Jurnal Manajemen & Agribisnis
Not a member yet
508 research outputs found
Sort by
BRAND EQUITY SUSU CAIR UHT DAN PENGARUHNYA PADA PURCHASE INTENTION
Based on the Top Brand Survey of liquid milk products of 2012–2015, the rank of Frisian Flag has decreased since 2014. The objectives of this study were to 1) analyze the brand equity of Ultramilk, Indomilk, Frisian Flag, Milo and Bear Brand and influences of brand equity on purchase intention for the UHT milk products. The descriptive analysis, Cochran test, semantic differential scale, and multiple-linear regression were used in the data analysis. As many as 105 respondents were involved in this study and selected by a purposive sampling method. The results showed that 1) Ultramilk is the top of mind and has five brand image associations, and it has attributes of food safety and healthy and good taste with extremely good scales. Bear Brand has attributes of food safety and complete nutritional content, and Milo has the best pyramid of loyalty, and 2) Brand equity simultaneously has a significant influence on purchase intention. However, in partial, the elements of brand equity that have significant influences on purchase intention include brand association and brand loyalty. Keywords: brand equity, Giant, purchase intention, milk, UHTABSTRAKTop Brand Survey 2012-2015 menunjukkan bahwa Frisian Flag mengalami penurunan peringkat dalam Top Brand Index produk susu cair. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis brand equity susu cair UHT Ultramilk, Indomilk, Frisian Flag, Milo dan Bear Brand beserta pengaruh brand equity pada purchase intention. Pengolahan data dengan menggunakan analisis deskriptif, uji cochran, skala semantic differential, dan regresi linier berganda. Responden dalam penelitian ini berjumlah 105 orang dengan metode penarikan contoh purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Ultramilk menjadi top of mind serta memiliki jumlah asosiasi pembentuk brand image terbanyak dari merek lainnya; kesan kualitas produk aman menyehatkan dan rasa enak berskala sangat baik dimiliki Ultramilk, sedangkan Bear Brand yaitu produk aman menyehatkan dan kandungan gizi lengkap; Milo memiliki piramida loyalitas terbaik dari merek lainnya, 2) Secara simultan, brand equity berpengaruh signifikan terhadap purchase intention, namun secara parsial hanya elemen brand association dan brand loyalty yang berpengaruh signifikan terhadap purchase intention. Kata kunci: brand equity, Giant, purchase intention, susu, UH
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI RESISTENSI PEMBELIAN PANGAN ORGANIK DAN PROSES PENDIDIKAN KONSUMEN
Organic food market share in Indonesian only 0,5–2% from all agricultural products. There are problems in organic food marketing in Indonesia such as consumer confidence and limited information about organics food. This research aimed to analyze correlation of gender, occupation, age and education in intention to purchase organic foods, factors influencing purchase resistance of organic foods, and the pendidikan konsumen process. This research was involved 150 respondents. Data was collected using questionnaire survey. The result showed that gender, occupation, age and education not correlate with purchase intention of organic foods. Result from Structural Equation Modeling (SEM) showed that factors caused purchase resistance was negative attitude toward organic foods, unaffordability of organic foods, and lack of awareness in organic foods but subjective norm don’t have significant correlation with purchase intention. Market Education process that can do is educate consumers about health benefits of organic food, organics certification and economics value of organic food.Keywords: consumer behavior, market education, organic foods, SEMABSTRAKPangsa pasar pangan organik di Indonesia baru mencapai 0,5-2 persen dari keseluruhan produk pertanian. Beberapa kendala pemasaran pangan organik di Indonesia seperti consumer confidence dan terbatasnya informasi mengenai produk organik. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan gender, pekerjaan, usia, dan pendidikan terakhir terhadap minat beli pangan organik, mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi resistensi pembelian pangan organik, dan mengidentifikasi proses pendidikan konsumen. Penelitian ini melibatkan 150 responden. Responden terdiri dari dosen, staf kependidikan, dan mahasiswa yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Hasil analisis menunjukkan tidak ada hubungan antara gender, pekerjaan, usia, dan pendidikan terakhir terhadap minat beli pangan organik. Hasil analisis Structural Equation Modeling (SEM) menunjukkan faktor yang menyebabkan resistensi pembelian pangan organik adalah sikap negatif terhadap pangan organik, ketidakterjangkauan produk pangan organik dan kurangnya kesadaran terhadap pangan organik, sedangkan norma subjektif tidak berpengaruh signifikan terhadap minat beli. Proses pendidikan konsumen yang dapat dilakukan adalah edukasi konsumen mengenai manfaat kesehatan pangan organik, sertifikasi organik dan nilai ekonomi dari pangan organik.Kata kunci: pendidikan konsumen, pangan organik, perilaku konsumen, SE
INTEGRASI PASAR KARET ALAM SIT ASAP ANTARA PRODUSEN UTAMA DENGAN PASAR BERJANGKA DUNIA
The purpose of this recearch is to detemine the integration between the main producers of ribbed smoked sheet/RSS and world commodity exchange. This research used vector autoregressionmodel (VAR) with no consideration of cointegration based on the daily price data from January 2013 to December 2014. The results showed that not all market’s RSS integrated. But in the short term proved that the Singapore Commodity Exchange and Tokyo Commodity Exchange affect the market price formation in Indonesia and Thailand. Overall the response of each market is relatively small to price in the Singapore and Japan stock thus less strongly affect the prices established in each market. The results also show the price at the commodity exchange of Singapore and Japan became the source of the greatest affect in explaining the variability of prices in both stock markets.Keywords: RSS, market integration, VAR, market price, ribbedABSTRAKPenelitian ini bertujuan mengetahui integrasi antara pasar karet alam sit asap (ribbed smoked sheet/RSS) produsen utama dengan pasar berjangka dunia. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah vector autoregression model (VAR) dengan pertimbangan tidak adanya kointegrasi yang terjadi berdasarkan data harga harian periode Januari 2013 sampai Desember 2014. Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak semua pasar RSS terintegrasi. Namun dalam jangka pendek terbukti bahwa pasar berjangka Singapura dan Jepang memengaruhi pembentukan harga di pasar Indonesia dan Thailand. Secara keseluruhan respon masing-masing pasar relatif kecil terhadap guncangan harga di bursa Singapura dan Jepang sehingga kurang kuat memengaruhi harga yang terbentuk di masing-masing pasar. Hasil penelitian juga menunjukkan harga di bursa Singapura dan Jepang menjadi sumber guncangan terbesar dalam menjelaskan variabilitas harga di kedua bursa tersebut. Kata kunci: RSS, integrasi pasar, VAR, harga di pasar, kare
STRATEGI PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI RUMPUT LAUT YANG BERKELANJUTAN DI KAWASAN MINAPOLITAN KABUPATEN SUMBA TIMUR
This research aims to identify the actual condition of seaweed industry cluster in Minapolitan Area of East Sumba, determine the factors that influence the development of seaweed industry cluster in Minapolitan Area of East Sumba and to recommend the suitable strategy priority to be applied. This research use Cluster Model (Zone was determined by ministry of sea resources and fisheries) to analyze the actual condition, Gap analysis and Analytical hierarchy Process (AHP). The result of this research, by using the actual condition and Gap Analysis shows that the performance of the Zone I is not good, with performance score is 2,4 out of 5 for ideal condition. This score was the average of the addition of performance level from 9 supporting indicators in Zone I. The performance of Zone II also had not fulfilled the ideal condition – performance score is 2,6 out of 5 for ideal condition. This score was the average of the addition of the performance level from 4 supporting indicators in Zone II. Zone III has a pretty good level of performance on the actual condition with score of performance is 2,7 out of 5 for ideal conditions. This score was the average of the addition of the performance level from 4 supporting indicators in Zone III. The strategy alternative to be exactly applied and prioritized in the sustainable strategy to develop the seaweed cluster in Minapolitan Area of East Sumba is on the Zone I - increasing the production volume, Zone II – building an integrated and coordinated partnership with the factory and in Zone III – increasing the final production volume.Keywords: industry cluster, minapolitan, seaweed, strategyABSTRAKPenelitian ini bertujuan mengidentifikasi kondisi aktual dari klaster industri rumput laut di kawasan minapolitan Kabupaten Sumba Timur, menentukan faktor- faktor yang memengaruhi pengembangan klaster industri rumput laut di kawasan minapolitan Kabupaten Sumba Timur dan merekomendasikan prioritas strategi yang tepat guna mendukung pengembangan klaster industri rumput laut yang berkelanjutan di kawasan minapolitan Kabupaten Sumba Timur. Penelitian ini menggunakan model klaster dengan sistem zonasi yang dikeluarkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk menganalisis kondisi aktual, analisis kesenjangan dan Analytical Hierarchy Process (AHP). Hasil analisis kondisi aktual dan analisis kesenjangan diperoleh data bahwa zona I masih memiliki kinerja kurang baik pada kondisi aktual dengan nilai kinerja (2,4) dari nilai 5 untuk kondisi ideal. Nilai kinerja ini merupakan rata-rata hasil penjumlahan tingkat kinerja dari 9 indikator pendukung pada zona I. Zona II juga masih memiliki tingkat kinerja yang kurang baik pada kondisi aktual dengan nilai kinerja (2,6) dari nilai 5 untuk kondisi ideal. Zona III memiliki tingkat kinerja yang cukup baik pada kondisi aktual dengan nilai kinerja (2,7) dari nilai 5 untuk kondisi ideal. Nilai kinerja ini merupakan rata-rata hasil penjumlahan tingkat kinerja dari 4 indikator pendukung pada zona III. Faktor prioritas utama dalam pencapaian sasaran adalah zona I (kegiatan budidaya) dengan pertimbangan hasil analisis kondisi aktual dan analisis kesenjangan yang menunjukkan bahwa zona I merupakan zona hulu yang memiliki peran penting dalam penyediaan bahan baku bagi kegiatan yang berjalan pada zona II dan zona III. Alternatif strategi yang tepat diterapkan dan diprioritaskan dalam pengembangan klaster industri rumput laut yang berkelanjutan di kawasan minapolitan Kabupaten Sumba Timur adalah pada zona I yaitu peningkatan kapasitas produksi, pada zona II yaitu membangun hubungan kemitraan yang terintegrasi dan terkoordinasi dengan baik dan pada zona III yaitu peningkatan kapasitas produksi. Kata kunci: klaster industri, minapolitan, rumput laut, strateg
DAYA SAING DAN PERMINTAAN EKSPOR PRODUK BIOFARMAKA INDONESIA DI NEGARA TUJUAN UTAMA PERIODE 2003-2012
The world demand of herbal medicine is mounting. The more intensive effort is surely required in order to meet the supply of raw materials of medicinal products needed. The purposes of this research are to observe the competitiveness between countries in the world toward the provision of export products and also to analyze the affecting factors of export demand of medicinal products to the destination countries. The methods of analysis used in this research are Revealed Comparative Advantage (RCA), Export Product Dynamics (EPD), and Gravity Model. The analyzed period was an average of 2003 until 2012. The results of this research conclude that Indonesia has a good competitiveness in the commodity of turmeric and gaharu wood compared to the competitor countries based on the analysis of RCA and EPD, with the position of competitiveness of "Lost Oppportunity". Based on Gravity Model, the factors affecting the demand of medicinal products are Real GDP, Real Exchange Rate, Population, and Economic Distance. All those variables significantly influence the dependent variable and are consistent with the hypothesis.Keywords: export, EPD, gavity model, medical product, RCAABSTRAKPermintaan obat herbal dunia semakin meningkat, tentunya diperlukan usaha yang lebih intensif agar pasokan bahan baku produk biofarmaka dapat terpenuhi. Penelitian ini bertujuan melihat bagaimana daya saing yang terjadi antardua negara di dunia terhadap penyediaan produk ekspor serta menganalisis faktor yang memengaruhi permintaan ekspor produk biofarmaka dunia terhadap negara tujuan utama. Metode analisis yang digunakan dalam penenelitian ini adalah Revealed Comparative Advantage (RCA), Export Product Dynamics (EPD) dan Gravity Model. Periode waktu yang diteliti adalah rata-rata tahun 2003 hingga 2012. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa Indonesia memiliki daya saing yang baik terhadap komoditi kunyit dan kayu gaharu apabila dibandingkan dengan negara pesaing berdasarkan analisis RCA dan EPD dengan posisi daya saing “Lost Oppportunity”. Hasil estimasi faktor yang memengaruhi permintaan produk biofarmaka adalah Real GDP, Real Exchange Rate, Population dan Economic Distance berdasarkan analisis gravity model, seluruh variabel indepeden berpengaruh secara signifikan terhadap dependen dan sesuai dengan hipotesis.Kata kunci: ekspor, EPD, gravity model, produk biofarmaka, RC
KONSEP, IMPLEMENTASI, DAN FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN PROGRAM KONSOLIDASI USAHATANI
Consolidation program is expected to solve the problems of land fragmentation and increase the welfare of farmers. This paper described: 1) the concept of farm consolidation, 2) analysis of the implementation of programs based on farm consolidation, and 3) analysis of the determinant factors on the success of the program. The data were obtained by searching for references on: 1) the concept of consolidation in order to obtain relevant concepts which were used to analyze the consolidation program and dynamics of the existing farm; 2) the Governmental consolidation-based program whose implementation was required to be observed and analyzed; 3) analysis of the program that has been implemented to learn factors that affect the success of the program. Based on the search and analysis from forty references, it can be concluded that consolidation program is the incorporation of the individuals involved in farming in focusing towards management of assets in a larger group to achieve higher margins and welfare. Focus of the management asset was addressed in the 8 aspects, namely: 1) Land as the basis of farm-consolidation, 2) Commodities; 3) management of on-farm; 4) Management on off-farm; 5) Vertical management; 6) Horizontal management; 7) environmental management; and 8) Centralized management. The determinant factors on the success of the program were the 6 of the 8 aspects of management indicating that the management aspect is very important in farm-consolidation program. Consolidation program requires actual action during the implementation or operation on what to be done and who is doing what (who does what) to achieve the agreed objectives (blue print) that must be completed with general guidelines, implementation guidelines and technical instructions.Keywords: concept, consolidation, farming, welfare of farmersABSTRAKProgram konsolidasi diharapkan dapat memecahan masalah fragmentasi lahan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani. Makalah ini mengemukakan: 1) konsep konsolidasi usaha tani; 2) menganalisis implementasi program berbasis konsolidasi usaha tani dan 3) Menganalisis faktor-faktor berpengaruh terhadap keberhasilan program. Metode yang digunakan adalah melakukan penelusuran referensi terhadap: 1) Konsep konsolidasi agar diperoleh konsep yang relevan untuk menganalisis program konsolidasi usaha tani serta dinamika yang ada. 2) Program-program pemerintah yang berbasis konsolidasi untuk dicermati dan dianalisis implementasinya. 3) Menganalisis program yang telah diimplementasi untuk dikaji kemudian diintisarikan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan program. Hasil penelusuran dan analisa yang dilakukan terhadap 40 pustaka disimpulkan bahwa konsolidasi lahan adalah program penggabungan individu yang terlibat dalam usaha tani dalam memfokuskan aset dan manajemen yang dimiliki ke dalam kelompok yang lebih besar untuk mencapai margin dan kesejahteraan lebih tinggi. Fokus aset manajemen ditujukan dalam delapan hal, yaitu 1) lahan sebagai basis konsolidasi; 2) komoditas; 3) menegemen on-farm/hulu; 4) manajemen off-farm/hilir; 5) manajemen vertikal; 6) manajemen horizontal;7) manajemen lingkungan dan 8) manajemen terpusat. Faktor yang memengaruhi keberhasilan program adalah aspek manajemen yang mencapai enam dari delapan aspek yang menunjukkan pentingnya manajemen atau tatalaksana dalam program konsolidasi. Implikasinya, program konsolidasi memerlukan tindakan nyata dalam pelaksanaan atau operasional menyangkut kejelasan apa yang dilakukan dan siapa mengerjakan apa untuk mencapai tujuan yang telah disepakati yang harus dilengkapi dengan pedoman umum, petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis. Kata kunci: konsep, konsolidasi, usaha tani, kesejahteraan petan
DAYA SAING DAN FAKTOR YANG MEMENGARUHI VOLUME EKSPOR SAYURAN INDONESIA TERHADAP NEGARA TUJUAN UTAMA
The export commodities competitiveness is one of many indicators used for measuring the economic growth of a country. This research analyzed the export competitiveness of the five Indonesian vegetables, including potatoes, tomatoes, onions, cabbage, and chili which are delivered to five major destination countries and compared with competitor countries by looking at the comparative and competitive advantages as well as the factors that influence it. The period of analysis in this study is from 2008 to 2012 by using Releaved Comparative Advantage (RCA), Export Product Dynamic (EPD), and Gravity Model using data panel regression approach E–views 6. The result of this study indicates that the Indonesian commodities of vegetables do not have a comparative advantage better than its competitors, namely Netherland and China on potatoes, tomatoes, onions, cabbage, and chili to the world. The comparative advantage of Indonesian vegetables to major destination countries produced by tomatoes, cabbage, and chili which are different from each commodity. On the other hand, Indonesia has different competitive advantage compared to its competitors both to the main destination countries and the world on each of the commodities. The factors that affect the export quantity is Economic Distance, Gross Domestic Product (GDP), Exchange Rate, Population, and the Price of the Export with different results on each of the commodities.Keywords: Export, EPD, Gravity Model, RCA, vegetables ABSTRAKDaya saing ekspor komoditas merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur kemajuan perekonomian negara. Penelitian ini menganalisis daya saing ekspor lima komoditas sayuran Indonesia yaitu kentang, tomat, bawang merah, kubis, dan cabe terhadap lima negara tujuan utama dan dibandingkan dengan negara pesaing dengan melihat keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif beserta faktor-faktor yang memengaruhinya. Periode analisis yang digunakan pada penelitian ini, yaitu dari tahun 2008 sampai 2012 dengan menggunakan Releaved Comparative Advantage (RCA), Export Product Dynamic (EPD), dan Gravity Model dengan menggunakan pendekatan regresi panel data melalui E-views 6. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa komoditas sayuran Indonesia tidak memiliki keunggulan komparatif lebih baik dibandingkan dengan negara pesaingnya, yaitu Belanda dan Cina pada komoditas kentang, tomat, bawang, kubis, dan cabe terhadap dunia. Keunggulan komparatif sayuran Indonesia terhadap negara tujuannya dihasilkan oleh tomat, kubis, dan cabai dengan negara tujuan yang berbeda dari masing-masing komoditas. Disisi lain, Indonesia menduduki keunggulan kompetitif terbaik dibandingkan dengan kedua negara pesaingnya baik terhadap negara tujuan utama maupun terhadap dunia. Faktor-faktor yang memengaruhi aliran volume ekspor adalah Economic Distance, Gross Domestic Product (GDP), Exchange Rate, Population, dan the Price of the Product dengan hasil yang berbeda pada masing-masing komoditas.Kata kunci:ekspor, EPD, gravity model, RCA, sayura
STRATEGI PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI GULA SEMUT AREN
Aren is a type of palm that has a highly potential economic value. Lareh Sago Sub-district is the largest producer in the District of Lima Puluh Kota; however, it is only processed to produce wine and molded sugar. This study aimed to formulate a strategy for the sugar palm sugar agro-industrial development in Lareh Sagohalaban. The research method was a case study in the form of quantitative descriptive, and the data were processed using IFE/EFE, SWOT and AHP. The values obtained from IFE and EFE matrixes were 2.646 and 2.298 respectively. From the SWOT analysis, alternative strategies were obtained, namely, SO Strategy: Strengthening the R & D to develop market-based sugar processing for commercial scale and diversification of palm downstream products; WO Strategy: Improving upstream subsystem to develop nursery based on palm local seed varieties and providing institutional assistance; ST Strategy: Determining agro-technopark for palm industrialization, providing assistance in the form of appropriate packaging technology accordance with the standards, and WT Strategy: increasing commitment and cooperation among stakeholders in strengthening palm agro-industry, increasing marketing and promotion for the expansion and sanction policy for any company selling Aren in the form of wine. From the result of AHP analysis, the determinant factors in developing the business include Technology (0.439), the Government as the actor (0.577), and product diversification as the strategy (0.388).Keyword: Aren (palm), cluster- agro technopark, IFE/EFE matrixes, SWOT analysis, AHPABSTRAKAren (Arenga pinnata Merr) adalah jenis palma yang memiliki potensi nilai ekonomi yang tinggi. Kecamatan Lareh sago halaban merupakan penghasil Aren terbesar di Kabupaten Lima Puluh Kota, namun dalam pengolahannya masih mengolah menjadi gula cetak dan lebih banyak dalam bentuk tuak. Penelitian ini bertujuan merumuskan strategi pengembangan agroindustri gula semut aren di Kecamatan Lareh sago halaban. Metode penelitian adalah studi kasus dalam bentuk deskriptif kuantitatif. Teknik pengolahan data menggunakan analisis deskriptif, IFE/EFE,SWOT dan AHP. Nilai yang diperoleh dari matriks IFE (2,646 ) dan EFE (2,298). Hasil alternative strategi menggunakan SWOT yaitu Strategi SO:Memperkuat litbang untuk riset pengolahan aren menjadi gula semut yang berkualitas, diversifikasi produk dan kemasan untuk komersialisasi gula semut aren.Strategi WO: Perbaikan sarana dan prasarana produksi gula semut untuk memenuhi standar ekspor dan pendampingan kelembagaan dari dinas-dinas terkait. Strategi ST: pemberian bantuan dana untuk peningkatan produksi gula semut aren, Penetapan kawasan agroteknopark untuk industrialisasi aren, pemberian bantuan berupa teknologi tepat guna dan teknologi packing. Strategi WT: peningkatan komitmen dan kerja sama antara semua stakeholder aren dalam penguatan agroindustri aren, Peningkatan promosi untuk perluasan pemasaran dan kebijakan dan sanksi yang menjual dalam bentuk tuak. Hasil Pengolahan AHP diperoleh faktor penentu adalah Teknologi (0,439) dengan pelakunya adalah Pemerintah (0,577) serta strategi yang diprioritaskan adalah Pemberian bantuan berupa teknologi tepat guna dan teknologi packing untuk skala komersil (0,258)Kata kunci: aren, agroteknopark, IFE-EFE, SWOT, AH
POLA USAHA DAN PENDAPATAN RUMAH TANGGA PETANI PADA BERBAGAI TIPOLOGI LAHAN RAWA LEBAK
The study aim to 1) Describing of business pattern developed farmer households in various typologies of lowland swamp land, and 2) Analyzing household income of farmers in various businesses developed in lowland swamp land. The sampling method used is a simple random sample with a total of responden as many as 222 farmers. The study used a survey method. The results showed that the business pattern of households at shallow swampy, ie: Horticulture: annual fruit, Livestock: chickens and goats, trade, household industry, transport services, Rice, fishing, horticulture: vegetables and fruits a season and crops: cassava and peanuts, Labour, fish farming. The business pattern of households at middle swamp, ie: horticulture: annual fruit, Livestock: ducks, trade, household industry, transport services, rice, fishing, horticulture: vegetables and fruits a season, Labor, fish farming. The business pattern of households at deep swampy, ie: Horticulture: annual fruit, Livestock: duck and buffalo, trade, household industry, transport services, rice, fishing, horticulture: vegetables and fruits a season, Labor, fishing, fish farming. Household income in each of the swampy land, ie: household income the shallow swampy amounted Rp19.525.400/year. The household income the middle swampy amounted Rp20.212.000/year. The household income the deep swampy amounted Rp18.248.000/yearKeywords: pattern of business, income, household, lebak, surveyABSTRAKTujuan penelitian ini 1) mendeskripsikan pola usaha yang dikembangkan rumah tangga petani pada berbagai tipologi lahan rawa lebak, dan 2) menghitung pendapatan rumah tangga petani pada berbagai pola usaha yang dikembangkan pada lahan rawa lebak. Metode penarikan contoh yang digunakan adalah sampel acak sederhana (random sampling) dengan jumlah total sebanyak 222 orang petani. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei. Hasil penelitian menunjukan bahwa pola usaha yang dikembangkan petani lahan rawa lebak pematang adalah: hortikultura:buah-buahan tahunan, Ternak: ayam dan kambing, dagang, industri rumah tangga, jasa angkutan, padi, penangkapan ikan, hortikultura: sayuran dan buah-buahan semusim dan palawija: ubi kayu dan kacang tanah, Buruh, budi daya ikan. Pola lebak tengahan: hortikultura:buah-buahan tahunan, Ternak: itik, dagang, industri rumah tangga, jasa angkutan, padi, penangkapan ikan, hortikultura: sayuran dan buah-buahan semusim, Buruh, budi daya ikan. Pola usaha rumah tangga pada lebak dalam: hortikultura:buah-buahan tahunan, Ternak: itik dan kerbau, dagang, industri rumah tangga, jasa angkutan, padi, penangkapan ikan, hortikultura: sayuran dan buah-buahan semusim, Buruh, penangkapan ikan, budi daya ikan. Pendapatan rumah tangga yang mengusahakan lebak, yaitu lebak tengahan: Rp20.212.000/rumah tangga/tahun, lebak pematang Rp19.525.400/rumah tangga/tahun dan lebak dalam Rp18.248.000/rumah tangga/tahun. Kata kunci: pola usaha, pendapatan, rumah tangga, lebak, surve
KUALITAS JASA UNIT PELAKSANA TEKNIS PENGUJIAN SERTIFIKASI MUTU BARANG-LEMBAGA TEMBAKAU JEMBER
This study aims to 1) analyze the methods and the customer satisfaction measurement results; 2) analyze the satisfaction of customer based on alternatives method by using Servqual approach and EPA; 3) Analyze the comparison between method and the customer satisfaction measurement results; 4) formulate recommendations for improvement of measurement methods and results of customer satisfaction in the Technical Implementation Unit Testing Certification-Institute for Product Quality Tobacco Jember. The processing of the data in this study was used the analysis of Service Quality (Servqual) and Expectation-Performance Analysis (EPA). The results of this study including: 1) Attributes which are considered sufficient by the IKM UPT measurement result are nine attributes: the effectiveness and efficiency of service, courtesy, friendliness, and obtain justice and other services; 2) Attribute selected as a top priority improvements based on EPA method is the availability of equipment and the latest technology; 3) Methods and results of measuring the level of customer satisfaction can be compared based on: the number of dimensions and attributes of service; outputs and implications of measurement methods; measurement results; 4) Recommendations for improvement, the management should renew equipment and the latest technology in testing and calibration laboratories, and increase equipment and the latest technology at the service of fumigation.Keywords: EPA, service quality, servqual, UPT PSMB-LT JemberABSTRAKPenelitian ini bertujuan 1) menganalisis metode dan hasil pengukuran indek kepuasan masyarakat; 2) menganalisis tingkat kepuasan pelanggan berdasarkan alternatif metode melalui pendekatan Servqual dan EPA; 3) menganalisis perbandingan antara metode dan hasil pengukuran kepuasan pelanggan; 4) merumuskan rekomendasi perbaikan metode dan hasil pengukuran kepuasan pelanggan pada Unit Pelaksana Teknis Pengujian Sertifikasi Mutu Barang-Lembaga Tembakau Jember. Pengolahan data penelitian menggunakan metode Service Quality (Servqual) dan metode Expectation-Performance Analysis (EPA). Hasil penelitian, yaitu 1) Atribut yang dinilai cukup oleh pelanggan hasil pengukuran IKM UPT terdapat sembilan artibut, antara lain: efektivitas dan efisiensi pelayanan, kesopanan, keramahan, dan keadilan mendapatkan pelayanan dan lainnya. 2) Atribut terpilih sebagai prioritas utama perbaikan berdasarkan metode EPA yaitu ketersediaan peralatan dan teknologi terbaru. 3) Metode dan hasil pengukuran tingkat kepuasan pelanggan dapat dibandingkan berdasarkan: jumlah dimensi dan atribut pelayanan; output dan implikasi metode pengukuran; hasil pengukuran. 4) Rekomendasi perbaikan, yaitu manajemen hendaknya memperbaharui peralatan dan teknologi terbaru pada laboratorium pengujian dan kalibrasi, serta menambah peralatan dan teknologi terbaru pada pelayanan fumigasi.Kata kunci: EPA, kualitas jasa, servqual, UPT PSMB-LT Jembe