138 research outputs found
Sort by
POTENSI BATUBARA DAERAH LONG BAGUN KABUPATEN KUTAI BARAT, KAL-TIM
Lokasi penelitian terletak 25 km di sebelah timur kecamatan Long Bagun, secara geografis terletak UTM 309000 mE – 327000 mE dan 49000 mN – 64000 mN dan secara administratif terletak di deaerah Sungai Medang, Kecamatan Long Bagun, Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur.Stratigrafi daerah telitian termasuk kedalam Cekungan Kutai yang tersusun oleh lithologi batuan sedimen klastik dan sedimen organik. Formasi Batubelah yang merupakan batu gamping klastik yang kaya akan fosil, Formasi Ujoh Bilang yang terdiri dari batulempung dan batupasir, Formasi Batu Ayou yang terdiri dari batulempung dan batubara, Formasi Batu Kelau yang terdiri dari batupasir dan batulempung, dan Formasi Haloq yang terdiri dari batulempung, batupasir, lignit dan batubara.Hasil pengukuran pada daerah telitian penyebaran batubara berarah baratlaut – tenggara pada bagian utara dan berarah baratdaya – timurlaut pada bagian tenggara daerah telitian. Penyebaran batubara dominan dikontrol oleh struktur berupa patahan dan lipatan yang menyebabkan formasi-formasi pada daerah telitian berbentuk seperti lingkaran seperti Formasi Ujoh Bilang, Formasi Batu Kelau, Formasi Batu Ayou dan Formasi Haloq. Dari hasil pengamatan batubara di daerah telitian pada Formasi Batu Ayou dan Formasi Haloq diketahui batubara pada bagian utara cenderung lebih tipis daripada bagian selatan
POTENSI MINERAL Au Cu PORPHYRY, PROSPEK SILUK, KABUPATEN PINRANG SULAWESI SELATAN
Secara umum, geologi daerah Siluk didominasi oleh batuan volkanik Neogene (M-L Miocene) Bergman 1996, dengan batuan sedimentasi marine yang kadang beroverprint dengan volkanik sedimen dan volkanik breccia. Batuan sedimen tersebut tersingkap di sepanjang jalan utama khususnya di sebelah selatan wilayah Siluk. Tebal lapisan sedimen antara 1 hingga 10 m dengan orientasi strike umumnya antara 300 - 340° dengan kemiringan 50° SE, di sebelah timur diindikasikan dengan batuan intrusi, yaitu diorite - microdiorite.Struktur utama daerah telitian secara umum NE-SW dan N-S, umumnya paralel dengan struktur utama Walanae Fault yang membujur di sebelah timur.Sistem alterasi didominsai oleh silica - clay pirit, Illite dan halloysite yang diinterpretasikan sebagai akibat proses pelapukan batuan intrusi dan hydtothermal.Hasil analisa FA dari conto tersebut hanya menghasilkan beberapa trace element mineral precious metal seperti Au, Ag, dan minor base metal seperti Cu, Pb (galena), Zn.Hasil pengamatan dengan PIMA menunjukkan adanya mineral clay seperti Monmorillite, Illite dan dominasi halloysite
KARAKTERISTIK DUA TIPE ENDAPAN MANGAAN DI DAERAH SINGINGI KABUPATEN KUANTAN SINGINGI PROVINSI RIAU
Daerah penelitian, terletak di wilayah desa Pulau Padang, Kecamatan Singingi, Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau. Litologi daerah penelitian tersusun oleh dua satuan batuan, yaitu satuan batusabak-serpih yang merupakan Anggota Batusabak dan Serpih Formasi Tuhur yang berumur Trias (Silitonga dan Kastowo, 1995) mengisi perbukitan yang berlereng curam di bagian baratdaya dan satuan batulempung-batupasir yang merupakan Anggota Bawah Formasi Telisa (Tmtl) yang berumur Miosen Bawah (Silitonga dan Kastowo, 1995) mengisi pernukitan berlereng landai di bagian timur laut. Kedua satuan batuan ini dipisahkan satu sama lainnya oleh sesar naik (thrust fault) berarah baratlaut – tenggara.Sebaran bijih mangan di daerah penelitian relatif berarah baratlaut – tenggara sama dengan sesar naik yang berarah baratlaut – tenggara. Mineral-mineral yang dijumpai adalah pirolusit (MnO2), psilomelan (Ba(H2O)Mn.Mn4O10), kriptomelan (K-Mn8O16), manganit (Mn2O3.H2O), yang bercampur dengan mineral-mineral lain sebagai pengotor, seperti hematit (Fe2O3), kuarsa (SiO2), limonit (Fe(OH)2) dan rijang (SiO2)
ACCRETION HISTORY OF PALEOGENE ARC TERRANES IN WESTERN PAPUA: EVIDENCE FROM APATITE FISSION TRACK DATA
Studi ini menggunakan data jejak fisi pada mineral apatit untuk merekonstruksi sejarah pendinginan batuan sehubungan dengan penggabungan segmen busur kepulauan Paleogen di pinggiran utara mikrokontinen Papua Barat. Hasil analisis jejak fisi dari unit Tosem Oligosen memperlihatkan bahwa daerah Papua Barat merekam dampak dari tumburan lempeng yang diikuti intrusi magma pada Oligosen. Pemodelan data jejak fisi menunjukkan bahwa sikuen batuan yang menyusun blok Tosem memiliki sejarah pendinginan yang kompleks. Episode pendinginan yang lebih awal terjadi setelah kristalisasi permulaan di Miosen Awal pada ~18 Ma. Peristiwa pendinginan pasca penerobosan magma ini kemungkinan terjadi mengikuti periode mineralisasi epitermal yang diakibatkan oleh larutan hidrotermal. Sedangkan, rezim pendinginan yang lebih akhir terjadi karena pengangkatan dan denudasi sebagai akibat tumburan dengan segmen Tamrau di Miosen Akhir pada ~8 Ma.Demikian juga data jejak fisi yang berasal dari unit Tamrau Miosen Tengah memperlihatkan bahwa episode kompresional tektonika akibat interaksi busur kepulauan-mikrokontinen menerus sepanjang waktu. Oleh sebab itu, sikuen batuan mengalami pendinginan yang cepat karena pengangkatan dan denudasi di Miosen Akhir pada ~5 Ma. Lebih jauh lagi diperkirakan bahwa pergerakan mengarah ke barat dari busur kepulauan hingga mencapai posisi sekarang telah diakomodasikan oleh sesar geser mengiri.Kata kunci: busur kepulauan Paleogen, jejak fisi, sejarah pendingina
OPTIMASI PRODUKSI LAPANGAN MINYAK “MATURE” STRUKTUR “X” LAPANGAN “Y” PT. PERTAMINA EP REGION JAWA
Lapangan “X” terletak di cekungan Jawa Barat, sub cekungan Jatibarang yang memiliki reservoir bantuan vulkanik Formasi Jatibarang terutama dari facies tuff dengan porositas sekunder fracture dan facies detrital/epiklastik dengan porositas primer antar butir.Saat ini lapisan tersebut diproduksikan dari 24 sumur. Kadar air rata-rata diatas 92 %. Tekanan reservoir sebesar 1800 psi, temperatur reservoir 280 F. Jenis minyak high pour point oil (HPPO) dengan pour point 1100 F. Upaya peningkatan produksi dengan dilakukan stimulasi dengan surfactant. Dari 11 sumur yang telah dilakukan stimulasi pada tahun 2005 menunjukkan hasil positif jika dibandingkan antara produksi dan cost. Kadar air turun dan produksi minyak meningkat hingga 200 % lebih.Paper ini akan membahas optimasi produksi untuk lapangan minyak “mature” sehingga mampu menambah perolehan minyak
OPTIMALISASI METODE PENDISKRIPSIAN BATUGAMPING UNTUK KARAKTERISASI RESERVOAR HIDROKARBON DALAM PEMODELAN GEOLOGI
Data core/SWC dan cuttings pada reservoar batugamping perlu dioptimalkan dalam pendiskripsiannya, khususnya untuk memahami karakteristik reservoir yang meliputi litofacies dan visible porosity. Metode pendeterminasiannya meliputi core recovery, tekstur, organism abundance, specific features, tipe, dan persentase porositas yang menghasilkan visible porosity. Perhitungan visible porosity yang presisi dan pemahaman faktor-faktor penyebab utama pembentukan porinya, termasuk sedimentasi digunakan untuk menentukan nilai indeks sedimentasi yang bisa berubah secara cepat, baik penyebaran secara vertikal maupun horizontal.Facies pengendapan karbonat dan proses diagenesa sangat membantu untuk menentukan satuan diagenesa yang dikonfirmasi dengan proses sedimentasi
PENENTUAN SIFAT FISIK BATUAN RESERVOIR PADA SUMUR PENGEMBANGAN DI LAPANGAN “RR”
Lapangan “RR” terletak di bagian timur laut Kalimantan, daerah sungai muara buaya, dengan luas ± 122 km2 dan termasuk dalam sub cekungan Tarakan yang merupakan sub cekungan termuda dalam cekungan Tarakan. Jenis batuan reservoir dilapangan “RR” pada sumur XL adalah sandstone, ketebalan batupasir yang produktif ini berkisar dari 1 m sampai 46 m. Sumur ini merupakan sumur infill (sumur pengembangan) yang bertujuan menambah titik serap di daerah sungai muara buaya
STRUKTUR GEOLOGI MEMPENGARUHI PENINGKATAN KALORI BATUBARA DI DAERAH BINTUNI PROPINSI PAPUA BARAT
Eksplorasi batubara di daerah Tisihu, Bintuni dan sekitarnya adalah untuk menentukan singkapan batuan, singkapan batubara, unsur struktur geologi dan hubungannya peningkatan kalori batubara di daerah telitian. Satuan batuan daerah penyelidikan didominasi Batulempung dan Batupasir dengan Lapisan Batubara di daerah Tisihu memiliki kedudukan lapisan berarah Barat-Timur, Baratlaut-Tenggara, dan kemiringan perlapisan batubara secara umum ke arah Selatan. Lapisan batubara didaerah telitian umumnya warna hitam , hitam cerah, brittle, gores coklat kehitaman,kusam – mengkilap, konkoidal, getas.Struktur yang dijumpai berupa struktur sesar mendatar barat laut-tenggara dan sesar turun berarah utara-selatan. Arah kedudukkan umum kekar : N 330º-345O E / 78º, N 250º-260O E / 86º dengan arah tegasan, σ1 = N 310º E atau N 130º E dan Arah kedudukkan umum kekar : N 005º E / 72º, N 280º E / 80º , Arah tegasan σ1= N 315º E atau N 135º E dibagian timur Kedudukan umum kekar N 300O-310O E / 76º dan N 020O-035O E / 86º , arah tegasan σ1= N 355º E dan N 175º E.Data singkapan batubara di daerah Tisihu dianalisa dan didapatkan 5 seam utama batubara, dengan ketebalan rata-rata seam antara 0,5 – 4 meter dengan nilai kalori batubara berkisar antara 3255 – 5010 kal
EVALUASI DAN DESAIN ULANG ELECTRIC SUBMERGIBLE PUMP (ESP) PADA SUMUR “X“ DI LAPANGAN “Y“
Laju produksi fluida berpengaruh terhadap pemilihan jenis dan ukuran pompa. Hal ini terjadi karena setiap jenis pompa memiliki laju produksi optimum sesuai yang dianjurkan berdasarkan jenis dan ukuran pompa tersebut. Dengan berlalunya waktu dan jumlah fluida yang terproduksikan dari reservoar tersebut, maka saat ini sumur – sumur tersebut sudah mengalami penurunan tekanan sehingga sudah tidak dapat untuk mengalirkan fluida resevoar secara natural flow dengan produksi water cut tinggi sehingga digunakan artificial lift dalam hal ini yaitu Electric Submergible Pump. Tujuan utama ESP adalah meningkatkan produktivitas dan effisiensi pompa tersebut, dengan cara perlu dilakukannya desain ulang agar lebih optimal dalam penggunaan pompa.Kata-kata kunci : Pemilihan Pompa, umur pemakaian, laju alir optimal, dan efisiensi pompa
KORELASI POROSITAS vs PERMEABILITAS LAPANGAN “Y” DENGAN MENGGUNAKAN DATA CORE KABUPATEN BANGGAI, SULAWESI TENGAH
Karakterisasi resevoir merupakan integrasi data geologi dan engineering, berdasarkan analisa geologi diperoleh interpretasi secara kualitatif, sedangkan untuk melakukan korelasi dan karakteristik sehingga memperoleh data kuantitatif diperlukan suatu metode. Salah satu metode yang digunakan adalah Hydraulic Flow Unit (HFU) yang merupakan salah satu metode yang dikembangkan berdasarkan analisa core, pada prinsipnya metode ini mengelompokkan data berdasarkan zona alirannya (hydraulic unit). Pada Lapangan "Y" merupakan salah satu lapangan minyak dengan data core yang terbatas pada beberapa interval kedalaman, dengan menerapakan metode HFU diperoleh 7 zona aliran yang merupakan hasil korelasi. Zonasi hasil analisa data core Lapangan "Y" sangat dipengaruhi oleh litologi, berdasarkan hasil zonasi maka diperoleh persamaan yang dapat dipergunakan untuk pendeskripsian (perhitungan) nilai permeabilitas pada interval kedalaman yang tidak mempunyai data core dan juga dapat digunakan dalam melakukan pemodelan permeabilitas sehingga sesuai dengan kondisi lapangan. Parameter validasi ini (permeabilitas) dikontrol dengan nilai r2 sebesar 0.959 yang mengindikasikan bahwa hasil perhitungan permeabilitas dengan menggunakan metode HFU mendekati data permeabilitas Lapangan "Y