KOVALEN: Jurnal Riset Kimia
Not a member yet
324 research outputs found
Sort by
PEMBUATAN Carboxymethyl cellulose (CMC) DARI PELEPAH NANAS (Ananas cosmosus Merr.)
A research about production of Carboxymethyl cellulose (CMC) from pineapple midrib (Ananas cosmosus Merr.) has been conducted. This research aims to determine the best cellulose ratio with sodium monochloro acetate and the best reaction time to the substitution degree of carboxymethyl cellulose from pineapple midrib fibers. This study used a Completely Randomized Design method with two independent variables, i.e. variations in the weight of sodium monochloroacetate (2.5 grams, 3 grams, 3.5 grams, 4 grams, and 4.5 grams) and variations in reaction time (1 hour, 2 hours, 3 hours, 4 hours , and 5 hours), each treatment was done duplo using 20 treatment units. The result of the study showed that the best ratio of sodium monochloroacetate to cellulose which produced carboxymethyl cellulose from pineapple midribs was 2.5: 2.5 with substitution degree value of 1.93 and optimum reaction time which produced carboxymethyl cellulose from pineapple midribs was 1 hour with substitution degree of 2.38.
Keywords: Carboxymethyl cellulose, Pineapple midri
PERBANDINGAN KADAR MINERAL MAKRO DAN MIKRO PADA BERBAGAI JENIS UBI BANGGAI (Dioscorea sp.)
Penelitian tentang kandungan mineral makro kalium, natrium, magnesium dan mineral mikro seng yang terkandung dalam Ubi Banggai (Dioscorea sp) berwarna ungu, kuning dan putih telah dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan mineral makro dan mikro dari berbagai jenis ubi banggai (Dioscorea sp) berwarna ungu kuning dan putih. Hasil penelitian menunjukan kadar mineral yang terkandung dalam ubi banggai berwarna ungu rata-rata lebih tinggi daripada ubi banggai berwarna kuning dan putih. Kadar mineral kalium dalam ubi banggai berwarna ungu, kuning dan putih masing-masing sebesar 102,725 ppm; 57,65 ppm; 24,525 ppm, mineral natrium masing-masing sebesar 27,65 ppm; 11,575 ppm; 9,8 ppm, mineral magnesium masing-masing sebesar 11,13 ppm; 11,15 ppm; 11,03 ppm dan mineral seng masing-masing sebesar 21,95 ppm; 15,89 ppm; 15,51 ppm.Kata Kunci : Ubi banggai, kalium, natrium, magnesium, sen
EKSTRAKSI DAN KARAKTERISASI PEKTIN DARI KULIT DAN DAMI BUAH CEMPEDAK (Artocarpus chempeden)
Telah dilakukan ekstraksi dan karakterisasi pektin dari kulit dan dami buah Cempedak (Artocarpus chempedan) dengan tujuan untuk mengetahui jenis pelarut dan waktu ekstraksi terbaik yang diperlukan untuk menghasilkan rendemen pektin tertinggi. Penelitian dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri atas 2 faktor, yaitu jenis pelarut yang terdiri idar 3 taraf (asam sitrat, asam klorida, dan asam asetat) dan waktu eksraksi terdiri dari 5 taraf (30, 60, 90, 120, dan 150 menit) yang masing-masing dilakukan sebanyak dua kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukan jenis pelarut terbaik adalah asam sitrat dengan rendemen 38,85% dan waktu terbaik diperoleh pada waktu 90 menit dengan rendemen 34,65%. Pektin yang diperoleh mengandung kadar air 5,5 %; kadar metoksil 12,4%; kadar galakturonat 71,6%; dan kadar abu 6 %.Kata Kunci : Pektin, kulit dan dami Cempedak, pelarut, waktu ekstraks
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN TANAMAN TEMBELEKAN (Lantana camara Linn) DARI BEBERAPA TINGKAT KEPOLARAN PELARUT
Penelitian tentang ekstrak daun tembelekan menggunakan berbagai tingkat kepolaran sebagai antibakteri telah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui senyawa antibakteri dalam daun tembelekan (Lantana camara Linn) bersifat polar, semipolar atau nonpolar, serta daya hambat ekstrak daun tembelekan terhadap bakteri gram positif (Staphylococcus pyogenesis dan Micrococcus luteus) dan bakteri gram negative (Vibrio cholera dan Shigella dysenteriae). Metode ekstraksi yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu metode maserasi dengan 3 tingkat polaritas pelarut yang dimulai dari pelarut nonpolar (nÂ-heksan), diikuti dengan pelarut semipolar (etil asetat) dan pelarut polar (etanol). Uji daya hambat ekstrak terhadap bakteri uji dilakukan menggunakan metode sumur difusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol memberikan daya hambat tertinggi pada gram postif (Staphylococcus pyogenesis dan Micrococcus luteus) dan bakteri gram negative (Vibrio cholera dan Shigella dysenteriae) berturut-turut 20,89, 12, 18,56, dan 5,33 mm serta menunjukkan bahwa daun tembelekan mengandung senyawa antibakteri yang bersifat nonpolar, semipolar, dan polar.Kata Kunci : Tembelekan, ekstrak, daya hambat, antibakteri
SELULOSA DARI AMPAS TEBU SEBAGAI ADSORBEN PADA MINYAK BEKAS PENGGORENGAN
Penggorengan minyak dapat menyebabkan asam lemak yang terdapat di dalamnya mengalami oksidasi menghasilkan senyawa yang berbahaya bagi kesehatan, diantaranya adalah senyawa peroksida, aldehid dan akrilamid. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk menghilangkan senyawa-senyawa berbahaya tersebut adalah dengan cara penggunaan adsorben. Akhir-akhir ini banyak dikembangkan adsorben yang berasal dari serat alami. Salah satunya adalah selulosa yang terkandung 40-50% dalam ampas tebu. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan selulosa dari ampas tebu sebagai adsorben pada minyak bekas penggorengan. Ekstraksi selulosa dari ampas tebu dilakukan dengan cara menambahkan 250 mL larutan NaOCl 0,735% dan 150 mL larutan NaOH 17,5 %. Pengujian adsorben dilakukan dengan cara menambahkan selulosa ke dalam minyak bekas penggorengan selama 1x24 jam dan 2x24 jam. Kemudian dilakukan pengukuran kualitas minyak goreng. Hasil pengujian menunjukkan bahwa perendaman minyak jelantah dengan menggunakan selulosa selama 2x24 jam dapat menurunkan bilangan asam sampai dengan 52,31% dan menurunkan bilangan peroksida mencapai 68,36%, akan tetapi nilai kadar airnya meningkat sebesar 45,29%. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa selulosa dari ampas tebu berpotensi sebagai adsorben pada minyak bekas penggorengan.Kata kunci: selulosa, ampas tebu, adsorben, minyak jelantah.Â
PENENTUAN SUHU DAN pH HIDROLISIS KITOSAN DARI CANGKANG KEONG SAWAH (Pila ampullacea) TERHADAP BERAT MOLEKUL HIDROLISATNYA
Telah dilakukan penelitian tentang penentuan suhu dan pH hidrolisis kitosan dari cangkang keong sawah (Pila ampullacea) terhadap berat molekul hidrolisatnya dengan menggunakan enzim α-amilase. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan suhu dan pH hidrolisis terbaik yang dapat menghasilkan hidrolisat kitosan dengan berat molekul yang rendah. Variasi suhu yang digunakan untuk menghidroisis kitosan dari keong sawah antara lain 300C, 400C, 500C, 600C dan 700C. Sedangkan pH hidrolisis yang diterapkan untuk menghidrolisis kitosan dari cangkang keong sawah antara lain 4,5; 5,0; 5,5; 6,0 dan 6,5. Pengujian berat molekul hidrolisat kitosan dilakukan dengan menerapkan metode Mark-Houwink dan parameter yang diamati adalah berat molekul hidrolisat kitosan. Hasil penelitian menunjukan bahwa suhu optimum hidrolisis kitosan yaitu suhu 500C dan menurunkan berat molekul menjadi 14.488 g/mol. Sedangkan untuk pH optimum hidrolisis adalah pH 5,5 dan menurunkan berat molekul 12.850 g/mol.Kata Kunci : hidrolisat kitosan, cangkang keong sawah, enzim α-amilas
APLIKASI BIOSORBEN KULIT UBI KAYU (Manihot utillissima Pohl) DALAM PENYERAPAN ION Fe(III) PADA AIR PAYAU
Telah dilakukan penelitian tentang penjerapan ion Fe yang terdapat dalam air payau menggunakan biosorben dari kulit ubi kayu. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh tinggi biosorben dan laju alir penjerapan ion Fe. Variasi tinggi biosorben dan laju alir masing-masing yaitu 20, 30, 40 cm dan 25, 30, 35, 40, 45 ml/menit. Diameter kolom yaitu 0,5 inch. Konsentrasi ion Fe diukur dengan Spektrofotometri Serapan Atom (SSA). Hasil penelitian menunjukaan bahwa kondisi terbaik untuk penjerapan ion Fe adalah tinggi biosorben 40 cm dan laju alir 25 ml/menit dengaan persentasi penjerapan 74,82%.Kata kunci: kulit ubi kayu, adsorben, penjerapan, ion F
TRANSESTERIFIKASI IN SITU BIJI KELOR (Moringa oleifera Lam) MENGGUNAKAN POLIMER BERBAHAN DASAR EUGENOL SEBAGAI PENYANGGA KATALIS H2SO4
A study of in situ transesterification of Moringa (Moringa oleifera) seeds with polymer based on eugenol catalyst support have been carried out. The aim of the study is to determine the concentration of eugenol-based polymer support catalyst which was used to produce fatty acid methyl esters with the highest yield, and best time and to determine the composition of fatty acid methyl esters found in transesterification in situ. The results showed that the catalyst concentration of 1% with a reflux time of 150 minutes resulted in a yield of 12.04% methyl ester. The results of analysis of methyl esters using GC-MS contain methyl stearate and methyl-9,12-octadecanoate compounds. The characteristics of methyl ester are water content of 1.23%, acid number of 11.60 mgKOH/gram, saponification number of 0 mg NaOH/gram, and pour point of 16ËšC.
Keywords: Moringa seed, eugenol as a catalyst support H2SO4, transesterificatio
AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL SABUT KELAPA (Cocos nucifera Linn) PADA BERBAGAI TINGKAT KETUAAN
Telah dilakukan penelitian tentang aktivitas antibakteri ekstrak etanol sabut kelapa (Cocos nucifera Linn) terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli, bertujuan untuk menentukan konsentrasi etanol terbaik yang dapat menghasilkan ekstrak sabut kelapa muda, setengah tua, dan sabut kelapa tua dengan aktivitas antibakteri yang tinggi. Konsentrasi etanol yang diterapkan untuk mengekstrak sabut kelapa antara lain 75%, 80%, 85%, 90% dan 95% sedangkan Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan dengan menerapkan metode sumur difusi dan parameter yang diamati adalah diameter zona hambat. Hasil penelitian menunjukan bahwa daya hambat terbaik ekstrak sabut kelapa terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli adalah 95% dengan diameter zona hambat masing-masing 22,59 mm dan 27,13 mm. Kontrol positif yang digunakan adalah kloramfenikol dan menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dengan diameter zona hambat masing-masing 28,66 mm dan 34,60 mm, sedangkan kontrol negatif menggunakan etanol dan zona hambat keduanya nol.Kata kunci : Ekstrak Etanol Sabut kelapa, Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Diameter Zona Hambat, Aktivitas Antibakteri
KARAKTERISASI PIGMEN HASIL EKSTRAKSI AIR-ETANOL DARI BUAH SENGGANI (Melastoma malabathricum)
Telah dilakukan penelitian tentang Karakterisasi Pigmen Hasil Ekstraksi Air-Etanol Dari Buah Senggani (Melastoma malabathricum). Penelitian ini diawali dengan melakukan ekstraksi buah senggani secara maserasi menggunakan enam perbandingan kombinasi volume pelarut air:etanol yaitu 0:100; 5:95; 10:90; 15:85; 20:80 dan 25:75. Rendemen terbaik dari ekstraksi buah senggani didapatkan dari perbandingan pelarut 0:100 yaitu 4,7 %. Kemudian Ekstrak dianalisis dengan spektrofotometer UV-Vis, FTIR dan uji golongan senyawa. Spektrum UV-Vis ekstrak buah senggani dihasilkan pada panjang gelombang 540 nm dan interpretasi FTIR menunjukkan bahwa ekstrak mengandung gugus fungsi seperti O-H alkohol, C-O-C eter, C=C aromatik, C-H aromatik. Hasil uji golongan menunjukkan ekstrak mengandung senyawa flavonoid jenis antosianin.Kata kunci : Buah senggani, ekstraksi,  antosiani