Hayula: Indonesian Journal of Multidisciplinary Islamic Studies
Not a member yet
    152 research outputs found

    Typology of Compulsory Will Arrangements in Some Muslim Countries

    Full text link
    This paper intends to look at the arrangements related to the provisions in the distribution of inheritance in several Muslim countries and group mandatory wills into clusters. This research uses a literature study (Library Research) that explores data based on pre-existing data with a comparative juridical approach that will be a comparison of laws from one country to another. The findings in this study that there are similarities and differences in the provisions of mandatory wills in various Muslim countries. The similarity can be seen from the clusters formed, namely there are 4 clusters related to the division of the State based on mandatory will regulations. The first cluster is Indonesia and Kuwait, the second cluster is Malaysia, Egypt and Tunisia. While the third cluster is Syria, Jordan, Morocco, and Syria. Then finally the fourth cluster is Pakistan, Turkey, Iraq and Iran. The four clusters have similarities that can be seen through: 1) the Provisions for Mandatory Wills and 2) the amount of inheritance obtained. While the difference lies in several grouping criteria, namely: 1) based on Islamic Law applied by Muslim countries, 2) the category of Mandatory Wills, 3) the Presntase of Mandatory Will Distribution, and 4) the requirements for the validity of determining heirs and the division of inheritance. Tulisan ini bertujuan melihat pengaturan tentang ketentuan dalam pembagian waris di beberapa negara muslim dan mengelompokkan wasiat wajibah menjadi beberapa kluster. Penelitian ini menggunakan studi kepustakaan (Library Research) yang menggali data-data berdasarkan data yang sudah ada sebelumnya dengan pendekatan yuridis komparatif (comparative approach) yang akan menjadi pembanding hukum dari negara satu dengan lainnya. Temuan dalam penelitian ini mendeskripsikan dan mengidentifikasi persamaan dan perbedaan dalam ketentuan wasiat wajibah di berbagai negara muslim. Persamaan dilihat dari kluster yang dibentuk yaitu terdapat 4 kluster terkait pembagian negara berdasarkan regulasi wasiat wajibah. Kluster pertama yaitu Indonesia dan Kuwait. Kluster kedua yaitu Malaysia, Mesir dan Tunisia. Kluster ketiga yaitu Syria, Yordania, Maroko, dan Suriah. Kemudian terakhir kluster keempat yaitu Pakistan, Turki, Iraq dan Iran. Keempat kluster tersebut memiliki persamaan yang dapat dilihat melalui: 1) ketentuan penerima wasiat wajibah, dan 2) jumlah warisan yang didapatkan. Sedangkan perbedaan terletak kepada beberapa kriteria pengelompokan yaitu 1) berdasarkan hukum islam yang diterapkan negara muslim, 2) kategori penerima wasiat wajibah, 3) persentase pembagian wasiat wajibah, dan 4) persyaratan validitas penetapan ahli waris dan pembagian harta waris.&nbsp

    Subject & Author Index: Hayula Volume 7 No.1, 2023

    No full text

    Hybridization of Islamic Education and Neurosciences: A Study of Suyadi's Thought

    Full text link
      This study analyzes how Islamic education disciplines can be hybridized with neuroscience disciplines. This study employs a qualitative research methodology based on literature review. Data were gathered from a variety of books, periodicals, and other sources, and were then subjected to concept analysis. The results show that Suyadi thoughts on Islamic education and neuroscience can be hybridized. The hybridization then resulted in various new branches of science called Neurosains Pendidikan Islam (NPI). It is can answer the challenges and needs of exploring the human dimension in more detail, from molecular cellular to behavioral regulation and social science. In its implementation, educators and neurologists must make new findings to optimize the brain's working system by stimulating and exploring neuroanatomy and neurophysiology. Hybridization in the independent curriculum can be done by integrating and optimizing the brain's work Hybridization in the independent curriculum can be done by integrating and optimizing the brain's work. There are three dimensions of the brain, namely normal brain, healthy brain, intelligent brain, and character brain. Islamic education neuroscience examines the optimization of the brain's potential for students' intelligence.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tentang bagaimana disiplin ilmu pedidikan Islam dapat dihibridisasikan dengan disiplin ilmu neurosains. Desain penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif berdasarkan penelitian literatur. Berbagai bahan bacaan, majalah, dan referensi lain digunakan sebagai sumber data dan selanjutnya data tersebut di analisis dengan analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemikiran Suyadi mengenai pendidikan Islam dan neurosains dapat dikawinsilangkan (hibridisasi). Hibdridisasi tersebut kemudian menghasilkan varietas cabang ilmu baru yang disebut Neurosains Pendidikan Islam (NPI) diharapkan dapat menjawab tantangan serta kebutuhan untuk mendalami dimensi manusia lebih mendetail lagi sampai pada seluler molekuler hingga regulasi perilaku dan sosiosains. Proses hibridisasi dalam pendidikan membutuhkan kolaborasi antara guru dan neurolog untuk membuat temuan baru guna mengoptimalkan sistem kerja otak dengan menstimulus dan mengeksplorasikan neuroanatomi dan neurofisiologi. Hibridisasi dalam kurikulum merdeka dapat dilakukan dengan mengintegrasikan serta optimalisasi kerja otak melalui pembelajaran berbasis projek. Dimensi otak ada tiga yaitu otak normal, otak sehat, otak cerdas, dan otak karakter. Neurosains pendidikan Islam mengkaji tentang optimalisasi potensi otak untuk pencerdasan peserta didik

    The Contestation of Feminism and Religious Authority and Its Implication in Islamic Education

    No full text
    Feminism and religious authority are two conceptual frameworks that have been subjects of discussion in the field of Islamic education. Both concepts are an ongoing contestation due to difference of perspectives and practices within Muslim community. Feminism in one hand is a movement that advocates gender equity and criticizes the marginalization of women in society. It often questions the culture of patriarchy that limit women’s agency. On the other hand, religious authority is often described as male-dominated domain. This paper aims to elaborate how feminism challenges traditional and conservative religious authority and to what extent its implications towards Islamic education? These questions are answered through a library-based qualitative method. The finding shows that feminism challenges the dominance of male religious authority. Feminism emphasizes the need for Islamic educational institutions to implement egalitarian principles of Islam that place female and male equally and to promote women’s religious role, leadership and religious authority. This will contribute to rebuild a more egalitarian Islamic education that empower women and shape a more inclusive Muslim society.Feminisme dan otoritas keagamaan merupakan dua kerangka konseptual yang selama ini menjadi pokok bahasan dalam pendidikan Islam. Kedua konsep tersebut mengalami kontestasi yang berkelanjutan karena perbedaan perspektif dan praktek ditengah komunitas Muslim mengenai dua konsep tersebut. Feminisme disatu sisi adalah gerakan yang mengadvokasi kesetaraan gender dan mengkritisi marginalisasi perempuan dalam masyarakat. Feminisme seringkali mempertanyakan budaya patriarki yang membatasi agensi perempuan. Disisi lain, otoritas keagamaan seringkali digambarkan sebagai ranah yang didominasi laki-laki. Tulisan ini bertujuan mengelaborasi bagaimana feminisme menentang otoritas keagamaan (traditional dan konservative) dan sejauh mana implikasinya terhadap pendidikan Islam? Pertanyaan ini dijawab melalui metode kualitatif berbasis kajian pustaka. Temuan penelitian menunjukkan bahwa feminisme menantang dominasi laki-laki terkait otoritas keagamaan. Feminisme menekankan perlunya lembaga pendidikan Islam menerapkan prinsip egaliter dalam Islam yang menempatkan laki-laki setara dengan perempuan dan mempromosikan peran, kepemimpinan dan otoritas keagamaan perempuan. Temuan penelitian ini akan berkontribusi dalam membangun kembali pendidikan Islam yang lebih egaliter yang memberdayakan perempuan dan membentuk masyarakat Muslim yang lebih inklusif

    Subject & Author Index: Hayula Volume 7 No.2, 2023

    No full text

    Student Religious Literacy: A Study of Student Religious Book Preferences State Universities in Indonesia

    Full text link
    This study aims to describe and analyze: (1) preference for reading religious books; (2) religious literacy, factors that influence the preference for reading religious books, and (3) formulate recommendations for the development of religious books in State Public Universities. This research used the survey method and literature review. The population is students of State Public Universities in Java, who are Muslims, including: DKI Jakarta, Banten, West Java, Central Java, Yogyakarta Special Region, and East Java. Each province has two State Public Universities, except for Banten, with a sample of 560 respondents, with a distribution of 53-60 respondents. Data collection techniques using literature review. The results of the study: First, the preference for reading religious books is at a „medium“ level, due to a number of factors including: (1) time-consuming college assignments, (2) low motivation due to perceptions of religious issues as „personal rights“, (3) an Islamic Religious Education environment that is less „motivating“, „reinforcing“, (4) the availability of religious books is not suitable for students' needs, and (5) the academic climate is less conducive which limits freedom, the breadth of reading religious books. Second, religious literacy, the micro dimension, is in a moderate position, namely the preference for reading religious books „sufficiently“has a significant effect on the development of students' abilities. Research contributions: (1) provide a factual map of preference for religious/religious books in the millennial generation at public universities in the 2018-2022 range. (2) drafting policy, providing religious books for public higher education.Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan, dan menganalisis: (1) preferensi baca buku keagamaan; (2) literasi agama, faktor-faktor berpengaruh atas kecenderungan preferensi baca buku keagamaan, dan (3) menyusun rekomendasi pengembangan buku keagamaan Perguruan Tinggi Umum Negeri.  Penelitian menggunakan metoda survey dan literatur review. Populasi adalah mahasiswa Perguruan Tinggi Umum Negeri di Pulau Jawa, yang beragama Islam, meliputi: DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur.  Masing-masing provinsi ditetapkan dua Perguruan Tinggi Umum Negeri, kecuali Banten sampel 560 responden, dengan sebaran antara 53-60 responden. Teknik pengumpul data menggunakan literatur review. Hasil penelitian: Pertama, Preferensi baca buku keagamaan, berada pada tingkat “sedang”, disebabkan  sejumlah faktor diantaranya : (1) kesibukan tugas perkulihan yang menyita waktu, (2) motivasi rendah karena persepsi isu agama sebagai “personal rights”, (3) lingkungan Pendidikan Agama Islam yang kurang “motivating”,“reinforcing”, (4) ketersediaan buku keagamaan kurang sesuai dengan kebutuhan mahasiswa,dan  (5) kurang kondusifnya iklim akademik yang membatasi kebebasan, keluasan baca buku keagamaan. Kedua, Literasi agama, dimensi mikro, pada posisi sedang yakni preferensi baca buku agama “cukup” signifikan berpengaruh terhadap pengembangan kemampuan mahasiswa. Kontribusi penelitian: (1) menyediakan peta faktual preferensi buku agama/keagamaan  pada generasi milenial di Perguruan Tinggi Umum Negeri dalam rentang tahun 2018-2022.  (2) kebijakan  penyusunan, penyediaan buku keagamaan  Perguruan Tinggi Umum. Negeri

    Perubahan Pemahaman Mahasiswa Terhadap Makna Keimanan/ Kekafiran Ahli Kitab dengan Metode Tematik Digital Quran

    Full text link
      Muslim students view Ahli Kitab (followers of a non-Islamic religion) as kafir. As a result, they refuse non-Muslims to hold public positions because they are infidels. Whereas the Qur'an confirms that among the Ahli Kitab, some believe, are trustworthy, and are pious. The best solution is to develop a Quran-based Islamic Religious Education (PAI) learning model. The research aims to produce a digital Quran thematic learning model to understand the term Ahli Kitab in Al-Quran. Quasi R&D research method. Model testing at UNISBA and UPI. The themes discussed: the meaning of believing, the meaning of unbelievers, and the meaning of the People of the Book in the Al-Quran. The results of the study describes syntax model digital quran thematic and students' religious mindsets changed. At first, they associated faith and disbelief with religious identity. As for after college, they associate it with good and evil characters. According to the students, there are people of the Book who believe, but more are unbelievers. The implication is that the digital Quran thematic model is quite effective in changing the religious mindset of students.Mahasiswa Muslim memandang Ahli Kitab (pengikut agama non-Islam) sebagai kafir. Akibatnya, mereka menolak non-Muslim untuk menduduki jabatan publik karena mereka kafir. Padahal Al-Qur'an menegaskan bahwa di antara Ahli Kitab ada yang beriman, amanah, dan pelaku kebajikan. Solusi terbaik dengan mengembangkan model pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) berbasis Al-Quran. Penelitian bertujuan menghasilkan model pembelajaran tematik digital Quran untuk memahami istilah Ahli Kitab dalam Al-Quran. Metode penelitian kuasi R&D. Uji-coba model di UNISBA dan UPI. Tema-tema yang dibahas: makna beriman, kafir, dan Ahli Kitab dalam Al-Quran. Hasil penelitian, pola pikir keagamaan mahasiswa berubah. Sebelum kuliah, mereka mengaitkan keimanan dan kekafiran dengan identitas agama. Adapun setelah kuliah, mereka mengasosiasikannya dengan karakter baik dan buruk. Menurut mereka, di antara Ahli Kitab ada yang beriman, tetapi lebih banyak yang kafir. Implikasinya, model pembelajaran tematik digital Qur'an cukup efektif mengubah pola pikir keagamaan mahasiswa.&nbsp

    Alignment of Local Wisdom Values with Islamic Law in the Tradition of the Peta Kapanca Ceremony : Research

    Full text link
    This research aimed to examine the alignment of local wisdom values ​​with Islamic law in the tradition of the Peta kapanca ceremony in the Ambalawi sub-District. This study used a descriptive qualitative type with a phenomenological and sociological approach. The data collection method used observation, interviews, documentation, and a literature study. While the data analysis technique is descriptive and qualitative by reducing data, presenting data, and drawing conclusions. The results showed that the Peta kapanca  tradition at the wedding ceremony of the Bima tribal community in the Ambalawi sub-district contained local wisdom values ​​in the form of faith values, brotherhood values, mutual help values, and patient values. The values ​​of local wisdom in the Peta kapanca tradition align with Islamic law, namely, having values ​​that do not conflict with Islamic teachings. This made local wisdom in the Peta kapanca tradition and Islamic teachings valuable as instruments in developing Islamic da'wah teachings. In addition, socio-culturally as a bulwark against the modern era in the form of globalization and liberalization due to the influence of outside culture, which is starting to erode.   Keywords: Local culture, Islamic law, Peta kapanca, wedding  Penelitian ini bertujuan mengkaji keselarasan nilai-nilai kearifan lokal dengan hukum Islam pada tradisi upacara peta kapanca  di Kecamatan Ambalawi. Penelitian ini menggunakan jenis kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologi dan sosiologi. Adapun  metode pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi serta studi kepustakaan. Sedangkan teknik analisis data yaitu  deskriptif kualitatif dengan reduksi data, sajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi peta kapanca pada upacara pernikahan masyarakat suku Bima di kecamatan Ambalawi terdapat nilai-nilai kearifan lokal berupa nilai keimanan, persaudaraan, tolong-menolong, dan kesabaran. Nilai-nilai kearifan lokal  dalam tradisi peta kapanca selaras dengan hukum Islam yaitu memiliki nilai-nilai tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Hal ini menjadikan nilai kearifan lokal pada tradisi peta kapanca dan ajaran Islam sebagai instrumen dalam pengembangan ajaran dakwah agama Islam. Selain itu, secara sosial budaya sebagai benteng menghadapi era modern berupa globalisasi dan liberalisasi karena pengaruh budaya luar yang mulai terkikis.        Kata Kunci:  Budaya lokal, hukum Islam, peta kapanca, pernikaha

    The Contribution of Majelis Taklim Tastafi in Shaping the Spiritual Dimension of Langsa City Community

    Full text link
    This study aims to determine the contribution of the majelis taklim Tastafi in shaping the spiritual dimension of the Langsa City community. Participants in the study were 30 members of the majelis taklim Tastafi. The mixed-method approach is used to answer the problem; the quantitative type uses Pearson product-moment, and the qualitative type uses the descriptive-analytical method. The results of the research findings show there is a significant relationship between the activities of the majelis taklim Tastafi in shaping the spiritual dimension of the Langsa City community, indicated by the validity test of the Pearson product-moment correlation data on the activities of the majelis taklim Tastafi and the spiritual dimension, prayer fulfilment     fields 0.959, universality 0.954 and connectedness 0.937. The null hypothesis (H0) is rejected, and the alternative hypothesis (Ha) proposed is accepted; namely, there is a positive relationship and a very significant correlation between attending majlis taklim and the spiritual dimension variables. The higher the routine in attending the majelis taklim, the higher the spiritual dimension and vice versa; this is evidenced by the validity of the data with the results of all values ​​​​of the spiritual dimension on Sig ( 2-tailed) was 0.000 (p < 0.01). The formation of the spiritual dimension is seen in the practice of worship, belief, relationship with God and humans, and individual responsibilities in life.    Keywords: majelis, contribution, spiritualP Penelitian ini bertujuan ingin mengetahui kontribusi majelis taklim Tastafi dalam membentuk dimensi spiritual masyarakat Kota Langsa. Partisipan dalam penelitian sebanyak 30 orang jamaah majelis taklim Tastafi. Pendekatan mixed method digunakan untuk menjawab permasalahan, jenis kuantitatif menggunakan pearson product moment, selanjutnya jenis kualitatif menggunakan metode deskriptif analitis. Hasil temuan penelitian, terdapat hubungan yang signifikan antara kegiatan majelis taklim Tastafi dalam membentuk dimensi spiritual masyarakat Kota Langsa, ditunjukkan oleh uji validitas data korelasi pearson product moment pada kegiatan majelis taklim Tastafi dan dimensi spiritual, yaitu; bidang prayer fulfillment 0,959, universality 0,954 dan connectedness 0,937. Sehingga nilai dimensi spiritual lebih besar dibanding dengan nilai r tabel yaitu 0,463 pada taraf signifikan 1%, maka ada korelasi yang sangat signifikan antara semua dimensi spiritual dengan kegiatan majelis taklim. Adapun hipotesis null (H0) ditolak dan hipotesis alternatif (Ha) yang diajukan, diterima yaitu; terdapat hubungan positif dan korelasi yang sangat signifikan antara variabel mengikuti majelis taklim terhadap variabel dimensi spiritual, Semakin tinggi rutinitas dalam mengikuti majelis taklim maka berdampak semakin tinggi tingkat dimensi spiritual dan sebaliknya, hal ini dibuktikan dengan uji validitas data dengan hasil semua nilai dimensi spiritual pada Sig (2-tailed) adalah 0,000 (p < 0,01). Terbentuknya dimensi spiritual terlihat pada pengamalan ibadah, keyakinan, hubungan dengan Tuhan dan manusia dan tanggung jawab individu dalam kehidupan. Kata Kunci: majelis, kontribusi, spiritua

    The Empowerment and Guidance of Religious Life of the Community in Kanagarian Sungai Nyalo Mudiak Aia, Koto XI Tarusan, Pesisir Selatan

    Full text link
    maritime potential and requires commitment, multi-sectoral support that is developed in a planned, integrated and balanced manner. Tourism development must be able to mobilize all sectors of community life and need to be imbued with the basis of Minangkabau religious, social and cultural norms and must be directed to the preservation of religious and cultural values. The integration of tourism development issues in the Mandeh Region with issues of religious life development is intended so that development can develop in a positive and productive direction. Nyalo Mudiak Aia River. This research uses descriptive qualitative method. Data collection techniques were carried out using interviews, observation and documentation methods. Data analysis in this study used the analytical method by Milles and Huberman in Sugiono (2009:16) which included data reduction, data presentation and conclusion drawing. This study reveals that there are potential candidates for cadres to drive the religious life of the Nyalo Mudiak Aia River community with the community's interest in sending their children to religious schools and colleges. The participation of the government and universities is very strategic in realizing the continuity of good religious life, including in the form of providing facilities (enabling) and empowering in the form of mentoring the religious life of the community.Nagari Sungai Nyalo Mudiak Aia merupakan bagian dari Kawasan Mandeh yang memiliki potensi bahari yang kuat dan membutuhkan komitmen, dukungan multi sektor yang dikembangkan secara terencana, terpadu dan seimbang. Pembangunan  kepariwisataan  harus mampu menggerakkan semua sector kehidupan masyarakat dan perlu dijiwai dengan landasan norma agama, sosial dan budaya Minangkabau serta harus diarahkan kepada kelestarian nilai-nilai agama dan budaya. Pengintegrasian isu-isu pengembangan kepariwisataan di Kawasan Mandeh dengan isu-isu pembangunan kehidupan keagamaan dimaksudkan agar pembangunan tersebut bisa berkembang ke arah yang positif dan produktif.. Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan potensi kehidupan  keagamaan masyarakat, dan mendeskripsikan pola pemberdayaan dan pembinaan kehidupan kegamaan masyarakat di Sungai Nyalo Mudiak Aia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data dalam penelitian ini meng- gunakan metode analisis oleh Milles dan Huberman dalam Sugiono (2009:16) yang meliputi reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini mengungkapkan bahwa terdapat potensi calon kader penggerak kehidupan keagamaan masyarakat Sungai Nyalo Mudiak Aia dengan adanya minat masyarakat menyekolahkan anaknya pada sekolah dan perguruan tinggi keagamaan.  Peran serta pemerintah dan perguruan tinggi sangat strategis dalam mewujudkan keberlangsungan kehidupan keagamaan yang baik di antaranya dalam bentuk memberikan fasilitas (enabling) dan empowering berupa pendampingan kehidupan keagamaan masyarakat

    92

    full texts

    152

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Hayula: Indonesian Journal of Multidisciplinary Islamic Studies
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇