eJournal Kedokteran Indonesia
Not a member yet
287 research outputs found
Sort by
Prevalensi Skabies dan Faktor-faktor yang Berhubungan di Pesantren X, Jakarta Timur
Skabies merupakan penyakit kulit yang banyak ditemukan di lingkungan padat penghuni seperti pondok pesantren. Karakteristik santri diduga berperan terhadap kejadian skabies. Penelitian ini bertujuan mengetahui prevalensi skabies dan hubungannya dengan jenis kelamin dan tingkatpendidikan santri Pesantren X, Jakarta Timur. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dan data diambil pada tanggal 10 Juni 2012 dengan melakukan anamnesis dan pemeriksaan dermatologi terhadap semua santri (192 orang). Data diolah menggunakan program SPSS versi 20.0 dan dianalisis dengan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi skabies 51,6% (laki-laki 57,4% dan perempuan 42,9%; tsanawiyah 58,1% dan aliyah 41,3%) dengan lokasi lesi skabies terbanyak di bokong (33,8%) dan di sela jari tangan (29,2%). Uji chi square menunjukkan perbedaan bermakna pada prevalensi skabies berdasarkan jenis kelamin (p=0,048) dan tingkat pendidikan (p=0,023). Disimpulkan prevalensi skabies di Pesantren X, Jakarta Timur adalah51,3% dan berhubungan dengan jenis kelamin dan tingkat pendidikan.Kata kunci: skabies, prevalensi, santri, jenis kelamin, tingkat pendidika
Glioblastoma in Pregnancy: A Case Report
A 33- year-old, Indonesian woman presented with pregnancy and glioblastoma. Chief complaintwas headache that worsened since 1 month ago. Other complaints included vomitting, seizure andweakness of the left part of her body when she was 12 weeks pregnant. CT scan result midline shiftto the left of falx cerebri with obliterated right ventricle and hypodens mass on right region Craniotomywas performed but the patient refuse to terminate the pregnancy. Patient was supposed to undergoseries of radiotherapy but decided not to since it may complicate her pregnancy. After 5 month, patienthad recurring complaint and CT scan showed area of hypo and hyperdens in fronto-parietal dextraand sinistra with brain edema. Joint operation of cesarean section continued with craniotomy wasperformed when her condition worsened. The patient treated in the intensive care unit and dischargedhome in good condition. Every brain tumours in pregnancy bring dilemmas with no standard treatmentin medicine. The treatment intention is to minimise mortality and morbidity for both maternal and fetal.The management have to be individualised from a multi-disciplinary team and the consideration of amultitude of factors, including location of the tumour, associated signs and symptoms, fetal gestationand the patient’s wishes.Keywords: glioblastoma, pregnancy, cance
Effectiveness of Health Education in Increasing the Knowledge on Filariasis Mass Drug Administration among Primary Health Care Workers in South Jakarta, 2013
AbstractEight new cases of chronic filariasis have been discovered in South Jakarta, a non-endemic area. To cut the chain of transmission, administration of diethylcarbamazine (DEC) and albendazole yearly for five years should be performed. Therefore, primary health care workers in South Jakarta require health education to perform filariasis prevention correctly. This research aimed to study the effectiveness of health education on filariasis mass drug administration (MDA) among primary health care workers in South Jakarta. This study used experimental design with pre-post study method. Data collection was done in South Jakarta on the 26 of June 2013 by asking all the attending primary health care workers to fill the questionnaires comprised of eight questions regarding filariasis MDA. The results show that before health education, 83.3% of participants had poor knowledge, 14.8% had average knowledge and 1.9% of participants had good knowledge on filariasis MDA. Following health education, 64.8% of participants had good knowledge on filariasis, 27.8% had average knowledge and only 7.4% of participants had poor knowledge (marginal homogeneity test <0.001). It was concluded that health education is effective in increasing the knowledge of primary health care workers on filariasis MDA. Keywords: filariasis, health education, health care workers, mass treatmentAbstrakDelapan kasus baru filariasis kronis ditemukan di Jakarta Selatan yang bukan merupakan daerah endemis. Untuk memutus rantai penularan, pemberian obat dietilkarbamazin dan albendazol tiap tahun selama lima tahun harus dilakukan.Oleh karena itu, petugas puskesmas di Jakarta Selatan memerlukan pengetahuan untuk melakukan pencegahan filariasis dengan benar. Penelitian inibertujuan untuk mengetahui efektivitas penyuluhan kesehatan mengenai program pemberian obat massal pencegahan (POMP) filariasis pada petugas puskesmas di Jakarta Selatan. Desain penelitian ini adalah eksperimental dengan metode pre-post studi. Pengumpulan data dilakukan di Jakarta Selatan pada 26 Juni 2013. Semua petugas puskesmas yang hadir diminta untuk mengisi kuesioner yang berisi 8 pertanyaan mengenai POMP filariasis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum penyuluhan kesehatan, 83,3% petugas memiliki pengetahuan yang buruk, 14,8% memiliki pengetahuan rata-rata dan 1,9% memiliki pengetahuan yang baik mengenai POMP filariasis. Setelah penyuluhan kesehatan, 64,8% petugas memiliki pengetahuan baik mengenaiPOMP filariasis, 27,8% memiliki pengetahuan rata-rata dan hanya 7,4% memiliki pengetahuan kurang (tes marginal homogeneity <0.001). Disimpulkan bahwa penyuluhan kesehatan efektif meningkatkan pengetahuan petugas puskesmas mengenai POMP filariasis.Kata kunci: filariasis, penyuluhan, pekerja kesehatan, pengobatan masal 
The Relationship between Hygienic Practices and Scabies Infestation in a Boarding School in East Jakarta
oai:journal.ui.ac.id:article/4510AbstractScabies is a skin disease that is most common in Indonesia, especially in dense environments such as boarding occupants. This research aims to study the relationship of scabies with personal hygienic practices (PHB) in the male students in the boarding school X in East Jakarta. This cross­ sectional study was conducted on March 8, 2014, and all students are the subjects of study (total sampling). Diagnosis of scabies was done with history taking and dermatological examination. PHB data was taken with a questionnaire containing 10 questions regarding the personal hygienic practices. The question was given a score of 0 to 1 for bad behavior and good behavior. Data were analyzed by chi square test. The results showed the prevalence of scabies was 36%, with 3.4% of good personal hygienic practices and 32.8% had poor personal hygienic practices. There are associated with scabies.Keywords: scabies, personal hygiene, prevalence, pesantrenAbstrakSkabies merupakan salah satu penyakit kulit yang paling umum di Indonesia, terutama di ling­kungan padat penghuni seperti pesantren. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari hubungan skabies dengan perilaku hidup bersih (PHB) pada siswa laki­laki di Pesantren X di Jakarta Timur. Penelitian cross­sectional ini dilakukan pada tanggal 8 Maret 2014 dan semua siswa dijadikan sub­yek penelitian (total sampling). Diagnosis skabies dilakukan dengan anamnesis dan pemeriksaan dermatologis. Data PHB diambil dengan kuesioner yang berisi 10 pertanyaan mengenai PHB. Pertanyaan diberi skor 0 untuk perilaku buruk dan 1 untuk perilaku baik. Analisis data dilakukan dengan ujichi square. Hasilnya menunjukkan prevalensi skabies adalah 36% dan PHB yang baik (p=0.008). Disimpulkan, kebersihan pribadi berhubungan dengan skabies.Kata Kunci: scabies, perilaku hidup bersih, prevalensi, pesantren
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Insidens Diare Balita di Jakarta Timur
AbstrakDiare merupakan penyebab kematian kedua pada balita di seluruh dunia (17%). Satu dari lima balita meninggal akibat diare setiap tahunnya karena dehidrasi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan faktor-faktor yang berperan terhadap insidens diare balita. Data dikumpulkan pada bulan Maret 2011-April 2012, dengan metode polygonal random sampling untuk mencari sampel. Dari 2401 responden yang mengisi kuesioner dengan lengkap dan 466 keluarga memiliki anak balita, sebanyak 73 balita (15,7%) mengalami diare selama dua minggu terakhir. Mayoritas ibu memberikan oralit sebagai pengobatan utama diare. Terdapat perbedaan bermakna (p=0,001) pada tingkat pendidikan ibu dan kebiasaan mencuci tangan. Tidak terdapat perbedaan bermakna pada tingkat pendidikan ibu (p=0,649), tingkat pengetahuan ibu (p=0,124), kebiasaan memberi ASI (p=0,031), pengetahuan akan oralit (p=0,000), kebiasaan mencuci tangan ibu (p=0,529) dan antara tingkat pendidikan kepala keluarga (p=0,708) dengan insiden diare balita. Pendidikan dan pengetahuan orangtua yang tidak didukung kebiasaan baik, serta cara mencuci tangan yang tidakbenar tidak berhubungan dengan insiden diare.Kata Kunci: pendidikan, pengetahuan, cuci tangan, diare.AbstractDiarrhea has been the second top leading cause of death among infants around the world (17%). One of five children dies because of diarrhea, due to the loss of body fluid. The aim of this research is to study the relationship between factors that counts for incidence of diarrhea in infants. Data collection had started from March 1st until April 1st, 2012, using polygonal random sampling method to get the sample. From 2401 respondent that fills the questionare,466 families have infants in their home, and as many as 73 infants (15,7 %) had diarrhea for the last two weeks. Majority of the mother gave oral rehidration solution (36,69%) for the main treatment of diarrhea. Significant result was found between the mother’s knowledge and the hand washing behaviour (p=0,001). Furthermore, no significant difference was found between mother’s formal educational level (p=0,649), mother’s knowledge (p=0,124),breast feed behaviour (p=0,031), knowledge about the oral rehydration salt (p=0,000) and the householder’s educational level (p=0,708) with the diarrhea incidence. Mother’s formal educational level counts for a change in the way of thinking. Education level and knowledge without a change to a better lifestyle, and the right way to wash the hands has no relation with the incidence of diarrhea. Keywords: education, knowledge, hand washing, diarrhe
Dokter Layanan Primer: Upaya Mengejar Keterlambatan Pergerakan Peningkatan Kualitas Layanan Primer di Indonesia
Geriatric Medicine, Sarkopenia, Frailty, dan Kualitas Hidup Pasien Usia Lanjut: Tantangan Masa Depan Pendidikan, Penelitian dan Pelayanan Kedokteran di Indonesia
Geriatri adalah cabang ilmu kedokteran dengan fokus pada penuaan dini dan tatalaksana penyakit terkaitusia lanjut. Proses menua mengakibatkan penurunan fungsi sistem organ seperti sistem sensorik, sarafpusat, pencernaan, kardiovaskular, dan sistem respirasi. Selain itu terjadi pula perubahan komposisitubuh, yaitu penurunan massa otot, peningkatan massa dan sentralisasi lemak, serta peningkatanlemak intramuscular. Masalah yang sering dijumpai pada pasien geriatri adalah sindrom geriatri yangmeliputi: imobilisasi, instabilitas, inkontinensia, insomnia, depresi, infeksi, defisiensi imun, gangguanpendengaran dan penglihatan, gangguan intelektual, kolon irritable, impecunity, dan impotensi. Dimasa yang akan datang diperlukan tempat rawat jalan terpadu dan perawatan kasus akut geriatri dirumah sakit di seluruh Indonesia. Program lainnya adalah nutrisi usia lanjut, tempat istirahat sementara,layanan psiko-geriatri dan dementia care, dukungan care giver, pencegahan penyakit kronis dankonseling, serta menyiapkan moda transportasi yang sesuai.Kata kunci: geriatri, kedokteran, penurunan fungsi, sindrom geriatri
Diabetes Insipidus in Young Women with Cervical Cancer
AbstractA 25 year old, unmarried, Indonesian woman came to the emergency department Cipto Mangunkusumo Hospital with shock condition. Initially assessed as septic condition, the patient was then diagnosed as diabetes insipidus (DI). It was concurrently found that the patient also had several sexual intercourse before and not until later that the patient diagnosed with stage IB cervical cancer. Cervical cancer (CC) is the third most common cancer in women worldwide and primarily affects young adult women, with consequences not only individually but also socially. DI is a rare disease that causes frequent urination that is not freqently related with CC. Concurrent incidence of DI with CC can only be seen in several case reports. It has not yet been established whether these two conditions are concurrent or having a cause-effect relationship. DI is not a common case, hence knowing its clinical sign and syptoms are very important. In fund limited setting in third world countries, the laboratory examination can be simplified by examining the osmolality of the serum and urine condition. These low level of serum can be very helpful in diagnosing DIwith treatment can be as simple as fluid restriction. Regarding the CC, radical trachelectomy can be done with surveilance must be done every 3-6 month for 2 years and every 6-12 month for 3-5 years with cytology.Keywords: CC, diabetes insipidusAbstrakSeorang perempuan Indonesia, 25 tahun, belum menikah datang ke IGD RSCM dengan keadaan syok. Awalnya dinilai sebagai keadaan sepsis namun akhirnya didiagnosis sebagai diabetes insipidus (DI). Didapatkan riwayat berhubungan seksual sebelumnya dan kemudian diketahui menderita kanker serviks stadium IB. Kanker serviks merupakan kanker ketiga tersering pada perempuan di seluruh dunia dan terutama menyerang dewasa muda, dengan konsekuensi individual dan sosial. DI merupakan penyakit yang menyebabkan seringberkemih dan jarang berhubungan dengan kanker serviks. Kejadian bersamaan antara DI dan kanker serviks hanya ditemukan pada beberapa laporan kasus. Belum dipastikan bahwa kedua kondisi tersebut terjadi bersamaan atau memiliki hubungan sebab-akibat. DI bukan kasus yang sering sehingga mengetahui tanda dan gejala klinis menjadi penting. Di wilayah dunia ketiga dengan keterbatasan dana, pemeriksaan laboratorium dapat disederhanakan dengan memeriksa osmolalitas serum dan urin. Apabila didapatkan kadar yang rendah makadiagnosis DI dapat ditegakkan dengan tatalaksana sederhana seperti pembatasan cairan. Mengenai kanker serviks, trakhelektomi radikal dapat dilakukan dengan pengawasan tiap 3-6 bulan untuk 2 tahun dan tiap 6-12 bulan untuk 3-5 tahun dengan sitologi.Kata Kunci: kanker serviks, diabetes insipidu
Efektivitas Vasopresin dan Norepinefrin dalam Memperbaiki Fungsi Ginjal pada Pasien Syok Sepsis yang Disertai Acute Kidney Injury
Penggunaan norepinefrin sebagai standar dalam penatalaksanaan syok sepsis pada pasien denganacute kidney injury (AKI) masih kontroversial karena dapat berdampak buruk bagi ginjal. Padakeadaan sepsis, terjadi deplesi vasopresin sehingga pemberian vasopressin menjadi salah satu pilihandalam meningkatkan tekanan darah pada syok sepsis, khususnya untuk pasien AKI. Pada makalahini, dibandingkan penggunaan vasopresin dengan norepinefrin dalam memperbaiki fungsi ginjal padapasien syok sepsis yang disertai AKI. Pencarian bukti ilmiah dilakukan melalui Pubmed, Embasedan Cochrane dengan kata kunci acute kidney injury, vasopressin, norepinephrine, dan septic shock.Didapatkan dua bukti ilmiah yang dilaporkan oleh Lauzier et al dan Gordon et al, kemudian ditelaahvaliditas, importancy, dan kemungkinan aplikasinya. Hasilnya menunjukkan bahwa vasopressinlebih superior dibandingkan norepinefrin dalam meningkatkan fungsi ginjal. Lauzier et al melaporkanvasopresin meningkatkan creatinine clearance secara bermakna dalam 24 jam pertama. Gordon etal melaporkan pada kategori Risk (kriteria RIFLE) vasopresin lebih baik karena mengurangi progresirenal Failure atau Loss dan menurunkan kreatinin serum lebih besar dibandingkan norepinefrin. Tidakditemukan perbedaan bermakna pada kategori Injury, Failure, Loss, atau End-stage. Disimpulkanpada pasien AKI dengan kategori Risk disertai syok sepsis, penggunaan vasopresin lebih superiordibandingkan norepinefrin dalam memperbaiki fungsi ginjal.Kata kunci: acute kidney injury, vasopresin, norepinefrin, syok sepsi