RISET Geologi dan Pertambangan
Not a member yet
304 research outputs found
Sort by
MODEL SISTEM PANAS BUMI LAPANGAN KARAHA - TALAGA BODAS BERDASARKAN INVERSI 2D DATA MAGNETOTELLURIK
Daerah Karaha-Talaga Bodas, yang terletak di kawasan Utara Gunung Galunggung, Tasikmalaya diduga memiliki prospek panas bumi, dengan adanya manifestasi permukaan berupa fumarol dan mata air panas. Metode Magnetotelurik (MT) diaplikasikan untuk mengidentifikasi struktur resistivitas bawah permukaan yang terkait dengan sistem panas bumi. Pengolahan data MT dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu transformasi Fourier, seleksi crosspower, analisis rotasi, analisis kontak vertikal dan inversi dengan hasil akhir berupa model sebaran 2D. Hasil pengolahan data menunjukan adanya lapisan konduktif dengan nilai resistivitas 1-10 Ohm.m, yang diduga berperan sebagai lapisan penudung. Zona reservoir berupa daerah dengan nilai resistivitas 10-100 Ohm.m. Nilai resistivitas yang lebih besar dari 100 Ohm.m berkorelasi dengan batuan beku yang biasa dianggap sebagai sumber panas. Interpretasi hasil pengolahan data MT diintegrasikan dengan informasi geologi untuk mendapatkan gambaran sistem Panas Bumi Karaha-Talaga Bodas.The area of Karaha-Talaga Bodas, at the north of Mount Galunggung, Tasikmalaya, was expected to have a geothermal prospect due to several surface manifestations of fumaroles and hot springs. The Magnetotelluric method (MT) was then applied in this area to identify the subsurface resistivity structure related to the geothermal system. The MT data processing included Fourier transform, crossover selection, rotation analysis, vertical contact analysis, and inversion, with the result of a 2D resistivity model. The resistivity model indicated the existence of a conductive layer with the resistivity value of 1-10 Ohm.m, which could be a caprock. The reservoir zone is the area with the resistivity value of 10-100 Ohm.m. The resistivity value greater than 100 Ohm.m correlates with the basement, that acted as the heat source. Interpretation of the MT model was then integrated with the geological information to get an overview of the Karaha-Talaga Bodas geothermal system
HIDROGEOLOGI DAN POTENSI CADANGAN AIRTANAH DI DATARAN RENDAH INDRAMAYU
Potensi airtanah pada suatu cekungan tidak terlepas dari kondisi hidrogeologi di wilayah itu sendiri. Cekungan airtanah Indramayu, yang berada di pesisir utara Jawa Barat, hingga kini belum diketahui secara pasti potensi cadangannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi cadangan air tanah berdasarkan rekonstruksi hidrogeologi data bor. Hasil interpretasi hidrogeologi menunjukkan bahwa litologi akuifer didominasi oleh endapan lempung dengan sisipan lanau, sedikit pasir halus di bagian atas, endapan lempung marin dengan sisipan lanau, dan pasir halus di bagian bawah. Hasil perhitungan menunjukkan prediksi cadangan airtanah yang cukup potensial. Nilai rata – rata potensi airtanah bebas adalah 65.213,8 m3/hari atau 0,754 m3/det. Nilai rata – rata potensi airtanah tertekan adalah 79.557,1 m3/hari atau 0,920 m3/det. Tetapi kualitas airtanah di wilayah Losarang – Lobener – Pasekan – Sindang sebagian besar payau dan memiliki nilai DHL yang tinggi, berkisar antara 4710 – 11400 µs/cm.The groundwater potential of a basin depends on the hydrogeology of the area. Indramayu groundwater basin is located at the north coast of Java Island. Its reserves potential was not identified despite its importance. The objective of this research was to understand the potential of groundwater reserves based on hydrogeological reconstruction from drilling data analysis. The results of the hydrogeology interpretation had indicated that the aquifers lithology are dominated by clay deposits with silt layering, slightly fine sand at the top, marine clay deposits with silt inserts, and fine sand at the bottom. The calculation results had indicated a good potential of groundwater reserves. The mean value of the unconfined groundwater is 65,213.8 m3/day or 0.754 m3/sec. The mean value of the confined groundwater is 79,557.1 m3/day or 0.920 m3/sec. However, groundwater supply potential is not supported by the quality. The groundwater in Losarang - Lobener – Pasekan-Sindang area is brackish and has a high DHL value (4710 – 11400 µs/cm)
PENERAPAN MODEL NRECA PADA DAERAH RESAPAN LAPANGAN PANASBUMI WAYANG WINDU, JAWA BARAT
Panasbumi dikenal sebagai sumber energi yang dapat diperbaharui dan proses pembaruan terjadi di daerah resapan. Makalah ini membahas tentang daerah resapan air meteorik untuk reservoir panasbumi dan rasio debit aliran dasar terhadap debit limpasan permukaan berdasarkan neraca air, yaitu dengan melakukan simulasi hujan-limpasan model NRECA pada Daerah Aliran Sungai (DAS) yang terletak pada kisaran elevasi daerah resapan. Interpretasi berdasarkan peta densitas sesar dan rekahan (FFD) dan peta daerah resapan hasil analisis isotop stabil menunjukkan terdapat tiga zona dengan nilai FFD tinggi yang diperkirakan sebagai daerah resapan untuk reservoir panasbumi Wayang Windu. Untuk mengetahui besarnya debit aliran dasar dan debit limpasan permukaan pada daerah resapan tersebut, maka dilakukan perhitungan berdasarkan neraca air dan pembuatan data debit sintetis untuk zona FFD tinggi. Hasil simulasi hujan-limpasan dengan model NRECA adalah untuk mendapatkan nilai koefisien resapan untuk setiap DAS. Hasil perhitungan rasio antara debit aliran dasar terhadap debit limpasan permukaan pada zona FFD tinggi yang terletak pada DAS Cisangkuy terlihat lebih tinggi (98%) jika dibandingkan dengan dua DAS lainnya, yaitu DAS Cilaki (66%) dan DAS Citarum (43%). Hal ini menunjukkan bahwa zona FFD tinggi yang terletak pada DAS Cisangkuy memiliki debit aliran dasar yang lebih besar dibandingkan pada DAS Cilaki dan DAS Citarum.Geothermal is known as a renewable energy resource and the renewing process occurs in the recharge area. This paper discusses about the meteoric water recharge area for geothermal reservoir and the ratio of baseflow discharge compared with surface runoff discharge based on water balance, i.e. conducting rainfall-runoff of NRECA model simulation in the Drainage River Area (DRA) which is located in the elevation range of recharge area. The interpretation of FFD map and recharge area map resulting from stable isotope analysis shows that there are three high FFD zones interpreted as recharge areas for Wayang Windu geothermal reservoir. To know the ratio of baseflow discharge and surface runoff discharge in that recharge area, infiltration analysis has been carried out based on water balance and synthetic discharge data for high FFD zone. The result of rainfall-runoff simulation by using NRECA model is used to get infiltration coefficient for each DRA. The ratio between baseflow discharge to surface runoff discharge in high FFD zone located in Cisangkuy DRA is higher (98%) than Cilaki DRA (66%) and Citarum DRA (43%).It shows that high FFD zone located in Cisangkuy DRA has higher baseflow discharge than Cilaki DRA and Citarum DRA
HIDROGEOKIMIA AIRTANAH TIDAK TERTEKAN KAWASAN PESISIR DI PEMUKIMAN NELAYAN KECAMATAN TEUPAH SELATAN, KAB. SIMEULUE, PROVINSI ACEH
Kecamatan Teupah Selatan merupakan salah satu kawasan pesisir Kabupaten Simeulue yang dijadikan sebagai sentra kegiatan perikanan dan kelautan. Permasalahan pencemaran akibat kegiatan antropogenik manusia maupun pengaruh airlaut dikhawatirkan menjadi pemicu menurunnya kualitas airtanah di pesisir Teupah Selatan dan sekitarnya. Oleh sebab itu, penelitian terhadap kondisi kualitas airtanah dan kelayakannya berdasarkan beberapa parameter fisika dan kimia di Teupah Selatan sangat penting dilakukan. Analisis dan interpretasi hidrokimia airtanah dilakukan dengan menggunakan diagram Piper serta perhitungan rasio Na/Cl dan Cl/HCO3. Hasil analisa menunjukkan bahwa fasies airtanah daerah penelitian didominasi oleh fasies MgHCO3 diikuti oleh fasies CaHCO3. Secara keseluruhan airtanah di kawasan pesisir Teupah Selatan dan sekitarnya masuk dalam kategori memenuhi syarat untuk dikonsumsi. South Teupah Sub District is one of coastal areas in Simeulue District that becomes the center of marine and fisheries activities. Pollution issues due to anthropogenic factors as well as seawater influence are feared to trigger groundwater quality declination in South Teupah coast area. Study regarding groundwater quality condition and consumption advisability according to hydrogeochemical analysis is essential. Physical and chemical assessment of groundwater parameters were employed. Groundwater hydro-chemical analysis and interpretation were done by employing Piper diagram and ratio calculation of Na/Cl and Cl/HCO3-. Analysis result indicated that groundwater facies in the study area is predominated by MgHCO3 facies, followed by CaHCO3 facies. Overall, groundwater in the South Teupah coast and surrounding can be consumed
MINERALOGI BENTONIT TASIKMALAYA SEBAGAI MEDIA PENYERAP CO2 MELALUI KARBONASI HIDROTERMAL
Kristalinitas mineral kalsit yang terpresipitasi pada proses karbonasi hidrotermal dianalisis menggunakan metode XRD (X-ray diffraction) semi-kuantitatif dengan bantuan piranti lunak komersial PeakFit® serta SEM (scanning electrone microscope) untuk memperoleh ukuran kristalit dan bentuk morfologinya. Bentonit Tasikmalaya mengandung mineral-mineral potassium, kalsium, magnesium silikat berupa montmorilonit, klinoptilolit, dan anortit serta mampu menyerap CO2 dan menyimpannya dalam bentuk mineral kalsit. Hasil analisis menunjukkan bahwa ukuran kristalit kalsit yang terbentuk mempunyai korelasi dengan prosentase gas CO2 yang terserap. Penyerapan CO2 tertinggi tercapai pada bentonit CaBK dan NaBK dengan penambahan Ca(OH)2 pada suhu rendah masing-masing sebesar 9,9% dari massa percontoh. Adapun kristalinitas mineral kalsit terbesar tercapai pada bentonit CaBK yang menghasilkan kristalit kalsit berukuran 463,36Ǻ. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentonit Tasikmalaya mampu menyerap CO2 dan menyimpannya dalam bentuk kalsit. Calcite precipitated during hydrothermal carbonation process was analyzed using semi-quantitative XRD (X-ray diffraction) method, supported with commercial software PeakFit®, and SEM (scanning electrone microscope) method to study its crystallite size and morphology. Tasikmalaya bentonite consist of potassium, calcium, magnesium silicate minerals as montmorillonite, clinoptilolite, and anorthite. The result indicates that crystallite sizes correlate with absorbed CO2 percentage. The highest CO2 absorption was obtained from CaBK and NaBK bentonite with addition of 9.9% Ca(OH)2 for each sample at low temperature. Largest calcite crystallinity obtained from CaBK bentonite that resulted 463.36Ǻ crystallites size. The result indicates that Tasikmalaya bentonite has an ability to absorb and store CO2 as calcite.
PERBANDINGAN ANALISIS POROSITAS PORITES MENGGUNAKAN TEKNIK MICRO-CT DAN OPTIK
Makalah ini membahas perbandingan nilai porositas sampel karang Porites berdasarkan citra yang dihasilkan dari teknik optik dan micro-CT. Teknik optik biasa digunakan dalam perhitungan porositas batuan dengan menghitung prosentasi lubang pori dengan matrik batuan pada sayatan tipis. Micro-Computed Thomography (micro-CT) merupakan teknik nondestructive yang sering digunakan dalam analisa 3D untuk menginvestigasi struktur internal sebuah benda, termasuk rongga pori. Karakteristik dan nilai porositas karang Porites ditentukan dengan mengklasifikasikan citra micro-CT dan optik sebagai pori dan matrik berdasarkan tingkat keabuannya. Karakteristik pori menunjukkan bahwa teknik optik lebih bisa mengidentifikasi struktur pori yang menerus dan memanjang, sedangkan micro-CT lebih mampu mengidentifikasi pori dengan kebundaran tinggi. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa metode micro-CT mampu mengidentifikasi ruang pori lebih banyak dibanding pada klasifikasi secara optik pada lapisan yang sama. Nilai porositas karang Porites berdasarkan teknik micro-CT dan teknik optik tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan sehingga teknik micro-CT dapat digunakan dalam perhitungan porositas karang Porites dimana teknik micro-CT mampu mengidentifikasi pori yang sering tidak teridentifikasi oleh teknik optik.This paper discusses the porosity value comparation of Porites coral based on optical and micro Computed Thomography (micro-CT) images to get the opium value of porosity. Optical techniques are commonly used in rock porosity measurement by measure prosentase of holes and matrix based on thin sections, whereas micro-CT as a non-destructive 3D analysis technique is commonly used to investigate internal structures of an object, including rock void porosity void.. Characteristic and porosity value of Porites coral are determined based on the percentage of pores void and matrics. These pores and matrics are identified using grey scale-based micro-CT and optical images classification. Pore-based characteristic shows that optical method is better to identify continuous and elongated pore structuresthan the micro-CT method which is good to identify high circular pores. Micro-CT method is able to identify pore space better than optical classification method. There were not significant differences of Porites coral values based on micro-CT and optical techniques. These results show that micro-CT technique can be used for Porites porosity measurement. Furthermore, unidentified pore by optical technique can be detected by micro-CT
FORAMINIFERA ASSEMBLAGES AS A MARKER OF MUD ERUPTION SOURCE IN CIUYAH, CINIRU – KUNINGAN, WEST JAVA
Mud eruptions that rise claystone to sandstone-size fragments, liquid, gas, and heat to the surface have been identified in Ciuyah, Ciniru District, Kuningan. Field observation and sampling were conducted on host rock as well as mud in Ciuyah. Forty-two planktic and forty-two benthic foraminiferal species were identified in rock samples; while 89.28% of them are recorded in mud samples. Foraminifera contained in claystone and sandstone of Pemali and Halang Formations reveals the age of Middle to Late Miocene. Based on their stratigraphic ranges, planktic foraminifera assemblages in mud represent four age-marker groups, there are: older than Zone N.10 / Middle Miocene (indicated by the appearance of Globorotalia archeomenardii), ranges of Zone N.11 – N.12 / Middle Miocene (marked by the appearance of Globorotalia fohsi lobata and Globorotalia praemenardii), ranges of Zone N.13–N.14 / Middle Miocene (Globorotalia siakensis and Globorotalia mayeri), and ranges of Zone N.15–N.17 / Late Miocene (Globorotalia acostaensis acostaensis and Neogloboquadrina dutertrei dutertrei). Benthic foraminifera can be grouped into outer neritic and bathyal typical assemblages. That several age-marker planktic foraminifera groups mixing and deep marine typical benthic occurrence in mud samples is produced by reworking process during turbidity sedimentation, as well as erosion and elution of base- and side-rock composed by Pemali and Halang Formations.Semburan lumpur yang membawa fragmen-fragmen berukuran batulempung hingga batupasir, cairan, gas dan panas ke permukaan telah teridentifikasi di Ciuyah, Kecamatan Ciniru, Kuningan. Observasi lapangan dan pengambilan sampel dilakukan terhadap batuan induk serta lumpur di Ciuyah dan sekitarnya. Empat puluh dua spesies foraminifera planktik dan empat puluh dua spesies bentik teridentifikasi dalam sampel batuan; dengan 89,28% di antaranya terekam dalam sampel lumpur. Foraminifera yang terkandung dalam batulempung dan batupasir Formasi Pemali dan Halang menunjukkan umur Miosen Tengah hingga Akhir. Berdasarkan rentang stratigrafinya, kumpulan foraminifera planktik dalam lumpur menunjukkan empat kelompok penanda umur, yaitu: lebih tua dari Zona N.10 / Miosen Tengah (ditunjukkan oleh kehadiran Globorotalia archeomenardii), rentang Zona N.11 - N.12 / Miosen Tengah (ditandai oleh kehadiran Globorotalia fohsi lobata dan Globorotalia praemenardii), rentang Zona N.13 -N.14 / Miosen Tengah (Globorotalia siakensis dan Globorotalia mayeri), dan rentang Zona N.15 - N.17 / Miosen Akhir (Globorotalia acostaensis acostaensis dan Neogloboquadrina dutertrei dutertrei). Foraminifera bentik dapat dikelompokkan dalam kumpulan neritik luar dan batial. Beberapa kelompok penanda umur foraminifera planktik dan kehadiran bentik laut dalam pada lumpur dihasilkan oleh pengerjaan ulang selama sedimentasi turbidit, serta erosi dan elusi batuan dasar dan batuan samping yang tersusun oleh Formasi Pemali dan Halang
PENENTUAN INDEKS KERENTANAN AIRTANAH PESISIR JAWA DI WILAYAH SELAT SUNDA DENGAN MENGGUNAKAN METODE GALDIT
Kerentanan airtanah pesisir merupakan salah satu isu yang sangat penting dalam perkembangan pembangunan saat ini. Antisipasi dan upaya mengurangi dampak negatif kualitas airtanah wilayah pesisir akibat faktor antropogenik dan perubahan iklim, memerlukan upaya penentuan indikasi daerah yang memiliki kerentanan tinggi. Upaya pembobotan diperlukan berdasarkan faktor-faktor yang paling penting dalam memahami kerentanan airtanah wilayah pesisir. Metode GALDIT merupakan salahsatu sistem peringkat numerik untuk menilainya. Tiga komponen penting dari sistem ini adalah kriteria bobot, rentang data dan peringkatnya. Fokus dari penelitian ini adalah pada penerapan dan metode GALDIT untuk mengakses kerentanan airtanah pesisir di wilayah Pulau Jawa sepanjang Selat Sunda. Kesimpulannya, metode ini perlu diintegrasikan dengan faktor kerentanan lokal dan dibandingkan dengan metode lainnya agar dapat diaplikasikan dengan lebih akurat.Groundwater coastal vulnerability is one of the most important issues in the human development today. Anticipation to mitigate negative impacts of groundwater coastal quality due to climate change impacts and anthropogenic activities, required to indicate the zonation with high vulnerability index. The GALDIT method is a one of numerical rating system for assessing the susceptibility of groundwater coastal vulnerability. Three important parts of this system were weighting criteria, range of data and ratings. The focus of this research is to applied GALDIT method to access groundwater coastal vulnerability in Jawa Island along the Sunda Strait. In conclusion, this method needs to be integrated with local vulnerability factors and compared with other methods to be applied more accurately