eJournal Kedokteran Indonesia
Not a member yet
    287 research outputs found

    Determination of Genotype of Dengue Virus Serotype 1 by Using Primer Design

    No full text
    Dengue fever has become a worldwide health problem. This disease occurs more and more frequently and often cause death, especially in some Asian countries including Indonesia. The purpose of this study was to determine the genotype of dengue virus serotype 1 in Indonesia by using primer design as a base to take part in the development of diagnostics and vaccines of the dengue virus. This research consisted of 100 respondents; male and female aged 14-60 years. All samples were selected by consecutive sampling and dengue viruses used in this study were randomly selected in March-December 2010. The next step was sequencing process in January-October 2011 in the Department of Microbiology FKUI by using cross sectional design. The result of this study was dengue virus serotype 1 strains from Indonesia belonged to genotype 4. Keywords: genotype of dengue virus serotype 1, Indonesia, diagnostic, vaccin

    Exploring Clinical Rotation Competence Improvements after Interpersonal Skills Development in At-Risk Medical Students

    No full text
    AbstractPrior to admission, medical students were subject to psychological tests to measure their logical thinking skills and personality, hence predicting their ability to complete their studies. The results showed 56,45% of medical students obtained recommendation category 4 (doubtful) and 5 (not recommended), two categories which are considered to be at-risk group with a very small probability of completing their studies. These results predicted that students in the mentioned groups will have difficulties in achieving the clinical competence level required by the Indonesian Doctors’ Competency Standard (IDCS). The aim of the study was to investigate clinical competency achievement by at-risk medical students in the third year, after following interpersonal skills development training program on July 2011. This research used qualitative study design through psychological examination, written self-reflection and in-depth interview after the training. Interpersonal skills development training for at-risk medical students gave positive effects to theircharacter development for the helping profession. It was concluded that interpersonal skills training could help improve medical student’s achievement of clinical competence especially for at-risk group in their clinical rotations stage.Keywords: medical students, at-risk group, interpersonal skills, clinical competence AbstrakPada mahasiswa kedokteran yang baru masuk dilakukan pemeriksaan psikologis untuk memperoleh gambaran penalaran dan kepribadian untuk memprediksi kemampuan mahasiswa dalam menyelesaikan pendidikan. Berdasarkan pemeriksaan tersebut diperoleh 56,45% mahasiswa dengan hasil uji psikometrik kategori rekomendasi 4 (diragukan) dan 5 (tidak disarankan) yang disebut sebagai kelompok at-risk. Kelompok at risk memiliki peluang keberhasilan rendah untuk menyelesaikan pendidikan dan akan mengalami kesulitan mencapai kompetensi klinik sesuai Standar Kompetensi Dokter Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah menggali pengalaman pencapaian kompetensi klinik mahasiswa kelompok at-risk  pada tahun ketiga, setelah mengikuti pelatihan pengembangan keterampilan interpersonal yang dilaksanakan pada bulan Juli 2011. Penelitian ini menggunakan rancangan studi kualitatif dengan wawancara mendalam setelah dilakukan pelatihan. Pengembangan keterampilan interpersonal pada mahasiswa kedokteran kelompok at-risk memberikan dampak positif terhadap pembentukan kepribadian sebagai helping profession. Disimpulkan bahwa pengembangan keterampilan interpersonal yang diberikan dalam bentuk pelatihan dapat digunakan untuk membantu meningkatkan pencapaian kompetensi mahasiswa khususnya kelompok at-risk di tahap klinik.Kata Kunci: mahasiswa kedokteran, kelompok at-risk, keterampilan interpersonal, kompetensi klinik

    Frekuensi Penyakit Kulit di RS Karitas, Sumba Barat Daya September 2014

    No full text
    AbstrakKulit merupakan bagian terluar tubuh yang mencerminkan kesehatan dan kebersihan seseorang. Berbagai faktor seperti kurangnya air bersih, tingkat pendidikan yang rendah, dan tingkat sanitasi yang buruk, merupakan faktor risiko penyakit kulit, khususnya infeksi. Sumba Barat Daya (SBD) merupakan kabupaten dengan jumlah penduduk tidak sekolah tertinggi di Nusa Tenggara Timur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien kulit dan prevalensi penyakit kulit di RS Karitas, Sumba Barat Daya. Penelitian deskriptif potong-lintang ini dilakukan pada bulan September 2014. Data diambil dari semua kunjungan dengan keluhan kulit pada bulan September 2014. Terdapat 81 kunjungan, pasien terbanyak adalah laki-laki sebanyak 41 orang (52,6%), dan pasien terbanyak adalah anak sebanyak 52 orang (66,7%). Lima penyakit terbanyak adalah pioderma sebanyak 14 orang (17,9%), skabies 12 orang (15,4%), dermatitis kronis 10 orang (12,8%), serta dermatitis atopi dan miliaria masing-masing 6 orang (7,7%). Tingginya frekuensi penyakit kulit infeksi di SBD mencerminkan rendahnya tingkat sanitasi dan pendidikan masyarakat. Perlu dilakukan edukasi terhadap masyarakat mengenai kebersihan dan hubungannya dengan pencegahan penyakit infeksi, khususnya infeksi kulit.Kata kunci: penyakit kulit, infeksi, Sumba Barat DayaAbstractSkin is the outer part of human body that represents individual’s health and hygiene. Various factors such as inadequate water supply, poor education, and poor hygiene contribute to risk of having skin diseases, especially infection. This cross-sectional descriptive study was conducted in Karitas hospital, September 2014. All visits with skin-related complaints are taken consecutively. There were 81 skin-related visits, most of patients are male, 41 patients (52.6%). The majority of patients are under 17 years old, 52 patients (66.7%). Top five most common skin diseases are pyoderma 14 patients (17.9%), scabies 12 patients (15.4%), chronic dermatitis 10 patients (12.82%), and both atopic dermatitis and miliaria 6 patients (7.69%). The high frequency of infectious skin diseases in Southwest Sumba indicates the low people’s hygiene and education level. It’s important to educate the people in good hygiene and its relation to prevent infectious diseases, including skin diseases.Keywords: skin disease, infection, Southwest Sumb

    Hubungan Ukuran Lingkar Lengan Atas Ibu Hamil dengan Risiko Kejadian Persalinan Preterm di Puskesmas Kecamatan Kramat Jati Jakarta Timur

    No full text
    Kelahiran prematur tetap menjadi salah satu penyebab terbesar mortalitas dan morbiditas perinatal di seluruh dunia. Persalian preterm biasanya sangat berhubungan dengan kejadian infeksi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi hubungan ukuran lingkar lengan atas < 23 cm pada ibu hamil trimester pertama dengan resiko terjadinya persalinan preterm. Hal ini akan coba diteliti mengingat kelahiran preterm cenderung berkaitan dengan bayi BBLR danstatus nutrisi ibu yang buruk. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus kontrol dengan jumlah total sampel sebanyak 105 yang dibagi ke dalam 2 kelompok kasus dan kontrol. Data yang digunakan berupa data sekunder, yaitu rekam medis pasien yang menjalani persalinan dan asuhanantenatal di Puskesmas Kecamatan Kramat Jati dalam rentang waktu Januari hingga Desember 2013. Data dianalisis dengan uji hipotesis Chi-Square (p<0,05) dan didapatkan rasio odds untuk setiap kelompok dengan menggunakan spss 11.5 for Windows. Dari analisis terhadap 105 sampel didapatkan hasil tidak terdapat hubungan antara LILA < 23 cm dengan resiko terjadinya persalinan preterm (p= 0,256). Odds rasio untuk kelompok kasus dan kontrol adalah 1,8 (95%CI 0,6-4,8). Karena CI melewati angka 1 maka tidak terdapat hubungan antara LILA < 23 cm dengan persalinanpreterm. Penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara lingkar lengan atas kurang dari 23 cm dengan resiko kejadian persalinan preterm.Kata kunci: Persalinan, Preterm, LILA&nbsp

    Harapan Baru Penyandang Diabetes Mellitus pada Era Jaminan Kesehatan Nasional 2014

    No full text
    ..

    Treatment Failure in Tuberculosis Patient: The Role of Smoking Habit

    No full text
    Indonesia faces high burden of Tuberculosis (TB) each year. At the same time, smoking is considered to be common, especially in men. A number of TB patients, who receive standard regimen of TB therapy, would not easily give up on smoking, despite extensive advices from healthcare providers. This report aims to show evidence whether cigarette smoking increases the rate of treatment failure of standard anti-TB regiment in patients with pulmonary TB. Systematic search was done in two databases: Medline and Scopus. Cohort studies were selected as appropriate study design to answer a prognosis question. Two cohort studies are found to berelevant with this report. Treatment failures upon standard regimen of TB therapy are 6.9% and ® 1.7% in both studies. Smoking habit has been demonstrated to increase the likelihood of treatment  failure with OR 2.37 (95% CI: 1.24 – 4.54) and 7.489 (95% CI: 0.93 – 60.30). In conclusion,treatment failure in standard TB therapy is small. Smoking habit increases the treatment failure of standard anti-TB regiment in patients with pulmonary TB. Keywords: smoking, tuberculosis, treatment failur

    Pengaruh Pajanan Monosodium Glutamat terhadap Histologi Duodenum Tikus Putih

    No full text
    AbstrakKonsumsi Monosodium glutamat (MSG) berlebih dapat merusak berbagai organ termasuk duodenum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pajanan MSG terhadap gambaran histologis duodenum tikus putih (Rattus novergicus) jantan galur wistar dan kemampuan regenerasinya. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Dua puluh tujuh ekor tikus dibagimenjadi 9 kelompok dengan simple random sampling. Kelompok kontrol positif (K+) 1,2,3 diberikan aquadest selama 28 hari (K+1), 42 hari (K+2), 56 hari (K+3);  kelompok kontrol negatif (K-)1,2,3 diberikan MSG dosis 5 mg/gBB/hari selama 28 hari (K-1), 42 hari (K-2), 56 hari (K-3); kelompok perlakuan (P)1,2,3 diberikan MSG dosis 5 mg/gBB/hari selama 28 hari kemudian dihentikan (regenerasi) selama 1 hari (P1), 14 hari (P2), 28 hari (P3). Kemudian dilakukan pembedahan dan pembuatan preparat jaringan duodenum dengan pewarnaan H&E. Variabel yang diukur adalah tinggi vili (µm) dan kedalaman kripta (µm) dengan perbesaran lensa objektif 10x dan 40x. Datadianalisa menggunakan uji one-way anova dilanjutkan dengan post hoc test LSD. Pajanan MSG selama 28 hari mengakibatkan penurunan tinggi vili (p<0,05) dan pendangkalan kedalaman kripta (p<0,05). Penghentian pajanan MSG selama minimal 14 hari mengakibatkan peningkatan tinggi vili(p>0,005) dan kedalaman kripta (p>0,05) dibandingkan dengan kelompok kontrol positif. Pajanan MSG mengakibatkan kerusakan duodenum dan regenerasi duodenum terjadi setelah penghentian pajanan selama 14 hari.Kata kunci: Monosodium glutamat (MSG), regenerasi, duodenumAbstractExcessive MSG consumption results in multiorgans damage including duodenum. The aim of this study was to determine the effect of exposure to MSG on histology of male wistar rats (Rattus norvegicus) duodenum and its regeneration capability. This is experimental study used 27 rats divided into 9 groups by simple random sampling. Positive control groups (K+) 1,2,3 were givenAquadest for 28 days (K+1), 42 days (K+2), 56 days (K+3); negative control groups (K-) 1,2,3 were given 5 mg/gBW/day MSG for 28 days (K-1), 42 days (K-2), 56 days (K-3); treatment groups (P) 1,2,3 were given 5 mg/gBW/day MSG for 28 days and then stopped (regeneration) for 1 day (P1), 14 days (P2), and 28 days (P3). The rats were then sacrificed and the duodenum was processed into microscopic preparations and stained with H&E. Measured variables including villi height (µm) and crypt depth (µm) which was observed with 10x and 40x objective lens magnification. Data were analyzed using one-way ANOVA followed by LSD post hoc. Exposure to MSG for 28 days decreased villous height (p<0.05) and increased crypt depth (p<0.05). Cessation of MSG for at least 14 days resulted in increasing villous height (p>0.005) and crypt depth (p>0.05) compared with positive control group. Exposure of MSG damage the duodenum and duodenal regenerationoccurs after MSG cessation for 14 days. Keywords: Monosodium glutamate (MSG), regeneration, duodenum

    Ovarian Cryopreservation and Transplantation: A Preserving Fertility Procedure

    No full text
    AbstractDevelopments in cancer treatment modalities and the ability to detect it in the early stages have increased survival rate, yet raise fertility problems for those who have to endure gonadotoxic therapy. Cryopreservation of either ovary, oocytes or embryo can be an option, surely with its own advantages or disadvantages. Cryopreservation procedures are not without risks. As an example, there is a risk of reimplanting an occult tumour within the frozen–thawed ovarian pieces. Therefore, a thorough discussion between the practitioner and patient regarding all available options should be performed prior to its implementation, and there should be a clear understanding that most fertility preservation options are currently experimental.Keywords: cryopreservation, fertility, cancerAbstrakPerkembangan modalitas tata laksana kanker dan kemampuan untuk mendeteksinya pada stadium awal dapat meningkatkan angka kelangsungan hidup, tetapi dapat meningkatkan masalah fertilitas pasien yang memerlukan terapi gonadotoksik. Kriopreservasi baik ovarium, oosit atau embrio dapat menjadi pilihan dengan keuntungan dan kerugian masing-masing. Prosedurkriopreservasi bukannya tanpa risiko. Sebagai contoh, terdapat risiko implantasi tumor di bagian ovarium yang dibekukan. Oleh karena itu, penggunaannya harus didiskusikan antara pasien dan dokter mengenai pilihan yang tersedia dan penjelasan bahwa pilihan preservasi kesuburan saat ini masih bersifat eksperimental.Kata kunci: kriopreservasi, kesuburan, kanke

    Deteksi Antigen pada Kriptokokosis

    No full text
    AbstrakKriptokokosis  merupakan  infeksi  sistemik  yang  disebabkan  Cryptococcus  sp.  Predileksi jamur tersebut adalah susunan saraf pusat dan selaput otak. Terdapat 5 spesies Cryptococcus sp. yang menyebabkan penyakit pada manusia; yang paling banyak adalah Cr. neoformans dan Cr.  gattii.  Diagnosis kriptokokosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan laboratoris PCR. Pemeriksaan secara morfologi dengan tinta India positif  bila jumlah sel jamur 10 sel/ml spesimen. Kultur dilakukan di media sabouraud dextrose agar (SDA) dan niger sheed agar (NSA), jamur  tumbuh  setelah  5­7  hari.  Deteksi  antigen  dan  antibodi  dilakukan  pada  cairan  tubuh  dan tidak membutuhkan waktu lama. Deteksi antibodi Cr.neoformans memiliki kelemahan yaitu tidak menunjukkan hasil positif pada infeksi akut, IgA masih positif setelah 1­2 tahun fase penyembuhan, IgG  dapat  persisten,  pada individu  imunokompromis menunjukkan hasil  yang  sangat  kompleks dan dalam menentukan diagnosis sering tidak  konsisten. Polisakarida  adalah komponen paling berperan dalam virulensi Cr. neoformans. Komponen polisakarida terutama glucuronoxylomannan merupakan petanda penting dalam diagnosis kriptokokosis secara serologis. Deteksi antigen Cr. neoformans memiliki kelebihan yaitu menunjukkan hasil positif pada infeksi akut/kronis, sensitivitas antigen yang minimal tetap dapat mendiagnosis kriptokokosis. Kata kunci: Cr. neoformans, glucuronoxylomannan, antigenAbstractCryptococcosis is systemic infection that caused by Cryptococcus sp. Predilection of this fungi is the central nervous system and brain membrane. There are 5 species of Cryptococcus sp. that cause  cryptococcosis  in  human;  but  the  majority  are  caused  by  Cr.  neoformans  and  Cr.  gattii. The diagnosis of cryptococcosis is made based on clinical symptoms, laboratory and radiological PCR. Morphological examination with India ink is positive when the number of fungi is around 10 10 cells/ml. Cultur examination is performed in Sabouraud dextrose agar (SDA) and niger sheed agar (NSA) medium, fungi grows in 5­7 days. Antigen and antibody detection could be performed on result in acute infection, IgA still positive after 1­2 years of healing phase and IgG can be persistent. The immunocompromised person showed very complex result and inconsistent in determining the diagnosis. Polysaccharides are the most instrumental component in Cr. neoformans virulence. The component of Polysaccharide especially glucuronoxylomannan is the most important marker in the diagnosis of cryptococcosis. Antigen detection of Cr. neoformans can show positive result in acute/ Keywords: Cr. neoformans, glucuronoxylomannan, antige

    Hubungan Obesitas dengan Hipertensi pada Penduduk Kecamatan Sintang, Kalimantan Barat

    No full text
    AbstrakHipertensi dan komplikasinya merupakan penyebab kematian nomor satu secara global. Obesitas merupakan salah satu faktor risiko hipertensi. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji hubungan obesitas dan hipertensi di Kecamatan Sintang, Pontianak. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional; sampel diambil dengan teknik consecutive sampling. Pengukuran meliputi tekanan darah sistolik dan diastolik, berat badan, dan tinggi badan. Indeks massa tubuh (IMT)ditentukan berdasarkan berat badan dan tinggi badan, dikelompokkan dalam dua kategori, yakni normal (18,5-22,9 kg/m2) dan obesitas (≥ 25 kg/m). Berdasarkan nilai tekanan darah, subjek dikelompokkan dalam dua kategori, non-hipertensi (normal dan prahipertensi) dan hipertensi (derajat 1 dan 2). Dari 146 subjek penelitian, 65 orang (44,5%) adalah perempuan dan 81 orang(55,5%) laki-laki. Terdapat perbedaan bermakna antara obesitas dan hipertensi (p<0,001). Risiko relatif terjadinya hipertensi pada penderita obesitas adalah PR 2,16; CI 95% 1,32-2,24. Disimpulkan terdapat hubungan antara obesitas dan hipertensi. Penderita obesitas mempunyai risiko mengalami hipertensi 2,2 kali lebih besar dibandingkan dengan subjek dengan IMT normal.Kata kunci: hipertensi, obesitas, Kecamatan Sintang, PontianakAbstractHypertension and it’ complications are the number one cause of death worldwide. Obesity is one of hypertension’s risk factors. This study is designed to examine the association between obesity and hypertension in Sintang Subdistrict, Pontianak. This is a cross sectional study and participants were recruited using consecutive sampling technique. Systolic and diastolic bloodpressure, height, and body weight were taken. Body mass index (BMI) was calculated and classified as normal (18,5-22,9 kg/m2) and obese (>25 kg/m). Blood pressures were divided into two groups: non-hypertensive (normal and prehypertension) and hypertensive (grade 1 and 2).s146 subjects were recruited, with 65 female subjects (44.5%) and 81 male (55.5%). The result showed a significant association between obesity and hypertension (p<0.001). The relative risks of having hypertension for obese patients is PR 2.16; CI 95% 1.32 – 2.24. Iteis concluded that there is an association between obesity and hypertension. Obese patients have 2.2 times higher risk for having hypertension than normal BMI patients.Keywords: hypertension, obesity, Sintang subdistrict, Pontiana

    0

    full texts

    287

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    eJournal Kedokteran Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇