138 research outputs found
Sort by
PEMANFAATAN BATU MARMER BERDASARKAN ANALISA KUAT TEKAN DAN SERAPAN AIR DAERAH TERAS KECAMATAN CAMPURDARAT KABUPATEN TULUNGAGUNG PROPINSI JAWA TIMUR
Batu marmer merupakan salah satu batuan metamorf dengan nilai ekonomis tinggi yang dapat dimanfaatkan secara luas mulai sebagai lantai, batu tempel atau batu hias, sampai digunakan dalam seni kerajinan ukir dan pahat. Pemanfaatan bahan galian marmer sebagai bahan galian indsutri di daerah Teras sebaiknya memenuhi beberapa syarat tertentu, terutama standar nilai kuat tekan dan nilai serapan air berdasarkan SII.0378 – 80 dan SII.0379 – 80.Batu marmer pada LP 16 dan LP 18 berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai lantai dengan beban hidup lebih dan kurang dari 250 Kg / Cm² dengan nilai kuat tekan minimal 800 Kg / Cm² dan nilai serapan air maksimal 0,75% (SII.0378-80). Batu marmer dengan nilai kuat tekan minimal sebesar 600 Kg / Cm² dan nilai serapan air maksimal 0,75% dijumpai pada LP 16 dan Lp 18 dapat dimanfaatkan sebagai batu hias atau batu tempel konstruksi luar (SII.0378-80). Batu marmer dengan nilai minimal kuat tekan sebesar 500 Kg / Cm² dan nilai maksimal serapan air sebesar 1% dijumpai pada LP 1, LP 2, LP 16, dan LP 18 dapat dimanfaatkan sebagai batu hias atau batu tempel konstruksi dalam (SII.0378-80).Batu marmer pada LP 16 dengan nilai minimal kuat tekan sebesar 1000 Kg / Cm² dan nilai maksimal serapan air sebesar 5% berpotensi sebagai pondasi bangunan sedang (SII.03789-80). Batu marmer pada LP 16 dan LP 18 dapat dimanfaatkan sebagai pondasi bangunan ringan dengan nilai kuat tekan minimal 800 Kg / Cm² dan nilai serapan air maksimal 8% (SII.03789-80). Batu marmer LP 1, LP 2, Lp 16, dan LP 18 dengan nilai minimal kuat tekan 500 Kg / Cm² dan nilai serapan air maksimal sebesar 5% berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai tonggak atau batu tepi jalan (SII.03789-80). Batu marmer pada LP 1, LP 2, LP 16, dan LP 18 dapat dimanfaatkan sebagai penutup lantai atau trotoar dengan nilai kuat tekan minimal sebesar 600 Kg / Cm² dan nilai maksimal serapan air sebesar 5% (SII.03789-80). Sedangkan batu marmer pada LP 1, LP 2, LP 16, LP 18 dan LP 53 berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai batu hias atau tempel dengan nilai kuat tekan minimal 200 Kg / Cm² dan nilai serapan air maksimal 5% (SII.03789-80)
PEMETAAN GEOLOGI DAERAH SEMARANG DAN SEKITARNYA, KECAMATAN GAJAHMUNGKUR, SAMPANGAN, KOTAMADYA SEMARANG, PROVINSI JAWA TENGAH
Geologi merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang bumi, sehingga dalam penerapan secara langsung di lapangan, yang tercakup dalam konsep pemetaan. Pemetaan Geologi di daerah Semarang dan sekitarnya, Kecamatan Gajahmungkur, Sampangan, Kotamdya Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Administrasi daerah pemetaan pada Peta Topografi nomor lembar peta 47/XL-c(74-c) dan 47/XL-d(74-d) skala 1:25.000. Luas kurang lebih 25 km2, meliputi wilayah Jatingaleh, Tinjomoyo, Bendan Duwur-Ngisor, Sampangan,Petompon, Simongan, Genuk, Gajahmungkur, Karangpanas, Kaliwiru, Kagok, Tegalsari, Wonotingal. Bentuk morfologi Kota Semarang merupakan dataran rendah dan perbukitan yang memiliki ketinggian beragam, yaitu antara 0,75 – 348 m di atas permukaan laut, dengan topografi terdiri atas daerah pantai/pesisir, dataran dan perbukitan dengan kemiringan lahan berkisar 0% – 45%, dengan sebagian besar memiliki struktur geologi berupa batuan beku. Metode analisis yang digunakan dalam pemetaan ini adalah metode analisis geomorfologi, analisis petrologi, analisis struktur geologi, dan analisis gerakan tanah. Geomorfologi daerah pemetaan dibagi menjadi 4 satuan bentuklahan, yaitu: Satuan Bentuklahan Struktural Perbukitan Terjal (S1), Satuan Bentuklahan Denudasional Perbukitan Landai (D1), Satuan Bentuklahan Struktural - Denudasional Perbukitan Terjal (S8), Satuan Bentuklahan Fluvial Dataran Sungai Dan Tubuh Sungai (F1 dan F3). Urutan stratigrafi daerah pemetaan dari yang tua sampai yang muda adalah: Satuan endapan material lepas sungai pada Formasi alluvium paling muda, satuan breksi vulkanik Formasi Kaligetas, satuan batupasir Formasi Damar, satuan batupasir karbonatan Formasi Kalibeng, satuan batupasir karbonatan – batulempung karbonatan Formasi Kerek. Struktur Geologi daerah pemetaan adalah Struktur Kekar, Reverse Fault, dan Sesar Turun. Sejarah Geologi daerah pemetaan dimulai dari Miosen Tengah-Holosen. Pada Kala itu terjadi pengendapan seperti di urutan stratigrafi daerah pemetaan dan diikuti dengan terjadinya pengangkatan yang diikuti terbentuknya Reverse Fault, kemudian diikuti terbentuknya Sesar Turun dan Kekar. Potensi daerah pemetaan berupa potensi bahan galian batupasir yang umumnya digunakan bahan bangunan. Sedangkan bencana geologi daerah pemetaan berupa Gerakan Tanah Jenis gerakan longsoran termasuk jenis gelinciran (slides).Kata kunci : Geomorfologi, Bentuklahan, Stratigrafi, Struktur Geolog
STUDI GERAKAN TANAH DESA GONGGANG DAN SEKITARNYA KECAMATAN PONCOL, KABUPATEN MAGETAN, PROVINSI JAWA TIMUR
Desa Gonggang terletak di Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur. Secara geografis daerah penelitian berada pada posisi 111011’58.18”BT – 111015’14.12”BT dan 07041’55.51”LS – 07044’5.67”LS, atau secara UTM berada pada koordinat 522000mE-528000mE dan 9145000mN-9149000mN.Daerah penelitian dapat dibagi menjadi empat satuan geomorfologi, yaitu satuan Kaki Gunung Api G.Lawu (V6), Kaki Gunung Api G.Jobolarangan (V6), Lereng Gunung Api G.Jobolarangan (V3),Perbukitan Lava (V9). Jenis pola aliran yang terdapat pada daerah penelitian adalah pararel dan dentritik dengan Stadia geomorfik yaitu stadia muda. Stratigrafi daerah telitian disusun oleh satuan batuan dari tua ke muda yaitu satuan batuan tuf Jobolarangan, satuan batuan breksi vulkanik Jobolarangan, satuan lava andesit Jobolarangan dan satuan breksi laharik Lahar Lawu.Terdapat lima macam jenis gerakan tanah pada daerah telitian yaitu Debris Slide, Rotational Slide, Soil Slide, Rock Fall dan Debris Fall . Faktor – faktor yang mempengaruhi kestabilan lereng di daerah penelitian antara lain sifat fisik dan mekanik tanah, litologi, kemiringan lereng dan morfologi, vegetasi, curah hujan.Cara penanggulangan ketidakstabilan lereng di daerah penelitian dapat dilakukan dengan cara merubah geometri lereng, mengendalikan drainase dan rembesan, Pembangunan tembok penahan serta metode sosialisasi kepada masyarakat tentang bahaya gerakan tanah serta penanggulangannya
POLA SISTIM PANAS DAN JENIS GEOTHERMAL DALAM ESTIMASI CADANGAN DAERAH KAMOJANG
Di bawah kulit bumi terdapat suatu lapisan tebal yang disebut selubung bumi (mantel) yang diperkirakan mempunyai ketebalan sekitar 2900 km. Bagian teratas dari selubung bumi juga merupakan batuan keras.Bagian terdalam dari bumi adalah inti bumi (core) yang mempunyai ketebalan sekitar 3450 kilometer. Lapisan ini mempunyai temperatur dan tekanan yang sangat tinggi sehingga lapisan ini berupa lelehan yang sangat panas yang diperkirakan mempunyai density sekitar 10.2 - 11.5 gr/cm3. Diperkirakan temperatur pada pusat bumi dapat mencapai sekitar 57270 C.Untuk melakukan estimasi potensi energi panas bumi, dibutuhkan parameter-parameter fisis yang selanjutnya digunakan dalam rumus-rumus yang ada. Parameter-parameter ini dibagi menjadi dua yaitu parameter tetap dan variabel. Parameter tetap dapat ditentukan dengan asumsi berdasarkan statistik data hasil penyelidikan di berbagai lapangan/daerah panas bumi, sedangkan variable ditentukan berdasarkan pengukuran langsung dan atau hasil pengolahan datalapangan. Ada 2 metode yang umum dalam mengetimasi potensi geothermal yaitu: metode perbandingan dan volumetrik. Metode perbandingan merupakan metode yang khusus digunakan untuk estimasi potensi sumber daya spekulatif dengan cara statistik sederhana, sedangkan metode volumetrik adalah estimasi potensi energi panas bumi pada kelas sumber daya hipotesis sampai dengan cadangan terbukti. Dalam metode volumetric digunakan 2 pendekatan, yaitu : model pendekatan dengan menganggap parameter-parameter reservoarnya seragam (lumped parameter model) dan model pendekatan dengan menganggap parameter-parameter reservoarnya heterogen (distributed parameter model) yang digunakan dalam metoda simulasi reservoir. Metode simulasi reservoar digunakan untuk membantu estimasi potensi cadangan terbukti pada panas bumi yang sudah mempunyai sumur telah berproduksi
STUDI SEKUEN STRATIGRAFI FORMASI PARIGI LAPANGAN C CEKUNGAN JAWA BARAT UTARA KABUPATEN SUBANG, JAWA BARAT
Berdasarkan interpretasi elektrofasies dan lithofasies maka dapat disimpulkan bahwa terdapat 3 fasies pada interval penelitian :Fasies Wackstone-Grainstone Coraline Reefal, Merupakan daerah pertumbuhan dari reef, yang sangat dipengaruhi oleh naik turunnya muka air laut dicirikan oleh relatif seragamnya litologi yang terbentuk yang terdiri dari batugamping wackstone-grainstone yang menunjukkan adanya peralihan energi dari energi rendah menuju ke energi yang tinggi. Fasies ini ditunjukkan dengan harga log GR yang relatif rendah, dengan pola log GR yang terlihat berbentuk Cylindrical.Fasies packstone-wackstone lagoonal, Merupakan daerah yang terisolir yang dibatasi oleh barrier, yang tidak dipengaruhi oleh naik turunnya muka air laut dicirikan oleh relatif seragamnya litologi yang terbentuk yang terdiri dari batugamping packstone-wackstone yang menunjukkan adanya peralihan energi dari energi tinggi menuju ke energi yang lebih rendah. Fasies ini ditunjukkan dengan harga log GR yang relatif tinggi, dengan pola log GR yang terlihat berbentuk Bell shape. Fasies ini diinterpretasikan terbentuk pada lingkungan lagoonal yang dicirikan oleh kehadiran mineral pirit.Fasies mudstone-grainstone tidal, Merupakan daerah pengendapan yang dipengaruhi oleh naik turunnya muka air laut, yang ditandai dengan diendapkannya batugamping mudstone-grainstone dan dibeberapa tempat diendapkan shale yang berselingan dengan batugamping. Dari data litologi fasies ini menunjukkan adanya peralihan energi dari energi rendah ke energi tinggi, keterdapatan grainstone pada fasies ini diasumsikan terbentuk akibat gelombang laut yang menghantam tubuh suatu reef, dan dijumpai disekitar patch reef maupun dibelakang barrier reef. Fasies ini ditunjukkan oleh harga log GR yang sedang sampai tinggi dengan pola log Funnel shape. Fasies ini diinterpretasikan terbentuk pada lingkungan tidal flat
KEMENERUSAN URAT-URAT KUARSA YANG MENGANDUNG MINERAL EMAS DAN MINERAL PENGIKUTNYA BERDASARKAN KONTROL STRUKTUR DI DAERAH MALASARI DAN SEKITARNYA, KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT
Daerah Malasari, Cimalang dan sekitarnya tersusun oleh satuan batuan breksi tuf yang terdiri dari breksi tuf, dasit, serta andesit, dengan kedudukan perlapisan umumnya N 50O–80O E / 50O-60O. Satuan batuan breksi tuf dan satuan tuf lapili termasuk dalam Formasi Cimapag yang berumur Miosen Awal (Basuki, 1992). Batuan volkanik muda banyak dijumpai di daerah Malasari dengan intrusi dasit. Struktur sesar naik berarah N 300O E di sungai Cimapar dan sesar naik N 240O E di sungai Cimalang bawah. Sesar mendatar kekanan dengan arah N 110OE dijumpai di cabang sungai Cimalang dan sesar mendatar kanan berarah N 010O E juga dijumpai di sungai Cimalang bagian atas. Alterasi daerah Nirmala dan sekitarnya didapatkan secara umum adalah silisifikasi, argilisasi dan kloritisasi. Silisifikasi menempati tempat-tempat sekitar jalur-jalur sesar dan dekat urat kuarsa, kenampakan secara fisik berupa silika, merupakan jalur urat kuarsa kecil-kecil (“Quartz veinlets”), biasanya memotong batuan litik tuf dan tuf (host rock). Argilisasi didapatkan hampir disemua batuan, kenampakan fisik putih kekuningan, kecoklatan, hadir mineral lempung, kaolin, oksida besi, biasanya juga terdapat urat kuarsa. Kloritisasi didapatkan hampir pada semua batuan, kenampakan fisik, hijau pucat, keabu-abuan, hadirnya mineral pirit dan kalkopirit (tidak disemua tempat), biasanya pada batuan breksi andesit, breksi tuf dan batuan andesit, terdapat juga urat-urat kuarsa kecil. Mineralisasi di daerah Malasari, Cimalang dan sekitarnya biasanya berasosiasi dengan kehadiran urat-urat kuarsa, berupa zona urat kuarsa berwarna putih kemerahan dan kekuningan. Mineral yang hadir biasanya pirit, sedikit kalkopirit, galena dibeberapa tempat, hematit dan magnetit. Mineral biasanya hadir pada zona urat kuarsa kompresi (Quartz Compression), kadang berupa urat kuarsa breksiasi (Quartz breccia), sedangkan pada urat kuarsa tension (Quartz tensional) sedikit ditemukan dipermukaan
PENENTUAN TERAS PANTAI PURBA BERDASARKAN POLA PENYEBARAN BIJIH TIMAH DI PULAU BANGKA
Exploration and exploitation of tin has been conducted in Bangka Island for over a century. Meanwhile the exploration technology of tin ore has remained stagnant. In the last 10 years there has not been any significant new finding in the filed of tin placer exploration technology. Implementation of “valley hunting” concept is no longer relevant in finding new resources inland as well as offshore. This is evident by the decreasing success ratio results in drilling explorations conducted.Tin ore is categorized as heavy mineral and is economically known as Cassiterite (SnO2) having a density between 6.7-7.1 and hardness of 7 on the Mohs scale. With its high resistance to abrasion and other physical properties, this mineral is often used as characteristic of a depositional phase of an area.The above characteristics have encouraged the writer to study the deposition pattern of tin ore by utilizing bore exploration results and attempt to establish a correlation using the Sea Level Changes theory in an effort to better understand how changes in sea level has influenced the deposition pattern of tin ore. By establishing a relation between changes in sea level and deposition of tin ore, the writer hopes to trace the historical shorelines that may provide indication of a secondary deposition of tin ore
PERDAGANGAN BILATERAL ANTARA INDONESIA DENGAN NEGARA-NEGARA PATNER DAGANG UTAMA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL GRAVITASI
This paper is made to provide a theoretical justification for using the gravity model in the analysis of bilateral trade and apply the generalized gravity model to analyse the Indonesia’s trade(non-oil and gas) with its main trading partners (twelve Countries) using the pooled data estimation technique. In the model, the bilateral trade is linear function of economic size of the country (GDP), GDP per capita, and geographical distance between recipient export countries and export country(Indonesia).The result show that the Indonesia’s trade (total trade or export, respectively) are positively determined by the the size of economies, GDP per capita of the partners and negatively determined by geographical distance between Indonesia and its the main trading patners. The GDP and GDP per capita of Indonesia has no effect on the Indonesia’s trade, even negative coefficients. It may be because an increase of Indonesian income is to spend to domestic products so that reduce Indonesia’s export. However, most variables of standardized gravity model were statistically significant on Indonesia’s trade
SUSTAINABLE DEVELOPMENT AT BINTAN ISLAND
Indonesia has a great potential in the natural resources, especially Titan Mining in one of the beautiful islands, Bintan Island. Unfortunately, this potential is not encouraged with a good attitude of the Indonesia people. The hi-tech technology can not make Bintan Island become better; sustainable in its economy was stuck because the area has been damaged by mining irresponsibility. It needs participation from all people and both government organizations and non government organizations to make a better life in Bintan Island
POTENSI AIR TANAH UNTUK AIR MINUM DAERAH KEBON CAU DAN SEKITARNYA KECAMATAN UJUNG JAYA, KABUPATEN SUMEDANG PROPINSI JAWA BARAT
Secara administratif, daerah penelitian terletak di desa Kebon Cau, Kecamatan Ujung Jaya, Kabupaten Sumedang, Propinsi Jawa Barat. Secara geografis terletak pada 108005’30” - 108008’00” BT dan 06044’30” - 06041’30” LS, dengan luas total daerah sebesar 4.6 x 5.6 km = 20.56 km2.Daerah penelitian tersusun atas 5 satuan batuan dari tua ke muda yaitu satuan batulempung Subang, satuan batupasir Kaliwangu, satuan konglomerat Citalang, satuan batupasir tufan Qos dan satuan endapan aluvial. Di daerah penelitian jenis akifer yang berkembang adalah akifer bebas, dengan produktivitas rendah yang dibuktikan dari data debit mata air yang dilakukan dilapangan menunjukkan bahwa debit mata air kurang dari 2 liter perdetik, Potensi airtanah di daerah Kebon Cau dan Sekitarnya berdasarkan kriteria mutu dan kriteria jumlah maka di daerah tersebut mempunyai potensi airtanah rendah dan potensi air tanah nihil. Potensi air tanah nihil didapatkan pada daerah Ujung Jaya, desa Palasari, Gordah, Wanahayu. potensi air tanah rendah didapatkan di daerah Pasirpanday, Cibeuneun dan Palasa