144 research outputs found

    DIVERSITAS KUPU-KUPU DI KAWASAN TERBUKA DAN TERTUTUP HUTAN KOTA TEBET, JAKARTA SELATAN

    Get PDF
    Kawasan dengan kanopi (pohon) terbuka dan tertutup di kawasan hutan kota, mempunyai variasi kondisi lingkungan sebagai habitat kupukupu.  Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi variasi kondisi antar kedua  kawasan Hutan Kota Tebet, dan menilai pengaruhnya terhadap diversitas kupu-kupu.  Penelitian dilakukan pada plot-plot terpilih mengacu pada metode purposive sampling.  Hasil analisis menunjukkan bahwa variasi kondisi lingkungan antar kedua habitat belum memunculkan pengaruh nyata terhadap diversitas kupu-kupu.  Diversitas kupu-kupu di Hutan Kota Tebet terdiri dari 34 spesies dari 4 family; jumlah spesies sedikit bervariasi antara kawasan terbuka (33 spesies) dan kawasan tertutup (30 spesies);  komposisi komunitas (kupu-kupu) sama (indeks similaritas 90,32 %).  Nilai indeks keanekaragaman kupu-kupu antar kedua kawasan juga berada dalam kategori sama (tergolong sedang : berkisar antara 1,5 – 3,5), walaupun relatif lebih tinggi di kawasan tertutup (3,16) dibandingkan di kawasan terbuka (2,68).  Nilai ini memberi arti bahwa kedua kondisi habitat mempunyai komunitas kupu-kupu yang sama-sama moderat, walaupun cenderung lebih stabil pada kondisi habitat tertutup.  Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kawasan Hutan Kota Tebet merupakan habitat bagi kupu-kupu, baik di kawasan terbuka maupun di kawasan tertutup.  Variasi kondisi lingkungan antar kedua kawasan belum terbukti berpengaruh terhadap diversitas kupu-kupu di Hutan Kota Tebet

    KEANEKARAGAMAN CAPUNG (ORDO ODONATA) DI PULAU NUSAKAMBANGAN, KABUPATEN CILACAP, JAWA TENGAH

    Get PDF
    Pulau Nusakambangan memiliki habitat yang cukup baik dan catatan keanekaragaman capung yang cukup banyak ini menjadikan Pulau Nusakambangan menjadi menarik untuk diteliti lebih lanjut terutama kaitannya dengan tipe-tipe habitat yang ada di Pulau Nusakambangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman jenis capung di Pulau Nusakambangan. Penelitian dilaksanakan pada Bulan Agustus, September dan Desember tahun 2020 di Pulau Nusakambangan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Penelitian ini dilaksanakan di 10 lokasi pengamatan. Pengambilan data dilakukan dengan metode Visual Encounter Survey. Analisis data habitat dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif, analisis keanekaragaman jenis capung dihitung menggunakan Indeks Keanekaragaman Shannon-Wienner. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di Pulau Nusakambangan teramati sekitar 695 individu dengan jumlah spesies sebanyak 45 jenis capung yang termasuk dalam 10 family. Nilai indeks keanekaragaman di Pulau Nusakambangan secara total tergolong tinggi dengan nilai 3,05.   Kata kunci: Capung, Odonata, Nusakambanga

    KOMPOSISI DAN KEANEKARAGAMAN TUMBUHAN BAWAH DI KAWASAN YANG TERKENA DAN TIDAK TERKENA ERUPSI DI TAMAN NASIONAL GUNUNG MERAPI, YOGYAKARTA

    Get PDF
    Gunung Merapi merupakan salah satu gunung api teraktif di Indonesia yang telah mengalami erupsi besar pada tahun 2006 dan 2010 yang menyebabkan dampak bagi ekosistem dan kematian pada vegetasi di sekitar Gunung Merapi. Pemulihan yang terjadi setelah erupsi Gunung Merapi merupakan suksesi sekunder. Tumbuhan bawah adalah indikator pada suatu area yang mengalami suksesi sekunder. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan komposisi dan keanekaragaman tumbuhan di daerah yang terkena erupsi dan daerah yang tidak terkena erupsi di Taman Nasional Gunung Merapi, Yogyakarta. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober sampai dengan Desember 2019. Metode penentuan area lokasi penelitian dilakukan dengan purposive sampling dan penggambilan data menggunakan metode kuadrat secara beraturan (systematic sampling). Tumbuhan bawah yang mendominasi di daerah yang terkena erupsi adalah Themeda arundinaceae dengan nilai INP 66,939% sedangkan pada daerah yang tidak terkena erupsi didominasi oleh Ageratina riparia dengan nilai INP sebesar 54,731%. Keanekaragaman tumbuhan bawah pada kedua lokasi tergolong rendah, namun lokasi yang tidak terkena erupsi memiliki nilai indeks lebih tinggi dibandingkan dengan daerah yang terkena erupsi yaitu sebesar 1,966 sedangkan pada daerah yang terkena erupsi sebesar 1,139

    Layanan Ekosistem Kumbang pada Tata Guna Lahan Talun Campuran di Lanskap Cijedil, Cianjur

    Get PDF
    This research aimed to know the diversity of beetles in mixed orchard and its relation to the ecosystem services provided. Sampling method used were pitfall trap and hand collecting. Pitfall trap was placed every 50 meter through 450-meter-long walked line transect and checked after 24 hours. Three variations of bait used for pitfall were apple cedar vinegar, cattle faeces, and white lab rat’s carrion. Samples collected were then preserved and identified in the laboratory. Supporting data such as abiotic and biotic parameters were recorded on each sampling point. Data was analyzed using relative frequency, relative abundance, dominance, diversity index, and evenness index. Total of 268 beetles were collected, representing 44 species that belong to 15 families. Mixed orchard has a diversity index (H') of 2.460 and evenness index (J') of 0.755. The most abundant species found on mixed orchard was Onthophagus discedens, a generalist beetle which is decomposer mainly found on carrion and animal waste bait. Based on feeding guild structure, mixed orchard inhabited by saprophaga, coprophagous, fungivore, xylophaga, herbivore, predator

    PERBANDINGAN PERILAKU HARIAN ORANGUTAN KALIMANTAN (Pongo pygmaeus Linnaeus, 1760)DI PELESTARIAN EX-SITU DAN IN-SITU

    Get PDF
    Orangutan merupakan salah satu spesies endemik Indonesia dari ordo primata. Salah satujenisorangutan yang mengalami penurunan spesies adalah orangutan kalimantan (Pongopgymaeus).Penyebab kepunahan orangutan kalimantan disebabkan oleh manusia seperti perusakan lahanhutan yang menyebabkan orangutan kalimantan kehilangan habitat aslinya untukbertahan hidupdan melanjutkan keturunannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan perilakuharian orangutan kalimantan di beberapa pusat konservasi ex-situ dan in-situ.Teknik analisis datayang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif dan kuantitatif denganmetode literatur yangdiperoleh dari 15 referensi artikel nasional dalam rentang tahun 2013-2021.Hasil dari penelitianini menunjukkan perilaku bergerak didominasi di pelestarian in-situ maupunex-situ, perilakubergerak didominasi oleh orangutan di pelestarian in-situ, sedangkan perilaku bergerak, sosial, danbermain sendiri didominasi oleh orang utan di pelestarian ex-situ

    PENGARUH KETERSEDIAAN AIR TERHADAP HASIL DAN KANDUNGAN KURKUMIN KUNYIT (Curcuma domestica Valeton)

    Get PDF
    Turmeric is a herb and medicinal plant that has many functions like being often used as spices, preservatives, dyes, cosmetics, and paint raw materials, and also turmeric plants are widely used as medicinal plants, because of the active ingredient (secondary metabolites) found in turmeric which is curcumin. Curcumin has function in providing natural color in turmeric, besides that it plays a role in the health sector as antihepatotoxic, antiedemic, antioxidant, anti inflammatory, anticancer and so on. Water availability play important role in growth and development of a plant. Internally, lack of water can make plant in drought condition, the physiology process of the plant disturbed, producing secondary metabolith and excess water can make the growth of the plant obstructed.This study aims to determine the effect of water availability from the beginning to harvesting turmeric plants on the yield of turmeric (Curcuma domestica Val.) and to determine the effect of water availability before harvesting turmeric plants on the level curcumin of turmeric plants (Curcuma domestica Val.). Keywords: curcumin, turmeric, water availability, yiel

    IDENTIFIKASI JENIS KELAMIN IKAN SAPU-SAPU (Pterygoplichthys pardalis)

    Get PDF
    Beberapa jenis ikan masih belum dapat dibudidayakan karena sulit untuk dibedakan antara jantan dan betina karena morfologi yang sama persis. Salah satu ikan yang sulit dibedakan adalah ikan sapu-sapu. Oleh sebab itu perlu adanya penelitian untuk menentukan cara yang mudah dalam membedakan jenis kelamin ikan sapu-sapu. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi bagi pembudidaya ikan untuk mempermudah proses pengembangbiakkan. Metode yang digunakan untuk identifikasi jenis kelamin adalah dengan teknik pengurutan dan pengamatan morfologi anatomi ikan. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa dengan teknik pengurutan pada bagian kloaka, ikan jantan akan mengeluarkan sperma dan ikan betina akan mengeluarkan telur. Hasil analisa berdasarkan morfologi memperlihatkan bahwa ikan jantan memiliki tubuh yang ramping dan rahang yang lebar, sedangkan ikan betina memiliki tubuh yang lebih lebar namun rahang lebih kecil. Hasil analisa anatomi menunjukkan bahwa jantan memiliki ukuran gonad yang kecil, sedangkan betina memiliki ukuran gonad yang lebih besar dan berisi telur

    BIODIVERSITAS KUPU-KUPU (LEPIDOPTERA) DI KAWASAN CIINTANG,TAMAN NASIONAL UJUNG KULON, BANTEN

    Get PDF
    ABSTRAK   Penelitian mengenai kupu-ku di kawasan Cilintang Taman Nasional Ujung Kulon masih terbatas. Tujuan dari penelitian ini, untuk mengetahui keanekaragaman kupu-kupu di sekitar kawasan tersebut. Penelitian kupu-kupu telah dilakukan pada tanggal 24-27 April 2017, menggunakan metoda sweeping dengan menggunakan kamera dan jala serangga. Penelitian dilakukan di empat habitat yang berbeda yaitu Pemukiman, Ekoton, Pantai, dan Hutan. Dari hasil penelitian  ditemui kupu-kupu di Pemukiman  38 jenis dan 106 individu, di Ekoton terdapat 35 jenis dan 80 individu, di Pantai terdapat 35 jenis dan 255 individu, dan di Hutan ditemui 34 jenis dan 133 individu,  yang terdiri dari suku Papilionidae, Pieridae, Nymphalidae, Lycaenidae dan Hesperidae. Suku Nymphalidae merupakan suku yang tinggi jumlah jenis dan individu dibanding suku yang lain. Dari hasil penelitian didapatkan komposisi jenis kupu-kupu antar lokasi yang ditemukan tidak sama , indeks keanekaragaman jenis di empat lokasi tergolong sedang. Dari uji Hutchinson terdapat perbedaan yang tidak bermakna Pemukiman - Ekoton. Ekoton – Hutan, sedangkan, Pemukimaan - Pantai, Pemukiman - Hutan, Pantai - Hutan. Ekoton – Pantai, terdapat perbedaan bermakna. Kupu-kupu yang jumlah individu tinggi ditemukan pada jenis Junonia almana, dan Junonia atlites di Pemukiman. Junonia atlites dan Junonia hedonia di Ekoton. Jamides pura dan Jamides celeno di Pantai, dan di Hutan. Kata kunci: kupu-kupu, dominan, keanekaragaman, kesamaan, kemerataan   ABSTRACT   Research about butterflies in Cilintang area Ujung Kulon Natinal Park is still limited. The purpose of this research is to identify the butterflies’ diversity in that area. This research has been conducted in four different habitats i.e residence, ekoton, beach, and forest on 24-27 April 2017, using sweeping method with camera and bugs net. It is found that there are 38 species and 106 individuals in residence, 35 species and 80 individuals in ekoton, 35 species and 255 individuals in beach, and 34 species and 133 individuals in forest, consist of Papilionidae, Pieridae, Nymphalidae, Lycanidae and Hesperidae tribe.  Nymphalidae tribe holds the highest species and individuals. It is found that species composition between location is not the same, diversity index in four locations is categorized as medium. From Hutchinson test there is very little differences between residence - ekoton and ekoton - forest, while in residence - beach, residence - forest, beach - forest, ekoton - beach, there are significant differences. Junonia almana, and Junonia atlites have the highest dominace index in residence. J. Junonia atlites and Junonia hedonia have the highest dominace index in ekoton.  Jamides pura and Jamides celeno have the highest dominace index in beach and forest. Keywords: butterfly, dominant, diversity, similarity, uniformity &nbsp

    PENERAPAN INDEX OF BIOTIC INTEGRITY (IBI) DI SUNGAI CIBARENO

    No full text
    ABSTRACT   The fish assemblage data were collected during August to October 2013 at Cibareno River, which is located in the area of Lebak and Sukabumi. The fish assemblage were analyzed using index of biotic integrity (IBI). The data result were obtained about species richness, IBI metric modification, and IBI cross test with Pesanggrahan River. The fish assemblage that was obtained as many as 22 species from 11 family. IBI metric modification that was defined by Pearson correlation test showed that there was correlation between metrics: herbivor, carnivore, omnivor, benthic species, water column species, long-lived species, tolerant species, intolerant species, native species, non-native species, abundance, and fish condition (disease, fin damage, skeletal anomalies). The IBI total score for cross test with Pesanggrahan River is 46. The total score indicates that Cibareno River is include in the category of a good river. Those condition means that Cibareno River can be worthy as a reference site for IBI. Keywords: IBI, fish richness, reference site, Cibareno River

    Aktivitas Antifungi Ekstrak Etanol Biji Anggur Terhadap Malassezia furfur dan Trichophyton mentagrophytes: Antifungal Activity of Grape Seeds Ethanol Extract Against Malassezia furfur and Trichophyton mentagrophytes

    Get PDF
    Anggur (Vitis vinifera L.) merupakan tanaman buah perdu merambat yang termasuk ke dalam keluarga Vitaceae. Salah satu bagian dari tanaman anggur yang diketahui dapat bersifat sebagai antimikroba adalah bagian biji. Ekstrak etanol biji anggur mengandung metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, saponin dan terpenoid yang dapat berkhasiat sebagai antifungi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antifungi ekstrak etanol biji anggur terhadap Malassezia furfur dan Trichophyton mentagrophyes yang merupakan fungi penyebab infeksi dermatofitosis. Ekstrak dibuat dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Uji aktivitas antifungi dilakukan dengan metode difusi cakram pada media Sabouraud Dextrose Agar (SDA) dengan konsentrasi 5%, 10%, 20%, dan 40%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol biji anggur (Vitis vinifera L.) mempunyai aktivitas antifungi terhadap T. mentagrophytes pada konsentrasi 5%, 10%, 20%, dan 40% dengan Diameter Daya Hambat (DDH) berturut-turut sebesar 6,92 mm; 9,84 mm; 12,51 mm; dan 14,88 mm. Akan tetapi, hasil uji terrhadap M. furfur menunjukkan tidak adanya daya hambat yang terbentuk

    133

    full texts

    144

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Bioma
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇