Damianus Journal of Medicine
Not a member yet
169 research outputs found
Sort by
Formulation and Evaluation of Clay Mask Preparations Containing Robusta Coffee (Coffea canephora
Pendahuluan: Clay mask merupakan masker yang cocok untuk kulit berminyak dan rentan berjerawat, sedangkan kopi merupakan bahan alami yang memiliki senyawa aktif polifenol dan alkaloid. Kopi robusta (Coffea canephora) merupakan jenis kopi yang memiliki kandungan fenolik lebih tinggi dibandingkan jenis kopi lainnya. Penelitian ini dilakukan untuk membuat formula clay mask yang mengandung kopi robusta yang stabil dengan tujuan untuk merawat kulit berjerawat.
Metode: Penelitian eksperimental menggunakan metode Response Surface Methodology. Evaluasi sediaan clay mask untuk memastikan mutu sediaan seperti uji organoleptik dan homogenitas, uji pH, uji daya sebar, uji daya lekat dan uji viskositas. Uji stabilitas clay mask dengan metode Freeze Thaw Cycle dan sentrifugasi.
Hasil: Formulasi optimal clay mask yang mengandung tween 20 11,5% dan xanthan gum 1,4% menghasilkan nilai viskositas sebesar 10310 ± 314 cps dan daya sebar 1,75 ± 0,03 cm. Variasi konsentrasi tween 20 dan xanthan gum memengaruhi nilai viskositas dan daya sebar, namun tidak pada daya lekat. Uji sentrifugasi dan freeze thaw menunjukkan bahwa sediaan stabil secara fisik.
Simpulan: Sediaan optimal clay mask yang mengandung Coffea canephora berhasil dibuat dan dapat menjadi opsi dalam produk kosmetik untuk perawatan kulit berjerawat.Pendahuluan: Clay Mask merupakan masker yang cocok untuk kulit berminyak dan rentan berjerawat sedangkan kopi merupakan bahan alami yang memiliki senyawa aktif polifenol dan alkaloid. Kopi robusta (Coffea canephora) merupakan jenis kopi yang memiliki kandungan fenolik lebih tinggi dibandingkan jenis kopi lainnya. Penelitian ini dilakukan untuk membuat formula Clay Mask yang mengandung kopi robusta yang stabil dengan tujuan penggunaan untuk merawat kulit berjerawat. Metode: Jenis penelitian ini bersifat eksperimental dengan menggunakan metode Response Surface Methodology. Evaluasi sediaan Clay Mask dilakukan untuk memastikan mutu sediaan seperti uji organoleptik dan homogenitas, uji pH, uji daya sebar, uji daya lekat dan uji viskositas. Kemudian dilakukan uji stabilitas Clay Mask dengan metode Freeze Thaw Cycle dan sentrifugasi. Hasil: Formulasi optimal Clay Mask yang mengandung 11,5% Tween 20 dan 1,4% xanthan gum menghasilkan viskositas sebesar 10401,06 cps dan daya sebar sebesar 1,874 cm. Variasi konsentrasi tween 20 dan xanthan gum memengaruhi nilai viskositas dan daya sebar, namun tidak pada daya rekat. Uji sentrifugasi dan freeze thaw menunjukan bahwa sediaan stabil secara fisik. Kesimpulan: Sediaan optimal Clay Mask yang mengandung Coffea canephora berhasil dibuat dan dapat menjadi opsi dalam produk kosmetik untuk perawatan kulit berjerawat
Eksplorasi Potensi Tanaman Tropis Indonesia sebagai Bahan Alami Anti-Aging Kulit: Analisis Fitokimia dan Aktivitas Antioksidan
Pendahuluan: Penuaan kulit merupakan proses biologis yang dipengaruhi oleh faktor intrinsik dan ekstrinsik, termasuk paparan sinar ultraviolet (UV) yang menyebabkan photoaging. Proses ini ditandai dengan degradasi kolagen dan elastin akibat peningkatan enzim matrix metalloproteinases (MMPs), sehingga menyebabkan keriput dan hilangnya elastisitas kulit. Dalam upaya mengatasi permasalahan ini, penggunaan senyawa bioaktif dari tanaman tropis Indonesia sebagai agen antioksidan dan anti-aging semakin mendapat perhatian. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi tanaman tropis Indonesia yang kaya akan senyawa bioaktif sebagai bahan aktif dalam produk perawatan kulit alami.
Metode: Penelitian ini merupakan studi eksperimental kuantitatif yang melibatkan 16 jenis tanaman tropis Indonesia. Ekstraksi dilakukan menggunakan metode sonikasi dengan pelarut etanol 99,5%, diikuti dengan analisis fitokimia untuk mengidentifikasi senyawa aktif seperti flavonoid, fenolik, tanin, triterpenoid, dan saponin. Aktivitas antioksidan diukur menggunakan metode DPPH, sedangkan total flavonoid dan total fenolik dianalisis menggunakan spektrofotometer UV-Vis.
Hasil: Tanaman seperti parijoto, pegagan, dan dandang gendis menunjukkan kandungan flavonoid dan fenolik yang signifikan, berpotensi sebagai inhibitor alami dalam perawatan kulit. Selain itu, identifikasi senyawa bioaktif dalam ekstrak tanaman ini mendukung pengembangan bahan alami sebagai alternatif yang lebih aman dibandingkan bahan sintetis dalam produk anti-aging.
Simpulan: Penelitian ini mengonfirmasi bahwa tanaman tropis Indonesia memiliki potensi besar sebagai sumber antioksidan alami dan agen anti-aging dalam industri kosmetik. Pemanfaatan tanaman ini dapat mendukung inovasi produk skincare berbasis bahan alami, sejalan dengan tren konsumen yang semakin peduli terhadap keamanan dan efektivitas produk perawatan kulit.Abstra
Identifikasi peran hsa-miR-4454 pada penuaan kulit: Studi klinis dan bioinformatik
Pendahuluan: Penuaan kulit adalah proses kompleks yang melibatkan faktor intrinsik dan ekstrinsik. Berbagai parameter untuk mengevaluasi karakteristik kulit telah diusulkan. Namun, biomarker yang akurat untuk penuaan kulit dan hubungan mekanisme molekuler penuaan kulit masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk memvalidasi peran mikroRNA (miRNA) dalam regulasi epigenetik penuaan kulit sebagai kandidat biomarker dan target terapi.
Metode: Profil ekspresi miRNA kakek dan cucu dari 2 famili Jawa dibandingkan untuk memilih kandidat miRNA yang memiliki perbedaan ekspresi pada jaringan kulit. Selanjutnya, miRNA yang mengalami perubahan ekspresi tersebut dianalisis fungsi dan perannya pada tingkat molekuler dengan pendekatan bioinformatika.
Hasil: Hasil profiling menunjukkan miR-4454 yang konsisten mengalami peningkatan ekspresi pada kedua famili yaitu sebesar 3,318 pada famili I dan 9,315 pada famili II. Berdasarkan data dari GeneCards, miR-4454 memiliki ekspresi yang cukup tinggi pada kulit dan diekspresikan pada seluruh komponen sel. Analisis data dari GWAS mengindikasikan bahwa miR-4454 terlibat dalam pengaturan panjang telomer. Analisis gen target dengan menggunakan TargetScanHuman, miRTarBase, miRTargetLink dilanjutkan dengan pengayaan ontologi gen dan jalur molekuler dengan platform EnrichR menunjukkan miR-4454 berperan dalam regulasi produksi IL-12, respons terhadap radiasi, autofagi, metabolisme, FoxO signaling pathway, dan cellular senescence. Gen ataxia telangiectasia mutated (ATM) dan mitogen-activated protein kinase 14 (MAPK14) diduga berperan penting pada regulasi penuaan kulit akibat miR-4454 karena keterlibatannya pada cellular senescence.
Simpulan: Pada penuaan kulit, ekspresi miR-4454 yang tinggi berpotensi digunakan sebagai kandidat biomarker dan dasar pengembangan target terapi. Gen ATM dan MAPK14 merupakan dua kandidat target miR-4454. Pendahuluan: Penuaan kulit adalah proses kompleks yang melibatkan faktor intrinsik dan ekstrinsik. Berbagai parameter untuk mengevaluasi karakteristik kulit telah diusulkan. Namun, biomarker yang akurat untuk penuaan kulit dan hubungan antara biomarker dengan mekanisme molekuler penuaan kulit masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk validasi peran mikroRNA (miRNA) dalam regulasi epigenetik penuaan kulit sebagai kandidat biomarker dan target terapi.
Metode: Profil ekspresi miRNA kakek dan cucu dari 2 keluarga Jawa dibandingkan untuk memilih kandidat miRNA yang memiliki perbedaan ekspresi pada jaringan kulit. Selanjutnya, miRNA yang mengalami perubahan ekspresi tersebut dianalisis fungsi dan peran nya pada tingkat molekuler dengan pendekatan bioinformatika.
Hasil: Hasil profiling menunjukkan miR-4454 yang konsisten mengalami peningkatan ekspresi pada kedua Famili yaitu sebesar 3,318 pada Famili I dan 9,315 pada Famili II. Berdasarkan data dari GeneCards, miR-4454 memiliki ekspresi yang cukup tinggi pada kulit dan diekspresikan pada seluruh komponen sel. Analisis data dari GWAS mengindikasikan bahwa miR-4454 terlibat dalam pengaturan panjang telomer. Analisis gen target dengan menggunakan TargetScanHuman, miRTarBase, miRTargetLink dilanjutkan dengan pengayaan ontologi gen dan jalur molekuler dengan platform EnrichR menunjukkan miR-4454 berperan dalam regulasi produksi IL-12, respon terhadap radiasi, autofagi, metabolisme, FoxO signaling pathway, dan cellular senescence. Gen ataxia telangiectasia mutated (ATM) dan mitogen-activated protein kinase 14 (MAPK14) diduga berperan penting pada regulasi penuaan kulit akibat miR-4454 karena keterlibatannya pada cellular senescence.
Simpulan: Pada penuaan kulit, ekspresi miR-4454 yang tinggi berpotensi digunakan sebagai kandidat biomarker dan dasar pengembangan target terapi. Gen ATM dan MAPK14 merupakan dua kandidat target miR-4454.
 
Association of knowledge and attitude with health protocols’ compliance during the COVID-19 pandemic
Introduction: The COVID-19 pandemic negatively impacted the community. The Indonesian government has implemented health protocols to control COVID-19 transmission. Knowledge and attitude affect the compliance level, which plays an important role in the success of health protocol implementation. This study aims to evaluate the knowledge, attitude, and compliance towards COVID-19 control protocols in Indonesia, as well as factors that influence the knowledge. The findings can be used in formulating a strategy to reduce COVID-19 transmission or other infectious diseases in Indonesia.
Methods: A cross-sectional study utilizing a purposive snowball sampling method was performed by distributing a Google form questionnaire through social media from June to August 2021. The target population was all Indonesians aged ≥17 years old who were present in Indonesia during the pandemic and had access to the questionnaire. Incomplete questionnaires were excluded. The data were analyzed descriptively and statistically using the Chi-square or Fisher’s exact test.
Results: Out of 713 respondents who met the study criteria, 95% had adequate knowledge, 87% exhibited a positive attitude, and 79.7% adhered to health protocols with high compliance. Knowledge significantly influenced attitude to COVID-19 (p<0.001). Additionally, sufficient knowledge (p<0,001; OR 9.19, 95% CI 4.47-18.88) and positive attitudes (p<0,001; OR 19.18; 95% CI 11.44-32.16) showed significant correlation with compliance. Age (p<0.001), education level (p<0.001), experience (p=0.018), and duration of social media usage (p=0.004) were significantly associated with knowledge.
Conclusion: The Indonesian community generally has adequate knowledge and a positive attitude toward COVID-19. This could significantly improve compliance to health protocols.Pendahuluan: Pandemi COVID-19 berdampak negatif bagi masyarakat. Pemerintah Indonesia telah menerapkan protokol kesehatan untuk menekan penularan COVID-19. Pengetahuan dan sikap turut memengaruhi kepatuhan warga yang akan berdampak terhadap keberhasilan implementasi protokol kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menilai pengetahuan, sikap, dan kepatuhan terhadap protokol kesehatan terkait COVID-19 di Indonesia, serta faktor-faktor yang memengaruhinya. Hasil penelitian ini berguna untuk merumuskan strategi dalam mengontrol penularan COVID-19 maupun kondisi pengendalian penyakit lainnya di Indonesia.
Metode: Studi potong-lintang ini dilakukan dengan mendistribusikan kuesioner Google formulir melalui media sosial. Populasi target dalam penelitian ini adalah semua orang Indonesia yang berusia 17 tahun ke atas yang dapat mengakses kuesioner. Kuesioner yang tidak terisi dengan lengkap akan dieksklusi. Data-data yang terkumpul kemudian dianalisis secara deskriptif dan uji statistik dilakukan secara Chi-square atau Fisher’s exact jika persyaratan chi-square tidak terpenuhi.
Hasil: Dari 713 responden yang memenuhi kriteria untuk pengolahan data, 95% memiliki pengetahuan yang memadai, 87% memiliki sikap positif terhadap protokol pengendalian COVID-19, dan 79,5% yang mematuhi protokol kesehatan dengan baik. Pengetahuan (p<0,001) dan sikap (p<0,001) memengaruhi kepatuhan secara signifikan. Selain itu, sikap juga dipengaruhi secara signifikan oleh pengetahuan (p<0,001). Beberapa faktor, termasuk usia (p<0,001), tingkat pendidikan (p<0,001), pengalaman (p=0,018), dan durasi penggunaan media sosial (p=0,004), secara signifikan berhubungan dengan pengetahuan.
Simpulan: Masyarakat Indonesia secara umum telah memiliki pengetahuan yang memadai dan sikap yang positif terhadap COVID-19. Hal tersebut dapat meningkatkan kepatuhan terhadap protokol kesehatan secara signifikan
Terapi Kombinasi Montelukast dan Desloratadin pada Pasien Urtikaria Akut yang Tidak Responsif dengan Antihistamin dan Kortikosteroid
Introduction: Urticaria is a common skin disease, characterized by localized edema that appears suddenly and disappears within 24 hours. Antihitamin-H1 is the drug of choice for urticaria which is sometimes combined with systemic corticosteroids. The use of montelukast in cases of urticaria is still rarely reported.
Case Report: A 21-year-old woman came with complaint of itchy bumps all over her body with a dominant burning sensation since 5 days ago. Complaint remained unchanged even after administering up to four doses of desloratadine and a combination of 16 mg methylprednisolone. The complaint finally improved after the patient was given montelukast 10 mg per day combined with desloratadine 5 mg twice a day.
Discussion: Leukotriene is a lipid mediator that can increase vasopermeability and vasodilation in the skin. The improvement in symptoms that occurred after the combination therapy of montelukast and desloratadine proved the involvement of leukotrienes in the pathogenesis of this patient's case of acute urticaria.
Conclusion: Combination therapy with montelukast and desloratadine may be useful in some cases of acute urticaria. Further studies with sufficient control may be conducted to determine the effectiveness of montelukast in combination with antihistamines for cases of acute urticaria.
Latar Belakang: Urtikaria adalah penyakit kulit yang umum ditemukan, ditandai adanya edema setempat yang timbul mendadak dan menghilang dalam 24 jam. Antihitamin-H1adalah obat pilihan untuk urtikaria yang kadang-kadang dikombinasikan dengan kortikosteroid sistemik. Penggunaan montelukast pada kasus urtikaria masih jarang dilaporkan.
Ilustrasi Kasus: Seorang perempuan berusia 21 tahun datang dengan keluhan bentol-bentol gatal di seluruh tubuhnya dengan sensasi terbakar yang dominan sejak 5 hari yang lalu. Keluhan tetap tidak berkurang bahkan setelah pemberian desloratadine sampai empat kali dosis dan kombinasi metilprednisolon 16 mg. Keluhan akhirnya membaik setelah pasien diberi montelukast 10 mg perhari dikombinasikan dengan desloratadine 5 mg dua kali sehari.
Diskusi: Leukotriene adalah mediator lipid yang dapat meningkatkan vasopermeabilitas dan vasodilatasi pada kulit. Perbaikan gejala yang terjadi setelah pemberian terapi kombinasi montelukast dan desloratadine membuktikan keterlibatan leukotriene pada patogenesis kasus urtikaria akut pasien ini.
Kesimpulan: Terapi kombinasi montelukast dan desloratadine dapat bermanfaat pada beberapa kasus urtikaria akut. Studi lebih lanjut dengan kontrol yang cukup dapat dilakukan untuk menentukan efektivitas montelukast yang dikombinasikan dengan antihistamin untuk kasus urtikaria akut
Potensi Algoritma Berbasis Neural Network dan Turunannya sebagai Prediktor Kadar PM2,5 dan PM10
Pendahuluan: Polusi udara merupakan penyebab utama Penyakit Tidak Menular (PTM) di Asia Tenggara dan telah diidentifikasi sebagai masalah kesehatan global terbesar kedua pada tahun 2016. Strategi prediksi yang efektif sangat penting untuk mengurangi dampak buruknya. Studi ini secara sistematis meninjau penerapan algoritma berbasis Artificial Neural Network (ANN) dalam memprediksi konsentrasi polutan udara, khususnya PM2.5 dan PM10.
Metode: Tinjauan sistematis ini mengikuti pedoman PRISMA. Pencarian sistematis dilakukan pada 4 basis data untuk menemukan studi yang menerapkan model ANN dalam prediksi polusi udara dengan menggunakan data meteorologi dan/atau geografis sebagai input. Ekstraksi data difokuskan pada struktur model, akurasi prediksi, serta perbandingan dengan algoritma kecerdasan buatan lainnya. Model ANN dievaluasi berdasarkan kemampuannya menangani interaksi variabel non-linear yang kompleks, fleksibilitas pada berbagai dataset, dan kinerja prediktif dibandingkan metode lain.
Hasil: Algoritma berbasis ANN secara konsisten menunjukkan performa lebih baik dibandingkan model alternatif dalam memprediksi kadar PM2.5 dan PM10. Kemampuan ANN dalam pembelajaran adaptif serta integrasi berbagai input meningkatkan akurasi prediksi. Beberapa studi melaporkan adanya peningkatan lebih lanjut ketika ANN dikombinasikan dengan metode turunannya.
Simpulan: ANN merupakan alat yang andal dan akurat untuk memprediksi polusi udara serta mendukung kebijakan berbasis bukti dalam pencegahan dan pengelolaan lingkungan. Peran ANN dalam ilmu lingkungan menyoroti inovasi dalam pemodelan prediktif dan membuka peluang integrasi dengan teknologi berkelanjutan.Polusi udara menjadi penyebab terbesar penyakit Non-Communicable Disease (NCD) di Asia Tenggara dan terletak sebagai masalah global terbesar kedua pada tahun 2016. Oleh karena itu, salah satu upaya yang dapat dilakukan pemerintah untuk menangani polusi udara adalah dengan menggunakan algoritma berbasis Artificial Neural Network (ANN) untuk memprediksi kadar polusi udara sehingga mengurangi dampak dan mencegah perburukan dari polusi udara. Penggunaan ANN dengan input parameter meteorologi dan data geografis dapat memberikan hasil yang memuaskan dalam memprediksi kadar polusi udara terutama kadar PM2,5 and PM10. Dari studi perbandingan antara algoritma kecerdasan buatan, algoritma berbasis Neural Network (NN) ini dapat memberikan hasil lebih akurat dibandingkan dengan algoritma lainnya dalam memprediksi PM2,5 and PM10. Kombinasi penggunaan ANN menguntungkan disebabkan karena kelemahan dari algoritma ini dapat diatasi sehingga meningkatnya kapasitas prediksi. Penggunaan ANN dapat mengukur kadar PM2,5 dan PM10 secara akurat, sehingga berpotensi digunakan sebagai salah satu instrumen pertimbangan kebijakan pemerintah dalam pencegahan polusi udara
Hubungan antara kualitas tidur dan depresi pada remaja: studi cross sectional Indonesian Family Life Survey 5
Pendahuluan: Kesehatan mental saat ini menjadi isu yang menarik untuk diteliti khususnya di kalangan remaja. Aspek biologis dan psikososial seringkali menjadi faktor penyebab depresi pada remaja. Studi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kualitas tidur dan aktivitas fisik terhadap kejadian depresi pada remaja berdasarkan data sekunder Indonesian Family Life Survey (IFLS) 5.
Metode: Penelitian dengan design studi potong lintang menggunakan data sekunder IFLS-5 pada periode pengumpulan data tahun 2014 sampai 2015 yang melibatkan 3.580 remaja usia 14-19 tahun. Penilaian depresi menggunakan instrument Center for Epidemiological Studies Depression Scale (CESD-10) dengan kategori depresi apabila ditemukan skor lebih dari 10 poin. Variabel lain yang diukur meliputi karakteristik demografi (usia, tempat tinggal, jenis kelamin, tingkat pendidikan), aktivitas fisik, kualitas tidur dan indeks masa tubuh. Untuk melihat hubungan antara faktor risiko dengan kejadian depresi dilakukan analisis secara bivariat menggunakan Chi Square dan multivariat menggunakan regresi logistik.
Hasil: Mayoritas subjek penelitian adalah perempuan, tempat tinggal di urban, dan pendidikan SMA. Kejadian depresi pada remaja ditemukan sebesar 30,2%. Secara independen jenis kelamin perempuan, aktivitas fisik berat, serta kualitas tidur yang buruk (p<0,001) berkaitan dengan kejadian depresi pada remaja. Analisis multivariat menujukkan faktor kualitas tidur yang buruk meningkatkan kecenderungan 2,728 kali lebih tinggi untuk mengalami depresi. Sementara aktivitas fisik rendah meningkatkan 1,655 kali untuk terjadinya depresi pada remaja.
Simpulan: Angka kejadian depresi pada remaja mencapai 30,2%, memperbaiki pola hidup termasuk kualitas tidur dan aktivitas fisik menjadi faktor penting untuk mengurangi kecenderungan kejadian depresi pada remaja. Pentingnya intervensi berbasis pola tidur sehat dan peningkatan aktivitas fisik dalam upaya pencegahan depresi pada remaja.Pendahuluan: Kesehatan mental saat ini menjadi isu yang menarik untuk di teliti khususnya dikalangan remaja. Aspek psikososial seringkali menjadi faktor eksternal sebagai penyebab depresi pada remaja, namun belum banyak studi yang menjelaskan dalam ranah factor internal. Studi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kualitas tidur terhadap kejadian depresi pada remaja berdasarkan data sekunder Indonesian Family Life Survey 5.
Metode: Penelitian dengan design studi cross sectional menggunakan data sekunder Indonesian Family Life Survey wave 5 pada periode pengumpulan data tahun 2014 sampai 2015 yang melibatkan 3.580 remaja usia 14-19 tahun. Penilaian depresi menggunakan instrument Center for Epidemiological Studies Depression Scale (CESD-10) dengan kategori depresi apabila ditemukan skor lebih dari 10 poin. Variabel lain yang diukur meliputi karakteristik demografi (age, sex, education level), aktivitas fisik, kualitas tidur dan Indeks masa tubuh.
Hasil: Kejadian depresi pada remaja ditemukan sebesar 30.2%. Mayoritas remaja yang mengalami depresi adalah perempuan, termasuk memiliki aktivitas fisik yang tinggi, serta memiliki kualitas tidur yang buruk (p<0.001). Analisis multivariat menujukkan remaja dengan kualitas tidur yang buruk memiliki kecenderungan 2.7 kali lebih tinggi untuk mengalami depresi.
Simpulan: Tingginya angka kejadian depresi pada remaja mencapai 30.2%, memperbaiki pola hidup termasuk kualitas tidur menjadi factor penting untuk mengurangi kecenderungan kejadian depresi pada remaja
Kafein dan Asam Hialuronat Topikal Menurunkan Derajat Keparahan Melasma Pasien Melasma
Pendahuluan: Melasma merupakan kondisi yang ditandai dengan makula hiperpigmentasi dan dapat memengaruhi kualitas hidup. Baku emas pengobatan hiperpigmentasi kulit adalah hidrokuinon, namun banyak yang melaporkan efek samping dari penggunaan jangka panjang. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efek kafein dan asam hialuronat sebagai modalitas tambahan untuk meningkatkan efektivitas dan mengurangi efek samping krim hidrokuinon.
Metode: Penelitian ini adalah eksperimental murni dengan pretest-posttest control group design. Subjek adalah perempuan dewasa (20-40 tahun), menderita melasma, dan bekerja di RS Mitra Keluarga Bekasi selama rentang periode Januari sampai April 2024. Seluruh subjek kemudian dibagi menjadi 2 kelompok (n= 18), yaitu kelompok yang diberikan krim hidrokuion 2% dan plasebo (P1) dan kelompok yang diberikan krim hidrokuion 2%, kafein 3%, dan asam hialuronat 0.01% (P2). Sebelum (pretest) dan 8 minggu setelah perlakuan (posttest), derajat keparahan melasma diukur dengan Modified Melasma Area and Severity Index (m-MASI).
Hasil: Analisis efek perlakuan yang membandingkan nilai pretest dan posttest lebih lanjut membuktikan terjadi perubahan skor m-MASI yang signifikan pada kelompok P1 (p<0,05) dan P2 (p<0,05). Namun pada kelompok P2 memberikan hasil yang lebih baik daripada P1, dengan terjadinya penurunan skor m-MASI setelah perlakuan selama 8 minggu (p<0,05).
Simpulan: Terapi hidrokuinon 2% topikal selama 8 minggu saja menurunkan skor m-MASI pada pasien melasma, namun dengan penambahan asam hialuronat 0.01% dan kafein 3% lebih meningkatkan efektivitas terapi hidrokuinon 2% topikal pada pasien melasma terhadap skor m-MASI.Pendahuluan: Melasma adalah kelainan pigmentasi yang ditandai dengan makula hiperpigmentasi asimetris dan dapat mempengaruhi kualitas hidup. Gold standard pengobatan hiperpigmentasi kulit adalah hidrokuinon, namun sering menimbulkan efek samping. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji efek kafein dan asam hialuronat sebagai modalitas tambahan untuk meningkatkan efektivitas dan mengurangi efek samping krim hidrokuinon.
Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan pretest and posttest control group design. Subjek adalah wanita dewasa (20-40 tahun), menderita melasma, dan bekerja di RS Mitra Keluarga Bekasi selama rentang periode Januari sampai April 2024. Seluruh subjek kemudian dibagi menjadi 2 kelompok (n= 18), yaitu kelompok yang diberikan krim hidrokuion 2% dan plasebo (P1) dan kelompok yang diberikan krim hidrokuion 2%, kafein 3%, dan asam hialuronat 0.01% (P2). Sebelum (pretest) dan 8 minggu setelah perlakuan (posttest), derajat keparahan melasma diukur dengan Modified Melasma Area and Severity Index (m-MASI).
Hasil: Analisis efek perlakuan yang membandingkan nilai pretest dan posttest lebih lanjut membuktikan terjadi perubahan skor m-MASI yang signifikan pada kelompok P1 (p < 0,05) dan P2 (p<0,05). Namun pada kelompok P2 memberikan hasil yang lebih baik daripada P1, dengan terjadinya penurunan skor m-MASI setelah perlakuan selama 8 minggu (p < 0,05).
Simpulan: Terapi hidrokuinon 2% topikal selama 8 minggu saja menurunkan skor m-MASI dan MELASQOL pada pasien melasma, namun dengan penambahan asam hialuronat 0.01% dan kafein 3% lebih meningkatkan efektifitas terapi hidrokuinon 2% topikal pada pasien melasma terhadap skor m-MASI.
Kata Kunci: Melasma, hidrokuinon, asam hialuronat, kafein, m-MAS
Kesepian berhubungan dengan sindrom kerapuhan pada lansia
Pendahuluan: Sindrom kerapuhan merupakan sindrom geriatrik dengan karakteristik terjadinya penurunan performa fungsional, menurunnya berbagai sistem tubuh dan meningkatnya kerentanan terhadap stressor sehingga fungsi adaptasi dan kemampuan fungsional juga berkurang yang menyebabkan ketergantungan kepada orang lain. Kesepian merupakan masalah psikososial terbesar kedua pada lansia di Indonesia. Kesepian berdampak buruk bagi kesehatan seperti sindrom kerapuhan. Tujuan penelitian adalah menentukan hubungan kesepian dengan sindrom kerapuhan pada lansia.
Metode: Penelitian observasional analitik (potong lintang). Pengumpulan data dilaksanakan pada bulan Oktober sampai November 2023 di Panti Jompo Pusaka 41 Yayasan Al-Madiniyah, Cengkareng, Jakarta Barat, sebanyak 74 responden dipilih melalui consecutive non-random sampling dengan kriteria inklusi adalah laki-laki atau perempuan berusia minimal 60 tahun, mampu mendengar dan melihat dengan/tanpa alat bantu dan berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia. Kriteria eksklusi adalah lansia yang mengalami imobilisasi, disabilitas atau menderita stroke. Alat ukur menggunakan kuesioner Tilburg Frailty Indicator (TFI) untuk mengukur sindrom kerapuhan dan UCLA Loneliness scale version 3 untuk kesepian. Analisis statistik menggunakan uji Chi-square dan nilai kemaknaan p<0,05.
Hasil: Hasil penelitian menemukan bahwa sebanyak 68,9 % adalah lansia perempuan, 73 % berusia 60 – 74 tahun, 64,9 % lansia kesepian dan 62,1 % lansia dengan sindrom kerapuhan pada kategori rapuh dan pra-rapuh. Uji Chi-square menilai hubungan antara usia (p=0,02), jenis kelamin (p=0,04) dan kesepian (p<0,01) dengan sindrom kerapuhan pada lansia.
Simpulan: Usia, jenis kelamin dan kesepian berhubungan dengan sindrom kerapuhan pada lansia. Lansia penghuni panti dihimbau aktif berkegiatan sosial untuk meningkatkan kualitas hidup sehingga mencegah kesepian dan kerapuhan.Pendahuluan: Lansia di Indonesia meningkat dari 18 juta jiwa pada tahun 2010 menjadi 27 juta pada tahun 2020. Sindrom kerapuhan ditandai penurunan fungsi adaptasi dan fungsional tubuh memiliki dampak buruk pada kesehatan seperti kecacatan dan mortalitas. Kesepian merupakan masalah psikososial terbesar kedua pada lansia di Indonesia. Kesepian berdampak buruk bagi kesehatan seperti sindrom kerapuhan. Tujuan penelitian adalah menentukan hubungan kesepian dengan sindrom kerapuhan pada lansia.
Metode: Penelitian observasional analitik dengan pendekatan potong lintang. Pengumpulan data dilaksanakan pada bulan Oktober sampai November 2023 di Panti Jompo Pusaka 41 Yayasan Al-Madiniyah, Cengkareng, Jakarta Barat, sebanyak 74 responden dipilih melalui consecutive non-random sampling dengan kriteria inklusi adalah laki-laki atau perempuan berusia minimal 60 tahun, mampu mendengar dan melihat dengan/tanpa alat bantu dan berkomunikasi dengan Bahasa. Kriteria eksklusi adalah lansia yang mengalami imobilisasi atau disabilitas dan menderita stroke. Alat ukur menggunakan kuesioner Tilburg Frailty Indicator (TFI) untuk mengukur sindrom kerapuhan dan UCLA Loneliness scale version 3 untuk kesepian. Analisis statistik menggunakan uji Chi-square dan nilai kemaknaan p < 0,05.
Hasil: Hasil penelitian menemukan bahwa sebanyak 68,9 % lansia berjenis kelamin perempuan, 73 % berusia 60 – 74 tahun, 64,9 % lansia kesepian dan 62,1 % lansia yang frailty dan pre frailty. Uji Chi-square untuk menilai hubungan antara usia, jenis kelamin dan kesepian dengan sindrom kerapuhan pada lansia mendapatkan nilai kemaknaan masing-masing p=0,02; p=0,04; dan p<0,01.
Simpulan: Usia, jenis kelamin dan kesepian berhubungan dengan sindrom kerapuhan pada lansia
Faktor – Faktor yang Memengaruhi Kejadian Depresi pada Lansia Wanita dengan Pendidikan Rendah Berdasarkan Indonesian Family Life Survey 5
Pendahuluan: Depresi pada lansia menjadi kekhawatiran berbagai pihak karena berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan, dengan wanita lebih rentan mengalami depresi dan lebih banyaknya jumlah wanita yang berpendidikan rendah di Indonesia. Oleh karena itu, menyelidiki faktor-faktor yang berkontribusi terhadap depresi dapat membantu mencegah depresi pada generasi mendatang, serta penelitian di masa depan.
Metode: Penelitian potong lintang ini menggunakan data Indonesian Family Life Survey 5 untuk mengukur depresi pada wanita lanjut usia dengan status pendidikan rendah.
Hasil: Prevalensi depresi pada wanita lanjut usia dengan pendidikan rendah sebesar 21%. Pada regresi logistik multivariat, faktor-faktor yang berhubungan secara signifikan antara lain usia lansia muda (60-69 tahun) (p=0,012; OR=1,946; IK 95%=1,159-3,266), Instrumental Activity Daily Living (IADL) (p=0,003; OR=2,096; IK 95%=1,277-3,439), dan disabilitas fisik (p=0,037; OR=2,158; IK 95%=1,047-4,450).
Simpulan: Kejadian depresi pada lansia wanita dengan pendidikan rendah berkaitan dengan usia, disabilitas fisik, dan status fungsional (IADL).Pendahuluan: Depresi pada lansia menjadi kekhawatiran berbagai pihak karena berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan. Terlebih lagi, wanita rentan mengalami depresi. Di Indonesia sendiri, wanita lebih banyak yang memiliki pendidikan rendah. Sehingga, hal tersebut dapat memengaruhi pada kesehatan mental seseorang. Oleh karena itu, menyelidiki faktor-faktor yang berkontribusi terhadap depresi dapat membantu mencegah depresipada generasi mendatang, serta penelitian di masa depan. Metode: Penelitian potong lintang ini menggunakan data Indonesian Family Life Survey gelombang 5 untuk mengukur depresi pada wanita lanjut usia dengan status pendidikan rendah. Hasil: Prevalensi depresi pada wanita lanjut usiadengan pendidikan rendah sebesar 21%. Pada regresi logistik multivariat, faktor-faktor yang berhubungan secara signifikan antara lain Instrumental Activity Daily Living (IADL) (p= 0,006 dan OR= 0,496) dan disabilitas fisik (p= 0,045; OR= 0,221; 95% CI= 0,051- 0,965). Kesimpulan: Prediktoryang terkait dapat menciptakan kesadaran akan kemungkinan terjadinya depresi di kemudian hari. Oleh karena itu, kemampuan seseorang dalam melakukan Instrumental Activity Daily Living dan menyandang disabilitas fisik tidak boleh dianggap remeh untuk mencapai kualitas hidup yang lebihbaik pada wanita lanjut usia dengan status pendidikan rendah