eJournal Kedokteran Indonesia
Not a member yet
287 research outputs found
Sort by
Terapi Stem cell untuk Infark Miokard Akut
Infark miokard masih merupakan penyebab utama gagal jantung kongestif dan kematian (5,1%). Penyakit tersebut mengakibatkan kerusakan miokard yang progresif dan irreversible, sehingga pengobatan konvensional seperti terapi reperfusi tidak dapat mengatasi secara sempurna. Oleh karena itu, diperlukan terapi yang dapat meregenerasi jaringan yang dapat dicapai melalui aplikasi stem cell secara klinis. Stem cell memiliki kemampuan meregenerasi sel lain melalui dua mekanisme yaitu, diferensiasi sel dan sekresi sitokin serta faktor pertumbuhan. Stem cell yang paling banyak digunakan pada terapi infark miokard adalah derivat sumsum tulang. Sel tersebut memiliki tingkat aplikabilitas yang tinggi, tidak membutuhkan ekspansi secara in vitro, dan yang terpenting mampu berdiferensiasi menjadi berbagai jenis sel. Metode aplikasi yang paling sesuai ialah melalui pendekatan transvaskuler sesuai hasil studi yang telah dilakukan berupa perbaikan anatomis serta peningkatan fungsi jantung jauh di atas terapi konvensional. Meskipun demikian, masih perlu dilakukan studi yang mendalam terkaitoptimalisasi terapi stem cell di masa yang akan datang.Kata kunci: infark miokard, terapi stem cel
Hubungan Tingkat Pengetahuan Mengenai Pedikulosis Kapitis dengan Karakteristik Demografi Santri Pesantren X, Jakarta Timur
Effectiveness of Health Education on First Aid of Dengue Haemorrhagic Fever on School Teachers in North Jakarta, 2011
Pengaruh Hiperglikemia Admisi terhadap Major Adverse Cardiac Events Selama Perawatan pada Pasien Sindrom Koroner Akut di ICCU RSCM, Jakarta
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran hiperglikemia admisi sebagai prediktor Major Adverse Cardiac Events (MACE) dan mengetahui pengaruhnya terhadap kecepatan terjadinya MACE pada Sindrom Koroner Akut(SKA). Studi kohort retrospektif dengan pendekatan analisis kesintasan dilakukan terhadap 442 pasien SKA yangdirawat di ICCU RSCM tahun 2008-2012. Pasien dibagi tiga kelompok berdasarkan konsentrasi glukosa darah(GD) admisi (GD ≤140mg/dl, 141-200mg/dL, dan >200mg/dL). Sebanyak 63 (14,25%) pasien mengalami MACEdengan rerata waktu kesintasan 6,3 hari dan (IK 95% 6,22-6,52 hari). MACE tercepat pada GD admisi >200 mg/dL, 141-200 mg/dL, dan ≤140 mg/dL dengan rata-rata kejadian masing-masing pada hari perawatan ke-5,9; 6,0;dan 6,6 (log rank <0.001). Hiperglikemia admisi merupakan prediktor independen MACE selama perawatan (adjustedHR 2,42; IK 95% 1,04-5,58 untuk GD admisi 141-200 mg/dL dan adjusted HR 3,59; IK 95% 1,03-12,46untuk GD admisi >200 mg/dL). Terdapat perbedaan kesintasan pada kelompok hiperglikemia admisi dalam terjadinya MACE. Semakin tinggi konsentrasi glukosa darah pasien SKA saat admisi semakin tinggi risiko dan semakin cepat pula terjadi MACE selama perawatan.Kata kunci: Hiperglikemia admisi, MACE, kesintasa
The Effectiveness of Health Education to Increase Knowledge on Life Cycle of A. lumbricoides among Orphans in Lubang Buaya Village, East Jakarta
The prevalence of ascariasis in Indonesia remains high, especially in children who live in crowded area. Knowledge on A. lumbricoides is the key in preventing ascariasis. The purpose ofthis research is to know the effectiveness of health education in increasing the knowledge on thelife cycle of A. lumbricoides among the orphans. This experimental study (pre-post study) wasconducted at orphanage in Lubang Buaya Village, East Jakarta. The data was taken on June, 122012 by handing out questionnaires about the life cycle of A.lumbricoides to the subjects before andafter health education. All orphans who gathered were becoming the research subjects. Data wasprocessed using SPSS 11.5 and tested with marginal homogeneity. The results show the numbersmale subjects and female subjects are 59 (41.5%) and 83 (58.5%), 78 primary school (54.9%),55 junior highschool (38.7%), and 9 senior highschool students(6.4%). Before health education,the numbers of respondents with good, fair, and poor knowledge level of A. lumbricoides were 1(0.7%), 11 (7.7%), 130 subjects (91.6%). After education, the number of subjects with good andfair knowledge increased to 8 (5.6%) and 50 subjects (35.2%), while poor knowledge decreasedto 84 (59.2%). Marginal homogeneity test showed a significant difference (p<0.001) between theorphans’ knowledge before and after health education. In conclusion, health education is effectiveto increase knowledge of A. lumbricoides in orphans.Keywords: knowledge level, health education, orphans, ascariasis