Bioma
Not a member yet
144 research outputs found
Sort by
RASIO FREKUENSI PAKAN ALAMI Tubifex UNTUK SUBSTITUSI Artemia PADA BERBAGAI KELAS UKURAN BENIH IKAN BOTIA (Chromobotia macracanthus Bleeker)
Artemia merupakan pakan utama pada benih botia hingga umur tiga bulan sehingga substitusi Artemia sangat penting untuk pemeliharaan yang efisien. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan rasio frekuensi Tubifex untuk mensubstitusi Artemia pada benih ikan botia. Benih botia yang digunakan berumur satu bulan dengan bobot 35-90 mg dan panjang 13-20 mm yang dipelihara dalam sistem resirkulasi selama delapan minggu hingga berumur tiga bulan. Desain penelitian adalah rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dua faktor yaitu faktor kesatu merupakan kelas ukuran ikan S (35-54 mg), M (55-74 mg), L (75-94 mg) dan faktor kedua berupa lima rasio frekuensi substitusi Artemia: Tubifex dari A (4:0) yaitu 4 kali sehari untuk Artemia dan 0 kali sehari untuk Tubifex, B (3:1), C (2:2), D (1:3) dan E (0:4). Lima belas perlakuan interaksi dihasilkan dari kedua faktor yaitu SA (ukuran S; rasio frekuensi A), SB, SC, SD, SE, MA, MB, MC, MD, ME, LA, LB, LC, LD, dan LE diulang dua kali. Pengamatan dilakukan dengan mengukur pertumbuhan yaitu bobot, panjang total, serta sintasan. Parameter penunjang berupa kualitas air dan proksimat pakan. Data dianalisis statistik dilanjutkan uji Tukey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tubifex dapat diberikan sebanyak 4 kali per hari pada seluruh kelas ukuran ikan tanpa pemberian Artemia.
Kata kunci: Frekuensi pakan, Artemia, Tubifex, Chromobotia macracanthus, beni
BAMBOOS OF THE BATU PUTU BIODIVERSITY PARK LAMPUNG
Sumatra has a high diversity of bamboo (around 80 species of bamboo, and an unfinished record) in Indonesia. Lampung is one of the regions in Sumatra that has a great number of bamboo species and the endemic bamboos that has not been studied. The Batu Putu Biodiversity Park is an area designed by the local government to become Bamboo Education Tourism Center. Within a few years, the Batu Putu Biodiversity Park ecosystem can be changed effects a tourism activity. The exploratory study has been done to discover the bamboo species that originally grew in the Batu Putu Biodiversity Park, Lampung - Sumatra. The data that has been obtained from this study is important as a part of bamboo diversity data in Lampung, and Sumatra generally. Besides, it gave information about bamboo species that suitable to grow on the rocky soils. The result showed four genera, consisting of five species, namely Dendrocalamus asper, Gigantochloa atroviolacea, G. hasskarliana, Schizostachyum zollingeri, and Dinochloa sp. The last species is a candidate for a new record of Sumatran climbing bamboos, even new species candidates that we can not decide yet due to lack of samples and some particular conditions
TUNGAU DEBU RUMAH DI AREA KAMPUS UNIVERSITAS GADJAH MADA, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
House Dust Mites (HDM) is an aeroallergen that can be found in various parts of urban homes such as mattresses, windows, and office furniture. HDM is a member of Order of Acarina which plays important role in the medical field as the main trigger of allergic reactions of people with asthma, rhinitis, conjunctivitis, and atopic dermatitis. The purpose of this study was to study the type, density, and factor which affecting of HDM populations in the campus area of Gadjah Mada University. This research was conducted in January-February 2018. Dust sampling at 8 Faculty and 2 Vocatioal School of Gadjah Mada University in Yogyakarta. Taken 3 point of dust sample in each location by using vacuum cleaner and was put in transparent plastic bag (ziplock) and inserted in the Tullgreen Tornado. Preparation HDM that has been observed using light microscope and identified using the Krantz Key (1978). The results obtained 7 genus with abundance respectively Cheyletus (16.40%), Tyrophagus (9.29%), Glycyphagus (40.44%), Carpoglyphus (6.55%), Tarsonemus (4.92%), Acarus (14.75%), and Blomia (7.65 %). Temperature, humidity, and feeding factors have an effect on increasing the growth and development of HDM populations.
Keywords: house dust mites, type, abundance, density, the campus of UG
KAJIAN BARCODE ANGGREK OBAT DENDROBIUM BERDASARKAN SEKUEN GEN MATK, RBCL DAN ITS
Peningkatan penggunaan obat tradisional dari anggrek obat seperti Dendrobium sebagai alternatif pengobatan terus meningkat. Namun, tidak diimbangi dengan budidaya anggrek obat tersebut sehingga masih banyak eksploitasi yang dilakukan di habitat aslinya. Konservasi, implementasi dan penerapan undang-undang internasional yang membatasi perdagangan ini masih dapat dilanggar karena spesies tersebut tidak selalu diperdagangkan secara morfologis tetapi dalam bentuk simplisia sehingga dibutuhkan identifikasi spesies berbasis sekuen DNA melalui DNA barcoding. Studi in silico ini memanfaatkan data di Genbank (NCBI) selanjutnya sekuen DNA dikoleksi dari beberapa gen yaitu matK, rbcL, dan ITS. Data dianalisis menggunakan pendekatan bioinformatik, CLUSTAL X untuk menentukan tingkat homologi antar sekuen melalui pensejajaran (alignment) sekuen, identifikasi sekuen yang berpotensi sebagai barcode, dan pembuatan pohon filogenetik. Hasil dari analisis bioinformatik menunjukkan bahwa alignment dengan menggunakan lokus matK dan rbcL memiliki tingkat homologi yang tinggi, meski demikian rbcL dapat menunjukkan karakter spesifik dari D. crumenatum yang berpotensi sebagai barcode. Sedangkan pada lokus ITS terdapat karakter spesifik dari D. subulatum meskipun ITS memiliki tingkat variasi genetik yang lebih tinggi dengan homologi yang rendah dibandingkan gen matK dan rbcL. Lokus matK dari semua spesies memiliki tingkat homologi yang tinggi, sehingga tidak didapatkan sekuen yang berpotensi sebagai barcode
Keanekaragaman Lumut di Lingkungan Sekolah Menengah di Kabupaten Sleman, D.I.Y. Sebagai Penunjang Pembelajaran Biologi Aplikatif
Penelitian tentang keanekaragaman lumut di lingkungan sekolah menengah di Kabupaten Sleman telah dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui keanekaragaman lumut yang dapat digunakan sebagai sarana pengenalan peserta didik sekolah menengah dalam rangka pembelajaran biologi aplikatif. Bryophyta memiliki keunikan morfologi dan ekologi, namun informasi penelitian mengenai keanekaragaman lumut baru terbatas di Kota Yogyakarta oleh Sujadmiko & Vitara (2017). Sedangkan data keanekaragaman lumut di Kabupaten Sleman belum tersedia, sehingga penelitian lumut ini perlu dilakukan.
Untuk mengetahui keanekaragaman lumut maka dilakukan koleksi sampel lumut dengan metode eksplorasi di lingkungan sekolah tingkat SMP (17 sekolah) dan SMA (17 sekolah) di Kabupaten Sleman. Hasil koleksi sampel tersebut diidentifikasi di laboratorium. Hasil identifikasi dari sampel lumut yang dikoleksi dari 34 sekolah ditemukan 15 spesies. Dari 15 jenis tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua kelas yaitu Hepaticopsida dan Bryopsida. Jenis-jenis lumut yang termasuk dalam Kelas Hepaticopsida adalah Marchantia polymorpha L., Marchantia palmata Reinw., Reboulia hemisphaerica (L.) Raddi. Sedangkan yang termasuk dalam Kelas Bryopsida adalah Hyophila involuta (Hook.) Jaeg., Philonotis hastata (Dub.) Wijk & Marg., Octoblepharum albidum Hedw., Vesicularia dubyana (C. Muell.) Broth., Trachythecium verrucosum Hampe., Fissidens zippelianus Doz. & Molk., Barbula javanica Dozy & Molk., Barbula indica Hook., Barbula convoluta Hedw., Barbula consanguinea (Thw. & Mitt.) Jaeg., Brachymenium indicum (Dozy & Molk.) Bosch & Lac., dan Isopterygium minutirameum (C. Mull.) Jaeg. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa keanekaragaman lumut yang ditemukan dari penelitian ini cukup beranekaragam sehingga sudah dapat digunakan sebagai pedoman bahan ajar bagi guru sebagai sarana pengenalan peserta didik dalam rangka pembelajaran biologi aplikatif di sekolah menengah Kabupaten Sleman
TRAIT-BASED STUDIES ON THE ABUNDANCE AND CANOPY SHADE PREFERENCES OF ASTERACEAE SPECIES IN CIBODAS BOTANICAL GARDEN
ABSTRACT
Knowledge of community structures and capacity to differentiate invasive from non-invasive species are essential for invasive species management. Specific Leaf Area (SLA) is a potential proxy to differentiate invasive from non-invasive species. This study aims to identify the relationship between Important Value Index (IVI) with SLA of Asteraceae species, and predict Asteraceae habitat preference based on shade characteristics at the Cibodas Botanical Garden. There is a positive correlation between SLA and IVI value of Asteraceae species in shaded habitat. The Asteraceae species that prefer shaded habitat tend to have larger SLA relative to species in open area (odds ratio = 2.754). This study showed that SLA is a potential proxy to indicate plant abundance and an informative proxy to predict habitat preferences in CBG ecosystem. These traits information are crucial for invasive exotic plant species management in CBG particularly and tropical botanic gardens in general.
Keywords: invasive species, exotic species, SLA, logistic regression, trait, Cibodas, Asteracea
Penyakit Virus Ebola
ABSTRACTThe genus Ebolavirus from the family Filoviridae is composed of five species including Sudan Ebolavirus, Reston Ebolavirus, Bundibugyo Ebolavirus, Taï Forest Ebolavirus, and Zaire Ebolavirus The transmission of these viruses to human body is via direct contact with blood, secret,organ, or other body fluid of the infected person. The mortality of Ebola infection is still high in human and the emergence of a new condition known as “Post-Ebola virus disease syndrome” Keywords: Ebola virus, ebola virus disease, post Ebola virus disease syndrom
REVIEW ARTIKEL: BAKTERI ENDOFIT SEBAGAI PENGHASIL IAA (INDOLE ACETIC ACID) DAN AGEN BIOKONTROL PADA TANAMAN
Bakteri endofit dapat mengasilkan IAA yang dapat memacu pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Peran lain bakteri endofit adalah sebagai agen biokontrol patogen yang menyebabkan penyakit pada tanaman. Bakteri endofit menghasilkan senyawa metabolit yang beracun bagi patogen. Tanaman yang dapat menghasilkan bakteri endofit penghasil IAA, yaitu akar padi gogo, akar terung, akar padi yang berasal dari Medan dan Bijai, akar tebu, kacang tanah, ranting belimbing, akar mangga, ranting rambutan, taoge, kelapa sawit (akar, batang, pelepah dan daun), akar ubi jalar, sambiloto (jaringan batang dan jaringan daun), dan jaringan daun tanaman Graminae. Pengaruh bakteri endofit penghasil IAA pada tanaman, yaitu memacu pertumbuhan akar dan tajuk tanaman padi; meningkatkan tinggi tanaman, panjang akar, bobot segar tanaman, volume akar, serta bobot segar dan kering akar terung; memberikan efek yang signifikan pada tinggi tanaman, panjang akar, dan berat basah pada tanaman padi; memberikan efek pada perpanjangan akar lateral kacang hijau; meningkatkan tinggi, jumlah cabang primer, produksi herba basah dan kering, serta produksi andrografolid sambiloto. Bakteri endofit sebagai agen biokontrol dapat menekan laju infeksi bakteri, menekan penyakit tanaman, menghambat pertumbuhan cendawan, mematikan larva nematoda, menekan jumlah puru akar, dan mengurangi populasi nematoda dalam jumlah yang besar
PENGARUH NAUNGAN KANOPI KARET (Hevea brasiliensis. L) PADA PERTUMBUHAN GANYONG (Canna indica. L) SEBAGAI TANAMAN SELA
Ganyong (Canna indica L.) is a multifunction herbaceous plant that has been used for conturies as food, animal feed, and a soil conservation plant. Its ability to growth well in low-light conditions provides an opportunity to use C. indica as an intercropping plant between rubber trees that are often unused in rubber plantations. This research observed the effect of the shade of rubber canopy to the growth of C. indica compared to those grown on an open or sun exposed ground near rubber plantations in Subang (West Java). The results showed that plant height, stem length, number of leaves, tajuk dry mass, and rhizomes dry mass ware significantly higher (p < 0.05) in C. indica grown under canopy, 129.9 cm, 82.9 cm, 7.5 leaves 28.1 gr, 65.4 gr, compared to C. indica grown on open area at subang, 49.9 cm, 23.5 cm, 4.6 leaves, 10.9 gr, 15 gr. The RGR, NAR LAR, and SLA of C. indica under the rubber canopy 2 g. cm-2 day-1, 2.05 cm2. g-1 day-1, 44.2 cm2.g-1, 360.6 cm2. g-1 These results support the recommendation to use C. indica as intercropping plants to utilize the idle areas under the rubber stands
HUBUNGAN KEKERABATAN FENETIK KULTIVAR KRISAN (Chrysanthemum morifolium Ramat.) DI PAKEM, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA BERDASARKAN KARAKTER ANATOMIS DAUN DAN BATANG
Krisan (Chrysanthemum morifolium Ramat.) merupakan salah satu tumbuhan anggota famili Asteraceae yang biasa dibudidayakan dan digunakan untuk dekorasi, makanan dan minuman, dan obat-obatan. Menurut Balai Penelitian Tanaman Hias, sejak tahun 1998 sampai 2014 sudah terdapat 70 kultivar krisan yang telah dibudidayakan di Indonesia. Variabilitas yang tinggi tersebut menyebabkan perbedaan morfologis dan anatomis antara satu kultivar krisan dengan kultivar yang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kekerabatan fenetik kultivar krisan di Pakem, DIY, sebagai langkah awal dalam pemuliaan tanaman. Sampel yang dikoleksi adalah daun dan batang untuk dibuat preparat melintang, kemudian dikarakterisasi untuk analisis kluster dengan metode UPGMA (Unweight Pair-Group Average). Hubungan kekerabatan fenetik ditunjukkan dalam dendrogram dan didukung PCA (Principal Component Analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan kekerabatan fenetik kultivar krisan berdasarkan anatomis daun dan batang adalah berkerabat dekat