RISET Geologi dan Pertambangan
Not a member yet
304 research outputs found
Sort by
Pengaruh Perlakuan Amalgamasi Terhadap Tingkat Perolehan Emas dan Kehilangan Merkuri
Sampel bijih emas hasil dari penambangan secara selektif “pertambangan rakyat” di Waluran, Sukabumi telah digunakan sebagai bahan percobaan amalgamasi. Tujuan percobaan untuk memperoleh pola kecenderungan (trend) pengaruh dari faktor kadar umpan dan perlakuan amalgamasi terhadap tingkat perolehan (recovery) logam emas dan kehilangan merkuri (Hg). Percobaan dilaksanakan berdasarkan disain faktorial 2 level dari 2 faktor. Perlakuan amalgamasi hanya ditekankan pada faktor kadar umpan proses (bijih emas berkadar rendah dan bijih emas berkadar tinggi) dan faktor waktu proses amalgamasi (cara langsung dan cara tidak langsung) sehubungan dengan waktu memasukkan merkuri ke dalam amalgamator. Kedua faktor tersebut ditetapkan sebagai variabel independent, sedangkan tingkat perolehan logam emas dan kehilangan merkuri selama proses amalgamasi ditetapkan sebagai variabel dependent. Hasil percobaan mengindikasikan bahwa faktor perlakuan amalgamasi sehubungan dengan waktu memasukkan merkuri ke dalam amalgamator cara tidak langsung lebih dominan berpengaruh dibandingkan faktor kadar umpan proses. Dengan cara tersebut, baik untuk bijih emas berkadar rendah maupun yang berkadar tinggi memberikan pola kecenderungan meningkatkan perolehan logam emas dan pola kecenderungan menekan tingkat kehilangan merkuri. Proses amalgamasi dengan cara tidak langsung lebih baik dibandingkan dengan cara langsung, dan mampu meningkatkan perolehan logam emas hingga 14,580 % dan menekan tingkat kehilangan merkuri hingga 3,933 %. Hasil percobaan amalgamasi ini, diharapkan dapat digunakan sebagai bahan acuan dalam perencanaan percobaan amalgamasi maupun penerapannya dalam industri pertambangan emas
Hidrogeologi dan Potensi Resapan Air Tanah Sub Das Cikapundung Bagian Tengah
ABSTRAK DAS Cikapundung adalah salah satu bagian dari sub DAS Citarum dan merupakan sungai yang berfungsi sebagai drainase utama di pusat kota Bandung. Hingga saat ini sub DAS Cikapundung masih sangat potensial bagi penyediaan air baku untuk kebutuhan penduduk, namun kini debit bulanannya telah menurun hingga 20-30% dari debit normal. Kondisi Hidrogeologi di daerah penelitian menunjukkan sistem air tanah di daerah penelitian merupakan sitem air tanah bebas dan sebagian kecil sistem air tanah setengah tertekan. Litologi penyusun akuifer pada daerah penelitian berupa breksi vulkanik dan batu pasir tufaan. Akuifer yang terdapat pada daerah penelitian diduga bukan merupakan aquifer yang potensial. Berdasarkan hasil penelitian maka daerah resapan alamiah ditinjau dari kondisi tanah, kemiringan lereng, litologi, dan daerah luahan memiliki luas 6 juta m2, atau 36% dari total luas daerah penelitian. Jumlah air yang menjadi cadangan air tanah berdasarkan perhitungan neraca air adalah sebesar 4,3 juta m3/tahun atau 12% dari total curah hujan yang masuk, dan sebesar 6,2 juta m3/tahun jika di asumsikan daerah penelitan berada pada kondisi alamiahnya. Hal ini menunjukkan luas daerah resapan air tanah yang ada sekarang sudah mengalami perubahan. Jumlah air yang meresap dan menjadi cadangan air tanah pada daerah penelitian hanya memberikan kontribusi sebesar 2% dari total kebutuhan cadangan air tanah di cekungan Bandung
Fasies dan Lingkungan Pengendapan Formasi Campurdarat di Daerah Trenggalek-Tulungagung, Jawa Timur
Formasi Campurdarat yang tersebar di bagian selatan daerah Trenggalek-Tulungagung telah diselidiki berkaitan dengan fasies, lingkungan dan model pengendapannya. Empat (4) fasies karbonat dapat dikenali dalam formasi ini. Fasies packstone terdiri dari tiga subfasies yaitu subfasies nodular packstone, subfasies algal foraminifera packstone dan subfasies milliolid packstone berkembang dalam lingkungan terumbu belakang, lagon dan saluran pasang. Fasies floatstone diendapkan pada lingkungan terumbu belakang dan inti terumbu. Fasies rudstone ditafsirkan terbentuk pada dataran terumbu. Fasies boundstone yang membentuk inti terumbu dibagi menjadi dua subfasies yaitu subfasies bafflestone dan subfasies framestone. Fasies boundstone ini diendapkan pada lingkungan puncak terumbu-terumbu depan. Formasi Campurdarat diperkirakan terbentuk sebagai terumbu penghalang pada umur Miosen Awal dalam mana terumbu belakang berada di selatan dan bagian terumbu depan di sebelah utara
Pendeteksian Kerapatan Vegetasi dan Suhu Permukaan Menggunakan Citra Landsat Studi Kasus : Jawa Barat Bagian Selatan dan Sekitarnya
ABSTRAK Kerapatan vegetasi dan suhu permukaan merupakan informasi penting yang dibutuhkan kaitannya dengan isu pemanasan global. Informasi spasial ini dapat dihasilkan dengan memanfaatkan citra satelit sumberdaya, khususnya citra Landsat. Kemampuannya perlu dikaji agar tidak memberikan informasi yang tidak representatif, apalagi kalau suatu daerah kajian memiliki jenis penggunaan lahan yang heterogen. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan transformasi NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) dan kemampuan band thermal di daerah yang bervariasi jenis penggunaan lahannya. Analisis yang digunakan yaitu analisis spasial dengan melakukan perbandingan antara informasi spasial penggunaan lahan dengan data sebaran kelas kerapatan vegetasi dan kelas suhu permukaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa NDVI mampu mempresentasikan kerapatan vegetasi dengan baik untuk berbagai macam jenis penggunaan lahan. Di sisi lain pendeteksian suhu permukaan menggunakan band thermal pada citra Landsat harus memperhatikan aspek penggunaan lahannya, untuk menghindari kesalahan interpretasi
BATUAN PERLIT KARANGNUNGGAL SEBAGAI BAHAN SINTESA ATAPULGIT
Empat buah sampel batuan perlit yang diambil dari daerah Karangnunggal Tasikmalaya digunakan dalam usaha peningkatan nilai tambah sumberdaya mineral melalui sintesa atapulgit. Walaupun Indonesia merupakan daerah volkanik, informasi mengenai batuan perlit masih relatif sedikit. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh kejelasan tentang pola sebaran, kuantitas dan kualitas batuan perlit di daerah Karangnunggal serta mengkaji potensi batuan itu baik sebagai bahan eksperimentasi maupun prospek pemanfaatannya pada masa mendatang. Metoda penelitian dilakukan melalui survei lapangan dan pengambilan sampel batuan serta dilanjutkan dengan analisis di laboratorium dengan melibatkan analisis kimia, mineral dan sifat-sifat fisik batuan. Dari hasil penelitian diketahui bahwa sebaran batuan perlit di Karangnunggal berpola random dan merupakan komponen kecil dari satuan batuan tuf breksi, sebagian tercampur pada masa dasar bersama-sama gelas vulkanik, gelas obsidian dan gelas batuapung. Luas sebaran batuan perlite ± 2 Ha atau ± 26.700 m2, dengan jumlah cadangan terindikasi sekitar 8.000 m3 atau sekitar 15.700 ton. Karakteristik batuan berdasarkan analisis mikroskopis memperlihatkan tekstur gelas masif dan retakan konkoidal (mengulit bawang) yang merupakan ciri khas perlit. Komposisi mineral sebagian besar terdiri dari gelas perlit (90-97%) serta mineral opak dan plagioklas (masing-masing kurang dari 1%). Validitas data tersebut dipertegas baik oleh hasil analisis X-RD maupun SEM yang menunjukkan mikrografi jenis dan bentuk struktur gelas. Komposisi kimia terdiri dari SiO2 (68,97%), Al2O3 (13,06%), Na2O (2,51%), K2O (4,10%), Fe2O3 dan TiO2 (kurang dari 1 %). Dengan formulasi ratio perlit/MgO 9:1, ratio bahan/NaOH 1:2, serta penambahan sekitar 2 ml H2SO4 1:1 dapat dibentuk gel yang dapat digunakan sebagai bahan eksperimentasi. Potensi batuan perlit di daerah Karangnunggal ditinjau baik dari segi kuantitas maupun kualitas cukup memadai sebagai bahan eksperimentasi, tetapi untuk pengembangan pemanfaatan perlit di daerah Karangnunggal pada masa mendatang perlu dicari lokasi alternatif yang lebih baik.
KANDUNGAN SENYAWA PENCEMAR PADA AIR TANAH DANGKAL DI PROPINSI NANGROE ACEH DARUSSALAM PASCA TSUNAMI 2004
Air merupakan sumberdaya alam yang tak tergantikan keberadaannya. Pencemaranair dapat menyebabkan berkurang bahkan hilangnya fungsi air sebagai salah satu sumber kehidupan. Masuknya air laut ke daratan dapat menjadi salah satu penyebab pencemaran air. Hal ini seperti yang terjadi di propinsi Nanggroe Aceh Darussalam setelah gempa bumi dan gelombang tsunami melanda daerah tersebut pada tanggal 26 Desember 2004. Penelitian ini dilakukan untuk memantau kualitas air tanah dangkal yang dilakukan dengan cara pengambilan conto-conto air dibeberapa lokasi yang terkena tsunami, kemudian dilakukan analisis kimia dari conto-conto air tersebut. Hasil penelitian yang dilakukan oleh LIPI pada Juli 2006 dibandingkan dengan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup pada Januari 2005 untuk melihat sejauh mana perubahan kualitas air yang terjadi pasca tsunami. Hasil penelitian Kementerian Lingkungan Hidup dan LIPI menunjukkan kandungan senyawa seperti fosfat, sulfida, ammoniak, fenol, COD, DO dan kadmium dihampir seluruh lokasi penelitian yang melebihi ambang batas untuk air minum berdasarkan PP No.82/2001 dan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 907/Menkes/SK/VII/2002, yaitu kandungan fosfat lebih dari 0,2 mg/L, sulfida lebih dari 0,002 mg/L, ammoniak lebih dari 0,15 mg/L, fenol lebih dari 0,001 mg/L, COD lebih dari 10 mg/L, DO kurang dari 6mg/L dan cadmium lebih dari 0,003 mg/L, sedangkan kandungan nitrat umumnya tidak melebihi ambang batas (kurang dari 10 mg/L). Tetapi secara keseluruhan, hasil penelitian yang dilakukan LIPI pada Juli 2006 menunjukkan kandungan senyawa-senyawa tersebut kecuali fosfat telah mengalami penurunan jika dibandingkan dengan hasil penelitian Kementerian Lingkungan Hidup pada Januari 2005.
Penentuan Kadar Emas (Au) Dan Perak (Ag) Metoda Fire Assay: Perbandingan Hasil Analisis Peleburan Tungku Gas Terhadap Tungku Solar
ABSTRAK Metoda penentuan kadar emas dan perak secara fire assay, dikerjakan dalam kaitanya dengan pengujian dua buah tungku peleburan. Kedua buah tungku tersebut masing-masing menggunakan bahan bakar gas dan bahan bakar solar. Tujuannya, untuk membandingkan hasil analisis yang diperoleh. Sebanyak 5.400 gram sampel mengandung emas berukuran butir 150 mesh, dibagi menjadi dua dan masing-masing ditimbang 50 gram sebanyak 28 sampel. Sebanyak 28 sampel bagian dilebur dan dikupelasi pada tungku gas, kemudian 28 sampel bagian dilebur dan dikupelasi pada tungku solar sebagai kalibrasi. Hasil analisis menunjukkan, peleburan dan kupelasi pada tungku gas mencapai kadar emas rata-rata sebesar 57,88 gr/ton dan perak rata-rata sebesar 4,76 gr/ton. Sementara itu, peleburan dan kupelasi pada tungku solar mencapai kadar emas rata-rata sebesar 59,62 gr/ton dan perak rata-rata sebesar 8,77 gr/ton. Selisih rata-rata kadar emas sebesar 1,74 gr/ton dan perak sebesar 4,20 gr/ton.
Evaluasi Indeks Urban Pada Citra Landsat Multitemporal Dalam Ekstraksi Kepadatan Bangunan
ABSTRACT The information of building density is so necessary in city planning. Monitoring ofthe dynamic city changing can be helped by the remote sensing data, one of them is Landsat image. Supposed to Kawamura (1997), urban index (UI) transformation on Landsat can be used to extract the building density. Application of a transformation is not enough to be adopted only, but it has to be evaluated, in order to increase the transformation accuracy. This research is done to evaluate the UI transformation on Landsat TM (Thematic Mapper) and ETM+ (Enhanced Thematic Mapper plus) images in extracting the density building. The digital image processing of multitemporal images has been done to reach the goal. We used ‘inner ringroad Yogyakarta’ as a research area. This research has got a summary that the UI transformation will be effective if it be applied in built up area only. If the area is a mixture of built up and non built up area, it has to be filtered by land cover layer (built up and non built up area).
Petrogenesa Basalt Sungai Medana Karangsambung, Berdasarkan Analisis Geokimia
ABSTRAK Pada komplek melange di kawasan Karangsambung, terdapat sebaran batuan beku volkanik yang luas. Batuan tersebut diidentifikasi sebagai batuan beku yang terbentuk pada dasar samudera dan berasosiasi dengan pembentukan ofiolit. Basalt di K. Muncar berasosiasi dengan rijang, basalt S. Lokidang terlihat nyata berasosiasi dengan gabro dan peridotit yang mengindikasikan batuan tersebut terbentuk sebagai ofiolit hasil pemekaran tengah samudera. Basalt S. Medana pelamparannya luas, namun asosiasi dengan gabro, peridotit dan rijang tidak dijumpai, untuk itulah penelitian ini dilakukan. Analisis kimia unsur utama dan unsur jarang dengan metode ICP dan ICPMS telah di lakukan pada 1(satu) buah conto basalt S. Medana, serta menggunakan 3(tiga) buah data pembanding basalt dari kelompok ofiolit di Karangsambung Utara. Program aplikasi Newped digunakan untuk penghitungan mineral normatif serta pengeplotan pada diagram trilinear maupun biner. Berdasarkan analisis tersebut ternyata basalt S. Medana termasuk basalt tholeit yang sangat jenuh silika, terbentuk pada daerah punggungan tengah samudera (NMORB) pada saat fraksinasi mantel bumi (mantle fractionates) hingga sebelum terjadinya tumbukan (pre plate collision).
Peranan Daun Babadotan (Ageratum conizoides), Nampong (Eupatorium molifolium) Dan Asipatiheur (Lantana camara) Sebagai Bahan Aditif Dalam Amalgamasi Bijih Emas Pada Pertambangan Rakyat
Pengetahuan penambang emas tentang penggunaan daun dalam proses amalgamasi bijih emas pada pertambangan rakyat diperoleh secara turun temurun. Walaupun daun telah lama digunakan sebagai bahan aditif dan diyakini dapat meningkatkan perolehan emas dan perak dalam proses amalgamasi, namun hingga kini informasi tentang peranannya masih simpang siur. Guna mengetahui sejauhmana peranan daun sebagai bahan aditif, tiga (3) jenis daun yaitu babadotan (Ageratum conizoides), nampong (Eupatorium molifolium) dan asipatiheur (Lantana camara) diteliti di Laboratorium Kimia Mineral, Pusat Penelitian Geoteknologi - LIPI. Tujuan penelitian adalah untuk memperoleh kejelasan tentang peranan daun tersebut sebagai bahan aditif dalam proses amalgamasi bijih emas. Metoda penelitian dilakukan melalui eksperimentasi laboratorium dengan melibatkan parameter kimia dan fisika. Tahapan penelitian terdiri dari proses ekstraksi daun tersebut menjadi bentuk cairan dengan nisbah antara aquades/daun 1:1 hingga 1:4, serta karakterisasi melalui analisis gas chromatografi dan pengujian konsentrasi keasaman larutan (pH), baik pada kondisi normal maupun dalam lingkungan suasana asam dan basa. Hasil pengujian gas chromatografi menunjukkan bahwa ketiga jenis ekstrak daun tersebut didominasi (> 80 %) oleh asam asetat (C2H4O2). Asam ini termasuk jenis asam lemah, pada kondisi normal mempunyai tingkat keasaman berkisar antara pH (5-6). Pengujian dalam lingkungan suasana asam (pH 4) atau basa (pH 8), asam ini secara signifikan berperan sebagai larutan penyangga (buffer) yang berfungsi sebagai bahan penstabil pH, ditunjukkan oleh grafik fungsi garis lurus mendatar. Tetapi asam ini kurang berperan baik sebagai bahan untuk meningkatkan pH maupun bahan yang berfungsi untuk menjaga agar permukaan logam emas dan perak tetap bersih. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi pemangku kepentingan (stakeholder) khususnya industri “pertambangan rakyat”.