RISET Geologi dan Pertambangan
Not a member yet
304 research outputs found
Sort by
MODEL GEOPLANOLOGI DALAM PERENCANAAN TATA RUANG DAERAH RAWALO, BANYUMAS, JAWA TENGAH
Kondisi tata ruang, khususnya kawasan pemukiman yang tidak sesuai dengan kemampuan lahannya di Kecamatan Rawalo, Kabupaten Banyumas, Propinsi Jawa Tengah, memerlukan perhatian untuk dikaji lebih mendalam. Pemodelan geoplanologi dapat membantu penataan kawasan sesuai kemampuan lahannya. Metode penelitian yang digunakan adalah pemetaan geologi lapangan, pembobotan peta-peta tematik dan analisis komprehensif untuk mendapatkan karakteristik geologi dan kemampuan lahan pada daerah penelitian. Berdasarkan pemodelan geoplanologi, terdapat tiga kriteria kawasan di daerah penelitian yaitu kawasan budidaya (pemukiman, perdagangan dan perkantoran), kawasan budidaya terbatas (perkebunan, hutan produksi dan daerah wisata alam) serta kawasan lindung (hutan lindung, hutan produksi, serta daerah wisata alam). Hasil analisis menunjukkan bahwa beberapa wilayah permukiman saat ini tidak sesuai dengan kondisi kemampuan lahannya. The spatial condition which could not accomodate the land capability such as the residential areas in Rawalo sub district, Banyumas Regency, Central Java Province requires in depth analysis. Geoplanology modeling could assist the land planning based on its capability. The method used consisted of geological mapping, weighting of thematic maps and a comprehensive analysis to obtain geological characteristics and capabilities of land. Geoplanology modeling resulted in three criteria of land capability: cultivated area (residence, commerce and office complex), limited cultivated area (plantation, productive forest land and natural tourism) and protected area (reserved forest, productive forest and natural tourism). Analysis result showed that some residential areas in the study area are not in accordance to its land capability.
KARAKTERISASI PANAS BUMI DIWAK DAN DEREKAN DAN IDENTIFIKASI SESAR DENGAN MENGGUNAKAN METODE AUDIOMAGNETOTELLURIK
ABSTRAK Survei audio-magnetotelurik dilakukan pada bulan September 2013 di area panas bumi Diwak dan Derekan dengan tujuan untuk mengidentifikasi sumber panas, reservoir dan cap rock. Pengukuran dilakukan dengan alat Stratagem pada frekuensi 1Hz-100 kHz, di 17 titik dalam 3 lintasan. Data yang diperoleh antara lain adalah resistivitas semu, fase, dan koherensi sebagai fungsi dari frekuensi yang diolah dengan menggunakan perangkat lunak WinGLink. Karakterisasi panas bumi meliputi sistem cap rock dengan nilai resistivitas 0-10 Ωm dimana daerah ini merupakan zona konduktivitas. Selanjutnya daerah reservoar diduga dengan memiliki nilai resistivitas dengan rentang 50-500 Ωm dengan kedalaman sekitar 500 m. Sumber panas yang berada dalam sistem panas bumi nilai ini memiliki resistivitas > 500 Ωm, dengan kedalaman sekitar 1,5 km. Selain itu, dari model ketiga lintasan tersebut dapat ditarik garis struktur sesar yang berarah barat daya-timur laut. Sesar ini dapat merupakan penyebab munculnya manifestasi Diwak dan Derekan.ABSTRACT An Audio-Magnetotellurics (AMT) survey was carried out in September 2013, in the Diwak and Derekan geothermal fields. The purpose of the survey was to locate the heat source, reservoir, and cap rock of the geothermal system. Measurements were carried out by Stratagem with frequency range from 1 HZ to 100 kHz, at 17 stations in 3 lines. The data obtained from the field were apparent resistivities, phase differences, and coherences as a function of frequency. The data then were processed using WinGLink software package. Characterizations of geothermal systems include the cap rock with a resistivity of 0-10Ωm where the area is a zone of conductivity. Then, the suspected reservoir area has a resistivity value with a range of 50-500 Ωm with a depth of about 500 m. The heat source might be in the area of resistivity values of more than 500Ωm at a depth of about 1.5 km. Based on the sub surface modeling from 3 lines of measurements, there is a possible southwest-northwest fault lineament that might cause the Diwak and Derekan manifestation
SYNTHESIS OF NICKEL CONTAINING PIG IRON (NCPI) BY USING LIMONITE TYPE OF LATERITIC ORE FROM SOUTH EAST SULAWESI
ABSTRAK Nickel contain pig iron (NCPI) merupakan bahan baku penting dalam pembuatan baja tahan karat dan baja paduan lainnya. Sumber alami NCPI adalah bijih laterite. Cadangan bijih laterit dalam jumlah besar telah ditemukan di Provinsi Sulawesi Tenggara. Bijih laterit kadar tinggi dari wilayah ini telah diproses untuk menghasilkan ferronikel, sedangkan bijih laterit kadar rendah, karena kadar nikelnya yang terlalu rendah, tidak digunakan dalam pembuatan ferronikel. Dalam penelitian ini bijih laterit kadar rendah telah dicoba dimanfaatkan sebagai bahan baku dalam pembuatan NCPI. Terhadap bijih laterit dilakukan proses reduksi pada berbagai temperatur. Hasil pengamatan menunjukan bahwa reaksi reduksi meningkat seiring dengan naiknya temperatur proses. Pada temperatur 1200oC telah tebentuk secara signifikan fasa logam. Hasil peleburan terhadap hasil reduksi menghasilkan NCPI dengan kadar nikel dan besi masing-masing 3,7 dan 86,8%. Analisa morfologi terhadap hasil peleburan menunjukan bahwa NCPI yang dihasilkan mengandung lapisan kaya besi-kromiun dan butiran besi kromium yang kaya belerang dalam matrik paduan besi nikel. Abstract Nickel containing pig iron (NCPI) is one of important materials for stainless steel and other iron-nickel alloys production. The natural source of NCPI in Indonesia is laterite ore. Large deposit of laterite ore has been found in South East Sulawesi. High grade laterite ore (saprolitic type of laterite ore) in this region has been used for ferronickel making, whereas low grade laterite ore (limonitic type of laterite ore) has not been processed, due to its too low nickel content. Through this recent research, low grade laterite ore has been utilized as raw material in nickel pig iron making experiment. Laterite ore was reduced by carbon at various temperatures. It has been found that reduction reaction increases with an increasing in temperature. At 1200oC, metal phase has been formed significantly. The melting of reduced ore results in NCPI that contains 3.17% nickel and 86.8% iron. The analysis to NCPI morphology shows that microstructure of NCPI consist of iron-chromium layer and rich sulfur iron chromium grain in the matrix of iron nickel
PENCEMARAN LIMBAH DOMESTIK DAN PERTANIAN TERHADAP AIRTANAH BEBAS DI KABUPATEN BANDUNG
Airtanah bebas merupakan salah satu sumber air bersih bagi penduduk di Kabupaten Bandung bagian selatan. Pemanfaatannya dilakukan dengan cara membuat sumur gali maupun sumur pantek. Lokasi sumur-sumur tersebut berdekatan dengan sumber pencemar domestik dan pertanian sehingga rentan terkontaminasi. Pencemar yang dapat timbul pada air sumur akibat limbah domestik adalah solid, ammonium, dan bakteri coliform. Sementara, pencemar nitrat umumnya bersumber dari kegiatan pertanian. Untuk mengetahui pencemaran airtanah di lokasi penelitian, dilakukan analisis kimia air dan kandungan bakteri coliform, pada 21 conto air dari sumur gali di Kabupaten Bandung bagian selatan. Pemilihan lokasi berdasarkan pada hasil pemantauan kepadatan pemukiman menggunakan citra satelit pada aplikasi Google Earth, kemudian selanjutnya disesuaikan dengan kondisi lapangan di wilayah penelitian. Hasil analisis menunjukkan telah terjadinya pencemaran solid, nitrat, ammonium, dan coliform di beberapa titik. Hasil pemantauan lapangan memperkirakan nitrat berasal dari kegiatan pertanian, sedangkan solid, ammonium, dan coliform berasal dari limbah domestik. Pergerakan pencemar sampai ke airtanah ini didukung oleh pola aliran airtanah di lokasi tersebut.Unconfined groundwater is the source of clean water to residents in the southern part of Bandung Regency. The need of water is fulfilled through shallow drilling of wells and panteks. The locations of the wells are close to domestic and agricultural pollution sources, so they are vulnerable to get contaminated. Pollutants that may arise in wells water due to domestic waste are solid, ammonium, and coliform bacteria. While, nitrate are generally derived from agricultural activities. To determine the contamination of groundwater at the study area, chemical analysis and coliform bacteria were conducted from 21 wells in southern part of Bandung Regency. The dug well locations were chosen based on the results of monitoring the residential density based on satellite images from the Google Earth application and adjusted to the field conditions in area of research. The result of analysis showed that contamination of solid, nitrate, ammonium, and coliform had occurred at some points. Result of field monitoring estimated that nitrate had derived from agricultural activities, while solid, ammonium, and coliform came from domestic waste. The movement of contaminants to groundwater was supported by the groundwaterflow pattern at the location
TEKNOLOGI PEMBUATAN SPIEGEL PIG IRON MENGGUNAKAN HOT BLAST CUPOLA FURNACE
ABSTRAK Spiegel pig iron merupakan besi kasar (pig iron) mengandung 10-20% Mangan (Mn), yang dapat diperoleh dengan cara melebur bahan baku, berupa bijih mangan, reduktor dan flux. Spiegel pig iron dapat digunakan sebagai bahan paduan pada material baja, seperti plain steel carbon, low alloy steel, dan manganese steel. Dalam penelitian ini akan dipelajari proses pembuatan spiegel pig iron menggunakan tungku hot blast cupola. Spiegel pig iron terbuat dari pellet komposit, yang terdiri dari; bijih mangan kadar rendah (85,5%), batubara (12,5%) dan bentonit (2%). Pelet komposit tersebut dilebur ke dalam hot blast cupola dengan menggunakan bahan bakar berupa kokas. Batu kapur (CaCO3) juga ditambahkan ke dalam tungku tersebut sebagai flux (material pembentuk slag). Serangkaian pengujian dilakukan terhadap produk logam spiegel pig iron dan slag yang dihasilkan, meliputi uji komposisi (menggunakan Optical Electron Spectroscopy/ OES dan Emission Dispersive X-Ray/EDAX) serta analisis struktur mikro (menggunakan mikroskop optik). Dari hasil penelitian ini diperoleh material spiegel pig iron dengan komposisi sebagai berikut: 3,67 C - 1,92 Si - 21,26 Mn. Struktur mikro terdiri dari karbida (Fe,Mn)3C dalam matriks pearlit. Slag memiliki komposisi 20,1 Mn - 1,73 Fe - 52,19 SiO2 - 8 CaO, dengan nilai basisitas 0,2. Struktur mikro slag berbentuk batang (rod) memanjang.ABSTRACT Spiegel pig iron is a pig iron containing 10-20% Manganese (Mn). It is produced by smelting some raw materials, such as manganese ore, reductor, and flux. This material can be used as alloying element in some type of steels, such as plain steel carbon, low alloy steel, and manganese steel. The investigation of Spiegel pig iron making process in hot blast cupola has been conducted in this research. The spiegel pig iron was made from pellets composite, consists of low grade manganese ore (85.5% wt); coal (12.5% wt); and bentonite (2% wt). The pellets composite were smelted with cokes, as a fuel in hot blast cupola. Limestone (CaCO3), as a flux (slag forming material), was also charged. Some of testing method was conducted to spiegel pig iron and slag, which includes; composition analysis (by using Optical Electron Spectroscopy/OES and Emission Dispersive X-Ray/EDAX); and micro structure analysis (by using optical microscopy). The spiegel pig iron containing 3.67 C - 1.92 Si - 21.26 Mn was resulted in this experiment. Its microstructure consists of carbide (Fe,Mn)3C inside pearlite matriks. The slag, containing 20.1 Mn - 1.73 Fe - 52.19 SiO2 - 8 CaO, had basicity 0.2. Its microstructure was in the form of a rod lamellae
SIKLUS MEGA-TSUNAMI DI WILAYAH ACEH-ANDAMAN DALAM KONTEKS SEJARAH
Abstract Mega‐tsunami Aceh‐Andaman 2004 revolutionary changed people awareness of earthquakes and tsunami threats. The event also caused major changes in politics and social infrastructures, from a period of terror to a new government of NAD. Paleoseismological studies indicate two penultimate tsunami events prior to 2004 around 1390 AD and 1440 AD. These are confirmed by the GPS study suggesting the 2004-like event (Mw9.15) can be repeated every six hundred years. In 1236 AD, the well known Islamic state, Samudra Pasai, was arise, marking a new era in Aceh. After 1450 AD, Samudra Pasai seems to be slowly dissapeared. Later in 1496 AD, a new Islamic Kingdom, Aceh Darussalam, appeared and dominated the Aceh region. It is strongly suspected that the changes of power from Samudra Pasai to Aceh Darussalam was linked to the mega‐tsunami events in 1390 and 1440 AD. Understanding ancient natural catastrophic and the affected society is crucial in developing awareness and in natural‐dissaster mitigations, including to rejuvinate a true local wisdomAbstrak Mega tsunami di wilayah Aceh-Andaman pada tahun 2004 merubah masyarakat menjadi melek terhadap ancaman bencana gempa dan tsunami . Bencana 2004 merubah pemerintahan dan tatanan masyarakat di Aceh, dari masa teror ke pemerintahan NAD yang baru. Penelitian paleoseismologi menguak peristiwa bencana gempa-tsunami tahun sebelumnya, sekitar tahun 1390 M dan 1450 Masehi. Fakta ini ditunjang oleh data tektonik geodesi (GPS) bahwa siklus perulangan gempa 2004 (Mw9.15) dapat terjadi sekitar 600 tahunan sekali. Pada tahun 1236, berdirinya Kerajaan islam Samudra Pasai yang cukup dikenal menandai era baru di Aceh. Setelah tahun 1450 Masehi, Kerajaan Samudra Pasai ini seperti meredup dan menghilang. Kemudian pada tahun 1496 Masehi berdiri Kerajaan Baru Islam, Aceh Darussalam yang tidak ada hubungannya dengan Samudra Pasai. Diduga peralihan masa Samudra Pasai ke masa Aceh Darussalam berkaitan erat dengan kejadian tsunami tahun 1390 dan 1440 Masehi tersebut. Memahami kejadian bencana katastropik purba dan masyarakat yang terkena dampaknya adalah aspek yang sangat penting dalam pendidikan kebencanaan, khususnya dalam mengembangkan kesiapsiagaan dan kearifan lokal.
REKONSTRUKSI GEOMETRI AKUIFER KAWASAN PESISIR BUNGUS, SUMATRA BARAT
Abstrak Karakteristik hidrologi yang khas di wilayah pesisir menuntut proses evaluasi, perencanaan dan pembangunan sumberdaya air harus didasarkan pada pendekatan khusus yang dapat mendukung keterbatasan lingkungan hidrologisnya. Penelitian yang dilakukan telah menginventarisasi beberapa parameter hidrologi yang berhubungan dengan kondisi keberadaan air di wilayah pesisir Teluk Bungus, Sumatera Barat. Pengukuran di wilayah pelabuhan perikanan PPS Bungus menunjukkan bahwa sebagian besar air permukaan adalah air payau dan hanya di beberapa lokasi memiliki indikasi air tawar. Hasil pengukuran nilai resistivitas material bawah permukaan dengan metoda geolistrik menunjukkan sistem airtanah di wilayah didominasi oleh sistem airtanah bebas (unconfined) dan bocor (leaky). Sistem akifer hingga kedalaman 130 meter di bawah permukaan laut berada pada endapan-endapan bekas longsoran yang disebut sebagai endapan talus (scree deposit). Beberapa lokasi hasil pengukuran geolistrik dapat direkomendasikan dilakukan pemboran untuk pengambilan airtanah namun dengan prinsip ketelitian dan kecermatan pada saat pelaksanaan serta prinsip pelestarian saat melakukan eksploitasi airtanah.Abstract The typical hydrological characteristic in coastal areas requires that all evaluation, planning and development processes for water resources should be based on specific approaches that support the limitations of hydrological environment at coastal area. This research aims to inventory some hydrological parameters related to the condition of the presence of fresh water in the coastal area of Bungus Bay, West Sumatra. Groundwater measurements around the fishing port area of PPS Bungus showed that most surface water is brackish water with indication of freshwater, locally. Results of the geoelectric survey indicated that groundwater system in the area is dominated by the unconfined and leaky aquifer system. The aquifer system down to 130 meters depth below sea level is within the paleolandslide deposits, which are referred to as scree deposits. The survey results might recommend some drilling locations for groundwater collecting with some precision and accuracy during the execution and sustainability of ground water resources during the exploitation.
KETELITIAN PADA PENANGGALAN DALAM STUDI IKLIM MASA LAMPAU DENGAN MENGGUNAKAN CONTOH KORAL MODERN
Dalam studi iklim masa lampau menggunakan arsip iklim (seperti koral, sedimen, pohon dan lain-lain), penentuan penanggalan (membangun kronologi) merupakan hal penting karena kesalahan dalam penanggalan dapat menjadi kesalahan dalam interpretasi iklim. Studi ini membahas penanggalan untuk studi iklim masa lampau dengan menggunakan arsip iklim koral. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi permasalahan yang muncul dalam membangun kronologi dan ketelitian dalam pembangunan kronologi berdasarkan perlapisan densitas koral. Dalam penelitian ini digunakan contoh koral Porites dari Pulau Jukung, Kepulauan Seribu. Analisis densitas koral dilakukan dengan CoralXDS dan kandungan kimia Sr/Ca dengan ICP OES. Hasil yang diperoleh menunjukkan penentuan kronologi tahunan berdasarkan densitas dalam satu koloni koral namun berbeda garis transeknya dapat menghasilkan perbedaan kronologi. Asumsi rata-rata pertumbuhan tahunan koral yang merupakan salah satu data input dalam perangkat lunak CoralXDS merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kronologi berdasarkan densitas koral. Permasalahan pembangunan kronologi tahunan berdasarkan densitas koral dapat diatasi dengan menggunakan data kimia koral. In paleoclimate studies using climatic archives (such as corals, sediments, tree, etc.), chronology development is important because the error in chronology development may generate an error in the interpretation of climate. This study discussed chronology development in paleoclimate reconstruction using coral as climate archive. The objectives of this study is to identify the problems that arise in chronology development based on coral density band and its accuracy. In this study a Porites coral from Jukung Island, Seribu Islands complex is used as an example. CoralXDS software is used to coral density analysis and coral Sr/Ca is analyzed using ICP OES. The results show that the determination of the annual chronology based on coral density in the same coral colonies but different transect line can produce differences in chronology. The assumption of average annual growth of coral, which is one of the input data in the CoralXDS software, serves as one of the factors that affect the chronology based on the density of coral. Annual chronology development problems based on the density of corals can be overcome by using chemical data content in coral (e.g Sr/Ca)