegahan PTM berbasis sekolah dan tempat kerja harus dipertimbangkan. Fasilitas ruang terbuka untuk meningkatkan aktivitas fisik masyarakat dan literasi kesehatan secara intensif diperlukan untuk menjaga kesehatan warga

    PENGARUH KONSUMSI DARK CHOCOLATE TERHADAP FUNGSI KONSENTRASI VISUAL MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS KATOLIK INDONESIA ATMA JAYA

    Full text link
    Introduction: Cognitive function is essential for medical students to support learning at the university. One part of cognitive function that is very important in student learning is visual concentration. Visual concentration is the process of maintaining a concentration of thought on a visual object by putting aside other things that are not related. Concentration can be increased in several ways, one of which is to consume nutritious foods that contain flavonoids such as dark chocolate. The purpose of this study was to determine the effect of dark chocolate consumption on visual concentration of cognitive function in Atma Jaya’s medical students.Methods: This was an experimental study and the data were tested using t-paired statistical test. The research was conducted from March to April 2019 at Atma Jaya Catholic University of Indonesia School of Medicine and Health Sciences, Jakarta. The data ovtained from Stroop Test before and after intervention of dark chocolate. A total of 51 respondents were selected according to the research criteria.Results: As many as 48 people (94.1%) experinced an increase in the Stroop Test Score, a person (2%) did not experience a change in the Stroop Test Score, and two people (3.9%) experinced a decrease in the Stroop Test Score. The result of statistical test show significant results (p<0.01). The average score before the intervenion was obtained at 77.02±10.42 and the average score after the intervention was obtained at 77.02±11.81 (Δ= +12.26).Conclusion: There is an effect of dark chocolate consumption on visual concentration of cognitive function in Atma Jaya’s medical studentPendahuluan: Fungsi kognitif sangat penting bagi mahasiswa fakultas kedokteran untuk menunjang setiap proses pembelajaran di universitas. Salah satu bagian dari fungsi kognitif yang sangat penting dalam proses belajar mahasiswa adalah konsentrasi visual. Konsentrasi visual adalah proses mempertahankan pemusatan pikiran pada suatu objek visual dengan cara menyampingkan hal lain yang tidak berhubungan. Konsentrasi dapat ditingkatkan dengan beberapa cara, salah satunya adalah dengan mengkonsumsi makanan bergizi yang mengandung senyawa flavonoid seperti pada dark chocolate. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh konsumsi dark chocolate terhadap fungsi konsentrasi visual pada mahasiswa di FKIK Unika Atma Jaya.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental, dan data diuji menggunakan uji statistik t-berpasangan. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret sampai April 2019 di FKIK Unika Atma Jaya. Data didapatkan dari hasil uji Stroop Test pada sebelum dan sesudah intervensi dark chocolate. Sebanyak 51 responden dipilih sesuai kriteria penelitian.    Hasil: Sebanyak 48 orang (94,1%) mengalami peningkatan skor Stroop Test, 1 orang (2%) tidak mengalami perubahan skor Stroop Test, dan 2 orang (3,9%) mengalami penurunan skor Stroop Test. Hasil uji statistik menunjukkan hasil yang signifikan (p<0,01). Rata-rata skor sebelum intervensi didapatkan sebesar 64,7610,42 dan rata-rata skor setelah intervensi didapatkan sebesar 77,0211,81 (= +12,26).Simpulan: Terdapat pengaruh konsumsi dark chocolate terhadap fungsi konsentrasi visual mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Unika Atma Jaya

    FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI EXCESSIVE DAYTIME SLEEPINESS PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS KATOLIK INDONESIA ATMA JAYA

    Full text link
    Introduction: Excessive daytime sleepiness is a person's tendency to fall asleep when they should be awake. This can cause various problems in the performance of daily activities such as a decrease in workplace productivity, traffic accidents, and a lower academic score among medical students. Therefore, this study was conducted to determine the factors that influence the occurrence of excessive daytime sleepiness among the students of Atma Jaya Catholic University of Indonesia School of Medicine dan Health Sciences (FKIK UAJ).Methods: This research is a descriptive analytic study with a cross-sectional approach on respondents consisting of preclinical students from the year 2015 -2017. Respondents were given questionnaires containing demographic data, Epworth Sleepiness Scale (ESS), and subjective sleep duration. Data on height, weight, and waist circumference of the respondents were taken using their corresponding measuring instruments. The analysis was conducted using logistic regression in order to find which factors has the most influence on excessive daytime sleepiness.Results: In this study, 132 students from FKIK UAJ who met the inclusion criteria were were selected as respondents. Data analysis showed that excess body mass index was the most statistically significant factor in the occurrence of excessive daytime sleepiness among FKIK UAJ students with an OR of 14,584 (95% CI 5,651-37,637) followed by inadequate sleep duration with an OR of 3.693 (95% CI 1,183-11,533).Conclusion: This research has found that the greatest factors on the occurrence of excessive daytime sleepiness on the students of FKIK UAJ are excessive body mass index and inadequate sleep duration.Pendahuluan: Excessive daytime sleepiness merupakan kecenderungan seseorang untuk tertidur ketika seharusnya terjaga. Hal ini dapat menyebabkan berbagai masalah dalam aktivitas sehari-hari, antara lain penurunan produktivitas pekerjaan, kecelakaan lalu-lintas, dan nilai yang lebih buruk mahasiswa kedokteran. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi kejadian excessive daytime sleepiness pada mahasiswa FKIK Unika Atma Jaya (FKIK UAJ).Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pengambilan data secara cross-sectional pada responden yang terdiri dari mahasiswa preklinik angkatan 2015- 2017. Responden diberikan lembaran kuesioner berisis data demografik, Epworth Sleepiness Scale (ESS), dan durasi tidur subjektif. Data tinggi badan, berat badan, serta lingkar pinggang responden diambil menggunakan alat ukur. Uji analisa dilakukan menggunakan regresi logistik untuk melihat faktor yang paling berperan terhadap excessive daytime sleepiness.Hasil: Pada penelitian didapatkan 132 responden mahasiswa di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Atma Jaya yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis data menunjukkan bahwa indeks massa tubuh berlebih merupakan faktor yang paling berperan pada kejadian excessive daytime sleepiness di FKIK UAJ dengan nilai OR 14,584 (95% CI 5,651-37,637) dan diikuti dengan durasi tidur kurang dengan nilai OR 3,693 (95% CI 1,183- 11,533).Simpulan: Penelitian ini menemukan bahwa faktor terbesar yang mempengaruhi kejadian excessive daytime sleepiness pada mahasiswa di FKIK UAJ adalah indeks masa tubuh berlebih dan durasi tidur kurang

    112

    full texts

    169

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Damianus Journal of Medicine
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇