138 research outputs found
Sort by
SEBARAN UNSUR TANAH JARANG DI SEBELAH BARAT LAUT LAPANGAN PANAS BUMI GUNUNG LAWU, KARANGANYAR, JAWA TENGAH
Sari - Lokasi panas bumi Gunung Lawu terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, Indonesia. Secara spesifik, sumber panas bumi Gunung Lawu pada penelitian ini terletak di sekitar lereng gunung sebelah barat. Hal ini ditandai dengan keberadaan manifestasi berupa air panas pada wilayah Bayanan, Balong dan Ngunut. Manifestasi air panas yang terdapat di permukaan merupakan hasil dari proses interaksi fluida air dengan batuan di bawah permukaan bumi yang kaya akan mineral dan unsur tanah jarang. Sehingga mata air panas yang terbentuk melalui proses ini dapat mengandung unsur tanah jarang dalam jumlah yang signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran unsur tanah jarang yang ada di lapangan panas bumi Gunung Lawu khususnya di bagian Barat Laut serta proses interaksi yang terjadi bawah permukaan. Metode yang digunakan untuk mengetahui kandungan unsur tanah jarang dengan menggunakan analisis Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry (ICP-MS). Proses interaksi fluida dengan batuan ditunjukkan oleh beberapa unsur tanah jarang. Belum ada penelitian sebelumnya mengenai interaksi antara batuan dan fluida yang berkaitan dengan unsur tanah jarang di wilayah ini. Oleh karena itu, diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan data dan informasi yang bermanfaat bagi peneliti di masa depan. Kata Kunci: Panas Bumi, Gunung Lawu, Unsur tanah jarang, ICP-MSAbstract - Lawu\u27s geothermal field is located between Central Java and East Java, Indonesia. Specifically, Mount Lawu\u27s geothermal resources in this study are located around the mountain\u27s western slopes. This is marked by the existence of manifestations in the form of hot water in the Bayanan, Balong, and Ngunut areas. The manifestation of hot water found on the surface results from a process of interaction of water fluids with rocks beneath the earth\u27s surface rich in minerals and rare earth elements. So hot springs formed through this process can contain significant amounts of rare earth elements. This study aims to determine the distribution of rare earth elements in the Mount Lawu geothermal field, especially in the Northwest part and the interaction processes that occur below the surface. The method used to determine the content of rare earth elements is by using Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry (ICP-MS) analysis. Some rare earth elements show the process of fluid interaction with rocks. There has been no previous research on the interaction between rocks and fluids related to rare earth elements in this region. Therefore, it is hoped that the results of this study can provide valuable data and information for future researchers. Keyword: Geothermal, Mount Lawu, Rare earth elements, ICP-M
ALTERASI DAN MINERALISASI EMAS DAERAH PANINGKABAN DAN SEKITARNYA, KECAMATAN GUMELAR, KABUPATEN BANYUMAS, JAWA TENGAH
Lokasi penelitian terletak di daerah Paningkaban dan sekitarnya, termasukdalam wilayah Kecamatan Gumelar, Kabupaten Bayumas, Propinsi JawaTengah. Tujuan penelitian adalah untuk menunjukkan adanya kontrol strukturgeologi pada daerah penelitian yang mempengaruhi pola sebaran urat kuarsadan mineralisasi emas. Metodologi dalam penelitian diawali denganpengumpulan data, dan data awal ini kemudian dikompilasi untuk menentukantahap penelitian berikutnya. Penelitian ini meliputi pengamatan geomorfologi,stratigrafi, struktur dan alterasi mineralisasi. Geomorfologi daerah penelitiantersusun atas empat satuan bentuk asal yaitu: bentuk asal vukanik, struktural,karst, dan fluvial. Stratigrafi tersusun atas tujuh satuan litostratigrafi tak resmidan dua litodem, yaitu (dari tua – muda): satuan breksi-vulkanik Halang, satuanbatupasir Halang, Satuan lava-andesit Kumbang, satuan breksi-vulkanik Tapak,satuan batupasir Tapak, satuan batugamping Tapak, endapan aluvial, dan intrusiandesit. Alterasi hidrotermal yang terbentuk di daerah telitian dikelompokkanmenjadi tiga zonasi tipe alterasi yaitu alterasi argilik, alterasi propilitik, danalterasi sub-propilitik. Mineralisasi yang dijumpai di daerah telitian adalah pirit(FeS2), kalkopirit (CuFeS2), galena (Pbs), bornit (Cu5FeS4). Analisis strukturmakroskopis pada daerah penelitian berdasarkan arah kelurusan dugaan jejakdari struktur geologi dulu baik berupa sesar, ataupun arah kelurusan sumbuhlipatan, didapatkan arah umum dari kelurusan tersebut yaitu relatip berarah N3050 E (Baratlaut - Tenggara), dan N 0550 E (Timurlaut – Baratdaya). Di daerahtelitian proses mineralisasi dikontrol oleh struktur geologi berupa sesar dankekar. Dimana mineralisasi melimpah dan banyak dijumpai mengisi kekar-kekarterutama shear fracture yang secara umum berarah Timurlaut – Baratdaya danBaratlaut – Tenggara, dengan arah tegasan pada kekar-kekar yang diukur dilapangan relatif berarah Utara - Selatan. Penelitian ini akan menekankan padapengukuran dan analisis detil untuk mengetahuai proses mineralisasi emas danmineral lainnya yang dikontrol oleh pola struktur yang bekerja. Analisis kontrolstruktur dapat membantu dalam melokalisir daerah mineralisasi karena padadasarnya aktivitas dan proses kontrol struktur geologi merupakan koredor padajalannya magma maupun sisa magma yang membawa mineral-mineral,sehingga metode eksplorasi mineral bijih dengan kontrol struktur dapatdigunakan untuk menentukan cebakan mineralisasi endapan bijih emas padasistem cebakan emas maupun mineral lainnya pada suatu daerah lain.Kata kunci: litostratigrafi, struktur, zona bukaan, zona ubahan, mineralisasi,mineral logam
MINERALISASI EMAS DAN MINERAL PENGIKUTNYA DI DAERAH NIRMALA, BOGOR, JAWA-BARAT
Penelitian terletak di Dusun Nirmala, Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat. Litologi daerah telitian tersusun atas dua satuan batuan yaitu satuan tuf lapili dan satuan breksi tuf dengan dua bentukan lahan geomorfik yaitu perbukitan vulkanik bergelombang kuat dan perbukitan bergelombang sedang. Alterasi hidrotermal yang terbentuk di daerah telitian dikelompokkan menjadi dua tipe alterasi yaitu alterasi argilik dan alterasi kloritisasi. Mineralisasi yang dijumpai di daerah telitian adalah pirit, kalkopirit, bornit dan galena. Di daerah telitian mineralisasi dikontrol oleh struktur geologi berupa kekar dan sesar mendatar. Mineralisasi secara dominan dan banyak dijumpai pada uarat kuarsa yang mengisi kekar-kekar terutama shear fracture yang secara umum berarah timur laut – barat daya dan barat laut – tenggara, dengan arah tegasan pada kekar-kekar yang diukur di lapangan relatif berarah utara-selatan
PENYEBARAN CEBAKAN TIMAH SEKUNDER DI DAERAH KECAMATAN AIRGEGAS KABUPATEN BANGKA SELATAN PROPINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG
Penelitian bijih timah sekunder ini berada di daerah Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Bangka Belitung. Berdasarkan dari hasil pengamatan, pengukuran dan analisis struktur geologi terdapat satuan batuan yang ada pada daerah penelitian berupa satuan batuan batupasir, satuan batuan piroklastik .Pola struktur sesar atau patahan yang memotong di daerah penelitian yang umumnya berarah Barat laut - Tenggara . Litologi daerah telitian adalah satuan batupasir, satuan batuan piroklastik dan litodem granit. Struktur geologi daerah telitian secara umum dikontrol oleh adanya kekar-kekar yang secara umum berkedudukan N 130O- 140OE/75O. Analisa distribusi besar butir berdasarkan fraksi tyler, hasil analisa sampel gravel di daerah Tambang rakyat pada 8DF (665683,9694876,20) menunjukkan kadar timah (Sn) sebesar 0,82% dari kadar konsentrat 4,83 gram, dengan kehadiran mineral pada endapan gravel berupa kasiterit, ilmenit, zircon, turmalin dan mineral kuarsa.Diinterpretasikan penyebaran bijih timah terkonsentrasi pada cekungan-cekungan sungai purba (“paleo-river”) yang didaerah telitian terdapat di daerah Tepus dan sekitarnya
IDENTIFIKASI AWAL GUNUNG API PURBA DAERAH GUNUNG BUNGKUS KECAMATAN BADEGAN KABUPATEN PONOROGO JAWA TIMUR
Daerah G. Bungkus di bagian barat Kabupaten Ponorogo adalah bagian dari Zona Pegunungan Selatan yang tersusun oleh batuan gunung api purba berumur Tersier. Pusat erupsi sampai sekarang belum diketahui. Melalui studi menyeluruh mengenai geomorfologi, stratigrafi, struktur geologi, petrograpi dan petrologi keberadaan gunung api purba dapat diidentifikasi. Gunung api purba di daerah Sodong terbentuk hasil dari penunjaman Lempeng Hindia-Australia di Kala Akhir Eosin-Awal Miosin yang membentuk gunung api strato dengan komposisi batuan andesitik. Gunung api purba ini merupakan komplek Gunung Api Lawu Tua. Mineral hasil aktifitas vulkanik mungkin dapat dijumpai di daerah ini sebagai batuan yang mengalami ubahan melalui proses kloritisasi dan propilitisasi
BULI LATERITIC NICKEL DEPOSITS HALMAHERA : FROM PROSPECTING TO RESERVES ESTIMATION
Nickel is one of the mineral commodities targeted by Antam. In searching the nickel potential, Antam has reviewed the Maluku area which previously explored by Indeco, including Halmahera. Antam holds 2 ( two ) licences for nickel in the Buli area, Halmahera : one is at mining stage and the other one is at exploration stage.Tectonically, Halmahera Island forms a geologic complex area, as it is located in the junction of the Eurasian, Pacific and Indo_Australian plates. The complexity is represented by obducted oceanic crust and presence of major transcurrent faults . As a result of the obduction, ophiolitic units and associated oceanic sediments are exposed in the eastern part of Halmahera.Laterite nickel at Buli is due to lateritization of the ultramafic rocks, part of the ophiolitic units, and leave the stable minerals such as nickel, cobalt, cromium, iron and alumina. Through a systematic landsat interpretation, mapping and sampling,starting in 1989, prioritised areas had been selected. These areas have then been followed up by geophysical surveys, test pitting and drilling.As a result, 3 ( three ) lateritic nickel deposits had been defined at Gee island, Tanjung Buli and Mornopo. The first two deposits have been mined since 1997 and 2001 respectively. While the third deposit will be inaugurated soon. In additon one prospect had also been identified at Sangaji. The deposits comprise 2 ( two ) types of ore : limonite and saprolite. Cutoff grade for them are 1.2 % Ni and 1.6 % Ni respectively. As of December 2004, the total reserves and resources of the saprolite type deposits : are estimated to be 31.4 million tons @ 2.40 % Ni and 25.0 million tons @ 2.40 % Ni respectively. While the limonite type deposits contain the reserves of 10.9 million tons at 1.50 % Ni & 0.18 % Co and the resources of 87.5 million tons at 1.47 % Ni & 0.18 % Co. There is another resources of 33.0 million tons grading 1.40 % Ni and 0.19 % Co at Sangaji.Antam has always been mining the high grade materials of both saprolites and limonites, and shipped it to Pomalaa , Japan and Australia for further processing. The low grade materials are being thought. Apart from blending, a hydrometallurgical process is being considered
GEOLOGI DAN STUDI PENGARUH BATUAN DASAR TERHADAP DEPOSIT NIKEL LATERIT DAERAH TARINGGO KECAMATAN POMALAA, KABUPATEN KOLAKA PROPINSI SULAWESI TENGGARA
Penelitian berada pada konsesi PT. INCO, Tbk Pomalaa daerah Taringgo, Kecamatan Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Propinsi Sulawesi Tenggara. Berdasarkan hasil pengamatan, pengukuran dan analisis struktur geologi terdapat satuan batuan yang ada pada daerah penelitian berupa satuan batuan peridotit, satuan batuan sekis Pompangeo, satuan batuan konglomerat Langkowala, dan satuan batuan breksi Alangga. Jenis batuan dasar sangat berpengaruh pada pembentukan endapan nikel laterit. Dengan litologi berbeda maka kadar unsur sebagai unsur,kadar Ni pada dunit lebih tinggi dibandingkan harzburgit,lherzolit dan serpentinit.Hal ini dikarenakan oleh kandungan olivin dan piroksen yang terkandung didalamnya,dimana olivin dan piroksen merupakan mineral pembawa Ni. Selain batuan dasar struktur geologi juga berpengaruh yaitu sebagai media untuk mempercepat proses pelapukan.Selain itu morfologi dan topografi berperan penting dalam penyebaran unsur kimia dan proses lateritisasi.Kelerengan yang <20 memungkinkan untuk membentuk laterit karena tingkat erosi yang kecil
MODEL PERENCANAAN CASING PADA PENGEBORAN EKSPLORASI SUMUR X DENGAN SURFACE 8-1/2 “ LAPANGAN Y LEPAS PANTAI
Perencanaan Casing pemboran sumur dilakukan dengan dua tahap yaitu tahap perencanaan ( pre drill drilling (plan) dan tahap pelaksanaan ( Post drill - drilling) (Actual). Penentuan tahap pre drill driling diawali dari permukaan laut (sea level) (MSL) sampai dasar laut (seabed) dengan ketentuan kedalaman surface dari 34, 8 m - 77 m. Casing 20" dipasang pada kedalaman 722 m TVDDF, Casing 13- 3/8" pada kedalaman 2185m TVDDF dan 9-5/8" dipasang pada kedalaman 3272m TVVDF, merupakan tahap awal perencanaan.Tahap post drill drilling casing diukur dari permukaan laut (lepas pantai) dengan aktual casing 34,8m sampai dasar laut (seabed) 78,6m (actual). Penentuan pemasangan casing dengan kedalaman aktual pada pengeboran sumur x 715,6m TVDDF sampai pada kedalaman 3266,8m TVDDF dengan ukuran masing - masing casing berbeda dari 20" sampai 9-5/8".kata kunci : Casing, sumur
SISTEM AKUIFER DAN CADANGAN AIR TANAH DI PROPINSI SULAWESI SELATAN
oai:jurnal.upnyk.ac.id:article/166Air tanah sebagai sumberdaya alam tidak dapat terlihat secara langsung karena terdapat di dalam tanah dan batuan tetapi hampir semua penduduk memanfaatkannya baik untuk keperluan domestik maupun industri. Lapisan pembawa air tanah di Propinsi Sulawesi Selatan dapat dikelompokkan menjadi 4 sistem akuifer, yaitu :1. Akuifer dengan aliran air melalui ruang antar butir.2. Akuifer dengan aliran air melalui ruang antar butir dan celahan.3. Akuifer dengan aliran air melalui celahan dan rekahan.4. Akuifer dengan aliran air melalui celahan, rekahan dan saluran.Besar imbuhan air tanah bebas pada cekungan air tanah yang ada di Propinsi Sulawesi Selatan berkisar 56 – 1.484 juta m3/tahun. Imbuhan air tanah bebas yang terbesar ada pada CAT (Cekungan Air Tanah) Bone-Bone dengan debit 1.484 juta m3/tahun sedangkan imbuhan air tanah bebas terkecil ada pada CAT Sinjai dengan debit 56 juta m3/tahun. Besar debit aliran air tanah tertekan antara 1-10 juta m3/tahun. Debit aliran air tanah tertekan yang terbesar ada pada CAT Bone-Bone dengan debit 10 juta m3/tahun sedangkan debit aliran air tanah tertekan terkecil ada pada CAT Sinjai dengan debit 1 juta m3/tahun
SEBARAN ENDAPAN PLASER TIMAH DAERAH LAUT CUPAT DAN SEKITARNYA, PERAIRAN BANGKA UTARA, KABUPATEN BANGKA BARAT, PROPINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG
Daerah penelitian berada di Perairan Utara Pulau Bangka, tepatnya di Laut Cupat yakni di sebelah utara dan diantara Tanjung Penyusuk dengan Tanjung Melala yang secara administratif termasuk Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka Barat, Propinsi Kepulauan Bangka Belitung.Akibat intrusi Granit Klabat saat Trias Akhir, terjadi mineralisasi pada Kompleks Pemali melalui Fase Pneumatolitik yang dicirikan oleh kehadiran mineral cassiterite yang tersebar dalam bentuk urat-urat kuarsa dan greisen sebagai sumber timah primer. Akibat proses eksogen yang berupa pelapukan dan erosi seiring dengan naik turunnya muka air laut, timah primer mengalami pemisahan dari batuan sumbernya, kemudian tertransport dan terendapkan sebagai timah plaser dengan geometri mengikuti konfigurasi batuan dasar yang umumnya berupa Perbukitan Terkikis dan Peneplain dari Bentukan Lahan Denudasional.Hasil analisa terhadap data bor dan data seismik menunjukkan bahwa penyebaran gravel (lapisan bertimah) daerah penelitian mengikuti pola pengaliran Dendritik dengan arah relatif tenggara – barat laut dan dikontrol oleh keberadaan batuan granit sebagai batuan sumber serta morfologi batuan dasar yang bergelombang sehingga menghasilkan endapan tipe Kaksa yang berada pada lembah-lembah batuan dasar Laut Cupat