138 research outputs found
Sort by
PENGARUH STRUKTUR GEOLOGI TERHADAP GERAKAN TANAH DI DUSUN WINDUSARI, DESA METAWANA, KECAMATAN PAGENTAN KABUPATEN BANJARNEGARA, PROVINSI JAWA TENGAH
Pergerakan tanah yang terjadi di Dusun Windusari, Desa Metawana, Kecamatan Pagentan, Kabupaten Banjarnegara Provinsi Jawa Tengah adalah termasuk kedalam tipe gelinciran (Rotation Slide), berdasarkan Verhoef 1985. Gerakan tanah mempunyai arah pergerakan yang membelok dari N040ºE – N050ºE/ 70º menjadi N070ºE – N110ºE/ 30º - 40º, kemudian pada bagian bawah bergerak dengan arah umum N090ºE – N120ºE/ 30º - 40º. Secara keseluruhan, arah umum pergerakan longsoran (gerakan tanah) adalah N070ºE – N110ºE/ 30º - 40º. Berdasarkan pengukuran rekahan, melalui perbandingan arah umum pergerakan sesar, kekar dan pergerakan tanah, dapat diketahui bahwa pergerakan tanah yang terjadi mempunyai arah umum yang relatif sama dengan arah umum sesar maupun kekar daerah telitian. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa selain dipengaruhi oleh faktor – faktor eksternal seperti iklim, lingkungan, ataupun faktor alam, struktur yang berkembang pada daerah telitian sangat berpengaruh terhadap gerakan tanah yang terjadi.Kata Kunci : Pergerakan tanah, pengaruh struktu
INTERPRETASI ZONA STRUKTUR DAN ALTERASI BERDASARKAN GEOFISIKA IP DI DAERAH NIRMALA, BOGOR, JAWA-BARAT
Lokasi penelitian terletak di Dusun Nirmala, Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat. Daerah ini sebagian besar masuk ke dalam wilayah Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS) yang bertampalan dengan konsesi UBPE Pongkor PT. Aneka Tambang Tbk, (Persero) dan perkebunan teh PT. Nirmala Agung. Secara astronomis, berada pada 6°42’00”- 6°43’15” LS dan 106°30’45”- 106°32’15’’ BT, dengan luas daerah penelitian kurang lebih 4,5 km2. Tersusun atas dua satuan batuan yaitu satuan tuf lapili dan satuan breksi tuf dengan dua bentukan lahan geomorfik yaitu perbukitan vulkanik bergelombang kuat dan perbukitan bergelombang sedang. Alterasi hidrotermal yang terbentuk di daerah telitian dikelompokkan menjadi dua tipe alterasi yaitu alterasi argilik dan alterasi kloritisasi. Mineralisasi yang dijumpai di daerah telitian adalah pirit, kalkopirit, bornit dan galena. Di daerah telitian mineralisasi dikontrol oleh struktur geologi berupa sesar dan kekar. Dimana mineralisasi melimpah dan banyak dijumpai mengisi kekar-kekar terutama shear fracture yang memiliki trend arah timur laut – barat daya dan barat laut – tenggara, dengan arah tegasan pada kekar-kekar yang diukur di lapangan relatif berarah utara-selatan
PELAKSANAAN MANAJEMEN SUMBERDAYA AIRTANAH METODE SUMUR RESAPAN UNTUK KONSERVASI AIRTANAH PADA AKIFER DANGKAL (SHALLOW AQUIFER) DI WILAYAH DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA
Development of physical build progress at DKI Jakarta area is increase pass by increase all the sector to make changes fungtion of landform like than forest fungtion, farms fungtion make real estate area, hotels and industries area. And than recharge area to decrease that is all, maked to changes of hydrology cycle is that decrease water rainfall to infiltrated to increase of runoff water.Hydrology and some factor to affected groundwater static water level at the shallow aquifer and value of infiltration capacity, and rainfall at The DKI Jakarta area, to make total artificial recharge to be needed of conservation methode at shallow aquifer. Lower plain of Jakarta Coastal added at North part of West Java, with has spread from West part of Java to East following North Coastal from West Java until Cirebon City, with wide plus minus 40 Km. In the regional North Coatal plain added with some high area and sub – basin. Jakarta area is a part sedimentation sub – basin and they call of Ciputat sub – basin, the West part this basin bodered by Tangerang High, at the East part by Rengasdengklok High and at the South part gradational to Bogor Antikinorium.Generally of DKI Jakarta area has to investigation by Soekardi (1985(, Nippon Koei et. Al (Cisadane River Basin Development Feassibility / CRBDFS, 1987), with to make differeanted of Jakarta Groundwater Basin to four part that is Coastal area are North of Tangerang – Jakarta – Bekasi, , Terraces area at the central art basin, the Tertiary bedrock with small production and volcano slope area of Salak and Pangrango. Thickness of Quartenary sediment in the Central Basin to interpretative than 250 meters until 300 meters, and less thickness to South West – South – South East from Jakarta about 25 meters to 50 meters (Warsito, 1985), because closed by contack with Tertisru sediments.From the analysis are finally of infiltration capacity (after balanced point) at the DKI Jakarta area is variatiun. Finally of infiltration capacity is lower value (0,01 Cm/ minutes) they are at the location two, three, four, and the higher (1,98 Cm / minutes) at the location 71. Perbandingan of smaller value and higher value is 198. In the geography position higher value at the South part, and smaller value at the North part
STRUKTUR GEOLOGI DAN SEDIMENTASI BATUBARA FORMASI BERAU
Perkembangan Sub-Cekungan Batubara Berau selama Tersier di Kalimantan Timur berada di continental plate margin dalam suatu sistem passive margin, berhubungan dengan regangan (rifting) Selat Makasar. Formasi Berau merupakan formasi pembawa batubara di Sub-Cekungan Berau yang berumur Miosen Tengah. Proses pengendapan batubara Formasi Berau di lingkungan delta melalui sisi flexure bidang sesar normal halfgraben berupa sliding gravity.Pengaruh struktur geologi terhadap lapisan batubara baik vertikal maupun lateral secara langsung berpengaruh terhadap ketebalan lapisan batubara, kualitas dan kelayakan penambangannya. Baik dalam skala besar maupun kecil khususnya karakter internal dan eksternal susunan lapisan batubara atau sedimen pengapitnya. Karakter struktur endapan batubara dapat untuk memecahkan permasalahan korelasi stratigrafi, perhitungan cadangan / sumber daya batubara dan sebaran kualitas batubara sebelum dilakukan rancangan penambangan. Pertimbangan struktur geologi tersebut untuk mengetahui pola sebaran batubara dan sejauh mana pengaruh sebaran batubaranya. Tulisan ini disusun selama penulis mengikuti kegiatan eksplorasi di Binungan Blok 1 – 4, dan pengamatan singkapan di Binungan Blok 1 - 4 PIT K, dan Sambarata PIT Gaharu
ANALISIS FASIES DAN LINGKUNGAN PENGENDAPAN FORMASI TUBAN, JAWA TIMUR UTARA
The purpose of this study are understanding of the facies type, distribution and its environment. On the basis of the sedimentological characteristic, Tuban Formation can be devided into 5 major facies namely mudstone, wackstone, packstone, grainstone and bindstone.These facies will be described into detail so the each facies that different in characterictic such as texture and composition will have the different name. Environment interpretation from these facies reveals a restricted to open marine-shallow condition. According to reef facies sub-division this environment could be divided into lagoon, back reef, core reef, and fore reef. The presence and distribution of those facies were characterized the fringing reef
PENTINGNYA PENELITIAN DETIL DI CEKUNGAN BATURETNO
Hasil penelitian terbaru yang dilakukan oleh penulis di bagian barat Cekungan Baturetno menyimpulkan bahwa tidak terdapat indikasi adanya Danau Baturetno Purba serta pembalikan arah Bengawan Solo Purba tidak pernah terjadi. Kesimpulan tersebut diperoleh berdasarkan karakteristik stratigrafi dan sedimentologi Formasi Baturetno. Karakteristik sedimentologi dan mikropaleontologi endapan lempung hitam tidak mencerminkan hasil pengendapan danau Baturetno Purba. Dua hal penting hasil penelitian penulis tersebut sangat berbeda dengan penelitian – penelitian terdahulu. Tulisan ini bermaksud mengurai fakta lapangan dan laboratorium yang terbaru tentang Formasi Baturetno dan keterkaitannya dengan Danau Baturetno Purba dan Bengawan Solo Purba serta hal – hal yang harus dilakukan untuk menguak kebenaran ilmiah ada tidaknya pembalikan arah Bengawan Solo Purba dan pembentukan danau Baturetno Purb
STUDI SIKUEN STRATIGRAFI ENDAPAN BERUMUR OLIGOSEN ATAS – MIOSEN BAWAH (P22 – N6) CEKUNGAN JAWA TIMUR UTARA DI DAERAH TUBAN JAWA TIMUR
Sequence stratigraphic analysis can application at all deposition environment and can be determined base on outcrop data and well data. This Research trying to apply overflows and foraminifera uniform at deep-sea deposition of old age Upper Oligocene-Lower Miocene in the North East Java basin consisting of 3 formations. This Research analyzing 91 sample from 4 MS and can compiled become 6 sequence.Maximum Flooding Surface (MFS) can determined base on total overflows top foraminifera, sequence boundary (SB) in the existence of change of paleobathymetri, lithology characteristic, and degradation of total overflows among two MFS.Sequence 1 is limited by SB 1 in the research area, MFS 1 in the show total what overflows top of foraminifera at K.05 (1085/100 gr), structured by claystone insert bioclastic limestone, sequence 2 limited by SB2 in the show existence of superficiality outer neritic to middle neritic among MFS1 and MFS2, MFS2 in the show total overflows top of foraminifera at Ps.40 (499/100gr), compiled by claystone insert bioclastic limestone. Sequence 3 limited by SB3 in the show existence of superficiality from lower bathyal to outer neritic among MFS2 and MFS3, MFS3 in the show total overflows top of foraminifera at G.06 (2858/10gr), compiled by claystone insert fragmental limestone, sandstone and containing “clay ironstone nodul”. Sequence 4 limited by SB34 in the show existence of superficiality from upper bathyal to outer neritic among MFS3 and MFS4, MFS4 in the show total overflows top of foraminifera at G.14F (4987/100gr), compiled by claystone insert fragmental limestone and interlaminated bioclastic limestone, chalk limestone. Sequence 5 limited by SB5 in the show existence of superficiality upper bathyal to middle neritic among MFS4 and MFS5, MFS5 in the show culminate total overflows of foraminifera at Sd.23. (302/100gr), compiled by interlaminated bioclastic limestone and chalk limestone, claystone, and marl. Sequence limited by SB6 in the show existence of superficiality outer neritic to middle neritic among MFS5 and MFS6, MFS6 in the show maximum overflows foraminifera at Sd.32. (274/100 gr), compiled by claystone insert shalestone and clay ironstone nodul
GAS METHANE BATUBARA DI FORMASI WAHAU BERDASARKAN DATA PROKSIMAT DAN MASERAL, KABUPATEN KUTAI TIMUR , KALIMANTAN TIMUR
Penelitian geologi yang dilaksanakan di sub cekungan Kutai terhadap lapangan batubara Wahau, Kabupaten Berau, Propinsi Kalimantan Timur, adalah untuk mengetahui potensi sumber daya “coalbed methane” di daerah tersebut. Pengamatan lapangan yang dilakukan di lapangan batubara menunjukkan bahwa litotipe batubara yang teramati adalah “dull banded”. Sementara itu, dari analisis geokimia terlihat kisaran kandungan zat terbang antara 37,40 – 49,38 %, kadar air 12,89 – 40,87%, abu 4,71 – 15,43 %, dan kandungan karbon 14,44 – 39,54 %. Berdasarkan rata – rata nilai relektan vitrinite 0,44.. Peringkat batubara Wahau masuk subbituminious C. Gas metana yang dihasilkan berasal dari proses biogenik. Kehadiran struktur sinklin dalam batubara Wahau berarah umum Timur Laut - Barat Daya. . Kandungan gas batubara secara perhitungan “insitu” menunjukkan nilai 4,7 – 3,6 m3/t. Besarnya sumberdaya gas methane adalah 1,12 TCF.Kata Kunci : Reflektan Vitrinite, , Coalbed methane, proximat
JENIS DEPOSIT “MASSIVE SULPHIDE” Pb-Zn DI DAERAH RIAM KUSIK, KECAMATAN MARAU, KABUPATEN KETAPANG, PROPINSI KALIMANTAN BARAT
Daerah Riamkusik, Kecamatan Marau, Kabupaten Ketapang, Propinsi Kalimantan Barat, Indonesia. Berdasarkan dari hasil pengamatan batuan dan pengukuran unsur struktur geologi terdapat satuan batuan yang telah mengalami alterasi atau ubahan serta terdapat mineralisasi dengan hadirnya mineral galena, kalkopirit, sphalerit, pirit dan lainnya. Mineralisasi umumnya mengikuti pola struktur kekar dan sesar yang memotong di daerah penelitian yang umumnya berarah Barat – Timur (N085OE), struktur geologi tersebut diinterpretasikan menjadi koridor proses terjadinya jalur mineralisasi masif sulfida, sedangkan analisa geofisika IP menunjukan adanya jalur dan cebakan masif sulfida (Pb-Zn) pada kedalaman bervariasi antara 10 - 100 meter. Beberapa hasil pemboran pada kedalaman 40 – 75 meter menunjukkan mineralisasi kuat pada cebakan masif sulfida (galena, magnetit, spalerit, pirit, kalkopirit). Berdasarkan data hasil eksplorasi tersebut diinterpretasikan bahwa tipe deposit daerah telitian adalah “Masif Sulphide” yang dikontrol oleh pola struktur geologi yang berarah N 085OE
PETROLOGY OF HIRO CAVE MEKKAH SAUDI ARABIA, MIDDLE EAST
Goa Hiro terletak di puncak bukit Jabal Nur, kurang lebih 2 mil sebelah Timur Laut dari Masjidil Haram. Di Goa inilah , pertama kali Nabi Muhammad saw. Menerima wahyu (surah Al-Alaq 1-5) Penelitian dilakukan dengan : observasi, mengambil beberapa sample batuan, membuat preparasi sayatan tipis dan menganalisis secara mikroskopis. Keberadaan sebuah goa di alam pada umumnya terbentuk di daerah karst (batugamping), namun di Goa Hiro tidaklah demikian halnya. Goa Hiro terbentuk oleh granit yang mengintrusi batuan-batuan metamorf (sekis hijau). Intrusi granit tampak berwarna putih-pink, bagian permukaan lapuk berwarna kecoklatan dan memperlihatkan blok-blok yang jatuh (an exfoliating). Hasil analisis mikroskopis memperlihatkan tekstur fanerik kasar, holokristalin dengan komposisi mineral terdiri dari kuarsa (25%), ortoklas (30%), plagioklas (20%), mika ( muskovit, biotit 15%), hornblende (8%) and mineral opaq (2 %).Keywords : Goa Hiro, grani