Hayula: Indonesian Journal of Multidisciplinary Islamic Studies
Not a member yet
152 research outputs found
Sort by
Kontribusi Bahasa Arab Dalam Proses Kemajuan Ilmu Pengetahuan Pada Abad XIII-XVIII Masehi
This research examines the contribution of Arabic to the advancement of science in the XIII-XVIII centuries AD. This era was marked by the spread of Islam, which influenced civilization, including the mastery and development of science. However, research on the specific role of Arabic in knowledge transfer and innovation is still limited. Using a descriptive qualitative approach based on philology, this study analyzes primary sources such as The Holy Quran and hadith and scientific works in Arabic, such as Ahmad Syafiq Al-Khatib’s A new Dictionary of Scientific and Technical Terms. Results show that Arabic served as an important medium in translating, developing and disseminating knowledge in various fields, including medicine, philosophy, mathematics and geography. Arabic supported the interaction between civilizations and drove Europe’s intellectual transformation during the Renaissance. Therefore, Arabic facilitated the transfer of knowledge and enriched global civilization with its intellectual contributions.
Perkembangan ilmu pengetahuan semakin meningkat sejak Islam masuk. Sebelum Islam masuk, beberapa negara mengalami masa kegelapan. Hal itu membuat warganya menderita kemiskinan. Setelah itu, situasi dan kondisi di zaman kegelapan berubah. Hal ini memberikan suasana baru bahwa semua bidang ilmu pengetahuan sedang berkembang. Oleh karena itu, penelitian ini mengkaji kontribusi bahasa Arab dalam proses kemajuan ilmu pengetahuan. Penulis mencoba menganalisis perkembangan berbagai bidang setelah Islam masuk. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pembahasan naratif-deskriptif. Selain itu, penulis hanya menggunakan data sekunder berupa buku, jurnal, artikel, dan beberapa wawancara dengan warga setempat. Penulis mengkaji bagaimana bahasa Arab dapat mempengaruhi dan memberikan pandangan dan pengetahuan baru dalam berbagai bidang. Oleh karena itu, penelitian ini mengungkapkan bahwa beberapa akademisi dan ilmuwan menggunakan Al-Qur'an sebagai dasar penelitian mereka. Al-Qur’an menyediakan apa saja yang mereka minta seperti matematika, seni, ilmu hewan, dll. Bahasa Arab telah memberikan kontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Proses ini dapat terwujud sepenuhnya apabila ketangkasan dan keaktifan penutur bahasa Arab dalam dunia ilmu pengetahuan mendapat perhatian sebaik-baiknya, baik melalui penerjemahan maupun hasil penelitian
Nilai Moderasi Beragama Dalam Wasiat Wajibah Kepada Non- Muslim Melalui Penerapan Maqasid Syari’ah
This research examined decision number 263/P.Dt.G/2007/Pta.Sby to identify the values of religious moderation implemented by the judge. This research aims to find out and analyze the values of religious moderation in the granting of mandatory wills to non-Muslims through the application of maqasid al-syari'ah in decision number 263/P.Dt.G/2007/Pta.Sby. The source of information regarding this matter is decision number 263/p.dt.g/2007/pta.sby. The decision was analyzed using content analysis. The steps taken are collecting data, organizing it, presenting it in writing, and drawing conclusions. The research findings show that the value of religious moderation implemented by religious court judges in the decision above, have a positive impact includes: maintaining peace and stability in the family environment, promoting peace and prosperity in society, ensuring the protection of property, providing protection for religious interests, protecting the existence of family harmony, and ensuring social justice in the community, and reflecting the flexibility of Islamic teachings.Pengadilan agama merupakan lembaga peradilan yang didirikan pemerintah untuk mengatasi permasalahan umat Islam di Indonesia. Dalam praktiknya, terdapat putusan-putusan yang menunjukkan bahwa hakim agama prihatin terhadap non-muslim, meskipun mereka tidak menggunakan kata-kata moderasi dalam keputusan mereka. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis nilai-nilai moderasi beragama dalam pemberian wasiat wajibah kepada non- muslim melalui penerapan maqasid al-syari’ah dalam putusan nomor 263/P.Dt.G/2007/Pta.Sby. Sumber informasi mengenai hal ini adalah putusan nomor 263/p.dt.g/2007/pta.sby. Keputusan tersebut dianalisis menggunakan analisis isi. Langkah-langkah yang dilakukan adalah mengumpulkan data, mengorganisasikannya, menyajikannya secara tertulis, dan menarik kesimpulan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa nilai moderasi beragama yang diimplementasikan oleh hakim pengadilan agama pada putusan tersebut diatas meliputi: menjaga kedamaian dan stabilitas dalam lingkungan keluarga, mempromosikan kedamaian dan kesejahteraan dalam masyarakat, menjamin perlindungan harta benda , Mamberikan perlindungan terhadap kepentingan agama, melindungi existansi keharmonisan keluarga, dan menjamin keadilan sosial di tengah masyarakat, serta merefleksikan fleksibilitas ( kelenturan ) ajaran Islam
The Mbolo Weki Tradition as Local Wisdom in the Hadith Perspective: A Socio-Cultural Study of the Bima People, Indonesia
Local traditions within Muslim communities reflect the internalization of Islamic values in social life. This study examines the Mbolo Weki tradition in Bolo District, Bima Regency, as well as the understanding of prophetic traditions (ḥadīth) related to the values embodied in this practice. Using a qualitative approach with ḥadīth, socio-cultural, and historical perspectives, data were collected through observation, interviews, documentation, and studying classical Islamic texts. Informants included religious leaders, traditional elders, village officials, and community members. The findings indicate that Mbolo Weki, a tradition of cooperation during wedding celebrations, aligns with Islamic values such as consultation (shūrā) and mutual assistance. Although its practice has become more simplified and collective participation has declined, core values like solidarity and kinship remain preserved. This tradition represents a form of local wisdom that reflects the teachings of Prophet Muhammad (peace be upon him) and strengthens social cohesion within the Muslim community of Bima.Tradisi lokal dalam komunitas Muslim mencerminkan internalisasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan sosial. Penelitian ini mengkaji tradisi Mbolo Weki di Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima, serta pemahaman terhadap hadis-hadis yang terkait dengan nilai-nilai dalam tradisi tersebut. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan perspektif hadis, sosial-budaya, dan historis, data diperoleh melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi literatur klasik. Informan meliputi tokoh agama, adat, pemerintah desa, dan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mbolo Weki, tradisi gotong royong dalam hajatan pernikahan, sejalan dengan nilai-nilai Islam seperti musyawarah (shūrā) dan tolong-menolong. Walau praktiknya kini mengalami penyederhanaan dan penurunan partisipasi, nilai-nilai inti seperti solidaritas dan kekeluargaan tetap bertahan. Tradisi ini menjadi bentuk kearifan lokal yang merefleksikan ajaran Nabi Muhammad saw., sekaligus memperkuat kohesi sosial masyarakat Muslim di Bima
SIRKULASI KITAB AL-TUHFAH AL-MURSALAH ILA RUH AL-NABI: Studi Translokalitas dan Dampaknya terhadap Masyarakat Muslim Aceh
This article examines the circulation, transnationality, and contribution of Tuhfah al-Mursalah in Aceh, which played a significant role in the development of Sufism and the Islamization of Indonesia in the 17th century. This research adopts a descriptive-analytical library research method with a qualitative approach. This approach was chosen to explore the dissemination and contribution of Tuhfah al-Mursalah to the advancement of Muslims and intellectual and spiritual development in Indonesia. Indirectly, this research also uses a historical study approach. The findings in this study indicate that the teachings of the seven grades of being (martabat tujuh) have been known by Syamsuddin al-Sumtrani and the Acehnese since the year 1601. Historical indications show that the work has played a significant role in shaping the tradition of Sufism in the archipelago. The process of adaptation and contextualization of Tuhfah al-Mursalah in Aceh shows complex translocal dynamics. The existence of Sufism teachings simultaneously contributed to the emergence of local traditions, such as “adat bak po teumeureuhom, hukom bak syiah kuala” showing the relationship between adat and sharia law. This phrase shows how the Acehnese were able to combine local traditions with the Islamic faith, so that adat and Islamic law were considered as two sides of the same coin, rather than two different things. This process involved linguistic and cultural translation, in which the ideas of the book were adapted to local understandings and contexts. Acehnese scholars also reinterpreted its contents using terms and analogies relevant to local traditions and culture. The presence and teachings of the book also drew comments and criticism from several scholars. Nuruddin ar-Raniri was the most vocal critic of the book's teachings. He considered the teachings of Martabat Tujuh al-Sumatrani as heretical and heterodox.Artikel ini mengkaji peredaran, transnasionalitas, dan kontribusi Tuhfah al-Mursalah di Aceh yang memainkan peran penting dalam perkembangan tasawuf dan Islamisasi Indonesia pada abad ke-17. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan yang bersifat deskriptif analitis dengan pendekatan kualitatif. Pendekatan ini dipilih untuk mengeksplorasi penyebaran dan kontribusi Tuhfah al-Mursalah terhadap kemajuan umat Islam dan perkembangan intelektual dan spiritual di Indonesia. Secara tidak langsung, penelitian ini juga menggunakan pendekatan studi historis. Temuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa ajaran Martabat Tujuh telah dikenal oleh Syamsuddin al-Sumtra'i dan masyarakat Aceh sejak tahun 1601. Indikasi historis menunjukkan bahwa karya tersebut telah memainkan peran penting dalam membentuk tradisi tasawuf di Nusantara. Proses adaptasi dan kontekstualisasi al-Tuhfah al-Mursalah di Aceh menunjukkan dinamika translokal yang kompleks. Proses ini melibatkan penerjemahan bahasa dan budaya, di mana ide-ide kitab tersebut diadaptasi ke dalam pemahaman dan konteks lokal. Para ulama Aceh juga menafsirkan ulang isinya dengan menggunakan istilah-istilah dan analogi yang relevan dengan tradisi dan budaya lokal. Kehadiran dan ajaran kitab ini juga menuai komentar dan kritik dari beberapa ulama. Nuruddin ar-Raniri adalah pengkritik yang paling vokal terhadap ajaran kitab ini. Ia menganggap ajaran Martabat Tujuh al-Sumatra'i sebagai ajaran yang sesat dan heterodoks. Sultan Iskandar Tsani secara geopolitik mendukung sikap ar-Raniri yang menentang ajaran dan penganut wujudiyyah. Pengikut Hamzah Fansuri dan al-Sumatra'i, yang mendukungnya, menjadi sasaran kekerasan kerajaan. Selain itu, karya-karya mistik Hamzah Fansuri dikumpulkan dan dibakar di depan Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh karena dianggap merusak akidah umat Islam
Etos Kerja Islam: Studi Komparatif pada Karyawan Generasi Y dan Generasi Z
Indonesia's Muslim fashion industry is growing rapidly, and the development of its organizational system based on Islamic values and ethics has been a basic guideline for organizational activities. However, the meaning of Islamic work ethics, which is the basis for employees to carry out every activity and influence employees' commitment, participation, and performance, may be different for employees belonging to Generation Z or employees belonging to Generation Y. Employees belonging to Generation Z are known as the instant generation and digital natives. Generation Y employees are known for their focus on personal and individualistic values. This can certainly show behavior with different meanings of Islamic work ethic. This research was conducted on 278 employees from companies that apply Islamic work culture using a quantitative descriptive method and convenience sampling. The data was collected online through Google Form and descriptive analysis was carried out to see the differences in Islamic Work Ethic between Generation Y and Generation Z. The results showed that there is no difference in the Islamic Work Ethic displayed by the employees despite being from different generations. However, there are differences in behavior and understanding of work ethics that can be used as a basis for companies to improve the work ethics of their employees.Industri Fesyen Muslim Indonesia berkembang pesat dan mengembangkan sistem organisasinya yang dilandasi nilai-nilai dan etika Islam telah banyak menjadi pedoman dasar kegiatan organisasi. Namun, makna etos kerja Islami yang menjadi dasar karyawan dalam menjalankan setiap aktivitas dan mempengaruhi keterlibatan karyawan dalam pekerjaan, partisipasi serta kinerja dapat berbeda bagi karyawan yang termasuk generasi Z atau karyawan generasi Y. Karyawan pada Generasi Z dikenal sebagai generasi instan dan digital native. Sedangkan karyawan generasi Y dikenal karena kepeduliannya terhadap nilai-nilai personal dan individualistis. Hal ini tentunya dapat menampilkan perilaku dengan makna Etos Kerja Islami yang berbeda. Penelitian ini dilakukan terhadap 278 karyawan yang berasal dari perusahaan yang menerapkan budaya kerja Islami dengan menggunakan metode deskriptif kuantitatif dan convenience sampling. Data responden dikumpulkan secara online melalui google form dan dilakukan analisis deskriptif untuk melihat perbedaan etos kerja Islam pada generasi Y dan generasi Z. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan etos kerja Islami yang ditunjukkan oleh karyawan meskipun berasal dari generasi yang berbeda. Namun, terdapat perbedaan perilaku dan pemahaman etika kerja itu sendiri yang dapat dijadikan dasar bagi perusahaan dalam meningkatkan etika kerja karyawannya
The Dynamics of Islamic Law in Times of Crisis: Nigerian Muslims' Perceptions of Socially Distanced Ṣalāh During the Pandemic
This article examines the ethical dilemmas faced by Muslim communities in making Islamic legal (ijtihād) decisions during the COVID-19 pandemic, particularly regarding the suspension of congregational prayers to protect physical health. Focusing on the Muslim community in Nigeria, the study highlights how believers opted to postpone communal worship in mosques to preserve life while continuing individual prayers at home. Using a qualitative approach through literature review, fatwā analysis, and sociological data, the article demonstrates that the protection of life (ḥifẓ al-nafs)—a core objective in maqāṣid al-sharī‘ah—served as the religious justification for prioritizing public health. The findings reveal that Islamic legal ethics are adaptive and contextual, allowing jurisprudential flexibility in times of crisis. The article’s scholarly contribution lies in integrating maqāṣid al-sharī‘ah and Islamic legal ethics with public health principles while offering a sociological perspective on religious behavior during emergencies. It also enriches global discourse on faith-based responses to the pandemic beyond the Middle East and Southeast Asia.
Artikel ini mengkaji dilema etika dalam pengambilan keputusan hukum Islam (ijtihad) selama pandemi COVID-19, dengan menyoroti pembatasan salat berjamaah demi menjaga kesehatan. Studi ini berfokus pada komunitas Muslim di Nigeria yang memilih menunda salat berjamaah demi melindungi jiwa, sembari tetap beribadah secara mandiri di rumah. Dengan pendekatan kualitatif melalui studi kepustakaan, analisis fatwa, dan data sosiologis, artikel ini menemukan bahwa prinsip perlindungan jiwa (ḥifẓ al-nafs) dalam maqāṣid al-syarī‘ah menjadi dasar legitimasi keputusan keagamaan di masa krisis. Temuan menunjukkan bahwa etika berhukum Islam bersifat adaptif dan kontekstual, serta memungkinkan pembacaan hukum yang selaras dengan prinsip kesehatan publik. Kontribusi ilmiah artikel ini terletak pada integrasi maqāṣid al-syarī‘ah dengan prinsip kesehatan masyarakat serta penyajian perspektif sosiologis atas respons keagamaan. Kajian ini memperkaya wacana global terkait respons komunitas Muslim di luar kawasan Timur Tengah dan Asia Tenggara terhadap pandemi
The Role of Islamic Mass Organizations In The History Of Cultural In South Sulawesi (1905-1998)
This article explores the role of Islamic mass organizations in the historical development of Islam in South Sulawesi, Indonesia, from 1905 to 1998. The study examines how these organizations shaped the region's religious life and socio-cultural transformation. This study uses a qualitative literature review approach to analyze historical documents, scholarly publications, and organizational archives related to key Islamic organizations. The findings reveal that the emergence of Islamic mass organizations was strongly influenced by growing sentiments of patriotism and nationalism during the colonial and post-colonial periods. These organizations Sarekat Islam, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, and Wahdah Islamiyah—significantly promoted religious awareness, fostered community development, and strengthened social cohesion in South Sulawesi. Each organization followed distinct strategies based on its doctrinal orientation and cultural context, yet all contributed to increasing public engagement with Islamic teachings. This study highlights the crucial role of Islamic civil society in shaping regional religious identity and socio-political dynamics in Indonesia.
Abstrak
Artikel ini membahas peran organisasi masyarakat (ormas) Islam dalam sejarah perkembangan Islam di Sulawesi Selatan, Indonesia, pada rentang waktu 1905 hingga 1998. Tujuan kajian ini adalah untuk mengidentifikasi kontribusi ormas Islam dalam membentuk kehidupan keagamaan dan dinamika sosial budaya di wilayah tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode tinjauan pustaka (literature review), melalui analisis terhadap dokumen sejarah, publikasi ilmiah, dan arsip organisasi terkait. Hasil kajian menunjukkan bahwa kemunculan ormas Islam didorong oleh semangat patriotisme dan nasionalisme yang berkembang pada masa kolonial dan pascakolonial. Organisasi seperti Sarekat Islam, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan Wahdah Islamiyah memainkan peran penting dalam meningkatkan kesadaran beragama, memperkuat pembangunan masyarakat, serta mendorong kohesi sosial di Sulawesi Selatan. Masing-masing ormas memiliki strategi perjuangan yang berbeda sesuai dengan orientasi ideologis dan konteks budaya yang dihadapi, namun secara umum berkontribusi terhadap peningkatan keterlibatan masyarakat dalam ajaran Islam. Kajian ini menegaskan pentingnya peran masyarakat sipil Islam dalam membentuk identitas keagamaan dan dinamika sosial di tingkat lokal
An Analysis of Azyumardi Azra’s Thought on Islamic Identity in the Era of Globalization
This study aims to analyze Azyumardi Azra’s thoughts on Islamic identity in the context of globalization. It employs a qualitative method using the Islamic thought approach through literature review and thematic analysis. Azra views globalization as both a challenge and an opportunity for Muslims, especially in Indonesia, to develop a religious identity that is adaptive to contemporary changes. Through the concept of Islam Nusantara, Azra emphasizes the indigenization of Islam by integrating religious values with local cultural traditions, resulting in a moderate, inclusive, and tolerant form of Islam. Muslim identity in Indonesia is shaped by the dynamic interaction between Islamic teachings and the country’s socio-cultural realities. This study also connects Azra’s ideas with the perspectives of other thinkers such as Clifford Geertz, Robert W. Hefner, and Nurcholis Madjid to enrich the understanding of contextual Muslim identity. The findings affirm that Islamic identity is dynamic and continues to evolve through dialogue between religious tradition and the demands of a globalized world.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemikiran Azyumardi Azra mengenai identitas Islam dalam konteks globalisasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kajian pemikiran Islam melalui studi literatur dan analisis tematik. Azra memandang globalisasi sebagai tantangan sekaligus peluang bagi umat Islam, khususnya di Indonesia, untuk membentuk identitas keagamaan yang adaptif terhadap perubahan zaman. Melalui konsep Islam Nusantara, Azra menekankan pentingnya proses indigenisasi Islam yang bersinergi dengan budaya lokal, sehingga menghasilkan bentuk keberislaman yang moderat, inklusif, dan toleran. Identitas Muslim Indonesia dibentuk melalui interaksi dinamis antara ajaran Islam dan realitas sosial-budaya masyarakat. Studi ini juga mengaitkan pemikiran Azra dengan pandangan tokoh lain seperti Clifford Geertz, Robert W. Hefner, dan Nurcholis Madjid untuk memperkuat perspektif tentang identitas Muslim yang kontekstual. Hasil penelitian menegaskan bahwa identitas Islam bersifat dinamis dan terus berkembang melalui dialog antara tradisi keislaman dan tuntutan zaman