RISET Geologi dan Pertambangan
Not a member yet
304 research outputs found
Sort by
RAPID EX SITU COLLECTION AND THERMAL BEHAVIOR ANALYSIS OF VOLATILE ORGANIC MATTERS BY THERMAL EXTRACTION CONE CHAMBER FOR HIGH UN-BURNT CARBON COAL FLY ASH
A thermal extraction cone chamber system has been modified to measure differential thermal functions and products where overall volatile organic matters are lost to the environment during heating. The aims of the research are to analyze and measure the thermal behavior of high un-burnt carbon coal fly ash derived from textile industrial power in Bandung. Efforts are being made to find the solution in large-scale utilization for alternative energy based on their by product. The sample analysis show that volatile organics matter exceed 30%, which means that others oxides element content are independently favorable. The modified cone chamber can collect the sample up to the total volumes of 30% of the chamber. In contrast to traditional chamber sample collectors, the modified cone extracts volatile organics matter from high un-burnt carbon coal ash divided in two treatments. Results show that the energy of pyrolisis, direct combustion or simple carbonization can be recovered (20%-42%) from wet or dry sample, with extraction efficiency compound-specific. During the direct combustion experimentation, resulted to the embedded energy is pushing up to 2790C for the average of volatile organic matters of 34% and for pyrolisis experimentation is 3300C for average volatile organic matters of 30%. The maximum thermal productivity values of 80 minutes for the direct combustion is 10220C and for pyrolisis is 10310C, and the contrary of 10 minutes, for the direct combustion is 7430C and for pyrolisis is 7010
Studi Potensi Batuan Induk pada Sub Cekungan Banyumas dan Serayu Utara
Kajian yang dilakukan di daerah Banjarnegara, Wonosobo dan Kebumen bertujuan untuk memperoleh data permukaan endapan klastik berbutir halus serta karakteristik litofasiesnya yang diduga berpotensi sebagai batuan induk. Sebanyak 9 conto dianalisa kandungan material organik karbonnya (TOC). Hasil analisa tersebut memperlihatkan bahwa nilai TOCnya berkisar antara 0,08 % dan 1,42 %. Berdasarkan hasil tersebut, didapatkan 2 conto berpotensi baik dan 3 conto berpotensi sedang untuk dapat membentuk hidrokarbon, sedangkan 4 conto lainnya tidak berpotensi untuk membentuk hidrokarbon. Pyrolisis rock-eval dilakukan terhadap 5 conto yang berpotensi membentuk hidrokarbon, dan mempunyai nilai HI berkisar antara 26 dan 95 mgHC/gTOC. Berdasarkan nilai parameter evaluasi batuan induk HI (Waples, 1985), conto tersebut berada dalam fasies organik CD dan D. Batuan induk tersebut dapat menghasilkan gas dalam kuantitas kecil. Hasil sementara dari pengamatan singkapan menunjukkan bahwa batuan klastik berbutir halus di daerah Banjarnegara diduga diendapkan dalam lingkungan dysaero
ALTERASI DAN MINERALISASI DI SAYAP BARAT PEGUNUNGAN BUKIT BARISAN: KASUS DAERAH KOTA AGUNG DAN SEKITARNYA KABUPATEN TANGGAMUS - PROPINSI LAMPUNG
Analisis petrografi dan mineragrafi telah dilakukan pada sekitar 30 contoh batuan yang dikumpulkan dari daerah Kota Agung di sayap barat Pegunungan Bukit Barisan, Sumatera. Sebagian besar daerah penelitian ditutupi oleh Formasi Hulusimpang yang dikenal berasosiasi dengan alterasi dan mineralisasi. Analisis petrografi dari batuan-batuan menunjukkan variasi komposisi mineralogi dari asam sampai basa. Proses alterasi yang terjadi di daerah penelitian dicirikan oleh kehadiran dari klorit, karbonat, epidot, silika dan mineral lempung. Mineral-mineral alterasi ini berasosiasi dengan mineral logam seperti pirit, kalkopirit, sfalerit, magnetit, tetrahidrit dan emas. Kelompok asosiasi ini dapat disebandingkan dengan zona propilitik dan argilik dengan kisaran suhu dari sekitar 200°C ke 250°C atau sebanding dengan sistem epithermal tipe sulfidasi rendah. Mineralisasi di sebagian besar daerah penelitian dicirikan oleh tipe alterasi propilitik yang digantikan oleh argilik, dan tipe argilik. Fenomena ini dapat diamati melalui pemunculan kristal-kristal atau urat-urat yang mengalami overprint dan pergeseran atau bukaan dari urat-urat tipis kuarsa. Dan juga pengendapan dari pirit, magnetit dan sfalerit menunjukkan tekstur penggantian; sedangkan pirit dan galena menunjukkan tekstur penguncian sederhana seperti yang teramati pada conto dari Way Kerap. Kedua asosiasi memiliki kisaran temperatur kristalisasi yang berbeda. Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa lebih dari dua kali proses hidrotermal telah terjadi di daerah penelitian
UJI REGRESI LINIER BERGANDA UNTUK MENENTUKAN KONDISI DAN RELASI JUMLAH ARANG DENGAN TEMPERATUR DAN WAKTU PADA PROSES KARBONISASI GAMBUT
Percobaan karbonisasi dengan menggunakan gambut yang berasal dari daerah Tulung Salapan, Sumatera Selatan telah dilakukan di laboratorium. Serangkaian data-data mengenai waktu; temperatur karbonisasi; dan jumlah arang/char-yield hasil karbonisasi gambut telah dikumpulkan. Untuk menelaah hubungan antara char-yield dengan temperatur dan waktu karbonisasi serta kondisi proses karbonisasi gambut tersebut suatu metoda uji regresi linier berganda digunakan dan diwakili oleh persamaan: Z = f(temp, waktu) = {99,310 – 0,113 *temperatur – 0,390*waktu}. Pengujian keberartian terhadap persamaan diatas dengan analisa variansi uji F memperlihatkan bahwa nilai F = 92,725 yang ternyata lebih besar dari nilai Ftabel dengan tarap signifikansi 5% atau F0,05 (2; 39) yang besarnya adalah 3,23. Hal ini berarti bahwa hipotesa nol/Ho ditolak dan menunjukkan bahwa pengaruh temperatur dan waktu karbonisasi terhadap char-yield memang ada dan diakui dalam proses, beserta pula persamaan diatas (model) memenuhi persyaratan yang diinginkan sehingga dapat digunakan. Pengujian keberartian dari masing-masing koefisien regresi dengan uji t menunjukkan nilai t untuk masing-masing koefisien adalah sebagai berikut: tbo = 21,454; tb1 = -10,394; dan tb2 = -8,799. Dengan tarap signifikansi a = 5% dan dengan derajat kebebasan v = (n-k); maka nilai ttabel atau t a,(n-k) atau t0,05,(39) adalah 1,679. Hal diatas mempunyai arti bahwa: ada pengaruh positip dari X atau Y terhadap Z; pengaruh negatip dari X terhadap Z dan pengaruh negatip dari Y terhadap Z. Selanjutnya hasil perhitungan menghasilkan nilai rxz,y = -0,857, yang menunjukkan besarnya sumbangan (share) kuatnya hubungan dari X terhadap Z dengan mengandaikan Y tetap/konstan. Nilai ryz,x = -0,816 menunjukkan besarnya share dari Y terhadap Z dengan X tetap. Nilai Koefisien Korelasi Pearson (r) atau Koefisien Moment Product (multiple R) adalah 0,909 yang menunjukkan besarnya derajat keeratan dari hubungan antara variabel char-yield terhadap waktu dan temperatur karbonisasi. Perhitungan juga memperlihatkan bahwa nilai Koefisien Determinasi (R square = r2) adalah 0.826, yang berarti bahwa 82,6% besarnya char-yield dipengaruhi oleh waktu dan temperatur karbonisasi, sedangkan sisanya sebesar 17,4% ditentukan oleh faktor atau variabel lainnya. Nilai r2 yang disesuaikan (adjusted R square) adalah 0,817 yang berarti besarnya pengaruh waktu dan temperatur terhadap char-yield yang sesungguhnya adalah sebesar 81,7%. Hasil interpretasi juga memperlihatkan bahwa proses karbonisasi gambut terbaik adalah proses karbonisasi pada temperatur 350oC dengan waktu karbonisasi selama 25 menit. Hal ini didasarkan pada hasil perhitungan yang menunjukkan bahwa pada percobaan tersebut besarnya char-yield prediksi adalah 50,01% dibandingkan dengan 50,14% char-yield percobaan yang berarti bahwa nilai residualnya adalah sebesar 0,13%