Hayula: Indonesian Journal of Multidisciplinary Islamic Studies
Not a member yet
152 research outputs found
Sort by
Developing Critical Thinking Indicators and Research Trends in Islamic Religious Education with VOSviewer
This research aims to develop indicators of students' critical thinking and find the state of the art by using Vos Viewer. One way to develop critical thinking indicators is through research. The teacher's job besides teaching is to conduct research. Research is said to be good if it finds elements of new findings so that it has a contribution both to science and to life. One of the difficulties in research is finding novelty, nowadays with the Vos Viewer application it is easy to find the novelty of a research variable, such as the critical thinking variable. The research subject is students in Islamic educational institutions. The object or focus of the research is to develop indicators of students' critical thinking in learning Islamic religious education. In addition, the research aims to analyze the opportunities and development of research trends related to critical thinking in Islamic learning. This research is important as a way to help Islamic religious education teachers develop critical thinking indicators as an effort to familiarize students with reading literacy and numeracy in accordance with the demands of the independent curriculum. The method used is bibliometric by collecting article data from 2018-2022 through Google Scholar and Scopus sites with Publish or Perish software for 1,000 journals. The results of the study describe that critical thinking indicators can be developed through familiarizing students with analyzing, evaluating, and analyzing.
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan indikator berfikir kritis siswa dan menemukan state of the art dengan menggunakan Vos Viewer. Salah satu cara untuk mengembangkan indikator berfikir kritis melalui sebuah penelitian. Tugas guru selain mengajar adalah melakukan penelitian. Penelitian dikatakan baik jika menemukan unsur temuan baru sehingga memiliki kontribusi baik bagi keilmuan maupun bagi kehidupan. Salah satu kesulitan dalam penelitian adalah menemukan novelti, saat ini dengan aplikasi Vos Viewer maka dengan mudah menemukan kebaruan dari sebuah variabel penelitian, seperti variabel berfikir kritis. Subyek penelitian siswa pada lembaga pendidikan Islam. Obyek atau fokus penelitian adalah mengembangkan indikator berfikir kritis siswa pada pembelajaran pendidikan agama Islam. Selain itu penelitian bertujuan menganalisis peluang dan perkembangan tren penelitian terkait critical thinking dalam pembelajaran agama Islam. Penelitian ini penting sebagai satu cara untuk membantu guru-guru pendidikan agama Islam mengembangkan indikator berfikir kritis sebagai upaya membiasakan siswa mengimplementasikan literasi membaca dan numerasi sesuai dengan tuntutan kurikulum merdeka. Metode yang digunakan bibliometrik dengan pengumpulan data artikel dari tahun 2018-2022 melalui situs Google Scholar dan Scopus dengan software Publish or Perish 1.000 jurnal. Hasil penelitian mendeskripsikan bahwa indikator berfikir kritis dapat dikembangkan melalui membiasakan siswa menganalisis, mengevaluasi dan mencipta. Hasil penelitian dengan aplikasi Publish or Perish (PoP) menetapkan berfikir kritis dan keterkaitangnya dengan pendidikan agama Islam belum banyak yang meneliti.
 
Meaning and Relevance of Social Piety in Muslim Societies
It can be observed that the advancement of comprehension within specific communities often serves to illuminate the presence and significance of religious belief systems. This is evidenced by the presence of formal storefronts and religious rituals. Conversely, there is less appreciation for the application of universal religious teachings in the social context of community life. This prompted researchers to embark on a study. This research draws upon the texts of piety in the Qur'an, which are mentioned in various forms. In the form of nouns (isim), lafadz al-shālihāt, lafadz al-shālihūn/al-shālihīn, and lafadz shālihan. In addition, the verb form (fi'l) is derived from the root words shaluha and aslaha. This study employs a qualitative analysis approach, with content analysis used to examine the texts. These are descriptive and verbalistic in nature, drawn from the Qur'an and Hadith. To elaborate on the data, the author employs a variety of approaches, including philosophical, semantic, and sociological. The research findings present an exploration of the meaning of the matan, or content, of the verses of social piety, demonstrating the cohesion of the concept of piety as an expression of social awareness.Dapat diamati bahwa kemajuan pemahaman dalam komunitas tertentu sering kali berfungsi untuk menerangi keberadaan dan pentingnya sistem kepercayaan agama. Hal ini dibuktikan dengan adanya etalase-etalase formal dan ritual-ritual keagamaan. Sebaliknya, apresiasi terhadap penerapan ajaran agama yang bersifat universal dalam konteks sosial kehidupan masyarakat masih kurang. Hal ini mendorong peneliti untuk melakukan penelitian. Penelitian ini mengacu pada teks-teks kesalehan dalam Al-Qur'an yang disebutkan dalam berbagai bentuk. Dalam bentuk kata benda (isim), lafadz al-shālihāt, lafadz al-shālihūn/al-shālihīn, dan lafadz shālihan. Selain itu, bentuk kata kerja (fi'l) berasal dari akar kata shaluha dan aslaha. Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis kualitatif, dengan analisis isi yang digunakan untuk memeriksa teks-teks tersebut. Teks-teks tersebut bersifat deskriptif dan verbalistik, yang diambil dari Al-Qur'an dan Hadits. Untuk menguraikan data, penulis menggunakan berbagai pendekatan, termasuk pendekatan filosofis, semantik, dan sosiologis. Temuan penelitian ini menyajikan eksplorasi makna matan, atau isi, dari ayat-ayat kesalehan sosial, yang menunjukkan keterpaduan konsep kesalehan sebagai ekspresi kesadaran sosial.
English
This study examines underage marriage in Kabupaten Paser, East Kalimantan, Indonesia, driven by socio-economic, educational, and cultural factors. Despite Marriage Law No. 16 of 2019, underage marriages persist due to low education, economic hardship, and cultural norms. Using a qualitative approach, including observations, interviews, and document analysis, this research identifies the negative impacts on health, education, and psychological well-being, perpetuating poverty and social instability. Jasser Auda’s Maqasid Syari’ah framework, emphasizing flexibility and holistic welfare, provides a comprehensive solution. The study recommends stricter enforcement of marriage age laws, educational initiatives to promote awareness, economic support to alleviate financial pressures, and community engagement to change cultural norms. Enhancing health and social services is crucial. Integrating Maqasid Syari’ah with contemporary legal and social frameworks offers a robust approach to addressing underage marriage and promoting a just and supportive society.Penelitian ini mengkaji pernikahan di bawah umur di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, Indonesia, yang didorong oleh faktor sosio-ekonomi, pendidikan, dan budaya. Meskipun telah ada Undang-Undang Perkawinan No. 16 Tahun 2019, pernikahan di bawah umur masih terus terjadi karena rendahnya pendidikan, kesulitan ekonomi, dan norma-norma budaya. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, termasuk observasi, wawancara, dan analisis dokumen, penelitian ini mengidentifikasi dampak negatif terhadap kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan psikologis, serta melanggengkan kemiskinan dan ketidakstabilan sosial. Kerangka kerja atau cara kerja Maqasid Syari'ah Jasser Auda, yang menekankan fleksibilitas dan kesejahteraan holistik, memberikan solusi yang komprehensif. Studi ini merekomendasikan penegakan hukum yang lebih ketat terhadap undang-undang usia pernikahan, inisiatif pendidikan untuk meningkatkan kesadaran, dukungan ekonomi untuk meringankan tekanan keuangan, dan keterlibatan masyarakat untuk mengubah norma-norma budaya. Meningkatkan layanan kesehatan dan sosial sangatlah penting. Mengintegrasikan Maqasid Syari'ah dengan kerangka hukum dan sosial kontemporer menawarkan pendekatan yang kuat untuk menangani pernikahan di bawah umur dan mempromosikan masyarakat yang adil dan suportif
الحب من منظور الإمام الشافعي لديوانه “الجوهر النفيس”؛ دراسة أسلوبية فلسفية
هدف هذا البحث هو الكشف عن الحب في ديوان "الجوهر النفيس" للإمام الشافعي وتحليل أسلوبه اللغوي في التعبير عن هذا الحب من خلال أنماط اللغة والشعر المستخدمة في قصائده. يستخدم البحث المنهج التحليلي الوصفي لاستخراج الصور الأسلوبية وتحليلها وفلسفة الحب في شعر الإمام الشافعي في ديوانه، وكذلك وصف سيرة الإمام الشافعي وفلسفة الحب باستخدام نظرية الحب عند ابن القيم الجوزية وإريك فروم. يعتمد البحث على مراجعة الكتب التي تناولت حياة الشاعر وقصائده، والمراجع ذات الصلة بالموضوع. نتائج البحث تشير إلى أن الإمام الشافعي لم يشرح بالتحديد معنى الحب، لكنه يشير في قصائده إلى أن الحب يتعلق بسعادة العبد والطاعة في حب الله، والعلاقة مع آل محمد والصالحين، والشوق إلى الوطن. يستخدم الشافعي أساليب لغوية رائعة في تعبيره عن الحب، من خلال اختيار الأبيات والقوافي المناسبة، واستخدام التضمير والأفعال والتقديم والتأخير والنداء والتوكيد والتمني في الصرف، واستخدام التضاد والاشتراك اللفظي والترادف في الدلالة، واستخدام التشبيه والمجاز والكناية والطباق والمقابلة في التصوير.
الكلمات المفتاحية: الحب، ديوان الجوهر النفيس، الإمام الشافعي، أسلوبية، فلسفية
Abstrak
Penelitian ini menganalisis Diwan "Al-Jauhar Al-Nafīs" karya Imam Syafi'i dengan tujuan mengungkap makna dan pengungkapan cinta yang digunakan oleh Imam Syafi'i melalui pola stilistika dan gaya bahasa sastra. Metode deskriptif-analisis digunakan dalam penelitian ini dengan mengidentifikasi unsur-unsur stilistika dan filsafat cinta dalam puisi-puisi Imam Al-Syafi'i di dalam Diwannya, serta mendeskripsikan tentang biografi Imam Al-Syafi'i dan filsafat cinta dengan pendekatan teori cinta Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dan Erich Fromm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Imam Syafi'i tidak menjelaskan secara spesifik arti cinta, tetapi secara keseluruhan ia menggambarkan cinta sebagai memberi kenikmatan, kepatuhan, dan ikatan batin antara yang mencintai dan yang dicintai. Metode kebahasaan yang indah dan khas digunakan oleh Imam Syafi'i, seperti pemilihan puisi yang tepat, penggunaan berbagai jenis sajak, dan penggunaan struktur gramatikal yang memperkuat makna yang dimaksudkan. Selain itu, ia menggunakan metode kiasan seperti majāz, thibāq, dan muqābalah untuk memperindah puisinya.
Kata Kunci: Cinta, Diwān Al-Jauhar Al-Nafīs, Imam Al-Syafi’i, stilistika, filsafa
Embroidering Socio-Religious Peace: The Synergy of Muslim and Catholic Youth on the Island of Java Indonesia
During rampant issues of radicalism and religious fanaticism reported in various newspapers and social media, the presence of young people is needed to become agents of moderation and tolerance. This study aims to understand the role of Muslim and Catholic youth in creating a moderate and tolerant society. This research uses a descriptive qualitative approach. Research location: Kenteng Hamlet, Kembang Village, Kapanewon Nanggulan, Kulon Progo Regency, Yogyakarta Special Region Province. Data collection techniques were conducted by interview, observation, and documentation. This research resulted in the following findings, namely: 1) The values of moderation and tolerance applied in the community can be indicated through several things, namely the willingness to accept differences, prioritize communication and dialogue, and others. 2) The role of Muslim and Catholic youth in creating a moderate and tolerant society is done through several approaches, namely: religious approach; sports approach; and social approach.
Di tengah maraknya isu radikalisme dan fanatisme agama di beritakan di berbagai media surat kabar dan sosial, kehadiran kaum muda sangat dibutuhkan untuk menjadi agen moderasi dan toleransi. Penelitian ini bertujuan untuk memahami peran pemuda Muslim dan Katolik dalam menciptakan masyarakat yang moderat dan toleran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Lokasi penelitian: Dusun Kenteng, Desa Kembang, Kapanewon Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Penelitian ini menghasilkan beberapa temuan sebagai berikut, yaitu: 1) Nilai-nilai moderasi dan toleransi yang diterapkan di masyarakat dapat diindikasikan melalui beberapa hal, yaitu kemauan untuk menerima perbedaan, mengedepankan komunikasi dan dialog, dan lain-lain. 2) Peran pemuda Muslim dan Katolik dalam menciptakan masyarakat yang moderat dan toleran dilakukan melalui beberapa pendekatan, yaitu: pendekatan agama; pendekatan olahraga; dan pendekatan sosia
Level of Formation of The Information Culture of Islamic Students
This article explains what information culture is and its specific features in the era of modern information culture. Fast and high-quality circulation of information is needed in the educational system and is an important factor or aspect for the progress and development of a country. Therefore, it is important for students and the younger generation to implement the basic criteria of information culture in the proper use of the Internet in education. The research problem is to determine the social factors that lead to the lack of a critical approach to the selection of necessary information among students in Islamic educational institutions. This research is important because information culture is a vital need for future preachers or preachers. The research method uses a literature review approach. The focus of the research is to analyze the patterns of using information culture on the Internet and social media. The results of the study provide an explanation of the patterns of information use in society, especially in Islamic educational institutions. The results describe 13 key factors on the level of formation of students' information culture in Islamic education in the 21st century.
Keywords: Information Culture, Islamic Education InstitutionsArtikel ini menjelaskan bagaimana budaya informasi dan ciri-ciri spesifiknya di era budaya informasi modern. Peredaran informasi yang cepat dan berkualitas tinggi sangat dibutuhkan dalam sistem pendidikan serta merupakan faktor atau aspek penting bagi kemajuan dan perkembangan suatu negara. Oleh karena itu penting bagi siswa dan generasi muda untuk mengimplementasikan kriteria dasar budaya informasi penggunaan internet yang tepat dalam pendidikan. Permasalahan penelitian faktor-faktor sosial yang mengakibatkan kurangnya pendekatan kritis terhadap pemilihan informasi yang diperlukan siswa di lembaga pendidikan Islam. Penelitian ini penting dilakukan karena budaya informasi merupakan kebutuhan vital bagi para penceramah atau pendakwah di masa depan. Metode penelitian menggunakan pendekatan tinjauan literatur. Fokus penelitian adalah menganalisis pola penggunaan budaya informasi di internet dan media sosial. Hasil penelitian menyajikan penjelasan tentang pola penggunaan informasi di masyarakat, khususnya di lembaga pendidikan Islam. Hasil penelitian mendeskripsikan 13 faktor kunci tentang tingkat pembentukan budaya informasi siswa dalam pendidikan Islam di abad ke-21.
Kata Kunci: Budaya Informasi, Lembaga Pendidikan Isla
The Identity of Modern Muslim Women on Instagram: Studi Fenomenologi tentang Konstruksi Makna Hijab Terhadap Mikro Selebriti
This research aims to uncover the meaning of modern Muslimah identity, which is constructed by micro-celebrities through their accounts on social media such as Instagram. In addition, it also explores the motives that underlie a person to become a celebrity on Instagram. Using a phenomenological approach, data was collected through in-depth interviews with five informants, in addition to literature review and observation. The results revealed that the meaning of Muslimah identity is constructed by Instagram celebrities in three categories, namely: (1) The assertion of the definition of Muslimah is a Muslim woman who follows Islamic law, uses clothing as a cover for the aurat in accordance with Islamic law, the uploaded content displays positive content and does not expose the aurat, and in terms of endorsement, selecting the products received so as not to deviate from Islamic teachings becomes a necessity. (2) The motives of Muslimah celebgrams are divided into two, namely the motive of using Muslimah symbols and the motive of becoming a Muslimah celebgram on Instagram. In using Muslim symbols in the form of hijab, the motive is divided into two, namely the motive of cause and the motive of purpose. (3) Cause motives consists of fulfilling obligations as a Muslimah, encouragement from the family, and encouragement from the environment. The purpose motive consists of fulfilling religious obligations, protecting oneself, breaking the bad stigma against Muslim women, inspiring others, and improving oneself.Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna identitas Muslimah modern yang dikonstruksi oleh para selebgram melalui akun-akun mereka di media sosial seperti Instagram. Selain itu, juga menggali motif yang mendasari seseorang untuk menjadi selebgram di Instagram. Dengan menggunakan pendekatan fenomenologi, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan lima informan, selain studi pustaka dan observasi. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa makna identitas muslimah dikonstruksi oleh selebgram dalam tiga kategori, yaitu: (1) Penegasan definisi muslimah adalah perempuan muslim yang mengikuti syariat Islam, menggunakan pakaian sebagai penutup aurat sesuai dengan syariat Islam, konten yang diunggah menampilkan konten yang positif dan tidak mengumbar aurat, dan dalam hal endorsement, menyeleksi produk yang diterima agar tidak melenceng dari ajaran Islam menjadi sebuah keniscayaan. (2) Motif selebgram muslimah terbagi menjadi dua, yaitu motif penggunaan simbol-simbol muslimah dan motif menjadi selebgram muslimah di Instagram. Dalam menggunakan simbol muslimah berupa hijab, motif terbagi menjadi dua, yaitu motif sebab dan motif tujuan. (3) Motif sebab terdiri dari: memenuhi kewajiban sebagai muslimah, dorongan dari keluarga, dan dorongan dari lingkungan. Motif tujuan terdiri dari: memenuhi kewajiban agama, melindungi diri sendiri, mematahkan stigma buruk terhadap muslimah, menginspirasi orang lain, dan memperbaiki diri sendiri
Maqashid Sharia Study on Minerals and Coal Law in Indonesia
Maqashid Sharia is a law-making principle that aims to bring Islamic teachings in line with various contexts encountered, including in today's modern context. This includes the application of Law Number 3 of 2020 concerning Minerals and Coal which has recently become a polemic among the people. Maqashid Sharia analysis is deemed necessary because it is in direct contact with the benefits and harms that will arise from the implementation of this legislation. This research is a normative legal research using a conceptual approach (Maqashid Syariah) and statutory approach (statute approach) with qualitative descriptive and interpretation techniques to find compatibility between the applicable laws and regulations and Maqashid Syaria. The result of this research is that the principles of Maqashid Syaria are accommodated in the Mineral and Coal Law that applies in Indonesia. Where the goal of community welfare or in the language of Islamic law is called Mashlahah 'Ammah contained in this Minerba Law indicates that this law is in accordance with the Shari'a goals in the formation and determination of a law. However, this Minerba Law cannot be separated from criticism regarding the potential for harm arising from the stipulation of several articles which are considered controversial by several legal experts. Therefore, the principle of producing good and avoiding or minimizing bad is a basic principle in Maqshid Syariah that legislators should pay attention to in making a law so that the resulting statutory decisions are in line with shari’a goals.Maqashid syariah merupakan prinsip pembutan hukum yang bertujuan membawa ajaran islam sejalan dengan berbagai konteks yang dihadapi, termasuk dalam konteks modern seperti saat ini, seperti dalam penerapan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Mineral dan Batubara yang belakangan ini menjadi polemik di tengah-tengah masyarkat. Analisis maqashid syariah dirasa perlu untuk dilakukan karena bersentuhan langsung dengan kemashlahatan dan kemudharatan yang akan ditimbulkan dari pengimplementasian perundang-undangan. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan menggunakan pendekatan konseptual (Maqashid Syariah) dan pendekatan perundang-undangan (statute approach) dengan teknik deskriptif dan interpretasi secara kualitatif untuk menemukan kesesuaian antara peraturan perundang-undangan yang berlaku dengan Maqashid Syariah. Hasil dari penelitian ini berupa terakomodirnya prinsip Maqashid Syariah dalam Undang-Undang Mineral dan Batubara yang berlaku di Indonesia. Dimana tujuan kesejahteraan masyarakat atau dalam bahasa hukum islam disebut Mashlahah ‘Ammah yang terkandung dalam Undang-Undang Minerba ini mengindikasikan bahwa undang-undang ini telah sesuai dengan tujuan syariat dalam pembentukan dan penetapan sebuah hukum. Namun demikian, Undang-Undang Minerba ini tidak terlepas dari kritik akan adanya potensi kemudharatan yang ditimbulkan akibat penetapan beberapa pasal yang dianggap kontroversial oleh beberapa ahli hukum. Oleh sebab itu, prinsip menghasilkan kebaikan dan menghindari atau meminimalisir keburukan merupakan prinsip dasar dalam Maqshid Syariah harus menjadi perhatian para legislator dalam membuat sebuah undang-undang sehingga keputusan perundang-undangan yang dihasilkan selaras dengan tujuan syaria
Education as State Control on Second Space: Sharia Regulation and Millennial Desire on Urban Cafes in Contemporary Bireuen City, Aceh: Sharia Regulation and Millennial Desire on Urban Cafes in Contemporary Bireuen City, Aceh
This article aims to analyze the efforts to dominate thirdspace in urban millennial cafes in Bireuen City, Aceh, by state sharia. Thirdspace is a concrete space as the actuality of contestation in secondspace by each group. Because secondspace determines the domination of thirdspace, state sharia through authoritative institutions, namely Satuan Polisi Pamong Praja (Civil Service Police Unit) & Wilayatul Hisbah (Satpol PP&WH) is trying to take preventive action. This qualitative research uses an anthropological approach. Researchers collected data from observation, in-depth interviews, and literature studies related to research subjects. The theory used in this research is Thirdspace by Edward Soja about the process of forming thirdspace as a public place. The focus of this research is Bireuen City, as a strategic city from the point of view of rapid social change, advanced economy, strategic geographical location, and rapid development of public places for millennials. The research findings show that state sharia through Satpol PP&WH conducts Islamic religious education, especially theology and Islamic ethical philosophy education for millennials by visiting many high schools, as an effort to dominate thirdspace through secondspace, especially urban millennial cafes in Bireuen City