138 research outputs found
Sort by
KONTRUKSI SUMUR BOR AIRTANAH DALAM PADA SUMUR “X” DESA NYEMOK, KECAMATAN BRINGIN, KABUPATEN SEMARANG, PROVINSI JAWA TENGAH
Lokasi penelitian terdapat pada Desa Nyemok, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Secara geografis terletak pada 7° 15’-7°20” Lintang Selatan dan 3°45’-3°50” Bujur Timur di hitung 0° dari Jakarta. Aspek perencanaan debit pemompaan sumur dalam tahapan desain konstruksi terutama ditinjau atas dasar diameter pompa selam (submersible pump) yang lazim tersedia di pasaran, di samping kecepatan maksimum aliran air ke atas yang diijinkan di dalam pipa untuk memperkecil nilai gesek (friction losses). Untuk dapat merencanakan/desain konstruksi sumur yang baik, perlu tersedianya beberapa informasi data pemboran, antara lain :- Jenis litologi yang ditembus dalam lubang bor,- Dan tahapan kontruksi sumur
TIPE POLA SEBARAN DAN KEMENERUSAN LAPISAN BATUBARA DI LOKASI PENELITIAN, SEKITAR LOKASI, DAN REGIONAL KASUS WILAYAH SAYAP BARAT ANTIKLIN PALARAN YANG MENUNJAM
Secara administrasi lokasi penelitianberadadi lokasi Tepok, Kecamatan Loa Janan, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini yaitu: a)mengetahui pengaruh proses geologi terhadap pola sebaran dan kemenerusan lapisan batubara: b)membangun model kendali geologi terhadap pola sebaran dan kemenerusan lapisan batubara di lokasi penelitian, sekitar lokasi penelitian, dan regional.Geometri lapisan batubara khususnya pola sebaran dan kemenerusan lapisan batubara di lokasi penelitian, sekitar lokasi penelitian, dan regional saling berkaitan karena masih menjadi satu kesatuan dalam proses-proses geologi sebagai pengendali utama pola sebaran dan kemenerusan lapisan batubara. Faktor pengendali pola sebaran dan kemenerusan lapisan batubara di lokasi penelitian, sekitar lokasi penelitian, dan regional adalaherosi permukaan, struktur geologi lipatan dengan jenis antiklin menunjam dan homoklin, serta struktur geologi sesar.Kata kunci: geologi, pola sebaran, kemenerusan, lokasi penelitia
NERACA SUMBERDAYA AIR KOTA BANJARBARU-KALIMANTAN SELATAN
Dilihat dari sisi geohidrologi, Wilayah Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan terletak pada Sistem Cekungan airtanah Barito Meratus dengan berkembangnya sistem multi layer dengan akuifer.Neraca Air dalam siklus hidrologi mengalami perubahan menurut waktu (musim) dan tempat. Pada musim penghujan jumlah air yang masuk ke dalam sistem aliran bawah tanah relatif besar sehingga potensi air tanah tinggi, sedangkan pada musim kemarau jumlah air yang masuk ke dalam sistem air tanah relatif kecil sehingga potensi air tanah juga relatif kecil.Dalam penyusunan neraca sumberdaya air terdapat konsep daerah aliran sungai (DAS). Dalam beberapa literatur terdapat beberapa istilah lain yang ekuivalen dengan DAS diantaranya daerah pengaliran sungai (DPS), river basin, drainage basin, dan watershede. DAS adalah suatu kawasan di permukaan bumi yang mempunyai topografi cekung, sehingga apabila terjadi hujan pada kawasan tersebut, maka seluruh air yang masuk di anggap keluar pada satu keluaraan (outlet). Dalam konsep ini batuan yang menyusun kawasan ini dianggap homogen sehingga struktur akifer (aquiver) diabaikan. Dengan menggunakan asumsi air yang masuk sama dengan air yang keluar, maka sistem hidrologi DAS dianggap sebagi sistem keabuan (grey box system), yaitu air hujan di anggap sebagai input, run off dianggap sebagi output, sedangkan kotak kelabu (grey box) adalah imbangan jumlah penggunaan air dan potensi air yang diperkirakan.Kebutuhan domestik air akan mencapai angka kritis sekitar tahun 2025 dengan asumsi pertumbuhan penduduk 1,9 % untuk Kota Banjarbaru secara umum. Kondisi kritis air tersebut dapat dipercepat oleh beberapa aktifitas dibidang industri, ada empat tipe tingkatan industri yang dijadikan dasar perhitungan proyeksi kebutuhan air yaitu industri skala besar, yaitu industri dengan jumlah karyawan 2000 orang, industri skala sedang yaitu industri dengan jumlah karyawan 500 orang, industri skala kecil dengan jumlah karyawan 20 orang dan industri pariwisata dengan jumlah pengunjung 5000 orang per tahun
MEWASPADAI MORFOLOGI TELUK SEBAGAI ZONA BAHAYA TSUNAMI
Konfigurasi garis pantai di suatu daerah turut berperan dalam menentukan seberapa besar dampak tsunami yang ditimbulkannya. Hasil survai lapangan di beberapa daerah pantai di kawasan Indonesia bagian selatan mengindikasikan bahwa morfologi teluk umumnya berhubungan dengan dampak tsunami yang lebih besar dibandingkan pantai lurus dan panjang. Analisis fraktal telah dilakukan terhadap bentuk garis pantai di bagian selatan Pulau Sumatra, Jawa hingga Nusa Tenggara Timur. Hasilnya menunjukkan bahwa geometri teluk umumnya memiliki dimensi fraktal yang besar dan mempunyai dampak kerusakan yang besar pula terhadap bencana alam tsunami. Dari survai lapangan diketahui bahwa daerah-daerah pantai di Aceh, Pangandaran, Maumere dan sekitarnya telah menderita kerusakan yang cukup besar akibat tsunami, didukung dengan keadaan morfologi yang berupa teluk
“GOVERMENT LIAISON” Peranannya dalam memudahkan proses bisnis Perminyakan dengan Pemerintah terutama dalam aktivitas Eksplorasi dan Exploitasi.
Mulai awal abad ke 20 hingga kemungkinan sampai akhir abad 21, minyak dan gas bumi diperkirakan merupakan sumber energi yang sangat strategis. Hal ini dikarenakan sebagian besar industri yang ada di bumi, dari tingkatan industri kecil kelas rumah tangga hingga industri raksasa dunia, ternyata masih mempergunakan minyak dan gas bumi sebagai sumber eneginya. Oleh karenanya kedudukan minyak dan gas bumi menjadi sedemikian istimewanya dalam peradaban kehidupan manusia. Sedangkan di Indonesia sendiri minyak dan gas bumi masih merupakan andalan penghasil devisa utama Negara sampai diatas 60%.Dalam kebijakaanya Pemerintah perlu mengaturnya dengan keluarnya UU No.22 tahun 2001 tentang minyak dan gas Bumi, kewenangan pembuatan kebijakan di bidang minyak dan gas bumi berada di dalam kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Pemerintah Indonesia dalam melakukan kebijakaan yang akan diterapkan dalam bidang minyak dan gas bumi seyogyanya didasarkan pada kenyataannya bahwa minyak dan gas bumi tersebut adalah mineral yang ditambang habis yang artinya bahan tersebut tidak dapat diperbaruhi. Meningkatnya permintaan dunia maupun dalam negeri Indonesia tentunya juga menjadi bahan pertimbangan pemerintah.Para investor baik dari dalam negeri yang berbentuk Badan Usaha ataupun dari luar negeri yang berbentuk Badan Usaha Tetap yang bergerak dalam bidang perminyakan tentunya sangat tertarik dengan keuntungan yang akan diraihnya apabila bisa mendapatkan minyak dan gas bumi secara komersial, walaupun kemungkinan adanya resiko kegagalannya sangat tinggi.BPMIGAS sebagai wakil dari pemerintah Indonesia merupakan pemegang kuasa pertambangan minyak dan gas akan melakukan kontrak kerja bersama dengan para investor melalui Badan Usaha atau Badan Usaha Tetap dalam bentuk Kontrak Bagi Hasil atau disingkat KKS atau “Production Sharing Contract” atau disingkat PSC.KKS dalam operasionalnya biasanya memerlukan peran seorang yang bekerja sebagai “Government Liaison” yang bisa bertindak untuk mewakili perusahaan tersebut dalam hubunganya dengan pemerintahannya terutama untuk pengurusan perijinan atau persetujuaan dari pemerintah melalui BPMIGAS ataupun MIGAS dalam rangka pelaksanaan aktivitas eksplorasi maupun eksploitasi yang didasarkan atas komitment kontrak yang telah ditandatangani mapun POD yang telah disetujui oleh pemerintah.Kata kunci : Energi Strategis,UU Migas sebagai kebijakan Pemerintah, BPMIGAS vs KKS dan Goverment Liaison
TSUNAMI ACEH IN RELATIONSHIPS TO TECTONIC SOUTH GLOBE FRAME WORKS
Since in the past 5 years a number of investigators have suggested in tsunami Aceh which was occurred in 26 Dec 2004 that because of subduction movement in causing earthquake with epicenter in the vicinity of sameuleu island located. Several of national and international Geophysical and geological studies have been systematically carried out in the studies design identified. However, in only a few of the some questions appear to be answered even several earthquake studies have also been simulated.The questions remain to be considered into other alternative concepts grading toward to the really mechanism of this tsunami further questions such as :1. Before tsunami was happened, sea water level firstly draw downed over the entire beaches and covering over the entire the countries such as Aceh (Indonesia), Thailand, Burma and India. Where has this sea water gone ?2. Epicenter of earthquake was in Simeuleu Island positioned that was in the South of Aceh, otherwise . Why Thailand and Burma where were behind or crossover Sumatra Island also occurred tsunami Rather than Padang in nearby ?There has not been clear answer on the direction of water tsunami movement to reach beaches. In particular causing its came from earthquake in Semeuleu island position where was behind Sumatera island to reach Thailand, Burma and India beaches.On the other hand, the data recording to the earthquake epicenters showed multiple positions adjacent to the Indian ocean trench indicating a zoning of subduction movement. At this time there is still insufficient evidence to determine the direction of tsunami movement mechanism that came from and along this subduction zone.Recent exposures in the Google earth imaging shows textures of Andaman sea floor polygons mosaic include sharp contacts and diffuse contacts of each others structures in relationship among these polygons.The textures descriptions and distribution of fault zone patterns with the models used onto Andaman sea floor studies which were essentially based on Google earth imaging. Hence, there are 4 forces direction indentified have been measured in causing of extension regions Which developed pull apart rifting. The initial force direction is about 22 (NE) rotated clock wise toward directions 46 (NE), 51 (NE) and finally 59 (NE).Jurnal Ilmiah MTG, Vol. 3, No. 1, Januari 2010The use of rotation direction force model in the study area . analog to its use in concepts both into pull apart basins for oil field and mineral deposit within dilatational jog structures. Once understanding of South global tectonic in development history will be required to solve the problem.Thus, at list 4 Mid Oceanic Ridges have been identified in the Southern globe. As indicated by the above discussion it is important that this information is recorded for feedback onto tectonic relationships analysis between Andaman and south globe
INDIKASI BELUM SIAPNYA PEMERINTAH KABUPATEN / KOTA DALAM IMPLEMENTASI PERATURAN PENGELOLAAN AIR TANAH (STUDI KASUS DI KABUPATEN GOWA, SULAWESI SELATAN)
Sejak diimplementasikannya Undang Undang otonomi daerah Tahun 1999 dalam rangka pelaksanaan azas desentralisai, maka dibentuk dan disusunlah daerah provinsi, daerah kabupaten, dan daerah kota yang berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat.Pengelolaan air tanah harus berlandaskan pada satuan wilayah cekungan air bawah tanah dan pengelolaan air bawah tanah yang berada dalam satu wilayah kabupaten/kota ditetapkan oleh bupati/walikota. Pengelolaan cekungan air bawah tanah yang melintasi wilayah provinsi atau kabupaten/kota ditetapkan oleh masing-masing gubernur atau bupati/walikota berdasarkan kesepakatan bupati/walikota yang bersangkutan dengan dukungan koordinasi dan fasilitasi dari gubernur. Semestinya daerah kabupaten/kota mempersiapkan sumber daya manusia dalam upaya pengelolaan air tanah sesuai dengan bidang keahlian yang ditanganinya. Ketidaksiapan sumber daya manusia dalam pengelolaan air bawah tanah akan berdampak pada penurunan mutu air tanah. Di kabupaten Gowa, belum siapnya sumber daya manusia dalam pengelolaan air bawah tanah diindikasikan dengan tidak adanya tenaga ahli di bidang air tanah dan isi Surat Izin Melakukan Pengeboran Air Tanah yang secara teknis tidak tepat
ALTERASI DAN MINERALISASI EMAS DAERAH PERTAMBANGAN RAKYAT DI PANYABUNGAN, KABUPATEN MANDAILING-NATAL, SUMATERA UTARA BERDASARKAN STUDI PIMA, PETROGRAFI, AAS DAN INKLUSI FLUIDA
Mineralisasi emas daerah pertambangan rakyat di Panyabungan, Kabupaten Mandailing-Natal, Provinsi Sumatera Utara ditempati secara dominan oleh batuan klastika gunungapi (volkaniklastik) berkomposisi andesitik dan dasitik. Mineralisasi emas ini berasosiasi dengan kumpulan ubahan hidrotermal dari proximal ke distal yaitu alterasi silisifikasi, argilik, dan propilitik. Mineralogi endapan ini terdiri atas emas dan perak dengan sedikit pirit, sfalerit, kalkopirit, galena dan mangan. Batuan yang termineralisasi emas ditandai oleh keberadaan urat kuarsa dengan tekstur vug/cavities, berlapis (banded: crustiform-colloform), breksiasi, kalsedonik,bladed, comb structure, dogtooth, stockwork dan masif yang merupakan ciri khas dari jenis endapan epitermal.Berdasarkan alterasi dan mineralisasi yang berkembang dengan dibantu oleh analisa laboratorium seperti PIMA, petrografi, AAS dan inklusi fluida maka dapat menginterpretasikan secara lebih detil mengenai mineral-mineral ubahan, hubungan antar unsur logam, jenis endapan, suhu dan kedalaman pembentukan endapan bijih.Kata kunci: Mineralisasi emas, ubahan hidrotermal, epiterma
POTENSI SUMBERDAYA BATUBARA DAERAH NYUATAN KABUPATEN KUTAI BARAT PROVINSI KALIMANTAN TIMUR
Dewasa ini pemerintah tengah meningkatkan pemanfaatan batubara sebagai energi alternatif baik untuk keperluan domestik seperti pada sektor industri dan pembangkit tenaga listrik, maupun untuk keperluan ekspor. Sejalan dengan itu pemerintah telah melibatkan pihak swasta dalam pengusahaan pengembangan batubara.Secara administratif lokasi daerah penelitian terletak pada daerah Nyuatan dan sekitarnya, Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur dengan geografis lokasi terletak pada koordinat 00.29’.14” – 00.32’.00” Lintang Utara dan 1150.14’.35” – 1150.18’.13” Bujur Timur. Formasi daerah penelitian ditempati oleh Formasi Warukin pada bagian utara yang berumur Miosen Tengah – Miosen Akhir dan pada bagian Selatan ditempati Formasi Pamaluan yang berumur Oligosen Akhir – Miosen Awal, yang membentang dari Baratdaya – Timurlaut dan merupakan Formasi pembawa batubara
GEOLOGI GUNUNG API PURBA GAJAHMUNGKUR, WONOGIRI, JAWA TENGAH
Hingga saat ini Gunung Tenong dipandang sebagai batuan beku intrusi yang berkomposisi diorit mikro. Gunung Tenong dikelilingi oleh perlapisan batuan piroklastika berkomposisi andesit – dasit, dan lava koheren berkomposisi andesit basal – andesit membentuk bentang alam mirip bentuk bulan sabit. Berdasarkan geologi gunung api, asosiasi batuan beku intrusi dan kelompok batuan yang mengelilinginya diyakini sebagai sisa tubuh Gunung api purba Gajahmungkur yang telah mengalami erosi tingkat lanjut. Gunung Tenong mewakili fasies pusat, sedangkan kelompok batuan yang mengelilinginya sebagai fasies proksi. Umur volkanisme Gunung api purba Gajahmungkur di daerah Wonogiri dan sekitarnya berkisar antara Oligosen Akhir hingga awal Miosen Tengah. Gunung api purba Gajahmungkur telah mengalami fase gunung api sedikitnya tiga kali, berupa dua kali fase pembangunan dan sekali fase penghancuran. Kata kunci: gunung tenong, gunung api purba, gajahmungkur, wonogiri, jawa