RISET Geologi dan Pertambangan
Not a member yet
    304 research outputs found

    VARIASI TAHUNAN KECEPATAN KALSIFIKASI KORAL PORITES BERDASARKAN ANALISIS COMPUTED-TOMOGRAPHY SCAN (CT –SCAN) DAN KAITANNYA DENGAN SUHU PERMUKAAN LAUT: WILAYAH STUDI PERAIRAN BIAK, PAPUA

    Get PDF
    Deposition of calcium carbonat (CaCO3) in coral skeleton is known as calcification. The calcification rate is the product of the linear extension rate and the average density at which skeleton was deposited in making that extension. Calcification rate is influenced by the ambient water condition e.g sea surface temperature. To understand the influence of SST to the coral growth, it is required long time series data of both SST and coral growth i.e coral calcification from present time till back tens to hundreds years ago. The aim of this study is to determine the influence of historical SST to coral calcification of Porites coral from Biak waters.  In this study, computer tomography approach is used to analyzed coral calcification. Osirix software is used to analyze the coral image data which is resulted from the computed tomography scanning (CT-Scan). Four coral cores from Biak waters were analyzed for their calcification rate. The results shows that the averaged of calcification rate of four cores increases, which is coincided with increasing of Biak SST during period of 1905-2011. ABSTRAKKemampuan koral mengendapkan kalsium karbonat (CaCO3) dikenal sebagai kalsifikasi. Kecepatan kalsifikasi  merupakan perkalian densitas dan pertumbuhan linear koral tersebut. Kecepatan kalsifikasi koral dipengaruhi oleh kondisi perairan terumbu karang salah satunya adalah suhu permukaan laut (SPL). Untuk memahami bagaimana pengaruh SPL terhadap kalsifikasi koral diperlukan data historis (data urut-urutan waktu) SPL dan kalsifikasi koral dari masa kini sampai masa lalu. Tujuan utama dari studi ini adalah untuk mengetahui sejarah pengaruh SPL terhadap pertumbuhan koral yaitu kalsifikasi dari koral Porites perairan Biak. Dalam studi ini dihitung kecepatan kalsifikasi dengan menggunakan pendekatan tomografi koral dengan menggunakan perangkat lunak Osirix. Hasil scanning computer tomografi (CT-Scan) koral merupakan data inputing Osirix. Empat contoh koral dari perairan Biak dilakukan analisis kecepatan kalsifikasi.  Hasil rata-rata kecepatan kalsifikasi dari ke empat contoh koral Porites Biak menunjukkan kenaikan kecepatan kalsifikasi koral yang selaras dengan kenaikan SPL selama periode 1905-2011.

    IMPLEMENTASI MATERIAL PRESERVASI MIKROORGANISME (MPMO) DALAM PEMROSESAN LIMBAH CAIR ORGANIK PADA INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH

    No full text
    ABSTRAK Pemrosesan limbah cair organik dalam Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Pabrik Gula Sindanglaut periode giling tebu tahun 2011 belum berlangsung dengan baik ditunjukkan oleh nilai SV-30 di unit Aerasi yang rendah (0-3 ml/L). Kondisi ini mengindikasikan tidak adanya aktivitas mikroorganisme. Oleh karena itu, periode giling tebu bulan Juli 2012 diterapkan Material Preservasi Mikroorganisme (MPMO) bertujuan untuk mengetahui kinerja material tersebut sebagai stater dalam pemrosesan limbah cair organik. Dalam penelitian ini, dilakukan kombinasi kimia dan biologi dengan pengembangbiakkan bakteri dan pemantauan dalam IPAL. Sebagai indikator pemrosesan adalah parameter fisika dan kimia mengacu Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 51 Tahun 1995. Hasil pengukuran kondisi awal IPAL menunjukkan bahwa nilai COD (2.957 mg/L), BOD (2.356 mg/L), TSS (173 mg/L), kandungan sulfide (0,26 mg/L) dan minyak (18,9 mg/L) belum memenuhi syarat baku mutu lingkungan. Sedangkan hasil pengukuran pada kondisi akhir IPAL setelah pemrosesan, menunjukkan nilai COD (56-68 mg/L), BOD (33,63-42,41 mg/L), TSS (32-52 mg/L), kandungan sulfide (0,08 mg/L) dan minyak (1 mg/L) telah memenuhi syarat baku mutu lingkungan. Peningkatan kualitas limbah cair secara signifikan tersebut membuktikan bahwa MPMO dapat berperan sebagai stater dalam pemrosesan limbah cair organik. Sebagai dampaknya adalah peningkatan indikator sertifikasi lingkungan IPAL Pabrik Gula Sindanglaut dari proper merah menjadi proper biru

    DEFORMASI KOMPLEKS DI PULAU SIMEULUE, SUMATRA: INTERAKSI ANTARA STRUKTUR DAN DIAPIRISME

    Get PDF
    The accretionary prism complex has unique morphological characteristic as a result of deformation and sedimentation processes that develop in the area. Simeulue Island is one example of the islands in the accretionary complex. Geological study was arranged to map geological structure and morphology of Simeulue Island by satellite images interpretation and field survey. We use Landsat TM 5, Landsat 8 and Aster-GDEM imageries for morphology and structural geology interpretation. The collision in the deformation front has generally developed reverse and thrust faults in the Simeulue Island. The north-northeast blocks tend to be higher than the south-southwest blocks. Based on imagery interpretation, the dominant thrusts are the trenchward-vergence thrusts. Measurement of structural features and folds reconstruction indicated the existence of the out-of-sequence thrusts, which might activated the arcward-vergence thrust. This arcward-vergence thrust could be interpreted as a backthrust fault of a backstop mechanism in the inner accretionary prism. The thrusts might be correlated to the mud diapirisms that were also found in some locations in the island. The finding of thrusts and mud diapirism traces concurred to the theory that the mélange complexes in subduction zones were formed through mud diapirism that facilitated by backthrust faults.ABSTRAKKompleks prisma akresi memiliki karakteristik morfologi yang unik sebagai hasil dari proses deformasi dan sedimentasi yang berkembang di daerah tersebut. Pulau Simeulue merupakan salah satu contoh pulau yang terbentuk pada prisma akresi. Studi geologi dilakukan untuk menggambarkan keadaan struktur geologi yang terbentuk di Pulau Simeulue yang berhubungan dengan mekanisme pembentukan sesar-sesar anjak pada prisma akresi, pembentukan kompleks batuan bancuh dan mekanisme kubah lumpur. Morfologi dan struktur geologi Pulau Simeulue dipetakan melalui interpretasi citra dan survey lapangan. Citra yang digunakan dalam studi ini adalah citra Landsat TM5, Landsat 8 dan Aster-GDEM. Tumbukan di bagian muka deformasi mengakibatkan berkembangnya struktur berupa sesar-sesar naik dan anjak dimana di bagian utara-timurlaut cenderung lebih naik daripada bagian selatan-baratdaya. Berdasarkan hasil interpretasi citra, sesar-sesar yang berkembang tersebut umumnya merupakan sesar-sesar anjak berarah palung (trenchward-vergence thrusts). Berdasarkan hasil pengukuran fitur struktur di lapangan dan rekonstruksi lipatan di Pulau Simeulue, perkembangan struktur anjak juga terjadi secara out-of-sequence yang mengakibat-kan teraktifkannya sesar anjak berarah busur (arcward-vergence thrusts). Sesar anjak berarah palung dapat diinterpretasikan sebagai backthrust fault dari sebuah mekanisme backstop di bagian belakang prisma akresi. Sesar-sesar anjak ini dapat dikaitkan dengan keberadaan kubah lumpur (mud diapir) yang jejaknya juga ditemukan di beberapa lokasi di Pulau Simeulue. Hal-hal tersebut mendukung teori bahwa kompleks batuan mélange di Pulau Simeulue terbentuk melalui proses mud diapirism yang muncul melalui sesar-sesar anjak

    STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN KOTA SEMARANG BERDASARKAN DATA GAYABERAT

    Get PDF
    ABSTRAK Kota Semarang merupakan kota yang berkembang dari pemukiman tua yang dibangun pada endapan alluvial yang berumur sangat muda. Beberapa fenomena alam yang muncul seiring dengan perkembangan kota Semarang, diantaranya penurunan muka tanah, terjadi banjir rob, dan di beberapa kawasan terjadi longsor. Sejumlah penelitian telah dilakukan untuk mengetahui penyebab dari fenomaena tersebut. Pada penelitian ini telah dilakukan studi gayaberat untuk mengidentifikasi kaitan antara struktur bawah permukaan dengan fenomena penurunan muka tanah. Analisis struktur bawah permukaan dilakukan melalui interpretasi kualitatif terhadap peta anomali gayaberat Bouguer dan anomali residual. Sedangkan interpretasi kuantitatif dibuat model 2-dimensi gayaberat dan model inversi 2-dimensi tahananjenis. Hasil penelitian mempelihatkan rentang anomali Bouguer antara -15 sampai 10 mGal, berada pada zona anomali rendah. Pola struktur yang tergambar didominasi oleh arah baratlaut-tenggara. Anomali di timur relatif lebih tinggi daripada yang di barat yang menunjukkan bahwa basement di bagian timur lebih dangkal dibandingkan dengan yang di sebelah barat. Tiga penampang model gayaberat dibuat dalam 7 lapisan dengan densitas berturut-turut 1.85gr/cc, 2.00gr/cc, 2.20 gr/cc, 2.30 gr/cc, 2.45 gr/cc, 2.6 gr/cc dan 2.85 gr/cc. Hasilnya menggambarkan bahwa dominasi sesar naik dan geser yang terus aktif mengontrol batuan penyusun kota Semarang

    PENGARUH PENGGUNAAN LAHAN TERHADAP FUNGSI KONSERVASI AIR TANAH DI SUB DAS CIKAPUNDUNG

    Get PDF
    Cikapundung sub-watershed is a potential area that serves as the main drainage and supply of residents water need in Bandung. Increased developed land in this region resulted in the conversion of land that extends the number of impermeable surface, that reduces infiltration, decreasing supply and rising groundwater runoff. To determine the effect of landuse on the function of the groundwater conservation, conservation index analysis was conducted. The method is to give weight to the parameters of rock types, soil types, morphology, rainfall and landuse. Each parameter has a value of its effect on the ability to absorb rain water. From the analysis, it is known that changes in landuse during the period 2001 - 2008 has lowered the overall conservation function at Cikapundung sub watershed. Conservation value of the function started to decline as shown by the reduction of good conservation area of 5080,5 h. However, this condition was also followed by the increase of the normal conservation classes of 5093,3 ha and critical conservation area of 12,9 ha. ABSTRAKSub DAS Cikapundung merupakan kawasan potensial yang berfungsi sebagai drainase utama dan penyedia air baku untuk kebutuhan penduduk di Kota Bandung. Peningkatan lahan terbangun di wilayah ini mengakibatkan banyaknya konversi lahan yang memperluas permukaan kedap air yang menyebabkan berkurangnya infiltrasi, menurunnya pasokan airtanah dan meningkatnya limpasan permukaan. Untuk mengetahui pengaruh penggunaan lahan terhadap fungsi konservasi airtanah maka dilakukan analisis indeks konservasi. Metode yang dilakukan adalah memberikan bobot pada parameter jenis batuan, jenis tanah, morfologi, curah hujan dan penggunaan lahan yang masing-masing telah di nilai sesuai pengaruhnya pada kemampuan untuk menyerap air hujan. Dari analisis tersebut diketahui bahwa perubahan penggunaan lahan pada kurun waktu 2001 - 2008 telah menurunkan fungsi konservasi secara keseluruhan pada Sub DAS Cikapundung. Nilai fungsi konservasi mulai menurun ditunjukkan oleh pengurangan kelas yang bernilai konservasi baik seluas 5080,5 ha. Namun kondisi ini juga diikuti dengan kenaikan kelas konservasi normal seluas 5093,3 ha dan penurunan kelas konservasi kritis seluas 12,9 ha

    KLASIFIKASI TINGKAT KERENTANAN GERAKAN TANAH DAERAH SUMEDANG SELATAN MENGGUNAKAN METODE STORIE

    No full text
    South Sumedang area often experiences landslides, which claimed many physical and economical losses. The detailed knowledge of landslide susceptibility based on its physical properties is required to aid the mitigation measures in this area. This study aims to classify the levels of susceptibility of landslides in South Sumedang using Storie method. Physical parameters such as landuse, slope, geology, and precipitation data were used as the input to calculate the Storie Index. The results show that the South Sumedang area has five landslide susceptibility levels: very low, low, medium, high and very high. Most previous landslide locations are within the medium to very high susceptibility zone such as in South Sumedang district, Rancakalong, Situraja and Darmaraja. The landslides took place at bare land with little vegetation, slightly steep to steep slopes and composing rocks of the young volcanic products with medium precipitation/moist.ABSTRAKDaerah Sumedang bagian selatan sering mengalami bencana gerakan tanah yang dapat menimbulkan berbagai kerugian fisik dan ekonomi. Pengetahuan mendetail mengenai tingkat kerentanan gerakan tanah diperlukan untuk mendukung upaya mitigasi gerakan tanah di daerah ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengklasifikasi tingkat kerentanan gerakan tanah daerah Sumedang Selatan dengan mengggunakan metode Storie. Parameter karakteristik fisik wilayah berupa tataguna lahan, kelerengan, geologi dan curah hujan digunakan sebagai masukan perhitungan Indeks Storie. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah Sumedang Selatan memiliki lima tingkat kerentanan gerakan tanah, yaitu sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi. Sebagian besar lokasi longsor berada pada daerah dengan tingkat kerentanan gerakan tanah sedang hingga sangat tinggi seperti di Kecamatan Sumedang Selatan, Rancakalong, Situraja, dan Darmaraja. Analisis hasil klasifikasi menunjukkan bahwa tingkat kerentanan dipengaruhin oleh tataguna lahan, kemiringan, jenis tanah penyusunan, dan curah hujan sebagai faktor pemicu. Gerakan tanah terjadi pada daerah dengan tataguna lahan bervegetasi sedikit, lereng agak curam hingga curam, dan pada litologi batuan penyusun berupa produk gunungapi muda dengan curah hujan sedang/lembab

    GEOCHEMICAL EVIDENCE OF ISLAND-ARC ORIGIN IN VOLCANIC ROCKS OF CENTRAL SUMATERA

    Get PDF
    Abstract. Geochemical study on volcanic in Lampung and Bengkulu regions proposed a preposition that the western part of Sumatera is formed by a separated fragment with island-arc character and does not belong to continental margin of Eurasia. Geochemical signatures of western and eastern volcanic in Central Sumatera have confirmed the preposition indicated by evidences of existing island-arc tectonic environment on the western volcanic and both island-arc and continental tectonic environments on the eastern volcanic. Besides that, the geochemical data in this region have revealed the third tectonic environment reflecting development of back-arc tectonic setting in the geological history of the island. The island-arc tectonic setting is marked by higher ratio of (Ti/Ce)N, varying from 0.15 to 0.3, but in narrow ratio of (Ta/Nb)N, between 1.0 to 1.5, while the Active Continental Margin tectonic environment is characterized by wide range of (Ta/Nb)N ratio, ranging from 1.2 to 2.8 but with ratio of (Ti/Ce)N less than 0.1. The back-arc basin tectonic setting is marked by high ratio of (Ti/Ce)N, up to more than 0.8. The results are made based on rock chemistry analysis including major, trace and rare earth elements

    Karakteristik Bijih Kromit Barru, Sulawesi Selatan

    Get PDF
    The Structure geology of Barr

    KONDISI PAELOSALINITAS PADA MIOSEN AKHIR–PLEISTOSEN DI CEKUNGAN JAWA TIMUR UTARA, INDONESIA, BERDASARKAN PERUBAHAN POPULASI NANOPLANKTON

    Get PDF
    Abstract Quantitative biostratigraphy analysis by observing Sphenolithus abies and Helicosphaera carteri could predict paleosalinity changes at a sedimentary basin diachronically. Hyposaline conditions can be investigated from the abundance changes of Helicosphaera carteri and Calcidiscus leptoporus counts. Along this line, the increasing number of Sphenolithus abies demonstrates particular states of normal saline. Paleosalinity changes in the North East Java Basin, from Late Miocene to Pleistocene were identified from the top of Wonocolo Formation to bottom of Ledok Formation. Paleosalinity along this episode was interpreted as hyposaline condition. While at the top of Ledok Formation to Mundu Formation; paleosalinity had changed to normal saline. Furthermore, environmental conditions return to hyposaline when Selorejo Formation sediment was deposited. And during the deposition of Lidah Formation, deposition environment had returned to the normal saline

    PERBANDINGAN EFISIENSI KOAGULAN POLY ALUMUNIUM CHLORIDE (PAC) DAN ALUMUNIM SULFAT DALAM MENURUNKAN TURBIDITAS AIR GAMBUT DARI KABUPATEN KATINGAN PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

    Get PDF
    Abstrak Air gambut memiliki potensi untuk diolah sebagai air baku karena ketersediaannya yang cukup banyak, terutama di Kabupaten Katingan Kalimantan Tengah.  Masalah utama dalam mengolah air gambut berhubungan dengan karakteristik spesifik yang dimilikinya yakni kualitas dari air gambut tersebut belum memenuhi standar kualitas air untuk konsumsi. Salah satu proses pengolahan air gambut yakni koagulasi yang membutuhkan koagulan. Tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan efektifitas penggunaan poly alumunium chloride (PAC) dan alumunium sulfat dalam penurunan tingkat kekeruhan air gambut sehingga diperoleh dosis optimumnya. Metode yang digunakan dalam proses koagulasi menggunakan jar test dengan kecepatan pengadukan 100 RPM selama 2 menit untuk homogenisasi larutan dan pengadukan lambat selama 10 menit. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh dosis optimum dari kedua koagulan tersebut sebesar 160 mg/l. Nilai efisiensi tertinggi terlihat pada koagulan aluminium sulfat dengan presentase 96,17%, sedangkan PAC senilai 95%. Jika diukur dari segi ekonomis koagulan aluminium memiliki nilai lebih ekonomis yakni sebesar Rp 640/hari untuk 1 m3 atau Rp 19200/bulan untuk 30 m3 volume air gambut, sedangkan PAC Rp 1600/hari untuk 1 m3 atau Rp 48000/bulan untuk 30 m3 volume air gambut. Oleh karenanya dalam proses koagulasi air gambut asal Kalimantan Tengah ini direkomendasikan menggunakan koagulan aluminium sulfat

    263

    full texts

    304

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    RISET Geologi dan Pertambangan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇