eJournal Kedokteran Indonesia
Not a member yet
    287 research outputs found

    Seizure and Mild Cognitive Impairment in Tuberous Sclerosis Complex

    No full text
    Tuberous sclerosis complex (TSC) is syndrome characterized by hamartomal growth on multiple organ systemcaused by genetic disturbance especially on TSC1 gene producing hamartin and TSC2 gene producing tuberin, most clinical syndrome are facial angiofibroma, renal angiomyolipoma(AML), pulmonary lymphangiomatosis(LAM) and several other clinical feature of multiorgan distubance while neurological manifestation of TSC usually seizure caused by either intracranial tubers, subependymal nodules (SEN) and subependymal giant cell astrocytoma (SEGA). We report a case ofa girl, 18th years old with main complaint of seizure since 5 years ago. Electroencephalography (EEG) show abnormal epileptiform activity of 4 Hz-spike-wave complex predominantly on left temporal region while head CT scan showed multiple calcification. Neurobehavior assessment revealed mild cognitive impairment on memory, language and visuospatial domain. Chromosom analysis showed no major structural disorders. Seizure is now controlled with valproic acid. Keywords: Tuberous sclerosis complex, epilepsy, neurogenetics. Bangkitan dan Gangguan Kognitif Ringan padaTuberous Sclerosis Complex Abstrak Tuberous sclerosis complex (TSC) merupakan sindrom dengan karakteristik pertumbuhan hamartoma di berbagai organ dan disebabkan oleh gangguan genetik terutama pada gen TSC1 yang memproduksi hamartin dan gen TSC2 yang memproduksi tuberin. Gejala klinis TSC adalah facial angiofibroma, renal angiomyolipoma (AML), pulmonary lymphangiomatosis (LAM) dan gangguan multiorgan lainnya. Manifestasi neurologis TSC umumnya berupa bangkitan yang disebabkan oleh tuber intrakranial, subependymal nodules (SEN) and subependymal giant cell astrocytoma (SEGA). Kami melaporkan kasus perempuan berusia 18 tahun dengan keluhan utama bangkitan yang dialami sejak 5 tahun sebelum masuk rumah sakit. Elektroensefalografi (EEG) menunjukkan aktivitas epileptiform abnormal berupa kompleks paku-ombak 4 spd predominan di regio temporal kiri dan CT-scan kepala menunjukkan kalsifikasi intrakranial multipel. Penjajakan neurobehavior menunjukkan gangguan kognitif ringan pada domain memori, bahasa dan visuospasial. Pada analisis kromosom tidak ada gangguan struktural mayor. Bangkitan kini terkontrol dengan asam valproat. Kata kunci: Tuberous sclerosis complex, epilepsi, neurogenetika

    Faktor Virulensi Outer Membrane Protein 20 kDa Klebsiella pneumoniae sebagai Protein Hemaglutinin dan Adhesin

    No full text
    Klebsiella pneumoniae adalah bakteri batang gram negatif yang merupakan patogen sangat infeksius. Mekanisme virulensi K. pneumoniae masih belum sepenuhnya diketahui terutama kemampuannya sebagai protein hemaglutinin dan protein adhesin. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui peran outer membrane protein (OMP) 20 kDa bakteri K. pneumoniae sebagai protien hemaglutinin dan adhesin. Penelitian ekperimental ini dilakukan pada bulan Oktober – Desember 2018 di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran dan Fakultas MIPA Universitas Jember. Dilakukan identifikasi berat molekul OMP dengan 12,5% SDS-PAGE. OMP dengan berat molekul 20 kDa yang diperoleh kemudian digunakan untuk uji hemaglutinasi dan uji adhesi. Hasil penelitian didapatkan OMP 20 kDa K. pneumoniae merupakan protein hemaglutinin dan protein adhesin. Analisis dengan korelasi Pearson menunjukkan terdapat hubungan antara dosis OMP 20 kDa K. pneumoniae dengan indeks adhesi (p= 0,029; R= -0.562). Kata kunci: Klebsiella pneumoniae, OMP, hemaglutinin, adhesin.   Virulence factor of 20 kDa Outer Membrane Protein (OMP) Klebsiella pneumoniae as Haemagglutinin and Adhesin Protein   Abstract Klebsiella pneumoniae is a Gram-negative rod bacterium, which is an exceptionally infectious pathogen. The mechanism of virulence of K. pneumoniae is still not fully known, especially its ability as a hemagglutinin protein and adhesin protein. The purpose of this study was to determine the role of the outer membrane protein (OMP) of 20 kDa K. pneumoniae bacteria as hemagglutinin and adhesin protein. This experimental research conducted in October - December 2018 in the Microbiology Laboratory of the Faculty of Medicine and the Faculty of Mathematics and Natural Sciences, University of Jember. Outer membrane protein molecular weight identified with 12.5% SDS-PAGE. The OMP with a molecular weight of 20 kDa obtained then used for hemagglutination and adhesion tests. The results showed that 20 kDa K. pneumoniae OMP is a hemagglutinin protein and adhesin protein. Analysis with Pearson correlation shows there is a relationship between the OMP dose of 20 kDa K. pneumoniae and adhesion index (p = 0.029; R = -0.562). Keywords: Klebsiella pneumoniae, OMP, hemagglutinin, adhesion

    The Management of Nocturia by Indonesian Urologist

    No full text
    Nocturia is defined as the number of times urine is passed during main sleep. Prevalence of nocturia is around 70% and 11-44% for age group 70-80 and 20-40 years respectively. Although, it is clearly prevalent, nocturia is just seen as a small part of lower urinary tract symptoms (LUTS). The objective of the study was to review nocturia in terms of diagnostic and management strategies among Indonesian urologists. This was a descriptive cross-sectional study. A self-constructed questionnaire was distributed to Indonesian urologists from August 2017 until August 2018 using consecutive sampling method. 124 urologists out of 400 urologists participated. in this study most of the urologists had to face 1-5 cases nocturia per month. Age of patients were mostly 50-65 years old and affecting more men than women (66.9% vs 16.9% respectively). Only 45% of urologists utilized bladder diary regularly to assess nocturia. Nearly 90% urologist opted for lifestyle intervention to manage nocturia. Desmopressin was used by only 20.2% urologists to treat nocturia. Anti-muscarinic and beta-3 agonist were used more often than desmopressin to treat nocturia. To conclude, diagnostic strategies for nocturia are mostly in line with available guidelines except for bladder diary which was only used routinely by 45% of urologists. As for treatment, desmopressin was still prescribed less frequently than OAB drugs for nocturia. Keywords: nocturia, urology, LUTS, desmopressin, functional.   Manajemen Nokturia oleh Urolog di Indonesia Abstrak Nokturia didefinisikan sebagai jumlah berkemih selama waktu tidur. Prevalensi nokturia sekitar 70% dan 11-44% pada kelompok umur 70-80 dan 20-40 tahun. Walaupun nokturia memiliki prevalensi tinggi, diagnosis tersebut hanya dianggap sebagai bagian kecil gejala lower urinary tract (LUT). Tujuan penelitian ini adalah mengetahui strategi diagnostik dan terapi nokturia oleh dokter spesialis urologi di Indonesia. .Studi deskriptif pontong lintang ini menggunakan metode consecutive sampling dan kuesioner yang dibagikan pada dokter spesialis urologi pada bulan Agustus 2017–Agustus 2018. Sebanyak 124 dari 400 spesialis urologi berpartisipasi dalam studi ini. Mayoritas spesialis urologi mendapat 1-5 kasus per bulan. Usia pasien tersering adalah 50-65 tahun dan lebih banyak laki-laki. (66.9% vs 16.9% respectively). Hanya 45% spesialis urologi menggunakan catatan harian berkemih untuk diagnosis nokturia. Kurang lebih 90% responden memilih intervensi gaya hidup sebagai tata laksana. Desmopressin hanya digunakan 20,2% responden untuk mengobati nokturia. Anti-muskarinik dan beta-3-agonis lebih sering digunakan dibandingkan desmopressin untuk tata laksana nokturia. Disimpulkan strategi diagnostik untuk nokturia telah sesuai dengan panduan tatalaksana kecuali untuk catatan harian berkemih. Dalam hal terapi nokturia, desmopressin masih lebih jarang digunakan dibandingkan dengan obat untuk overactive bladder. Kata kunci: nokturia, urologi, LUTS, desmopresin, fungsional

    Kematian Janin yang Berakhir dengan Litopedion

    No full text
    Litopediondalam bahasa Yunani kuno berarti “bayi batu”yaitu fenomena langka yang terjadi ketika janin meninggal selama kehamilan ektopik atau kehamilan perutdenganfrekuensi 1,5-2% dari kehamilan ektopik dan 0,0054% dari semua kehamilan. Janin yang mati terlalu besar untuk diserap kembali oleh tubuh sehingga menjadi benda asing bagi sistem kekebalan pasien. Untuk melindungi dari kemungkinan infeksi, tubuh akan membungkus janin dengan zat kalori. Janin secara bertahap dimumikan menjadi bayi batu. Kalsifikasi atau pembatuan dapatmencegah infeksi. Litopedion dapat terjadi sejak usia kehamilan 14 minggu hingga masa penuh. Bayi batu dapatditemukan sekian puluh tahun kemudian ketika pasien memeriksakan diri dan diperiksadengan sinar-X. Pada makalahinidisampaikankasus bayi batu pada seorang perempuanberusia61 tahun yang dilakukanfoto rontgen abdomen di RSUD dr.Soetomo Surabaya karena keluhan nyeri perut. Fetal Death that Ended with Lithopedion Lithopedion in ancient Greek means “stone baby”, a rare phenomenon that occurs most often when a fetus dies during an ectopic pregnancy or during a stomach pregnancy, constituting about 1.5-2% of all ectopic pregnancies and 0.0054% of all pregnancies. The dead fetus is too big to be reabsorbed by the mother’s body, it becomes a foreign object to the mother’s immune system. To protect from possible infection, the mother’s body will wrap the fetus with caloric substances. The fetus is gradually mummed into a stone baby. Such calcification or sterilization prevents infection. Lithopedion can occur from 14 weeks gestation to full term. It is common for newborn babies to be discovered a few decades later. Generally when the patient checks for another reason or the examination involves X-rays, then the baby is found. Here we will explain the known case of this phenomenon. This case describes a stone baby found at RSUD Dr.Soetomo Surabaya from a woman 61 years after doing abdominal x-ray for complaints of abdominal pain

    Validation and Reliability Test of Indonesian Version of the Haemo-QoL Questionnaire

    No full text
    Hemophilia, blood clotting disorder that requires multidiscipline treatment is a chronic condition which limit the child’s ability and reduce quality of life. Quality of life can be measured by Haemo-QoL, the first hemophilia questionnaire, produced 3 sets versions of psychometric. The aim of this study is to obtain a measuring tool to assess the quality of life in children with hemophilia in Indonesia using the Indonesian version of Haemo-QoL questionnaire. This is a cross sectional–observational analysis study, involved 105 hemophilia patients as respondents, aged 4-16 years. Acquisition data was conducted on April to July, 2018 in Bandung. Haemo-QoL was translated into Indonesian and then back translated, further is cognitive debriefing and afterward was tested on each subject. There are several invalid questions in each age group due to lack of respondents and inconsistencies in filling. This inconsistency caused by using Indonesian as a second daily language by more than 50% of respondents. Cronbach’s alpha for all types of questionnaires has a r– coefficient ≥ 0.5 which means that the Haemo-QoL reliability in Indonesian for all categories has been tested with good results and it can be used to assess the quality of life of hemophilia patients.Uji Validasi dan Reliabilitas Kuesioner Haemo-QoL Versi Bahasa Indonesia Hemofilia adalah kelainan pembekuan yang memerlukan penanganan multidisiplin; bersifat kronik dan membatasi kemampuan anak sehingga menurunkan kualitas hidup. Haemo-QoL merupakan kuesioner hemofilia pertama yang memiliki 3 set versi kuesioner psikometri. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan alat ukur dalam menilai kualitas hidup anak hemofilia menggunakan kuesioner Haemo-QoL versi Bahasa Indonesia. Penelitian menggunakan desain observasional analitik potong lintang yang melibatkan 105 responden berusia 4-16 tahun. Pengambilan data dilakukan pada bulan April - Juli 2018 di Bandung. HaemoQoL diterjemahkan ke bahasa Indonesia kemudian diterjemahkan kembali ke bahasa Inggris dan dilakukan cognitive debriefing. Selanjutnya dilakukan pengujian pada setiap subjek menurut kelompok usia. Pada penelitian ini didapatkan hasil yang tidak valid pada masing-masing kelompok usia karena kurangnya jumlah responden dan ketidakkonsistenan dalam pengisian antara lain disebabkan penggunaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua oleh lebih dari 50% responden. Cronbach’s alpha untuk semua jenis kuesioner memiliki nilai koefisien r ≥0,5 sehingga reliabilitas baik, yang berarti kuesioner Haemo-QoL dalam Bahasa Indonesia ini dapat digunakan untuk menilai kualitas hidup pasien hemofilia.&nbsp

    Non-Alcoholic Fatty Liver as a Risk Factor for Breast Cancer among Indonesian Pre-Menopausal Women: A Case-Control Study

    No full text
    Non-alcoholic fatty liver was commonly found in breast cancer patients. However, the role of fatty liver as risk factor for breast cancer development has not been established in Indonesian population. We designed a case-control study to evaluate the effect of obesity and/or fatty liver on breast cancer occurrence in Indonesian women. Subjects were breast cancer patients between July and December 2018 in Dharmais National Cancer Centre Hospital. Control group was female hospital staff. Characteristics of subjects included age, body mass index, and presence of fatty liver by abdominal ultrasound. Independent risk factor was identified using logistic regression analysis and expressed as adjusted OR with its 95% confidence interval (CI). A total of 218 patients and 218 controls were enrolled. Both of subject and control group had equal mean of age. Among breast cancer patients, tumor was predominated by estrogen-receptor positive (69.7%) and luminal A subtype (57.8%). Mean of body mass index was significantly higher in subject group compared to control (26.8 kg/m2 vs 25.7 kg/m2 ; p=0.007). Fatty liver (49.5% vs 35.8%; p=0.004) was significantly more common in subject groups than controls. In multivariate analysis, fatty liver was confirmed as risk factor for breast cancer in subjects (ORadj: 1.56; 95%CI: 1.04–2.33; p=0.032). Obesity and fatty liver are common in breast cancer patients. Fatty liver is an independent risk factor for sporadic breast cancer. These findings warrant further studies to evaluate the mechanism of breast cancer in younger women that associated with non-alcoholic fatty liver pathogenesis. Perlemakan Hati Non-Alkoholik sebagai Faktor Risiko Kanker Payudara pada Perempuan Pre-Menopause Indonesia: Studi Kasus-KontrolPerlemakan hati non-alkoholik sering ditemukan pada pasien kanker payudara namun studi terkait peran perlemakan hati sebagai faktor risiko kanker payudara, hingga saat ini belum ada di Indonesia. Studi kasuskontrol ini dilakukan untuk mengevaluasi efek obesitas dan atau perlemakan hati terhadap kejadian kanker payudara pada perempuan Indonesian. Subjek adalah pasien kanker payudara antara bulan Juli hingga Desember 2018 di RS Pusat Kanker Nasional Dharmais. Kelompok kontrol adalah staf perempuan rumah sakit. Karakteristik subjek yang diteliti adalah usia, indeks massa tubuh, perlemakan hati yang didiagnosis dari pemeriksaan ultrasonografi abdomen. Faktor risiko independen dinilai menggunakan analisis regresi logistik dan ditampilkan sebagai adjusted OR dengan interval kepercayaan 95%. Sebanyak 218 pasien dan 218 kontrol diikutsertakan dalam studi. Kedua kelompok memiliki nilai mean usia yang sama. Pada kelompok pasien kanker payudara, jenis kanker didominasi oleh tipe estrogen-receptor positive (69,7%) dan subtype luminal A (57,8%). Mean dari indeks massa tubuh lebih tinggi bermakna dibandingkan kelompok kontrol (26,8 kg/m2 vs 25,7 kg/m2 ; p=0,007). Perlemakan hati (49,5% vs 35,8%; p=0,004) secara bermakna lebih sering ditemukan pada kelompok subjek dibandingkan kelompok kontrol. Pada analisis multivariat, perlemakan hati terbukti bermakna sebagai faktor risiko kanker payudara (ORadj: 1,56; 95%CI: 1,04–2,33; p=0,032). Disimpulkan obesitas dan perlemakan hati sering ditemukan pada pasien kanker payudara. Perlemakan hati merupakan faktor risiko independen kasus kanker payudara yang sporadik. Temuan ini dapat menjadi landasan penelitian berikutnya untuk meneliti patogenesis perlemakan hati menyebabkan kanker payudara pada perempuan usia muda. &nbsp

    Manajemen Retensio Urin Pasca Persalinan Pervaginam

    No full text
      Retensio urin pascapersalinan (RUPP) adalah ketidakmampuan berkemih spontan atau dapat berkemih spontan 6 jam setelah persalinan dengan residu urin >200 mL. RUPP menimbulkan peregangan kandung kemih berlebihan sehingga mengganggu persarafan dan atonia otot detrusor. Faktor risiko RUPP adalah primipara, persalinan dengan alat, persalinan kala II lama, dan ruptur perineum luas. Gejala klinis berupa buang air kecil (BAK) sedikit atau tidak dapat BAK. Manajemen RUPP dengan residu urin 200-500 mL dilakukan kateterisasi intermiten tiap 6 jam sampai residu urin <200 mL. Jika residu urin 500-1.000 mL dilakukan dauer kateter 1x24 jam dan 6 jam kemudian pasien diminta berkemih spontan, 5 menit kemudian diukur residu urin. Jika residu urin 1.000-2.000 mL, dipasang dauer kateter selama 2x24 jam dan buka tutup kateter/4-6 jam selama 24 jam. Jika residu urin >2.000 mL, dauer kateter 3x24 jam dan bladder training selama 24 jam. Enam jam kemudian diukur volume residu urin dan bila residu urin <200 mL maka volume residu urin dikatakan normal. Pascapersalinan, tatalaksana dilakukan secara simultan dengan pemasangan kateter diikuti pemberian prostaglandin, antibiotik, dan edukasi minum air 2-3 liter perhari. Perlu pemeriksaan klinis yang baik pada pengawasan lama kala II, pengosongan kandung kemih dan tatalaksana robekan jalan lahir.   Post-Partum Urinary Retention Management  Postpartum urinary retention (PPUR) is defined as inability to pass urine spontaneously or able to pass urine spontaneously in 6 hours following delivery with residual urine volume of >200 ml. PPUR is causing overdistention of bladder resulted in neurologic dysfunction and detrusor muscle atonia. Risk factor for PPUR including primipara, assisted vaginal delivery, prolonged second stage of labor and extensive perineal rupture. Clinical symptoms related to PPUR are decreasing urine volume or unable to urinate spontanously. Management in PPUR with residual urine 200-500 ml is by intermitten catether every 6 hours continued with spontaneously urinate and residual urine will be measured after 5 minutes. PPUR management with residual urine 500-1000 ml is by applied dauer catheter 1x24 hours continued with spontaneously urinate after 6 hours and residual urine also will be measured after 5 minutes. PPUR management with residual urine 1000-2000 ml is by applied dauer catheter 2x24 hours, continued with opening and closing catheter every 4-6 hours for 24 hours. If residual urine >2000 ml, dauer cathetetr will be applied for 3x24 hours, continued with bladder training for 24 hours. Residual urine will be measured after 6 hours. The result is normal if residual urine <200 ml. PPUR management is done simultaneously with catheter application, prostaglandin, antibiotics and hydration 2-3 L/day. Good clinical examination and management during prolonged second stage of labor, bladder emptying and perineal ruptur management are needed in preventing post partum urinary retention.  &nbsp

    Multicenter Management of Breast Cancer in Indonesia: Ten Years of Experience

    No full text
     In Indonesia, despite the increasing incidence, there is a gap in breast cancer patients profile, tumor characteristics and management as well as the follow up. This study aims to provide the profile and 10-year-experience in managing breast cancer. This was a cohort retrospective study conducted in all patients admitted to Department of Radiotherapy dr. Cipto Mangunkusumo National Hospital and Jakarta Breast Center from 2001 to 2010. Outcomes measured were patients’ profiles, disease stage at diagnosis, and treatment regimens which were collected from medical records to establish survival analysis and prognostic factors. In total, out of the 1,289 patients admitted during the period, follow-up was conducted in 933 breast cancer patients with a median follow-up of 26 months (0-130 months). The mean age of incidence was less than 50 years old. Most patients were pre-menopausal, not obese, breastfed their children and without a family history of cancer. Most common tumor profiles were invasive ductal (69%) grade II (28%) without lymph node involvement and positive hormone receptors. The survival of patients was higher in early stages. Multimodalities management were used for most patients, but overall compliance was only 46.2%. Five year survival was greater in patients with algorithm-based therapy and with high adherence. Despite the advancement of breast cancer screening and early therapy, more than 50% of breast cancer patients in Indonesia came at a later stage of breast cancer. Multimodalities treatment have become useful in managing breast cancer in various stages.     Manajemen Multisenter Kanker Payudara di Indonesia: Pengalaman Sepuluh Tahun   Di Indonesia, terdapat kesenjangan dalam tatalaksana pasien kanker payudara yang berdasarkan karakteristik tumor, manajemen yang diberikan serta tindak lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan data profil dan pengalaman 10 tahun dalam mengelola kanker payudara di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian retrospektif kohort yang dilakukan pada semua pasien kanker payudara di Departemen Radioterapi RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo dan Jakarta Breast Centre dari tahun 2001 hingga 2010. Hasil yang diukur adalah profil pasien, tahap diagnosa, regimen terapi yang dikumpulkan dari rekam medis sehingga membentuk sebuah analisis survival dan faktor prognostik. Dari total 1.289 pasien di RSUPNCM pada periode tersebut, tindak lanjut dilakukan pada 933 pasien kanker payudara dengan rata-rata tindak lanjut 26 bulan (0-130 bulan) dengan usia rata-rata pasien kurang dari 50 tahun. Sebagian besar pasien memiliki kriteria premenopause, tidak obesitas, menyusui dan tanpa riwayat keluarga dengan kanker. Profil tumor yang paling umum ditemukan adalah duktal invasif (69%) grade II (28%) tanpa keterlibatan kelenjar getah bening dan reseptor hormon positif. Kelangsungan hidup pasien lebih tinggi pada tahap awal. Manajemen multimodalitas digunakan untuk kebanyakan pasien, tetapi kepatuhan keseluruhan hanya 46,2%. Kelangsungan hidup 5 tahun lebih besar pada pasien dengan terapi berbasis algoritma dan kepatuhan tinggi. Terlepas dari kemajuan skrining kanker payudara dan terapi dini, lebih dari 50% pasien kanker payudara di Indonesia datang dengan stadium lanjut. Tata laksana multimodal bermanfaat pada penanganan kanker payudara dalam berbagai tahap.  &nbsp

    Status Koagulasi Pasien Cedera Kepala Sedang Berdasarkan Tromboelastografi dan Hemostasis Konvensional

    No full text
     Pasien cedera kepala paling banyak di RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta adalah cedera kepala sedang (CKS) dan kelainan koagulasi dapat memperburuk luaran pasien cedera kepala. Untuk mengetahui status koagulasi dan luaran pada pasien CKS di RSCM dilakukan studi kohort prospektif pada bulan Oktober 2019 – Januari 2020 dengan subjek 20 pasien CKS. Dilakukan pemeriksaan hemostasis konvensional (trombosit, PT, APTT) dan viskoelastisitas darah menggunakan tromboelastografi (TEG). Dari pemeriksaan konvensional didapatkan gangguan koagulasi pada 5% pasien sedangkan dari pemeriksaan TEG diperoleh 60% subjek dengan gangguan koagulasi (55% hiperkoagulasi dan 5% hipokoagulasi). Median lama rawat inap adalah 7 (3-27) hari dan tidak didapatkan mortalitas. Tidak didapatkan perbedaan bermakna antara pemeriksaan hemostasis konvensional dengan TEG (uji Fisher, p>0,999) serta antara status TEG dengan lama rawat inap (Uji Mann-Whitney, p=0,243). Dari parameter TEG (R time, K time, alpha angle, dan MA) tidak didapatkan perbedaan bermakna dengan lama rawat (uji Mann Whitney dan korelasi Spearman). Terdapat perbedaan bermakna antara parameter TEG, yaitu R time (p<0,001) dan alpha angle (p=0,028) dengan hasil CT scan. Disimpulkan, hiperkoagulasi merupakan kelainan koagulasi yang paling sering pada pasien CKS.   Coagulation Status of Patients with Moderate Traumatic Brain Injury Based on Thromboelastography and Conventional Haemostasis Test   It is known that the majority of traumatic brain injury (TBI) patients in Cipto Mangunkusumo Hospital, Jakarta (RSCM) are comprised of moderate TBI. This prospective cohort study was done in RSCM to evaluate the coagulation status profile of 20 patients with moderate TBI using conventional hemostatic test (platelet count, PT, APTT) and blood viscoelasticity using thromboelastography (TEG) from October 2019 – January 2020. From conventional test, coagulopathy were detected in 5% patients, while from the TEG, coagulopathy were detected in 60% patients (55% hypercoagulopathy and 5% hypocoagulopathy). The outcome of the patients were evaluate using length of stay (LOS) which is 7 days (3-27 days) and mortality (no mortality found in this study). From statistical analysis, the conventional test result and TEG test are not significantly correlated (p>0.999). Thromboelastography test result are not significantly correlated with LOS (p=0.243). From each parameter of TEG (R time, K time, alpha angle, and MA) are not correlated with LOS (Mann Whitney test and Spearman’s correlation test). We found that 2 parameters of TEG, R time (p<0,001) and alpha angle (p=0,028) are significantly correlated with CT scan. In conclusion, hypercoagulopathy is the most coagulation abnormality that occurred in moderate TBI.  &nbsp

    Kualitas Hidup Donor Transplantasi Hati pada Resipien Hati Nonsintas

    No full text
     Kualitas pelayanan transplantasi yang baik dinilai berdasarkan kualitas hidup donor dan resipien hati. Evaluasi kualitas hidup pasien donor hati sintas dan nonsintas merupakan hal penting untuk pusat pelayanan transplantasi hati. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kualitas hidup donor hati serta membandingkan kesintasan resipien dengan kualitas hidup donor. Penelitian menggunakan desain potong lintang di Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo (RSUPNCM), tahun 2020. Penilaian kualitas hidup dilakukan pada semua donor hati di RSUPNCM mengunakan World Health Organization Quality of Life questionnaire abbreviated version (WHOQoL-BREF). Terdapat 59 donor hati di RSUPNCM; 3 subjek tidak dapat dihubungi dan 1 subjek menolak menjadi subjek penelitian. Kualitas hidup donor hati memiliki median domain kesehatan fisik 69 (44- 100), psikologis 69 (50-94), hubungan sosial 65 (44-100) dan domain lingkungan 69 (31-94). Tidak terdapat perbedaan bermakna antara kualitas hidup donor hati sintas dan nonsintas pada domain kesehatan fisik (p=0,466), psikologis (p=1,0), hubungan sosial (p=0,77) dan domain lingkungan (p=0,13). Disimpulkan subjek donor transplantasi hati di RSUPNCM memiliki kualitas hidup baik.     Quality of Life for Donor of Deceased Recipient in Living Donor Liver Transplantation   The quality of liver transplantation is assessed based on the quality of life of donors and recipients. Evaluation of the quality of life of liver donors with surviving and non-surviving recipients is important for liver transplant centers. This study aims to evaluate the quality of life of liver donors and compare recipient survival with donors’ quality of life. This cross-sectional study was performed in National Hospital dr. Cipto Mangunkusumo (NHCM) in 2020. Quality of life was assessed in all of liver donors in NHCM using World Health Organization Quality of Life questionnaire abbreviated version (WHOQoL-BREF). There are 59 liver donors in NHCM. Three subjects could not be contacted, one subject refused to participate in this research. Donors’ quality of life physical domain median was 69 (44-100), psychological domain median was 69 (50- 94), social relation domain median was 65 (44-100), and environmental domain median was 69 (31-94). There were no significant differences between the quality of life of donors with surviving and non-surviving recipient in physical domain (p=0,466), sychological domain (p=1,0), social relation domain (p=0,77), and environmental domain (p=0,13). In conclusion, liver donors in NHCM have good quality of life&nbsp

    0

    full texts

    287

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    eJournal Kedokteran Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇