RISET Geologi dan Pertambangan
Not a member yet
304 research outputs found
Sort by
ANALISIS KESTABILAN LERENG DI DESA TERBAH DAN SEKITARNYA, KECAMATAN PATUK, KABUPATEN GUNUNG KIDUL BERDASARKAN SLOPE STABILITY PROBABILITY CLASSIFICATION
Desa Terbah merupakan salah satu desa di Indonesia yang rawan longsor. Daerah ini berada pada sedimen Tersier yang telah mengalami deformasi dan pelapukan kuatyang berpotensi longsor,sehingga diperlukan analisis kestabilan lereng untuk upaya mitigasi. Tulisan ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik satuan geologi teknik lereng dan nilai probabilitas tingkat kestabilan lereng. Metode penelitian yang digunakan yaitu pengamatan tingkat pelapukan, pengukuran bidang diskontinuitas (spasi, kekasaran, lebar bukaan) pada lereng berdasarkan metode Rock Mass Rating (RMR), pengujian laboratorium menggunakan point load test, dan analisis kestabilan lereng dengan metode kinematika dan Slope Stability Probability Classification (SSPC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat lima satuan geologi teknik batuan, yaitu: Satuan Breksi Andesit 1, Satuan Breksi Andesit 2, Satuan Tufa, Satuan Batupasir Tufan, dan Satuan Batupasir. Hasil pengukuran pada 35 lereng menunjukkan 14 lereng berada dalam kondisi tidak stabil berdasarkan kestabilan lereng orientasi independen (tidak terpengaruh diskontinuitas), dan 18 lereng berpotensi terjadi longsor gelinciran (sliding), dan 14 lereng berpotensi terjadi longsor robohan (toppling) berdasarkan orientasi dependen (terpengaruh diskontinuitas).Terbah village is one of the rural areas in Indonesia that has high vulnerability to landslide. This area occupies the Tertiary sediment which had been deformed and highly weathered, therefore prone to landslide. It is important to analyze the slope stability of the study area as a part of the mitigation measures. This paper aims to identify the engineering geological units and the probability values of the slope stability. Methods included the observation of weathering degree, measurement of slope discontinuities (space, roughness, width of opening) according to Rock Mass Rating (RMR), point load test in the laboratory, and slope stability analysis using kinematic method and Slope Stability Probability Classification (SSPC). Results show that there are five engineering geological units: Andesitic Breccia Unit 1, Andesitic BrecciaUnit 2, Tuff unit, Tuffaceous Sandstone Unit, and Sandstone Unit. Measurements of 35 slopes show that based on orientation independent analysis 14 slopes are unstable, and based on orientation dependent analysis 18 slopes are prone to sliding and 14 slopes are susceptible to toppling
APLIKASI ANALITIK HIRARKI PROSES UNTUK ANCAMAN BAHAYA GEMPA DI DAERAH TANJUNG LESUNG-PANIMBANG, PANDEGLANG
Wilayah Tanjung lesung-Panimbang Kabupaten Pandeglang merupakan wilayah pengembangan pariwisata yang tumbuh pesat. Daerah tersebut menempati dataran aluvial dan material hasil proses vulkanik yang berpotensi terhadap bahaya seismik. Dengan demikian diperlukan informasi bahaya seismik dalam menunjang pengembangan daerah tersebut. Tulisan ini bertujuan menguraikan aplikasi Sistem Informasi Geografi dalam pemetaan ancaman bahaya seismik di Tanjung Lesung-Panimbang. Analisis spasial yang dilakukan atas dasar bobot dan peringkat dengan menggunakan pendekatan AHP (Analytical Hierarchy Process). Berdasarkan penilaian dan pembobotan terhadap parameter percepatan tanah puncak, likuifaksi, litologi, morfologi dan ketinggian, dihitung dengan metode intersection untuk menghasilkan peta potensi ancaman bahaya seismik yang diklasifikasikan menjadi ancaman bahaya tinggi, sedang dan rendah. Diharapkan hasil penelitian ini menjadi perhatian, khususnya untuk kepentingan pembangunan fisik dan penyusunan rencana tata ruang wilayah di Tanjung lesung-Panimbang Kabupaten Pandeglang.Tanjung Lesung-Panimbang region Pandeglang Regency has a rapid development in tourism. The area occupies an alluvial plain and volcanic product materials that potentially prone to seismic hazard. Therefore, seismic hazard information is required in supporting the development of the area. This paper describes the application of Geography Information System for seismic hazards mapping in the Tanjung Lesung-Panimbang area. Spatial analysis was conducted on the basis of the weighting and ranking using the AHP (Analytical Hierarchy Process) approach. Based on the assessment and weighting of Peak Ground Acceleration, liquefaction, lithology, morphology and altitude parameters, we calculated using intersection method to obtain the seismic potential hazard map, which classified into high, medium and low. This hazard map will be very useful, particularly for the physical development and spatial planning of Panimbang - Tanjung Lesung Pandeglang
SEBARAN ALTERASI BATUAN BERDASARKAN RASIO Th/U DI TAPALANG, MAMUJU, SULAWESI BARAT
Kecamatan Tapalang, Mamuju, menjadi tujuan eksplorasi uranium dengan adanya radiasi tinggi terdeteksi pada batuan basaltik Formasi Adang. Diperlukan lokalisasi daerah-daerah dengan tingkat potensi kandungan uranium yang tinggi. Proses alterasi meningkatkan tingkat kelarutan uranium, sehingga kadar uranium berkurang dan terjadi pengkonsentrasian torium serta logam tanah jarang (REE) yang signifikan. Dengan asumsi bahwa alterasi berasosiasi dengan rasio Th/U, maka dilakukan penelitian untuk mengetahui sebaran alterasi batuan berdasarkan korelasinya terhadap rasio Th/U. Penelitian dilakukan dengan pengukuran radioaktivitas dan pengamatan alterasi di lapangan, kemudian dilengkapi dengan analisis XRF dan analisis mineragrafi untuk mengetahui tingkat alterasi. Rasio Th/U pada batuan lava Tapalang yang masih relatif segar memiliki nilai 3-30, dan batuan yang telah teralterasi memiliki nilai 30 - >3000. Pengembangan eksplorasi torium dapat difokuskan pada daerah dengan alterasi lanjut, sedangkan eksplorasi uranium harus difokuskan pada daerah yang bersifat reduktif, yang memungkinkan terbentuknya cebakan uranium.Tapalang, Mamuju, is a destination for uranium exploration due to the high radiation detected in basaltic rocks of Adang Formation. Uranium potentials localization is required since uranium is not distributed evenly. An alteration process increases the level of uranium solubility, so that the uranium content is depleted and the concentration of thorium and rare earth elements (REE) are significantly high. This study objective was to find the distribution of rock alterations and their correlation to the ratio of Th/U in Tapalang Region. Research methods were combination of radioactivity measurement and alteration observation in the field, completed by XRF and mineragraphy analysis to measure the grade of alteration. The alteration product indicated that this area has been affected by hydrothermal alteration in the potassic zone. Th/U ratio of fresh Tapalang lava rocks has a value of 3-30, and alterated rocks have 30 - 3000 value. These values can be used to delineating alteration areas, which have high Th/U ratio (30 - >3000). The development of thorium exploration can be focused on advanced alteration areas, whereas uranium exploration should focus on reductive areas that allow for uranium deposited.
PALEOBATIMETRI FORMASI JATILUHUR BERDASARKAN KUMPULAN FORAMINIFERA KECIL PADA LINTASAN SUNGAI CILEUNGSI, KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT
Formasi Jatiluhur di sekitar Sungai Cileungsi merupakan lingkungan laut dangkal (zona neritik) berdasarkan dominasi foraminifera yang dikandungnya. Namun beberapa penelitian terdahulu menyatakan umur Formasi Jatiluhur yang bervariasi. Penelitian paleobatimetri berdasarkan kumpulan foraminifera kecil diharapkan dapat melengkapi kajian detil yang terkait dengan evolusi daerah ini selama Miosen. Pengambilan 30 sampel sedimen dilakukan secara sistematik pada satu lintasan di sepanjang Sungai Cileungsi. Hasil preparasi sampel sedimen dengan metode hidrogen peroksida menghasilkan 57301 individu foraminifera kecil yang terdiri dari 23276 individu foraminifera plangtonik dan 34025 foraminifera bentonik. Untuk mengetahui paleobatimetri, digunakan rasio foraminifera plangtonik dan foraminifera bentonik kecil. Hasil Rasio P/B berkisar antara 4,4 % - 74,0 % menunjukkan paleobatimetri Formasi Jatiluhur berkisar antara zona neritik dalam – zona batial atas.Jatiluhur Formation in the area of Cileungsi River was a shallow marine environment based on the foraminiferas domination. Several previous published papers had suggested age variation of the Jatiluhur Formation. Paleobatimetry study based on small foraminiferas was expected to complete the Miocene evolution analysis of the region. Thirty sediment samples were picked systematically in a section line along Cileungsi River. The hydrogen peroxide preparation of sediment samples produced 57301 small foraminifera. There were 23276 planktonic foraminiferas and 34025 benthic foraminiferas. To understand the paleobathimetry of this research area, we calculated the ratio of planktonic foraminifera and benthic foraminifera (P/B ratio). The P/B ratio is betweeen 4,4% and 74,0%. The ratio suggests that the paleobathimetry of Jatiluhur Formation is Inner Neritic Zone - Upper Bathyal Zone
NUMERICAL MODELLING APPLICATIONS ON FRACTURE PREDICTIONS: AN EXAMPLE FROM THE BLUE LIAS FORMATION IN KILVE, UK
Numerical modeling using Comsol Multiphysics, with Finite Element Method, has been carried out to study fracture initiation, linkage, and deflection of the Blue Lias Formation. Data were from outcrop observation where hydrofractures were well observed. Three models were set up to understand how fractures initiated, linked and arrested. The Young’s modulus of shales (Esh) was set with the value of 1 GPa, 5 GPa, and 10 GPa. The fluid excess pressure was applied with the value of 5 MPa, 10 MPa, and 15 MPa. The Young’s modulus of the limestone (Elst) was a constant at 10 GPa. The first model showed how the overburden induces fracture initiation. The results indicated that tensile stress concentrated only within limestone and favour to form fractures. The second model was about linking of fractures. The result explained that shear stress was dominantly concentrated in limestone layers. Previous hydrofractures possibly linked up forming shear fractures and en-echelon fractures. The third model was run to understand fracture propagation and deflection. The result was that tensile stress concentrated at the hydrofracture tips close to the contacts between limestone and shale. Hydrofractures were deflected, and in some places, hydrofractures were likely started to propagate through shale.Permodelan numerik dengan Comsol Multiphysics berdasarkan metode Elemen Terbatas dilakukan untuk mempelajari inisiasi, hubungan, dan defleksi rekahan Formasi Blue Lias. Data berasal dari observasi singkapan dimana hydrofracture teramati. Tiga model dibuat untuk memahami bagaimana rekahan terinisiasi, terhubung, terambatkan dan terhenti. Modulus Young’s batulempung (Esh) diatur dengan nilai 1 GPa, 5GPa, dan 10 GPa. Tekanan kelebihan cairan (fluid excess pressure) yang diterapkan sebesar 5 MPa, 10 MPa, dan 15 MPa. Modulus Young’s batugamping (Elst) konstan sebesar 10 GPa. Model pertama menunjukkan bagaimana pembebanan mempengaruhi inisiasi rekahan. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa tekanan tarik terkonsentrasi hanya pada lapisan batugamping dan memungkinkan terbentuknya rekahan. Model kedua mengenai hubungan rekahan. Model menunjukkan bahwa tekanan geser terkonsentrasi pada lapisan batugamping secara dominan. Hydrofracture yang telah ada akan terhubung membentuk rekahan geser and rekahan en-echelon. Model ketiga dihitung untuk memahami perambatan dan defleksi rekahan. Hasilnya menunjukkan bahwa tekanan tarik terkonsentrasi pada ujung hydrofracture dekat kontak lapisan batugamping dan batulempung. Hydrofracture terdefleksi dan pada beberapa titik mulai merambat menembus batulempung
STRUCTURAL STYLE AND DEPOSITIONAL HISTORY OF THE SEMANGKO PULL APART BASIN IN THE SOUTHEASTERN SEGMENT OF SUMATRA FAULT ZONE
Re-examination of published seismic data in the southeasternmost segment of the active Sumatra Fault zone (SFZ) reveals the characteristics of structural style and depositional history of Semangko pull apart basin (SPB). The SPB have been developed as a transtensional pull apart basin resulted from stepping over of the Semangko to Ujung Kulon segments of the SFZ. The geometry of SPB is of rhomboidal shape characterized by dual depocenters separated by a discrete structural high in the center of SPB. Based on the determination of pre- and syn-kinematic strata related to the formation of SPB, sedimentary units prior to deposition of Unit 3 can be regarded as pre-kinematic strata, whereas the syn-kinematic strata is represented by Unit 3. The basin sidewall faults of the SPB are likely to have been developed as en-echelon side wall faults and identified as the East Semangko Fault (ESF) and Kota Agung – South Panaitan Faults (KAF-SPF) in the western and eastern margin of the SPB, respectively. The development of discrete highs along the center of the SPB may relate to the formation of en-echelon cross-basin faults that are now overprinted by volcanic activity or magmatic intrusion.Analisa ulang data seismik yang telah dipublikasikan di daerah segmen paling tenggara dari zona sesar aktif Sumatra (SFZ) mengungkapkan karakteristik struktur dan sejarah pengendapan dari cekungan pull-apart Semangko (SPB). SPB terbentuk sebagai cekungan transtensional pull-apart yang dihasilkan dari step over segmen Semangko dan segmen Ujung Kulon. Geometri SPB adalah bentuk rhomboidal yang dicirikan oleh dua depocenter yang dipisahkan oleh struktur tinggian yang tidak menerus di bagian tengah SPB. Berdasarkan penentuan unit pre- dan syn-kinematic strata yang terkait dengan pembentukan SPB, unit sedimen yang terbentuk sebelum pengendapan Unit 3 dapat dianggap sebagai pre-kinematic strata, sedangkan syn-kinematic strata diwakili oleh Unit 3. Sesar side-wall dari SPB kemungkinan telah berkembang sebagai sesar yang bersifat en-echelon dan diidentifikasi sebagai Sesar Semangko Timur (ESF) dan Sesar Kota Agung - Panaitan Selatan (KAF-SPF) di tepian barat dan timur SPB. Pembentukan tinggian yang tidak menerus di sepanjang bagian tengah SPB berhubungan dengan pembentukan sesar-sesar cross-basin yang bersifat en-echelon yang sekarang telah tertutupi jejaknya oleh aktivitas gunung api atau intrusi magmatik.
SEDIMENTARY FACIES AND HYDROCARBON RESERVOIR POTENTIAL OF SAND FLAT IN THE UPPER PART OF TAPAK FORMATION IN BANYUMAS AREA, CENTRAL JAVA
The upper part of Tapak Formation in Kali Cimande consists of alternating sandstones, siltstone and mudstone. The alternating sequence showed a fining and thinning upward bedding pattern. The facies association of the alternation built up by sand flat facies, which characterized by medium sandstone, moderate sorted, with cross-lamination sedimentary structures and mostly on the top of sandstone layer found a bioturbation trace fossils (Skolithos). Mixed flat facies, which is characterized by an alternation of thin layered sandstones with mudstone and siltstone, with lenticular, wavy, and flaser sedimentary structures, contained many forms of bioturbation, such Planolites, Thallasinoides, Lockeia, and Ophiomorpha. Mud flat facies association, is characterized by a repeated of claystone with thin sandstone intercalation, where the ratio of clay content more than 95 % of the total layers, contained abundantly with trace fossil Lockeia. Upper Tapak Formation plays as moderate reservoir potential. The thick sandstone in sand flat facies with moderate to poorly sorted and moderate porosity is required to provide hydrocarbon flows in Banyumas Basin.Bagian atas Formasi Tapak di Kali Cimande terdiri dari perselingan batupasir-batulanau dan mudstone. Sekuen perselingan menunjukkan pola perlapisan menghalus dan menipis ke atas. Asosiasi fasies tersebut terdiri dari fasies sand flat, yang dicirikan oleh batu pasir sedang, pemilahan sedang, struktur sedimen silang-siur serta fosil jejak bioturbasi (Skolithos) pada bagian puncak kebanyakan lapisan batu pasir. Fasies mixed flat, dicirikan oleh perselingan batupasir berlapis tipis dengan mudstone dan batulanau, serta struktur sedimen lentikular, perlapisan bergelombang, dan flaser, mengandung banyak bioturbasi, seperti Planolites, Thallasinoides, Lockeia, serta Ophiomorpha. Asosiasi Fasies sand flat, dicirikan oleh perulangan batulempung dengan sisipan batupasir tipis, dengan kandungan lempung lebih dari 95% total lapisan, serta fosil jejak Lockeia yang melimpah. Formasi Tapak Atas berperan sebagai reservoir potensial sedang. Bagian batupasir tebal di fasies sand flat dengan pemilahan sedang hingga buruk dan porositas sedang diperlukan untuk menyediakan aliran hidrokarbon di Cekungan Banyumas.
PENGINDERAAN JAUH UNTUK PENDETEKSIAN AWAL POTENSI TEMBAGA DI SUMBAWA
Tembaga merupakan salah satu jenis mineral penting yang memiliki banyak fungsi dalam berbagai aplikasi. Penelitian ini bertujuan untuk pendeteksian awal tembaga menggunakan data penginderaan jauh. Lokasi penelitian terletak di Sumbawa. Data penginderaan jauh yang digunakan berupa Landsat, ALOS Palsar, X SAR, SRTM C, dan Satelit Geodesi. Landsat digunakan untuk ekstraksi parameter geologi berupa penutup lahan dan perubahannya, bentuk lahan, dan alterasi hidrotermal. ALOS PALSAR, X SAR, dan SRTM C digunakan untuk pembuatan DTM (Digital Terrain Model). Integrasi DTM berguna untuk ekstraksi parameter geologi lainnya berupa struktur dan formasi geologi. DTM yang digunakan memiliki akurasi vertikal + 1,5 m. Data Satelit Geodesi bisa digunakan untuk ekstraksi gaya berat, medan magnet, geodinamika, serta densitas batuan. Berbagai parameter geologi ini diekstraksi dengan metode VIDN, integrasi, dip and strike, interferometri, backscattering, alterasi hidrotermal, geodesi fisis, dan klasifikasi digital berbasis objek. Semua parameter geologi yang telah diekstrak dikorelasikan antar data, sehingga bisa digunakan untuk deteksi potensi tembaga. Informasi geospasial deteksi awal tembaga dan ekstraksi parameter geologinya merupakan produk yang dihasilkan dari penelitian ini. Informasi geospasial ini menggunakan referensi ketelitian ASPRS Accuracy Data for Digital Geospatial Data.Copper is one of the essential mineral that has many functions in variety of applications. This research aimed to detect the copper potential using remote sensing data. The research location is Sumbawa. Remote sensing data used were Landsat, ALOS PALSAR, X SAR, SRTM C, and Satellite Geodesy. Landsat was used for geological parameters extraction such as land cover and its changes, geomorphology, landforms, and hydrothermal alteration. ALOS PALSAR, X SAR and SRTM C were used for height model integration (DTM). This DTM was useful for the other geological parameters extraction, such as geological structures and formations. DTM used has vertical accuracy + 1,5 m. Geodesy Satellite data can be used for the extraction of gravity, magnetic field, geodynamics, and rock densities. These various geological parameters were extracted by VIDN, integration, dip and strike, interferometry, backscattering, hydrothermal alteration, physical geodesy, and classification based digital objects. All of those parameters were then correlated for copper potential detection. The results obtained were geospatial information of copper potential and geological parameters at a scale of 1: 50.000 with reference ASPRS Accuracy Data for Digital Geospatial Data.
MIKROZONASI SEISMIK WILAYAH KOTA PADANG BERDASARKAN PENGUKURAN MIKROTREMOR
Peristiwa gempa bumi pada tanggal 30 September 2009, dengan skala intensitas VII-VIII, mengindikasikan bahwa wilayah Kota Padang rentan terhadap amplifikasi tanah. Makalah ini menyajikan hasil analisis rasio spektra H/V untuk menghasilkan mikrozonasi kerentanan amplifikasi berdasarkan pengukuran mikrotremor. Hasil analisis menunjukkan variasi nilai periode predominan dan faktor amplifikasi yang dipengaruhi oleh jenis lapisan tanah dan struktur bawah permukaan. Berdasarkan variasi nilai faktor amplifikasi, wilayah Kota Padang dapat diklasifikasikan menjadi 5 (lima) zonasi kerentanan amplifikasi. Kawasan perumahan kepadatan tinggi, perdagangan dan perkantoran di wilayah kecamatan Nanggalo, Padang Utara, Padang Barat dan Padang Selatan berada di zona kerentanan tinggi hingga sangat tinggi terhadap bahaya amplifikasi. Hasil zonasi ini sesuai dengan fakta-fakta kerusakan bangunan akibat fenomena amplifikasi yang terjadi pada gempa bumi 30 September 2009.The 30 September 2009 earthquake event with intensity VII to VIII (MMI scale) indicated that Padang City region is prone to soil amplification. This paper presents the results of H/V spectral ratio analysis to produce a microzonation map of amplification for Padang City based on microtremor measurement. The analysis of microtremor data shows that the predominant period and amplification factor of the soils are spatially varied and influenced by soil types and subsurface structure. On the basis of amplification factor, Padang City is classified into 5 (five) zones. High and very high susceptible zones are mainly concentrated in the very dense residential areas, trade and office areas, including the districts of Nanggalo, Padang Utara, Padang Barat, and Padang Selatan. The predicted amplification susceptibility zones are in a good agreement with the phenomena of building damages due to amplification during the 2009 earthquake
PALEONTOLOGY OF ACROPORA CORALS AND STANDARD FACIES BELT FROM UJUNGGENTENG AREA, WEST JAVA
The detail taxonomy analysis was performed to classify Acropora corals in Ujunggenteng Area. The research area was selected because the continuously exposed Quaternary coralline limestones, indicated the high variation and wide distribution of coral fossils. Moreover, the facies changes and contacts with shoreface sediments were clearly observed in this area. Detail taxonomy based on morphological description can classify Acropora corals in Ujunggenteng area into four species: Acropora cervicornis, Acropora palifera, Acropora gemmifera, and Acropora humilis. The study of coral paleontology and the application of the presence of corals as a standard facies belt were still rarely performed in Indonesia. Previous studies classified the coralline limestone into one standard facies belt, which was the organic build- up standard facies belt. Another approach was required to capture many conditions of coral fossil occurrences; not only in build-up condition but also in transported condition. Therefore, another purpose of this study is to modify the standard facies belt with a different approach using coral taphonomy and sediment association.Analisis taksonomi secara detil dilakukan untuk mengklasifikasikan koral Acropora di daerah Ujunggenteng. Daerah penelitian dipilih karena tersingkapnya batugamping terumbu berumur Kuarter yang menerus, yang menunjukkan tingginya jumlah spesies dan distribusi fosil koral yang luas. Selain itu, perubahan fasies dan kontak dengan batupasir pantai dapat jelas diamati pada daerah ini. Taksonomi detil berdasarkan deskripsi morfologi dapat mengelompokkan koral Acropora di daerah Ujunggenteng menjadi empat spesies: Acropora cervicornis, Acropora palifera, Acropora gemmifera, dan Acropora humilis. Selain itu, studi mengenai paleontologi dan penggunaan kehadiran koral sebagai dasar pembagian sabuk standar fasies batugamping masih jarang dilakukan di Indonesia. Studi sebelumnya mengelompokkan batugamping terumbu menjadi satu sabuk standar fasies, yaitu organic build up. Pendekatan yang lain diperlukan untuk menjelaskan kondisi koral lainnya pada batugamping, tidak hanya dalam kondisi tumbuh, tetapi juga dalam kondisi tertransportasi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk memodifikasi sabuk standar fasies dengan pendekatan berbeda menggunakan tafonomi koral dan asosiasi sedimen.