Hayula: Indonesian Journal of Multidisciplinary Islamic Studies
Not a member yet
    152 research outputs found

    Kedudukan dan Peran Perempuan dalam Perspektif Islam dan Adat Minangkabau

    Get PDF
    Artikel ini mengkaji bagaimana kedudukan dan peran perempuan Minangkabau berdasarkan adatnya dan Islam dalam hal: 1) waris; 2) pengambil keputusan dalam keluarga; 3) dalam mengurus anak-anak dan 4) di dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada di masyarakat. Melalui pendekatan analisis kualitatif dengan metode menganalisis data QDA didapatkan jawaban hasil kajian sebagai berikut: 1) perempuan di dalam Islam mendapatkan warisan separuh dari bagian anak laki-laki, sedangkan di dalam adat Minangkabau perempuan mendapatkan warisan dari harta pusaka nenek-moyang selain warisan dari harta kedua orang tuanya; 2) di dalam Islam perempuan dapat berperan di dalam pengambil keputusan dalam keluarga, sedangkan menurut adat Minangkabau pengambil keputusan dalam keluarga adalah perempuan; 3) di dalam Islam peran seorang ibu sangat besar dalam mendidik anak-anaknya, sedangkan menurut adat Minangkabau peran ibu sangat mutlak bahkan peran ayah dapat dikatakan hampir tidak ada; dan 4) di dalam Islam dimungkinkan perempuan berperan dalam sosial politik tanpa melupakan perannya di dalam keluarga, sedangkan di dalam adat Minangkabau Bundo Kanduang yang berperan sebagai aktor intelektual di dalam menyelesaikan berbagai persoalan.    Kata Kunci: Kedudukan dan peran perempuan, Adat Minangkabau, Perspektif Islam   Abstract This article aims to analyse positions and roles of Minangkabau women based on their adat and Islam in terms of: 1) inheritance; 2) decision makers in the family; 3) in taking care of children; and 4) in solving problems in the community. By implementing qualitative analysis approach with the method of analyzing QDA data, the results of the study are as follows: 1) women in Islam should be given half of their inheritance from men, whereas in based on adat Minangkabau women could get inheritance from ancestral inheritance and from her parents; 2) in Islam, women could give opinion in deciding matters in the family, while according to adat Minangkabau, decision makers in the family are women; 3) in Islam, the role of a mother is very large in educating their children, whereas according to adat Minangkabau the role of mother is very absolute even the role of father can be said to be almost non-existent; and 4) in Islam it is possible for women to play a role in social politics without forgetting their role in the family, while in the adat Minangkabau Bundo Kanduang acts as an intellectual actor in resolving communities’ issues. &nbsp

    From Politics to Education: Nurcholish Madjid and the Reform of Education In Indonesia

    No full text
    This paper attempts to understand Nurcholish Madjid’s Islamic education reform. After the death of Nurcholish Madjid, his education appears as a significant human capital investment which might become the instrument which constantly keep Nurcholish Madjid’s legacies alive, developed, and disseminated through times. Apart from this fact, Nurcholish Madjid’s Islamic education reform has not been yet the main focus of previous researches. Focusing on Nurcholish Madjid’s Islamic education reform, this paper looks at the educational activities of Nurcholish Madjid mainly in IAIN-UIN Jakarta and Paramadina. In this regards, this paper investigates Nurcholish Madjid’s Islamic education reform and the contexts within which it was developed. This investigation provides an insight to the discussion of the subject which tries to answer the questions of what kind of ideas which were developed by Nurcholish Madjid to reform Islamic education in Indonesia; how he defined, interpreted, and applied the ideas for the development of Islamic education in Indonesia. Eventually this paper suggests that in teaching and understanding Islam, Nurcholish Madjid obviously treated Islam not only as a religion, but also as a historical, sociological, and anthropological phenomenon which must be studied in an open, democratic, participatory, pluralistic, and inclusive way.Tulisan ini menganalisis keputusan Nurcholish Madjid memilih pendidikan daripada politik untuk melakukan reformasi besar di Indonesia. Fokus tulisan ini tentang reformasi pendidikan Islamnya, studi ini mencoba untuk melihat ide-ide dan kegiatan-kegiatan pendidikan Nurcholish Madjid di IAIN-UIN Jakarta dan Paramadina. melalui penelitian kepustakaan. Kajian ini meneliti tentang reformasi pendidikan Islam Nurcholish Madjid dan konteks di mana reformasi itu dikembangkan. Hasil kajian akan menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti apa ide yang dikembangkan oleh Nurcholish Madjid dan bagaimana ia mendefinisikan, menafsirkan, dan menerapkan ide-ide tersebut untuk pengembangan pendidikan Islam di Indonesia. makalah ini berpendapat bahwa dalam mengajarkan dan memahami Islam, Nurcholish Madjid jelas memperlakukan Islam tidak hanya sebagai agama, tetapi juga sebagai fenomena historis, sosiologis, dan antropologis yang harus dipelajari secara terbuka, demokratis, partisipatif, pluralistik, dan inklusif

    Ma‘had 'Aly and the Challenge of Modernizing Islamic Education in Indonesia

    Get PDF
    This paper discovers one of the pesantren models in Indonesia that is considered understudied, the University Level of Pesantren (Ma‘had ‘Aly), pesantren which santris are the university students. Particularly, this paper explains the struggle of Pondok Pesantren Darus Sunnah in facing the challenges of modernizing Islamic Education in Indonesia. Over time, the majority of pesantren adopted modernization to meet the demands from the society and to gain broader recognition from the government. However, the Pondok Pesantren Darus Sunnah is one of the pesantrens that delay the modernization. This paper aims at explaining the reasons for the reluctance of Pondok Pesantren Darus Sunnah to respond to the modernization. To answer the above question, this study employs a qualitative approach with auto-ethnography as the main data-collection tool. The author takes the advantage of the author's experience while being a santri and ustadz at the Darus Sunnah Islamic Boarding School with observations as additional data collection methods. In brief, this study suggests that the Pondok Pesantren Darus Sunnah currently rejects modernization because it reduces the authority and traditional identity of the pesantren. Pondok Pesantren Darus Sunnah prefers to keep the traditional pesantren in line with the advice of the charismatic founder of the pesantren. The traditional model of pesantren has been proven to have produced qualified alumni who play significant role both at national and international levels. This paper also proposes degree equivalence as a solution to this issue of modernizing Islamic education institution.Paper ini menjelaskan salah satu model pesantren di Indonesia yang cukup jarang dibahas, Ma‘had ‘Aly, pesantren yang santrinya adalah mahasiswa. Secara khusus paper ini menjelaskan pergulatan Pondok Pesantren Darus Sunnah dalam menghadapi tantangan modernisasi Pendidikan Islam di Indonesia. Sejalan dengan waktu, mayoritas pesantren mengadopsi modernisasi demi memenuhi tuntutan masyarakat dan pengakuan yang lebih luas dari pemerintah. Namun demikian, Pondok Pesantren Darus Sunnah adalah salah satu pesantren yang masih belum bisa menerima tawaran modernisasi pesantren tersebut secara menyeluruh. Paper ini bertujuan untuk menjelaskan alasan keengganan Pondok Pesantren Darus Sunnah dalam merespons modernisasi. Untuk menjawab pertanyaan di atas, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode pengambilan data auto-ethnography. Penulis memanfaatkan pengalaman penulis selama menjadi santri dan pengajar di Pondok Pesantren Darus Sunnah dengan dilengkapi observasi dan wawancara. Secara singkat penelitian ini mengisyaratkan bahwa Pondok Pesantren Darus Sunnah menolak modernisasi dari segi kurikulum karena hal tersebut mereduksi otoritas dan identitas tradisional pesantren. Pondok Pesantren Darus Sunnah lebih memilih untuk menjaga ke-tradisional-an pesantren sesuai dengan dawuh dari pendiri pesantren. Model Pesantren Tradisional yang selama ini dijaga terbukti telah melahirkan alumni yang berkualitas dan memainkan peran yang besar baik di level nasional maupun internasional. Paper ini juga mengajukan penyetaraan ijazah setingkat strata satu sebagai salah satu solusinya

    أثر التردد بين الضبط والتقريب في تقويض دائرة الخلاف المصطلحي

    No full text
    The problem in which the nation falls in this crisis is the problem of terminology, and often fallacies occur in buildings not in meanings.Therefore, he must escape from the nation  who renounces the manifestations of discord and disagreement to the right and equity. The study comes to establish the theory of undermining  the dispute by arbitrating  the meanings of the desired terminology.ان الاشكال الذي تقع فيه الامة في هاته الازمنة هو اشكال المصطلحات وغالبا ما تكون المغالطات في المباني لا في المعاني وعليه توجب أن ينبري من الأمة من ينبذ عنها مظاهر الشقاق والخلاف فيئا الى الحق وبغية الانصاف وتأتي هاته الدراسة لتؤسس لنظرية تقويض الخلاف  بتحكيم المعاني المرادة للمصطلحات في مختلف الفنون ، وقد توصل الباحث الى ضرورة الفي ء الى الحق بتحكيم مثل هاته النظري

    Penerapan E-Learning dalam Proses Pembelajaran pada Program Studi PAI Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

    Get PDF
    This study aims to describe how the application of e-learning in the learning process in the study program of PAI in UIN Raden Fatah, Palembang. This research is field research using a qualitative approach. The methods of data are observation, interviews, questionnaires, and documentation. There are five aspects of implementing e-learning that is observed by assessing the perceptions of lecturers and students. The results of the study concluded that  First, there are differences of views between lecturers and students about the application of e-learning, only some lecturers have sufficient knowledge about e-learning applications, on the contrary, most of the students understand the application of e-learning. In the aspect of ease of use of e-learning applications, some lecturers said that they had difficulties in implementing e-learning, whereas most of the students said that they are able to implement e-learning. The other three aspects; the aspect of component of e-learning features, the usefulness of it, both lecturers and students assessing the positive and relatively good assessment, while they assessed less optimal about facilities supporting it.Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan penerapan e-learning pada program studi PAI Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Metode pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, angket dan dokumentasi. Ada lima aspek penerapan e-learning yang  diamati dengan menilai persepsi dosen dan mahasiswa. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa lima aspek yang terkait dengan penerapan e-learning di prodi PAI UIN Raden Fatah Palembang; yakni Pertama, aspek penerapan aplikasi e-learning, terdapat perbedaan pandangan antara dosen dan mahasiswa tentang penerapan e-learning, hanya sebagian dosen mempunyai pengetahuan yang cukup tentang aplikasi e-learning, namun sebaliknya mayoritas mahasiswa cukup memahami penerapan e-learning. Pada aspek kemudahan penggunaan aplikasi e-learning, sebagian dosen mengaku kesulitan dalam penerapan e-learning sebaliknya mayoritas mahasiswa mengaku mudah menerapkan e-learning. Adapun pada tiga aspek yang lain yakni; aspek komponen fitur aplikasi e-learning, kebermanfaatan baik dosen dan mahasiswa menilai positif dan penilaian yang relatif baik, sedangkan terkait aspek sarana masih dirasakan kurang optimal

    The Development of Translation Capability for the Holy Quran of Student of Teacher Candidate for Islamic Religious Education: A Tamyiz Learning and Teaching Strategy

    Get PDF
    It has become a Global Issue that the quality of education will never exceed the quality of teachers. Therefore, improving the quality of teachers should be the main priority of every party concerned about the quality of education, including religious education in schools. Therefore, improving the quality of Islamic Religious Education (IRE) teachers needs to be a priority for every educational institution that prints candidates for religious teachers, one of which is the study program of Islamic Education Science (IPAI) at Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) as part of efforts to improve religious education in schools. One of the competencies that IRE teachers need to have is the ability to translate the Quran. Related to this matter, this paper specifically describes how the implementation of tamyîz method to improve the ability of the student to translate the Quran as prospective teachers of IRE at Schools. The tamyîz method is an innovative method of learning Arabic developed by Abaza, M.M. This paper used qualitative research with descriptive methodTelah menjadi suatu Isu Global bahwa kualitas pendidikan tidak akan pernah melebihi kualitas guru. Karenanya, peningkatan kualitas guru harus menjadi prioritas utama setiap pihak yang berkepentingan akan kualitas pendidikan, termasuk pendidikan agama di sekolah. Atas dasar itulah, peningkatan kualitas guru PAI perlu menjadi prioritas setiap lembaga pendidikan yang mencetak calon-calon guru agama, salah satunya program studi Ilmu Pendidikan Agama Islam (IPAI) di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) sebagai bagian dari upaya peningkatan pendidikan agama di sekolah. Salah satu kompetensi yang perlu dimiliki guru PAI adalah kemampuan menerjemahkan Alquran. Terkait hal tersebut, tulisan ini secara khusus mendeskripsikan bagaimana implementasi metode tamyîz dalam perkuliahan Ulum Alquran di Prodi IPAI, UPI sebagai upaya membekali kemampuan menerjemahkan Alquran kepada para mahasiswa sebagai calon guru PAI. Metode Tamyîz merupakan metode inovatif dalam belajar bahasa Arab yang dikembangkan oleh Abaza, M.M. Sekaitan dengan hal tersebu, pendekatan penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan metode deskripti

    Strategi Nahdlatul Ulama dalam Mempertahankan Posisi dan Legitimasi di Arena Islam Indonesia

    Get PDF
    This article aims to analyze NU strategy in maintaining the arena of moderate Islam in Indonesia. this strategy was used by NU to anticipate the radical movement intending to seize the Indonesian Islamic arena. This is because NU has legitimacy as a moderate organization in Indonesia. This study uses observational studies by looking at the historicity of NU as a religious organization and its role in the Indonesian Islamic arena. This study uses the theory of genetic structuralism which includes habitus, arena, capital, trajectory, and strategy. The results of this study indicate that NU basically has the capital to maintain the arena of moderate Islam in Indonesia. The accumulation of capital is then at stake with two strategies, that efforts to maintain and widen the arena of power in Islam in Indonesia has a great opportunity.Artikel ini bertujuan untuk menganalisis strategi NU dalam mempertahankan arena Islam moderat di Indonesia. strategi ini digunakan oleh NU untuk mengantisipasi gerakan radikal berkeinginan untuk merebut arena Islam Indonesia. Hal ini dikarenakan NU telah memiliki legitimasi sebagai ormas moderat di Indonesia. Penelitian ini menggunakan studi observasi dengan melihat historisitas NU sebagai organisasi keagamaan dan pegulatanannya dalam arena Islam Indonesia. Penelitian ini menggunakan teori strukturalisme genetik yang mencakup habitus, arena, modal, trajektori, dan strategi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa NU pada dasarnya memiliki modal untuk mempertahankan arena Islam moderat di Indonesia. Akumulasi modal tersebut kemudian dipertaruhkan dengan dua strategi, sehingga upaya untuk mempertahankan dan memperlebar kuasa dalam arena Islam di Indonesia memiliki peluang yang besar

    Persepsi Santri tentang Moderasi Islam dan Wawasan Kebangsaan

    Get PDF
    This study aims to find out how the perceptions of santri at Tahfidzul Islamic Boarding School in Ar Rahmah's Qur'an on Islamic concepts and national insights, relationship between Islamic insight and insight into santri nationality, And what are the efforts to build Islamic insights and insights into the nationality of santri. Research in scientific papers uses quantitative descriptive analysis, with descriptive analysis method Quantitative. Can be obtained data that the students have a good understanding of Islamic concepts and nationalities, there is a significant relationship between the perceptions of santri about Islamic insights with national insight based on the Spearman Correlation Test of 0.578 and this shows a strong relationship between Islamic insights into the insights nationality.Penelitian ini bertujuan mengetahui persepsi santri di Pesantren Ar Rahmah terhadap konsep keislaman   dan wawasan kebangsaan, hubungan antara wawasan keislaman   dan wawasan kebangsaan dan upaya membangun wawasan keislaman   dan wawasan kebangsaan santri. Permasalahan dalam penelitian adalah bagaimana persepsi santri terhadap konsep keislaman   dan wawasan kebangsaan? hubungan antara wawasan keislaman   dan wawasan kebangsaan? Dan bagaimana upaya membangun wawasan keislaman   dan wawasan kebangsaan santri? Penelitian dalam karya tulis ilmiah ini menggunakan analisa deskriptif kuantitatif dengan Metode analisis deskriptif kuantitatif. Diperoleh data bahwa santri memiliki pemahaman yang baik tentang konsep keislaman dan kebangsaan. Berdasarkan Uji Korelasi Spearman sebesar 0,578 dan ini menunjukkan terdapat hubungan yang kuat antara wawasan keislaman   santri terhadap wawasan kebangsaannya

    Nilai-Nilai Spritualitas dan Harmoni Beragama dalam Wirid Harian Kitab Al-Aurad Al-Nur'aniyyah

    Get PDF
    This research is based on religious issues that are stuck to the practice of normative zhahiriyah. Whereas the religious perfection lies precisely in the balance in practicing the religious zhahiriyah and bathiniyyah. In the religious teachings that bathiniyyah can actually grow and develop religious spirituality. Wirid Al-Aurad Al-Nur'aniyyah taught by tariqat al-Syadziliyyah containing readings is assumed to foster spiriualitas, harmony of religious behavior, not monolithic and tolerant. For this reason this study aims to describe and analyze the religious arguments about wirid. Then describe and analyze the texts, meanings, and interpretations of wirid Al-Aurad Al-Nur'aniyyah. Finally, analyze the relevance of such wirid practice in developing religious spirituality. This research uses qualitative research approach with descriptive research method and literature study. Descriptive method and literature study is used to describe the study of tasawuf and wirid in religious perspective. Then describes the data concerning wirid Al-Aurad Al-Nur'aniyyah, translating, and interpreting the meaning of wirid readings, and analyzing their relevance to the development of religious spirituality. The results showed that the daily wird of Al-Aurad Al-Nur'aniyyah readings such as al-Fatihah, al-Waqi'ah, shalawat, tahlil, tahmid, etc. as tariqat al-Syadziliyyah founder contained the meaning meaningful and relevant in developing religious spirituality. Wirid also as one effort in shaping the character of Islamic spirituality (Sufism). The wird that includes some form of remembrance and prayer contains an invitation to create harmony of life, pray for salvation and prosperity for all humanity regardless of religion and religious school.Penelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan keagamaan yang terjebak kepada pengamalan zhahiriyah yang bersifat normatif. Akan tetapi, kesempurnaan beragama justru terletak pada keseimbangan dalam mengamalkan keberagamaan yang zhahiriyah dan bathiniyyah. Di dalam ajaran agama yang bathiniyyah justru dapat menumbuhkan dan mengembangkan spiritualitas keberagamaan. Wirid al-Aurâd al-Nûrâniyyah yang diajarkan oleh thariqat al-Syâdziliyyah. Di dalamnya terdapat bacaan-bacaan yang diasumsikan dapat menumbuhkan spiriualitas, keharmonisan perilaku keagamaan, tidak monolitik dan toleran. Untuk itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis dalil-dalil keagamaan tentang wirid. Kemudian mendeskripsikan dan menganalisis teks, arti, dan interpretasi wirid al-Aurâd al-Nûrâniyyah. Kemudian,  menganalisis relevansi pengamalan wirid tersebut dalam mengembangkan spiritualitas keberagamaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan metode penelitian deskriptif dan studi literatur. Metode deskriptif dan studi literatur digunakan untuk mendeskripsikan kajian tasawuf dan wirid dalam perspektif keagamaan. Kemudian mendeskripsikan data-data menyangkut wirid  al-Aurâd al-Nûrâniyyah, menerjemahkan, dan menginterpretasikan makna terhadap bacaan-bacaan wirid, serta menganalisis relevansinya terhadap pengembangan spiritualitas keberagamaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wirid harian al-Aurâd al-Nûrâniyyah bacaan-bacaannya seperti surat al-Fâtiḥah, surat al-Wâqi’ah, shalawat, tahlil, tahmid, dan lain sebagainya seperti yang diajarkan oleh pendiri thariqat al-Syâdziliyyah, mengandung makna yang berarti dan relevan dalam mengembangkan spiritualitas keberagamaan. Wirid juga sebagai salah satu upaya dalam membentuk karakter spiritualitas  Islam (tasawuf). Wirid yang mencakup beberapa bentuk zikir dan doa tersebut berisikan ajakan untuk menciptakan harmoni kehidupan, mendoakan keselamatan dan kesejahteraan bagi sesama umat manusia tanpa memandang agama dan mazhab keagamaan

    Islam dan Nasionalisme: Pandangan Pembaharu Pendidikan Islam Ahmad Dahlan dan Abdulwahab Khasbullah

    Get PDF
    Until this day, the dichotomy between “Islam†and “Nationalist†is still realized. The dichotomy makes the moslems not safe on their social communities, especially with the other religions in Indonesia. Finally, that dichotomy makes one big question, “Is Islam not nationalist?†This article tries answered “Islam is not nationalist?†by looking back on the history of two founding fathers of the islamic education and nation heroes. They are Ahmad Dahlan and Abdulwahab Khasbullah, the founders of two the biggest Islamic organization in Indonesa, Muhammadiyah and Nahdlatul Ulama (NU). By studying about two founder of islamic education in the colonalism era or before the independence of Indonesia, we can answered and explain the question above. The purpose of this article is to proofing that the islamic leader, Ahmad Dahlan and Abdulwahab Khasbullah are nationalist.Sampai hari ini, dikotomi antara “Islam†dan “Nasionalis†masih terjadi. Dikotomi ini menjadikan seorang Muslim merasa tidak nyaman dalam pergaulan di masyarakat, khususnya saat bertemu dengan kelompok yang berbeda agama. Pada akhirnya, dikotomi ini menjadikan sebuah pertanyaan “Apakah menjadi Muslim bisa menjadi Nasionalisâ€? Artikel akan menjawab pertanyaan diatas dengan melihat sejarah dua tokoh pendidikan Islam dan Pahlawan Nasional. Mereka adalah Ahmad Dahlan dan Abdulwahab Khasbullah, dua pendiri organisasi terbesar di Indonesia, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Dengan meneliti tentang dua tokoh Pendidikan Islam di masa Kolonial Belanda sebelum era kemerdekaan, kita bisa menemukan jawaban atas pertanyaan diatas. Tujuan artikel ini untuk menunjukkan bahwa tokoh Islam bernama Ahmad Dahlan dan Abdulwahab Khasbullah adalah seorang Nasionalis. Penelitian ini merupakan Library Research,  dimana sumber pustaka diambil dari buku-buku, jurnal, majalah dan Koran. Library Research juga sering disebut dengan istilah penelitian Kepustakaan

    92

    full texts

    152

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Hayula: Indonesian Journal of Multidisciplinary Islamic Studies
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇