RISET Geologi dan Pertambangan
Not a member yet
    304 research outputs found

    PORE SIZE DISTRIBUTION AND FLOW CHARACTERISTICS IN A FORESTED HEADWATER CATCHMENT

    Get PDF
    ABSTRACT It is obvious in recent publications that pores and pores size distribution play an important role in flow generation, yet the study of dynamic behavior of the effects of pores and pores size distribution on flow characteristics is somewhat rare. As micro pores, mezzo pores and macro pores are various in the soil, the distribution as well as characteristics of those pores are the major factor of flow characteristics in the soils. Pores size distribution was determined considering the volumetric water content at each matric head defined from soil water characteristics curves. Mathematically, pores size distribution is calculated using formula of r = 0.15/h, where r is radius of the pore and h is matric head. The flux of water was determined by installing tensiometer and piezometer in a transect across the hillslope and riparian zone.  The results showed that the different of those between hillslope and riparian provides insight that the effects of pores and pores size distribution varies with hydrological zone.  In riparian zone, flows are highly affected by micropores (R2 = 0.49), mezopores (R2 = 0.26) and total porosity (R2 = 0.28), while in hillslope side only micropore is dominant. The relationship between pores size distribution and water flow suggested that in hillslope side the flow was dominated by slow flow as micro pores has affected, while in riparian zone the rapid flow was more obvious as mezopores and total porosity have affected

    Perkiraan Tingkat Erosi Tanah di Sub Das Besai, Lampung Barat

    Get PDF
    ABSTRAK Tingkat erosi tanah di sub DAS Besai telah diperkirakan sebagai dasar kuantitatif dalam merekomendasikan upaya mempertahankan, memulihkan, meningkatkan kesuburan dan fungsi tanah sebagai pengatur tata air. Perkiraan tingkat erosi tanah dilakukan dengan metoda RUSLE yang dilakukan secara spasial dengan menggunakan perangkat lunak Sistem informasi geografis (SIG). Erosivitas, erodibilitas, kemiringan lereng, panjang lereng, sistem penanaman dan faktor konservasi merupakan 6 parameter data yang dimasukan dalam pendekatan RUSLE. Tingkat konversi lahan, khususnya hutan lindung menjadi lahan pertanian dan perkebunan, sangat pesat terjadi di Sub DAS Besai. Sub DAS Besai yang terletak di wilayah Kecamatan Sumber Jaya, Kabupaten Lampung Barat merupakan salah satu bagian hulu DAS Tulang Bawang Lampung. Selama rentang waktu 30 tahun (1970 – 2000) telah terjadi penurunan tutupan lahan hutan sebesar 48 %. Perubahan terjadi sebagai akibat tingginya aktivitas masyarakat dalam usaha tani kopi monokultur dan tanaman semusim.  Hasil studi menunjukkan 23.62% wilayah penelitian dikategorikan dalam tingkat erosi tanah yang normal, tingkat ringan seluas 42.98%, tingkat moderat seluas 14.57%, tingkat berat seluas 15.38% dan sangat berat seluas 3.45%. Seluas 45% wilayah dengan tutupan lahan perkebunan kopi mengalami tingkat erosi dalam kategori ringan sampai sangat berat pada semua rentang kelerengan dan jenis tanah. Tampaknya perkebunan kopi sistem monokultur mengakibatkan lapisan tanah akan sangat mudah tergerus oleh adanya aliran permukaan dikarenakan tidak adanya tutupan tanah di bawah kanopi tanaman kopi tersebut

    POTENSI LIKUIFAKSI AKIBAT GEMPABUMI BERDASARKAN DATA CPT DAN N-SPT DI DAERAH PATALAN BANTUL, YOGYAKARTA

    Get PDF
    ABSTRAK Gempabumi dapat menimbulkan bahaya likuifaksi yang dapat merusakkan bangunan dan sarana infrastruktur khususnya di wilayah perkotaan di Indonesia. Investigasi  geoteknik bawah permukaan telah dilakukan di daerah Patalan, Bantul, Yogyakarta, untuk mendapatkan gambaran susunan lapisan tanah dan kekuatannya, menentukan kedalaman dan ketebalan lapisan tanah yang berpotensi likuifaksi dan penurunan lapisan tanah akibat likuifaksi. Analisis potensi likuifaksi dilakukan menggunakan data CPT (cone penetration test) dan N-SPT (standard penetration test), dengan mempertimbangkan nilai percepatan getaran tanah maksimum (p.g.a) sebesar 0,25g, magnitudo gempabumi sebesar 6,2 SR dan muka airtanah setempat. Hasil penyelidikan menunjukkan bahwa lapisan tanah lepas selama gempabumi terdiri dari pasir lanauan dan lanau pasiran pada kedalaman antara 0,2  - 12,8 m. Analisis potensi likuifaksi mengindikasikan bahwa ketebalan lapisan tanah yang berpotensi terlikuifaksi bervariasi antara 0,2 m dan 5,2 m, Sedangkan penurunan total lapisan tanah terutama terkonsentrasi di wilayah bagian tengah yang terletak di jalur Patahan Opak dengan besaran antara 0,21 cm hingga 12,98 cm Zona likuifaksi dan penurunan ini berada pada lapisan sedimen bagian atas yang mengisi pada cekungan Bantul di sekitar Patahan Opak

    Aplikasi Sistem Informasi Geografi Untuk Menentukan Daerah Prioritas Rehabilitasi di Cekungan Bandung

    Get PDF
    Sistem pengolahan data spasial dengan memanfaatkan sistem informasi geografi digunakan untuk menentukan daerah prioritas rehabilitasi di cekungan Bandung. Rehabilitasi lahan diperlukan untuk mengurangi degradasi fungsi hidrologi yang sedang terjadi. Peta tingkat kekritisan air dihasilkan melalui analisis spasial (tumpang susun (overlaying),tumpang tindih (intersecting) serta operasi scoring) pada topografi, peta tataguna lahan, peta tanah dan peta distribusi hujan. Daerah prioritas rehabilitasi di cekungan Bandung ditentukan dengan cara menumpang susunkan peta tematik tingkat kekritisan resapan air dengan hasil pemodelan airtanah. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa dengan menggunakan analisis spasial dalam Sistem Informasi Geografi dapat ditentukan daerah prioritas rehabilitasi di cekungan Bandung. Daerah prioritas rehabilitasi di cekungan Bandung adalah hulu Majalaya, hulu Soreang, Lembang, Tanjungsari, Cimahi (Batujajar) dan daerah sekitar Gununghalu. Rehabilitasi yang disarankan untuk mengurangi degradation hidrologi adalah perbaikkan tutupan lahan di hulu daerah problematik

    Geotechnical Investigation of Land Movement on Roadway at KM 23, Citatah Area, West Java Province

    Get PDF
    Gerakan tanah di daerah Citatah terjadi di km 23 jalan raya dari Bandung ke Jakarta, Jawa Barat, Indonesia. Dimensi lereng yang longsor diperkirakan sepanjang 200 meter yang terletak di daerah dengan morfologi sedang sampai tinggi. Aktifitas gerakan tanah diatas memberikan dampak terhadap jalan tersebut yang melintasi badan lereng yang longsor. Penelitian geologi teknik dan geofisik dilakukan untuk mempelajari mekanisme dan karakter dari tanah dan batuan pada longsoran/rayapan diatas. Analisis tahanan jenis  menunjukkan bahwa lapisan tanah yang tidak stabil mempunyai nilai antara 23-25 Ωm, lapisan antara batulempung berupa silt dan batupasir,  mempunyai nilai tahanan jenis antara 7-17 Ωm, tahanan jenis batulempung antara 2-7 Ωm, and batuan andesit sebagai sill antara 40-85 Ωm. Analisis conto inti batuan yang diambil dari pemboran dangkal  memperlihatkan hubungan antara nilai tahanan jenis dan jenis batuan.  Lapisan batulempung pada lubang bor 1 dengan kedalaman 9 m, memberikan indikasi nilai tahanan jenis antara 3-7 Ωm.  Sedangkan pada lubang bor 2, batulempung pada kedalaman 14 m. Kedua lapisan batulempung diatas diperkirakan merupakan bidang lincir dari gerakan tanah.  Hasil dari penyelidikan yang telah dilakukan dapat dijadikan pertimbangan dalam melakukan teknik mitigasi longsoran didaerah  ini. Untuk itu lintasan jalan yang diusulkan disarankan untuk melintasi diatas batuan andesit yang terletak diantara batulempung diatas, yang merupakan formasi Batuasih

    Annual growth band analysis of Porites corals: case study Seribu Islands corals, Indonesia

    Get PDF
    ABSTRAK Pertumbuhan koral bergantung pada beberapa faktor lingkungan, diantaranya yaitu suhu muka laut, salinitas, sedimentasi dan cahaya. Pada tulisan ini dibahas mengenai analisa parameter pertumbuhan tahunan koral (yaitu kecepatan kalsifikasi, densitas dan pertumbuhan linear) dari koral-koral yang diambil di wilayah Kepulauan Seribu. Hasil analisa beberapa parameter dari beberapa lokasi pengambilan koral di Kepulauan Seribu (yaitu Bidadari, Air dan Jukung) tersebut kemudian dibandingkan untuk lebih mengetahui pengaruh perubahan lingkungan di wilayah daratan terhadap koral di perairan terumbu koral Kepulauan Seribu. Metode Coral XDS digunakan untuk analisa parameter pertumbuhan tahunan koral. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa koral dari Jukung (offshore) memperlihatkan kenaikan kecepatan kalsifikasi, sedangkan koral dari Air dan Bidadari menunjukkan penurunan kecepatan kalsifikasi selama periode 1985-2005. Walau begitu, penyebab penurunan atau kenaikan kecepatan kalsifikasi tersebut masih perlu diteliti lebih lanjut, terutama diperlukan kalibrasi antara parameter pertumbuhan tahunan koral dengan kondisi lingkungan (suhu, salinitas, sedimentasi dll) dimana koral tersebut diambil. Hal tersebut memerlukan monitoring dalam waktu yang lama

    Identifikasi Potensi Bencana Alam dan Upaya Mitigasi yang Paling Sesuai Diterapkan di Pesisir Indramayu dan Ciamis

    Get PDF
    ABSTRAK Sebagai negara kepulauan terbesar, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam pesisir melimpah dan potensi bencana alam yang tinggi. Konfigurasi pulau besar dan pulau kecil menempatkan Laut Jawa sebagai perairan dalam yang mengakibatkan pantura Jawa sering diterjang gelombang pasang sehingga mengalami abrasi. Posisi lempeng tektonik di sébelah selatan Pulau Jawa mengakibatkan gempabumi dan tsunami sangat potensial melanda pansela Jawa. Tulisan ilmiah ini bertujuan mengetahui potensi bencana alam dan bentuk mitigasi yang sesuai diterapkan di pesisir Indramayu dan Ciamis. Metode analisis yang digunakan adalah Interpretive Structural Modeling dan hasil analisis data serta pendapat pakar menunjukkan bahwa bencana potensial di Indramayu adalah gelombang pasang diikuti banjir dan abrasi, dan di Ciamis adalah gempabumi, tsunami diikuti oleh gelombang pasang. Bentuk mitigasi yang paling sesuai ditentukan oleh Metode Perbandingan Eksponensial dimana di Indramayu adalah gabungan pemecah ombak, peredam abrasi, dan penahan sedimentasi sejajar pantai serta gabungan penanaman mangrove, terumbu karang buatan dan revitalisasi pasir pantai. Di Ciamis, adalah sistem peringatan dini, penyelamatan diri dan gabungan pemecah ombak, peredam abrasi, dan penahan sedimentasi sejajar pantai

    Degradasi Kualitas Airtanah Berdasarkan Kandungan Nitrat di Cekungan Airtanah Jakarta

    Get PDF
    ABSTRACT At the present time, more than 13 millions people live in Jakarta Area and it will increase in the near future. This population pressure increases the groundwater abstraction in the area and can cause groundwater, either quality or quantity, problems. The quality decreasing is marked by the appearance of some pollutants, such as nitrate pollutant which is produced by human activity, i.e. domestic waste, garbage leaching, and fertilizer over used. The analysis result of nitrate (NO3) content in groundwater was varied from 0.00 to 79,737 mg/l. The high content of nitrate were found in dug well of unconfined aquifer, while in the groundwater of confined aquifer the nitrate content is relatively low, < 4 mg/l . It is concluded that the presentation of those pollutant is caused by poor sanitation system and the presentation of nitrate pollutant is very much connected with un-control groundwater abstraction either for domestic or industry use. Keywords : Groundwater, Nitrate, Pollutant, Jakarta Groundwater Basin ABSTRAK Pada saat ini, wilayah DKI Jakarta di huni oleh lebih dari 13 juta penduduk dan cenderung bertambah di tahun-tahun mendatang. Pertambahan penduduk tersebut telah mengakibatkan terjadinya perubahan kondisi airtanah baik kuantitas maupun kualitas. Penurunan kualitas airtanah ditandai dengan terdeteksinya kehadiran beberapa polutan diantaranya polutan nitrat, yang sangat berhubungan dengan kegiatan manusia seperti pembuangan limbah domestik, pelindihan TPA, dan penggunaan pupuk yang berlebihan. Analisis kandungan nitrat (NO3-) pada airtanah memberikan hasil yang sangat beragam mulai 0,00 – 79, 737 mg/l. Nitrat yang cukup tinggi terdapat di sumur gali pada akuifer tidak tertekan, sedangkan pada akuifer tertekan kandungan nitrat masih sangat rendah, < 4 mg/l. Disimpulkan bahwa kehadiran polutan dalam airtanah disebabkan oleh sanitasi atau sistem buangan limbah yang kurang baik dan kehadiran polutan nitrat menunjukkan adanya keterkaitan dengan pemanfaatan airtanah yang tidak terkendali, baik untuk rumah tangga maupun untuk industri. Kata kunci : airtanah, nitrat, polutan, cekungan airtanah Jakart

    Perkembangan Tektonik Daerah Busur Muka Selat Sunda dan Hubungannya dengan Zona Sesar Sumatera

    Get PDF
    The subduction of the Indian-Australian Plate beneath the Eurasian Plate is oblique (~45o) along Sumatra. A major zone of dextral strike slip displacement along Sumatra Island, called the Sumatra Fault, partially accommodates the oblique convergence off Sumatra. On the contrary, the subduction is normal along Java; therefore, no major fault zone can be found along the Java Island. The transition zone of the Sunda Strait fore arc, which is located between Java and Sumatra fore arc, is subject to northwest-southeast extension related to the motion of the Sumatra Fault and north-south compression because of subduction. Geophysical studies show that continuous extension dominated the Sunda Strait fore arc region. The results are interpreted as showing ongoing separation of the Sunda Strait fore arc region as the Sumatra fore arc plate has moved northwest, bounded by the Sumatra Fault. Therefore, the Sumatra Fault can also be interpreted to extend across the fore arc to the trench in the form of several graben systems. Key words: Sunda Strait, Sumatra Fault Zone, fore arc tectoni

    Benefit of Channel Availability In An Underground Coal Gasification Laboratory

    Get PDF
    Keunggulan dari keberadaan alur gasifikasi pada percobaan gasifikasi batubara bawah tanah diselidiki di laboratorium. Percobaan dilakukan dengan menggunakan sebuah reaktor simulasi berbentuk persegi panjang yang terbuat dari besi. Dalam studi ini ada dua percobaan yang dilakukan yaitu: percobaan pertama tanpa adanya alur gasifikasi dan percobaan kedua dengan sebuah alur gasifikasi didalam reaktor. Hasil percobaan menunjukkan bahwa jumlah gas CO2 adalah dalam kisaran (4,6-11,4)% dan (11,6-14,4)%; gas CO dalam kisaran (0,3-4,0)% dan (1,2-6,8)%; gas H2 dalam kisaran (0,1-2,5)% dan (1,6-3,2)%; gas C3H8 dalam kisaran (0,0-0,6)% dan (0,2-0,9)%; gas CH4 dalam kisaran (0,0-2,2)% dan (0,4-3,0)%, gas CnHm adalah dalam kisaran  (0,0-0,0)% dan (0,0-0,4)% untuk percobaan pertama dan kedua berturut-turut. Nilai kalori gas adalah dalam kisaran (81-343)kcal/m3 dan (263-516)kcal/m3 berturut-turut. Kisaran dari pengembangan temperatur pada saat proses gasifikasi berjalan menunjukkan bahwa pada percobaan pertama, kisaran temperatur gasifikasi T1 pada adalah (335-565)oC; dan T2 adalah dalam kisaran (110-240)oC. Dilain pihak, T1 untuk percobaan kedua adalah dalam kisaran (550-705)oC dan T2 dalam kisaran (160-628)oC. Selain itu  pada percobaan pertama, pola perubahan temperatur T1 dan T2 mempunyai kecenderungan menurun, sedangkan pada percobaan kedua, pola temperatur T1 dan T2 tersebut mempunyai kecenderungan meninggi seiring dengan jalannya proses gasifikasi. Hal ini dapat disimpulkan bahwa adanya alur gasifikasi pada percobaan kedua memungkinkan reaksi-reaksi gasifikasi berjalan lebih efisien dibandingkan dengan reaksi-reaksi yang terjadi pada percobaan pertama tanpa alur didalamnya.

    263

    full texts

    304

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    RISET Geologi dan Pertambangan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇