eJournal Kedokteran Indonesia
Not a member yet
287 research outputs found
Sort by
Profil Pasien HIV di Klinik VCT Sehati RSUD Dr. T.C. Hillers Maumere Tahun 2014
Infeksi HIV merupakan masalah kesehatan dunia. Terdapat peningkatan jumlah infeksi baru di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil pasien HIV di area rural. Studi ini merupakan studi potong lintang dengan data register pasien dalam periode Januari – Desember 2014. HIV di Klinik VCT Sehati RSUD Dr.TC Hillers Maumere, Kabupaten Sikka. Terdapat 104 pasien yang terdiagnosis HIV positif, 64,4% di antaranya adalah laki-laki. Tingkat pendidikan terbanyak adalah tingkat pendidikan menengah (46,2%) dan rendah (44,2%). Rute transmisi terbanyak adalah hubungan seksual heteroseksual (74%). Gejala terbanyak yang dikeluhkan pasien adalah batuk lama, penurunan berat badan dan demam naik turun. Infeksi oportunistik terbanyak adalah TB paru dan kandidosis oral. Infeksi HIV membutuhkan penangan secara holistik yang menjamin kualitas hidup pasien baik dari aspek fisik dan psikis. Edukasi kesehatan reproduksi terutama HIV dan infeksi menular seksual lainnya memegang peranan penting dalam rangka upaya meningkatkan wawasan mengenai HIV sekaligus sebagai upaya pencegahan infeksi baru dan pemutusan rantai penularan. Dukungan peer group memiliki peranan penting dalam peningkatan kualitas hidup pasien. Kata kunci: HIV, heteroseksual, homoseksual, infeksi oportunistik, rute transmisi. HIV Patients’ Profile in Sehati VCT Clinic Dr.T.C. Hillers Maumere in 2014 Abstract HIV infection is one of global health problems. The number of new infection is increasing in Indonesia. This research aims to study the profile of HIV patients in rural area. This reasearch is a cross-sectional study on patients registers in Sehati Voluntary Counseling Testing / HIV care unit in Dr.TC Hillers District General Hospital, Sikka Regency during January untill December 2014 period. There were 104 subjects diagnosed as HIV positive and 64.4% of them were male. The most common education level was middle school (46.2%) and elementary school (44.2%). The most frequent transmission route is heterosexual intercourse (74%). The most usual symptoms suffered by subjects are coughing, weight loss, and fever. The most prevalent opportunistic infection are pulmonary tuberculosis and oral candidosis. HIV infection is a complex problem therefore it needs a holistic treatment. Education plays an essential role in improving sexual health literacy, preventing new infection and breaking the infection chain. Peer group support plays an important role in improving the quality of life HIV patients. Keywords: HIV, heterosexual, homosexual, opportunistic infection, route of transmissio
The Trend of Diarrhea in Kodi and Kodi Utara Subdistricts, Sumba Barat Daya District in 2013 and Its Related Factors
Diarrhea is one of the most frequent diseases occur globally, including Indonesia, with mostly infected children under five years old. Sumba Barat Daya (SBD) is one of area in Nusa TenggaraTimur (NTT) with limited water sources, including Kodi and Kodi Utara subdistricts. Kodi has riverthat is accessible for the population, while Kodi Utara has no clean water sources. The purpose ofthis study was to know the trend and prevalence of diarrhea in 2013, and its relation with age andthe availability of water sources Kodi and Kodi Utara, SBD district. This study used cross sectionaldesign using secondary data taken from local health service of SBD. This study found that numberof diarrhea cases in 2013 in the two subdistricts were fluctuated, with the highest cases belongedto population less than five years old. Prevalence of diarrhea in Kodi Utara (1.76%) was higherthan in Kodi (1.68%). Analytical test using chi square showed that prevalence of diarrhea in the twosubdistricts was significantly related to age (p<0.05), but it was not significantly related to the area(p>0.05). In conclusion, prevalence of diarrhea in Kodi and Kodi Utara was related to age, howeverit was not related with availability of water sources. Keywords: diarrhea, prevalence of diarrhea, clean water sources, Kodi, Kodi Utara, Sumba Barat Daya Trend Diare di Kecamatan Kodi dan Kodi Utara, Kabupaten Sumba Barat DayaTahun 2013 dan Faktor-Faktor Terkait Abstrak Diare adalah penyaki tersering di dunia, termasuk Indonesia, yang sering menyerang anak di bawah usia lima tahun. Sumba Barat Daya (SBD) adalah daerah di Nusa Tenggara Timur (NTT). dengan sumber air yang terbatas, termasuk kecamatan Kodi dan Kodi Utara. Kodi memiliki sungaiyang mudah diakses oleh penduduknya, sedangkan Kodi Utara tidak memiliki sumber air bersih.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui trend dan prevalensi diare tahun 2013, serta hubungannyadengan usia dan ketersediaan sumber air di kecamatan Kodi dan Kodi Utara, Kabupaten SBD.Penelitian menggunakan desain potong lintang dengan menggunakan data sekunder yang diambildari Dinas Kesehatan (DinKes) SBD. Dari penelitian ini didapatkan bahwa jumlah kasus diare tahun2013 di kedua kecamatan berfluktuasi, dengan jumlah kasus terbanyak pada usia kurang dari limatahun. Prevalensi diare di Kodi Utara (1,76%) lebih tinggi dibandingkan Kodi (1,68%). Analisis dengan uji chi square menunjukkan bahwa prevalensi diare di kedua kecamatan berhubungan secara signifikan dengan usia (p<0,05), tetapi tidak berhubungan signifikan dengan area (p>0,05).Disimpulkan bahwa prevalensi diare di Kodi dan Kodi Utara berhubungan dengan usia, namuntidak berhubungan dengan ketersediaan sumber air. Kata kunci: diare, prevalensi diare, sumber air bersih, Kodi, Kodi Utara, Sumba Barat Day
Cakupan Pemberian Obat Pencegahan Massal Filariasis di Kabupaten Sumba Barat Daya Tahun 2012-2013
Filariasis merupakan masalah kesehatan masyarakat terutama di Indonesia Timur antara lain di Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD). Untuk mengeliminasi filariasis, WHO membuat program PemberianObat Pencegahan Masal (POPM) dengan dietilkarbamazin sitrat dan albendazol setiap tahun selama 5tahun berturut-turut. Untuk mengetahui keberhasilan POPM, perlu dilakukan evaluasi cakupan POPM setiaptahun. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui cakupan POPM di SBD pada tahun 2012-2013. Penelitanini menggunakan data POPM Dinas Kesehatan SBD pada tahun 2012 dan 2013. Cakupan POPM filariasisdihitung berdasarkan jumlah penduduk minum obat dibagi penduduk total dan jumlah penduduk sasaran.Target cakupan pengobatan penduduk sasaran adalah >85% dan dari penduduk total adalah > 65%. Hasilpenelitian menunjukkan cakupan POPM filariasis berdasarkan penduduk total pada tahun 2012 adalah 1,96%dan tahun 2013 sebesar 1,13%. Cakupan POPM filariasis berdasarkan penduduk sasaran pada tahun 2012adalah 2,51% dan tahun 2013 adalah 1,35%. Disimpulkan bahwa cakupan POPM filariasis berdasarkanpenduduk sasaran dan penduduk total di SBD sangat rendah dan cakupan tahun 2013 lebih rendahdibandingkan tahun 2012. Kata kunci: W. bancrofti, B.malayi, B.timori, pemberian obat masal pencegahan, Sumba Barat Daya Coverage of Mass Drugs Administration (MDA) for Filariasis inSouth West Sumba on 2012-2013 AbstractFilariasis is a disease caused by Wuchereria bancrofti, Brugia malayi and Brugia timori. It is transmitted by mosquitos. It cause defect in patient’s physical condition, decrease social life, and increase health spending.WHO concepts a program to eliminate filariasis by Massal Drugs Administration (MDA) of filariasis. It hasto be evaluated each year in five years by counting the coverage of MDA of filariasis in total population andtargeted population. This research used secondary data from Dinas Kesehatan in SBD to know the coverageof MDA of filariasis in SBD on 2012-2013. The coverage of MDA of filariasis based on total population in SBDon 2012 was 1.96% and on 2013 was 1.13%. The coverage of MDA of filariasis based on targeted populationin SBD on 2012 was 2.51% and on 2013 was 1.35%. Consequently, the coverage of MDA of filariasis basedon total and targeted population in SBD on 2013 lower than on 2012. Keywords: W. bancrofti, B.malayi, B. timori, massal drugs administration, Sumba Barat Day
Penyekat Beta sebagai Terapi Anti-Remodeling pada Gagal Jantung
Penyakit kardiovaskular merupakan penyebab kematian utama dan setiap tahunnya terjadi 50 juta kematian di seluruh dunia. Gagal jantung tercatat sebagai salah satu penyakit kardiovaskularyang sering terjadi. Pada gagal jantung, terjadi remodelling sel yang mengakibatkan penurunanfungsi pompa jantung. Seiring dengan kemajuan penelitian di bidang kardiovaskuler, penyekatbeta telah diteliti penggunaannya sebagai terapi anti-remodelling. Sampai sekarang, penelitian danstudi terkait hal tersebut masih terus dilakukan. Tujuan penulisan makalah ini untuk menjelaskanperan penyekat beta sebagai terapi anti-remodelling pada gagal jantung. Pencarian terstrukturmelalui PubMed mendapatkan 93 artikel, setelah disesuaikan dengan kriteria eksklusi dan inklusididapatkan 25 artikel. Setelah membaca artikel secara lengkap, didapatkan 11 artikel yang sesuai.Kemudian artikel tersebut ditelaah dalam menentukan validitas, relevansi, dan aplikabilitas. Dari 11artikel yang ditelaah kritis, didapatkan bahwa beta-blocker dapat berperan sebagai anti-remodellingmelalui peningkatan fungsi jantung sebagaimana terlihat pada kenaikan ejection fraction (EF),penurunan left ventricular end systolic volume (LVESV) dan left ventricular end diastolic volume(LVEDV) pada pasien gagal jantung. Kata Kunci: penyekat beta, anti-remodelling, gagal jantung Beta-Blocker as Anti-Remodeling Therapy in Heart Failure Abstract Cardiovascular diseases still become the leading cause of death in the world. All over the world, there are approximately 50 million deaths every year caused by cardiovascular diseases.Heart failure is known as one of cardiovascular diseases that frequently happened. In heart failurestate, there is a cell remodeling condition that implicated to lowering heart pump function. As thedevelopment progress of cardiovascular researches, beta-blocker has also been studied for its useas anti-remodeling therapy. Up to now, studies and researches related to that topic are still beingconducted. This paper made to acknowledge beta-blocker as anti-remodeling therapy in heartfailure. Structured PubMed search was conducted and yielded 93 articles; whereafter the inclusionand exclusion criteria were applied, 25 articles remained. After reading the full texts, 11 articleswere appraised concerning its validity, relevance, and aplicability. From 11 articles appraised, it was known that beta-blocker could be acted as anti-remodeling therapy by improving the heart function as shown by the increase of EF and decrease of LVESV and LVEDV in heart failurepatients on those studies. Keywords: Beta-blocker, Anti-remodelling, heart failur
The Effectiveness of Phalleria macrocarpa Bioactive Fraction in Alleviating Endometriosis and/or Adenomyosis Related Pain
The overexpression of estrogen receptor-beta (ER-ß) and the cyclooxygenase-2 (COX-2) enzyme coupled with the absence of expression of progesterone receptors (PR) is critical to thepathogenesis of endometriosis and adenomyosis associated pain. DLBS1442, a novel bioactiveextract of Phaleria macrocarpa, exerts its action by downregulating the overexpressed ER-ß andCOX-2 products and up-regulating PR gene expression. This pilot study was conducted to evaluatethe effectiveness of DLBS1442 treatment in alleviating endometriosis- and/or adenomyosis-relatedpain. Ten endometriosis and/or adenomyosis patients were recruited consecutively at YasminClinic Dr. Cipto Mangunkusumo General Hospital in January - March 2013. Pain associated withmenses, including pre-menstrual pain, dysmenorrhea, dyschezia and dysuria, was measuredusing the visual analog scale (VAS) at each of the next three menstrual cycles. Patients reportingone or more pain symptoms with a VAS score = 4 were given 100 mg of DLBS1442 three timesdaily for 12 weeks. VAS score reduction was noted in the first post-treatment menstrual cycle(approximately 5.3 weeks after treatment initiation) and VAS scores continued to decline overthe final two cycles. DLBS1442 was effective in alleviating endometriosis- and/ or adenomyosisrelatedpain, as demonstrated by early pain reduction as evaluated using the VAS. Keywords: DLBS1442, dysmenorrhea, endometriosis, adenomyosis Efektivitas Ekstrak Bioaktif Phaleria macrocarpa pada Masalah NyeriTerkait Endometriosis dan/ atau Adenomiosis Abstrak Over-ekspresi reseptor estrogen beta (ER-ß) dan enzim siklo-oksigenase-2 (COX-2) akan menekan ekspresi reseptor progesteron (PR) di endometrium; hal tersebut penting dalampatogenesis endometriosis dan adenomiosis. DLBS 1442, ekstrak bioaktif Phaleria macrocarpa,bekerja dengan menekan over-ekspresi ER-ß dan COX-2 serta meningkatkan regulasi ekspresigen PR. Studi awal dilakukan untuk mengevaluasi efektivitas pengobatan DLBS1442 padamasalah nyeri terkait endometriosis dan/ atau adenomiosis. Sepuluh penderita endometriosis dan/atau adenomiosis di klinik Yasmin RSCM pada bulan Januari - Maret 2013 yang memiliki keluhannyeri diikutsertakan dalam penelitian ini. Dilakukan penilaian skor visual analog scale (VAS) untukkeluhan nyeri pre-menstruasi, dismenorea, diskezia dan disuria setiap 3 siklus menstruasi. Pasienyang memiliki keluhan satu atau dua gejala nyeri dengan skor VAS > 4 diberikan DLBS1442sebanyak 3 x 100 mg sehari selama 12 minggu. Penurunan skor VAS diperoleh pada siklus pertamamenstruasi pascapengobatan (sekitar 5,3 minggu setelah inisiasi pengobatan) dan penurunanskor VAS terus berlanjut setelah melewati 2 siklus terakhir pengobatan. DLBS 1442 efektif dalammengatasi masalah nyeri pada endometriosis dan/ atau adenomiosis. Kata Kunci: DLBS 1442, dismenorea, endometriosis, adenomiosi
From Evidence-Based Medicine to Value-Based Practice in Cancer Care: To Answer the Gap between Patient’s Expectation and Reality
No abstract availabl
Penggunaan ACE-Inhibitor untuk Mengurangi Proteinuria pada Sindrom Nefrotik
Proteinuria merupakan faktor prognostik penting dalam progresivitas sindrom nefrotik. Penggunaan ACE-inhibitor dapat mengurangi proteinuria dengan menurunkan tekanan hidrolikglomerular pada kelainan ginjal. Tujuan evidence base case report (EBCR) ini adalah mengevaluasipenggunaan ACE inhibitor terhadap proteinuria pada sindrom nefrotik. Dilakukan pencarianpada database daring di Pubmed®, Cochrane®, Sciencedirect®, Clinical Key®, EBSCO®, danProquest®. Selanjutnya dilakukan skining dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang spesifik sertamembaca full text artikel tersebut. Dari pencarian tersebut didapatkan tiga artikel yang relevan.Pada ketiga artikel didapatkan hasil penurunan proteinuria pada pasien sindrom nefrotik secarasignifikan. Pada artikel pertama didapatkan CER 0%, AER 50%, RRR 50%, dan NNT 1,81dengan 95% CI 0,11–0,89. Pada artikel kedua didapatkan ekskresi protein urin setelah 4,8,dan 12minggu pemberian fosinopril menurun secara signifikan terhadap plasebo (p<0,05). Pada artikelketiga didapatkan pemberian lisinopril selama 12 bulan menghasilkan ekskresi protein urin yangsignifikan terhadap baseline (p<0,0001). Pemberian ACE-inhibitor pada pasien dengan sindromnefrotik dapat mengurangi protein urin secara signifikan.Kata kunci: ACE-inhibitor, proteinuria, sindrom nefrotikThe Usage of ACE Inhibitor in Reducing Proteinuria in Nephrotic SyndromeAbstractProteinuria is an important prognostic factor in progressivity of nephrotic syndrome. ACE inhibitor could reduce proteinuria by decreasing glomerular hydraulic pressure in renal disease. To determine the usage of ACE-inhibitor in reducing proteinuria in nephrotic syndrome. The search wasconducted in various online databases such as Pubmed®, Cochrane®, Sciencedirect®, ClinicalKey®, EBSCO®, and Proquest®, after defining the inclusion and exclusion criteria then screeningthe titles and abstracts and the authors found three relevant articles. All articles were have thesignificant reduction of proteinuria in nephrotic syndrome. In the first article, CER 0%, AER 50%,ARR 50% and NNT 1.81 with 95% CI 0.11–0.89. In second article, the urinary protein excretionafter 4,8, and 12 weeks treated with fosinopril were significantly reduced compared to the placebo(p<0.05). In the third article, the group that receive lisinopril were significantly reducing urinaryprotein excresion compared to the baseline value (p<0.0001). ACE inhibitor could signficantlyreduce proteinuria in nephrotic syndrome.Keywords: ACE inhibitor, nephrotic syndrome, proteinuri
Biosecurity dalam Kedokteran dan Kesehatan
Virus dan bakteri adalah mikroorganisme yang dapat menimbulkan wabah penyakit yang menyebardengan cepat dan mengakibatkan kematian.Selain itu, beberapa wabah dikaitkan denganaksi terorisme yang menimbulkan kepanikan masyarakat, pemerintah dan petugas kesehatan.Hal tersebut mendorong WHO dan beberapanegara bekerja sama untuk menanggulangi dan mencegah terulangnya kejadian tersebut, dalam suatu istilah yang disebut biosecurity.1,2
Biosecurity merupakan konsep baru yang sedang berkembang di dunia kesehatan dan kedokteran. Oleh karena itu, biosecurity harus dimengerti oleh semua tenaga kesehatan, salah satunya adalah dokter.Sebagai klinisi, seorang dokter harus memiliki kecurigaan terhadap pertambahan angka kejadian penyakit tertentu, juga karakteristik berbagaipenyakit yang relatif baru yang terkait dengan bahan biologi atau agen infeksi patogen yang dapat disalahgunakan dalam bioterorisme, juga manifestasi klinis yang meragukan dan tidak biasa.Dalam upaya menanggulangi berbagai ancaman/bahaya bioterorisme, seorang dokter juga harus mampu bekerja sama dengan pemerintah ataupun berbagai elemen masyarakat terkait agar usaha bioterorisme dapat ditanggulangi
Indikator Keberhasilan Pengelolaan Aktivitas Fisik pada Penyandang Diabetes Melitus Tipe 2
Aktivitas fisik menggambarkan gerakan tubuh manusia sebagai hasil kerja otot rangka. Penelitian peningkatan aktivitas fisik secara kumulatif penting dilakukan terkait membaiknya kualitaskesehatan melalui peningkatan endurans kardiorespirasi. Sebaliknya, perilaku sedenter dikaitkandengan berbagai penyakit, salah satunya diabetes melitus (DM) tipe 2. Program latihan fisikindividual disusun dengan memperhatikan latihan kardiorespirasi sebagai komponen utama yangdiuraikan berdasarkan prinsip frekuensi – intensitas – durasi – jenis latihan. Latihan fisik merupakansalah satu pilar penatalaksanaan diabetes. Latihan fisik teratur pada DM tipe 2 memberikanproteksi kardiometabolik sehingga mencegah atau mengurangi laju perjalanan penyakit diabetesdan komplikasi melalui perbaikan tekanan darah dan fungsi ginjal. Hatha yoga dan arm swingexercise menunjukkan pengaruh positif terhadap status kardiometabolik penyandang diabetes.Diperlukan upaya untuk mengaktifkan pasien melalui program latihan fisik teratur dan terstrukturdilengkapi konsultasi yang baik. Keberhasilan pendekatan secara komprehensif dipengaruhi 3indikator yaitu latihan fisik, pengendalian glukosa darah dan stres oksidatif. Kata Kunci: aktivitas fisik, latihan fisik, DM tipe 2 Indicators of Successful Physical Activity Programfor Diabetes Melitus Type 2 Abstract Physical activity depicts body movement generated by the musculoskeletal system. Study investigating the increase of cumulative physical activity that improves health quality is necessary.In contrast, sedentary lifestyle has been linked to various diseases including diabetes melitus (DM)type 2. Individual physical exercise program is arranged with cardiorespiratory exercise as the corecomponent based on frequency – intensity – time – type of exercise principle. Physical exercise isone of the pillars in diabetes control. Regular physical exercise in DM type 2 yields cardiometabolicprotection in term of preventing or decelerating diabetes evolution and its complication. Hatha yogaand arm swing exercise have shown benefits in cardiometabolic status. In this regards, to initiatiea prescribed, structured and regular physical exercise program in diabetes patient is certainlyimportant. The key success of comprehensive approach in diabetes management involves physicalexercise, blood glucose and oxidative stress control. Keywords: physical activity, physical exercise, DM type
Perimortem Cesarean Section: The Importance of 4 Minutes rule
Maternal cardiac arrest is rare with an incidence between 1 in 20.000 and 1 in 30.000 births.Duringpregnancy, chest compression could not deliver sufficient cardiac output to accomplish resuscitation due to thephysiological changes during pregnancy and during resuscitation. Providers have two potential patients, themother and the fetus that strongly depend on each other. After a cesarean delivery is performed, effective CPRwas seen to occur. This procedure was recommended to start within 4 minutes of maternal cardiopulmonaryarrest if resuscitative efforts were unsuccessful.In reality, performing perimortem cesarean section couldface many obstacles that cause delay. Here in, we present three cases of perimortem cesarean sections ofsudden cardiac arrest occur at the emergency room. The outcome from these cases differed by the decisionon the time cesarean section performed. Two out of three mothers survived, however, both survivors died onintensive care unit due to secondary deterioration. Two babies who were born within 5 minutes came out ingood condition with no neurologic deficit. Keywords: perimortem cesarean section, 4 minutes rule, outcome Tindakan Bedah Caesar Perimortem: Pentingnya Aturan 4 Menit Abstrak Serangan jantung pada ibu hamil merupakan hal yang jarang terjadi dengan kejadian antara 1 dalam 20.000 dan 1 dalam 30.000 kelahiran. Selama kehamilan, kompresi dada tidak dapat memberikan curahjantung yang cukup untuk mencapai resusitasi optimal karena perubahan fisiologis pada kehamilan.Selama resusitasi, terdapat dua pasien potensial, yaitu ibu dan janin yang sangat tergantung satusama lain. Setelah bedah sesar dilakukan, resusitasi jantung paru yang efektif dapat tercapai. Prosedurtersebut dianjurkan untuk dimulai dalam waktu 4 menit dari henti jantung pada ibu jika upaya resusitasitidak berhasil. Pada kenyataannya, melakukan bedah caesar perimortem dapat dihadapkan pada banyak kendala yang menyebabkan keterlambatan tindakan. Pada laporan kasus ini terdapat tiga kasus bedah sesar perimortem yang dilakukan pada henti jantung mendadak di ruang gawat darurat. Luaran dari ketigakasus tersebut berbeda bergantung pada keputusan waktu bedah sesar mulai dilakukan. Dua dari tiga ibuberhasil bertahan hidup, tetapi akhirnya kedua pasien meninggal di unit perawatan intensif akibat morbiditassekunder. Dua bayi yang lahir dalam waktu 5 menit berada dalam kondisi baik tanpa defisit neurologis. Kata kunci: operasi sesar perimortem, aturan empat menit, luara