Hayula: Indonesian Journal of Multidisciplinary Islamic Studies
Not a member yet
152 research outputs found
Sort by
Character Education Based on Minangkabau Local Wisdom
Character education is the most important thing in the personality of each individual. It is not only influenced by parents and education level, but character education can be influenced by the community environment, including local wisdom in an area. The purpose of this study was to determine the transformation of Islamic education in Minangkabau in relation to Islam and local culture. The research method used was a qualitative approach with ethnographic method, ethnography was used to see how the relationship between Islam and local culture in transforming the concept of Modern Islamic education in Minangkabau. The results showed that Minangkabau local traditional expressions provide guidance and advice so that they always have religious character, honesty, tolerance, responsibility and discipline, fairness, social care, courtesy, friendly and communicative, and high work ethic. Thus it can be stated that all the values of character education that arise from the messages of advice in Minangkabau traditional expressions are in accordance with the Shari'ah and are exemplified by the Prophet Muhammad SawPendidikan karakter merupakan hal terpenting dalam kepribadian setiap individu. Tidak hanya dipengaruhi oleh orang tua maupun jenjang pendidikan tetapi pendidikan karakter dapat dipengaruhi oleh lingkungan masyarakat termasuk kearifan lokal disuatu daerah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui transformasi pendidikan Islam di Minangkabau kaitanya dengan Islam dan budaya lokal. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan metode etnografi, etnografi digunakan untuk melihat bagaimana hubungan Islam dan Budaya lokal dalam mentranformasi konsep pendidikan Islam Modern yang ada di Minangkabau. Hasil Penelitian ini menunjukan bahwa ungkapan adat lokal Minangkabau memberikan bimbingan dan nasihat agar senantiasa memiliki karakter religius, jujur, tenggang rasa, tanggung jawab dan disiplin, adil, peduli sosial, santun, bersahabat dan komunikatif, serta etos kerja yang tinggi. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa seluruh nilai pendidikan karakter yang dimunculkan dari pesan-pesan nasihat dalam ungkapat adat Minangkabau sudah sesuai syari’at dan dicontohkan oleh Nabi Saw
Pembelajaran dengan Proyek: Mengembangkan Kemampuan Refleksi Diri dan Kolaborasi Mahasiswa Melalui Team-Based Project : research
This study aims to analyze the development of self-reflection and collaboration skills of students through the implementation of a team-based project model in learning for micro-teaching courses. The research was conducted at the State University of Jakarta, with the research subjects were 41 students. Data collection techniques through observation, documentation, interviews, and self-reflection questionnaires. The results showed that 72.1% of students always evaluate their performance and try to do better in teaching practice based on self-reflection results. The aspect that needs to be improved is speaking skills in front of the class (public speaking). Meanwhile, student collaboration skills have shown to be good, as indicated by the synergy in identifying, researching, analyzing, and formulating answers and solutions to the problems found and stated in the project report.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengembangan refleksi diri dan kemampuan kolaborasi mahasiswa melalui penerapan model team-based project dalam pembelajaran mata kuliah micro teaching. Penelitian dilaksanakan di Universitas Negeri Jakarta dengan subyek penelitian adalah 41 mahasiswa. Teknik pengumpulan data melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara, serta penggunaan kuesioner refleksi diri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan hasil refleksi diri, 72,1% mahasiswa selalu mengevaluasi performance dan berupaya lebih baik lagi dalam praktik mengajar. Adapun aspek yang perlu ditingkatkan yaitu keterampilan berbicara di depan kelas (public speaking). Sedangkan kemampuan kolaborasi mahasiswa sudah baik ditunjukkan dengan adanya sinergi dalam mengidentifikasi, meneliti, menganalisis, dan memformulasikan jawaban dan solusi dari masalah yang ditemukan serta dituangkan dalam laporan hasil proyek
Islam and State: A Study on Al-Mawardi and An-Nabhani’s thought and its Compatibility in Indonesian Context
Even though study concerning Islam and politics has been conducted by many researchers, few of them investigating about compatibility of Islamic political thoughts, which originated from the classical and medieval periods that have been influencing Islamic political movements and thoughts in Indonesia, with Indonesian context. Thoughts of Imam al-Mawardi (lived in the 12th Century) and Taqiyuddin al-Nabhani (lived in the 20th Century) are some of them that should be mentioned in this regard. Islamic political thoughts of al-Mawardi become the main reference for Sunni Muslims who are majority in Indonesia, while Islamic political thought of al-Nabhani become the main guidance of HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) movement of which its members and followers are many in Indonesia. This article investigates about the political thoughts of al-Mawardi and al-Nabhani concerning the relationship between Islam and state as well as their compatibility with Indonesian context. This study uses the library research in which its primary resources are books written by al-Mawardi entitled Al-Ahkam al-Sulthaniyah and al-Nabhani entitled Ad-Daulah al-Islamiyah. By utilizing qualitative content analysis, data were collected and analyzed. This article argues that the Islamic political thought of al-Mawardi has been adopted by majority of Indonesian Sunni Muslims with some adjustments with Indonesian context, so that his thoughts become compatible with the concept of modern nation-state of Indonesia. On the other side, Islamic political thought of al-Nabhani which developed within a spirit of resistance to Western (European) colonialism has been adopted and campaigned by HTI without adjustment with Indonesian context. This causes al-Nabhani’s thought clashes with the concept of modern nation-state of Indonesia.Meskipun studi tentang pemikiran politik Islam di Indonesia sudah banyak dilakukan, masih sangat sedikit penelitian tentang kompatibilitas pemikiran politik Islam, yang berasal dari periode klasik dan pertengahan yang selama ini mempengaruhi politik Islam di Indonesia, dengan konteks Indonesia. Pemikiran Imam Al-Mawardi (hidup di abad ke-12) dan Taqiyuddin al-Nabhani (hidup di abad ke-20) patut disebut dalam hal ini. Pemikiran politik Islam Al-Mawardi menjadi rujukan penganut Sunni dan madzhab Syafii yang di Indonesia merupakan mayoritas. Sedangkan pemikiran politik Islam al-Nabhani menjadi pedoman dari gerakan HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) yang pengikutnya tidak sedikit di Indonesia. Artikel ini menginvestigasi tentang pemikiran Imam Al-Mawardi dan Taqiyudin al-Nabhani terkait relasi agama (Islam) dan negara, perbedaan pemikiran mereka, dan kompatibilitas kedua pemikiran politik Islam tersebut di Indonesia. Studi ini menggunakan kajian pustaka yang mana sumber data primernya adalah kitab (buku) yang ditulis oleh kedua pemikir Islam tersebut yaitu Al-Ahkam al-Sulthaniyah karya Al-Mawardi dan Ad-Daulah al-Islamiyah karya al-Nabhani. Dengan menggunakan qualitative content analysis (analisis isi kualitatif) data dikumpulkan dan dianalisa. Artikel ini menyimpulkan bahwa pemikiran politik Al-Mawardi telah diadopsi oleh mayoritas kaum Sunni di Indonesia dengan adaptasi atau penyesuaian dengan konteks Indonesia, sehingga kompatibel dengan konsep negara modern Indonesia. Sedangkan pemikiran al-Nabhani, yang tumbuh dalam semangat perlawanan terhadap kolonialisme dan dominasi kebudayaan Barat (Eropa Barat), diadopsi dan dikampanyekan oleh gerakan HTI di Indonesia tanpa penyesuaian dengan konteks lokal. Hal ini menyebabkan pemikiran al-Nabhani mengalami benturan dengan konsep negara modern Indonesia
Relasi Agama dan Masyarakat: Studi Tentang Interaksi Masyarakat Bandung Barat dan Jamaah Tabligh: (Studi Tentang Interaksi Masyarakat Bandung Barat dan Jamaah Tabligh)
This research was motivated by the strengthening of the religious sentiment of the Jamaah Tabligh in West Bandung which led to rejection. However, this case had a positive impact on Jamaah Tabligh by increasing the number of their followers in West Bandung. This study uses a qualitative method with a phenomenology approach, the theory of Peter Ludwig Berger and Thomas Luckmann, Charles Young Glock and Rodney William Stark, and David G. Myers as the theory of analysis. The findings of this study include the first, the religious patterns of Jamaah Tabligh mutually influence each other between the dimensions of doctrine, teachings, rituals, appreciation and practice. Second, the social interactions that form between them are dialectical and associative. Third, their behavior is influenced by a motivational orientation and value orientation, so that the response of the people of West Bandung is divided into 3 (three) categories, namely: 1) a cultural sub-system that creates social rejection and prejudice, 2) a social sub-system that creates acceptance without involvement and 3) personality sub-system that gives rise to acceptance accompanied by involvement.Penelitian ini dilatarbelakangi dengan menguatnya sentimen keagamaan masyarakat terhadap Jamaah Tabligh di Bandung Barat yang berujung pada penolakan. Namun kasus tersebut berdampak positif bagi Jamaah Tabligh dengan meningkatnya jumlah pengikut mereka di Bandung Barat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, teori Peter Ludwig Berger dan Thomas Luckmann, Charles Young Glock dan Rodney William Stark, dan David G. Myers sebagai teori analisisnya. Temuan penelitian ini di antaranya pertama, pola keberagamaan Jamaah Tabligh secara mutualis saling mempengaruhi antara dimensi doktrin, ajaran, ritual, penghayatan dan pengamalan. Kedua, interaksi sosial yang terbentuk di antara keduanya terjalin secara dialektis dan asosiatif. Ketiga, perilaku meeka dipengaruhi oleh orientasi motivasional dan orientasi nilai, sehingga respon masyarakat Bandung Barat terbagi menjadi 3 (tiga) kategori, yaitu: 1) sub sistem budaya yang memunculkan penolakan dan prasangka sosial, 2) sub sistem sosial yang memunculkan penerimaan tanpa keterlibatan dan 3) sub sistem kepribadian yang memunculkan sikap penerimaan disertai keterlibatan
Education and the formation of Islam Nusantara: Epistemology, Direction and Sustainability
This paper examines the educational roles of UNUSIA (Indonesian Nahdlatul Ulama University) Jakarta in shaping and developing a highly debated term of Islam Nusantara (IN), which apparently remains in the process of becoming. In particular, this study attempts to understand the questions of how and to what extant UNUSIA through its Faculty of Islam Nusantara (FIN) tries to construct the historical facts of Indonesian Islam as what the so-called IN; to what direction the university makes some developments for the future of IN; and at last how it forms IN in sustainable existence. Through some observations of curriculum and learning programs of IN and in-depth interviews, this study analytically explores the anthropological, sociological and philological histories of Indonesian Islam conducted to formulate the moderate face of IN; it looks into the use of wider multidisciplinary studies for a new future direction of IN; and furthermore it studies some academic activities launched to sustain the state of IN nationally and globally. This study demonstrates that the FIN of UNUSIA, through its departments of Islamic Culture History and Islamic Civilization History, applies mainly the historical approaches to scrutinize and form the relationship between Islam and Indonesian culture as the main foundation of IN. Recent development shows that nationalism is as well placed as a crucial part of IN. For future development, IN is directed to deal with humanitarian issues like climate change, poverty, minority, disability, lands conflict, philanthropy, etc., and therefore it inevitably searches for wider multidisciplinary approaches. Lastly, broader research and worldwide academic cooperation conducted is to sustain IN leading to be the center of Islamic civilization in the globe.Makalah ini mengkaji peran pendidikan UNUSIA (Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia) Jakarta dalam membentuk dan mengembangkan istilah Islam Nusantara (IN) yang sangat diperdebatkan, yang tampaknya masih dalam proses menjadi. Secara khusus penelitian ini mencoba untuk memahami pertanyaan tentang bagaimana dan sampai sejauh mana UNUSIA melalui Fakultas Islam Nusantara (FIN) mencoba mengkonstruksi fakta sejarah Islam Indonesia yang disebut IN; ke arah mana universitas membuat beberapa perkembangan untuk masa depan IN; dan akhirnya bagaimana ia membentuk DI dalam keberadaan yang berkelanjutan. Melalui pengamatan terhadap kurikulum dan program pembelajaran IN serta wawancara mendalam, penelitian ini secara analitik mengeksplorasi sejarah antropologis, sosiologis, dan filologis Islam Indonesia yang dilakukan untuk merumuskan wajah moderat IN; itu melihat ke dalam penggunaan studi multidisiplin yang lebih luas untuk arah masa depan baru IN; dan selanjutnya mempelajari beberapa kegiatan akademik yang diluncurkan untuk menopang keadaan IN secara nasional dan global. Studi ini menunjukkan bahwa FIN UNUSIA, melalui jurusan Sejarah Kebudayaan Islam dan Sejarah Peradaban Islam, menerapkan pendekatan historis untuk mencermati dan membentuk hubungan antara Islam dan budaya Indonesia sebagai fondasi utama IN. Perkembangan terkini menunjukkan bahwa nasionalisme juga ditempatkan sebagai bagian penting dari IN. Untuk pembangunan di masa depan, IN diarahkan untuk menangani isu-isu kemanusiaan seperti perubahan iklim, kemiskinan, minoritas, disabilitas, konflik tanah, filantropi, dll, sehingga mau tidak mau mencari pendekatan multidisiplin yang lebih luas. Terakhir, penelitian yang lebih luas dan kerjasama akademik sedunia yang dilakukan adalah untuk menopang IN menuju pusat peradaban Islam di dunia
Pemberdayaan Santri melalui E-Farming Pesantren berbasis Internet of Think: Studi Kasus di Ecopesantren Ittifaq Bandung
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemberdayaan santri melalui E-Farming berbasis Internet Of Think, yang dilakukan di ecopesantren Ittifaq Bandung. Metodologi dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif Melalui pendekatan kualitatif, ditemukan beberapa hal; pertama, pondok pesantren ittifaq Bandung, adalah role model pemberdayaan santri e-Farming berbasis Internet Of Think (IOT), kedua, pemberdayaan santri dilakukan melalui langkah-langkah proses pemberdayaan, diawali pengumpulan data keadaan, analisis data keadaan, identifikasi masalah, pemilihan masalah yang dipecahkan, dan perumusan tujuan dari persoalan ecopesantren Ittifaq. Adapun pemberdayaan E-Farming santri berbasis Internet Of Think dilakukan melalui tiga tahapan pemberdayaan, yaitu: program pelatihan, kerjasama dan kelompok. ketiga, Model pemberdayaan E-farming santri berbasis Internet Of Think yang dilakukan pesantren Ittifaq diantaranya menggunakan model precision Farming, penggunaan unmanned Aerial Vehicle (UAV) dan Smart GreenHouse.This study aims to analyze the empowerment of students through the Internet Of Think-based E-Farming, which was conducted at the Ittifaq eco-Islamic boarding school in Bandung. The methodology in this study uses qualitative methods. Through a qualitative approach, several things were found; first, ittifaq Islamic boarding school Bandung, is a role model for empowering e-Farming students based on the Internet Of Think (IoT); second, empowerment of students is carried out through the steps of the empowerment process, starting with collecting state data, analyzing state data, identifying problems, selecting problems to solve. Solved, and formulation the objectives of the Ittifaq eco-Islamic boarding school problem. The empowerment of E-Farming students based on the Internet Of Think is carried out through three stages of empowerment: training programs, collaboration, and groups. Third, the Internet Of Think-based santri E-farming empowerment model carried out by the Ittifaq Islamic boarding school including using the precision farming model, the use of unmanned aerial vehicles (UAV), and Smart GreenHouse