eJournal Kedokteran Indonesia
Not a member yet
    287 research outputs found

    Peran Glutathion pada Kegagalan Terapi Klorokuin

    No full text
    Malaria adalah penyakit tropik mematikan dan mengancam 200-300 juta jiwa di dunia. WHO menyatakan, terdapat lebih dari 2 juta kematian akibat malaria setiap tahunnya. Walaupun insiden malaria cenderung menetap sejak akhir tahun 1990, resistensi obat antimalaria akibat penggunaanberlebihan menjadi masalah global. Penelitian terakhir menyatakan bahwa mekanisme resistensi antimalaria dipengaruhi peningkatan glutation intra-eritrosit di eritrosit yang terinfeksi. Peran glutathion pada Plasmodium terhadap resistensi klorokuin penting diketahui, terutama untuk dijadikan sebagai prospek target obat dalam eradikasi malaria. Pengetahuan akan karakteristik dan peran glutathion diharapkan dapat menjelaskan informasi penting mengenai fungsi dan hubungan antara glutathion dengan parasit malaria. Kata kunci: malaria, Plasmodium, resistensi, glutathio

    Primer Design for Sequencing DENV-4 to be used in Molecular Epidemiology of Dengue Viruses in Jakarta

    No full text
    AbstractThis study is aimed to recognize the characteristic of dengue patients in Jakarta, to identify the genotype of dengue virus serotype 4 (DENV-4) in Jakarta and to design primer for DENV-4. This cross-sectional study involved 100 patients with positive result of NS-1 examination. This research was conducted at the Department of Microbiology, Faculty of Medicine, Universitas Indonesia. The specimen were collected from March until December 2010, while the virus sequencing was perfomed between January and October 2011. The patients were categorized based on RT-PCR confirmation results, gender, age and domicile. The identification of serotipe of dengue viruses is determined by RT-PCR examination. The genotipe of DENV-4 is determined by sequencing of whole genome of DENV-4 by using Genetyx software. The primer design for DENV-4 was carried out by using Primer Designer program. The highest prevalence of DF was found among patients of 14-20 years old (41,4%) and those who lived in East Jakarta. The ratio of DF between male and female is not significantly different.  The predominant serotype circulating in Jakarta was DENV 2. The genotype of serotype 4 circulating in Jakarta in 2010-2011 was type II. Primer design for dengue serotype 4 had a size of 406-692 base pairs, no hairpin developed, dimer formation was within two and Tm difference ranged from 0 to 8C.Keywords: DHF, serotype 4, genotype, primerAbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik pasien demam berdarah dengue di Jakarta dan mengidentifikasi genotipe virus dengue serotype 4 (DENV 4) di Jakarta serta membuat desain primer DENV-4. Penelitian dilakukan secara potong lintang pada 100 pasien dengan hasil pemeriksaan NS-1 positif. Penelitian dilakukan di Departemen Mikrobiologi, Faculty of Medicine, Universitas Indonesia. Pengambilan data dilakukan pada bulan Maret-December 2010, virus sequencing dilakukan pada bulan Januari-Oktober 2011. Sampel dibagi berdasarkan hasil konfirmasi RT-PCR, jenis kelamin, usia dan tempat tinggal. Identifikasi virus dengue dan penentuan serotipe menggunakan RT-PCR. Penentuan genotipe DENV-4 dilakukan dengan melakukan sekuensing whole genome DENV-4 menggunakan software Genetyx. Pembuatan primer DENV-4dilakukan dengan program Primer Designer. Prevalensi demam berdarah dengue tertinggi terdapat pada usia 14-20 tahun (41,4%) dan pada pasien yang bertempat tinggal di Jakarta Timur. Ratio penderita perempuan dan laki-laki tidak menunjukkan perbedaan bermakna. Genotipe DENV-4 yang bersirkulasi di Jakarta adalah tipe II. Desain primer DENV-4 memiliki ukuran 406-692 pasang basa, tidak ada hairpin, formasi dimer dengan dua dan Tm yang berbeda yang berkisar antara 0-8 C.Kata Kunci: DBD, serotipe 4, genotipe, prime

    Hubungan Status Gizi, Asupan Besi, dan Magnesium dengan Gangguan Tidur Anak Usia 5-7 Tahun di Kampung Melayu, Jakarta Timur Tahun 2012

    No full text
    AbstrakTidur adalah hal yang penting bagi anak karena terjadi peningkatan aktivitas susunan saraf pusat tertentu untuk memberikan efek fisiologis bagi tubuh. Banyak faktor yang menyebabkan gangguan tidur, salah satu yang dapat dimodifikasi adalah faktor nutrisi. Aspek nutrisi yang diperkirakan berkaitanadalah status gizi, asupan besi, dan asupan  magnesium. Status gizi merupakan parameter secara umum keseimbangan antara derajat kebutuhan fisik anak terhadap nutrien. Besi dan magnesium berhubungan karena mempengaruhi substansi yang berperan dalam pengaturan fisiologi tidur. Penelitian ini merupakan studi  observasi-analitik untuk mengetahui  hubungan status gizi, asupan besi, dan asupan magnesium dengan gangguan tidur pada anak usia 5-7 tahun dengan metode cross-sectional  dari data sekunder pada anak-anak di Posyandu Kampung Melayu, berupa status antopometri, asupan besi, asupan magnesium, dan skor gangguan tidur dengan kuesioner Sleep Disturbance Scale for Children (SDSC). Gangguan tidur dinyatakan bila skor SDSC melewati angka39. Prevalensi anak yang mengalami gangguan tidur pada penelitian ini adalah 23,1%. Pada uji chi square untuk hubungan indeks Berat Badan/Umur dan Tinggi Badan/Umur dengan gangguan tidur didapatkan p>0,05 yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan secara statistik. Pada uji chi square untuk hubungan asupan besi dan magnesium dengan gangguan tidur, didapatkan p>0,05 yang menandakan tidak terdapat hubungan secara statistik.Kata kunci: asupan besi, asupan  magnesium, gangguan tidur, dan status gizi.AbstractSleep is essential for children because there is enhancement of neural system activities that give physiologic effects for the body. There are several factors that relate with sleep disturbances, where one of the modifiable factors is nutrition. Nutritional status, iron intake, and magnesium intake are examples of nutrition that are believed to relate with sleep. Nutritional status represents thebalance between nutritional intake and expenditure. Iron and magnesium are micronutrients that are related to the substance that regulate sleep mechanism. This study is an observational-analysis study to examine the association of nutritional status, iron intake, and magnesium intake to the sleep disturbance in age five to seven children using cross-sectional method on the secondary data of children in Posyandu Kampung Melayu. Data include nutritional status, iron intake, magnesium intake, and sleep disturbance diagnosed with the Sleep Disturbance Scale for Children. The cut-off point to identify the disturbance is 39. Prevalence of children that have sleep disturbance is 23,1%. There was no statistically significant difference found between Body Weight on Age, Height on Age and sleep disturbance, using the chi square analysis, with p value more than 0,05. The same nonsignificant result was found from the chi square analysis to determine the relation between iron intake and magnesium intake to sleep disturbance, with the p value more than 0,05.Keywords: Iron intake, magnesium intake, nutritional status, and sleep disturbance

    Hubungan antara Karakteristik Demografi, Gaya Hidup dan Perilaku Pasien Puskesmas di Jakarta Selatan dengan Dermatofitosis

    No full text
    AbstrakMikosis superfisialis merupakan penyakit yang banyak ditemukan di Indonesia, sebagian besar disebabkan oleh golongan dermatofita (dermatofitosis). Pada umumnya dermatofitosis dapat diobati dengan baik, akan tetapi mudah terjadi infeksi berulang. Oleh karena itu penting dilakukan edukasi dan penyuluhan yang tepat guna dan tepat sasaran kepada penderita jamur dermatofitosis terutama di Puskesmas selaku pusat pelayanan kesehatan primer dimana insidens penyakit ini masih tinggi. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara karakteristik demografi, gaya hidup dan perilaku  pasien terkait dengan penyakit dermatofitosis. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional dengan metode consecutive sampling berupa pengisian kuesioner yang dilakukan pada pertengahan bulan Juli-Agustus 2014 dengan total 307 responden. Data diolah dengan program SPSS versi 17. Hasil penelitian diolah dengan  uji chi-square, uji Fisher’s exact, uji Kolmogorov-Smirnov dan uji T-test. Didapatkan lima variabel yang berhubungan bermakna degan dermatofitosis  antara lain; usia (p= 0,0012), keluhan berupa bercak merah (p=0,000), keluhan berupa lenting (p=0,006), keluhan lain-lain (p=0,000) dan tipe mudah berkeringat/berkeringat banyak (p= 0,005). Sehingga dapat disimpulkan terdapat hubungan antara karakteristik demografi, gaya hidup dan perilaku pasien dengan penyakit dermatofitosis. Kata Kunci: dermatofitosis, bercak merah, lenting AbstractSuperficial fungal infection is a disease commonly found in Indonesia, usually caused by dermatophyte fungal type called as dermatophytoses. Eventhough dermatophytoses is easily treated but  there may be  recurrent infection.  It is important to give the right counseling  to patient especially in Puskesmas as a primary health care where this type of  disease is at high presence.  The aim of the study is out the association between demographic characteristic, lifestyleand behaviour of patients related to dermatophytoses . A cross sectional study with consecutive sampling method was conducted on mid July-August 2014 by giving questionnaire to 307 patients who came  to  skin division in Puskesmas South Jakarta. Data from questionnaire were analyzed using  SPSS version 17.  The statistical analysis was done using the chi-square test,  Fisher’s exact test, Kolmogorov-Smirnov test  and  T-test.  There are 5 variables which correlate with dermatophytoses; age (p= 0,0012), signs of red patch (p= 0,000), signs of “ lenting” (p=0,006), other signs (p=0,000) and patients who easily or has a lot of sweat (p= 0,005).  It was concluded  that there is an association between demographic characteristic, lifestyle and behaviour of patients related to dermatophytoses. Keywords: dermatophytoses, red patch, lentin

    Pilihan Terapi pada Overactive Bladder Refrakter

    No full text
    AbstrakOveractive bladder (OAB) merupakan suatu kondisi yang berkaitan dengan gangguan proses berkemih. International Continence Society menetapkan OAB sebagai suatu gangguan berkemih yang terdiri dari gejala desakan, dengan atau tanpa inkontinensia, umumnya disertai dengan sering berkemih dan nokturia, tanpa suatu bukti infeksi atau proses patologis lainnya. Saat ini, terapi lini pertama OAB meliputi perubahan gaya hidup, terapi fisik dan/atau perilaku, pengaturan jadwal berkemih, hingga pemberian obat golongan antimuskarinik. Ada beberapa kasus OAB yang memiliki respon kurang baik terhadap terapi lini pertama. Pasien dengan OAB yang tidak menunjukkan respon positif setelah menjalani terapi lini pertama selama tiga bulan harus menjalani pemeriksaan urodinamik dan sistoskopi untuk mengevaluasi penyebab lain dari gejala berkemih yang dialami. Untuk kasus refrakter, harus dipertimbangkan penggunaan terapi lini kedua yang bersifat lebih invasif. Injeksi botulinum toxin intravesika, neuromodulasi sakral, dan sistoplasti merupakan pilihan terapi lini kedua bagi OAB yang refrakter terhadap terapi konservatif lini pertama. Ketiga terapi lini kedua tersebut cukup invasif, sehingga terapi alternatif seperti stimulasi N. Tibialis posterior, Mirabegron, serta kombinasi dual antimuskarinik dapat menjadi pilihan.Kata kunci: OAB refrakter, overactive bladder, botox, neuromodulasi, sistoplasti, mirabegron AbstractOveractive bladder (OAB) is a condition related to voiding dysfunction. The International Continence Society defined OAB as a urinary urgency, with or without incontinence, usually with frequent voiding and nocturia, without evidence of infection or other pathological process. At the moment, the first line therapy for OAB includes lifestyle modification, physical and/or behavioral therapy, timed voiding, and antimuscarinic drugs. There are some cases of OAB that do not respond to first line therapy. Patients who do not respond positively to first line therapy within three months should undergo urodynamic andcystoscopic examination to evaluate other causes of the voiding dysfunction. For such refractory cases, a more invasive second line therapy should be considered. Intravesical botulinum toxin injection, sacral neuromodulation, and cystoplasty are considered second line therapy for OAB refractory to conservative first line therapy. However, these therapies are considered invasive; therefore, before deciding to use them, posterior tibial nerve stimulation, Mirabegron, and dual antimuscarinic drugs can be considered as less invasive alternatives.Keywords: refractory OAB, overactive bladder, botox, neuromodulation, cystoplasty, mirabegro

    Prevalence and Seven-day Observation of Critically Ill Patients in Cipto Mangunkusumo Hospital, Jakarta: A Preliminary Study

    No full text
    Current medical record system in Cipto Mangunkusumo Hospital (RSCM) does not allow up-to-dateidentification for patients with critical condition. As an effort on improving the rapid response of themedical team, this study aims to determine the number of critically ill patients and the incidence ofemergency activation (code blue) during the study period. A longitudinal study was conducted for allinpatients that were critically ill in RSCM ward from 19th to 26th April 2013. Via consecutive sampling,critically ill patients were selected based on the code blue criteria. Selected patients were then observedfor seven days to determine the incidence of cardiopulmonary arrest and their 24-hour survival. Outof 428 patients who were treated in the hospital ward on 19th April 2013, 13 patients (3%) were incritical condition. Primary diagnoses of the critically ill patients varied from infections, auto-immune tomalignancies. Four deaths occurred with three emergency activations; 1 central and 2 regional. Threepercent of all the inpatients treated in the hospital ward were critically ill. Thirty percent of those patientexperienced cardiac arrests. All four arrests resulted in deaths, including two do not resuscitate patients.Data obtained from this study are preliminary and has identified existing problems that requires furtherstudies for confirmation. This study also illuminate the importance of integrated-electrical medicalrecord system.Keywords: prevalence, critically ill, inpatients, Cipto Mangunkusumo Hospita

    Peran Indeks Massa Tubuh, Tanda Vital dan Sosiodemografi terhadap Kebugaran Peserta Klub Jantung Sehat, Jakarta Timur

    No full text
    Kebugaran jasmani adalah kemampuan tubuh untuk melakukan kegiatan sehari-hari tanpa menimbulkankelelahan yang berarti. Banyak faktor yang berperan terhadap tingkat kebugaran jasmani antara lainsosiodemografi dan status gizi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui peran faktor-faktor tersebutterhadap tingkat kebugaran seseorang. Desain penelitian ini adalah potong lintang dengan respondenpeserta senam Klub Jantung Sehat Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur. Data diambil padabulan Juli 2009; 41 orang responden dipilih dengan convenient sampling. Tingkat kebugaran dinilaidengan nilai prediksi VO menggunakan six minutes walk test dan kuesioner. Berdasarkan statusgizi dan tanda vital responden, didapatkan rerata frekuensi nadi 79,59x/menit (±7,8), sebanyak 15orang (36,6%) memiliki kategori IMT obesitas I, 25 orang (61,0%) memiliki tekanan darah pretesttidak normal, 27 orang (65,9%) memiliki tekanan darah posttest tidak normal. Disimpulkan mayoritaspeserta klub jantung sehat memiliki tingkat kebugaran rendah (70,7%), serta terdapat hubungan negatifantara VO2max2max responden dengan usia (r=-0,325; p=0,038) dan hubungan positif dengan frekuensi nadi(r=0,343; p=0,028). Variabel lain seperti jenis kelamin, jenis pekerjaan, tingkat pendidikan, dan IMTtidak berhubungan dengan nilai prediksi VO.Kata kunci: tingkat kebugaran, indeks massa tubuh, frekuensi nadi, tekanan dara

    Hubungan Kondisi Lingkungan Rumah Susun dengan Prevalensi Penyakit Respirasi Kronis di Jakarta

    No full text
    Penyakit respirasi kronis seperti asma, pneumonia, tuberkulosis, dan penyakit paru obstruktif kronis(PPOK) merupakan penyebab mortalitas yang tinggi di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalahuntuk mengetahui hubungan antara kondisi lingkungan rumah terhadap prevalensi penyakit respirasikronis yaitu PPOK, batuk kronis, TB paru, asma, pneumonia dan infeksi fungal pada penghuni rusundi Jakarta. Penelitian ini menggunakan metode cross-sectional dengan alat ukur berupa kuesioner.Penelitian dilakukan terhadap 120 keluarga yang tinggal di rusun menengah kebawah di Jakarta padatahun 2012. Variabel lingkungan yang diteliti meliputi ventilasi, pencahayaan, kepadatan hunian, saranasanitasi, suhu udara, dan kelembaban udara. Dari 120 keluarga, didapatkan 513 data penghuni rusundengan prevalensi penyakit respirasi secara total sebesar 41,9%, secara rinci yaitu  prevalensi TBparu sebesar 7,6%, PPOK sebesar 1,8%, asma sebesar 1%, infeksi fungal sebesar 0,8%, pneumoniasebesar 0,2%, batuk kronis sebesar 0,6%, dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sebesar 32,9%.Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan antara  prevalensi penyakit respirasi kronis denganventilasi rusun (p=0,042) , dan dengan pencahayaan dalam rusun (p=0,003). Penyakit respirasi kronismemiliki hubungan dengan keadaan lingkungan yaitu ventilasi dan pencahayaan pada penghuni rusundi Jakarta.Kata kunci: penyakit respirasi kronis, kondisi lingkungan, rumah susu

    Prediksi Angka Kekambuhan pada Pasien Skizofrenia Episode Pertama dengan Kepatuhan Berobat Rendah dalam Waktu Tiga Tahun

    No full text
    Kekambuhan pada pasien dengan riwayat skizofrenia episode pertama dapat meningkatkan morbiditas penderita, mulai dari penurunan produktivitas sehari-hari, respons pengobatan yang buruk, hingga biaya pengobatan yang tinggi. Seringkali pengobatan yang diberikan dokter untuk mencegah kekambuhan, tidak dipatuhi pasien. Tujuan studi kasus ini adalah mendapatkan angka kekambuhan dalam jangka waktu 3 tahun pada pasien dewasa yang memiliki riwayat skizofrenia episode pertama dengan kepatuhan berobat rendah. Pencarian dilakukan di PubMed dan Scopus. Setelah dilakukan skrining judul dan abstrak dari 143 artikel menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi didapatkan 4 artikel. Setelah seluruh teks dibaca, didapatkan 2 artikel relevan, kemudian dilakukan telaah kritis. Angka kekambuhan pasien dewasa yang memiliki riwayat skizofrenia episode pertama dengan kepatuhan pengobatan rendah dalam jangka waktu 3 tahun pada dua studi tersebut adalah 57% (95% CI: + 21,2%) dan 93,8% (95% CI: + 3,7%). Disimpulkan kedua studi menunjukkan angka kekambuhan yang tinggi selama 3 tahun pada pasien dewasa skizofreniaepisode pertama dengan kepatuhan pengobatan rendahKata kunci: skizofrenia episode pertama, angka kekambuhan, kepatuhan pengobatan

    The Usage of Oral Anti Hyperglycemic Agent in Gestational Diabetes: Pros and Cons

    No full text
    The prevalence of gestational diabetes mellitus (GDM)  is increasing as the pregnant population becomes older and more obese. Fifteen percent of GDM patients require medical intervention. Insulin is still the drug of choice because it has not been implicated as a teratogen in human pregnancies.Insulin has its disadvantages such as the need for injections, the risk of hypoglycaemia, excessive weight gain and the costs. The use of oral anti hyperglicemic agent (OAHA), traditionally contraindicated, now can be considered as an alternative for insulin which can be beneficial in developing countries. From four groups of OAHA, sulfonylurea and biguanides can be used during pregnancy. Studies and randomized controlled trial (RCT) have been done and most summarized that it does not increase any maternal and perinatal morbidity. Most data also show that thereare also no differences in glycemic control or pregnancy outcomes compared with insulin. There are conflicting data shows metformin increase prevalence of preeclampsia patient and perinatal morbidity. OAHA usage, although not yet recommended internationally, can be considered in GDMpatients with uncontrolled blood sugar levels that require medical intervention but can not use insulin. Wellconducted, prospective, controlled studies regarding itsfeasibility in pregnant women with diabetes are still needed.Keywords:oral antihyperglycemic agent, gestational, diabete

    0

    full texts

    287

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    eJournal Kedokteran Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇