RISET Geologi dan Pertambangan
Not a member yet
    304 research outputs found

    DISTRIBUSI SPASIAL DAN TEMPORAL CURAH HUJAN DI DAS CERUCUK, PULAU BELITUNG

    Get PDF
    Spatial and temporal distribution of rainfall was studied to obtain  a basic information on water resources management in the cerucuk watershed. The data used in this study are rainfall data of five rainfall stations in the study area. Spatial distribution of rainfall was prepared using isohyets methods. Temporal variability of rainfall were analyzed by statistical methods. Identification of rainfall variability index have determined and analyzed by statistical methods. The results showed that the spatial and temporal distribution of rainfall of Cerucuk watershed influenced by the topography. The annual cycle of rainfall have indicated equatorial type, where the peak rainfall occurs twice a year, in April and December. The monthly rainfall of Cerucuk watershed ranges from 160 mm to 600 mm with average annual rainfall was about 3320 mm. The spatial and temporal distribution of rainfall of Cerucuk watershed influenced by seasonal winds (monsoon), the ITCZ, topography and landuse changes. The annual rainfall, monthly rainfall intensity and monthly maximum rainfall of Buluh Tumbang rainfall station show a downward trend, while in Pilang station show a constant value. The tendency of temporal variation of rainfall, maximum rainfall and rainfall intensity of the stations are associated with land cover changes.Distribusi spasial dan temporal curah hujan dipelajari untuk memberikan informasi dasar dalam pengelolaan sumber daya air DAS Cerucuk. Dengan menggunakan data dari 5 stasiun curah hujan yang tersebar di daerah kajian, distribusi hujan spasial disusun menggunakan metode isohyet dan distribusi temporal dipelajari dengan metoda statistik. Identifikasi Indeks Variabilitas Hujan ditentukan dan dianalisis dengan metode statistik. Hasil penelitian menunjukan bahwa distribusi curah hujan spasial bulanan dan tahunan di DAS Cerucuk dipengaruhi oleh topografi. Siklus curah hujan menunjukkan tipe ekuatorial, dimana puncak curah hujan terjadi dua kali dalam setahun yaitu pada bulan April dan Desember. Curah hujan rata-rata wilayah bulanan berkisar 160 mm - 600 mm, curah hujan tahunan wilayah rata-ratanya berkisar 3320 mm. Variasi temporal curah hujan DAS Cerucuk dipengaruhi oleh angin musim, ITCZ, dan topografi, dan perubahan tutupan lahan. Curah hujan rata-rata tahunan, intensitas hujan harian dan hujan maksimum harian rata-rata di Stasiun Buluh Tumbang menunjukkan kecenderungan turun, sementara di Stasiun Pilang menunjukkan nilai yang cenderung konstan. Kecenderungan variasi temporal dari curah hujan, hujan maksimum harian rata-rata dan intensitas hujan harian di kedua stasiun ini berhubungan dengan perubahan tutupan lahan

    MINERALOGI DAN GEOKIMIA BATUGAMPING MERAH PONJONG, GUNUNGKIDUL, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA – INDONESIA

    Get PDF
    Batugamping berwarna merah yang tersebar secara setempat-setempat dan berasosiasi dengan batugamping berwarna putih hingga abu-abu yang dijumpai di Daerah Ponjong, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, termasuk dalam Formasi Wonosari-Punung. Batugamping tersebut perlu diteliti karakteristik mineralogi dan geokimianya, yang sangat diperlukan dalam memahami genesa batugamping di daerah tersebut. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah data khususnya batugamping di daerah penelitian maupun Formasi Wonosari-Punung di daerah Pegunungan Selatan. Pengamatan petrografi dan XRD pada batugamping merah menunjukkan hadirnya mineral kalsit, kuarsa, siderit, hematit, dan titanit. Analisis geokimia oksida mayor batugamping merah memperlihatkan tren pengkayaan senyawa SiO2, TiO2, Fe2O3 dan MnO yang diinterpretasikan berhubungan dengan kehadiran mineral-mineral titanit (CaTiSiO5), siderit (FeCO3), hematit (Fe2O3), dan diduga rodokrosit (MnCO3). Mineral-mineral tersebut mempunyai karakteristik warna coklat kekuningan, merah muda sampai merah sehingga dimungkinkan dapat memberikan warna merah pada batugamping. Ada tiga proses yang diinterpretasi berperan dalam genesa batugamping merah Ponjong yaitu pengaruh material terigenus yang mengandung oksida SiO2, Al2O3, Fe2O3, dan TiO2 saat pengendapan batugamping, proses diagenesis oleh air meterorik yang mengkayakan senyawa Fe2O3 dan proses bekerjanya larutan hidrotermal.Red limestone, which is sporadically distributed and associated with white to grey limestone is located in Ponjong area, Gunungkidul District, Daerah Istimewa Yogyakarta. This limestone belongs to the member of Wonosari-Punung Formation. It is necessary to study the mineralogy and geochemistry chracteristics, which are important in understanding the genesis of the limestone. The result of this study might add the geological data for limestone in this study area and Wonosari-Punung Formation as well. The petrographical observation and X-ray diffraction results of red limestone indicated the presence of calcite, quartz, siderite, hematite and titanite. Major element analysis of the red limestone showed enrichment of SiO2, TiO2, Fe2O3 and MnO, which have considered to have relation to the presence of titanite (CaTiSiO5), siderite (FeCO3), hematite (Fe2O3), and rhodochrosite (MnCO3) in the red limestone. The minerals are typically yellowish brown, pink to red in colour, and are therefore interpreted to be responsible in giving red colour of the limestone. There are three processes that are considered in the genesis of the Ponjong red limestone, which are: impact of terrigenous material when deposition of the limestone, diagenesis process of meteoric water that enriched Fe2O3, and processof hidrotermal fluid activity.

    Cover Depan

    No full text

    PEMETAAN SEBARAN pH TAILING DENGAN METODE GEOSTATISTIK GUNA EVALUASI PENGAPURAN PADA DAERAH REKLAMASI TN 1.1 AIR LEKOK MAPUR PT TIMAH (PERSERO) TBK

    Get PDF
    Sebagai sisa kegiatan penambangan timah, tailing mengandung mineral-mineral seperti pirite (FeS2), marcasite (FeS2), dan galena (PbS) yang menyebabkan tanah menjadi asam. Rendahnya kadar asam (pH) menyebabkan tambang TN 1.1 Air Lekok Mapur tidak memiliki tanah lapisan atas yang subur. Oleh sebab itu, tailing yang digunakan sebagai media tanam perlu dinetralkan sebelum ditanami. Analisis sebaran pH tailing dan pengapuran yang telah dilakukan sebelumnya hanya pada kedalaman ± 20 cm. Analisa itu tidak cukup karena akar tanaman akan tumbuh lebih dalam lagi. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan pH tailing pada kedalaman ± 20 cm dan ± 50 cm dengan dua metode analisis spasial yaitu Geostatistik Ordinary Kriging (OK) dan Deterministik Inverse Distance Weight (IDW). Hasil analisa statistik dan geostatistik diketahui bahwa penyebaran tingkat keasaman pada kedalaman ± 20 cm dan ± 50 cm tidak jauh berbeda. Jadi dapat disimpulkan bahwa pengapuran perlu dilakukan sampai pada kedalaman ± 50 cm. As the residue of tin mining, tailings contained minerals such as pyrite (FeS2), marcasite (FeS2), and galena (PbS) that caused the soil become acidic. Therefore, TN 1.1 Air Lekok Mapur mine does not have good topsoil for growing plants. Consequently, before planting, the tailings must be neutralized. Previous analysis of the tailing pH and liming distribution was done only to the depth of ± 20 cm, which is not enough for plant’s roots to grow deeper over a period of time. The purpose of this research is to map tailing pH distribution at the depth of ± 20 cm and ± 50 cm using two methods of spatial analysis: Geostatistical Ordinary Kriging (OK) and Deterministic Inverse Distance Weight (IDW). The result of statistical and geostatistical analysis indicated that the spread of acidity level at the depth of ± 20 cm and ± 50 cm are not significantly different. Thus, it can be concluded that liming needs to be done to the depth of ± 50 cm

    Back cover

    No full text
     

    TUF SEBAGAI BAHAN PELEBUR PADA PEMBUATAN KERAMIK BODI STONEWARE

    Get PDF
    ABSTRAK  Telah dilakukan percobaan penggunaan  tuf dari Sukabumi dan Majalengka, Provinsi Jawa Barat dalam pembuatan keramik bodi stoneware. Tuf dari dua daerah tersebut memiliki jumlah yang cukup melimpah, nilai jual yang  rendah, dan belum dimanfaatkan secara optimal. Keramik bodi stoneware adalah istilah bodi keramik yang terbuat dari campuran lempung, kuarsa dan felspar. Dalam penelitian pembuatan bodi stoneware ini bahan tuf ditambah lempung dari Gunung Guruh dan kuarsa dari Cibadak Sukabumi. Ketiga bahan dicampur menjadi 6 macam komposisi bodi stoneware dengan variasi perbandingan tuf 10-30%, lempung 30-50%, kuarsa 40-60%, selanjutnya dibakar pada suhu 1.200oC, 1.250oC, dan 1.300oC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi bodi stoneware yang terbaik adalah komposisi TS1 tuf dari Sukabumi dan TM4 tuf  dari Majalengka yang mempunyai nilai kuat lentur sebesar 27,38 MPa dan 37,57 MPa pada suhu pembakaran 1.250oC.  Kedua komposisi bodi stoneware  terbaik tersebut dibuat prototip produk keramik berupa vas bunga dan asbak yang dibakar  pada suhu 1.250oC hasilnya sifat fisik baik, karena tidak terjadi perubahan bentuk dan tidak retak/belah.  Abstract  An experiment had been conducted for utilizing tuff obtained from Majalengka and Sukabumi, West Java Province to make ceramic with stoneware body. Tuf resources at those regions are relatively abundant, have a lower  commercial value, and have not been  used optimally. The ceramic of stoneware body is prepared by a mixture of clay, quartz  and feldspar. The stoneware body is prepared  by adding the tuff material with clay from Gunung Guruh district and quartz from Cibadak Sukabumi. The raw materials  are mixed into  6 kinds of stoneware body with some ratio of  10-30% tuf,  30-50%  clay and  40-60%  quartz, and it is heated at temperature of  1,200oC, 1,250oC, and 1,300oC. The results of this study showed  that the best composition of stoneware body are TS1 of Sukabumi tuff and TM4 of Majalengka tuff,  which has bending strength of 27.38  MPa and 37.57 MPa  respectively  at  heating temperature  of 1,250oC.  Several prototype have been prepared at 1,250oC  and refined by the optimum tuff of rate strengs ratio of TS1 and TM4. The result showed a good physical appearances wihout deformation and crack

    Cover Depan

    No full text

    KERENTANAN LIKUIFAKSI WILAYAH KOTA BANDA ACEH BERDASARKAN METODE UJI PENETRASI KONUS

    Get PDF
    Pengetahuan mengenai kerentanan likuifaksi di suatu wilayah kota pesisir yang rawan gempabumi besar sangat diperlukan dalam perencanaan tataruang untuk mengurangi bencana seismik. Makalah ini menyajikan hasil evaluasi potensi likuifaksi di wilayah Kota Banda Aceh berdasarkan metode uji penetrasi konus untuk menghasilkan mikrozonasi kerentanan penurunan lapisan tanah akibat likuifaksi di wilayah ini. Hasil analisis menunjukkan bahwa potensi likuifaksi terdapat pada lapisan tanah pasir dan campuran pasir dan lanau, yang dicirikan oleh nilai tahanan konus dan hambatan setempat masing-masing lebih kecil dari 15 MPa dan 150 kPa pada kedalaman dan ketebalan yang bervariasi. Berdasarkan hasil perhitungan penurunan tanah, wilayah Banda Aceh dapat dibagi menjadi lima zona kerentanan. Zona kerentanan tinggi terutama terdapat di Kecamatan Kuta Alam dan Syah Kuala, sedangkan zona kerentanan rendah terutama terdapat di wilayah Kecamatan Banda Raya. Dengan demikian, investigasi geoteknik detil sangat diperlukan untuk mencegah kerusakan pada bangunan dan infrastruktur akibat likuifaksi di wilayah Kota Banda Aceh. Knowledge of liquefaction susceptibility is very important for spatial planning of a coastal city prone to big earthquakes. This paper presents the results of liquefaction potential evaluation based on cone penetration test to produce a microzonation map of liquefaction-induced ground settlement for Banda Aceh City. Results of the analysis show that liquefaction would occur in layers of loose to medium sand and silt-sand mixtures with the values of tip resistance and sleeve friction of less than 15 MPa and 150 kPa, respectively, at various depths. On the basis of ground settlement calculation, the city can generally be divided into five zones. High susceptible zone to ground settlement is mainly concentrated within the Kuta Alam and Syah Kuala Sub-District. Meanwhile, the zone of low susceptibility is within the Banda Raya Sub-District. Thus, detailed geotechnical investigation is necessary to mitigate liquefaction damage on buildings and infrastructures in Banda Aceh City

    SISTEM PANASBUMI DAERAH BLAWAN, JAWA TIMUR BERDASARKAN SURVEI MAGNETOTELURIK

    Get PDF
    Penelitian dengan menggunakan metode magnetotelurik telah dilaksanakan di daerah potensi panasbumi Blawan, Bondowoso, Jawa Timur. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sistem panasbumi di daerah penelitian berdasarkan nilai resistivitasnya. Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah Metronix ADU-07e yang mengukur 3 komponen medan magnet (, dan ) dan 2 komponen medan listrik ( dan ). Pengambilan data magnetotelurik dilakukan di 19 titik, dengan jarak antar titik pengukuran sepanjang 250 m hingga 1200 m. Data yang didapatkan berupa nilai resistivitas semu dan fase dalam domain frekuensi dengan rentang 0,01 Hz hingga 10.000 Hz. Seluruh titik pengambilan data dibagi menjadi 4 profil inversi 2D. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa sistem panasbumi pada daerah penelitian tersusun atas zona lapisan penudung (≤32 .m), zona reservoar (>32.m - ≤512 .m), dan zona sumber panas (>512 .m). Selain itu, berdasarkan hasil pemodelan juga teridentifikasi adanya beberapa patahan yang mendukung sistem panasbumi Blawan. A research using magnetotelluric method have been done in Blawan geothermal field, Bondowoso, East Java. This research done to identify the geothermal system of research area based on its resistivity value. Magnetotelluric measurement done in 19 point with spaces 250 m up to 1200 m each other. The tools used in this research is Metronix ADU-07e that measure three components of the magnetic field (, dan ) and two components of the electric field ( dan ). Data obtained in the form of an apparent resistivity and phase value in the frequency domain in the range of 0,01 Hz to 10.000 Hz. All of measurement points are divided into four 2D modeling profile. The results of 2D modeling indicate that the geothermal system in the research area consists of caprock zone (≤32 Ω.m), reservoir zone (>32 Ω.m - ≤512 Ω.m), and a heat source zone (>512 Ω.m). Beside that, based on the modeling result it also identified the presence of several faults that support Blawan geothermal system

    Cover Belakang

    No full text

    263

    full texts

    304

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    RISET Geologi dan Pertambangan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇