138 research outputs found
Sort by
KRISTALOGRAFI DAN MINERALOGI KUARSA
Secara kristalografi kuarsa dicirikan oleh sistem kristal trigonal trapezohedral dan heksagonal trapezohedral, dimana kuarsa trigonal trapezohedral berbentuk trapezium tertutup dengan enam bidang secara horizontal sumbu a1, a2, a3 membentuk sudut 120° tegak lurus sumbu c membentuk sudut 90°. Simetri kristal bersimbol Herman Maugin 3 2 yaitu kuarsa mempunyai satu sumbu kristal dengan 3 putaran simetri, 3 sumbu horizontal dengan 2 putaran simetri, tidak mempunyai bidang cermin dan pusat simetri. Kuarsa heksagonal trapezohedral berbentuk trapezium dengan 12 bidang secara horizontal sumbu a1, a2, a3, membentuk sudut 60° tegak lurus sumbu c pada sudut 90°. Simetri kristal Herman Maugin bersimbol 6 2 2 menandakan kuarsa memiliki satu sumbu kristal dengan 6 putaran simetri, 6 sumbu horizontal dengan 2 putaran simetri, tidak mempunyai pusat simetri dan bidang cermin. Hal itu juga tercermin dalam sifat mineraloginya.Sifat optis mineral kuarsa yaitu umumnya tidak berwarna atau putih jika murni sering pula berwarna karena pengotoran-pengotoran atau inklusi mineral lain. Corak putih dan kilap kaca serta transparan. Kuarsa mempunyai indeks bias no = 1.55 dan ne = 1.54 sehingga bias gandanya bernilai positif dan lemah. Sifat dikroisme terlihat pada variasi kuarsa kripto dan fluoreskens tidak berwarna jika murni.Kata kunci : sifat fisik, sifat optis dan kristalografi mineral kuars
KONTROL STRUKTUR JALUR MINERALISASI EMAS PADA URAT-URAT KUARSA DI BAWAH TANAH LEVEL 600 M – 500 M DI PERTAMBANGAN EMAS PONGKOR, JAWA BARAT
Daerah telitian berada pada lokasi tambang bawah tanah (terowongan) Pongkor di level 500 dan level 600 konsesi area eksploitasi PT. Antam Tbk. Lintasan telitian termasuk pada daerah Ciguha bagian timur, Pamoyanan, Kubangcicau dan Pondokbatu.Lokasi telitian pada terowongan dilakukan pengukuran arah struktur kekar, sesar dan urat kuarsa, dan hasil analisa struktur menunjukkan arah umum kompresi dan tensional. Hasil analisa tersebut kemudian dikorelasikan secara vertical dan horizontal sesuai dengan level kedalaman terowongan.Stratigrafi daerah telitian disusun oleh litologi breksi vulkanik dan lapili tuf, dengan banyak dijumpai uratan kuarsa tersebar merata. Struktur berkembang kuat di daerah telitian dengan arah kompresi N358oE/76o, dan tensional N296oE/72o. Mineralisasi yang umum dijumpai adalah mineralisasi Au-Ag dengan alterasi umumnya adalah kloritisasi, silisifikasi dan argilik.Analisa struktur setiap terowongan pada levelnya dibuat model kemenerusan urat kuarsa yang mengikuti arah struktur kompresi dan beberapa mengikuti arah tensional
POTENSI BATUBARA DAERAH SELUMA DAN SEKITARNYA KABUPATEN SELUMA PROPINSI BENGKULU
Kebutuhan komoditas batubara saat ini dan diwaktu yang akan datang semakin meningkat baik sebagai reduktor maupun untuk power plant, hal ini sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk pengembangan energy alternatif selain minyak bumi dan juga meningkatnya keperluan domistik seperti pada sector industri maupun untuk keperluan ekspor. Sejalan dengan itu pemerintah telah melibatkan pihak swasta dalam pengusahaan batubara, maka diharapkan sumber energi batubara akan dapat menjadi komoditi yang berguna bagi Negara pada umumnya dan dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) pada khususnya. Tujuan eksplorasi ini untuk mengetahui gambaran potensi penyebaran lapisan dan kualitas batubara sesuai dengan nilai ekonomisnya sehingga dapat dimanfaatkan oleh pemerintah daerah dan perusahaan maupun oleh kalangan mahasiswa sebagai pengetahuan. Eksplorasi yang dilakukan pada daerah ini berdasarkan metode pemetaan geologi permukaan berupa pengamatan morfologi, litologi, deskripsi singkapan batubara, pengukuran jurus dan kemiringan batubara maupun lapisan batuan, pengambilan sampel batubara untuk analisa kualitas di laboratorium. Peralatan yang digunakan dalam esplorasi antara lain kompas geologi, GPS, pita ukur, loupe, kamera dan lain-lain
TIPE ENDAPAN EPITERMAL DAERAH PROSPEK BAKAN KECAMATAN LOLAYAN KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW PROPINSI SULAWESI UTARA
Daerah penelitian terletak di Daerah Prospek Bakan, Kecamatan Lolayan Kabupaten Bolaang Mongondow Propinsi Sulawesi Utara. Daerah Penelitian didominasi oleh batuan yang telah mengalami alterasi/ubahan hidrotermal kuat.Alterasi hidrotermal yang berkembang di daerah penelitian ditandai dengan kehadiran kelompok mineral ubahan seperti kuarsa, alunit, kaolinit, dickit, smectit, illit, klorit, epidot, kalsit, serisit, halloysit, pyrophillit dan lempung membentuk tipe alterasi silisifikasi, advance argilik, intemedit argilik temperatur tinggi, intermedit argilik temperatur rendah dan alterasi propilitik.Mineralisasi bijih seperti pirit, kalkopirit, sphalerit, galena, arsenopirit dan kehadiran mineral oksida seperti hematit, magnetit dan limonit, yang disertai oleh pola dan tekstur mineralisasi berupa breksiasi, vuggy, silika masif, banded dan urat halus serta tekstur pengisian, colloform dan disseminated yang dominan mendukung bahwa lingkungan sistem mineralisasi daerah penelitian adalah tipe endapan epitermal sistem sulfidasi tinggi
PEMETAAN ZONA GERAKAN TANAH DI KECAMATAN GIRIMULYO, KABUPATEN KULONPROGO PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
Kecamatan Girimulyo terletak di Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Secara geografis daerah penelitian terletak pada koordinat 110º 07’ 14,5” – 110º 11’ 36’’ BTdan 07º 45’ 00” – 07º 48’ 15” LS, atau secara UTM (Universal Transverse Mercator) berada pada koordinat 406000 mE - 411000 mE dan 914000 mN – 9144000 mN, dengan luas wilayah 54,90 Km2. Daerah penelitian di bagi menjadi menjadi empat (4) satuan bentukan lahan, yaitu bentuklahan structural, bentuklahan denudasional, bentuklahan fluvial dan bentuklahan vulkanik. Jenis pola aliran yang terdapat pada daerah penelitian adalah pola pararel. Stratigrafi daerah telitian disusun oleh satuan batuan yang tertua ke muda yaitu satuan batupasir nanggulan, satuan breksi monomik kaligesing, dan endapan alluvial. Pada daerah telitian terdapat beberapa jenis gerakan tanah yaitu Debris Fall, dan Debris Slide. Faktor-faktor pengontrol gerakan tanah yaitu morfologi, sifat fisik dan mekanik tanah, iklim, kondisi hidrologi lereng, manusia, tataguna lahan dan vegetasi
STUDI POTENSI BATUGAMPING SEBAGAI BAHAN DASAR SEMEN DAERAH Gn. BATUPUTIH, KECAMATAN SAMARINDA ULU KOTAMADYA SAMARINDA, PROVINSI KALIMANTAN TIMUR
Lokasi pengambilan data terletak di Daerah Gunung Batuputih, Kecamatan Samarinda Ulu, Kotamadya Samarinda, Kalimantan Timur. Secara geografi kordinat berada pada 9953000 mN – 9945229 mN, 509741 mE – 514484 mE dengan luas 43,198 km2 (8,2 km x 5,2 km), atau pada Peta Rupa Bumi Indonesia pada Lembar 1915 – 41 Air Putih Edisi I tahun 1991 dengan skala 1 : 50.000 .Daerah penelitian dapat di bagi menjadi empat satuan geomorfologi, yaitu Perbukitan Terkikis (D1), Perbukitan Homoklin (S2), Perbukitan antiklin (S1), dan Bukit Sisa (D2). Jenis polah aliran pada daerah telitian adalah Rektangular dengan stadia geomorfik yaitu stadia dewasa.Statigrafi daerah telitian di susun oleh satuan batuan dari tua ke muda, yaitu satuan batupasir Pulaubalang, satuan batugamping Bebuluh dan satuan batupasir Bebuluh.Sataun batugamping Bebuluh terdiri dari batugamping perlapisan dengan terdapat fragmen berupa pecahan bioklastik terumbu. Satuan batuan ini secara megaskopis di lapangan dicirikan oleh Kalsirudit dengan warna coklat, padat, struktur perlapisan dan setempat menghablur, dan tersusun dari pecahan bioklastikDari hasil analisa etsa dan petrografi yang dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa lingkungan pengendapan batuan karbonat adalah foreslope, di mana semua ini mengacu pada hasil analisa laboratorium dan model lingkungan pengendapa
KARAKTERISTIK BATUBARA PADA FORMASI LABANAN, SUB CEKUNGAN BERAU, DAERAH SAMBALIUNG, KABUPATEN BERAU, PROPINSI KALIMANTAN TIMUR
Daerah telitian secara administratif terletak ± 60 km sebelah barat daya dari kota Tanjung Redep, daerah Kelai dan sekitarnya yang secara administratif termasuk ke dalam Kecamatan Sambaliung, Kabupaten Berau, Propinsi Kalimantan Timur. Secara Geografis lokasi penelitian dibatasi N 530.000 – N 536.000 dan E 209.000 – E 215.000Secara geomorfik, terdiri dari dua satuan bentukan asal, yaitu bentukan asal fluvial subsatuan geomorfik Dataran Alluvial dan Rawa , bentukan asal denudasional subsatuan geomorfik Perbukitan Bergelombang Kuat dan subsatuan geomorfik Perbukitan Bergelombang Sedang .Stratigrafi daerah Kelai terdiri dari tua ke muda yaitu satuan batupasir lempungan berumur Miosen Tengah, satuan batupasir konglomeratan labanan, dan secara tidak selaras dengan satuan endapan aluvial. Pengendapan pada daerah telitian diinterpretasikan pada lingkungan pengendapan Lower Delta Plain – Upper Delta Plain.Struktur geologi yang berkembang pada daerah telitian berupa struktur kekar, dan lipatan sinklin menunjam yang memiliki kedudukan arah umum sayap-sayap lipatan yang terbentuk N204°E/56° dan N278°E/24°, sumbu lipatan N354°E/58°, dan hinge line 24°, N6°E, tegasan terbesar 23°, N263°E dengan nama Moderate Inclined Gentle Plunging Fold (Fluety, 1964).Di daerah Kelay diketemukan lapisan-lapisan batubara pada formasi Labanan sedikitnya ada 46 seam, yaitu A, B, C, D, E lower, E, F, F Upper, F Upper 1, G, H, H Upper, I, J Lower, J lower 1, J Lower 2, J, J Upper, K Lower, K, L Lower, L, L Upper, M, N, N Upper, N Upper 1, O Lower, O, O Upper, P, Q Lower, Q Upper, R Lower, R Upper, S, T Lower, T Upper, U,U Upper, V Lower, V Upper, W, X, Y, dan Z.Ketebalan lapisan-lapisan batubara pada umumnya tergolong klasifikasi tipis–tebal (Jeremic,1985). Kemiringan lapisan mempunyai dua zona berdasarkan pembagian sayap lipatan, sayap timur mempunyai klasifikasi kemiringan curam, sedangkan pada zona sayap barat mempunyai klasifikasi kemiringan landai (Jeremic,1985), dengan sebaran lapisan batubara termasuk dalam lapisan batubara yang menerus. Keteraturan bidang lapisan batubara membentuk permukaan bidang yang hampir rata dan bergelombang lemah
PENGARUH LINGKUNGAN PENGENDAPAN TERHADAP KUALITAS BATUBARA DAERAH BINDERANG, LOKPAIKAT,TAPIN, KALIMANTAN SELATAN
Daerah penelitian masuk dalam konsesi wilayah penambangan batubara PT. Kalimantan Prima Persada. Secara administratif berada di Desa Binderang Kecamatan Lokpaikat Kabupaten Tapin Propinsi Kalimantan Selatan. Dan secara geografis terletak pada 303500 mE – 304500 mE dan 9673700 mN – 9676300 mN. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aspek lingkungan pengendapan yang menyebabkan terjadinya perbedaan kualitas berdasarkan pada kadar abu, kandungan sulfur dan nilai kalori pada lapisan batubara daerah telitian.Daerah telitian secara geomorfologi termasuk dalam satuan bentuk lahan struktural dengan pola pengaliran dendritik. Stratigrafi merupakan Cekungan Barito dari Formasi Warukin Atas sebagai Formasi pembawa batubara yang brumur Miosen Tengah. Litologi terdiri atas Satuan Batulempung yang disusun oleh perselingan batupasir dan batulempung dengan sisipan batulanau, serpih dan batubara. Lingkungan pengendapan pada transitional lower delta plain, dengan sub-lingkungan terdiri dari marsh, levee-splay, creavasse-splay dan channel-fill. Pengamatan langsung di lapangan, setiap lokasi pengamatan lapisan batuan dan batubara dalam keadaan tidak lapuk. Batubara dengan ciri-ciri fisik berwarna hitam gelap, kilap kusam, relatif berat, parting berupa lempung karbonan. Lapisan batubara kontak dengan lapisan batupasir dan batulempung.Parameter kualitas yang digunakan adalah kadar abu, kandungan sulfur dan nilai kalori. Dari hasil analisa proksimat, batubara daerah telitian menunjukan kadar abu berkisar 1,7% adb – 14,5% adb, kandungan sulfur berkisar 0,09% adb – 0,2%adb, dan nilai kalori 5105 kcal/kg – 6023 kcal/kg. Kualitas batubara daerah telitian dipengaruhi oleh lingkungan pengendapan beserta genesa yang menyertai pembentukan batubara
PENELITIAN AWAL GUNUNG API PURBA DI DAERAH MANGGARAI BARAT, FLORES, NUSA TENGGARA TIMUR, INDONESIA
Pulau Flores terletak di antara busur Sunda di bagian barat dan busur Banda di bagian timur serta di perbatasan antara cekungan Flores di utara dan cekungan Savu di selatan. Secara umum tataan geologi Pulau Flores bagian utara sangat rumit, tersusun oleh batuan berumur Tersier seperti batuan beku, klastika gunung api dan batuan sedimen, sedangkan bagian selatan terdapat gunung api aktif. Daerah penelitian terletak di Gololajang, Manggarai Barat tersusun sebagian besar oleh batuan gunung api yang membentuk bentang alam berelief kasar dan beberapa diantaranya memperlihatkan bentuk bulan sabit dengan batuan intrusi di bagian dalamnya. Genesis yang meliputi proses, umur, sumber material dan lingkungan pengendapan hingga saat ini masih diperdebatkan dan diteliti oleh para ahli kebumian. Stratigrafi yang ada mencerminkan kerumitan tersebut terlebih bila dikaitkan dengan pentarikhan umur absolut terhadap batuan beku dan batuan gunung api yang terletak berdekatan dengan batuan sedimen yang menjadi dasar penyatuan. Metode pendekatan yang dilakukan adalah pembelajaran geologi gunung api. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Formasi Kiro, Formasi Nangapanda dan Formasi Bari sebagai penyusun utama. Formasi Kiro dan Nangapanda umumnya disusun oleh material asal gunung api yang terdiri atas batuan intrusi, batuan gunung api produk lelehan dan letusan dengan berbagai variasi komposisinya. Berdasarkan analisis bentang alam dan stratigrafi gunung api maka daerah Gololajang dan sekitarnya disusun oleh satuan gunung api Khuluk Gololajang, Khuluk Tueng, Khuluk Mawe, yang berkembang di dalam Bregada Ruteng.Kata-kata kunci: Pulau Flores, gunung api, khuluk, bregada
POTENSI BAHAN GALIAN GRANIT DAERAH KABUPATEN TOLITOLI PROVINSI SULAWESI TENGAH
Wilayah Kabupaten Tolitoli yang terletak di Provinsi Sulawesi Selatan memiliki berapa potensi geologi yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Sebagai contoh di daerah ini memiliki potensi Bahan galian C yang belum diolah sama sekali berupa batugranit. Granit dapat dimanfaatkan sebagai berbagai material dari ubin, meubel hingga ornament pelapis dinding bangunan dengan nilai jual yang cukup tinggi, oleh sebab itu potensi ini sangat menjanjikan untuk dikembangkan