138 research outputs found

    ANALISIS BEBAN MATERIAL FILLING DALAM PENENTUAN TEBAL SILL PILLAR BERDASARKAN NILAI FAKTOR KEAMANAN (FK) BLOK 4 SELATAN TAMBANG CIURUG GUNUNG PONGKOR BOGOR, JAWA BARAT

    No full text
    Pengaruh kondisi geologi regional Jawa Barat, terhadap kondisi geologi daerah penelitian terutama struktur dan pelapukan akan menyebakan terjadinya ketidakstabilan pada batuan saat operasi penambangan. Dilakukan penelitian ini untuk mengetahui tebal dan kekuatan dari sill pillar akibat aktivitas penambangan disamping juga adanya pengaruh beban material filling di atasnya. Penelitian perilaku runtuhan material pengisi (filling material) menggunakan model fisik yang dibentuk mirip dengan kondisi lombung (stope) sebenarnya di lapangan dengan membuat variasi sudut kemiringan (40°, 45°, 50°, 55°, 60°, 65°, dan 70°), Dari hasi uji fisik ini menunjukkan adanya perbedaan persentase runtuhan yang diakibatkan oleh pengaruh air pada jumlah tertentu pada material pengisi sehingga memimbulkan tekanan hidrostatik baik terhadap sesama butir material maupun dengan dinding batuan (foot wall dan hanging wall) semakin kering tekanan hidrostatis semakin kecil.Analisa kestabilan sill pillar menggunakan metode keseimbangan batas dan metode numerik. Analisa kestabilan pillar menggunakan metode analitik (keseimbangan batas} dan metode numerik (phase2) dilakukan untuk mengetahui nilai faktor keamanan (safety factor=FK) sill pillar.Dari hasil analisa dapat disimpulkan bahwa nilai faktor keamanan (FK) menunjukkan hasil yang relatif sama antara pemakaian metode numerik dan keseimbangan batas. Secara umum berdasarkan kedua metoda tersebut masih adanya peluang sebagai upaya peningkatan mining extraction dengan pillar robbing

    HUBUNGAN AIRTANAH DAN KONDISI GEOLOGI DALAM PENENTUAN KUALITAS DAN POTENSI AIRTANAH KECAMATAN BRUNO KABUPATEN PURWOREJO PROPINSI JAWA TENGAH

    No full text
    Pemanfaatan airtanah secara tidak tepat, dapat mengakibatkan degradasi kualitas dan kuantitas terhadap airtanah itu sendiri,. Oleh karena itu sangat penting untuk memahami keberadaan airtanah (lokasi, kedalaman, dan arah aliran) serta potensi airtanah (kualitas dan kuantitas). Daerah telitian secara geografis terletak pada koordinat 109o47’28” BT–110o8’20” BT dan 7o32’0” LS–7o54’0” LS, secara administrasi merupakan wilayah Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo dengan luas wilayah 108,43 km2 yang terletak kurang lebih 60 km dari Yogyakarta. Penelitian ini didasarkan pada kondisi geologi yang ada, karena keterdapatan airtanah sangat dipengaruhi oleh topografi, litologi, curah hujan dan tata guna lahan. Litologi didominasi dari batuan beku yang masif keras tetapi dirajam kekar secara rapat, sehingga memiliki struktur bercelah dengan porositas retakan. dan aliran airnya juga akan melalui rekahan, dan celah-celah batuan. Berdasarkan analisa fisik seperti warna, bau, rasa, dan suhu di lapangan serta nilai pH, DHL dan TDSnya termasuk mutu airtanah baik, mutu cukup untuk kepentingan air minum dan mutu sangat baik-mutu baik untuk kepentingan irigasi. Hasil analisa kimia dari laboratorium didapatkan jenis air tanah yang ada di daerah telitian yaitu Magnesium Bikarbonat sedang mutu airtanah berdasarkan konsentrasi unsur/senyawa yang dominan adalah baik tanpa ada faktor penghambat, sedangkan hasil analisa biologinya berdasarkan kandungan bakteri Colli, mutu air jelek untuk air minum sehingga perlu penanganan lebih khusus. Kecamatan Bruno termasuk wilayah potensi tinggi sampai rendah karena berdasarkan kualitas didapatkan mutu air minum baik dan, kuantitas yang ada mempunyai debit air 0,02-12 liter/detik

    MINERALISASI LEAD-ZINC DAERAH RIAMKUSIK, KECAMATAN MARAU, KABUPATEN KETAPANG, PROPINSI KALIMANTAN BARAT

    No full text
    Penelitian berada di daerah Riamkusik, Kecamatan Marau, Kabupaten Ketapang, Propinsi Kalimantan Barat, Indonesia. Berdasarkan dari hasil pengamatan, pengukuran dan analisis struktur geologi terdapat satuan batuan yang ada pada daerah penelitian berupa satuan batuan batupasir, satuan batuan breksi dan intrusi andesit. Pola struktur sesar atau patahan yang memotong di daerah penelitian yang umumnya berarah Barat – Timur. Struktur geologi tersebut menjadikan koridor proses terjadinya jalur mineralisasi masif sulfida, sedangkan analisa geofisika IP menunjukan adanya jalur dan cebakan masif sulfida (Pb-Zn) pada kedalaman bervariasi antara 10 - 100 meter. Beberapa hasil pemboran pada kedalaman 40 – 75 meter menunjukkan mineralisasi kuat pada cebakan masif sulfida (galena, magnetit, spalerit, pirit, kalkopirit). Berdasarkan data hasil eksplorasi tersebut menunjukan bahwa daerah telitian prospek untuk ditambang skala kecil

    ESTIMASI BENTUK DASAR SUNGAI BERDASARKAN ANALISA BESAR BUTIR SEDIMEN DI MODIFIED AJKWA DEPOSITION AREA (ModADA) TIMIKA, PAPUA

    No full text
    Tailing is one of waste types produced by mining activity at PT. Freepot Indonesia (PTFI), and it is also called as sirsat, which is the representing abbreviation from sand in mining. The sirsat is placed at ModADA (Modified Ajkwa Deposition Area), an area that has been modified and managed for sirsat deposits. This area is about 235 square kilometres, which is bounded from the surrounding region by West Levee and East Levee. The system used by utilizing the river flow to carry the tailing from the mountain to the deposition area in ModADA.The river flow along the channel contains eroded materials which are correlated with the friction factor, velocity of sedimentation, and geometric configuration showing the bed river morphology. Grain size is a factor influencing the bed river morphology which is used as parameter in this study. The measurement and accumulation of sirsat grains have been conducted since 1997 up to now, and at the same time construction of river cross sections from highland to lowland in ModADA has also been made. These parameters are then utilized for analysis by using statistical approach such as mean, variance, and standard deviation. Estimation of the bed river morphology is carried out by analysing the characteristics of channel base form on the basis of the D50 sediment grain sizes. The estimation of the bed river morphology may be used to predict sedimentation pattern of the river flow in Ajkwa lowland in Timika, Papua.Keywords: ModADA, Grain Size, Bedriver, Sedimentatio

    The Ntui-Betamba high-Grade gneisses: a northward extension of the Pan-African Yaounde gneisses in Cameroon

    No full text
    The Ntui-betamba area (southern Cameroon) is composed of high-grade migmatitic gneisses in which two litholigical units are distinguished: (i) a metasedimetary unit (kyanite-biotite-garnet gneisses, biotite-muscovite-garnet gneisses, calc-silicate rocks and quartzites) interpreted as a continental margin sedimentary series; and (ii) meta-igneous rocks comprising alkaline ultramafic to mafic pyroxene gneisses and amphibolites and amphibole-bearing alkaline orthogneisses. These units recrystallised under HP-HT conditions (T= 750-800°C, P≥ 0.9-1.3 GPa) and were deformed in relation to major tangential tectonic event with north-northeast-south-southwest kinematic direction. This lithological association its tectono-metamorphic evolution show striking similarities with the Yaounde gneisses, suggesting that the extensional depositional environment envisaged for this formation can be extended farther north, towards the Adamawa Shear Zone (Lom Series). The contrasted metamorphic evolution between areas located to the south of the (high pressure: Yaounde, Ntui-Betamba), and those located to the north (low pressure: Banyo), along with widespread remains of a palæoproterozoic crust, suggest important crustal thickening during tangential tectonics in southern Cameroon. As a consequence, the Adamawa Shear Zone is not simply a late Pan-African transcurrent transpressive Shear Zone but appears to have been formerly a major (possibly intracontinental) thrust zone

    EKSPLORASI MINERAL LOGAM DENGAN METODE INDUKSI POLARISASI DAERAH MEKAR JAYA - CIDOLOG, KABUPATEN SUKABUMI JAWA BARAT

    No full text
    Penelitian menggunakan metode geofisika resistivitas dan induksi polarisasi (IP) kawasan waktu (time domain) dengan masing – masing parameter pengukuran adalah tahanan jenis batuan dan chargeability batuan. Pengambilan data lapangan menggunakan konfigurasi elektroda dipole – dipole dengan panjang lintasan pengukuran 250 m yang berjumlah 14 lintasan. Hasil penelitian dan interpretasi terpadu dari beberapa lintasan, berdasar data anomali resistivitas daerah telitian tersusun oleh batuan yang telah mengalami alterasi (ubahan), alterasi argilik dan alterasi propilitik dicirikan dengan nilai resistivitas < 100 Ohm.m dan alterasi silisifikasi dicirikan dengan nilai resistivitas > 200 Ohm.m. Berdasarkan data anomali chargeability secara horizontal penyebaran alterasi – mineralisasi mengikuti arah dugaan vein sesuai dengan arah sebaran singkapan geologi permukaan yang secara umum berarah Barat Laut (NW) – Tenggara (SE), daerah potensi mineralisasi ditandai dengan nilai chargeability > 100 M.sec

    PENENTUAN FORMULASI PERSAMAAN MATEMATIK PEMAKAIAN AIRTANAH DI KOTA YOGYAKARTA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

    No full text
    Wilayah Kota Yogyakarta secara morfologi termasuk dalam Lereng Kaki Gunung Merapi, memiliki wilayah yang relatif datar dengan kemiringan antara 0 s/d 2 %, dan berada pada ketinggian 114 meter di atas permukaan laut. Sebagian wilayah yaitu seluas 1.657 hektar terletak pada ketinggian kurang dari 100 meter dari permukaan air laut, sedangkan sisanya yaitu seluas 1.593 hektar berada pada ketinggian antara 100 sampai 199 meter dari permukaan air laut.Ditinjau dari sisi geohidrologi, Wilayah Kota Yogyakarta terletak pada Sistem Cekungan airtanah Yogyakarta. Akuifer – akuifer yang berkembang pada cekungan ini adalah multi layer akuifer, dengan jenis akuifernya adalah akuifer bebas sampai akuifer setengah tertekan. Akuifer – akuifer pada cekungan ini dibentuk oleh endapan – endapan hasil aktivitas Gunung Merapi yang berumur Kuarter, dengan endapan – endapannya yang belum terkonsolidasi dengan kuat.Pemakaian air bersih untuk Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagian besar menggunakan sumber airtanah, kecuali di bidang pertanian lebih banyak menggunakan sumber air permukaan. Dari kelima wilayah setingkat kabupaten di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Wilayah Kota Yogyakarta merupakan pemakai tertinggi air bersih yang bersumber dari airtanah. Terutama untuk keperluan domestik, rumah tangga dan industri.Penentuan formulasi matematik pemakaian airtanah di Kota Yogyakarta ini adalah untuk mengevaluasi hasil perkiraan volume pemakaian airtanah di Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, membuat pedoman pemakaian airtanah, menentukan standart minimal dari pemakaian airtanah, serta menentukan formulasi perhitungan volume pemakaian airtanah dengan variabel dan konstanta tertentu. Dari formulasi ini bisa dipakai untuk mengembangkan formulasi perhitungan volume pemakaian airtanah yang selanjutnya dapat dipakai sebagai acuan dalam perhitungan nilai perolehan air (NPA) maupun besaran pajak yang wewenangnya berada di Pemerintah Daerah Propinsi. Demikian pula bisa mengoptimalkan pengambilan dan pemanfaatan airtanah yang berazaskan pada kemanfaatan, kesinambungan dan kelestarian airtanah

    STUDI GEOLOGI TEKNIK RENCANA BENDUNG KARANG KECAMATAN PATUK, KABUPATEN GUNUNGKIDUL

    No full text
    Untuk memenuhi kebutuhan air irigasi di daerah Karang, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul perlu dibangun suatu bendung. Penyelidikan geologi teknik perlu dilakukan untuk mengetahui kondisi geologi dan sifat keteknikan dari daerah rencana as bendung. Pondasi suatu bendung harus bertumpu pada batuan yang mempunyai daya dukung baik sehingga bangunan bendung tidak akan mengalami deformasi (perubahan posisi) karena faktor teknis, sehingga umur bendung akan lama.Peneylidikan geologi teknik rencana bendung Karang, berdasarkan batuan yang ada dan nilai-nilai keteknikannya menghasilkan bahwa pondasi bendung Karang sebaiknya bertumpu pada batuan yang berupa breksi dengan sisipan batupasir halus. Breksi berada pada kedalaman 3 meter sampai 10 meterKata Kunci : bendung, penyelidikan geologi teknik

    MODEL FASIES KARBONAT FORMASI BATURAJA, LAPANGAN DANENDRA, CEKUNGAN SUMATRA SELATAN

    No full text
    The Early Miocene Carbonate Rock is an important rock reservoir in Indonesia. South Sumatra Basin has several reservoir carbonate which still productive. Danendra Field is one of carbonate rock case studies which can be identified from well and seismic data and then occasionally build-ups and mounds of reefal. Facies carbonate subsurface analysis were done by using seismic data of 7 profiles, 10 well data and one biostratigraphy of one well. The research methodology applied in this research is interpretation of sedimentation, manual correlation, and subsurface mapping. Biostratigraphicaly Baturaja Formation was sedimentated during Early Miocene. Four facies have been identified at Danendra Field, namely a facies shelf characterized by packstone texture, a facies shelf edge / core reef by the present of boundstone texture, a facies lagoon with mudstone-wackstone texture and finally a tidal flat facies demonstrates the grainstone-packstone texture. Stratigraphicaly, Baturaja carbonate can be subdivided into five cycles, the cycles bounded by conformity, except the fourth cycle bounded by disconformity due to the erosion. The process of the first cycle is a sedimentation toward marine and then progradational and retrogradational processes at the second cycle is can be recognized by progradational sedimentation processes, the third cycle a retrogradational process can be identified, and eventually the fourth cycle illustrated by agradational and retrogradational. Sedimentation processes to land ward and finally the fifth cycle characterized by progradational process. Sedimentation environment of Baturaja carbonate was sedimented marine back arc basin due to sea level changing relatively. Age of Baturaja carbonate is Early to Middle Miocene. The Caliche can be found as a result of weathering of Baturaja carbonate diagenetic process. The moldic and vuggy are formed by dissolve process, all diagenetic processes occurred in vadose environment.The most appropriate Baturaja carbonate facies model is an isolated platform with the model of rimmed shelf accretionary

    PENDEKATAN TERPADU DALAM PENGELOLAAN DAN PEREMAJAAN LAPANGAN MINYAK TUA

    No full text
    Makalah ini menyajikan pendekatan menyeluruh (holistic approach) untuk pengelolaan dan peremajaan lapangan-lapangan minyak yang sudah berumur (brown field). Keberhasilan dari program ini hanya bisa dicapai melalui berbagai kegiatan yang dilaksanakan dalam suatu pendekatan yang terintegrasi (menyeluruh) termasuk pengembangan, optimasi produksi dan penerapan operasi terbaik. Kegiatan ini dilakukan oleh suatu tim terpadu yang meliputi GGRE (geologi,geofisika dan teknik reservoir), Drilling, teknik Produksi, fasilitas produksi permukaan dan teknik operasi melalui keunggulan teknis, inovasi dan kerjasama tim untuk mencapai tujuan bersama yang diinginkan. Hasil akhir yang diharapkan adalah agar bisa mengoptimalkan produksi minyak dan memaksimalkan arus kas melalui pelaksanaan eksploitasi yang terpadu; mulai dari bawah permukaan (subsurface), sumur produksi dan fasilitas permukaan. Untuk mencapai keberhasilan yang diharapkan, dalam pelaksanaannya diperlukan penerapan teknologi mutakhir dan teknik-teknik yang baru.Adapun strategi kunci untuk pengelolaan dan peremajaan lapangan minyak tua yang dibahas dalam makalah ini diantaranya:1. Optimasi subsurface dengan secara terus menerus meningkatkan dan memperbaharui pemahaman tentang reservoir yang ada yang menyangkut geofisika, pemetaan geologi yang baru atau urutan stratigrafi, penghitungan reserves baik secara analisa “decline curve” maupun volumetrik, simulasi reservoir dan material balance untuk mengidentifikasi adanya hidrokarbon yang ketinggalan (bypass hydrocarbon), khususnya dilokasi yang secara struktur relative tinggi atau yang umum disebut lokasi attic.2. Optimasi sumur dengan mengidentifikasi potensi yang ada untuk re-completions, tambahan perforasi, pindah zona produksi, water shut off, dan perbaikan integritas dari tubing.3. Optimasi sumur dan falilitas produksi permukaan dengan menggunakan jaringan pemodelan terintegrasi atau terpadu baik komponen-komponen bawah permukaan maupun komponen permukaan yang terdiri dari sumur, artificial liftt, pipa-pipa produksi, separator dan kompresor dalam lingkaran tertutup (close loop), termasuk juga memperhitungkan kendala-kendala yang ada dari masing-masing komponen

    0

    full texts

    138

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    MTG
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇